Mengenang Tan Malaka, Melawan Lupa

Oleh: HENDRA SUGIANTORO Dimuat di Suara Merdeka, Minggu 31 Oktober 2010
Judul Buku: Tan Malaka, Bapak Republik yang Dilupakan Penulis: Tim Seri Buku Tempo Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia&Majalah Tempo Cetakan: I, September 2010 Tebal: xx+184 hlm

Sosok ini lahir di Sumatera Barat. Tanggal lahirnya simpang siur, banyak yang menyebut pada 2 Juni 1897. Namanya (sempat) tak populer bagi masyarakat negeri ini, khususnya bagi anak-anak di bangku sekolah yang tak menemukan namanya dalam buku profil pahlawan nasional. Padahal, gelar pahlawan nasional telah diberikan kepadanya lewat Keputusan Presiden No. 53/1963. Ia adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka.

Bagi tokoh pergerakan nasional, Tan Malaka sebenarnya bukan nama asing. Ia turut menentang imperialisme dan kolonialisme Belanda. Pemikirannya ternyata dipelajari oleh Bung Karno, WR Soepratman, Sukarni, dan tokoh lainnya. Mungkin diperlukan penyelidikan lebih lanjut siapa yang menggagas pertama kali konsep Republik Indonesia. Tulisan Tan Malaka berjudul Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) bisa menjadi bukti. Tulisan itu lebih dahulu ada sebelum Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) karya Bung Hatta pada 1928 ataupun Menuju Indonesia Merdeka karya Bung Karno pada 1933 (halaman 3). Mestika Zed yang menyumbang tulisan dalam buku ini mengatakan Tan Malaka memilih mengabdikan diri dan intelektualitasnya sebagai nasionalis sejati yang ikut merajut gagasan tentang the imagined community (halaman 151). Tulisan Tan Malaka dibuat dalam bentuk brosur panjang yang kerapkali disebut buku. Entah disebut brosur panjang atau buku, itu hanya persoalan bentuk.

Tan Malaka menulis dalam pengantar Naar de Republiek Indonesia, “Jiwa saya dari sini dapat menghubungi golongan terpelajar (intelektuil) dari penduduk Indonesia dengan buku ini sebagai alat.” Tulisan Tan Malaka dalam bentuk brosur panjang ini memang dibuat di negeri manca. Ketika pertama kali terbit di Kanton pada April 1925 tak jelas berapa eksemplar dicetak. Yang pasti cuma beberapa buah yang berhasil masuk ke Indonesia. Tan Malaka kembali mencetak tulisan panjang itu ketika berada di Filipina pada Desember 1925. Cetakan kedua inilah yang kemudian menyebar luas melalui jaringan Perhimpunan Pelajar Indonesia. Bahkan, para pemuda mengetik ulang buku ini—setiap kali dengan karbon rangkap tujuh. Para pemimpin perjuangan, termasuk Bung Karno yang kala itu memimpin Klub Debat Bandung, membaca buku Tan Malaka (halaman 83).

Selain itu, Tan Malaka juga menulis Massa Actie (1926). Tulisan-tulisan Tan Malaka menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Tokoh pemuda Sayuti Melik, misalnya, mengenang Bung Karno dan Ir Anwari membaca dan mencoret-coret hal penting dari Massa Actie. Salah satu tuduhan yang memberatkan Soekarno ketika diadili di Landrat Bandung pada 1931 juga lantaran menyimpan buku terlarang ini. Tak aneh jika isi buku itu menjadi ilham dan dikutip Bung Karno dalam pledoinya, Indonesia Menggugat. WR. Supratman pun membaca tuntas Massa Actie. Ia memasukkan kalimat “Indonesia tanah tumpah darahku” ke dalam lagu Indonesia Raya setelah diilhami bagian akhir dari Massa Actie, pada bab bertajuk “Khayal Seorang Revolusioner” (halaman 3-4).

Bagi sebagian kita, perihal Tan Malaka dan pengaruh tulisan-tulisannya itu mungkin masih multi tafsir. Benarkah tulisan Tan Malaka mengilhami tokoh-tokoh pergerakan nasional di negeri ini? Membaca buku ini, pastinya kita diajak menelusuri pernik-pernik peristiwa terkait jejak Tan Malaka. Bagi kebanyakan kita, Tan Malaka kerap diidentikkan sebagai tokoh komunis. Namun, Tan Malaka justru kerap berseberangan dengan pikiran dan pendapat kawan-kawannya di PKI, seperti penolakannya terhadap rencana pemberontakan pada 1926. Begitu pula sikapnya yang mendukung Pan Islamisme bertolak belakang dengan pendapat Komunis Internasional. Tan Malaka terlibat dalam dunia pendidikan ketika berada di Deli. Baginya, kemerdekaan rakyat hanya bisa diperoleh dengan pendidikan kerakyatan. Pada 1921, ia hijrah ke Semarang dan mendirikan sekolah rakyat yang kemudian menyebar ke berbagai daerah lainnya (halaman 65-71). Sejak Maret 1922, ia harus menjadi orang yang diasingkan, diburu, dan dijadikan target operasi polisi rahasia Belanda, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat. Ia berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain dengan beragam nama samaran.

Tan Malaka berhasil kembali ke Indonesia pada 1942. Pada 1946, Tan Malaka dan Jenderal Soedirman pernah bertemu dan mempertautkan kesamaan sikap: menentang jalan diplomasi pemerintahanan. Bagi mereka, ”berunding berarti kemerdekaan kurang dari 100%.” Jalan oposisi ini membawa Tan Malaka ke penjara sejak 17 Maret 1946. Saat Agresi Militer Belanda, Tan Malaka disebut turut menggerakkan perang gerilya (halaman 33-44). Berbagai peristiwa terkait Tan Malaka dalam buku ini menarik disimak, seperti soal wasiat Bung Karno kepada Tan Malaka, perempuan terdekat Tan Malaka, misteri kematiannya, dan sebagainya. Tentu, siapa pun tak dilarang bersikap kritis dan membuat penafsiran setelah membaca buku ini. Historia docet.
HENDRA SUGIANTORO

Dahsyatnya Hamka Menulis

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Suara Merdeka, Minggu 31 Oktober 2010
Siapa pun tak asing dengan Tafsir Al-Azhar. Tafsir ini diselesaikan seorang tokoh kelahiran Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, pada 16 Februari 1908. Tokoh ini dikenal sebagai ulama pejuang yang teguh memegang prinsip Islam. Pada 24 Juli 1981, tokoh ini meninggal dunia. Tokoh yang dimaksud tak lain adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka.

Dari usianya, Hamka tak lebih dari 75 tahun. Hamka yang kokoh di jalan dakwah ini tak sekadar berbicara dari mimbar ke mimbar. Pelbagai karya tulis beliau begitu melimpah. Keluasan ilmu beliau bisa dikatakan mengagumkan. Tak hanya persoalan agama, beliau juga menulis tentang politik, sejarah, dan budaya. Buku-buku yang ditulis beliau pun meliputi karya sastra berupa roman/novel. Roman pertamanya berjudul Si Sabariah. Karya-karya tulis beliau seakan-akan melampau usianya. Konon karya beliau yang dibukukan ada lebih dari 100 buku.

Selain aktif di jalur keagamaan dan politik, Hamka memang menerjunkan diri sebagai seorang wartawan, penulis, dan editor. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa surat kabar, seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, Hamka menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, ia bergulat dengan dunia editing dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Ia pernah juga menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam (Saiful Amin Ghofur, 2008:213).

Aktivitas menulis Hamka mungkin memang terbantu ketika beliau aktif di dunia jurnalistik. Meskipun demikian, jiwa menulis Hamka tak mungkin dimungkiri. Jiwa menulislah yang menggerakkan Hamka mengirim artikel ke harian Hindia Baroe ketika beliau menginjak usia sekitar 17 tahun. Beliau tak sekadar menulis, tapi juga beberapa kali menerbitkan majalah. Produktivitas Hamka dalam menulis mungkin tak bisa dibayangkan. Buku-buku beliau antara lain berjudul Tasawuf Modern, Lembaga Budi, Falsafah Hidup, Sejarah Umat Islam, Kenang-kenangan Hidup, dan Ayahku. Beliau juga menerbitkan roman/novel antara lain berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah. Dari beberapa buku dan roman/novel itu dapat dilihat betapa dahsyatnya beliau menulis.

Buku yang dipaparkan di atas hanya sebagian dari karya Hamka. Beliau juga menulis makalah-makalah untuk disampaikan dalam ceramah ilmiah. Dahsyatnya menulis Hamka tak sekadar untuk dikenang, tapi juga dilanjutkan! Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Aktivis Pena Profetik Yogyakarta
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/10/31/128549/Dahsyatnya-Hamka-Menulis

Douwes Dekker dalam Het Tijschrift dan De Express

Oleh: HENDRA SUGIANTORO

Dimuat di Surat Pembaca Suara Karya, Kamis 21 Oktober 2010

Dalam masa penjajahan kolonial Belanda, kita mengenal satu sosok bernama Douwes Dekker. Ia lahir di Pasuruan, Jawa Timur, pada tahun 1879, dengan nama lengkap: Ernest Francois Eugene Douwes Dekker. Pada 25 Desember 1912, ia mendirikan sebuah organisasi Indische Partij bersama beberapa kawannya.

Ada catatan menarik mengenai jejak pers Douwes Dekker. Jika selama ini kita mengenal sebuah terbitan De Express yang dikelola Douwes Dekker, maka sebelumnya Douwes Dekker telah menerbitkan sebuah surat kabar berbentuk majalah. Catatan menarik ini dipaparkan Rosihan Anwar dalam buku berjudul Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 3 (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, cetakan I Juli 2009). Dengan referensi buku karya Kees van Dijk berjudul The Netherlands Indies and the Great War, 1914-1918 (KITLV Press, Leiden 2007), Rosihan Anwar memaparkan bahwa Douwes Dekker mendirikan majalah yang terbit dua kali sebulan pada tahun 1911 di Bandung. Majalah itu diberi nama Het Tijschrift. Setahun berikutnya didirikan surat kabar harian De Express.

Dalam Het Tijschrift dan De Express, Douwes Dekker menyebarkan gagasan politiknya yang militan, menyerukan oposisi aktif melawan ketidakbecusan masyarakat kolonial. Tulisannya berisi hal-hal yang menggusarkan pemerintahan kolonial Belanda. Dalam Het Tijschrift (Februari 1913), Douwes Dekker mengatakan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme merupakan suatu kewajiban moral. Suatu pemerintah kolonial harus ditentang. Betapa pun ramahnya wajah yang diperlihatkannya, kolonialisme tetap merupakan suatu sistem berdasarkan ketidaksamaan keadaan di mana mereka yang lahir sebagai penguasa tidak akan pernah mau menyerahkan hak-hak istimewanya (Rosihan Anwar, Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 3 (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, cetakan I Juli 2009), hlm. 28).

Dari paparan di atas, Douwes Dekker bisa dikatakan sebagai salah satu tokoh yang menggunakan Het Tijschrift dan De Express sebagai alat perjuangan. Pada masa pergerakan nasional, pers memang telah menjadi senjata mewujudkan kesadaran nasional dan kemerdekaan. Douwes Dekker merupakan saudara sepupu dari Multatuli, pengarang novel Max Havelaar. Pada masa Indonesia merdeka, ia berganti nama menjadi Dr. Danudirdjo Setiabudhi. Ia pernah menjadi menteri negara pada masa kabinet Amir Sjarifoeddin (1947) di zaman Soekarno. Douwes Dekker meninggal dunia pada 28 Agustus 1950. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO

Aktivis Pena Profetik Yogyakarta

Karangmalang Yogyakarta 55281

Ketika (Di)keluar(kan) dari Kantor

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Perada Koran Jakarta, Kamis 21 Oktober 2010

Judul Buku: Resign And Get Rich: Berhenti Kerja, Jadi Pengusaha Penulis: Edo Segara Penerbit: Leutika, Yogyakarta Cetakan: I, Juni 2010 Tebal: x+212 hlm Harga: Rp. 39.000,00

Pekerjaan formal seolah-olah menjadi keniscayaan di tengah kepentingan dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Bekerja di kantor/perusahaan mungkin diimpikan banyak orang, karena setidaknya bisa menjamin pendapatan finansial. Berbeda dengan yang bekerja serabutan, penghasilan setiap bulan relatif tak bisa dipastikan. Maka, banyak orang yang ingin menjadi pekerja di kantor/perusahaan.

Buku yang ditulis Edo Segara ini bisa dipandang dari pelbagai perspektif. Dari judulnya, buku ini sepertinya “memprovokasi” para pegawai/karyawan untuk keluar dari kantor/perusahaan. Tidak menjadi pegawai/karyawan pun bisa memperoleh kecukupan finansial, bahkan dimungkinkan berpenghasilan lebih besar dibandingkan ketika menjadi pegawai/karyawan. Namun, pemaknaan terhadap isi buku ini tidak semata seperti itu. Bagaimana pun, pegawai/karyawan tetap dibutuhkan dalam menjalankan roda perekonomian.

Mencermati persoalan manusia dan dunia pekerjaan kerapkali terjadi beberapa. Tak dimungkiri jika ada pegawai/karyawan yang bosan dengan pekerjaannya atau mungkin stress akibat tekanan dari atasannya. Bisa pula ada pegawai/karyawan yang memang ingin berusaha mandiri, sehingga tak ingin lagi bekerja di kantor/perusahaan. Di sisi lain, ada pegawai/karyawan yang menerima pemutusan hubungan kerja (PHK). Terkait beberapa persoalan tersebut, jika memang solusi yang diambil keluar dari kantor, maka harapannya tidak memunculkan masalah lebih lanjut. Begitu pula bagi pegawai/karyawan yang terkena PHK tidak harus berlarut-larut meratapi pengangguran.

Pada dasarnya, banyak bisnis yang bisa dijalankan ketika tak menjadi karyawan/pegawai, seperti bisnis retail, bisnis franchise, bisnis rumahan, bisnis online, bisnis event organizer, bisnis property, dan bisnis bidang jasa. Penulis buku menjelaskan siasat memulai dan menjalankan bisnis tersebut. Agar tidak berujung mengkhawatirkan, kondisi tidak menjadi “orang kantoran” perlu disikapi secara baik dan bijak. Bagi pegawai/karyawan yang mengambil keputusan keluar dari kantor/perusahaan dibutuhkan persiapan dan perencanaan matang. Pelbagai persiapan justru lebih baik telah dilakukan ketika masih menjadi pegawai/karyawan. Pendapatan dari pekerjaan disisihkan sebagai persiapan dan modal ketika benar-benar telah keluar dari kantor/perusahaan. Artinya, memulai usaha mandiri tidak dimulai dari nol. Pegawai/karyawan yang keluar dari kantor dianjurkan berkomunikasi dengan pimpinan kantor dan pihak keluarga agar tak sepihak mengambil keputusan.

Perencanaan dan persiapan penting lainnya adalah dalam memilih usaha bisnis. Kecintaan pada bisnis yang dijalankan menjadi penting agar dapat menikmati dalam pengembangan usaha. Jika tak menikmati, kesuksesan menjadi sulit diraih. Beban mental yang didapatkan dengan mengerjakan bisnis yang tidak dinikmati harus dibayar mahal. Dalam memilih bidang usaha tak harus dengan ide usaha baru. Memperhatikan peluang kebutuhan juga diperlukan dalam menentukan pilihan usaha. Untuk menjalankan bisnis mandiri, fokus pada pasar (market) penting dilakukan. Yang juga ditekankan, manajemen bisnis yang dijalankan hendaknya tanpa menyalahi kaidah moral dan ketentuan agama. Kepedulian sosial perlu dimiliki setiap pebisnis. Usaha mandiri yang dikembangkan perlu kiranya menerapkan corporate social responsibility, termasuk tak lupa dengan zakat perusahaan. Bagaimana pun, setiap usaha yang kita jalankan tak hanya untuk urusan dunia semata, tapi juga investasi akhirat.

Pastinya, berbagai hal dalam buku ini penting dicermati oleh setiap pegawai/karyawan. Bukan tidak mungkin jika pegawai/karyawan harus berhenti bekerja akibat PHK. Agar tidak kelabakan, persiapan dan antisipasi semestinya harus dilakukan semenjak bekerja di kantor /perusahaan. Bukankah begitu?
Hendra Sugiantoro
Penulis lepas, tinggal di Yogyakarta
http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=65666

Jejak Pers Tjokroaminoto

Rata PenuhOleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Opini Kedaulatan Rakyat, Jum'at 15 Oktober 2010

H.O.S Tjokroaminoto adalah sosok besar. Tjokroaminoto telah berjuang menumbuhkan kesadaran nasional. Beberapa tokoh negeri ini telah belajar darinya. Tjokroaminoto merupakan sosok yang ditakdirkan sejarah menjadi “guru tokoh pergerakan”.

Soekarno, Presiden RI 1945-1966, pernah ngangsu kawruh pada Tjokroaminoto. Seni pidato Tjokroaminoto dipelajari Soekarno, sehingga Soekarno pun beroleh kemampuan serupa. Ada beberapa tokoh lain yang menjadi murid dari Tjokroaminoto. Rumah Tjokroaminoto di Surabaya tercatat dalam sejarah menjadi tempat belajar politik yang sekaligus menjadi rumah pergerakan. Ia juga membangkitkan jiwa rakyat untuk bergerak meraih kemerdekaan. Kebesaran yang dimilikinya tetap menjadikan Tjokroaminoto rendah hati. Ia tak sudi dikultuskan dan menolak penyebutan dirinya sebagai Ratu Adil oleh masyarakat ketika itu.

Sosok yang lahir di Bakur, Madiun, pada tahun 1882, ini tentu tak pantas dilupakan. Tjokroaminotolah orang Indonesia pertama yang memperkenalkan paradigma nasionalisme dan tidak mengakui nama Hindia Belanda yang diberikan oleh Belanda untuk Nusantara. Sebagai bangsa timur, Tjokroaminoto lebih bangga menyebut Indonesia dengan Hindia Timur atau Hindia. Ia adalah penggagas pemerintahan sendiri (zelfbestuur) untuk bangsa Indonesia (Iswara N Raditya, 2009). Memang Tjokroaminoto tak sempat merasakan kemerdekaan negeri ini. Ia meninggal ketika proklamasi kemerdekaan masih jauh perjalanan. Namun, perjuangannya akan selalu tercatat dalam tinta emas. Perjuangannya senantiasa berkobar.

Tjokroaminoto tak hanya cakap dalam berorasi yang konon tanpa mikrofon pun bisa terdengar keras (Takashi Shiraisi, 1997), tapi ia juga bersuara keras lewat pena. Tulisan Tjokroaminoto bisa dibilang menjadi salah satu senjata perlawanan yang digunakannya. Ketika wabah komunisme melanda dunia pergerakan, Tjokroaminoto pernah menulis, “Wie goed Mohammedaan is, is van zelf socialist, en wij zijn Mohammedanen, dus zijn wij socialisten.” Kata-kata Belanda itu artinya, “Seorang muslim sejati dengan sendirinya menjadi sosialis, dan kita kaum muslimin, jadi kita kaum sosialisten.” Dengan karya tulisnya berjudul Islam dan Sosialisme yang ditulis pada tahun 1924 itu, Tjokroaminoto melawan siapa pun yang mengagungkan paham komunisme.

Tjokroaminoto boleh dibilang memiliki daya untuk menginspirasi siapa pun. Ide-idenya terbilang luar biasa. Selain disampaikan lewat ceramah, surat kabar menjadi lahan untuknya menyampaikan pemikiran. Dalam buku 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia, tertulis, “Gagasan patriotiknya bisa dilihat dalam berbagai ceramah dan tulisan di media massa seperti Bintang Soerabaia, Oetoesan Hindia, dan Fadjar Asia.” (Tim Narasi, 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia (Yogyakarta: Narasi, cetakan 3 (Edisi Revisi), 2009), hlm.79).

Selama ini Tjokroaminoto lebih dikenal dengan Oetoesan Hindia-nya. Dari catatan, Bintang Soerabaia terbit sekitar akhir tahun 1800-an dengan menggunakan bahasa Melayu. Adapun Oetoesan Hindia, surat kabar ini bisa dikatakan juga menjadi lahan menulis aktivis-aktivis Sjarikat Islam. Bahkan, Tjokroaminoto sendiri yang memimpin surat kabar yang terbit pertama kali pada Desember 1912 itu. Awalnya penerbitan Oetoesan Hindia disokong badan usaha bernama Setija Oesaha yang didirikan Hasan Ali Soerati, pedagang Arab. Tjokroaminoto bisa mengendalikan total Oetoesan Hindia ketika membeli saham Setija Oesaha secara penuh pada 1913. Pada tahun 1913 ini, Tjokroaminoto ternyata tak hanya mengelola Oetoesan Hindia. Pada tahun itu, Tjokroaminoto bersama tokoh lainnya menerbitkan Fadjar Asia.

Lewat surat-surat kabar itu, Tjokroaminoto cukup piawai mengelola penerbitan pers. Oetoesan Hindia, misalnya, diterbitkan lima kali dalam sepekan yang memuat berita, opini, dan iklan. Oetoesan Hindia libur setiap Jum’at dan Sabtu. Berita yang dipublikasikan di Oetoesan Hindia tak hanya dari dalam negeri, tapi juga berita internasional. Karena surat kabar ini dipimpin oleh Tjokroaminoto yang juga sebagai pimpinan Sjarikat Islam, isi di dalamnya pastinya menyuarakan aspirasi dan kepentingan Sjarikat Islam. Lewat Oetoesan Hindia, aktivis Sjarikat Islam memiliki ruang menumpahkan gagasan dan pemikirannya, seperti menentang kapitalisme atau menyoal masalah-masalah yang terjadi di dalam negeri.

Lewat Oetoesan Hindia, ide, pemikiran, dan sepak terjang Tjokroaminoto terpapar. Ketika akan menduduki posisi dalam Volksraad, misalnya, Tjokroaminoto menggunakan Oetoesan Hindia untuk sosialiasi ke publik pada terbitan 6 Maret 1918. Kesepakatan cabang Sjarikat Islam mendudukkan Tjokroaminoto dalam Volksraad diumumkan dalam Oetoesan Hindia terbitan 20 Maret 1918.

Dari sedikit gambaran di atas, Tjokroaminoto dapat dilihat memiliki kesadaran betapa pentingnya pers. Ia mengelola Oetoesan Hindia tidak hanya untuk menyampaikan gagasan dan menyebarkan berita, tapi juga sebagai sarana propaganda menggentarkan kolonial. Lewat Oetoesan Hindia, geliat Sjarikat Islam dapat terbaca secara luas. Surat kabar yang dipimpin Tjokroaminoto ini tentu tak sekadar mempublikasikan tulisan dan berita-berita terkait Tjokroaminoto. Aktivis Sjarikat Islam lainnya juga menulis di Oetoesan Hindia, seperti Agus Salim, Abdoel Moeis, Suryopranoto, Tirtodanudjo, dan lain-lain. Begitu juga Bung Karno yang pernah mendiami rumah Tjokroaminoto mengaku telah menulis di Oetoesan Hindia tak kurang dari 500 artikel dengan nama samaran Bima. Rhoma Dwi Aria Yuliantri (2009) menuturkan bahwa surat kabar Neratja yang dipimpin Agus Salim juga memberikan ruang untuk pemikiran-pemikiran Tjokroaminoto.

Jejak pers Tjokroaminoto boleh dibilang panjang. Sekitar dua tahun sebelum meninggalnya, Tjokroaminoto masih berikhtiar menerbitkan Bandera Islam pada 1932 bersama beberapa tokoh. Tjokroaminoto meninggal dunia pada tahun 1934. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Pena Profetik Yogyakarta

Guru dalam Pengabdian

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Opini Suara Karya, Rabu 13 Oktober 2010
GURU selalu identik dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa. Munculnya sebutan itu tentu ada sebabnya yang tak lain adalah lirik terakhir dalam lagu Hymne Guru karya Sartono, ”Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa”. Setelah lebih dari satu dasawarsa dinyanyikan, lirik terakhir lagu itu diubah pada tahun 2008 atas hasil negosiasi antara Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas, PGRI, dan Sartono. Lirik “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” diubah menjadi “Pahlawan Pembangun Insan Cendekia” yang setidaknya menegaskan sisi profesionalisme guru yang tidak lagi dianggap sebagai profesi yang “terpinggirkan”.

Tentu saja, ketika Sartono menggubah lagu itu sekitar tahun 1980 tidak ada maksud untuk ”merendahkan” guru. Bagamana mungkin bermaksud ”merendahkan” martabat guru karena pria kelahiran Madiun itu juga seorang guru di SMP Purna Karya Bhakti, Madiun, yang di kemudian hari populer dengan nama SMP Kristen Santo Bernadus. Sartono yang merupakan guru kesenian menyambut antusias lomba cipta lagu tentang pengabdian guru yang digagas Mendikbud ketika itu, Daoed Joesoef. Diikuti sekitar 300 peserta, lagu karya Sartono akhirnya berhasil keluar sebagai pemenang. Entah mengapa, hadiah uang tunai sebesar Rp 1 juta yang seharusnya diterima, tapi hanya Rp 750.000 yang sampai di tangan Sartono. Sejak menjadi guru sampai pensiun, Sartono tetap tak beranjak dari status guru tidak tetap/honorer dengan gaji tak melebihi Rp 60.000 setiap bulannya.

Sejak era Sartono hingga kini, penggajian guru masih dinilai belum menjamin kehidupan mapan, apalagi yang bukan berstatus PNS. Namun demikian, kalimat “pahlawan tanpa tanda jasa” yang muncul di benak Sartono bukan berkaitan dengan minimnya penghargaan materi yang diterima guru. Sartono melihat bahwa guru adalah pahlawan dengan semangat dan jerih payahnya mendidik dan mencerdaskan generasi. Guru itu juga pahlawan sebagaimana pejuang. Namun, seperti dikatakan Sartono, selepas berbakti tak satupun ada tanda jasa menempel pada guru, seperti yang ada pada polisi atau tentara.

Ketika pada saat ini tuntutan peningkatan kesejahteraan guru terus disuara-wacanakan, gubahan lirik lagu itu menemukan maknanya. Penghargaan terhadap guru harus seimbang antara materi dan immateri. Dengan kata lain, perjuangan guru tidak hanya dihargai dengan sebutan pahlawan (immateri), tapi juga dihargai secara materi (gaji yang proporsional).

Jika mau jujur, Sartonolah yang menyematkan gelar pahlawan pada sosok guru. Lewat lagu ciptaannya, masyarakat mengidentikkan guru sebagai pahlawan. Pernahkah kita membayangkan jika tak ada satu kata pahlawan pun dalam lirik lagu karya Sartono? Padahal, siapapun akan dilihat terlebih dahulu perjuangannya sebelum layak disebut pahlawan. Pahlawan secara etimologi adalah orang yang banyak jasa/pahalanya. Seseorang disebut pahlawan atas jasa atau pengabdiannya bagi kehidupan yang dilakukan secara ikhlas. Guru memang seorang pahlawan karena berjuang dan berjasa mendidik anak-anak bangsa. Namun, guru yang rendah moralitasnya dan bekerja asal-asalan tentu tidak bisa dikatakan pahlawan. Guru seperti bekerja di bidang lainnya tidak selamanya menampilkan kinerja yang bersih dan bertanggung jawab. Di tengah guru yang memang benar-benar mengabdi, ada juga sebagian guru yang tidak tulus memberikan pengabdian.

Maka, tak salah jika lirik lagu Hymne Guru coba direnungkan kembali. Ada dua lirik sebelum ”Engkau patriot pahlawan bangsa…” dalam lagu Hymne Guru yang digubah Sartono, yakni ”Engkau sebagai pelita dalam kegelapan” dan ”Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan”. Guru dalam bahasa Sanskerta berasal dari kata ”gu” (kegelapan) dan ”ru” (cahaya). Untuk itu, sebagaimana lirik gubahan Sartono, guru adalah pelita dalam kegelapan. Dengan ilmu pengetahuannya, guru menjadi cahaya yang menerangi kebodohan. Lewat sentuhan guru, seseorang memahami ilmu pengetahuan sehingga mampu membangun kehidupan. Guru adalah sosok yang mengubah ”zaman kegelapan” menuju ”zaman pencerahan” dengan mendidik generasi yang tangguh untuk Indonesia masa depan.

Yang jelas, makna seorang guru tentu saja tidak sekadar bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tapi juga mampu menanamkan nilai-nilai bagi anak-anak didiknya. Guru harus mengembangkan anak-anak didiknya ke arah kearifan (wisdom), pengetahuan (knowledge), dan etika (conduct)—meminjam Socrates. Seperti diamanatkan dalam UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen, guru ikut bertanggung jawab mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Lagu Hymne Guru ciptaan Sartono harapannya mampu menjadi ”ruh” bagi setiap guru di negeri ini. Penyebutan pahlawan merupakan penghargaan secara immateri yang perlu dibuktikan guru dengan menjadi ”pelita dalam kegelapan” dan ”embun penyejuk dalam kehausan”. Penghargaan secara materi berupa gaji yang proporsional harus diimbangi guru dengan kepemilikan kompetensi yang prima. Guru adalah kunci kemajuan peradaban yang mendidik generasi yang cakap secara intelektual sekaligus memiliki keanggunan moral. Tentu saja, guru tidak sekadar membangun insan cendekia, tapi juga mandiri sekaligus bernurani. Guru berperan melahirkan manusia profetik Indonesia yang akan membangun kehidupan. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Aktivis Transform Institute Yogyakarta

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=263884

Membiografikan (Tokoh) Perempuan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Di Balik Buku Jawa Pos, Minggu 10 Oktober 2010

SEJARAH memiliki makna. Sejarah tak sekadar rentetan peristiwa dan tokoh masa lalu. Sejarah mengandung pelajaran. Bukti bahwa sejarah itu perlu, kata Kuntowijoyo, adalah kenyataan sejarah terus ditulis orang, di semua peradaban dan di sepanjang waktu. Pentingnya (mempelajari) sejarah menghendaki pentingnya menjaga sejarah lewat tulisan. Meskipun bisa dijadikan acuan dan referensi, bahasa tutur memiliki kelemahan terkait keterjagaan dan keaslian. Sifat lupa manusia adalah dalil sahih untuk menyelamatkan sejarah dalam teks.

Untuk dapat menulis sejarah tentu tak selalu menjadi perkara mudah. Sumber-sumber referensial dibutuhkan untuk menepatkan penulisan. Menelusuri data-data masa lalu memerlukan keuletan, kesabaran, dan ketekunan. Betapa sulitnya menulis sejarah bukan berarti tak bisa dilakukan. Buku-buku sejarah yang diterbitkan merupakan tanda bahwa sejarah bisa dituliskan. Apalagi riwayat penulisan di Indonesia telah berlangsung berabad-abad lampau yang bisa dijadikan kajian dan telaah sejarah.

Terkait penulisan sejarah tentu tak melulu soal peristiwa. Tokoh-tokoh yang pernah ada dan hadir di masa lalu bisa menjadi tema penulisan tersendiri. Hal ini telah dilakukan seperti penulisan biografi Teuku Umar oleh Hazil Tansil. Buku biografi Soekarno juga telah ditulis oleh penulis dalam negeri dan luar negeri. Tokoh-tokoh lainnya tak lupa ditulis dan dibiografikan, seperti Mohammad Hatta, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’arie, dan lain-lain. Bahkan, biografi tokoh dalam bentuk novel pernah beredar seperti Cermin Kaca Soekarno karangan Mayong Sutrisno dan Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil karya Remy Silado. Lewat tetralogi Pulau Buru-nya, Pramoedya Ananta Toer sebenarnya juga memaparkan satu sosok Tirto Adi Soerjo. Meskipun novel biografi bukan buku sejarah, namun bisa menjadi acuan membaca tokoh yang diceritakan.

Dari banyaknya buku biografi dituliskan, namun ternyata masih memunculkan kegelisahan. Pasalnya, penulisan biografi tokoh-tokoh perempuan di masa lalu harus diakui minim. Kartini bisa dikatakan terbantu dengan kumpulan surat-suratnya yang dipublikasikan lewat Door Duisternis Tot Licht. Penerbitan surat-surat Kartini yang dilakukan J.H. Abendanon pada 1911 itu sedikit banyak menyokong penulisan biografi Kartini. Dengan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, masyarakat umum pun bisa membaca pikiran dan perasaan perempuan kelahiran Jepara itu. Sosok Kartini pun tak lepas dari buku sejarah yang diajarkan di sekolah. Biografi Kartini telah banyak ditulis, termasuk oleh Pramoedya Ananta Toer dengan judul Panggil Aku Kartini Saja. Sitisoemandari Soeroto pernah menulis buku Kartini: Sebuah Biografi.

Selain Kartini, Cut Nyak Dien juga menduduki porsi besar dalam penulisan tokoh perempuan masa lalu. Tak hanya nonfiksi, tapi juga ditulis dalam bentuk novel oleh Ragil Soewarno. Dapat disaksikan bahwa pemaparan perihal Cut Nyak Dien begitu banyak dibandingkan pemaparan tokoh perempuan Aceh lainnya. Tokoh perempuan seperti Cut Meutia, Nyi Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, dan Rasuna Said kerap mewarnai buku biografi singkat para pahlawan Indonesia yang diberikan di bangku pendidikan. Kendati tokoh perempuan masa lalu tak dilupakan dalam penulisan sejarah, penulisan yang lebih fokus tak banyak dilakukan. Dalam buku sejarah di sekolah pun hanya sekilas diungkapkan. Lantas, bagaimanakah generasi masa kini bisa membaca kiprah perempuan di masa lalu ketika penulisan sejarah lebih dominan pada tokoh laki-laki?

Dalam buku Manusia dalam Kemelut Sejarah terbitan LP3ES Jakarta, ada satu-satunya sosok perempuan yang diprofilkan: Rahmah el-Yunusiyah. Perempuan yang lahir di Sumatera Barat, 20 Desember 1900, ini tercatat sebagai pendiri perguruan agama khusus putri. Rahmah el-Yunusiyah menjadi perempuan pertama yang mendapat gelar syaikhah dari Universitas Al-Azhar Kairo pada 1957. Dari penelusuran buku sejarah yang diberikan di sekolah, sosok perempuan satu ini ternyata tak terpapar. Rohana Kudus asal Sumatera Barat yang lahir 20 Desember 1884 juga tak terpapar dalam buku sejarah di sekolah. Pengelola surat kabar perempuan pertama Soenting Melaju ini diakui tak begitu populer di mata publik. Perjuangannya sebagai perempuan, apalagi terjun di kancah pers, patut mendapat tempat tersendiri dalam penulisan sejarah. Tamardjaya pernah menulis biografi Rohana Kudus, Srikandi Indonesia, namun biografi itu seperti hilang akibat tak ada reproduksi buku-buku terbitan lama. Minim atau tak adanya proyek penerbitan buku-buku lama memang menjadi kendala membaca sejarah yang pernah dituliskan. Pada titik ini, ikhtiar Reni Nuryanti menulis buku Perempuan dalam Hidup Soekarno: Biografi Inggit Ganarsih (2007) menjadi apresiasi tersendiri. Kisah hidup salah satu istri Bung Karno itu sebelumnya pernah dituturkan Ramadhan KH dalam buku Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno.

Menapaktilasi masa lalu, negeri ini memiliki banyak tokoh perempuan yang gemilang di zamannya. Tokoh perempuan yang bisa menjadi cermin. Sebut saja Keumalahayati yang menjadi laksamana laut. Di medan laut, perempuan Aceh ini telah menunjukkan kepiawaiannya. Konon, ia adalah pemimpin armada laut perempuan pertama. Suatu ketika ia memiliki armada perempuan yang dinamakan inong balee (ada yang menulis inong bale). Ia sempat memimpin dan melatih para perempuan janda untuk turut terjun dalam kancah perjuangan. Teuku H. Ainal Mardhiyah Aly dalam tulisan “Pergerakan Wanita di Aceh Masa Lampau Sampai Kini” pernah menuliskan, “Laksamana Malahayati seorang wanita yang telah berhasil menggagalkan percobaan pengacauan oleh Angkatan Laut Belanda di bawah pimpinan Cornelis dan Frederich Houtman 1006 H (1599 M). Sering sekali Armada Inong Bale ikut bertempur di Selat Malaka dan pantai-pantai Sumatera Timur dan Melayu.”(Ismail Suny et.al, Bunga Rampai Tentang Aceh (Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara, 1980), hlm. 286).

Di masa lalu, ada tokoh perempuan yang telah menjadi seorang pemimpin besar, salah satunya adalah Sultanah Tajul Alam Safiatuddin yang memimpin kesultanan Aceh dari tahun 1641 sampai 1675. Harsja W. Bahtiar (dalam Adian Husaini, 2009) menuturkan bahwa Sultanah Tajul Alam Safiatuddin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, ia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansury, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.

Di telisik lebih jauh, masih banyak tokoh-tokoh perempuan lain yang telah menggoreskan jejak cemerlang. Negeri ini sebenarnya tak miskin sosok perempuan yang berpikir dan berkarya besar. Maka, perhatian terhadap penulisan sejarah perempuan menjadi niscaya. Perempuan adalah satu bagian yang telah berkiprah dan tak boleh dilupakan dalam perjalanan panjang sejarah. Hal ini bukan berarti mengkultuskan, namun untuk mengingatkan sekaligus meletakkan cermin bagi generasi kemudian. Proyek penulisan biografi tokoh perempuan bisa dilakukan pemerintah maupun pihak swasta. Penerbit-penerbit buku perlu mengambil ranah ini menjadi bagian dari penerbitannya. Penulisan biografi tokoh perempuan bisa pula dikerjakan secara individul dengan kerja telaten dan penuh keuletan demi “menghadirkan” kiprah dan perjuangan perempuan-perempuan Indonesia.

Dengan bercermin pada perempuan-perempuan besar di masa lalu yang layak menjadi teladan, perempuan-perempuan kini dan di masa mendatang bisa mengambil pelajaran. Tokoh-tokoh perempuan yang dibiografikan meliputi setiap zaman. Meminjam Ahmad Mansur Suryanegara, bila sejarawan mulai membisu, hilanglah kebesaran masa depan generasi bangsa. Penulisan biografi (tokoh) perempuan dengan kiprah dan perjuangannya diperlukan sebagai spirit, motivasi, dan inspirasi generasi bangsa. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Pena Profetik Yogyakarta

Pernak-pernik Pelajaran Hidup

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Perada Koran Jakarta, Sabtu 9 Oktober 2010

Judul Buku: Jaman Penjor: 80 Kisah Inspiratif dan Mencerahkan Penulis: GusHar Wegig Pramudito Penerbit: Leutika Yogyakarta Cetakan: I, April 2010 Tebal: viii+260 hlm Harga: Rp. 48.000,00

DALAM hidup, kita bisa belajar pada sosok Petruk, salah satu tokoh punakawan dalam dunia wayang. Sebagaimana kita ketahui, Petruk mempunyai ilmu “Kanthong Bolong” alias kantong yang berlubang. Semua bisa masuk tanpa mengubah bentuk kantong tersebut. Bayangkan, kita mempunyai sebuah kantong yang bawahnya berlubang dan tidak dijahit, uang yang kita masukkan akan langsung jatuh dan tidak mampir di kantong. Sebuah filosofi yang sangat tinggi. Jika kita mempunyai kantong yang tertutup, semakin lama kita mengisi kantong akan semakin gemuk kantong kita. Ketika kantongnya sudah penuh tidak bisa lagi diisi dengan uang. Artinya, jika kantong kita tidak bolong, suatu saat justru akan menutup pintu rezeki kita karena sudah tidak ada tempat lagi untuk menampungnya. Tetapi, jika kantong itu bolong, kantong tidak pernah bisa penuh seberapa pun kita memasukkan uang. Setiap saat masih bisa diisi berapa pun (hlm. 27).

Boleh dibilang bahwa kita justru berbeda dengan Petruk. Yang kita miliki adalah “Kantong Buntet”. Setiap saat kita hanya menumpuk-numpuk harta, bahkan didapatkan dengan jalan tak halal. Pikiran kita diburu dengan obsesi memiliki harta berlimpah. Harta yang kita miliki kerapkali bukan gambaran kebutuhan kita yang sebenarnya. Kita malah menjadi manusia yang menghamba pada harta dan enggan mendermakan harta kepada orang lain yang lebih membutuhkan.

Membuka setiap halaman buku ini, kita memang diajak untuk merenung. Termasuk halnya merenungkan benda bernama penjor. Bagi kebanyakan kita, penjor mungkin benda remeh-temeh. Penjor adalah umbul-umbul yang berbentuk rumbai-rumbai bambu. Dari amatan sekilas, penjor sepertinya hanya berfungsi sebagai penanda kemeriahan. Setelah bambu dipasangi berbagai hiasan, kita menanamnya ke dalam tanah dengan kuat agar tak roboh. Jadi, harus dibuat lubang tanah yang sangat dalam untuk menanam pokok batang bambunya. Pokok batang bambu yang paling bawah adalah yang paling tebal, kuat, dan lurus. Semakin ke atas semakin menipis, bahkan bengkok pada ujungnya. Pada pucuk yang bengkok dan banyak rantingnya itulah yang dihiasi dengan beragam hiasan agar terlihat meriah. Bagian atas ini pulalah yang kerap dipamer-pamerkan agar dilihat dan dikagumi banyak orang. Penjor akan dirobohkan jika masa perayaaan usai. Nah, dalam mencabut pokok bambu yang tertanam di tanah ternyata perlu kerja keras lebih dibandingkan saat menanamnya. Jika semangat dan kesabaran habis, biasanya terpaksa digergaji dan dipotong mepet dengan tanah, meninggalkan begitu saja pokok batang bambu yang kuat dan lurus. Adakah nilai falsafah dalam penjor? Coba kita pandangi penjor yang menari-nari ditiup angin. Kita hiasi, kagumi, dan pamerkan bagian atasnya yang tipis, bengkok, dan bercabang-cabang. Bagian yang lurus dan kuat, kita tanam ke dalam tanah dan tak dihiraukan. Mungkin penjor ini adalah gambaran zaman. Zaman di mana orang-orang yang teguh dan lurus telah kita lupakan dan ditanam dalam-dalam, sedangkan yang bengkok justru kita kagumi (hlm. 200-201).

Tanpa kita sadari, setiap yang kita jumpai dalam kehidupan mengandung berbagai hikmah, pelajaran, kritik, dan refleksi. Benarkah pejabat birokrasi memahami makna dari kalimat Sanskerta “Tan Hana Dharma Mangrwa”? yang berarti “tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan dengan posisi mendua”? Tugas birokrat adalah melayani masyarakat. Agar bisa melayani dengan baik, maka bikrokrat harus berada pada posisi sebagai pelayan, bukan majikan. Jika dalam melayani publik masih bermental majikan, maka sulit melayani sepenuh hati. Birokrat bisa melayani dengan baik jika tak berada dalam dua posisi: setengah pelayan, setengah majikan.

Banyak hal lainnya yang dipaparkan penulis lewat 80 kisah dalam buku ini. Pelajaran-pelajaran berharga coba digali. Mungkin saja ada pemaknaan penulis yang berbeda dengan kita. Apapun pemaknaannya, tak ada tujuan lain kecuali kita bisa menjadikan kehidupan lebih baik. Selamat membaca.
HENDRA SUGIANTORO
Penulis lepas, tinggal di Yogyakarta
http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=64587

Hiduplah Sarjana!

Oleh; HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Rabu 6 Oktober 2010

SARJANA berarti sosok yang telah lulus dari bangku perguruan tinggi (baca: Strata 1/S-1). Arti sarjana adalah lulusan S-1 boleh dikatakan telah mengalami penyempitan makna. Dalam Kamus Jawa-Belanda susunan Th Pigeaud, misalnya, “wong sarjana” adalah geleerde, artinya orang terpelajar. Mengacu pada pengertian ini, orang terpelajar berarti sarjana. Sarjana adalah orang yang terpelajar apapun pendidikannnya. Lebih canggih lagi jika mengacu pada Tesaurus Bahasa Indonesia, istilah sarjana mengandung arti cendekiawan, intelektual, jauhari, sastrawan, akademikus, ilmuwan.

Namun, sarjana memang lebih identik dengan lulusan S-1. Dengan berbagai gelarnya, negeri ini pastinya telah melahirkan jutaan sarjana. Sejak zaman belum merdeka, entah berapa banyak sarjana. Bung Karno adalah seorang sarjana teknik yang lulus dari Technische Hoge School (THS) di Bandung (kini Institut Teknologi Bandung, ITB). Dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid II saat ini, menteri-menterinya juga sarjana. Dengan banyaknya sarjana, negeri ini sepatutnya bangga. Namun, di sisi lain, banyaknya sarjana justru membuat gelisah. Pasalnya, banyak sarjana menganggur.

Lihat saja isu yang kerap mengemuka ketika membicarakan sarjana: sarjana dan pengangguran. Kata Wakil Mendiknas, Fasli Jalal (Sabtu, 25/9), jumlah sarjana di negeri ini sedikitnya 14 juta sarjana dan 2 juta di antaranya menjadi penganggur setelah lulus. Meskipun ada sarjana menganggur, ada juga sarjana yang tidak menganggur. Pertanyaannya, sarjana yang tidak menganggur itu kenapa tidak sering diungkap? Apakah tidak membanggakan? Mungkin membanggakan, mungkin saja tidak membanggakan. Sarjana yang bekerja mungkin saja menjadi problem ketika tidak menunjukkan “kesarjanaannya”. Sarjana hanya gelar semata, tapi tak mampu membawa perubahan positif dalam dunia pekerjaan. Ada sarjana bekerja di birokrasi pemerintahan, namun nyaman dengan perilaku negatif yang telah menggejala, seperti korupsi, kolusi, malas, dan lupa memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Kalau begini, persoalan sarjana tidak hanya yang menganggur. Sarjana yang sudah bekerja, tapi miskin prestasi dan rendah integritas juga problem.

Terkait pengangguran sarjana, solusi problem sebenarnya sudah dilakukan. Perguruan tinggi menjalin kerja sama dengan pihak industri untuk mensinkronkan lulusan dengan kebutuhan dunia usaha. Selain itu, kini kewirausahaan (enterpreneurship) telah mengemuka menjadi tema sentral di perguruan tinggi. Malah pinjaman modal bagi mahasiswa atau kelompok usaha mahasiswa digulirkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas lewat Program Mahasiswa Wirausaha (PMW). Melalui program ini, mahasiswa secara individual ataupun kelompok dilatih berwirausaha. Ada beberapa tujuan dari pengguliran program ini. Pertama, menumbuhkan motivasi berwirausaha di kalangan mahasiswa. Kedua, membangun sikap mental kewirausahaan, yakni percaya diri, sadar akan jati dirinya, bermotivasi untuk meraih suatu cita-cita, pantang menyerah, mampu bekerja keras, kreatif, inovatif, berani mengambil risiko dengan perhitungan, berperilaku pemimpin dan memiliki visi ke depan, tanggap terhadap saran dan kritik, memiliki kemampuan empati dan ketrampilan sosial. Ketiga, meningkatkan kecakapan dan ketrampilan para mahasiswa khususnya sense of business. Keempat, menumbuhkembangkan wirausaha-wirausaha baru yang berpendidikan tinggi. Kelima, menciptakan unit bisnis baru yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Keenam, membangun jejaring bisnis antarpelaku bisnis, khususnya antara wirausaha pemula dan pengusaha yang sudah mapan. Terdapat program lain untuk menumbuhkan spirit kewirausahaan mahasiswa di perguruan tinggi.

Adanya program tersebut dan program lainnya untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan mahasiswa pastinya perlu diapresiasi. Semoga program kewirausahaan berdampak positif bagi pembangunan karakter mahasiswa. Mahasiswa harapannya tidak berorientasi mencari kerja semata (job seeker), tapi berdaya menciptakan lapangan pekerjaan (job creator). Ketika lulus dari bangku universitas, para sarjana tidak melulu berburu lowongan pekerjaan, namun sudah mampu mandiri. Setelah lulus, seorang sarjana mampu turut serta mengatasi permasalahan ketidakberdayaan ekonomi masyarakat. Seorang sarjana bukan malah menambah deret panjang pengangguran. Tapi, apakah persoalan akan selesai?

Ternyata pola pikir masyarakat perlu juga dirombak. Orang tua dan masyarakat tak dimungkiri masih menghargai orang yang bekerja di kantoran. Orang tua terus menuntut anaknya tak bosan menelusuri iklan lowongan pekerjaan untuk dapat menjadi “orang kantoran”. Masyarakat juga mengukuhkan pola pikir dan cara pandang ini. Tak begitu banyak orang yang menaruh apresiasi terhadap sarjana yang bekerja di sektor nonformal/informal. Repot, bukan?

Sarjana harus bekerja, ini tak bisa diganggu gugat. Entah apapun pekerjaannya, sarjana hanya perlu memberikan kontribusi bagi kebangunan masyarakat. Ketika telah bekerja, “kesarjanaannya” perlu ditunjukkan. Yang bernasib menjadi “orang kantoran”, perlu bekerja penuh kesungguhan dan tidak sekadar asal-asalan. Yang menduduki birokrasi pemerintahan, ada tugas penting: memperbaiki tatanan yang saat ini masih amburadul. Tidak memakan gaji buta, tapi perlu menampilkan pelayanan prima dan menghilangkan perilaku kolusi, korupsi, dan perilaku buruk lainnya. Di lapangan pekerjaan mana pun, sarjana dinantikan kiprahnya untuk turut melakukan pemberdayaan dan pendidikan terhadap masyarakat. Sarjana perlu manjing ing sajroning kahanan dan merubah zaman kalabendu menjadi zaman keemasan Indonesia. Sarjana perlu hidup dengan “menghidup-hidupi” negeri ini. Begitu.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute& Kontributor Pewara Dinamika UNY

Dakwah dan Internet

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Teknologi Suara Merdeka, Senin 4 Oktober 2010

PERKEMBANGAN teknologi terus melaju pesat. Seiring penemuan-penemuan yang berangkat dari imajinasi dan daya pikir, teknologi dipastikan takkan mandeg dalam inovasi. Perkembangan teknologi senantiasa bergerak di tengah laju zaman yang dinamis. Begitu pula dengan teknologi komunikasi dan informasi yang menemukan bentuk-bentuk terbaru dengan beragam jenisnya. Jika dahulu menyampaikan pesan harus melalui kurir/pesuruh, lalu surat pos, kini dalam sekejap bisa sampai ke alamat tujuan dengan menggunakan email. Komunikasi dan penyebaran informasi pun bisa dilakukan dengan jenis-jenis media lainnya yang kini kian marak dimiliki hampir oleh siapa pun.

Dengan perkembangan dan kemajuan teknologi informasi ini, masyarakat sebenarnya dimudahkan. Dakwah juga kian dimudahkan. Kini untuk mendengarkan ceramah pengajian tak melulu harus berhadapan muka dengan ustadz/ulama. Melalui akses internet, masyarakat bisa mendapatkan bahan-bahan bacaan keagamaan sesuai kebutuhan. Bermacam-macam software bernuansa agama bisa didapatkan dengan mengunduh dan membuka situs-situs terkait. Dengan mengakses internet, Alquran, Hadits, dan buku-buku keagamaan yang diformat digital bisa diperoleh dengan mudah. Berbagai organisasi Islam pun telah menyadari pentingnya memiliki website untuk berdakwah dan mengenalkan organisasi kepada khalayak. Lewat internet, penyebaran dakwah berjangkau luas, tak terbatasi ruang dan waktu.

Dalam hal ini, kehadiran dan keberadaan situs-situs keagamaan memang diakui memberikan manfaat. Tulisan-tulisan bisa tersebar dengan memanfaatkan teknologi internet. Jika di zaman dahulu untuk menulis Alquran dilakukan di pelepah korma, batu, kulit dan tulang binatang, daun, dan sebagainya (Ari Hendri:2008), kini tak hanya kertas yang digunakan, tapi juga di ruang-ruang cyber. Tak melulu Alquran, namun juga berbagai tulisan lainnya, baik dalam bentuk artikel, makalah maupun buku. Ada berbagai buku nonfiksi dan fiksi bernafaskan keagamaan bisa diunduh gratis lewat internet, meskipun ada pula yang dikomersialisasikan. Aktivis-aktivis dakwah kerap “mengangkat pena” dengan menyebar tulisan-tulisan bernuansa dakwah melalui media di internet, seperti blog, facebook, dan semacamnya.

Di samping itu, kehadiran citizen journalism juga dapat menopang dakwah. Pengelolaan jurnalisme warga ini ada yang harus melalui proses editing terlebih dahulu. Siapa pun pewarta warga hanya mengirim tulisan dan diseleksi layak tidaknya dimuat oleh pengelola. Di sisi lain, ada yang dibiarkan bebas memposting artikel dan berita kegiatan tanpa proses editing. Dengan adanya citizen journalism, para penggiat dakwah bisa memanfaatkannya untuk mempublikasikan artikel dan berita-berita kegiatan. Dampaknya jelas positif karena juga memantapkan syiar Islam. Jika mengirim pers release ke media cetak konvensional belum tentu akan dimuat, lewat citizen journalism lebih besar peluangnya untuk termuat.

Ditelisik lebih jauh, teknologi informasi yang berkembang kini tak selamanya berdampak positif. Dengan kemudahan melakukan “pengajian di dunia internet”, maka mengakibatkan masyarakat malas ke masjid mengikuti kajian keagamaan. Artinya, masjid sepi dari pemakmurnya. Dengan alasan praktis, banyak orang lebih suka men-download berbagai artikel keagamaan lewat internet ketimbang tekun menghadiri kajian di masjid-masjid. Kemudahan ini juga berdampak kurang baik karena belajar agama tanpa seorang guru. Membaca artikel dan makalah soal agama secara mandiri tidaklah dilarang, namun tak bisa melakukan tanya jika ada persoalan pelik dan masih dianggap bingung. Yang meresahkan, artikel-artikel yang diunduh lewat internet ternyata tak seluruhnya baik bagi masyarakat yang masih awam mendalami agama. Meskipun beraroma agama, tak selamanya tulisan-tulisan di internet memberikan kesejukan dan pencerahan. Justru sebaliknya, tulisan-tulisan di internet malah menyempitkan pemahaman agama, memicu perselisihan, dan menebarkan sikap antipati. Bagi masyarakat yang awam dan masih dangkal pemahaman keagamaannya dimungkinkan menelan mentah-mentah tanpa filtrasi dan sikap kritis.

Selain itu, teknologi informasi berupa internet bisa dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk jalan keburukan. Situs berbau pornografi, misalnya, marak bertebaran. Terkait hal ini, dakwah menghadapi tantangan. Di satu sisi, internet bisa dimanfaatkan sebagai sarana dakwah, namun di sisi lain juga digunakan untuk menyebarkan keburukan.

Di tengah adanya segi buruk internet, segi positif perkembangan teknologi informasi bagi keberlangsungan dan pergerakan dakwah tetap perlu disyukuri. Implementasi rasa syukur ini menghendaki siapa pun dan organisasi Islam mana pun untuk kuasa memanfaatkannya sebagai sarana dakwah. Segi negatif teknologi informasi memang ada, namun bukan berarti menyalahkan teknologi informasi. Bagaimana pun, teknologi informasi sifatnya netral, tinggal siapa dan pihak mana yang menggunakan. Internet bisa digunakan sebagai sarana kebaikan sekaligus keburukan. Pertimbangan kemaslahatan justru menghendaki segenap penggiat dakwah mampu mendayagunakan internet untuk mencerahkan dan mendidik masyarakat. Yang perlu disadari, pilar pendidikan tak hanya keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pilar pendidikan lainnya adalah tempat ibadah dan media massa. Media massa, dalam hal ini internet, juga ikut berperan membentuk dan melahirkan generasi bangsa yang berimtak dan beriptek.

Akhirnya, kita berharap kebaikan bisa diinspirasikan dan didorong dari segala penjuru. Perkembangan teknologi informasi perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk turut membangun kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang berjati diri, berkarakter, dan bermartabat. Dakwah melalui internet bisa dilakukan siapa pun. Pada dasarnya, kewajiban dakwah diamanatkan kepada setiap orang. Tak harus menguasai segala hal, satu kebaikan pun bisa disampaikan dan bernilai dakwah. Dengan menggunakan internet, kita juga berharap dakwah secara bijak bisa berkembang luas. Dakwah bijak yang menentramkan dan mampu menggerakkan perubahan positif. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Penggiat Pena Profetik Yogyakarta

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/10/04/125571/Dakwah-dan-Internet

Selintas Riwayat Aristoteles

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Lampung Post, Senin 4 Oktober 2010
BAGI kebanyakan kita, nama Aristoteles mungkin tak asing lagi. Pemikiran pria yang dilahirkan di Kota Stagira, Makedonia, pada 384 SM ini seolah-olah tak henti dijadikan referensi. Di bangku pendidikan, Aristoteles menjadi salah satu tokoh yang kerap disebut berulang-ulang, terutama dalam kajian mengenai filsafat.

Selain sebagai filsuf, Aristoteles juga diakui sebagai seorang ilmuwan. Aristoteles meninggal dunia sekitar tahun 322 M. Mengenai riwayat Aristoteles, banyak literatur yang bisa dibaca. Dalam buku 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah karya Michael H. Hart, Aristoteles ditempatkan pada urutan ke-13 (Jakarta: Penerbit Hikmah (PT Mizan Publika), cetakan I 2009).

Buku ini diterjemahkan dari buku berjudul 100 A Ranking of The Most Influential Persons in History (Revised and Update), yang diterbitkan Citadel Press, Kensington Publishing Corp, tahun 1992. Adapun urutan pertama adalah Nabi Muhammad saw.

Michael H. Hart lewat buku tersebut menyebutkan bahwa Aristoteles memiliki karya tulis menakjubkan. Michael H. Hart menuliskan, “Tercatat 47 karyanya berhasil diselamatkan, dan daftar tempo dulu mengenai karyanya mencantumkan tidak kurang dari 170 judul. Tapi, bukan sekadar jumlahnya saja, melainkan juga luasnya bidang pengetahuan yang digelutinya yang amat mengagumkan. Karya-karya tulis ilmiahnya nyaris seperti sebuah ensiklopedia pengetahuan ilmiah di zamannya.

Aristoteles menulis soal astronomi, ilmu hewan, embriologi, ilmu bumi, ilmu batuan, fisika, anatomi, fisiologi, dan hampir semua bidang pengetahuan yang dikenal orang Yunani Kuno. Sebagian karya-karya ilmiahnya merupakan kompilasi pengetahuan yang sebelumnya diperoleh ilmuwan lain, sebagian merupakan hasil temuan para asisten yang dipekerjakannya, dan sebagian lagi merupakan hasil dari sekian banyak pengamatan yang dilakukannya.”

Laku menulis Aristoteles bisa dikatakan luar biasa. Michael H. Hart dalam bukunya juga menuturkan, "Aristoteles menulis soal etika dan metafisika, soal psikologi dan ekonomi, soal teologi dan politik, serta soal retorika dan estetika. Dia menulis tentang pendidikan, syair, adat-istiadat bangsa-bangsa kurang beradab, dan konstitusi Athena. Salah satu proyek risetnya adalah pengumpulan konstitusi sejumlah besar negara, yang kemudian diujinya dengan studi perbandingan."

Pengaruh Aristoteles, kata Michael H. Hart, terhadap pemikiran Barat begitu besar. Karya-karya Aristoteles diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa selama zaman kuno dan pertengahan, seperti bahasa Latin, Arab, Italia, Ibrani, Prancis, Jerman, dan Inggris. Dengan karya-karyanya, Aristoteles memang tak sekadar berpengaruh di lingkup Yunani. Michael H. Hart mengatakan karya-karya Aristoteles memiliki pengaruh besar pada falsafah Islam dan selama berabad-abad tulisannya mendominasi pemikiran Eropa.

Dari pendapat dan pemikiran Aristoteles bukan berarti tak lepas dari ketidaksempurnaan. Aristoteles tetaplah manusia biasa yang pemikirannya juga perlu mendapat kritik. Namun, dari selintas riwayat Aristoteles di atas, kita bisa menggali inspirasi dan pelajaran. Wallahualam.

Hendra Sugiantoro

Aktivis Pena Profetik Yogyakarta

Karangmalang, Yogyakarta 55281