Membangun Indonesia Penuh Berkah

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Opini Suara Karya, Rabu 18 Agustus 2010

TEPAT pada Selasa, 17 Agustus 2010, kita memperingati 65 tahun kemerdekaan Indonesia. Bagi kita yang dilahirkan di negeri ini tentu selalu mengingat proklamasi kemerdekaan yang dikumandangkan 65 tahun silam di Pegangsaan Timur 56, Cikini, Jakarta Pusat, tepat pukul 10:00 WIB. Berdasarkan tahun Jepang, pada 1945 Masehi adalah tahun 2605, maka dalam teks proklamasi tertera hari 17 boelan 8 tahoen 05.

Teks proklamasi itu diketik oleh tokoh muda bernama Sayuti Melik dengan menggunakan tahun Jepang, padahal ketika digubah oleh Muh. Hatta, Ahmad Soebardjo, dan dibantu oleh Soekarno sebagai pencatat menggunakan tahun masehi 1945. Dalam gubahan awal sebenarnya bukan atas Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta, tapi Wakil2 bangsa Indonesia. Atas usul Sukarni, teks proklamasi itu cukup ditandatangani Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Berdasarkan kalender hijriah, proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 jatuh pada hari Jum’at atau 17 Ramadan 1365 Hijriyah. Itu berarti kemerdekaan Indonesia diproklamasikan bertepatan pada bulan Ramadhan.

Membaca teks proklamasi kemerdekaan negeri ini terkesan cukup sederhana. Meskipun hanya terdiri dari dua kalimat, teks proklamasi itu telah mengesahkan Indonesia sebagai negara merdeka. Beberapa tahun kemudian persyaratan pengakuan negara luar atas kemerdekaan sebuah negara pun diperoleh. Mesir tercatat sebagai negara pertama yang mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia. Negara-negara yang tercatat sebagai pemberi pengakuan pertama kepada RI selain Mesir adalah Suriah, Irak, Lebanon, Yaman, Saudi Arabia, dan Afghanistan. Selain negara-negara tersebut, Liga Arab (Arab League) juga berperan penting dalam pengakuan kemerdekaan Indonesia. Secara resmi keputusan sidang Dewan Liga Arab pada 18 November 1946 menganjurkan kepada semua negara anggota Liga Arab agar mengakui Indonesia sebagai negara merdeka yang berdaulat.

Usia kemerdekaan yang kini menginjak 65 tahun tentu memiliki beragam makna bagi siapa pun. Seperti biasa terjadi, di tengah peringatan hari kemerdekaan selalu terjadi dialektika: benarkah negeri ini sudah merdeka? Faktor kemiskinan dan keterpurukan yang menghinggapi perikehidupan masyarakat kerap menjadi argumentasi yang menegaskan Indonesia belum merdeka sepenuhnya. Masyarakat ekonomi pas-pasan masih pontang-panting untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasarnya. Belum lagi jika bicara akses pendidikan yang kian lama kian berbiaya mahal. Apalagi di jenjang pendidikan tinggi yang kian lama kian bertambah mahal, tidak sesuai dengan tingkat pendapatan rata-rata masyarakat. Itu soal akses memasuki jenjang pendidikan dan belum mengenai hilangnya ruh pendidikan di negeri ini. Pendidikan sebagai usaha menegaskan jati diri manusia dan kemanusiaan masih jauh dari harapan ketika orientasi pendidikan sekadar pemenuhan aspek kognitif semata. Aspek emosional dan spiritual kurang begitu diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini.

Dalam Pembukaan UUD 1945, kesejahteraan rakyat jelas ditekankan agar menjadi perhatian negara. Pemerintah sebagai representasi negara memang wajib menjalankan fungsi memajukan kesejahteraan umum. Selain itu, pemerintah juga bertanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Fungsi itu belum berjalan sebagaimana mestinya. Lebih menyedihkan lagi, politik kekuasaan yang berjalan selama ini cenderung mengabaikan aspirasi rakyat kecil dan alpa terhadap cita-cita nasional yang menjadi amanat Indonesia merdeka. Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur sekadar teks. Pasal 33 UUD 1945, misalnya, tidak dijalankan secara konsekuen oleh pemerintah. Sumber daya alam yang dahulu dipertahankan mati-matian oleh pahlawan dari cengkeraman penjajah, kini tanpa merasa bersalah dijual ke pihak asing dengan keuntungan tak seberapa bagi Indonesia. Perekonomian yang seharusnya dijalankan dengan azas kekeluargaan sesuai amanat konstitusi, nyatanya tidak demikian. Ekonomi kerakyatan yang antikapitalisme untuk tujuan kesejahteraan bersama bisa dikatakan hilang tanpa bekas dalam kebijakan ekonomi negeri ini.

Di tengah jerit pilu rakyat kecil di negeri ini, elite politik di negeri ini sepertinya buta mata. Politik yang semestinya dijalankan untuk mencapai kemaslahatan justru dimanfaatkan untuk memuaskan hasrat pribadi. Kasus korupsi yang kian marak adalah salah satu contoh. Tidak hanya pejabat eksekutif, pejabat legislatif dan juga pejabat yudikatif diindikasikan dan sudah ada yang terjerat kasus korupsi.

Tanpa berpanjang lebar mengutara-selatankan fakta kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini, kita selayaknya perlu membangkitkan semangat berbuat nyata bagi negeri ini. Mewujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya di mana rakyat bisa melangsungkan kehidupannya secara baik merupakan harapan kita bersama. Dibutuhkan komitmen dan aksi nyata membangun negeri ini agar lebih bermartabat. Kemerosotan moral adalah satu hal yang perlu menjadi agenda penting untuk diatasi agar bangsa ini memiliki karakter dan kepribadian mulia. Adanya akhlak yang baik terhadap Tuhan, manusia, dan alam tentu akan menciptakan kehidupan di negeri ini aman sentosa, tanpa kerusakan dan kejahilan-kejahilan.

Dalam usia 65 tahun kemerdekaan RI, kita juga perlu mengajak pemerintah melakukan perenungan. Apakah fungsi melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial telah dijalankan? Maksud dibentuknya pemerintahan negara Indonesia seperti tertera dalam Pembukaan UUD 1945 itu selayaknya dijadikan landasan kebijakan dalam menjalankan politik kekuasaan. Politik adalah pengabdian dan sebentuk ibadah untuk terciptanya kemajuan bagi negeri.

Memang kita perlu berhimpun dalam satu barisan membangun Indonesia. Ada cita-cita dan harapan bagi terwujudnya Indonesia yang berdaulat, adil, dan dipenuhi kemakmuran. Menurut ukuran manusia, usia 65 tahun terhitung tua atau telah makan asam garam, tapi masih terlampau muda untuk ukuran sebuah negara. Jadi, proses “menjadi Indonesia” membutuhkan tahapan lebih lanjut.

Apapun permasalahan yang menerpa negeri ini, kita tak lupa memanjatkan syukur atas 65 usia kemerdekaan. Founding fathers pun mengakui bahwa kemerdekaan negeri ini ”Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”. Dengan pertolongan Allah Yang Maha Kuasa, kita bisa menghirup udara kemerdekaan. Syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa tentu masih berlanjut dengan terus berpikir, berjuang, dan berkarya bagi negeri ini. Perjuangan masing-masing diri kita untuk membangun negeri adalah bentuk kesyukuran kita kepada Tuhan jika dilakukan secara tepat sesuai dengan tuntunan-Nya. Membangun Indonesia penuh berkah tentu saja merupakan keutamaan. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute Yogyakarta

Puasa Profetik!

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Gagasan Rema Post, Edisi 5/Tahun IV/Agustus 2010
Puasa Ramadhan kembali menyapa kita. Persiapan-persiapan tak lupa dilakukan untuk mampu menjalankan ibadah di bulan suci ini. Dari persiapan itu, persiapan bersifat immateri lebih utama. Masing-masing diri menyiapkan hati menghadapi bulan Ramadhan. Tak ada kerinduan lain bagi kita kecuali kuasa lebih baik lagi menjalani ibadah puasa Ramadhan tahun ini.

Kerinduan ini bukan semata karena bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, penuh ampunan, dan penuh kasih sayang Ilahi. Siapa pun yang berjumpa Ramadhan pasti merindukan itu. Setiap aktivitas kita ketika Ramadhan akan senantiasa dijaga agar bernilai ibadah. Dengan pahala berlipat-lipat, siapa pun berdaya upaya memperbanyak ritual dan amal saleh. Namun, kerinduan ini lebih luas daripada kemampuan membentuk kesalehan diri. Kita merindukan Ramadhan agar mampu mendidik diri sekaligus membangun kesalehan sosial. Kita berharap mampu menjalani Ramadhan lebih baik untuk sebuah idealisme kebangunan negeri. Kita perlu melakukan puasa profetik. Puasa bukan untuk kepentingan diri semata, tapi juga kepentingan bangsa, bahkan masyarakat dunia.

Hal ini didasari fakta belum mampunya ibadah puasa Ramadhan memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. Berkali-kali bangsa ini menjalani puasa Ramadhan, namun kurang memberikan dampak signifikan bagi arus perubahan ke arah lebih positif. Salahuddin Wahid (2006) mensinyalir mutu puasa kebanyakan dari kita selama ini belum seperti yang diharapkan. Indikatornya adalah kehidupan sehari-hari. Kasus korupsi yang masih merajalela, misalnya, merupakan cermin miskinnya karakter mulia. Perilaku ketidakjujuran, ketidakdisiplinan, pelanggaran hak asasi manusia, kekerasan ataupun kriminalitas masih kentara di sekitar kita. Perilaku-perilaku buruk lainnya begitu tampak dalam kehidupan.

Maka, puasa Ramadhan yang berlandaskan keimanan kepada Tuhan (transendensi) tentu tak sekadar berhenti tanpa gerak amal. Puasa diharapkan mampu mendidik masing-masing diri kita menjadi manusia yang berkontribusi bagi kehidupan. Puasa profetik menghendaki kita mampu mempraktikkan dimensi humanisasi dan liberasi dalam kehidupan. Melalui puasa, kita perlu mendidik diri untuk memiliki kepekaan dan solidaritas sosial yang tidak hanya berhenti pada bulan Ramadhan. Tantangan dari puasa yang kita lakukan tak sekadar terletak pada kemampuan menahan lapar dan dahaga, tapi kemampuan kita membentuk karakter mulia yang terus bertahan. Puasa profetik diarahkan menggerakkan transformasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kata Yudi Latif (2006), puasa merupakan wahana pertemuan antara tauhidullah dan tauhidul ummah, antara perkhidmatan kepada Tuhan dan perkhidmatan kepada kemanusiaan. Tanpa memberi dampak sosial, puasa tak menemukan relevansi.

Pada titik ini, evaluasi diri menjadi niscaya. Puasa Ramadhan hendaknya tidak sekadar ritual tahunan tanpa makna. Kita tidak dilarang melakukan sedekah sebanyak-banyaknya selama Ramadhan, namun kita juga perlu memiliki solidaritas sosial jangka panjang. Kejujuran yang kita tegakkan selama Ramadhan bukan semata karena Ramadhan penuh pahala, namun kita menyadari bahwa kejujuran merupakan perilaku yang harus kita miliki.

Puasa bernafaskan profetik akan melahirkan individu manusia yang mampu menyadari dirinya sebagai makhluk Tuhan. Dengan puasa profetik, kita menyadari perlunya mengambil peran sejarah meneruskan jejak para Nabi. Hal ini bukan berarti kita akan menjadi Nabi. Kita jelas bukan Nabi dan kita takkan mungkin menjadi Nabi. Namun, kita harus menyadari adanya misi profetik yang terletak di pundak kita dalam membangun kehidupan.

Bagaimana pun, kita memang masih belajar. Kita akan terus belajar mencintai Tuhan. Kita menjalankan puasa untuk mendidik diri kita menjadi manusia profetik. Meminjam pesan dalam Majalah Educinfo FIP UNY Vol II No. 1, Januari-Februari 2008, manusia profetik adalah individu-individu manusia yang berkeyakinan lurus, beribadah secara benar, berbudi mulia, memiliki kekuatan jasmani, luas wawasan berpikirnya, kuasa memanajemen urusan kehidupannya, mampu menundukkan keburukan nafsunya, mampu menafkahi dirinya dan memiliki kreativitas dalam pekerjaan, mampu memelihara waktunya untuk hal yang berguna, dan mampu berkontribusi positif bagi kebangunan masyarakat.

Mungkin dari penjabaran manusia profetik di atas masih bisa didiskusikan. Penulis melihat karakter-karakter di atas relatif tepat menggambarkan karakter manusia paripurna. Meski pendidikan adalah jalan panjang, namun puasa tahun ini merupakan salah satu ruang pendidikan bagi kita menjadi manusia profetik. Dengan puasa profetik, kita belajar menyeimbangkan tiga aspek fundamental dalam ibadah puasa sebagaimana disebutkan Komaruddin Hidayat (2006) terdiri dari pendekatan diri kepada Tuhan, penyucian diri, dan membangun kesalehan sosial. Dengan ibadah puasa, kita mengaktifkan kekuatan rohani, lalu mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin, sehingga mengalami proses penetrasi dan internalisasi sifat dan nilai Ilahi. Pijakan transendensi ini akhirnya mengarahkan kita membangun kehidupan. Dengan menjalankan puasa, kita menyadari tak ada manusia yang lebih tinggi dan lebih rendah. Kebesaran hanya milik Tuhan dan kita pun menjadi manusia profetik yang menjalankan proses humanisasi yang bersifat transendental. Kita pun membangun kehidupan dengan misi pembebasan, mengangkat derajat manusia agar memiliki daya yang tak ada perbedaan kecuali pada kadar ketakwaan.

Di tengah kekurangan ilmu dan “kehijauan” penulis, artikel ini disajikan. Penulis mohon maaf jika ada kekurangan. Harapannya muncul tulisan lebih lanjut untuk menanggapi tulisan ini. Wallahu a’lam.
Hendra Sugiantoro

Rema Post Terbit 10.000 Eksemplar

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan Harian Jogja, 2010
Rema Post merupakan salah satu media kampus di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang diterbitkan BEM REMA UNY. Dalam edisi 9/Tahun IV/Agustus 2010, Rema Post diterbitkan dengan jumlah ribuan eksemplar. Mungkin banyak orang tidak menyangka, Rema Post diterbitkan sebanyak 10.000 eksemplar dan beredar sejak Jum’at (13/8).

Dalam edisi yang diterbitkan 10.000 eksemplar ini, Rema Post mengetengahkan berita utama perihal pelaksanaan training Emotional Spiritual Quotient (ESQ) di UNY. Training ESQ ini boleh dikatakan telah menjadi tradisi. Di UNY, training ESQ dilangsungkan setiap tahun bagi mahasiswa dan dosen UNY sejak tahun 2008 saat posisi rektor dijabat almarhum Sugeng Mardiyono sampai kini dijabat Rochmat Wahab. Dikatakan Pembantu Rektor III UNY, Herminarto Sofyan, bahwa ESQ sudah menjadi program utama UNY untuk mencapai visi dan misi UNY.

Dengan judul berita utama “ESQ, Menguatkan Pondasi Pendidikan Karakter”, Rema Post yang terbit 10.000 eksemplar ini juga memaparkan kebermanfaatan training ESQ. Salah satunya dikatakan mahasiswa UNY angkatan 2009, Avi Raharjo, bahwa ESQ sangat penting untuk membangkitkan kecerdasan emosional dan spiritual. Dengan ESQ, kata Pembantu Rektor I UNY Nurfina Aznam, kita menjadi tahu akan terjadinya alam semesta ini. Dibuktikannya kebenaran teori terbentuknya alam semesta. Selain itu, juga terdapat kaitan erat dengan makna profetik yang di dalamnya disampaikan kisah-kisah para Nabi.

Dalam penerbitan Rema Post sejumlah 10.000 eksemplar ini juga menampilkan artikel opini berjudul “Puasa Profetik!”. Ada pernyataan menarik dalam artikel itu, “Kita perlu melakukan puasa profetik. Puasa bukan untuk kepentingan diri semata, tapi juga kepentingan bangsa, bahkan masyarakat dunia. Dengan menjalankan puasa, kita menyadari tak ada manusia yang lebih tinggi dan lebih rendah. Kebesaran hanya milik Tuhan dan kita pun menjadi manusia profetik yang menjalankan proses humanisasi yang bersifat transendental. Kita pun membangun kehidupan dengan misi pembebasan, mengangkat derajat manusia agar memiliki daya yang tak ada perbedaan kecuali pada kadar ketakwaan.”

Terkait Rema Post yang dicetak sebanyak 10.000 eksemplar, dikatakan pemimpin umum Rema Post Nurhayati Budiyanti, bahwa hal ini merupakan oplah terbesar Rema Post sepanjang sejarah sejak mulai terbit tahun 2006. Dalam edisi reguler, Rema Post terdiri dari 8 halaman, tapi penerbitan sebanyak 10.000 eksemplar ini hanya 4 halaman. Dari isi yang ditampilkan, Rema Post tercetak 10.000 eksemplar ini tampaknya ingin mengungkap tradisi pelaksanaan training ESQ di UNY. Apakah penerbitan sebanyak 10.000 eksemplar merupakan jumlah terbesar untuk ukuran buletin kampus manapun di negeri ini? Wallahu a’lam.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281

Catur Pusat Pendidikan Profetik

Dimuat di Rema Post Edisi 4/Tahun IV/Agustus 2010

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memiliki visi membangun insan yang cendekia, mandiri, dan bernurani. Jika pun urutan kata itu dibalik menjadi bernurani, cendekia, dan mandiri, inti dari dari visi tersebut terangkum dalam satu tema: pendidikan profetik. Memang hal ini tampak memaksa,namun bukan tak berdasar.

Sebagaimana kita ketahui,perwujudan visi UNY tersebut tetap memiliki landasan pijak transendensi. Sejak posisi rektor dijabat Sugeng Mardiyono hingga Rochmat Wahab, aspek transendensi kerapkali ditekankan. Mungkin kita masih ingat seruan almarhum Sugeng Mardiyono bahwa ibadah merupakan dasar usaha perwujudan insan cendekia, mandiri, dan bernurani. Dengan dasar ibadah, penyelenggaraan proses pendidikan di UNY tidak semata mementingkan aspek lahiriah, tapi juga batiniah. Ridha Ilahi menjadi koridor dalam upaya perwujudan visi tersebut (Lihat, Majalah Pewara Dinamika UNY Vol. 8, No.11 Juni 2007).

Secara implisit, dari paparan di atas, pendidikan profetik menjadi kunci membangun masyarakat kampus UNY. Malah dapat dikatakan, visi UNY akan terwujud jika mampu menyatukan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi—meminjam konsep ilmu sosial profetik Kuntowijoyo. Dalam hal ini, transendensi adalah landasan dan arah dari humanisasi dan liberasi. Keimanan tetaplah menjadi kerangka dalam proses pendidikan di kampus ini. Pendidikan profetik tidak sekadar mendeskripsikan dan mentransformasikan gejala sosial semata. Pendidikan berparadigma profetik tidak hanya mengubah sesuatu hanya demi perubahan. Lebih dari itu, pendidikan berparadigma profetik mengarahkan perubahan atas dasar cita-cita etik dan profetik (Pujiriyanto:2006).

Dimensi humanisasi dan liberasi dalam pendidikan profetik bukan diarahkan pada antroposentrisme yang menjadikan manusia sebagai pusat segalanya. Setiap proses pendidikan di UNY untuk mengangkat martabat manusia (humanisasi) dan membebaskan manusia dari ketertindasan (liberasi) mengajak setiap sivitas akademika memiliki ketertundukan pada Tuhan yang memang diciptakan Tuhan untuk beribadah kepada-Nya dan memakmurkan kehidupan di muka bumi-Nya. Dalam pendidikan profetik, sivitas akademika UNY tidak hanya diarahkan untuk memiliki kesadaran kemanusiaan, tapi juga memiliki kesadaran ketuhanan.

Untuk menjalankan pendidikan profetik di UNY, ada empat tempat yang harus dioptimalkan. Empat tempat ini disebut dengan "catur pusat pendidikan profetik": ruang kuliah, perpustakaan, tempat ibadah, dan organisasi kemahasiswaan. UNY dengan visinya memang harus menjadikan empat ruang ini menjadi kesatuan sistem. Proses pendidikan tidak semata berhenti pada ruang kuliah, tapi juga menjadikan perpustakaan sebagai sarana mengkaji, menelaah, dan mendalami pelbagai disiplin ilmu. Organisasi kemahasiswan juga menjadi sarana pembelajaran mahasiswa. Begitu juga tempat ibadah seperti masjid tak boleh dilupakan dalam sistem penyelenggaraan pendidikan di UNY. Catur pusat pendidikan ini perlu berjalan sinergis. Pertanyaannya, apakah "catur pusat pendidikan" di UNY itu telah menjadi kesatuan organik? Atau malah terkesan bergerak sendiri-sendiri?

Dengan sinergisitas catur pusat pendidikan, maka akan dilahirkan—menurut istilah penulis: "intelektual profetik". Istilah ini tentu masih bisa didiskusikan. Meminjam konsep intelektual (rausyan fikr) Ali Syariati, intelektual profetik memiliki kesatuan dalam pikir dan tindakan, tidak hanya berkutat pada teori dan gagasan, tapi juga terlibat dalaml angkah operasional. Intelektual profetik adalah penentu sekaligus pelaku sejarah, mengamati fenomena kehidupan dan mampu bersikap kritis (Lihat, Hendra S, Intelektual Profetik, Progress edisi Ospek UNY, 21/8/2009). Intelektual profetik siap menjadi pemimpin bagi masyarakat, hidup bersama masyarakat, dan berjuang untuk memerdekakan masyarakat dari keterpenjaraan, keterpurukan, kejahilan, dan ketertindasan. Bahkan, seorang intelektual profetik tidak anti terhadap kekuasaan dengan dalih akan dituduh sebagai pengkhianat intelektual. Seorang intelektual tetap perlu terlibat dalam kekuasaan karena wilayah kekuasaan juga bagian dari perbaikan masyarakat. Intelektual profetik—meminjam Dwi Budiyanto (2009)—tidak berhenti pada penguasaan ilmu semata, tapi juga terjadi transfer of learning. Artinya, apa yang dipelajari dalam belajar membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku sebagai upaya menjadi manusia paripurna.

Memandang perjalanan UNY, kerja-kerja dalam mewujudkan insan yang cendekia, mandiri, dan bernurani tentu tak henti dilakukan. Namun, menurut penulis, proses pendidikan tidaklah semata terjebak dan berkutat pada pendidikan karakter. Pendidikan karakter penting, namun bukan segalanya. Pendidikan profetik lebih luas dari itu. Pendidikan profetik mencakup pendidikan keimanan, pendidikan akal, pendidikan akhlak, pendidikan moral, pendidikan jiwa, pendidikan sosial, dan pendidikan fisik. Begitu juga pendidikan profetik mencakup pendidikan karakter. Pun, pendidikan profetik mencakup pendidikan multikultur! Untuk menjalankan pendidikan ini—sekali lagi---UNY perlu menata dan mengelola "catur pusat pendidikan profetik" agar berjalan sinergis.

Tampaknya tulisan ini tak bisa terlalu panjang karena keterbatasan kolom. Apa yang disampaikan penulis di atas perlu didiskusikan lebih lanjut. Koreksi dan masukan tentu diperlukan di tengah kekurangan ilmu dan "kehijauan" penulis. Alangkah diharapkan jika muncul tulisan lebih lanjut untuk menanggapi tulisan ini. Wallahua'lam.

Hendra Sugiantoro

Memfungsikan Humas dalam Gerakan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Bedah Buku Kedaulatan Rakyat, Minggu 1 Agustus 2010
Judul Buku: Humas Gerakan (Membangun Citra Gerakan) Penulis: Edo Segara Penerbit: Muda Cendekia, Jakarta Cetakan: I, 2010 Tebal: 146 halaman
TERKAIT fungsi dan kedudukan humas sepertinya ingin ditegaskan kembali Edo Segara dalam buku ini. Edo Segara sebagai penulis buku menuturkan bahwa humas memang berperan penting dalam komunikasi organisasi. Hal ini mengingat organisasi sebagai suatu sistem kemanusiaan juga harus berhubungan dengan lingkungannya, baik secara luas (nasional, regional, ataupun internasional) maupun secara sempit (dalam hubungan kerja atau perwakilan). Untuk menjaga mutu hubungan tersebut, maka diperlukan komunikasi yang tepat.

Peningkatan mutu dalam komunikasi merupakan lahan kegiatan humas (public relation). Setiap organisasi dari kegiatan awal sampai akhir akan melalui berbagai bentuk dan tahap kegiatan yang harus menyatu dan terpadu dalam rangka mencapai mutu terbaik. Perekat dari tahap semua kegiatan itu dan usaha itulah yang disebut kegiatan humas (public relation).

Lebih penting dalam buku ini adalah penulis buku memfokuskan humas pada organisasi gerakan. Menjadi hal yang utama bagi humas organisasi gerakan untuk mampu mengemban fungsi dan tugasnya dalam melaksanakan hubungan komunikasi baik ke dalam (intern) ataupun keluar (ekstern ). Begitu pula kemampuannya untuk menjembatani atau membangun komunikasi dengan masyarakat luar. Menurut penulis buku, ada perbedaan karakter antara humas dalam organisasi gerakan dengan humas sebuah produk komersial, humas pemerintah, atau humas hotel berbintang lima.Dengan hadirnya buku ini setidaknya dapat menambah wacana dan referensi terkait humas. Meskipun masih dijumpai kekurangan, buku ini bisa menjadi bahan telaah dan kajian bagi para aktivis untuk menghidupkan fungsi humas dalam organisasi gerakannya. Buku ini menerangkan pelbagai hal agar humas organisasi gerakan dapat berfungsi secara baik dan prima. Membaca buku ini, ada pemaparan dari penulis buku mengenai landasan, karakteristik dan urgensi dari humas gerakan. Tujuan humas gerakan, ruang lingkup humas gerakan, dan manajemen humas gerakan juga dipaparkan dalam buku ini. Adapun strategi membangun opini gerakan, strategi pencitraan gerakan, komunikasi dan jejaring gerakan dijelaskan penulis buku dalam bab-bab tersendiri yang tentunya menarik disimak.
Hendra Sugiantoro, Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta.

Mari Sambut Ramadhan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Harjo Forum Harian Jogja, Agustus 2010
Bulan Ramadhan 1431 H sesaat lagi tiba. Dalam hitungan jam melewati hari, kita tak terasa akan berhadapan dengan bulan suci umat Islam itu. Pelbagai persiapan pun telah dilakukan untuk menyambutnya. Begitu pula pesan maupun nasehat senantiasa terdengar agar kita benar-benar siap menjalankan ibadah selama Ramadhan dengan segenap hati dan pikiran. Bagaimanakah persiapan kita menghadapi bulan Ramadhan tahun ini?

Berkaitan dengan bulan Ramadhan yang hampir menjelang, ada pesan menarik dari Ketua Himpunan Aktivitas Kajian Agama Jama'ah Mushala al-Furqan (HASKA JMF) FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta 2010, Ulil Albab. Pesan Ulil Albab dimuat dalam buletin Iltizam edisi ke-3 Spesial Ospek pada halaman 5 yang terbit saat Ospek UNY 2010 lalu. Berikut pesan beliau, "Ramadhan sebentar lagi tiba. Siapkan hati, jiwa dan jasad kita untuk menyambut sang tamu agung. Sambut dengan riang gembira bulan yang penuh berkah, rahmat, dan maghfirah dari Allah. Mari kita jadikan pagi, siang, dan malam Ramadhan kita bermakna ibadah di sisi Allah. Kalau Ramadhan tahun kemarin kita belum berhasil, maka jangan sia-siakan kesempatan ini. Sebelum menyesal di akhir, lebih baik kita siapkan lebih awal. Marhaban Ya Ramadhan..."

Sebagaimana dituturkan Ulil Albab, titik penting dari persiapan menyambut dan kelak menjalani bulan suci Ramadhan adalah persiapan hati, jiwa, dan jasad kita. Pastinya kita berdoa dan berusaha agar Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Dengan izin Allah SWT, semoga kita berhasil meraih predikat takwa. Marhaban Ya Ramadhan...(Hendra Sugiantoro)

Puasa, Pendidikan Antikekerasan Anak

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Selasa 10 Agustus 2010

Puasa Ramadan akan mulai dijalani umat Islam. Puasa Ramadan tentu tidak sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, tapi pengendalian diri dari setiap perkataan dan perbuatan tercela. Salah satu pengendalian diri itu adalah menghilangkan perilaku kekerasan terhadap anak. Apakah puasa Ramadan juga dijadikan sarana latihan untuk mengekang hawa nafsu yang menjadikan anak sebagai korban tindak kekerasan? Bisakah kasus kekerasan terhadap anak yang sering kali muncul ke permukaan menghilang setelah puasa Ramadan usai?

Pertanyaan di atas tentu penting direnungkan. Sebagai pertanyaan reflektif, kita selayaknya bisa membaca fenomena kasus kekerasan terhadap anak. Sebut saja adanya orang tua yang tega berlaku kasar dan melukai fisik anak. Anak yang semestinya mendapatkan pengasuhan dan kasih sayang orang tua ternyata belum menemukannya secara maksimal dalam lingkungan keluarga. Tak hanya kekerasan secara fisik, tapi anak sering kali mendapatkan kekerasan psikis, kekerasan verbal, bahkan kekerasan seksual.

Melalui puasa Ramadan, orang tua sekiranya perlu melakukan perenungan (muhasabah) terkait interaksinya terhadap anak selama ini. Bagaimana pun, munculnya kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang tua menjadi keprihatinan. Anak yang masih dalam tahap tumbuh berkembang tidak mendapatkan lingkungan kondusif dari lingkungan terdekatnya. Keluarga sebagai lingkungan yang terdekat dengan anak justru sering kali menciptakan suasana tidak nyaman. Orang tua sering kali tidak terkontrol emosinya sehingga begitu mudahnya memukul dan menampar anak. Kekerasan verbal dengan cara membentak anak pun dilakukan orang tua. Tidak hanya dengan membentak dan memaki, tapi juga pernyataan-pernyataan yang merendahkan anak. Ketika orang tua mendapati anaknya bernilai buruk di sekolahnya, ungkapan anak bodoh sering kali mencuat. Ungkapan seperti anak bodoh, anak malas, dan semacamnya meskipun terlihat sepele, tapi tanpa disadari justru berefek kurang baik bagi psikologis anak.
Sikap abai orang tua dalam memelihara dan mengasuh anaknya juga bagian dari kekerasan tersendiri. Ada kalanya anak membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, tapi orang tua terlalu sibuk sehingga kurang perhatian terhadap anak. Tak berhenti pada kekerasan fisik, psikis, dan verbal, anak juga sering kali mendapatkan perlakuan tak senonoh. Kekerasan seksual terhadap anak biasanya dilakukan orang-orang terdekat, sebut saja ada ayah tega memperkosa anaknya atau kakek yang mencabuli anak yang masih polos. Kekerasan seksual terhadap anak ini tidak hanya dilakukan orang terdekat, tapi orang lain yang tidak dikenal sebagaimana kita saksikan dalam kasus kekerasan seksual yang sering kali diberitakan. Belum lagi ketika kita membicarakan perdagangan anak dan anak yang dipekerjakan. Di perempatan jalan, misalnya, kita masih menyaksikan anak-anak meminta-minta ataupun melakukan pekerjaan yang selayaknya tidak dilakukan.

Kasus kekerasan terhadap anak tentu saja bukan hanya catatan hitam orang tua. Puasa Ramadan sebagai media penempaan akhlak hendaknya dijadikan momentum bagi orang tua dan siapa pun untuk memperbaiki sikap dan perilakunya terhadap anak. Pemerintah, masyarakat, dan industri pers yang tanpa disadari menciptakan kekerasan terhadap anak juga perlu melakukan introspeksi. Kekerasan yang bisa disebut adalah sulitnya akses kebutuhan pangan yang sering kali menyebabkan anak menderita busung lapar dan gizi buruk. Kemiskinan penduduk menjadi penyebab hak-hak dasar anak untuk tumbuh berkembang kurang terpenuhi secara layak. Hak anak mendapatkan pendidikan bermutu juga sering kali terhambat karena persoalan biaya sekolah yang tidak proporsional dengan tingkat pendapatan ekonomi orang tua. Kekerasan terhadap anak lainnya yang bisa diungkap adalah kurangnya perlindungan anak terhadap bahaya rokok. Tidak hanya orang tua yang merokok, orang dewasa di sekitar anak juga memberikan contoh perilaku merokok pada anak. Anak yang terkena asap rokok atau yang berani merokok karena mencontoh orang dewasa pastinya akan berdampak pada kesehatan. Begitu juga dengan keberadaan industri pers yang sering kali tidak ramah terhadap anak. Tayangan kekerasan dan kurang mengedepankan moralitas di televisi tentu membahayakan tumbuh kembang anak. Berdasarkan studi psikologi, tayangan kekerasan mudah merasuk pada perilaku anak. Anak yang semestinya mendapatkan asupan yang bergizi bagi tumbuh kembangnya justru tercemari oleh tayangan-tayangan televisi yang tidak ramah anak. Di lingkungan sekolah, anak juga sering kali tidak terlepas dari kekerasan, baik dilakukan oleh oknum guru maupun sesama siswa. Perilaku kekerasan guru terhadap siswanya beberapa kali mencuat ke permukaan. Pun, tindakan kekerasan pelajar (bullying) dimana anak yang lemah selalu menjadi korban anak yang kuat dan sok arogan.

Pastinya, baik orang tua, pemerintah, masyarakat, sekolah maupun industri pers perlu menyadari bahwa kekerasan yang mengancam anak akan bisa berdampak bagi kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara di masa mendatang. Pertama, anak akan mewarisi kekerasan dalam kehidupannya kelak. Kedua, lahirnya generasi masa depan yang penuh depresi dan perasaan traumatis akibat kekerasan yang didapatkan sejak kecil. Ketiga, kurang berdayanya potensi generasi masa depan dalam menghadapi dinamika dan tantangan zaman.

Dalam hal ini, puasa Ramadan hendaknya mampu membangun sensibilitas sosial. Dengan menahan lapar dan dahaga, puasa Ramadan harus dimaknai sebagai pembebasan anak dari cengkereman kelaparan, kesehatan yang buruk, dan pendidikan yang terabaikan. Puasa Ramadan harus dimaknai sebagai sarana meredam dan menghilangkan tindak kekerasan terhadap anak. Anak sebagai generasi masa depan harus hidup secara aman dan mendapatkan kasih sayang sepenuhnya. Salah satu keberhasilan ibadah puasa Ramadan adalah jika kondisi yang belum ramah terhadap tumbuh kembang anak menghilang. Ibadah puasa Ramadan dikatakan berhasil jika kehidupan setelah Ramadan tidak ada lagi kekerasan terhadap anak. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute UNY&Fungsionaris Forum Indonesia

Dunia Kampus Tak Sekadar Akademik

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Harjo Forum Harian Jogja, Sabtu 7 Agustus 2010

Wacana dan persoalan tentang mahasiswa tak pernah usai. Mahasiswa merupakan sosok yang selalu hangat diperbincangkan. Mahasiswa dalam sepak terjangnya tak selalu diapresiasi. Kritik juga menerpa mahasiswa. Pun, ada harapan yang digantungkan kepada mahasiswa. Terkait mahasiswa, banyak pihak telah memperbincangkan dan mengutarakan opini. Begitu juga Ika Feni Setiyaningrum yang mencoba turut memperbincangkan mahasiswa dalam artikelnya di Rema Post edisi 04/Tahun IV/Agustus 2010.
Dikatakan Ika Feni Setiyaningrum bahwa mahasiswa memiliki dunia berbeda dengan dunia siswa SMA. Dunia kampus mengajak mahasiswa bersikap lebih mandiri, pandai menghadapi tantangan dan problematika. Dalam artikelnya yang berjudul Dunia Mahasiswa Tak Sekadar Akademik, Ika Feni Setiyaningrum tampak jelas membangun paradigma bahwa mahasiswa semestinya tak berkutat pada dunia akademik semata. Mahasiswa juga perlu melibatkan diri dalam dunia organisasi mahasiswa. Ika Feni Setiyaningrum, mahasiswi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), itu menuturkan, “Dunia kampus bukan hanya sekadar dunia mencari nilai akademik. Bukan sekadar dunia nongkrong. Dunia kampus, dunia inspirasi perubahan. Dunia kampus, wadah pencetak kader harapan bangsa.” Lebih lanjut Ika Feni Setiyaningrum berujar bahwa mahasiswa tak cukup hanya berkutat pada diktat-diktat kuliah atau mengurus tugas kuliah. “Organisasi, sarana pembentuk mahasiswa bermental matang, mandiri, dewasa. Organisasi, sarana membangun komunikasi dan jaringan. Pengalaman organisasi sebagai bekalan dunia profesi ke depan,” kata Ika Feni Setiyanigrum. Kenapa organisasi sebagai bekalan profesi? Ika Feni Setiyaningrum menjelaskan, “Dunia profesi tak sekadar membutuhkan nilai akademik, IP cumlaude, tapi butuh pula kemampuan komunikasi, kemandirian, kematangan, dan kedewasaan; hasil pengalaman berkecimpung di dunia organisasi.”

Dalam artikelnya di rubrik Gagasan Rema Post edisi 04/Tahun IV/Agustus 2010 pada halaman 5 itu, Ika Feni Setiyaningrum juga menegaskan peran mahasiswa. Ada tiga peran, yakni director of change, iron stock, dan transformator. Berikut penjelasan Ika Feni Setiyaningrum, “Director of change, peran mahasiswa sebagai agen sekaligus pemimpin perubahan masa depan bangsa. Iron stock, pemuda sebagai benih-benih pemimpin masa depan bangsa, penentu arah dan tujuan ke manakah bangsa ini akan dibawa. Transformator, peran mahasiswa sebagai penggerak perubahan...”

Apa yang disampaikan Ika Feni Setiyaningrum lewat artikelnya di Rema Post edisi 04/Tahun IV/Agustus 2010 memang menarik disimak, bahkan didiskusikan. Ada kalimat Ika Feni Setiyaningrum di akhir artikel, “Selamat datang duhai calon pemimpin bangsa di dunia organisasi! Bergabunglah, niscaya akan kau temukan hal yang berbeda di sana. Semoga.” Mungkin karena Rema Post edisi 04/Tahun IV/Agustus 2010 diterbitkan pada hari pertama Ospek UNY 2010 pada Senin (2/8), maka digunakan kalimat itu yang ditujukan kepada mahasiswa baru. Namun, perihal “calon pemimpin bangsa” sebenarnya bisa juga ditujukan kepada siapa pun yang masih mahasiswa. Yang justru lebih menarik adalah kata “semoga” untuk menuntaskan artikel. Dari kata itu, ada harapan yang juga bisa dibaca: mampukah organisasi melakukan hal sebagaimana diutarakan Ika Feni Setiyaningrum dalam artikelnya? Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO

"Progress" Terbit di Ospek UNY 2010

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Suara Karya,Rabu, 4 Agustus 2010
Orientasi studi dan pengenalan kampus atau biasa disingkat Ospek digelar Universitas Negeri Yogyakarta mulai Senin (2/8). Pelaksanaan Ospek UNY 2010 ini berakhir Jumat (6/8). Pada hari pertama pelaksanaan Ospek, Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Jamaah Al-Mujahidin UNY menerbitkan "Progress" edisi khusus. "Progress" tampil dengan empat halaman terdiri dari berita liputan dan satu artikel opini.

Dalam berita liputannya, Ospek tampak masih dianggap penting bagi mahasiswa. Ospek penting untuk mengenalkan kampus kepada mahasiswa baru, tapi perlu menghindari hal-hal yang tidak mendidik seperti perpeloncoan.
alam salah satu alinea, "Progress" menulis, "Memang agenda Ospek sering kali digunakan untuk melatih sensitivitas jiwa sosial mahasiswa baru. Salah satunya dengan penugasan yang akan dikumpulkan panitia untuk disumbangkan dalam kegiatan bakti sosial. Jadi, bukan hanya agar mahasiswa tahu di mana tempat parkir, masjid atau perpustakaan. Meskipun diagendakan pula kegiatan menjelajahi kampus oleh beberapa fakultas."

Ospek yang merupakan tradisi tahunan di kampus tentu memiliki persiapan matang. Di UNY, pada hari pertama digelar Ospek universitas di Gedung Olah Raga (GOR) UNY, dilanjutkan hari kedua dengan display Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Pada hari ketiga sampai hari kelima dilaksanakan Ospek fakultas.

"Progress" menuliskan, "Demi kelancaran saat hari pelaksanaan, setiap fakultas mengadakan technical meeting (TM). Tujuannya adalah mempertemukan peserta dengan panitia pelaksana dan memberikan arahan seputar hari pelaksanaan. Salah satunya Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yang mengadakan agenda pra-Ospek bertajuk 'MIPA goes to GOR'. Acara ini diadakan Sabtu (31/7) di halaman barat Masjid Al-Mujahidin."

"Progress" edisi khusus Ospek UNY 2010 bisa dikatakan tampil lain. Untuk dapat menghadirkan "Progress" dalam setiap pelaksanaan Ospek, kerja keras tentu dibutuhkan tim redaksi.

Pada halaman 3 dan 4, "Progress" menampilkan tulisan Pidi Winata berjudul "Pendidikan Karakter, Mungkinkah Terwujud?" Secara garis besar, opini Pidi Winata menekankan pada sisi implementasi pendidikan karakter, termasuk pula implementasi pendidikan karakter di kampus UNY. Dari identitas Pidi Winata, tertera aktif sebagai trainer muda Profetika Training Center sekaligus sebagai pengelola Rumah Prestasi "Bina Insan Muda Cendekia" Yogyakarta.

Ada kalimat menarik dalam penerbitan "Progress" edisi khusus Ospek ini yakni "Bangun Indonesia madani dari kampus bernurani."

Hendra Sugiantoro
Karangmalang
Yogyakarta 55244
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=259035

Ospek UNY 2010, Rema Post dan Progress Siap Terbit

Oleh: HENDRA SUGIANTORO Harjo Forum Harian Jogja, Selasa 3 Agustus 2010
Media kampus terdapat di setiap kampus. Di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dua media kampus yang dinilai memberikan warna tersendiri adalah Rema Post dan Progress. Dua media kampus ini tidak sekadar menerbitkan media berupa buletin, tapi juga berikhtiar mendidik khalayak. Kontrol sosial memang penting, tapi bukan menghujat. Ada opini mencerahkan yang coba dibangun dua media kampus ini. Dwi Murdaningsih, pemimpin redaksi Positive BEM FMIPA Universitas Diponegoro, tak segan memberikan komentar, “Rema Post, mencerdaskan. Opininya banyak banget, bukan sekadar liputan. Siplah.” Opini yang banyak dalam penerbitan Rema Post tentu tidak diartikan opini mendominasi liputan berita. Membaca Rema Post terbitan 2010, ada reportase utama dalam rubrik Headline, berita-berita ringan di halaman belakang, dan ada berita wawancara. Untuk menjalin komunikasi dengan warga kampus, Rema Post membuka rubrik surat pembaca di mana warga kampus bisa memberikan pendapat dan komentar. Di samping itu, ada rubrik Gagasan, bahkan Rema Post yang terbit 8 halaman memiliki rubrik Sastra pada halaman 7. Rema Post yang diterbitkan Badan Eksekutif Mahasiswa Republik Mahasiswa (BEM REMA) UNY ini sudah cukup lama terbit semenjak tahun 2006. Tentu saja terjadi inovasi dalam bentuk dan isi Rema Post yang tidak sama dari tahun-tahun. Kini di bawah pimpinan umum Nurhayati Budiyanti, Rema Post terus mempertahankan eksistensi sebagai media kampus yang layak ditunggu khalayak kampus. Begitu pula dengan Progress yang memberikan warna religius di UNY. Sesuai dengan visi UNY untuk membangun insan bernurani, cendekia, dan mandiri kehadiran Progress memiliki arti penting. Progress yang diterbitkan Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Jama’ah al-Mujahidin UNY berikhtiar memberikan ilmu, wawasan, dan wacana keagamaan lewat penerbitannya. Dengan penerbitan Progress yang kini di bawah pemimpin redaksi Ayip Miftahuddin, UNY semakin memperkuat unsur pembangunan rohani masyarakat kampus yang diidealkan selama ini. Lantas, bagaimana Rema Post dan Progress menghadapi hajatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) UNY yang digelar pada 2 Agustus-6 Agustus 2010? Sebagai dua media terbaik di UNY, Rema Post dan Progress tentu tidak meninggalkan momentum Ospek. Penerbitan Rema Post dan Progress direncanakan setiap hari. Boleh dibilang penerbitan dalam Ospek ini merupakan edisi khusus. Secara garis besar, pendidikan profetik menjadi tema sentral yang diusung. Tema pendidikan profetik memang menjadi tema dari universitas dalam hajatan Ospek tahun ini. Untuk turut menanamkan dan membangun kesadaran perihal pendidikan profetik di benak mahasiswa baru, Rema Post dan Progress berusaha bekerja secara baik. Tulisan-tulisan opini dipastikan akan mengisi rubrik dan ada liputan dari pelaksanaan Ospek di lapangan. Yang jelas, terbitnya Rema Post dan Progress dinantikan warga kampus yang dinahkodai Rachmat Wahab ini. Wallahu a’lam.(Hendra Sugiantoro)

Menapaki Hidup Menggapai Kesuksesan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Suara Merdeka, Selasa 27 Juli 2010

Setiap kita mendapatkan apa yang kita usahakan. Dalam usaha diperlukan komitmen dan kerja cerdas sekaligus kerja keras. Hasil dari usaha juga menghendaki proses yang tepat. Kualitas hasil didahului dengan kualitas proses. Siapa pun kita berhak untuk bermimpi dan bercita-cita.

Pun, berhak memperoleh dari apa yang diimpikan dan dicitakan. Namun, kita ternyata tak selalu bermimpi besar. Ada sikap fatalistik ketika kita tunduk menyerah atas nasib buruk yang dialami. Lebih memilukan lagi ketika kita menyalahkan takdir, bahkan menyalahkan Tuhan yang tidak membuat hidup kita berkelimpahan.

Siapa pun perlu melihat bahwa masa depan itu cerah. Masa depan yang baik milik siapa pun yang siap meraihnya. Ikhtiar adalah keniscayaan tanpa peduli seberapa pun hambatan dan tantangan menghadang. Asalkan keinginan dan impian itu baik, kebaikan akan diperoleh. Siapa pun kita layak menjadi manusia-manusia besar yang merasakan kesuksesan hidup.

Tak peduli modal fisik dan materi pada diri kita, kesuksesan hanya membutuhkan tangan yang bekerja. Kesuksesan juga membutuhkan kekuatan jiwa untuk menggapainya. Kesuksesan harus dijemput siapa pun. Kita harus memaknai hidup secara benar agar kesuksesan juga termaknai secara benar.
Kita tentu tak begitu saja bisa menggapai kesuksesan tanpa melalui jalan yang berliku terjal. Ada kelebihan dalam diri kita dan juga ada kekurangan dalam diri kita. Kekurangan bukan untuk memperlemah, tapi faktor yang membuat kita mawas diri. Kita harus membanggakan kelebihan untuk berpikir dan bertindak besar, namun bukan berarti menampakkan keangkuhan.

Dalam hidup, kegagalan adalah hal biasa. Begitu juga penderitaan adalah hal biasa yang tak perlu membuat kita risau dan penuh gerutu. Ujian kegagalan dan penderitaan harus kita alami untuk mendewasakan langkah agar kita menjadi manusia besar. Mungkin saja kita pernah mengalami kegagalan di masa lalu, namun kita perlu mengingat bahwa kita tidak hidup di masa lalu.

Sebaliknya, kita tidak harus terus membanggakan kesuksesan di masa lalu karena kita akan hidup di masa depan. Pariman Siregar (2009) menuturkan, terkungkung pada masa lalu bukanlah pilihan tepat. Meratapi kegagalan dan kesalahan di masa lalu hanya membuat kita terpuruk dan tidak percaya diri menghadapi kehidupan.

Terbuai dengan prestasi di masa lalu sehingga membuat kita terlena bukan tindakan yang bijaksana. Ada tantangan di masa depan yang menampakkan wajah berbeda dari apa yang kita alami di masa lalu dan di masa kini.

Menjalani hidup ini, kita perlu berpikir dan bertindak untuk mendekap kesuksesan. Asalkan baik, kita harus percaya diri dengan impian kita. Kesuksesan hidup adalah milik kita yang bersedia memantapkan ikhtiar sekaligus memanjangkan doa. Tak ada yang sia-sia dalam hidup ini jika kita berproses secara benar dalam menggapai kesuksesan.

Kesuksesan jangan dimaknai pada hasil semata, namun juga pada proses. Banyak dari kita tampak menggenggam kesuksesan yang justru menjadi bumerang di kemudian hari jika tidak dicapai secara benar. Kita kian menyadari bahwa ada pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.

Hendra Sugiantoro
Koordinator Forum Indonesia
Karangmalang, Yogyakarta 55281
085228438047

Yogyakarta Luncurkan Minimagz Garnish


Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Harjo Forum, Harian Jogja, Sabtu, 24 Juli 2010

Ketika masa depan ditentukan oleh sebuah pengumuman yang mengharuskanku mengambil keputusan meninggalkan kampung halaman, tak ada lagi pilihan untuk mundur. Di sinilah semuanya berawal. Langkah pertama yang kuambil ketika kaki pertama kali menginjak tanah yang baru, itulah awal mula mimpiku. Kini aku harus siap memulai dunia baru, di daerah baru, dengan orang-orang baru, dan tentu dengan semangat baru yang menggebu. Semangat baru untuk menuntut ilmu.”

Kalimat-kalimat di atas merupakan penggalan dari tulisan yang dianggit Mukhti Nuryani dalam Minimagz Garnish. Majalah kecil ini diterbitkan oleh Divisi Media Informasi Unit Kerohanian Islam (UKI) Jama’ah Shohwatul Islam (JAHSTIS) STMIK Amikom Yogyakarta. Mungkin kita akan bertanya maksud dari penggalan kalimat di atas. Untuk mencari jawab, awalnya kita hanya bisa menafsirkan semata. Tafsiran itu bisa benar dan bisa juga keliru sebelum membaca tulisan utuhnya.
Dengan menggunakan “aku”, Mukhti Nuryani seolah-olah menceritakan pengalaman pribadinya. Namun, “aku” yang dimaksud dalam tulisan itu adalah “aku yang banyak”. Minimagz Garnish terbitan kali pertama ini beredar dalam rangka penyambutan mahasiswa baru STMIK Amikom Yogyakarta 2010/2011. “Aku yang banyak” adalah mahasiswa yang jumlahnya ribuan. Dalam rubrik Cover Story, Mukhti Nuryani mencoba mewakili jiwa, perasaan, semangat, dan harapan mahasiswa baru lewat tulisannya yang diberi judul “Kutinggalkan Kampung Halaman dan Kumulai Petualangan”.

Selain tulisan di atas, Minimagz Garnish yang berjumlah 28 halaman ini juga menampilkan tulisan lainnya dalam beragam rubrik. Dalam rubrik Profil, kisah perjalanan Salman al-Farisi memeluk Islam coba diceritakan Argi Pratiwi.

Minimagz Garnish edisi Juli-Agustus 2010 ini menarik dibaca. Setiap rubrik berisi tulisan yang ringan, tapi penuh makna. Dalam rubrik Muslim Corner, Erlinda Rakhmawati menampilkan tulisan yang diberi judul “Merantau: Titik Awal Perubahan”. Tulisan ini mengajak pembaca, terutama mahasiswa yang berasal dari luar Yogyakarta, memahami makna dari merantau.

Selain tulisan-tulisan di atas, masih banyak tulisan-tulisan lainnya yang ditampilkan dalam Minimagz Garnish. Masyarakat kampus, terutama sivitas STMIK Amikom Yogyakarta, tentu menantikan terbitnya edisi selanjutnya.

Hendra Sugiantoro

Membaca Wajah Kita di Jalan Raya

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Aspirasi Harian Jogja, Jum'at, 16 Juli 2010

JALAN RAYA adalah tanda yang menegaskan keberadaan manusia. Di jalan raya, setiap manusia memperlengkap biografinya. Membaca budaya manusia yang membentuk budaya masyarakat, jalan raya menjadi cermin bening untuk mengaca. Tak perlu menelaah berlembar-lembar halaman “ensiklopedi manusia” untuk melihat kepribadiannya. Cukuplah melihat jalan raya karena jalan raya merupakan berlembar-lembar halaman yang (telah) menampakkan wajah manusia berbudaya sekaligus manusia krisis budaya.

Makna yang tecermin di jalan raya menyuguhkan keprihatinan ketika hiruk-pikuk manusia sekadar memenuhi kepentingannya. Setiap manusia memang menunaikan hajat selamat sampai tujuan, namun kepentingan hajat itu sering kali tak mengindahkan eksistensi manusia lainnya. Jalan raya yang merupakan milik umum dijadikan tempat pribadi untuk sebebasnya menunjukkan arogansi. Multitanda jalan raya adalah individualisme yang hanya menghendaki keselamatan diri. Ketidakpedulian terhadap keselamatan jama’ah pengguna jalan raya telah banyak menggoreskan kisah kecelakaan yang menimbulkan tragedi. Siapa pun boleh menyebut kecelakaan adalah takdir, namun mengapa tidak menjemput takdir: keselamatan jama’ah di jalan raya?

Multitanda di jalan raya telah merekam individualisme manusia. Beragam hal hadir di jalan raya untuk menyesaki biografi manusia terkait lenyapnya kesabaran. Klakson-klakson bersahutan di tengah nyala hijau seolah-olah menjadi peraturan. Agar tidak lagi terjebak lampu merah, pengendara di belakang menganggap pengendara di depannya buta warna! Tak menjadi soal jika bunyi klakson adalah alunan merdu yang menenangkan kegelisahan jiwa manusia. Namun, alunan musik klakson tanpa disadari justru tidak diterima detak jantung pengendara di depannya. Membaca jalan raya adalah membaca minimnya penghargaan dan penghormatan terhadap manusia lainnya. Meskipun telah meniti zebra cross, pengendara tak sudi mempersilakan penyeberang jalan. Dengan kecepatan yang tentu tak sebanding, kendaraan roda empat mendesak kendaraan roda dua untuk selekasnya berjalan.

Jalan raya memang menghadirkan ironi. Setiap manusia sebebasnya melanggar peraturan. Peraturan dilanggar selaras isi kepala. Tak peduli bersliweran tanpa helm jika kepala tak nyaman, padahal helm tak mengenal nama jalan. Bukankah di jalan mana pun tak ada anjuran: lepaskan helm dan biarkan rambutmu berkibar? Meskipun mampu menghindar dari operasi polisi, pun tak ada anjuran tak perlu membawa “ surat jalan”. Jalan raya memang tanda minimnya ketertiban. Tak peduli marka jalan asal kendaraan bisa melaju kencang. Jalan raya pun dijadikan sirkuit balap yang sejatinya tidaklah memesona. Di jalan raya, manusia seolah-olah enggan melengkapi biografinya dengan kedisiplinan.

Jalan raya juga tanda kemelaratan, bahkan mungkin ketidakberdayaan. Di setiap sudut jalan, anak-anak jalanan berjejal mengais iba. Di tengah jerit pengemis dan gelandangan, ada kesenjangan yang diperlihatkan secara terang di jalan raya ketika kendaraan-kendaraan mewah berlalu-lalang. Jalan raya adalah cermin belum mampunya penguasa memberikan keadilan dan menciptakan kesejahteraan!

Multitanda di jalan raya adalah nyata. Jalan raya telah menjadi saksi perjalanan manusia yang krisis budaya. Jalan raya sebagai ruang budaya yang kasatmata tidak menyembunyikan sikap dan perilaku manusia. Memang ada perilaku positif di jalan raya, namun pesan krisis budaya di jalan raya tentu menyeruakkan keprihatinan. Selain di atas, perilaku negatif di jalan raya adalah menjadikan jalan raya sebagai tempat sampah! Membaca hiruk-pikuk manusia di jalan raya terdapat catatan budaya nyampah. Manusia sebagai pengguna jalan raya menjadikan jalan raya untuk membuang sampah.

Cobalah lihat, dari kaca bus atau mobil, sisa makanan dan minuman dilempar keluar begitu saja. Dari pengguna kendaraan roda dua sampai roda empat telah meninggalkan sampah-sampah di jalan raya. Sisa makanan dan minuman sering kali keluar dari kaca bus. Pengendara yang suka menghisap rokok membuang sisa puntungnya di jalan raya. Botol air mineral dilempar begitu saja dari jendela mobil. Biar jalan raya kotor, kulit jeruk dibuang seenaknya asalkan mobil tetap bersih. Membuang sampah sembarangan adalah perilaku nyampah. Bungkus permen, kulit pisang, botol air mineral, kertas tak terpakai atau pun plastik bekas telah memberi tanda sulitnya manusia menjaga kebersihan.

Tak hanya pengendara, pejalan kaki pun sering kali menjadikan jalan raya sebagai tempat sampah. Perilaku nyampah di jalan raya tanpa disadari telah menjadi perilaku kita. Banyak dari kita membuang sampah seenaknya di jalan raya. Ketika berjalan di trotoar, bungkusan makanan dibuang begitu saja. Berjalan sambil merokok, puntung tidak dibuang di tempat sampah. Masyarakat pun sulit menjaga kebersihan jalan raya. Sampah-sampah dibiarkan berserakan di pinggir jalan raya, bahkan ada yang membuang bangkai tikus di tengah jalan raya.

Meskipun tampak sepele, perilaku membuang sampah di jalan raya menandakan karakter dan perilaku buruk. Membuang sampah di jalan raya tidaklah tepat. Sampah sekecil apa pun tetap saja sampah yang mengurangi kebersihan jalan raya. Jalan raya akan kotor meskipun hanya sampah-sampah kecil yang dibuang. Bungkus permen, kulit pisang, botol air mineral, kertas tak terpakai ataupun plastik bekas tak selayaknya dibuang begitu saja mengotori jalan raya. Jalan raya harus tetap dijaga kebersihannya.

Becermin pada jalan raya, siapa pun akan menemukan sisi buram kehidupan. Krisis budaya di jalan raya telah menggambarkan krisis budaya di ruang-ruang kehidupan lainnya. Tanpa mereportase sepak terjang anggota dewan, siapa pun bisa menyaksikan wajah parlemen di jalan raya. Apa yang terjadi di jalan raya adalah cermin yang terjadi di birokrasi kekuasaan. Tak berjalannya fungsi kekuasaan politik, lihatlah fenomena di jalan raya. Wajah jalan raya adalah wajah masyarakat, wajah kekuasaan, wajah masing-masing diri kita! Becermin pada jalan raya, saatnya kita memperbaiki diri. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute UNY

Menimbang Pendidikan Profetik

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Kamis 15 Juli 2010

Dalam buku Dibawah Bendera Revolusi, Bung Karno mengemukakan suatu tatanan masyarakat apik. Masyarakat apik yang dituturkan presiden pertama Republik Indonesia itu adalah masyarakat Madinah pascahijrahnya Muhammad SAW dari Mekah. Sejarah pun mengakui bahwa masyarakat Madinah di masa tokoh yang oleh Michael Hart disebut tokoh berpengaruh nomor satu di dunia (baca: Muhammad SAW) ini merupakan masyarakat yang berperadaban tinggi. Masyarakat Madinah yang sering disebut masyarakat Madani merupakan impian setiap cita perjuangan dalam hiruk-pikuk wacana di negeri ini.

Hadirnya masyarakat dengan peradaban tinggi di bumi Madinah pastinya tidak dicapai seketika. Ada proses pendidikan yang telah dilakukan Muhammad SAW pada saat itu untuk menempa generasi terbaik dalam lintasan sejarah. Bung Karno menuturkan, “Bahannya yang sebelum hijrah itu adalah terutama sekali pekerjaan membuat dan membentuk bahannya masyarakat Islam kelak, material buat masyarakat Islam kelak; yakni orang-orang yang percaya kepada Allah yang satu, yang teguh imannya, yang suci akhlaknya, yang luhur budinya, yang diwahyukan di Makkah itu adalah mengandung ajaran-ajaran pembentukan rohani ini: tauhid…”. Dari penuturan Bung Karno, pembentukan masyarakat Madinah pada dasarnya telah diawali ketika di Mekah. Individu manusia yang merupakan pilar pembentukan masyarakat adalah individu manusia yang percaya kepada Allah yang satu, memiliki keteguhan iman, memiliki kesucian akhlak, dan memiliki keluhuran budi.

Bung Karno melanjutkan, “…tauhid, percaya kepada Allah Yang Esa dan Maha Kuasa, rukun-rukunnya iman, keikhlasan, keluhuran moral, keibadatan, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada si miskin, berani kepada kebenaran, takut pada azabnya neraka, lezatnya ganjaran surga, dan lain-lain sebagainya yang perlu buat menjadi kehidupan manusia umumnya, dan fundamen ruhaninya perjuangan serta masyarakat Madinah kelak…” Pada titik ini, apa yang dituturkan Bung Karno menandakan satu hal penting bahwa pembentukan suatu tatanan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari pendidikan berbasis rohani. Dapat pula dikatakan bahwa pendidikan yang berlandaskan keimanan merupakan keniscayaan dalam membangun masyarakat Indonesia .
Secara implisit, apa yang dituturkan Bung Karno di atas menegaskan suatu paradigma pendidikan yang tidak meninggalkan dimensi transendensi. Bung Karno juga seolah-olah mengajak kita menghayati proses pembangunan masyarakat dalam spirit profetik (kenabian). Pendidikan profetik menjadi kunci membangun cita-cita peradaban dan tatanan masyarakat. Mengacu konsep ilmu sosial profetik Kuntowijoyo, transendensi merupakan salah satu dimensi yang berkesatuan dengan dimensi humanisasi dan liberasi. Dengan kata lain, humanisasi, liberasi, dan transendensi merupakan tiga dimensi dalam pendidikan profetik yang mengarahkan perubahan atas masyarakat. Yang perlu dicatat, dari tiga dimensi itu, transendensi merupakan landasan dan arah dari humanisasi dan liberasi. Artinya, transendensi yang menunjuk pada persoalan ketuhanan menghendaki humanisasi dan liberasi yang tidak meninggalkan keimanan. Dimensi humanisasi dan liberasi dalam pendidikan profetik bukan diarahkan agar manusia sebagai pusat segalanya. Setiap proses pendidikan untuk mengangkat martabat manusia (humanisasi) dan membebaskan manusia dari ketertindasan (liberasi) mengajak manusia memiliki ketertundukan pada Tuhan.

Dalam hal ini, pendidikan profetik tidak sekadar mendeskripsikan dan mentransformasikan gejala sosial semata. Pendidikan berparadigma profetik tidak hanya mengubah sesuatu hanya demi perubahan. Lebih dari itu, pendidikan berparadigma profetik mengarahkan perubahan atas dasar cita-cita etik dan profetik (Pujiriyanto:2006). Pendidikan profetik akan melahirkan individu manusia yang mampu meneruskan tugas suci sebagai makhluk Tuhan. Profetik yang bermakna kenabian bukan berarti individu manusia yang ditempa dalam pendidikan profetik akan menjadi Nabi, namun individu manusia ditempa pola pikir, sikap, dan perilakunya untuk siap mengambil peran sejarah meneruskan jejak-jejak para Nabi dalam membangun kehidupan. Membaca sejarah, setiap Nabi yang diutus Tuhan memiliki peran membawa masyarakatnya pada tatanan kehidupan yang ideal. Individu manusia melalui pendidikan profetik akan siap menjadi pemimpin bagi masyarakat, hidup bersama masyarakat, dan berjuang untuk memerdekakan masyarakat dari keterpenjaraan, keterpurukan, kejahilan, dan ketertindasan. Melalui pendidikan profetik, individu manusia menyadari dan melaksanakan tugasnya untuk beribadah kepada-Nya dan memakmurkan kehidupan di muka bumi-Nya.

Dalam proses membangun individu manusia, pendidikan profetik mencakup pendidikan akal, pendidikan akhlak, pendidikan moral, pendidikan jiwa, pendidikan sosial, dan pendidikan fisik. Begitu juga pendidikan profetik mencakup pendidikan karakter. Pun, pendidikan profetik mencakup pendidikan multikultur. Dengan pendidikan profetik, individu manusia mampu memahami perbedaan dengan spirit toleransi. Pendidikan profetik akan mampu seperti pernah diutarakan Driyarkara (1980) untuk mengangkat manusia muda ke taraf insani sehingga ia dapat menjalankan hidupnya sebagai manusia utuh dan membudayakan diri. Pendidikan profetik akan mampu seperti Ki Hajar Dewantara memberi wejangan mengenai pendidikan, yakni menuntun segenap kodrat manusia agar sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tinggi.

Individu manusia yang ditempa melalui pendidikan profetik diarahkan menjadi individu-individu manusia yang berkeyakinan lurus, beribadah secara benar, berbudi mulia, memiliki daya jasmani, luas wawasan berpikirnya, mampu memanajemen urusan kehidupannya, mampu menundukkan keburukan nafsunya, mampu menafkahi dirinya dan memiliki kreativitas dalam pekerjaan, mampu memelihara waktunya untuk hal berguna, dan berkontribusi positif bagi kebangunan masyarakat. Wallahu a’lam
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute UNY&Fungsionaris Forum Indonesia

Di Angkutan Umum, Enaknya Ngapain?

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan Harian Jogja, Senin 12 Juli 2010

Apa yang kita lakukan ketika berada di angkutan umum? Banyak hal. Mungkin kita memandangi dunia luar di balik kaca, mungkin pikiran kita melayang, atau mungkin kita berpikir. Asalkan positif tak jadi masalah. Tak ada rumus baku apa yang harus kita lakukan selama dalam perjalanan di angkutan umum. Lain kita, lain pula orang lain. Pun, ada kisah menarik dituturkan seorang laki-laki dari Bekasi dalam rubrik Kiat, Majalah Tarbawi edisi 197, 19 Februari 2009.

Laki-laki itu menempuh perjalanan sejauh sekitar 40 kilometer dari rumah ke kantor. Apa yang dilakukan laki-laki—bernama Ridha—itu ketika naik angkutan umum yang bisa berganti sebanyak empat kali untuk sampai ke kantor? Ia memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Jika bukan itu, ia melihat hiruk-pikuk jalanan melalui kaca jendela angkutan umum. Kadang yang ia lakukan adalah melanjutkan tidur dan melepas kelelahan usai bekerja. Ia juga sering kali mengalami kebosanan, bahkan sedikit stress melihat jalanan macet.
Lain kita, lain Ridha. Ia justru merasakan harus ada kebiasaan yang diubah dalam perjalanan. Menurutnya, ada waktu yang berlalu tanpa makna jika hanya melakukan seperti disebutkan di atas. Ia pun bertekad untuk mengubah kebiasaan dalam perjalanan dengan MEMBACA. Target pun dibuat bahwa ia harus dapat menyelesaikan membaca satu buku atau jurnal dalam beberapa hari ketika berada di angkutan umum. Entah, berapa hari tepatnya untuk selesai satu buku atau jurnal, namun ia serius membuat kebiasaan baru. Meskipun pada awalnya tak bisa fokus membaca karena suara-suara yang terdengar, ia akhirnya bisa tetap fokus membaca di tengah keramaian. Dengan tekad dan komitmen yang ia miliki, membaca di angkutan umum menjadi kebiasaan.

Berikut penuturannya, “Sekarang, saya selalu mempersiapkan bahan bacaan selama dalam perjalanan kemana pun saya bepergian. Setiap detik waktu sangatlah berharga, dan waktu itu tak akan pernah kembali.”

Lain Ridha, lain kita. Ada hal positif lainnya yang bisa kita lakukan selama dalam perjalanan di angkutan umum. Apa yang kita lakukan? Jika belum melakukan hal positif, maka aku, kamu, dan kita hanya harus memulai. Wallahu a’lam.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281