Membiografikan (Tokoh) Perempuan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Di Balik Buku Jawa Pos, Minggu 10 Oktober 2010

SEJARAH memiliki makna. Sejarah tak sekadar rentetan peristiwa dan tokoh masa lalu. Sejarah mengandung pelajaran. Bukti bahwa sejarah itu perlu, kata Kuntowijoyo, adalah kenyataan sejarah terus ditulis orang, di semua peradaban dan di sepanjang waktu. Pentingnya (mempelajari) sejarah menghendaki pentingnya menjaga sejarah lewat tulisan. Meskipun bisa dijadikan acuan dan referensi, bahasa tutur memiliki kelemahan terkait keterjagaan dan keaslian. Sifat lupa manusia adalah dalil sahih untuk menyelamatkan sejarah dalam teks.

Untuk dapat menulis sejarah tentu tak selalu menjadi perkara mudah. Sumber-sumber referensial dibutuhkan untuk menepatkan penulisan. Menelusuri data-data masa lalu memerlukan keuletan, kesabaran, dan ketekunan. Betapa sulitnya menulis sejarah bukan berarti tak bisa dilakukan. Buku-buku sejarah yang diterbitkan merupakan tanda bahwa sejarah bisa dituliskan. Apalagi riwayat penulisan di Indonesia telah berlangsung berabad-abad lampau yang bisa dijadikan kajian dan telaah sejarah.

Terkait penulisan sejarah tentu tak melulu soal peristiwa. Tokoh-tokoh yang pernah ada dan hadir di masa lalu bisa menjadi tema penulisan tersendiri. Hal ini telah dilakukan seperti penulisan biografi Teuku Umar oleh Hazil Tansil. Buku biografi Soekarno juga telah ditulis oleh penulis dalam negeri dan luar negeri. Tokoh-tokoh lainnya tak lupa ditulis dan dibiografikan, seperti Mohammad Hatta, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’arie, dan lain-lain. Bahkan, biografi tokoh dalam bentuk novel pernah beredar seperti Cermin Kaca Soekarno karangan Mayong Sutrisno dan Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil karya Remy Silado. Lewat tetralogi Pulau Buru-nya, Pramoedya Ananta Toer sebenarnya juga memaparkan satu sosok Tirto Adi Soerjo. Meskipun novel biografi bukan buku sejarah, namun bisa menjadi acuan membaca tokoh yang diceritakan.

Dari banyaknya buku biografi dituliskan, namun ternyata masih memunculkan kegelisahan. Pasalnya, penulisan biografi tokoh-tokoh perempuan di masa lalu harus diakui minim. Kartini bisa dikatakan terbantu dengan kumpulan surat-suratnya yang dipublikasikan lewat Door Duisternis Tot Licht. Penerbitan surat-surat Kartini yang dilakukan J.H. Abendanon pada 1911 itu sedikit banyak menyokong penulisan biografi Kartini. Dengan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, masyarakat umum pun bisa membaca pikiran dan perasaan perempuan kelahiran Jepara itu. Sosok Kartini pun tak lepas dari buku sejarah yang diajarkan di sekolah. Biografi Kartini telah banyak ditulis, termasuk oleh Pramoedya Ananta Toer dengan judul Panggil Aku Kartini Saja. Sitisoemandari Soeroto pernah menulis buku Kartini: Sebuah Biografi.

Selain Kartini, Cut Nyak Dien juga menduduki porsi besar dalam penulisan tokoh perempuan masa lalu. Tak hanya nonfiksi, tapi juga ditulis dalam bentuk novel oleh Ragil Soewarno. Dapat disaksikan bahwa pemaparan perihal Cut Nyak Dien begitu banyak dibandingkan pemaparan tokoh perempuan Aceh lainnya. Tokoh perempuan seperti Cut Meutia, Nyi Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, dan Rasuna Said kerap mewarnai buku biografi singkat para pahlawan Indonesia yang diberikan di bangku pendidikan. Kendati tokoh perempuan masa lalu tak dilupakan dalam penulisan sejarah, penulisan yang lebih fokus tak banyak dilakukan. Dalam buku sejarah di sekolah pun hanya sekilas diungkapkan. Lantas, bagaimanakah generasi masa kini bisa membaca kiprah perempuan di masa lalu ketika penulisan sejarah lebih dominan pada tokoh laki-laki?

Dalam buku Manusia dalam Kemelut Sejarah terbitan LP3ES Jakarta, ada satu-satunya sosok perempuan yang diprofilkan: Rahmah el-Yunusiyah. Perempuan yang lahir di Sumatera Barat, 20 Desember 1900, ini tercatat sebagai pendiri perguruan agama khusus putri. Rahmah el-Yunusiyah menjadi perempuan pertama yang mendapat gelar syaikhah dari Universitas Al-Azhar Kairo pada 1957. Dari penelusuran buku sejarah yang diberikan di sekolah, sosok perempuan satu ini ternyata tak terpapar. Rohana Kudus asal Sumatera Barat yang lahir 20 Desember 1884 juga tak terpapar dalam buku sejarah di sekolah. Pengelola surat kabar perempuan pertama Soenting Melaju ini diakui tak begitu populer di mata publik. Perjuangannya sebagai perempuan, apalagi terjun di kancah pers, patut mendapat tempat tersendiri dalam penulisan sejarah. Tamardjaya pernah menulis biografi Rohana Kudus, Srikandi Indonesia, namun biografi itu seperti hilang akibat tak ada reproduksi buku-buku terbitan lama. Minim atau tak adanya proyek penerbitan buku-buku lama memang menjadi kendala membaca sejarah yang pernah dituliskan. Pada titik ini, ikhtiar Reni Nuryanti menulis buku Perempuan dalam Hidup Soekarno: Biografi Inggit Ganarsih (2007) menjadi apresiasi tersendiri. Kisah hidup salah satu istri Bung Karno itu sebelumnya pernah dituturkan Ramadhan KH dalam buku Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno.

Menapaktilasi masa lalu, negeri ini memiliki banyak tokoh perempuan yang gemilang di zamannya. Tokoh perempuan yang bisa menjadi cermin. Sebut saja Keumalahayati yang menjadi laksamana laut. Di medan laut, perempuan Aceh ini telah menunjukkan kepiawaiannya. Konon, ia adalah pemimpin armada laut perempuan pertama. Suatu ketika ia memiliki armada perempuan yang dinamakan inong balee (ada yang menulis inong bale). Ia sempat memimpin dan melatih para perempuan janda untuk turut terjun dalam kancah perjuangan. Teuku H. Ainal Mardhiyah Aly dalam tulisan “Pergerakan Wanita di Aceh Masa Lampau Sampai Kini” pernah menuliskan, “Laksamana Malahayati seorang wanita yang telah berhasil menggagalkan percobaan pengacauan oleh Angkatan Laut Belanda di bawah pimpinan Cornelis dan Frederich Houtman 1006 H (1599 M). Sering sekali Armada Inong Bale ikut bertempur di Selat Malaka dan pantai-pantai Sumatera Timur dan Melayu.”(Ismail Suny et.al, Bunga Rampai Tentang Aceh (Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara, 1980), hlm. 286).

Di masa lalu, ada tokoh perempuan yang telah menjadi seorang pemimpin besar, salah satunya adalah Sultanah Tajul Alam Safiatuddin yang memimpin kesultanan Aceh dari tahun 1641 sampai 1675. Harsja W. Bahtiar (dalam Adian Husaini, 2009) menuturkan bahwa Sultanah Tajul Alam Safiatuddin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, ia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansury, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.

Di telisik lebih jauh, masih banyak tokoh-tokoh perempuan lain yang telah menggoreskan jejak cemerlang. Negeri ini sebenarnya tak miskin sosok perempuan yang berpikir dan berkarya besar. Maka, perhatian terhadap penulisan sejarah perempuan menjadi niscaya. Perempuan adalah satu bagian yang telah berkiprah dan tak boleh dilupakan dalam perjalanan panjang sejarah. Hal ini bukan berarti mengkultuskan, namun untuk mengingatkan sekaligus meletakkan cermin bagi generasi kemudian. Proyek penulisan biografi tokoh perempuan bisa dilakukan pemerintah maupun pihak swasta. Penerbit-penerbit buku perlu mengambil ranah ini menjadi bagian dari penerbitannya. Penulisan biografi tokoh perempuan bisa pula dikerjakan secara individul dengan kerja telaten dan penuh keuletan demi “menghadirkan” kiprah dan perjuangan perempuan-perempuan Indonesia.

Dengan bercermin pada perempuan-perempuan besar di masa lalu yang layak menjadi teladan, perempuan-perempuan kini dan di masa mendatang bisa mengambil pelajaran. Tokoh-tokoh perempuan yang dibiografikan meliputi setiap zaman. Meminjam Ahmad Mansur Suryanegara, bila sejarawan mulai membisu, hilanglah kebesaran masa depan generasi bangsa. Penulisan biografi (tokoh) perempuan dengan kiprah dan perjuangannya diperlukan sebagai spirit, motivasi, dan inspirasi generasi bangsa. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Pena Profetik Yogyakarta

Pernak-pernik Pelajaran Hidup

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Perada Koran Jakarta, Sabtu 9 Oktober 2010

Judul Buku: Jaman Penjor: 80 Kisah Inspiratif dan Mencerahkan Penulis: GusHar Wegig Pramudito Penerbit: Leutika Yogyakarta Cetakan: I, April 2010 Tebal: viii+260 hlm Harga: Rp. 48.000,00

DALAM hidup, kita bisa belajar pada sosok Petruk, salah satu tokoh punakawan dalam dunia wayang. Sebagaimana kita ketahui, Petruk mempunyai ilmu “Kanthong Bolong” alias kantong yang berlubang. Semua bisa masuk tanpa mengubah bentuk kantong tersebut. Bayangkan, kita mempunyai sebuah kantong yang bawahnya berlubang dan tidak dijahit, uang yang kita masukkan akan langsung jatuh dan tidak mampir di kantong. Sebuah filosofi yang sangat tinggi. Jika kita mempunyai kantong yang tertutup, semakin lama kita mengisi kantong akan semakin gemuk kantong kita. Ketika kantongnya sudah penuh tidak bisa lagi diisi dengan uang. Artinya, jika kantong kita tidak bolong, suatu saat justru akan menutup pintu rezeki kita karena sudah tidak ada tempat lagi untuk menampungnya. Tetapi, jika kantong itu bolong, kantong tidak pernah bisa penuh seberapa pun kita memasukkan uang. Setiap saat masih bisa diisi berapa pun (hlm. 27).

Boleh dibilang bahwa kita justru berbeda dengan Petruk. Yang kita miliki adalah “Kantong Buntet”. Setiap saat kita hanya menumpuk-numpuk harta, bahkan didapatkan dengan jalan tak halal. Pikiran kita diburu dengan obsesi memiliki harta berlimpah. Harta yang kita miliki kerapkali bukan gambaran kebutuhan kita yang sebenarnya. Kita malah menjadi manusia yang menghamba pada harta dan enggan mendermakan harta kepada orang lain yang lebih membutuhkan.

Membuka setiap halaman buku ini, kita memang diajak untuk merenung. Termasuk halnya merenungkan benda bernama penjor. Bagi kebanyakan kita, penjor mungkin benda remeh-temeh. Penjor adalah umbul-umbul yang berbentuk rumbai-rumbai bambu. Dari amatan sekilas, penjor sepertinya hanya berfungsi sebagai penanda kemeriahan. Setelah bambu dipasangi berbagai hiasan, kita menanamnya ke dalam tanah dengan kuat agar tak roboh. Jadi, harus dibuat lubang tanah yang sangat dalam untuk menanam pokok batang bambunya. Pokok batang bambu yang paling bawah adalah yang paling tebal, kuat, dan lurus. Semakin ke atas semakin menipis, bahkan bengkok pada ujungnya. Pada pucuk yang bengkok dan banyak rantingnya itulah yang dihiasi dengan beragam hiasan agar terlihat meriah. Bagian atas ini pulalah yang kerap dipamer-pamerkan agar dilihat dan dikagumi banyak orang. Penjor akan dirobohkan jika masa perayaaan usai. Nah, dalam mencabut pokok bambu yang tertanam di tanah ternyata perlu kerja keras lebih dibandingkan saat menanamnya. Jika semangat dan kesabaran habis, biasanya terpaksa digergaji dan dipotong mepet dengan tanah, meninggalkan begitu saja pokok batang bambu yang kuat dan lurus. Adakah nilai falsafah dalam penjor? Coba kita pandangi penjor yang menari-nari ditiup angin. Kita hiasi, kagumi, dan pamerkan bagian atasnya yang tipis, bengkok, dan bercabang-cabang. Bagian yang lurus dan kuat, kita tanam ke dalam tanah dan tak dihiraukan. Mungkin penjor ini adalah gambaran zaman. Zaman di mana orang-orang yang teguh dan lurus telah kita lupakan dan ditanam dalam-dalam, sedangkan yang bengkok justru kita kagumi (hlm. 200-201).

Tanpa kita sadari, setiap yang kita jumpai dalam kehidupan mengandung berbagai hikmah, pelajaran, kritik, dan refleksi. Benarkah pejabat birokrasi memahami makna dari kalimat Sanskerta “Tan Hana Dharma Mangrwa”? yang berarti “tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan dengan posisi mendua”? Tugas birokrat adalah melayani masyarakat. Agar bisa melayani dengan baik, maka bikrokrat harus berada pada posisi sebagai pelayan, bukan majikan. Jika dalam melayani publik masih bermental majikan, maka sulit melayani sepenuh hati. Birokrat bisa melayani dengan baik jika tak berada dalam dua posisi: setengah pelayan, setengah majikan.

Banyak hal lainnya yang dipaparkan penulis lewat 80 kisah dalam buku ini. Pelajaran-pelajaran berharga coba digali. Mungkin saja ada pemaknaan penulis yang berbeda dengan kita. Apapun pemaknaannya, tak ada tujuan lain kecuali kita bisa menjadikan kehidupan lebih baik. Selamat membaca.
HENDRA SUGIANTORO
Penulis lepas, tinggal di Yogyakarta
http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=64587

Hiduplah Sarjana!

Oleh; HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Rabu 6 Oktober 2010

SARJANA berarti sosok yang telah lulus dari bangku perguruan tinggi (baca: Strata 1/S-1). Arti sarjana adalah lulusan S-1 boleh dikatakan telah mengalami penyempitan makna. Dalam Kamus Jawa-Belanda susunan Th Pigeaud, misalnya, “wong sarjana” adalah geleerde, artinya orang terpelajar. Mengacu pada pengertian ini, orang terpelajar berarti sarjana. Sarjana adalah orang yang terpelajar apapun pendidikannnya. Lebih canggih lagi jika mengacu pada Tesaurus Bahasa Indonesia, istilah sarjana mengandung arti cendekiawan, intelektual, jauhari, sastrawan, akademikus, ilmuwan.

Namun, sarjana memang lebih identik dengan lulusan S-1. Dengan berbagai gelarnya, negeri ini pastinya telah melahirkan jutaan sarjana. Sejak zaman belum merdeka, entah berapa banyak sarjana. Bung Karno adalah seorang sarjana teknik yang lulus dari Technische Hoge School (THS) di Bandung (kini Institut Teknologi Bandung, ITB). Dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid II saat ini, menteri-menterinya juga sarjana. Dengan banyaknya sarjana, negeri ini sepatutnya bangga. Namun, di sisi lain, banyaknya sarjana justru membuat gelisah. Pasalnya, banyak sarjana menganggur.

Lihat saja isu yang kerap mengemuka ketika membicarakan sarjana: sarjana dan pengangguran. Kata Wakil Mendiknas, Fasli Jalal (Sabtu, 25/9), jumlah sarjana di negeri ini sedikitnya 14 juta sarjana dan 2 juta di antaranya menjadi penganggur setelah lulus. Meskipun ada sarjana menganggur, ada juga sarjana yang tidak menganggur. Pertanyaannya, sarjana yang tidak menganggur itu kenapa tidak sering diungkap? Apakah tidak membanggakan? Mungkin membanggakan, mungkin saja tidak membanggakan. Sarjana yang bekerja mungkin saja menjadi problem ketika tidak menunjukkan “kesarjanaannya”. Sarjana hanya gelar semata, tapi tak mampu membawa perubahan positif dalam dunia pekerjaan. Ada sarjana bekerja di birokrasi pemerintahan, namun nyaman dengan perilaku negatif yang telah menggejala, seperti korupsi, kolusi, malas, dan lupa memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Kalau begini, persoalan sarjana tidak hanya yang menganggur. Sarjana yang sudah bekerja, tapi miskin prestasi dan rendah integritas juga problem.

Terkait pengangguran sarjana, solusi problem sebenarnya sudah dilakukan. Perguruan tinggi menjalin kerja sama dengan pihak industri untuk mensinkronkan lulusan dengan kebutuhan dunia usaha. Selain itu, kini kewirausahaan (enterpreneurship) telah mengemuka menjadi tema sentral di perguruan tinggi. Malah pinjaman modal bagi mahasiswa atau kelompok usaha mahasiswa digulirkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas lewat Program Mahasiswa Wirausaha (PMW). Melalui program ini, mahasiswa secara individual ataupun kelompok dilatih berwirausaha. Ada beberapa tujuan dari pengguliran program ini. Pertama, menumbuhkan motivasi berwirausaha di kalangan mahasiswa. Kedua, membangun sikap mental kewirausahaan, yakni percaya diri, sadar akan jati dirinya, bermotivasi untuk meraih suatu cita-cita, pantang menyerah, mampu bekerja keras, kreatif, inovatif, berani mengambil risiko dengan perhitungan, berperilaku pemimpin dan memiliki visi ke depan, tanggap terhadap saran dan kritik, memiliki kemampuan empati dan ketrampilan sosial. Ketiga, meningkatkan kecakapan dan ketrampilan para mahasiswa khususnya sense of business. Keempat, menumbuhkembangkan wirausaha-wirausaha baru yang berpendidikan tinggi. Kelima, menciptakan unit bisnis baru yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Keenam, membangun jejaring bisnis antarpelaku bisnis, khususnya antara wirausaha pemula dan pengusaha yang sudah mapan. Terdapat program lain untuk menumbuhkan spirit kewirausahaan mahasiswa di perguruan tinggi.

Adanya program tersebut dan program lainnya untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan mahasiswa pastinya perlu diapresiasi. Semoga program kewirausahaan berdampak positif bagi pembangunan karakter mahasiswa. Mahasiswa harapannya tidak berorientasi mencari kerja semata (job seeker), tapi berdaya menciptakan lapangan pekerjaan (job creator). Ketika lulus dari bangku universitas, para sarjana tidak melulu berburu lowongan pekerjaan, namun sudah mampu mandiri. Setelah lulus, seorang sarjana mampu turut serta mengatasi permasalahan ketidakberdayaan ekonomi masyarakat. Seorang sarjana bukan malah menambah deret panjang pengangguran. Tapi, apakah persoalan akan selesai?

Ternyata pola pikir masyarakat perlu juga dirombak. Orang tua dan masyarakat tak dimungkiri masih menghargai orang yang bekerja di kantoran. Orang tua terus menuntut anaknya tak bosan menelusuri iklan lowongan pekerjaan untuk dapat menjadi “orang kantoran”. Masyarakat juga mengukuhkan pola pikir dan cara pandang ini. Tak begitu banyak orang yang menaruh apresiasi terhadap sarjana yang bekerja di sektor nonformal/informal. Repot, bukan?

Sarjana harus bekerja, ini tak bisa diganggu gugat. Entah apapun pekerjaannya, sarjana hanya perlu memberikan kontribusi bagi kebangunan masyarakat. Ketika telah bekerja, “kesarjanaannya” perlu ditunjukkan. Yang bernasib menjadi “orang kantoran”, perlu bekerja penuh kesungguhan dan tidak sekadar asal-asalan. Yang menduduki birokrasi pemerintahan, ada tugas penting: memperbaiki tatanan yang saat ini masih amburadul. Tidak memakan gaji buta, tapi perlu menampilkan pelayanan prima dan menghilangkan perilaku kolusi, korupsi, dan perilaku buruk lainnya. Di lapangan pekerjaan mana pun, sarjana dinantikan kiprahnya untuk turut melakukan pemberdayaan dan pendidikan terhadap masyarakat. Sarjana perlu manjing ing sajroning kahanan dan merubah zaman kalabendu menjadi zaman keemasan Indonesia. Sarjana perlu hidup dengan “menghidup-hidupi” negeri ini. Begitu.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute& Kontributor Pewara Dinamika UNY

Dakwah dan Internet

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Teknologi Suara Merdeka, Senin 4 Oktober 2010

PERKEMBANGAN teknologi terus melaju pesat. Seiring penemuan-penemuan yang berangkat dari imajinasi dan daya pikir, teknologi dipastikan takkan mandeg dalam inovasi. Perkembangan teknologi senantiasa bergerak di tengah laju zaman yang dinamis. Begitu pula dengan teknologi komunikasi dan informasi yang menemukan bentuk-bentuk terbaru dengan beragam jenisnya. Jika dahulu menyampaikan pesan harus melalui kurir/pesuruh, lalu surat pos, kini dalam sekejap bisa sampai ke alamat tujuan dengan menggunakan email. Komunikasi dan penyebaran informasi pun bisa dilakukan dengan jenis-jenis media lainnya yang kini kian marak dimiliki hampir oleh siapa pun.

Dengan perkembangan dan kemajuan teknologi informasi ini, masyarakat sebenarnya dimudahkan. Dakwah juga kian dimudahkan. Kini untuk mendengarkan ceramah pengajian tak melulu harus berhadapan muka dengan ustadz/ulama. Melalui akses internet, masyarakat bisa mendapatkan bahan-bahan bacaan keagamaan sesuai kebutuhan. Bermacam-macam software bernuansa agama bisa didapatkan dengan mengunduh dan membuka situs-situs terkait. Dengan mengakses internet, Alquran, Hadits, dan buku-buku keagamaan yang diformat digital bisa diperoleh dengan mudah. Berbagai organisasi Islam pun telah menyadari pentingnya memiliki website untuk berdakwah dan mengenalkan organisasi kepada khalayak. Lewat internet, penyebaran dakwah berjangkau luas, tak terbatasi ruang dan waktu.

Dalam hal ini, kehadiran dan keberadaan situs-situs keagamaan memang diakui memberikan manfaat. Tulisan-tulisan bisa tersebar dengan memanfaatkan teknologi internet. Jika di zaman dahulu untuk menulis Alquran dilakukan di pelepah korma, batu, kulit dan tulang binatang, daun, dan sebagainya (Ari Hendri:2008), kini tak hanya kertas yang digunakan, tapi juga di ruang-ruang cyber. Tak melulu Alquran, namun juga berbagai tulisan lainnya, baik dalam bentuk artikel, makalah maupun buku. Ada berbagai buku nonfiksi dan fiksi bernafaskan keagamaan bisa diunduh gratis lewat internet, meskipun ada pula yang dikomersialisasikan. Aktivis-aktivis dakwah kerap “mengangkat pena” dengan menyebar tulisan-tulisan bernuansa dakwah melalui media di internet, seperti blog, facebook, dan semacamnya.

Di samping itu, kehadiran citizen journalism juga dapat menopang dakwah. Pengelolaan jurnalisme warga ini ada yang harus melalui proses editing terlebih dahulu. Siapa pun pewarta warga hanya mengirim tulisan dan diseleksi layak tidaknya dimuat oleh pengelola. Di sisi lain, ada yang dibiarkan bebas memposting artikel dan berita kegiatan tanpa proses editing. Dengan adanya citizen journalism, para penggiat dakwah bisa memanfaatkannya untuk mempublikasikan artikel dan berita-berita kegiatan. Dampaknya jelas positif karena juga memantapkan syiar Islam. Jika mengirim pers release ke media cetak konvensional belum tentu akan dimuat, lewat citizen journalism lebih besar peluangnya untuk termuat.

Ditelisik lebih jauh, teknologi informasi yang berkembang kini tak selamanya berdampak positif. Dengan kemudahan melakukan “pengajian di dunia internet”, maka mengakibatkan masyarakat malas ke masjid mengikuti kajian keagamaan. Artinya, masjid sepi dari pemakmurnya. Dengan alasan praktis, banyak orang lebih suka men-download berbagai artikel keagamaan lewat internet ketimbang tekun menghadiri kajian di masjid-masjid. Kemudahan ini juga berdampak kurang baik karena belajar agama tanpa seorang guru. Membaca artikel dan makalah soal agama secara mandiri tidaklah dilarang, namun tak bisa melakukan tanya jika ada persoalan pelik dan masih dianggap bingung. Yang meresahkan, artikel-artikel yang diunduh lewat internet ternyata tak seluruhnya baik bagi masyarakat yang masih awam mendalami agama. Meskipun beraroma agama, tak selamanya tulisan-tulisan di internet memberikan kesejukan dan pencerahan. Justru sebaliknya, tulisan-tulisan di internet malah menyempitkan pemahaman agama, memicu perselisihan, dan menebarkan sikap antipati. Bagi masyarakat yang awam dan masih dangkal pemahaman keagamaannya dimungkinkan menelan mentah-mentah tanpa filtrasi dan sikap kritis.

Selain itu, teknologi informasi berupa internet bisa dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk jalan keburukan. Situs berbau pornografi, misalnya, marak bertebaran. Terkait hal ini, dakwah menghadapi tantangan. Di satu sisi, internet bisa dimanfaatkan sebagai sarana dakwah, namun di sisi lain juga digunakan untuk menyebarkan keburukan.

Di tengah adanya segi buruk internet, segi positif perkembangan teknologi informasi bagi keberlangsungan dan pergerakan dakwah tetap perlu disyukuri. Implementasi rasa syukur ini menghendaki siapa pun dan organisasi Islam mana pun untuk kuasa memanfaatkannya sebagai sarana dakwah. Segi negatif teknologi informasi memang ada, namun bukan berarti menyalahkan teknologi informasi. Bagaimana pun, teknologi informasi sifatnya netral, tinggal siapa dan pihak mana yang menggunakan. Internet bisa digunakan sebagai sarana kebaikan sekaligus keburukan. Pertimbangan kemaslahatan justru menghendaki segenap penggiat dakwah mampu mendayagunakan internet untuk mencerahkan dan mendidik masyarakat. Yang perlu disadari, pilar pendidikan tak hanya keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pilar pendidikan lainnya adalah tempat ibadah dan media massa. Media massa, dalam hal ini internet, juga ikut berperan membentuk dan melahirkan generasi bangsa yang berimtak dan beriptek.

Akhirnya, kita berharap kebaikan bisa diinspirasikan dan didorong dari segala penjuru. Perkembangan teknologi informasi perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk turut membangun kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang berjati diri, berkarakter, dan bermartabat. Dakwah melalui internet bisa dilakukan siapa pun. Pada dasarnya, kewajiban dakwah diamanatkan kepada setiap orang. Tak harus menguasai segala hal, satu kebaikan pun bisa disampaikan dan bernilai dakwah. Dengan menggunakan internet, kita juga berharap dakwah secara bijak bisa berkembang luas. Dakwah bijak yang menentramkan dan mampu menggerakkan perubahan positif. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Penggiat Pena Profetik Yogyakarta

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/10/04/125571/Dakwah-dan-Internet

Selintas Riwayat Aristoteles

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Lampung Post, Senin 4 Oktober 2010
BAGI kebanyakan kita, nama Aristoteles mungkin tak asing lagi. Pemikiran pria yang dilahirkan di Kota Stagira, Makedonia, pada 384 SM ini seolah-olah tak henti dijadikan referensi. Di bangku pendidikan, Aristoteles menjadi salah satu tokoh yang kerap disebut berulang-ulang, terutama dalam kajian mengenai filsafat.

Selain sebagai filsuf, Aristoteles juga diakui sebagai seorang ilmuwan. Aristoteles meninggal dunia sekitar tahun 322 M. Mengenai riwayat Aristoteles, banyak literatur yang bisa dibaca. Dalam buku 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah karya Michael H. Hart, Aristoteles ditempatkan pada urutan ke-13 (Jakarta: Penerbit Hikmah (PT Mizan Publika), cetakan I 2009).

Buku ini diterjemahkan dari buku berjudul 100 A Ranking of The Most Influential Persons in History (Revised and Update), yang diterbitkan Citadel Press, Kensington Publishing Corp, tahun 1992. Adapun urutan pertama adalah Nabi Muhammad saw.

Michael H. Hart lewat buku tersebut menyebutkan bahwa Aristoteles memiliki karya tulis menakjubkan. Michael H. Hart menuliskan, “Tercatat 47 karyanya berhasil diselamatkan, dan daftar tempo dulu mengenai karyanya mencantumkan tidak kurang dari 170 judul. Tapi, bukan sekadar jumlahnya saja, melainkan juga luasnya bidang pengetahuan yang digelutinya yang amat mengagumkan. Karya-karya tulis ilmiahnya nyaris seperti sebuah ensiklopedia pengetahuan ilmiah di zamannya.

Aristoteles menulis soal astronomi, ilmu hewan, embriologi, ilmu bumi, ilmu batuan, fisika, anatomi, fisiologi, dan hampir semua bidang pengetahuan yang dikenal orang Yunani Kuno. Sebagian karya-karya ilmiahnya merupakan kompilasi pengetahuan yang sebelumnya diperoleh ilmuwan lain, sebagian merupakan hasil temuan para asisten yang dipekerjakannya, dan sebagian lagi merupakan hasil dari sekian banyak pengamatan yang dilakukannya.”

Laku menulis Aristoteles bisa dikatakan luar biasa. Michael H. Hart dalam bukunya juga menuturkan, "Aristoteles menulis soal etika dan metafisika, soal psikologi dan ekonomi, soal teologi dan politik, serta soal retorika dan estetika. Dia menulis tentang pendidikan, syair, adat-istiadat bangsa-bangsa kurang beradab, dan konstitusi Athena. Salah satu proyek risetnya adalah pengumpulan konstitusi sejumlah besar negara, yang kemudian diujinya dengan studi perbandingan."

Pengaruh Aristoteles, kata Michael H. Hart, terhadap pemikiran Barat begitu besar. Karya-karya Aristoteles diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa selama zaman kuno dan pertengahan, seperti bahasa Latin, Arab, Italia, Ibrani, Prancis, Jerman, dan Inggris. Dengan karya-karyanya, Aristoteles memang tak sekadar berpengaruh di lingkup Yunani. Michael H. Hart mengatakan karya-karya Aristoteles memiliki pengaruh besar pada falsafah Islam dan selama berabad-abad tulisannya mendominasi pemikiran Eropa.

Dari pendapat dan pemikiran Aristoteles bukan berarti tak lepas dari ketidaksempurnaan. Aristoteles tetaplah manusia biasa yang pemikirannya juga perlu mendapat kritik. Namun, dari selintas riwayat Aristoteles di atas, kita bisa menggali inspirasi dan pelajaran. Wallahualam.

Hendra Sugiantoro

Aktivis Pena Profetik Yogyakarta

Karangmalang, Yogyakarta 55281

Tak Jadi Pegawai, Bisnis Sendiri!

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Resensi Harian Jogja, Kamis 23 September 2010

Judul Buku: Resign and Get Rich: Berhenti Kerja, Jadi Pengusaha Penulis: Edo Segara Penerbit: Leutika, Yogyakarta Cetakan: I, Juni 2010 Tebal: x+212 hlm Peresensi: Hendra Sugiantoro


Pekerjaan adalah ikhtiar hidup yang dilakoni manusia. Masing-masing manusia tak terlepas dari pekerjaan dalam menjalani keseharian. Pekerjaan memiliki rupa-rupa makna. Pada dasarnya, manusia telah dikatakan bekerja ketika mencangkul di sawah, memelihara ternak, memasak, dan merawat kebun. Membersihkan sampah di jalan pun merupakan pekerjaan. Entah mengapa, makna pekerjaan menyempit sekadar pada ruang-ruang formal, seperti menjadi pegawai dan bekerja di kantor.

Pemaknaan menyempit atas pekerjaan ini akhirnya berdampak pada pola pikir dan apresiasi. Begitu banyak orang yang memburu pekerjaan di sektor formal. Lulusan bangku pendidikan pun tak bosan menelusuri iklan lowongan pekerjaan untuk dapat menjadi “orang kantoran”. Tak begitu banyak orang yang bangga bekerja di sektor nonformal. Pola pikir ini berbuah laku untuk terus mengejar posisi di kantor-kantor. Masyarakat juga mengukuhkan pola pikir dan cara pandang ini. Orang-orang yang menduduki posisi di kantor lebih dihargai ketimbang orang-orang yang bekerja di bengkel, di warung, di sawah, bahkan di rumah sendiri.

Pekerjaan yang telah menjadi ukuran sosial dan gengsi memang tak dimungkiri. Pekerjaan pun telah mengalami kesempitan makna sekadar upaya perolehan materi. Orang bersusah payah bekerja untuk dapat mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Orang-orang disibukkan untuk mengejar posisi dalam pekerjaan yang menjamin kehidupan mapan dengan uang berlimpah. Hal ini tak sepenuhnya salah. Siapa pun membutuhkan uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Persoalannya adalah jika pekerjaan sekadar alat mencukupi materi dengan mengabaikan pelayanan prima kepada khalayak. Pekerjaan tak lagi untuk aktualisasi potensi dan memberikan kontribusi.

Buku yang ditulis Edo Segara ini mencoba memberikan pandangan berbeda. Saat ini kewirausahaan (enterpreneurship) telah mengemuka menjadi tema sentral. Di mana-mana selalu terdengar istilah ini. Kewirausahaan menjadi arus utama seiring tingginya tingkat pengangguran. Tantangan hidup yang mendesakkan ketercukupan ekonomi mendorong pihak-pihak terkait mengembangkan jiwa kewirausahaan masyarakat. Di lingkup dunia pendidikan, kewirausahaan relatif telah mengarus lama. Pendidikan kewirausahaan dan kurikulum yang memperhatikan kewirausahaan coba diterapkan. Namun, buku ini tak hanya mengatasi pengangguran. Buku ini justru “memprovokasi” orang-orang untuk keluar dari kantor!


Buku ini menarik ditelusuri karena tak berkutat pada teori njlimet. Penulis buku lebih mengurusi hal-hal praktis yang bisa diterapkan. Arahan dalam melakukan keputusan keluar dari pekerjaan kantor diutarakan sebagai pandangan dan gambaran. Banyak bisnis yang bisa dijalankan, seperti bisnis retail, bisnis franchise, bisnis rumahan, bisnis online, bisnis event organizer, bisnis property, dan bisnis bidang jasa. Penulis buku menjelaskan siasat untuk memulai dan menjalankan bisnis yang menjadi pilihan. Yang menarik, penulis buku tak hanya mengarahkan kita menjadi pebisnis mandiri untuk kepentingan diri semata atau menjadi kaya. Akhlak sebagai pebisnis tetap menjadi kewajiban yang mesti dijalankan.

HENDRA SUGIANTORO

Aktivis Transform Institute