Soekarno dan Kebudayaan Bangsa

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Pustaka SKH Kedaulatan Rakyat, Minggu 30 Januari 2011


Judul Buku: Soekarno: Visi Kebudayaan&Revolusi Indonesia Penulis: Nurani Soyomukti Penerbit: Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, 2010 Tebal: 260 halaman

Bagi Soekarno, kebudayaan adalah sarana membangun bangsa. Kebudayaan berjalin kelindan dengan segala aspek kehidupan. Kebudayaan berkaitan dengan aspek ekonomi dan politik. Bagaimana pun, kebudayaan tak mungkin bersifat netral. Melalui buku ini, kita sedikit banyak akan memperoleh gambaran tentang visi kebudayaan presiden pertama Republik Indonesia itu.

Ada konsep Tri Sakti Bung Karno yang terus melekat hingga kini, yakni mandiri di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politik, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Jiwa Soekarno yang hendak membebaskan bangsa ini dari penindasan dan penjajahan memang telah terbentuk sejak masa pergerakan nasional. Ketika menjadi presiden, jiwa tersebut tidaklah pudar. Penjajahan di bidang ekonomi, politik, dan kebudayaan terus terjadi yang kadang tanpa disadari, sehingga membuat lenyapnya kepercayaan diri, jati diri, dan kebanggaan bangsa. Di masa kepemimpinan Soekarno, istilah neokolonialime kentara didengungkan demi menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap musuh bersama.

Dalam menjabarkan konsep kebudayaan dari Soekarno, penulis buku ini mencoba melakukan analisis dan interpretasi. Penulis buku berusaha memudahkan penjelasan terkait visi kebudayaan dan revolusi dari seorang Soekarno. Dalam masa pemerintahan Soekarno, kita tentu teringat dengan Manifesto Politik Republik Indonesia (Manipol). Manipol yang merupakan orasi Soekarno pada 1959 ini oleh MPRS ditetapkan sebagai “Garis-Garis Besar Haluan Negara” lewat ketetapan MPRS No. 1/MPRS/1960. Intisari dari Manipol meliputi UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia yang disingkat USDEK. Setiap tahun Manipol-USDEK ini diberi pedoman dalam pidato Soekarno pada tanggal 17 Agustus.

Di kalangan budayawan dan seniman, apa yang dilakukan Soekarno mendudukkan dua kubu secara diametral. Ada budayawan dan seniman yang mendukung kebijakan Soekarno dan berusaha menyukseskannya, namun juga ada yang kurang bersepakat. Polemik kebudayaan antara Manifesto Kebudayaan (Manikebu) dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pun muncul. Kelompok kebudayaan Manikebu mengganggap kebudayaan bersifat netral dan tidak boleh dikait-kaitkan dengan politik. Lekra menganggap kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari aspek kehidupan, termasuk ekonomi dan politik. Lekra menjadikan seni budayanya sebagai alat perjuangan politik revolusioner. Terkait kentaranya keperpihakan Soekarno terhadap Lekra, penulis buku mencoba menjelaskan berkenaan dengan konstelasi politik ketika itu.

Banyak hal dipaparkan buku ini. Soekarno menurut penulis buku hanya berobsesi membangun kepribadian bangsa. Perlawanan Soekarno terhadap musik “ngak-ngik-ngok” di masa pemerintahannya hendaknya dibaca dalam konteks itu. Aliran musik itu dianggap dapat merusak kepribadian bangsa dan kontra-revolusioner oleh Soekarno dan pendukungnya. Dilakukan tindakan tegas terhadap masyarakat yang masih mendengarkan dan memainkan musik “ngak-ngik-ngok”. Terjadi pula razia dan penyitaan alat perekam dan kaset The Beatles, Rolling Stones, dan lainnya. Para artis ataupun seniman yang menyanyikan dan bergaya alat Barat ditegur. Pernah pada peringatan 17 Agustus 1965, Soekarno menyindir Koes Bersaudara, “Jangan seperti kawan-kawanmu, Koes Bersaudara. Masih banyak lagu-lagu Indonesia, kenapa mesti Elvis-Elvisan.” Sebelum itu, pada 1 Juli 1965, sepasukan tentara telah menangkap kakak beradik Tony, Yon, dan Yok Koeswoyo dan memenjarakannya.

Selain mengundang sikap pro, kebijakan yang dibuat Soekarno juga dibarengi sikap kontra. Malah Anda bisa saja terbawa pada sikap pro dan kontra setelah membaca buku ini.
HENDRA SUGIANTORO

Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

Sayang Ibu

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Cernak SKH Kedaulatan Rakyat, Minggu 23 Januari 2010

BEL jam istirahat siang berbunyi. Ibu guru mempersilahkan anak-anak untuk istirahat. Ada murid yang keluar kelas untuk bermain, ada juga yang jajan makanan dan minuman. Tak seperti biasa, Yosi hanya diam di kelas, tak ikut bermain bersama teman-temannya.

”Ada apa, Yosi?’ tanya Ibu guru. Yosi tidak segera menjawab, pikirannya terbayang terus dengan ibunya di rumah.
”Yosi mau berbagi cerita dengan Ibu?” Ibu guru bertanya kembali dengan bijak.
”Ya, Bu. Yosi teringat dengan ibu di rumah. Ibu begitu sayang. Setiap pagi ibu membangunkan Yosi, memasakkan makanan, dan membantu Yosi mempersiapkan keperluan untuk sekolah,” jawab Yosi.
”Ibu memang sayang kepada Yosi. Tugas ibu memang berat membesarkan anaknya, mendidik dan merawat anaknya. Ketika anaknya sekolah, ibu selalu menyiapkan segala sesuatunya. Kasih sayang ibu ke anaknya memang luar biasa,” kata Ibu guru.
”Yosi juga sayang dengan ibu. Yosi ingin memberi sesuatu buat ibu. Kira-kira apa ya, Bu?” Yosi menjelaskan keinginannya untuk memberi sesuatu ke ibunya. ” Yosi ingin membahagiakan ibu.”
”Oh begitu. Kalau menurut Yosi, kira-kira apa?” tanya Ibu guru.
”Nah itu, Bu. Yosi sedang memikirkan sesuatu sebagai ungkapan sayang ke ibu. Yosi bingung mencari sesuatu yang tepat buat ibu,” tutur Yosi menjelaskan ke ibu gurunya.
”Boleh saja Yosi memberi sesuatu. Apapun sesuatu itu pasti membuat ibu senang,” kata Ibu guru.
”Yang bisa membuat ibu bahagia apa ya, Bu?” tanya Yosi yang masih bingung memikirkan sesuatu yang akan diberikan ke ibunya. Ibu guru mencoba memahami apa yang ada dalam pikiran Yosi.
”Yosi bisa membuat ibu Yosi bahagia dengan apapun. Yosi rajin belajar juga akan membuat ibu Yosi bahagia. Kalau menurut ibu, Yosi memberi sesuatu itu dengan cara berbakti,” kata Ibu guru mencoba mengarahkan pikiran Yosi.
”Berbakti? Seperti apa ya, Bu” tanya Yosi.
“Ya, berbakti kepada ibu. Ibu akan bahagia jika Yosi menjadi anak yang baik dan salihah. Jika Yosi berperilaku baik, ibu pasti bahagia. Yosi yang tidak nakal, bisa menaati orang tua dan tidak membentak-bentak orang tua akan memberikan kebahagiaan tersendiri buat ibu,” kata Ibu guru.
“Berarti Yosi harus berbakti agar ibu bahagia. Apakah dengan berbakti, kasih sayang ibu akan terbalas?” tanya Yosi.
”Kasih sayang ibu sebenarnya tidak mungkin terbalas. Seperti Yosi lihat sendiri, begitu sayangnya ibu kepada Yosi. Dulu ketika mengandung dan melahirkan Yosi, ibu harus berjuang amat berat. Ketika Yosi kecil dan sekolah, kasih sayang ibu tidak pudar, bahkan sampai nanti Yosi dewasa. Yosi ingin ibu bahagia ’kan?”
”Ya, Bu. Yosi ingin melihat ibu bahagia. Dari kata-kata Bu guru, Yosi harus berbakti sebagai ungkapan sayang ke ibu. Berbakti adalah sesuatu yang harus diberikan kepada ibu,” tutur Yosi yang semakin menyadari betapa besar kasih sayang ibu.
“Ya, Yosi memang anak yang cerdas. Ibu akan bahagia jika Yosi rajin belajar, rajin beribadah, dan tidak nakal. Yosi perlu membantu pekerjaan ibu di rumah sebagai ungkapan sayang ke ibu. Yosi tidak boleh berkata kasar ke ibu, tapi harus berbicara dengan lemat lembut. Setiap saat Yosi juga harus mendoakan ibu. Jika Yosi bisa seperti itu, ibu pasti akan bahagia,” Ibu guru menjelaskan lebih lanjut.
“Ya, Bu. Kalau begitu Yosi akan selalu berbakti kepada ibu. Yosi akan terus sayang pada ibu agar ibu selalu bahagia,” kata Yosi yang ingin cepat-cepat pulang sekolah untuk mencium pipi ibunya.
HENDRA SUGIANTORO

Jejak Perjalanan Sri Sultan HB IX

Oleh: HENDRA SUGIANTORO Dimuat di Resensi Buku Harian Jogja, Kamis 13 Januari 2011

Judul Buku: Hamengkubuwono IX Penulis: K. Tino Penerbit: NAVILA IDEA, Yogyakarta Cetakan: I, 2010 Tebal: vi+197 halaman

Sri Sultan Hamengkubuwono IX(1912-1988) tak sekadar pernah menjadi raja Kasultanan Yogyakarta, namun juga tokoh pejuang dan negarawan. Dukungannya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak diragukan.

Kontribusinya terhadap RI jelas tak dinafikan. Sebagaimana diketahui, kondisi Indonesia belumlah stabil pada awal kemerdekaan, apalagi Belanda masih hendak melakukan intervensi. Dalam keadaan genting, pusat pemerintahan dari Jakarta pun dipindahkan ke Yogyakarta pada 3 Januari 1946. Sultan HB IX turut membantu perjuangan RI mempertahankan kemerdekaan.

Saat perang kemerdekaan, Yogyakarta juga menjadi sasaran penyerbuan Belanda. Para pemimpin Indonesia menjadi target penangkapan. Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukit Tinggi sempat didirikan. Aksi Belanda mendapatkan kecaman dunia internasional. Namun, Belanda bersikap pongah, bahkan menganggap Indonesia telah tiada dengan keberhasilan menangkap para pemimpin RI. Belanda mengira Indonesia tak bisa melakukan perlawanan. Sri Sultan HB IX mengatur siasat agar eksistensi RI tetap terjaga. Dengan inisiasi Sri Sultan HB IX, Belanda mendapatkan perlawanan lewat strategi terpadu bertajuk Serangan Umum 1 Maret 1949. Hal ini sedikit banyak membuka mata dunia internasional bahwa eksistensi RI masih berlanjut.


Sri Sultan HB IX memiliki karir politik di tingkat nasional. Ia pernah menjabat Menteri Negara dalam Kabinet Sjahrir (2 Oktober 1946-27 Juni 1947), Menteri Negara dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I (3 Juli 1947-11 November 1947) dan Kabinet Amir Sjarifuddin II (11 November 1947-29 Januari 1948). Pada masa Kabinet Hatta I (29 Januari 1948-4 Agustus 1949), ia tetap menjadi Menteri Negara. Dalam Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949-20 Desember 1949), ia menjadi Menteri Pertahanan atau Koordinator Keamanan Dalam Negeri. Jabatan ini tetap dipegangnya dalam Kabinet Hatta saat pemerintahan RIS. Dalam Kabinet Natsir (6 September 1950-27 April 1951), ia menjabat Wakil Perdana Menteri.

Karir politik nasional Sri Sultan HB IX terus berjalan di era Soeharto. Selama Orde Baru, jabatannya dalam kabinet lebih dominan mengurusi bidang keuangan dan ekonomi sampai akhirnya menjadi Wakil Presiden pada 1973-1978. Pada masa Orde Baru muncul istilah triumvirat (Tiga Serangkai): Soeharto, Sri Sultan HB IX, dan Adam Malik. Buku ini mencoba menjelaskan soal tiga serangkai ini yang kadang dianggap pro Amerika Serikat. Mungkin saja Sri Sultan HB IX dimanfaatkan Soeharto mengawal transisi dari Orde Lama ke Orde Baru. Buku ini juga menjelaskan duduk perkara beberapa pihak yang menyebut tiga serangkai ini sengaja dibentuk sebagai pemerintahan bayangan di tengah agenda CIA menggulingkan Soekarno dengan memanfaatkan situasi krisis pasca-G 30/S. Yang jelas, Sri Sultan HB IX menolak perpanjangan sebagai Wakil Presiden pada 1978.


Membaca buku ini, kita diajak menelusuri kiprah Sri Sultan HB IX. Ada banyak kisah terpapar. Sri Sultan HB IX adalah tokoh nasional yang telah menciptakan fenomena dan meninggalkan nama.

HENDRA SUGIANTORO

Pegiat Pena Profetik, tinggal di Yogyakarta

Guru dan Keteladanan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Rabu 12 Januari 2011

Perilaku guru yang dinilai tidak baik sering kali menyeruak ke permukaan. Oknum guru yang melakukan tindakan kurang terpuji akhirnya dianggap tidak mampu memberikan keteladanan. Apapun tindakan guru yang tak terpuji pastinya tidak dibenarkan. Tidak hanya guru, tapi siapa pun tidak dibenarkan melakukan tindak kejahatan ataupun melanggar hukum.

Pada titik ini, kita hendaknya mendudukkan persoalan secara jernih. Sosok guru yang menjadi salah satu komponen penyelenggaraan pendidikan memang memiliki tanggung jawab besar mengajar sekaligus mendidik murid-muridnya. Dalam upaya mendidik, unsur keteladanan menjadi salah satu keniscayaan. Ketika guru mendidik murid-muridnya untuk berlaku baik, maka guru harus satu kata dan perbuatan. Guru harus menjadi sosok yang digugu lan ditiru. Tingkah laku guru seyogianya dapat menjadi teladan bagi murid-muridnya.

Yang menjadi persoalan, guru sering kali dikonstruksikan sebagai manusia sempurna. Guru tidak boleh salah dan khilaf. Adanya kewajiban guru berperilaku mulia memang tidak bisa diganggu gugat, namun kita tetap harus memposisikan guru sebagai manusia biasa. Dalam menjalani kehidupan, guru pun tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Adanya guru melakukan perbuatan tidak terpuji bisa saja karena faktor internal dalam dirinya. Kepribadian guru ada yang baik, ada juga yang kurang baik. Tidak semua guru berkarakter baik dan menghayati profesinya. Di sisi lain, faktor eksternal juga sering kali mempengaruhi guru bertindak kurang mulia. Ketertekanan ekonomi sering kali mengakibatkan seorang guru melakukan tindakan di luar kewajaran. Dengan gaji pas-pasan, guru juga manusia yang harus memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.

Maka, terkait faktor eksternal, pemerintah tidak boleh membiarkan kehidupan guru terkatung-katung. Kesejahteraan guru harus mendapatkan perhatian. Siapa pun tak ingin akibat minimnya penghasilan menyebabkan seorang guru mengambil jalan pintas agar asap dapur keluarganya bisa terus mengepul. Adanya anak guru yang justru tidak dapat bersekolah sungguh ironis dan tidak perlu terjadi jika pemerintah benar-benar memperhatikan kesejahteraan finansial guru. Hal yang perlu ditegaskan adalah penggajian guru tidak mengenal diskriminasi antara guru tetap dan guru tidak tetap. UNESCO dan ILO dalam Recommendation Concerning The Status of Teachers yang dirumuskan pada 5 Oktober 1966 menghendaki agar guru tetap maupun guru tidak tetap memperoleh penggajian yang sama secara proporsional (Pasal 60). Artinya, semua guru digaji tanpa memperhatikan embel-embel: PNS atau non-PNS, guru tetap atau tidak tidak tetap.

Terlepas dari faktor kesejahteraan, guru yang diharapkan masyarakat memang guru yang mampu berperilaku mulia. Guru mampu memberikan keteladanan dalam sikap dan perilaku mulia yang ditunjukkannya. Guru yang memiliki moralitas nan tangguh jelas diharapkan. Itulah konsekuensi logis ketika seseorang menjadi guru. Maka, Soekarno sangat menekankan pentingnya guru menjadi ”Rasul Kebangunan”. Dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, presiden pertama Republik Indonesia itu mengatakan, ”Alangkah hebatnya, kalau tiap-tiap gurunya bukan saja memenuhi syarat-syarat teknis yang orang biasanya tuntutkan dari seorang guru, tetapi benar-benar Rasul Kebangunan yang sejati,--Rasul Kebangunan bukan saja secara “formal” tetapi Rasul Kebangunan di dalam tiap-tiap sepak terjangnya, di dalam sekujur badan dan tulang sumsumnya,--Rasul Kebangunan sampai ke ujung tiap-tiap getaran ruhnya dan jiwanya! Hanya guru yang benar-benar Rasul Kebangunan dapat membawa anak ke dalam alam kebangunan. Hanya guru yang dadanya penuh dengan jiwa kebangunan dapat ”menuntun” kebangunan ke dalam jiwa anak...”. Bagi Soekarno, keteladanan guru harus ditunjukkan dalam setiap gerak-gerik guru. Profesionalisme guru tidak hanya ditunjukkan dengan kepemilikan gelar kependidikan dan penguasaan pengetahuan, tapi juga keanggunan sikap dan perbuatan. Pengaruh keteladanan guru malah bisa lebih ampuh ditiru murid-muridnya ketimbang sebentuk nasihat lewat lisan.

Dalam UU No 20/2003 tentang Sisdiknas, prinsip profesionalitas juga menghendaki guru memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Guru berkewajiban menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika. Mugi Muryadi Harna (2004) pernah mengatakan bahwa salah satu ciri utama profesionalitas adalah adanya moral, etika, dan perilaku yang baik. Sebagai tenaga profesional, tugas yang diemban seorang guru tidak sekadar mengajar, melatih, dan memberi nilai, tapi juga mendidik, membimbing, dan mengarahkan. Guru adalah teladan bagi murid-muridnya. Di tangan seorang guru, murid dididik menjadi manusia muda yang beretika, berperilaku mulia, dan memiliki keanggunan moral.

Pada titik ini, besarnya kewajiban guru agar mampu memberikan keteladanan kepada murid-muridnya tentu merupakan tantangan. Bagaimana pun, menjadi seorang guru tidaklah mudah. Guru juga manusia yang pastinya tak luput dari kekhilafan dan kesalahan. Guru bukan malaikat. Namun demikian, pilihan menjadi guru adalah pilihan berat sekaligus mulia untuk mendidik generasi bangsa. Ketika seseorang memilih menjadi guru, pilihan itu juga menghendaki guru agar satu kata dan perbuatan. Untuk itu, guru perlu memiliki benteng moral yang menjadi perisai dari perbuatan-perbuatan tercela. Sekali lagi, tak mudah menjadi guru yang bisa digugu lan ditiru. Tapi, di balik itu ada kemuliaan seorang guru yang akan melahirkan generasi bangsa yang tangguh secara intelektual dan moral. Di tengah krisis keteladanan di negeri ini, guru sudah saatnya tampil sebagai teladan bagi murid-muridnya. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute&Pena Profetik Yogyakarta

Membangkitkan Tradisi Menulis

Oleh: HENDRA SUGIANTORO Dimuat di Pustaka Kedaulatan Rakyat, Minggu 9 Januari 2011
Judul Buku: Menulis, Tradisi Intelektual Muslim Penulis: Dwi Suwiknyo, Edo Segara, Ifa Avianty, dkk Penerbit: Youth Publisher, Yogyakarta Cetakan: I, November 2010 Tebal: X+183 halaman

Laku menulis di kalangan intelektual muslim sejauh yang kita tahu tak pernah berhenti. Di Indonesia saja selalu muncul tulisan-tulisan dari para tokoh yang disebut sebagai cendekiawan muslim, intelektual muslim, ataupun istilah sejenisnya. Namun, di sisi lain, laku menulis di kalangan umat Islam boleh diasumsikan mengalami degradasi dan perlu ditumbuhkan.
Buku yang berisi kumpulan artikel ini mungkin saja benar jika berkehendak membangkitkan tradisi menulis di kalangan umat Islam.

Pada dasarnya, rendahnya laku menulis menjadi persoalan umum meskipun tanpa menyertakan identitas muslim. Meskipun kita akui karya-karya ulama dan intelektual muslim tetap mengalir, namun belumlah seberapa dilihat dari kuantitas umat Islam yang besar di Indonesia.


Untuk itu, melalui buku ini, umat Islam diajak mengambil spirit dari ulama dan intelektual muslim yang memiliki tradisi menulis dalam hidupnya. Dalam agama pun, laku menulis begitu ditekankan, sehingga umat Islam seharusnya memiliki motivasi besar untuk menulis.

Dengan membaca buku ini, pembaca juga bisa mengetahui pengalaman beberapa penulis yang telah menghasilkan karya-karya kepenulisan. Ada sekitar 25 penulis yang telah malang-melintang di dunia kepenulisan Indonesia memberikan kontribusi tulisan dalam buku ini. Di tengah adanya kekurangan dan kelemahan yang mungkin disengaja, buku ini bisa dijadikan bacaan untuk menggiatkan laku menulis. Begitu.

HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Pena Profetik Yogyakarta

Ketika Socrates Mati

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Forum Harian Jogja, Sabtu 8 Januari 2011

Ada banyak nama yang selalu tercatat dalam perjalanan sejarah. Dari sekian banyak nama itu salah satunya adalah Socrates. Kematiannya bisa dikatakan dengan jalan tidak wajar.

Banyak referensi yang memaparkan peristiwa kematian Socrates. Salah satu referensi itu bisa didapatkan dalam buku Masalalu Selalu Aktual karya P. Swantoro (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, cetakan I Januari 2007). Berikut pemaparan P. Swantoro dalam tulisan Hukuman Mati dalam buku itu pada halaman 35: “Socrates, seorang filsuf Yunani yang sangat menonjol, meninggal dunia pada usia 70 tahun secara tidak wajar. Ia harus mengakhiri hidupnya dengan minum racun atas putusan pengadilan Athena karena dituduh mengesampingkan dewa-dewa yang menjadi pujaan negara-kota itu, dan menyebarkan ajaran baru.

Kegiatannya itu dianggap merusak generasi muda. Tetapi Socrates sendiri menyatakan tidak pernah melakukan kesalahan yang dituduhkan itu. Malahan sebaliknya, ia sebenarnya harus diberi hadiah karena jasa-jasanya. Namun demikian, ia menolak ajakan kawannya, Crito, untuk melarikan diri. Alasannya, meskipun putusan pengadilan itu bertentangan dengan fakta-nyata tetapi lembaga tersebut sah. Jadi, putusannya harus dipatuhi. Peristiwa ini terjadi tahun 399 sebelum Masehi.”

Catatan mengenai akhir hayat Socrates tentu bisa diperoleh lewat referensi lain. Dari pemaparan P. Swantoro di atas, kita mengetahui Socrates harus minum racun atas putusan pengadilan Athena. Yang menjadi menarik adalah pernyataan Socrates bahwa ia tetap harus mematuhi putusan pengadilan meskipun merasa tak bersalah. Socrates mematuhi putusan pengadilan itu karena lembaga itu sah.
Bagi kita, apa yang dinyatakan Socrates itu tetap bisa ditafsirkan. Terlepas benar atau salah, itulah sikap dan pendirian Socrates. (*)

Sekolah Profetik

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Lampung Post, Senin 27 Desember 2010

Sekolah adalah bagian dari pilar perubahan sosial. Pendidikan sekolah tak sekadar memberikan pelajaran dan meluluskan peserta didik, namun harus mampu membentuk peserta didik menjadi manusia seutuhnya. Dalam pendidikan di sekolah, peserta didik tak hanya diarahkan cakap menguasai ilmu pengetahuan. Peserta didik juga diarahkan untuk berpikir dan menghadapi realitas sosial agar nantinya mampu memberikan kontribusi.

Pada titik ini, sekolah profetik menemukan relevansi. Di tengah fakta dunia pendidikan yang masih buram, sekolah perlu bertransformasi menjadi sekolah profetik. Meminjam konsep Kuntowijoyo, sekolah profetik berjalan dengan tiga pilar: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Sekolah profetik memahami hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan yang dititahkan untuk beribadah dan memakmurkan kehidupan. Ibadah bermakna luas. Guru yang mengajar dan mendidik menjalankan laku ibadah. Kesadaran ibadah perlu dimiliki para pengambil kebijakan di sekolah, sehingga mampu merumuskan kebijakan yang tepat. Mendidik peserta didik merupakan ibadah yang menjadi motivasi guru bekerja penuh dedikasi dan semangat.

Kesadaran ibadah juga ditanamkan kepada peserta didik. Tekun belajar dan mempelajari ilmu pengetahuan bukan beban dan tuntutan menghadapi ujian sekolah, tapi memang kewajiban. Transendensi menjadi pijakan dan arah bagi proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Keimanan kepada Tuhan harus diimplementasikan dalam gerak amal. Guru harus memanusiakan peserta didik sebagai individu manusia yang memiliki potensi. Hubungan antara insan pendidikan di sekolah haruslah humanis. Kebijakan-kebijakan yang dibuat sekolah tidak mendiskriminasikan peserta didik, karena siapa pun memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu. Sekolah profetik memberikan peluang setara bagi seluruh peserta didik dengan perbedaan potensi, kemampuan, status sosial, dan ekonomi. Saling menghargai ditanamkan antara satu dengan lainnya dalam komunitas masyarakat sekolah.

Sekolah profetik adalah sekolah yang membebaskan. Peserta didik menjalankan pendidikan di sekolah tanpa perasaan tertekan, terasing, tertindas, dan dikucilkan. Hak yang sama mendapatkan pendidikan menghendaki guru memerdekakan peserta didik untuk terlepas dari ketidaktahuan dan kebodohan. Proses pembelajaran tidak menjauhkan peserta didik dari realitas sosial. Peserta didik dilibatkan dengan persoalan sosial dengan mendiskusikan dan diberi ruang menyampaikan pendapat dan pemikiran. Pendidikan dalam sekolah profetik mencakup pendidikan keimanan, pendidikan akal, pendidikan akhlak, pendidikan moral, pendidikan jiwa, pendidikan sosial, dan pendidikan fisik, pendidikan karakter, dan pendidikan multikultur. Potensi akal, hati, dan jasad dikembangkan secara bersamaan dan seimbang. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Karangmalang Yogyakarta 55281

(Menggugat) Jiwa Sosial Kita

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Senin 20 Desember 2010

Hidup adalah perjuangan, memanglah benar. Banyak masyarakat miskin yang terus berjuang menyambung kebutuhan hidup dengan bekerja keras. Setiap saat membanting tulang untuk dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Namun, di sisi lain, ada sekelompok masyarakat yang bisa dikatakan kaya dan tanpa pusing memenuhi kebutuhan. Uang melimpah yang dimiliki menjamin ketercukupan, bahkan tak sekadar untuk memenuhi kebutuhan dasar semata.

Sekelompok masyarakat kaya begitu cepatnya mengambil uang dan membelanjakannya. Dalam sehari, tak soal jika keluar minimal Rp 1 juta, bahkan lebih dari itu. Lapisan masyarakat kaya ini tak perlu repot-repot membelanjakan uang, karena sepertinya simpanan uangnya tak pernah susut. Di sisi kehidupan lain, ada sekelompok masyarakat yang kesulitan mendapatkan uang. Untuk belanja kebutuhan pokok sehari-hari, pikirannya kusut. Bayangkan dengan penghasilan yang tak menentu, sekelompok masyarakat miskin harus menyediakan kebutuhan dasarnya secara berkesinambungan untuk makan dan kebutuhan lainnya.

Dengan penghasilan Rp 5000, misalnya, ada sekelompok masyarakat miskin harus berpikir agar dapat makan. Belum lagi kebutuhan pendidikan dan kesehatan yang menuntut ketersediaan dana. Penghasilan Rp 5000 setiap hari belum tentu didapatkan, bahkan sehari bisa saja tak mendapatkan sepeser pun uang. Kenyataan ini tidaklah mengada-ada. Coba kita tanyakan kepada tukang-tukang becak yang dalam sehari belum tentu mendapatkan penumpang. Kita juga bisa menengok kehidupan masyarakat yang bekerja serabutan. Masyarakat yang berwiraswasta pun kerap tak jauh beda. Para petani dan pedagang sering kali mengalami kerugian dalam usahanya. Penghasilan tak menentu, bahkan tak menjamin ada. Lebih-lebih bagi sekelompok masyarakat yang tak mempunyai pekerjaan tetap, penghasilan seolah-olah impian di siang bolong. Lantas, bagaimanakah kita membayangkan ini?

Kriminalitas adalah anak dari kemiskinan. Mungkin pernyataan ini ada benarnya. Dengan harga-harga kebutuhan sehari-hari yang melonjak, masyarakat tak mungkin tak makan dalam seminggu. Tak mungkin menahan lapar berhari-hari meskipun penghasilan tak mencukupi. Solusinya adalah berhutang. Berhutang diakui telah menjadi tradisi dalam kehidupan sosial kita. Dalam membiayai anak-anak sekolah, banyak masyarakat yang berhutang. Tak hanya menggadaikan barang, tapi juga meminjam uang kesana kemari. Kebutuhan selain pendidikan pun sering kali berhutang.

Tentu berhutang memiliki kewajiban untuk mengembalikan. Hal ini kerap menimbulkan persoalan. Bagaimana jika tak mampu mengembalikan uang setelah berhutang? Dengan penghasilan yang minim dan tak menentu, masyarakat miskin dilanda kebingungan. Belum hutang terlunasi, masih harus memenuhi kebutuhan hidup di hari-hari berikutnya. Kriminalitas mungkin menjadi solusi. Tanpa berprasangka negatif, fakta ini tak perlu ditutupi. Kita bisa merasakan betapa susahnya menjalani hidup hanya dengan penghasilan Rp 5000-Rp 10.000 setiap hari. Malah penghasilan sebesar itu bisa jadi didapatkan sepekan. Pencurian, penjambretan, perampokan, dan bentuk kriminalitas lainnya sebenarnya bisa menggambarkan belum terjaminnya kebutuhan hidup sebagian masyarakat. Kriminalitas tak melulu dimaknai sebagai tindakan kejahatan, tapi juga sebuah gambaran untuk memahami realitas sosial.

Memaknai kriminalitas seperti itu perlu dilakukan. Kriminalitas memang tindakan tak terpuji, tapi kita perlu memaknai secara lebih mendalam. Siapakah yang salah jika ada yang mencuri uang karena uang di tangannya tak mencukupi untuk membeli beras? Siapakah yang salah jika ada yang bunuh diri karena hutang, nyatanya penghasilannya tak pernah ada untuk melunasi hutang yang menjadi beban?

Ada sekelompok masyarakat di negeri ini yang hidup bermewah-mewah. Sekelompok masyarakat kaya yang membeli makanan tak pernah habis dimakan lalu dibuang di tong sampah. Orang-orang miskin yang menjadi gelandangan memungutinya untuk mengganjal perut seharian. Sekelompok masyarakat yang menampakkan mobil mewah di hadapan anak-anak yang berpeluh di jalanan. Para penyelenggara negara pun seolah-olah membutakan mata, para elite menyiasati anggaran negara untuk melipatkan gaji dan tunjangan di tengah anak-anak putus sekolah. Para elite pun menyaksikan jutaan rakyat terjerat kemelaratan, tapi itu hanya dijadikan tema berebut kursi kekuasaan. Di mulut mengatakan anggaran negara terbatas, tapi tanpa bersalah plesiran ke negeri manca. Berbelanja ke luar negeri dengan harga berbandrol tinggi, padahal masih dijumpai penduduk yang terlilit kelaparan. Elite kekuasaan begitu bangganya melakukan korupsi yang berdampak kian menjeritnya derita masyarakat miskin.

Pada titik ini, jiwa profetik perlu ditumbuhkan. Kebersamaan sebagai sebuah masyarakat dan bangsa harus bermakna substantif Begitu banyak dari kita yang tekun menjalani ritual keagamaan, tapi kita bukan hidup untuk membangun kesalehan pribadi semata. Laku spiritual yang berlandaskan keimanan kepada Tuhan (transendensi) tidaklah bermakna tanpa gerak amal dalam kehidupan. Keimanan harus menggerakkan laku humanisasi dan liberasi untuk membangun kehidupan. Kesenjangan dan ketimpangan sosial adalah kesalahan kita yang tak mampu menyadari kehadiran sesama dan realitas sosial. Kepedulian, solidaritas, dan empati sosial haruslah berjangka panjang.

Jiwa profetik yang berlandaskan transendensi mengarahkan kita membangun kehidupan. Membebaskan sekelompok masyarakat miskin dari keterpurukan dan ketidakberdayaan merupakan sebentuk ibadah. Kita perlu memanusiakan manusia. Jiwa profetik menghendaki kita merasakan denyut kehidupan masyarakat yang masih diselimuti kenestapaan, lalu bertindak memerdekakannya agar sejahtera. Begitu pula para penyelenggara negara berkewajiban dan memiliki tanggung jawab mengatasi kemiskinan dengan membangun sistem yang berkeadilan sosial. Tidak melakukan korupsi, karena korupsi merupakan sebentuk pelanggaran amanat Tuhan yang menyebabkan masyarakat kian menderita. Begitu.
HENDRA SUGIANTORO
PEGIAT TRANSFORM INSTITUTE&FUNGSIONARIS FORUM INDONESIA

“Jalan Baru” Aksi Mahasiswa

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Kampus Suara Merdeka, Sabtu 4 Desember 2010

APA yang disampaikan Fadjroel Rachman di Unnes layak direnungkan mahasiswa maupun gerakan mahasiswa. Saat berbicara dalam Dialog Nasional Revitalisasi Makna Sumpah Pemuda dalam Upaya Perbaikan Bangsa yang diselenggarakan BEM KM Unnes, beliau menegaskan bahwa demonstrasi adalah senjata pamungkas jika semua jalan untuk menyelesaikan masalah di wilayah intelektual gagal (Suara Merdeka, 22/11).

Demonstrasi atau turun ke jalan tidaklah dilarang, namun bukan satu-satunya cara menyampaikan aspirasi. Ada kegelisahan dirasakan ketika tradisi intelektual acapkali diabaikan. Mahasiswa lebih menikmati aksi turun ke jalan setiap menanggapi kebijakan pemerintah maupun isu-isu yang berkembang. Fatalnya, mahasiswa yang berdemonstrasi kerapkali hanya mengikuti komando dan kurang memahami isu dan persoalan secara mendalam.

Dalam ranah intelektual, kajian dan penelitian terhadap isu yang berkembang niscaya dilakukan. Mahasiswa perlu senantiasa menggalakkan tradisi membaca, berdiskusi, dan menulis. Sejauh yang penulis amati, tidak banyak dari mahasiswa yang mengakses perkembangan-perkembangan terkini. Adanya mahasiswa yang buta isu-isu aktual tak dimungkiri. Jika pun mengetahui perkembangan aktual hanya bermodalkan ”katanya”. Tanpa kuatnya tradisi membaca, meneliti, dan berdiskusi, pendewaan terhadap asumsi-asumsilah yang terjadi dalam setiap demonstrasi mahasiswa yang digelar.

Ungkapan klise menyebutkan ada tiga kejahatan intelektual: tidak suka membaca, tidak suka berdiskusi, dan tidak suka menulis. Dengan kata lain, kejahatan inteletual telah dilakukan mahasiswa dengan minimnya tiga laku intelektual tersebut. Mahasiswa seolah-olah tak ada waktu maksimal bergelut dengan teks, melahap bahan bacaan, apalagi menuliskan gagasan dan pemikiran. Padahal, menulis bagi mahasiswa merupakan keniscayaan. Menulis juga bisa digunakan untuk melakukan kritik dan kontrol terhadap penguasa.

Dalam hal ini, menulis selayaknya menjadi “jalan baru” aksi mahasiswa. Media massa bisa digunakan untuk menuangkan gagasan dan pemikiran,. Sebagai bagian dari tradisi intelektual, menulis justru perlu digiatkan. Menulis untuk pembelaan, penyadaran, dan perubahan bisa dilakukan tanpa melulu turun ke jalan. Menulis bisa dijadikan ajang mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak pro-kemaslahatan rakyat. Mahasiswa sekiranya perlu meneladani jejak tokoh-tokoh bangsa tempo silam yang aktif menggoreskan pena, bahkan penerbitan pers menjadi hal penting dalam pergerakan. Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, dan lain-lainnya menuangkan gagasan dan pemikirannya lewat tulisan. Kadang mereka mempublikasikan tulisan dalam bentuk brosur dan pamflet.

Pada titik ini, ada kisah menarik dari Bung Hatta yang bisa dijadikan cermin bagi mahasiswa. Ketika kuliah di negeri Belanda, Bung Hatta turut mengelola surat kabar Hindia Poetra. Bung Hatta mengaku bahwa tulisan pertamanya di Hindia Poetra adalah tulisan ilmiah pertamanya. Tulisan itu diberi judul De economische positie van den Indonesischen grondverhuurder (Kedudukan ekonomi para penyewa tanah orang Indonesia) dan Eenige aantekeningen betreffende de grondhuur-ordonnantie in Indonesi (Beberapa catatan tentang ordonansi penyewaan tanah di Indonesia). Saat itu di Hindia Belanda (sebelum bernama Indonesia) memang lagi hangat isu soal persewaan tanah perkebunan. Dalam membuat tulisan itu, Bung Hatta berjuang mati-matian dengan membaca dan mengkaji pelbagai literatur. Bung Hatta berkata, “Lama juga waktu yang kupergunakan untuk mengarang dua karangan (itu). Kalau aku tak salah, kira-kira enam bulan. Sambil belajar aku mengarang dan sedapat-dapatnya membaca pula buku yang dapat aku pergunakan sebagai bahan atau dasar.”(Parakitri T Simbolon, 2000).

Membaca riwayat tokoh-tokoh bangsa, tulisan memang menjadi hal yang menyatu dalam derap perjuangan. Seiring perkembangan teknologi dan informasi, mahasiswa zaman kini justru harus lebih hebat menghasilkan tulisan. Mahasiswa bisa menulis di banyak media massa, tak hanya media massa cetak, tapi juga bisa menggunakan media massa online. Dengan adanya citizen journalisme, mahasiswa tidak terlalu sulit mempublikasikan tulisan-tulisannya. Semenjak reformasi bergulir, penerbitan media massa tak berbilang jumlahnya. Justru itulah kesempatan bagi mahasiswa menggiatkan laku menulis. Menulis di media massa dapat menjadi ajang dialektika intelektual. Memang ada mahasiswa yang telah menulis di media massa, namun bisa dikatakan belumlah sebanding dengan kuantitas mahasiswa di kampus. Yang perlu ditegaskan, menulis di media massa tak melulu menembus rubrik yang mendapatkan honorarium. Entah dapat uang atau tidak, menulis bisa dilakukan di rubrik media massa manapun, bahkan menulis di surat pembaca. Jika “jalan baru” ini diterima, kelak mahasiswa akan aksi besar-besaran memadati halaman koran. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute Yogyakarta

Ajip Rosidi Mengenang Orang Lain

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Suara Merdeka, Minggu 28 Oktober 2010


Judul Buku: Mengenang Hidup Orang Lain Sejumlah Obituari Penulis: Ajip Rosidi Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta Cetakan: I, Januari 2010 Tebal: x+471 halaman

Mochtar Lubis yang kerap disebut wartawan jihad dengan surat kabar Indonesia Raya-nya dikenal Ajip sebagai orang berpendirian teguh dalam menentang kezaliman dan memperjuangkan martabat kemanusiaan. Keluar masuk penjara dialami Mochtar, baik ketika era Orde Lama maupun Orde Baru.

Mochtar pernah diajukan ke pengadilan dan dijatuhi hukuman sekitar tahun 1950-an. Pengadilan terhadap Mochtar mungkin akibat keberaniannya menguak kasus korupsi dalam birokrasi pemerintahan. Mochtar naik banding, padahal telah disarankan Jaksa Agung Suprapto waktu itu agar menerima saja hukuman yang diberikan berupa percobaan beberapa bulan. Jika naik banding, Mochtar akan terus ditahan selama keputusan belum keluar. Namun, Mochtar menolak, karena menerima keputusan pengadilan berarti mengaku bersalah. Soal prinsip inilah yang menyebabkan Mochtar sejak tahun 1956 sampai tahun 1966 terus ditahan tanpa diadili. Selama penahanan ini tak selamanya dalam penjara, kadang Mochtar menjadi tahanan rumah.

Mochtar pernah menasehati Ajib agar membiasakan menulis setiap hari. Dengan demikian, karya sastra seperti roman bisa diselesaikan di tengah kesibukan sehari-hari. Namun, kata Ajib, nasehat itu tak bisa dilaksanakan. Ajib mengaku menulis karya sastra biasanya sekali jalan. Dalam usia tuanya, Mochtar dilanda kepikunan. Ajib kerap merasa trenyuh menyaksikan kondisi Mochtar yang tergeletak tak berdaya sampai akhirnya menjemput takdir kematian.

Soal Pramoedya Ananta Toer, ada hal menarik dipaparkan Ajib. Ketika Ajib tengah mengetik di rumah sewaannya di Kramatpulo, tiba-tiba terdengar ketukan. Setelah dibuka, Pram lalu berucap, “Kau ada nasi tidak? Aku sudah beberapa hari tidak makan!” Pram memang tengah menghadapi kesulitan keuangan. Surat kabar tidak lagi memuat karangannya, penerbit-penerbit pun tak mencetak lagi karya Pram. Hal itu akibat Pram diidentifikasikan sebagai orang kiri. Terkait dengan Pram, Ajib memiliki pandangan dan argumentasi tersendiri. Pram tidak dekat dengan “orang-orang kiri”, tapi didekati. Hanya kedekatan lalu dituduh sebagai komunis tidaklah terlalu tepat. Kata Ajib, sikap antikomunis yang seperti itu malah menjeremuskan sastrawan seperti Pram dan Utuy T. Sontani ke pihak kiri. Jika dilakukan pula pendekatan dari pihak antikomunis secara manusiawi, sastrawan-sastrawan itu takkan terjerumus ke kubu komunis. Di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Pram hanya dicantumkan namanya dalam susunan pengurus. Namun, Pram tak aktif di dalamnya karena memang tak tertarik pada organisasi. Pencantuman namanya dianggap Pram hanya sebagai kehormatan. Pram pernah menjadi redaktur Lentera dalam surat kabar Bintang Timur. Secara formal, surat kabar itu milik Partindo, bukan media PKI.

Pada masa lalu banyak sastrawan yang memiliki haluan berbeda. Namun, pandangan politik tidak merenggangkan persahatan secara pribadi, termasuk dengan S.I. Poeradisastra—yang saat itu menggunakan nama Boejoeng Saleh. Boejoeng Saleh yang seorang Marxis akhirnya mengakui adanya Tuhan sekeluarnya dari Pulau Buru pada tahun 1976.

Dalam 50 obituari yang dituliskan Ajib, ada sisi-sisi lain yang kerap terlupakan dalam penulisan sejarah konvensional. Bagaimana Ajib mengenang W.S. Rendra, Asrul Sani, Ramadhan K.H, Armijn Pane, Mohammad Diponegoro, dan lain-lainnya? Dapat dibaca di buku ini. Begitu pula ada kenangan Ajib terhadap H. Ali Sadikin, Sjafruddin Prawiranegara, Deliar Noer, dan banyak sosok lainnya. (HENDRA SUGIANTORO)

--

Mengenal Bumi Lebih Dekat




















Oleh: HENDRA SUGIANTORO

Dimuat di Pustaka SKH Kedaulatan Rakyat, Minggu 21 November 2010

Judul Buku: Serba-Serbi Bumi Penulis: Hendra Wisesa Penerbit: Garailmu, Yogyakarta Cetakan: I, Maret 2010 Tebal: 176 halaman

BUMI yang kita pijak terdiri dari berbagai macam unsur dan komponen. Seperti kita lihat, kita bisa menjumpai daratan dan lautan di muka bumi ini. Ada gunung, bukit, sungai, hutan, samudera, benua, dan sebagainya. Kita juga melihat adanya angin, air, awan, kabut, salju, dan sejenisnya. Buku ini menarik dibaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang bumi. Magnetisme bumi, rotasi bumi, dan pemanasan global coba dijelaskan. Dijelaskan juga apa itu atmosfer, ozon, dan semacamnya Pengenalan ini diharapkan agar kita bisa memahami bumi dengan segala isinya.

Apa yang Tuhan ciptakan tentu tidaklah sia-sia. Sebut saja gunung yang mampu berfungsi sebagai penahan dan pengatur angin. Dijelaskan dalam buku ini, suhu mengakibatkan tekanan udara berubah. Beda tekanan antara satu daerah dan daerah yang lain menyebabkan terjadinya angin.

Terkait erosi, buku ini menjelaskan bahwa erosi dalam jumlah tertentu sebenarnya merupakan kejadian yang alami dan baik untuk ekosistem. Namun, erosi yang berlebih tentu menimbulkan masalah. Setelah menjelaskan faktor-faktor penyebab erosi dan jenis-jenis erosi, buku ini memberikan pengetahuan berbagai cara mencegah erosi. Ada banyak cara mencegah erosi, seperti pengolahan tanah, pemasangan tembok batu rangka besi, reboisasi, penempatan batu-batu kasar sepanjang pinggir pantai, pembuatan pemecah angin atau gelombang, dan pembuatan teras pada tanah lereng.

Buku ini berupa ensiklopedi mini, bukan “buku babon”. Meskipun demikian, buku ini sedikit banyak bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita terkait bumi. Karena kita hidup di bumi, kita pun perlu memahami apa-apa yang ada di bumi. Begitu.
HENDRA SUGIANTORO
Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

Belajarlah dari Sejarah Gunung Merapi

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Jum'at 19 November 2010

GUNUNG Merapi diciptakan Allah SWT tentu tidaklah sia-sia. Terkait gunung, beberapa ayat Al-Qur’an menyebutkan gunung sebagai pasak. Salah satunya dalam surat An-Naba’ ayat 6-7, “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?”. Dengan adanya gunung mencegah kita dari goncangan, “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi agar bumi itu tidak guncang bersama kamu...”(Qs. An-Nahl:15). Gunung Merapi dan gunung-gunung lainnya di Indonesia dan di seluruh dunia menjadi pasak yang berdiri kokoh untuk menunjang kehidupan di muka bumi. Adanya gunung yang aktif dan meletus juga dapat dilihat dari makna ayat tersebut.

Sebagaimana kita ketahui, ada lubang kepundan pada gunung berapi sebagai tempat keluarnya magma dan gas ke permukaan bumi. Magma bersuhu lebih dari 1000 derajat celcius. Suhu ini terus meningkat, bahkan bisa mencapai 9000 derajat celcius sampai 14.000 derajat celcius (Hendra Wisesa, 2010). Agar bumi tak hancur, magma harus dikeluarkan. Ada beberapa manfaat didapatkan dari letusan gunung berapi. Gunung Merapi dan gunung-gunung berapi lainnya bekerja dengan dasar itu. Masyarakat tentu perlu memiliki pengetahuan lebih lanjut tentang hal ini yang disampaikan para ahli dengan bahasa mudah dan jelas dimengerti.

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa Allah SWT harus menciptakan magma yang bersuhu sangat tinggi? Mengapa harus ada gunung berapi? Allah SWT pastinya menciptakan segala sesuatunya dengan kaidah keseimbangan untuk kemaslahatan manusia. Begitu juga perlu ada Gunung Merapi dan gunung berapi lainnya yang menjaga keseimbangan alam. Menurut penulis, ada tugas kita untuk mensyukuri keberadaan Gunung Merapi dan gunung-gunung lainnya. Bagaimana agar kodrat Gunung Merapi yang meletus tidak menjadi bencana? Pada titik ini, kita perlu memahami bahwa letusan Gunung Merapi merupakan hal yang wajar. Yang disebut bencana bukan pada letusannya, namun pada dampaknya yang dianggap buruk. Maka, manusia sebagai khalifatullah fi ardhi perlu memikirkan lebih jauh agar bisa satu jiwa dengan kodrat Gunung Merapi.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Masyarakat tentu perlu memiliki kesadaran bencana, karena Gunung Merapi bisa sewaktu-waktu meletus. Di samping itu, masyarakat juga perlu memiliki kesadaran sejarah. Menurut penulis, kepemilikan kesadaran sejarah justru akan menguatkan kesadaran bencana masyarakat. Ada ungkapan historia docet, sejarah itu memberi pelajaran kepada kita (Shindunata, 2007). Masyarakat perlu belajar dari sejarah untuk lebih baik lagi menghadapi letusan Gunung Merapi dan meminimalisir risiko bencana.

Letusan Gunung Merapi yang terbilang dahsyat pada tahun ini merupakan salah satu pelajaran. Sebagaimana kita saksikan, beberapa orang meninggal dunia, tempat tinggal penduduk rusak berat, sumber nafkah penduduk porak-poranda, dan dampak-dampak lainnya menyertai siklus alam meletusnya Gunung Merapi. Kejadian seperti ini bukan kali pertama, karena sebelumnya letusan Gunung Merapi juga menimbulkan dampak bagi kehidupan, entah dalam skala kecil maupun besar.

Menapaktilasi sejarah, kita perlu menyaksikan kejadian letusan Gunung Merapi beberapa masa sebelumnya. Banyak yang menyebutkan letusan pertama terjadi pada tahun 1006 di mana abu vulkaniknya bisa menyelimuti bagian tengah Pulau Jawa. Tak ada catatan jumlah korban jiwa yang bisa dirujuk pada letusan tahun 1006. Tahun 1006 sebagai letusan pertama ini memang masih menimbulkan perdebatan di kalangan para ahli, namun substansinya adalah kesadaran sejarah bahwa Gunung Merapi telah meletus berabad-abad lampau. Pada tahun 1786, 1822, 1872, dan 1930, Gunung Merapi juga pernah meletus dalam skala besar. Letusan Gunung Merapi kadang menyebabkan nyawa meninggal dunia meskipun tidak selalu ada korban jiwa.

Berdasarkan riwayat, rata-rata Gunung Merapi meletus dalam siklus pendek dan menengah. Siklus pendek antara 2-5 tahun dan siklus menengah antara 5-7 tahun. Meskipun Gunung Merapi pernah tidak meletus begitu lama dari tahun 1587-1658 yang termasuk siklus panjang , namun siklus pendek dan menengah ini perlu dijadikan antisipasi. Gunung Merapi meletus pada tahun 2006, lalu pada tahun ini, itu berarti memang letusan Gunung Merapi memiliki siklus pendek. Masyarakat perlu menyadari fakta sejarah ini.

Betapa pun letusan Gunung Merapi kadangkala menimbulkan kepiluan dan kepedihan, masyarakat tak harus melupakannya. Justru pelajaran bisa dipetik agar siap menghadapi dan menghindari bencana yang diakibatkan letusan Gunung Merapi. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, saat ini waktu dan besaran letusan gunung berapi sedikit banyak bisa diperkirakan. Pasrah terhadap takdir memang benar, namun pasrah harus dibarengi dengan ikhtiar mengantisipasi dan menghindari bencana yang mungkin terjadi. Perubahan status dari Waspada, Siaga, dan Awas pada Gunung Merapi sekiranya perlu mendapatkan perhatian masyarakat. Bagi para peneliti sains maupun teknolog, teknologi untuk menghadapi ancaman dan bahaya Gunung Merapi lebih lanjut lagi, misalnya teknologi menghadapi awan panas, bukan tidak mungkin bisa ditemukan. Begitu pula sarana prasarana evakuasi dan pengungsian warga di wilayah bencana perlu dipikirkan agar lebih mendukung dan representatif.

Allah SWT memang menguji manusia dalam setiap musibah, namun Allah SWT juga menitahkan kita sebagai khalifah. Selain sinyal untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bencana juga menjadi sinyal agar kita mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang terakhir inilah yang kerap dialpakan. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute&Pengelola Pena Profetik Yogyakarta

Merapi 1930

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan Harian Jogja, Jum'at 12 November 2010

Sebagai salah satu gunung yang aktif, letusan Gunung Merapi telah terjadi semenjak berabad-abad lampau. Pada tahun ini, letusan Gunung Merapi kembali terjadi. Banyak yang menyebutkan letusan pertama Gunung Merapi terjadi pada tahun 1006, namun tahun 1006 sebagai awal meletusnya Gunung Merapi masih menimbulkan perdebatan hingga kini. Terlepas dari itu, Gunung Merapi memang telah menghadirkan fenomena.

Dari sejarah meletusnya Gunung Merapi, ada catatan menarik pada letusannya pada tahun 1930. Pada saat itu, dunia tengah menghadapi zaman krisis yang kerap disebut zaman malaise. P. Swantoro dalam bukunya Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu menuturkan, “Pada awal masa malaise itu, pada 18 Desember 1930, terjadilah suatu bencana besar di Jawa Tengah: Gunung Merapi meletus! Tidak kurang dari 1.500 orang tewas dan 2.500 hewan mati. Berhektar-hektar sawah serta ladang hancur, dan ratusan rumah terbakar atau roboh.” (P. Swantoro, Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu, (Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), cetakan I 2002), hlm. 36). Apa yang dipaparkan P. Swantoro itu terdapat dalam laporan G. Vriens dalam majalah Claverbond tahun ke-43, 1931, halaman 85-109. Laporan G. Vriens tentang letusan Gunung Merapi pada tahun 1930 diberi judul “De Merapi”.

Apa yang dialami masyarakat pada tahun 1930 tentu sangat memprihatinkan karena saat itu kondisi kehidupan memang lagi sekarat akibat krisis global. Kehidupan penduduk yang telah mencekam pun kian bertambah mencekam ketika sumber penghidupan luluh lantak. Apa yang dialami masyarakat pada tahun 1930 tentu tak persis dengan kondisi pada tahun 2010. Namun demikian, kita perlu memiliki kesadaran bahwa Gunung Merapi memiliki kodrat untuk meletus. Kesadaran inilah yang menghendaki kita mampu berpikir agar kodrat Gunung Merapi yang meletus itu tak lagi menimbulkan dampak keprihatinan bagi masyarakat. Bagaimana caranya? Perubahan pandangan dan perilaku masyarakat tentang Gunung Merapi dan kreasi teknologi mungkin bisa dilakukan. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Aktivis Pena Profetik Yogyakarta

Sukarno dalam Sisi Terang dan Sisi Gelap
























Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Resensi Buku Harian Jogja, Kamis 11 November 2010

Judul Buku:
Sukarno: Paradoks Revolusi Indonesia Penulis: Tim Seri Buku Tempo Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia&Majalah Tempo Cetakan: I, September 2010 Tebal: x+124 halaman

Negeri ini melahirkan banyak sosok besar. Salah satunya adalah Sukarno. Lahir pada 1901, ia lahir dalam masa mekarnya spirit pergerakan nasional. Sukarno turut berjuang untuk membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan. Perhatiannya terhadap kemerdekaan Indonesia dari belenggu kolonialisme dan imperialisme terbilang besar. Pada 1945, takdir sejarah menempatkan Sukarno sebagai presiden pertama Republik Indonesia berdampingan dengan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden.


Sepak terjang dan perjuangan Sukarno dalam masa pra kemerdekaan dan era kemerdekaan telah tercatat dalam lembaran sejarah. Sukarno bukan sosok biasa yang terlibat dalam perjuangan sekadar mengikuti arus pergerakan, namun ia dikenal memiliki sikap, pendirian, dan konsep. Hal ini bisa jadi wajar sebab Sukarno memiliki kapasitas wawasan, pengetahuan, dan pemikiran yang telah didapatkannya dari pergulatan intelektual panjang. Pun, ia tak melulu berdiri di menara gading, tapi juga turun menyapa rakyat di lapisan bawah. Konsep marhaenisme merupakan salah satu bukti jiwanya menyatu dengan rakyat dan berupaya memerdekakan rakyat dari keterpurukan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan.


Di tengah capaian-capaian Sukarno, ia tentu tetap manusia biasa. Ia memiliki kelebihan dan kekurangan. Jejak Sukarno menggoreskan catatan emas, sekaligus catatan pahit. Ia begitu dikagumi, bahkan ada yang mengkultuskannya. Di sisi lain, tak sedikit yang mengkritik dan menentangnya. Sukarno menyadari hal itu dengan berkata, “Tidak seorang pun dalam peradaban modern ini yang menimbulkan demikian banyak perasaan pro-kontra seperti Sukarno. Aku dikutuk seperti bandit dan dipuja seperti dewa.” Seperti pernyataan jujur Sukarno itu, buku ini juga hendak memaparkan pelbagai fakta perihal Sukarno tak hanya dari sisi terang, namun juga sisi gelapnya.
Sebut saja soal dukungannya terhadap kebijakan romusha semasa pendudukan Jepang. Sukarno sepertinya menanggalkan sikap nonkooperasi yang sebelumnya diterapkannya selama penjajahan Belanda. Sukarno mendukung Jepang dengan sikap pragmatis yang mencengangkan, bahkan menggetirkan. Mengerahkan kecakapannya berorasi, Sukarno membujuk puluhan ribu pemuda untuk bergabung dalam barisan romusha yang dikirim ke kamp-kamp kerja paksa. Sukarno memang mengaku remuk hati mengenang hal itu. Sukarno berkata, “Akulah orangnya. Akulah yang menyuruh mereka berlayar menuju kematian.” Tapi, ia juga mengatakan, “Dalam setiap peperangan ada korban. Tugas seorang panglima adalah memenangi perang. Andaikata saya terpaksa mengorbankan ribuan jiwa demi menyelamatkan jutaan orang, saya akan lakukan.”(halaman 10-11).

Sikap Sukarno yang mendukung kebijakan romusha memang terus menjadi bahan perdebatan sampai saat ini. Pernyataan Sukarno yang mengorbankan ribuan jiwa untuk menyelamatkan jutaan orang malah bisa dianggap sebagai pembelaan Sukarno semata. Tak kalah menariknya adalah perhatian dan kecintaan Sukarno terhadap perempuan. Sejarah mencatat ada sembilan perempuan yang pernah dinikahi Sukarno dari Oetari Tjokroaminoto sampai Heldy Djafar. Dalam urusan percintaan, Sukarno tampaknya tak membeda-bedakan usia ataupun latar belakang seorang perempuan. Heldy Djafar dan Yurike Sanger, misalnya, dinikahi pada usia 18 tahun. Fatmawati dipetik Sukarno pada usia 20 tahun. Ia juga menikahi Hartini saat perempuan itu berusia 29 tahun dan memiliki lima anak. Sementara itu, Inggit Garnasih lebih tua 15 tahun dari Sukarno. Dalam menurutkan perasaan cintanya, Sukarno berani menghadapi tentangan dan halangan. Pernikahannya dengan Hartini, misalnya, mendapatkan cercaan dan protes dari sebagian gerakan perempuan (halaman 26-38).


Dalam tulisan kolom yang melengkapi buku ini, Mochtar Pabottinggi menjelaskan ada kesalahan yang dilakukan Sukarno. Pertama, dengan dukungan militer, ia membubarkan Konstituante yang hampir menyelesaikan tugasnya menyusun konstitusi yang lebih komprehensif. Ia justru memberlakukan kembali UUD 1945. Padahal, sejarah mencatat bahwa Sukarno jauh sebelumnya telah mengakui bahwa UUD 1945 bersifat “kilat” dan “darurat” dan perlu diganti dengan konstitusi yang disusun secara tenang dan seksama. Sukarno juga mengangkat anggota MPRS dan DPRS tanpa proses pemilihan umum. Sebagai pemimpin besar revolusi, ia menjadikan lembaga legislatif mainan lembaga eksekutif. Ia juga membuat lembaga yudikatif tak bergigi (halaman 84-86).
Dalam menjalankan kekuasaannya, Sukarno sebenarnya tak sepi dari kritik. Jika mau jujur, Sukarno sebagai manusia biasa ini termasuk sosok yang telah terjebak dalam hingar-bingar kekuasaan sehingga lupa diri. Dalam masa kekuasaannya, ia juga membuat kebijakan pembreidelan pers. Para pengkritiknya dipenjarakan seperti terjadi pada Sutan Sjahrir, perdana menteri Indonesia pertama.

Mungkin sejarah akan berbicara lain jika Sukarno mampu mawas diri dan mengekang naluri kekuasaannya dengan melakukan regenerasi kepemimpinan.
Apa yang dipaparkan dalam buku ini bukan berarti melulu mengungkap sisi lemah Sukarno. Kisah-kisah lain Sukarno juga diungkap, termasuk perihal Megawati yang seolah-olah menjadi penerus ayahnya. Buku ini juga dilengkapi wawancara dengan penulis buku Sukarno: Biografi 1901-1950, Lambert Giebels. Membaca buku ini tentu tak sekadar membaca paparan fakta sejarah. Lebih dari itu, pelajaran perlu dipetik demi kehidupan negeri ini lebih baik. Di tengah sisi gelap dan kelemahan Sukarno, ia tetaplah sosok besar yang dilahirkan negeri ini. Sukarno pernah berkata jangan sekali-kali melupakan sejarah. Siapa pun bisa belajar dari sejarah Sukarno agar tidak kehilangan tongkat dua kali. Historia docet!
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Pena Profetik Yogyakarta