Mengaji Sosok Ibu

Oleh: HENDRA SUGIANTORO

Dimuat di Surat Pembaca SUARA KARYA, Selasa 8 Maret 2011

Membaca sosok ibu, ada kandungan makna luas. Ibu tak sekadar dimaknai sebagai perempuan yang telah mengandung dan melahirkan. Mendalami makna ibu, ada peran dan tanggung jawab yang telah diemban. Perjalanan ibu adalah perjalanan dunia ini semenjak manusia ditakdirkan berketurunan. Dari sosok ibu, terbentang perjalanan kasih sayang, perjuangan, pengorbanan, kebahagiaan, keharuan, bahkan kepiluan. Bahkan, dari sosok ibu (mungkin saja) juga menggoreskan air mata, kesedihan, dan luka.


Menggali makna ibu mungkin tak cukup tertampung dalam lembaran kertas. Bagi seorang anak, ibu telah termaknai sejak berabad-abad silam. Entah tersurat atau tidak, setiap anak telah memaknai kehadiran ibu dalam kehidupan. Anak merasakan dan menghayati sosok ibu yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan, dan mendidiknya.


Untuk menelusuri pemaknaan ibu dalam benak anak, kita tentu bisa memasuki relung hati kita. Masing-masing kita sebagai seorang anak memiliki pemaknaan tersendiri terhadap seorang ibu. Pemaknaan ini boleh jadi berbeda meskipun tak menutup kemungkinan berada dalam kesimpulan serupa. Perbedaan pemaknaan sosok ibu dalam benak anak lumrah terjadi akibat perbedaan pengalaman dan perjalanan hidup. Lalu, seperti apakah kita memaknai ibu?


Bung Karno, presiden pertama Indonesia, dengan berterus-terang pernah berkata bahwa ia barangkali bisa membanggakan dirinya dalam hal cinta, hormat, bakti kepada ibu. Bung Karno berkata, “Bung Karno kalau sowan sama Ibunya itu, saya tidak bisa membicarakan Ibu tanpa haru dalam hatiku. Kalau tak ada Ibu, Soekarno tidak jadi seperti sekarang ini. Segala apa yang saya miliki sekarang ini, memiliki sebagai kedudukan, sebagai isi mental, sebagai kecakapan memimpin, sebagai kepintaran, sebagai apa pun, sebenarnya asalnya dari Ibu saya. Ibu yang memimpin aku, Ibu yang membuat aku menjadi manusia seperti sekarang ini. Jikalau aku sudah dipanggil Tuhan ke akhirat, saya minta diberi oleh Tuhan mencium kaki Ibuku sekali lagi. Jelas, kalau tidak ada Ibu, aku tidak jadi manusia seperti sekarang ini.”(Bung Karno, 16 Juli 1964, dalam Bung Karno Mencari dan Menemukan Tuhan oleh H.A. Notosoetardjo).


Begitulah Bung Karno mengekspresikan perasaannya terhadap ibu lewat kata-kata. Ibu memang menghadirkan kesan dalam diri anak. Siapa pun boleh mengekspresikan hatinya. Azzam, tokoh dalam novel Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman el-Shirazy, juga mendalami dan menghayati keberadaan ibu. Begitu cinta Azzam terhadap ibunya. Ada satu fragmen dalam novel yang menarik disimak ketika Azzam memboncengkan ibunya dalam perjalanan ke tempat Kiai Kamal Delanggu. Tanpa sadar, Azzam menyenandungkan sajak cinta: Ibu,/aku mencintaimu/seperti laut/mencintai airnya/tak mau kurang/selamanya.


Memaknai kehadiran dan keberadaan ibu yang diekspresikan lewat kata-kata mungkin pernah juga kita lakukan. Ada cinta, rindu, dan sejuta perasaan terhadap ibu dalam hati kita. Ehm, atau kau ingin mengekspresikannya dalam ungkapan kalimat? Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO

Aktivis Pena Profetik Yogyakarta

Makan Pisang, Mau?

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan HARIAN JOGJA,Senin 7 Maret 2011

Buah menyehatkan memang benar. Begitu banyak buah bisa kita makan, salah satunya adalah pisang. Siapa tak tahu pisang? Pisang adalah jenis buah yang tak sulit ditemukan. Setiap saat selalu tersedia pisang di pasar atau warung penjual makanan. Bahkan, di antara kita ada yang menanam pohon pisang di kebun rumah.

Bagi kita yang sedang sakit, pisang kadang digunakan untuk memasukkan obat ke tubuh. Jika penyakit hilang, itu memang guna pisang sebagai jalan untuk menyehatkan. Tapi, pisang menyehatkan tak hanya untuk urusan seperti itu. Pisang benar-benar menyehatkan, betul!

Tanpa kita sadari, pisang ternyata dapat mengobati penyakit tekanan darah tinggi, memperkuat dan menstimulasi perkembangan sel lambung, menurunkan kadar kolesterol darah dan melindung jantung, mendukung proses relaksasi otot, dan menangkal serangan radikal bebas yang sebabkan pelbagai penyakit degeneratif. Ada komposisi gizi yang terkandung dalam pisang, yakni terdiri dari energi, protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, besi, dan air. Pisang juga mengandung vitamin A, B1, dan C (Latifa Anjarpratiwi, 2009).

Pisang yang biasa kita makan ternyata mengandung banyak manfaat ‘kan? Sudahkah makan pisang? Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Aktivis Pena Profetik Yogyakarta

Sastra Tak Sekadar Karya

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Koran Merapi, Minggu 6 Maret 2011

Sastra adalah kehidupan. Sastra telah menjalani periode sejarah panjang. Di negeri ini, sastra telah ada dan mengada semenjak Indonesia belum ada. Begitu rupa karya sastra hadir menyemarakkan kehidupan publik. Sastra telah menjadi wahana beragam tujuan dan kepentingan. Sastra tak sekadar karya, tapi menjadi jalan bagi gagasan dan pikiran. Masing-masing penulis sastra bekerja dalam imajinasi dan nalar untuk mempersembahkan buah tangannya.

Karya sastra, apapun bentuknya, menemui publik dengan konsekuensi apresiasi, ekspresi, dan interpretasi. Sebagai sebuah karya, interpretasi publik tak mungkin terhindarkan. Pun, ekspresi publik dimungkinkan berbeda. Apresiasi sastra tak melulu soal larisnya penjualan. Publik mengapresiasi sastra dengan menikmati dan terlibat dalam karya. Apresiasi juga memberikan kritik dan/ pujian. Masing-masing kita tidak dilarang menginterpretasikan apapun terkait karya sastra sesuai alam pikiran. Pun, setiap kita bebas berekspresi ketika menikmati karya sastra, sekaligus berhak memetik hikmah dan pelajaran.

Berbicara karya sastra tak dimungkiri telah didahului pergulatan batin, daya pikiran, dan imajinasi. Lewat “lautan kata”, karya sastra diakui memiliki pengaruh, entah positif atau negatif. Daya jangkau pengaruh sebuah karya sifatnya relatif. Besar kecilnya efek dari karya sastra memang tak bisa diukur secara kuantitatif. Bahkan, ukuran kualitatif juga sulit dilakukan. Seberapa banyak orang yang terpengaruh, kita tak tahu. Seberapa besar perubahan sosial akibat karya sastra juga sulit dipastikan. Namun, pengaruh itu tetap ada. Kata Yudi Latif (2009), pengaruh kesusastraan terhadap kehidupan tak bisa diremehkan. Tokoh-tokoh dalam karya fiksi kerapkali mempengaruhi hidup, standar moral masyarakat, mengobarkan revolusi, dan bahkan mengubah dunia.

Daya pengaruh karya sastra malah bisa mengarahkan jalan menuju masa depan. Ada kekuatan dari karya sastra yang memberi efek bagi manusia/masyarakat. Karya sastra bisa memberi terang bagi proses refleksi kehidupan, sekaligus mengimajinasikan masa depan. Ada tiga efek dari sebuah karya: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sedikit atau banyak, karya sastra memberikan efek kognitif, afektif, dan psikomotorik kepada khalayak. Dalam penggambaran ini, Lazar dkk (dalam Yudi Latif:2009) memaparkan contoh. Kisah Rosie The Riveter, yang melukiskan sepak terjang seorang pekerja pabrik kerah biru menjadi pengungkit bagi Woman’s Liberation Movement. Kisah Siegfried, ksatria-pahlawan legendaris dan nasionalisme Teutonik, bertanggung jawab mengantarkan Jerman pada dua perang dunia. Kisah Barbie, boneka molek, yang menjadi role model bagi jutaan gadis-gadis cilik, dengan memberikan standar gaya dan kecantikan.

Karya sastra di negeri ini dengan beragam jenis dan bentuknya tentu menghadirkan daya pengaruh. Sejak berpuluh-puluh tahun lalu, karya sastra yang telah dihasilkan di negeri ini berbilang-bilang jumlahnya. Bahkan, beberapa karya sastra anak negeri juga diapresiasi sampai ke negeri manca. Di dalam negeri, karya sastra sebenarnya tak miskin apresiasi meskipun rendahnya pembelajaran sastra di sekolah mungkin menjadi problem tersendiri. Di ranah empirik, kita justru banyak menyaksikan masyarakat menggandrungi ciptaan karya sastra dari pelbagai pengarang.

Kemunculan karya sastra di negeri ini semenjak zaman silam hingga zaman kini tentu telah menghadirkan sedikit banyak perubahan dan pengaruh, baik terhadap pemikiran, pandangan, dan perilaku masyarakat. Karya sastra memiliki perjalanan sejarah yang panjang semenjak zaman kerajaan-kerajaan di Nusantara. Pada titik ini, kita perlu mengakui bahwa karya sastra sarat nilai. Terlepas apa ideologinya, setiap pengarang memiliki konsep nilai dan misi dalam setiap karyanya. Pengarang yang menghasilkan karya sastra sekadar meletupkan perasaan dan emosinya tetap memiliki ideologi. Bagaimana pun, karya sastra tak berangkat dari ruang kosong. Sekecil apapun realitas sosial yang dialami dan dihayati pengarang menggerakkan jemari untuk menuangkannya dalam sebentuk karya. Di tangan sastrawan, karya sastra bisa menjadi alat perlawanan, alat pencerahan, alat penyadaran, alat pembelaan, alat untuk mendidik masyarakat.

Pertanyaan menarik, bagaimana sastrawan mengimajinasikan masa depan negeri ini untuk dituangkan dalam karya sastranya? Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Pena Profetik Yogyakarta

Mahasiswa dan Forum Kepenulisan

Oleh: HENDRA SUGIANTRO
Dimuat di Majalah Pewara Dinamika UNY Edisi Februari 2011

Hampir dalam berbagai kesempatan mengemuka perihal rendahnya budaya menulis di perguruan tinggi. Hal ini kerapkali memunculkan keprihatinan dan menjadi kegelisahan. Perguruan tinggi yang notabene dihuni kalangan akademisi-intelektual ternyata belum mampu menunjukkan sebuah budaya menulis yang baik. Padahal, menulis merupakan salah satu bagian dari tradisi intelektual yang selayaknya dimiliki warga perguruan tinggi. Pertanyaannya, benarkah budaya menulis di perguruan tinggi memang rendah?

Secara kuantitatif, tak ada data konkret mengenai seberapa rendah budaya menulis di perguruan tinggi. Yang perlu diperhatikan, masyarakat perguruan tinggi bukan berarti tidak menulis sama sekali. Dosen dan mahasiswa memiliki tugas akademik, salah satunya menulis. Sebut saja misalnya mahasiswa yang kerapkali mendapatkan tugas menulis makalah dan/ paper terkait mata kuliahnya. Sebagian dosen pun sering menulis di jurnal-jurnal ilmiah. Dengan mengetahui fakta ini, opini masih rendahnya budaya menulis di perguruan tinggi memang perlu dicermati lebih lanjut. lantas, bagaimana memandang opini rendahnya budaya menulis di perguruan tinggi?

Memang terdapat aktivitas menulis di perguruan tinggi, namun hal ini lebih dikarenakan tugas akademik. Mahasiswa cenderung menulis hanya memenuhi tuntutan kuliah. Selain tugas kuliah, mahasiswa amat jarang menghasilkan karya tulis. Jika pun ada mahasiswa yang mengikuti lomba karya tulis atau kerapkali muncul di rubrik-rubrik surat kabar, maka boleh dikatakan masih bisa dihitung dengan jari. Mahasiswa memang menulis di surat kabar, tapi hanya berkutat pada nama-nama yang itu-itu saja. Begitu pula mahasiswa yang mengikuti dan tertarik dengan ajang penulisan karya tulis ilmiah hanya mahasiswa-mahasiswa tertentu. Artinya, tidak seluruh mahasiswa memandang aktivitas menulis sebagai bagian dari tugas pokok mereka.

Bahkan, aktivitas menulis bagi sebagian besar mahasiswa justru menjadi beban. Fatalnya, mahasiswa yang sudah malas menulis malah tak bersedia belajar menulis. Plagiarisme pun menjadi siasat mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugas menulisnya. Plagiarisme yang saat ini telah menjadi permasalahan nasional memang berusaha diberantas, namun bukanlah pekerjaan mudah. Pasalnya, hampir tidak dimungkinkan bagi dosen memeriksa tugas-tugas menulis dari sekian banyak mahasiswa. Dalam satu mata kuliah, satu dosen bisa mengajar ratusan mahasiswa berbeda kelas. Malah dimungkinkan satu dosen tidak hanya mangampu satu mata kuliah, bahkan mengajar lebih dari satu fakutas dan/ perguruan tinggi. Pada titik ini, integritas dan kejujuran mahasiswa menjadi hal utama dan penting untuk mengatasi plagiarisme.

Untuk membangun integritas dan kejujuran mahasiswa dalam menulis kiranya penting untuk menciptakan ruang-ruang pembinaan agar mahasiswa memiliki ketrampilan menulis. Upaya membangun budaya menulis di kalangan mahasiswa tidak berhenti pada ceramah dan nasihat, tetapi juga diperlukan ruang pembinaan yang berkesinambungan. Pelatihan-pelatihan kepenulisan yang kerapkali dilaksanakan layak diapresiasi. Yang perlu menjadi catatan, pelatihan-pelatihan kepenulisan tidaklah cukup. Pelatihan kepenulisan yang berlangsung beberapa jam atau beberapa hari belum menjamin mahasiswa memiliki minat dan konsisten mengasah kemampuan menulisnya. Ruang pembinaan berupa forum kepenulisan yang rutin dilaksanakan merupakan strategi tersendiri membangun budaya menulis. Lewat forum kepenulisan, mahasiswa bisa saling belajar dan memotivasi untuk mengasah kemampuan menulis. Dorongan berkarya akan terasa di kalangan mahasiswa dengan adanya forum kepenulisan.

Lewat forum kepenulisan, potensi menulis mahasiswa juga dimungkinkan mengalami aktualisasi. Adanya opini masih rendahnya budaya menulis di perguruan tinggi boleh jadi akibat minimnya ruang-ruang pembinaan. Mahasiswa tidak memiliki pandangan luas terkait dunia kepenulisan. Yang diketahui mahasiswa mungkin hanyalah mengerjakan tugas-tugas menulis kuliahnya. Dengan adanya forum kepenulisan, masing-masing mahasiswa bisa berbagi ilmu, pengetahuan, dan pengalaman mengenai dunia kepenulisan.

Terkait dengan potensi menulis mahasiswa boleh jadi tidak terbatas. Artinya, mahasiswa sebenarnya memiliki potensi menulis yang luar biasa, namun tidak ada ruang untuk mengaktualisasikan potensi itu. Maka, penggalian dan pengembangan potensi menulis tentu tidak sekadar menulis dalam konteks akademik. Mahasiswa memiliki potensi menulis tidak hanya pada ranah kepenulisan ilmiah, tapi juga kepenulisan non-ilmiah. Ranah kepenulisan fiksi juga seyogianya bisa dikembangkan. Potensi-potensi inilah yang menuntut adanya ruang pembinaan agar setiap potensi menulis mahasiswa terwadahi dan terorganisasi maksimal. Dengan adanya forum kepenulisan, mahasiswa diarahkan untuk menulis di mana pun sesuai potensinya. Tidak hanya mengikuti lomba-lomba kepenulisan, tapi juga bisa menghasilkan tulisan untuk bisa dikonsumsi publik secara luas. Mahasiswa perlu memiliki kepercayaan diri untuk menghasilkan tulisan sebagai kontrol sosial. Tulisan-tulisan yang dihasilkan mahasiswa merupakan bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat.

Dengan terpacunya mahasiswa menulis, ide, gagasan, dan pemikirannya tentu bisa terbaca luas. Apalagi bagi mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), tulisan-tulisannya sedikit banyak akan bisa mencitrakan kampus ini. Jika kita saksikan, geliat menulis di kalangan mahasiswa cenderung terasa di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Yogyakarta. UNY tentu tidak akan kalah jika mahasiswa-mahasiswanya terus-menerus ditumbuhkan spirit menulis, termasuk dengan adanya ruang-ruang pembinaan memadai. Mahasiswa UNY tidak hanya berprestasi di ajang kompetisi penulisan karya ilmiah, tapi juga bisa menghasilkan karya tulis lainnya dalam bentuk buku. Begitu membanggakan jika banyak mahasiswa UNY menerbitkan buku-buku yang akan menjadi warisan intelektual. Begitu juga mahasiswa UNY bisa merajai media massa dengan tulisan-tulisannya yang termuat. Bukankah begitu? Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Aktivis Pena Profetik Yogyakarta

Sisi Lain Kehidupan Bung Karno

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Pustaka SKH Kedaulatan Rakyat, Minggu 13 Februari 2011

Judul Buku: Kisah Istimewa Bung Karno Kata Pengantar: Asvi Warman Adam Penerbit: Penerbit Buku Kompas, 2010 Tebal: xxii+322 halaman

PERJALANAN hidup Bung Karno memiliki kisah panjang. Dalam kisah itu, mungkin saja ada sisi-sisi lain yang jarang terungkap maupun terpapar. Pada umumnya, masyarakat lebih mengenal sosok Bung Karno sebagai tokoh pergerakan nasional, proklamator kemerdekaan, presiden pertama Indonesia. Buku yang berupa kumpulan tulisan dari berbagai penulis dan wartawan ini menarik disimak.

Ketika kecil, Bung Karno kerap bermain bola, layang-layang ataupun permainan lainnya. Melalui buku ini, kita dapat membaca kisah kecil Bung Karno yang tak mau kalah dalam setiap permainan. Ketika kalah, Bung Karno tidak terima, pertengkaran pun kerap terjadi. Begitu pula kisah Bung Karno ketika bersekolah di HBS Surabaya. Saat itu Bung Karno yang mondok di rumah H.O.S. Tjokroaminoto menempati kamar tanpa jendela dan daun pintu. Sebagai penerangan, lampu pijar menyala sepanjang hari. Namun, Bung Karno tak menggerutu.

Saat menempuh bangku pendidikan, Bung Karno memang dikenal pandai. Ada kisah menarik terkait kebiasaan Bung Karno yang suka mondar-mandir ke kamar teman-temannya untuk diajak bersendau gurau dan bercakap. Teman-temannya yang sibuk belajar dan memeras otak lama-kelamaan jengkel dan akhirnya menutup pintu kamar rapat-rapat agar tak terganggu dengan kebiasaan Bung Karno. Pernah pada suatu malam, teman-temannya sibuk belajar mendengar suara orang berpidato. Teman-temannya menghampiri asal suara. Ternyata Bung Karno di kamar gelapnya berdiri di atas meja tengah berorasi. Bung Karno juga dikenal cakap melukis, bahkan tertarik dengan politik. Bung Karno kerap diajak berbincang-bincang oleh H.O.S. Tjokroaminoto dan hadir dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh politik pada masa itu.

Soal jalinan Bung Karno dengan istri-istrinya, peran Inggit Garnasih menarik disimak. Ketika masa pergerakan nasional dan saat Bung Karno dipenjara-diasingkan, Inggit menjadi perempuan yang berjasa besar. Begitu pula keberadaan seorang bernama Riwu Ga yang mulai dikenal Bung Karno saat di Ende. Saat itu Riwu melayani makan-minum Bung Karno dan harus bangun terlebih dahulu sebelum Bung Karno salat Subuh. Riwu juga menyediakan air putih dingin dicampuri sedikit kapur demi menjaga vitalitas suara Bung Karno. Saat pengasingan Bung Karno dipindahkan ke Bengkulu, Riwu juga turut. Lewat buku ini, kita dapat membaca kisah kedekatan Riwu dengan Bung Karno.

Siapa sopir pertama Bung Karno? Buku ini menerangkan sopir pertama Bung Karno bernama Mohammad Arip. Kendaraan yang digunakan adalah mobil Buick berpelat REP 1. Mobil ini hasil rampasan pada masa pendudukan. Perkenalan Bung Karno dengan Arif terjadi sebelum kemerdekaan. Sekitar 1961, Arip dan keluarganya pernah naik haji dibiayai Bung Karno, bahkan konon disambut seperti tamu negara di Mekkah.

Selain di atas, masih banyak kisah-kisah lain berkenaan dengan Bung Karno. Tempat-tempat yang pernah disinggahi Bung Karno dan peninggalannya coba diungkap. Ternyata terdapat warisan sejarah yang perlu “tangan” untuk merawat dan menjaganya. Ingin mengetahui hal-hal lainnya? Selamat membaca.
HENDRA SUGIANTORO
Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

Buku dan Perpustakaan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Jum'at 11 Februari 2011

Buku adalah tanda bahwa aksara telah dirayakan. Banyak pujangga, sastrawan, dan penulis mengkalimatkan aksara dalam buku-buku yang dicetak dan diterbitkan. Untuk memperoleh buku adalah perkara mudah. Di toko ataupun di emperan penjualan buku, kita dapat membeli beragam jenis buku sesuai keinginan.

Tanpa harus membeli demi mendapatkan buku, kita juga bisa pergi ke perpustakaan. Banyak perpustakaan yang bisa kita kunjungi, dari perpustakaan daerah sampai perpustakaan kabupaten/kota. Di sekolah dan di kampus, perpustakaan telah menyediakan beragam buku untuk dibaca. Lewat perpustakaan, kita tak harus mengeluarkan banyak uang untuk membeli buku. Kita bisa meminjam dan melahap buku-buku cukup dengan mendaftar sebagai anggota perpustakaan. Perpustakaan di setiap perguruan tinggi juga bisa dikunjungi meskipun cenderung tak diperkenankan dibawa pulang. Artinya, siapa pun kita tak kesulitan mendapatkan buku dan membacanya.

Dengan banyaknya buku yang bisa dibaca di perpustakaan, kita layak mensyukuri. Di perpustakaan daerah (Perpusda) DIY, misalnya, ada buku-buku lama yang masih bisa dibaca. Meskipun demikian, tidak setiap buku bisa kita peroleh. Dilihat dari buku-buku yang tersedia, buku-buku terbitan teranyar lebih mudah didapatkan di Perpustakaan Kota (Perpuskot) Yogyakarta. Yang penulis saksikan, Perpuskot kerap kedatangan buku-buku terbaru. Buku-buku terbitan terbaru malah sulit didapatkan di Perpusda yang lebih didominasi buku-buku terbitan lama. Penambahan koleksi perpustakaan dengan mendatangkan buku-buku yang belum ada sebenarnya telah terjadwal di masing-masing perpustakaan, seperti dalam setahun dilakukan dua kali atau sesuai kebijakan. Melimpahnya buku di perpustakaan jelas suatu anugerah.

Namun, anugerah itu bukan tanpa dilema. Coba kita bayangkan, seberapa banyak buku diterbitkan di negeri ini setiap tahunnya? Semenjak Orde Baru tumbang, jumlah penerbit tak terhitung jumlahnya. Penerbitan buku pun tak lagi menemui kesulitan. Kita bisa menyimpulkan adanya ratusan ribu (malah mencapai jutaan) buku dicetak dan diterbitkan dalam puluhan tahun sejak era sebelum kemerdekaan sampai kini. Buku-buku yang diterbitkan Balai Pustaka pada awal abad 20, misalnya, bukannya tak sedikit. Dari buku-buku itu ada yang terus dicetak ulang ketika Indonesia mencapai kemerdekaan. Sampai kini, banyak penerbit melakukan cetak ulang untuk buku-buku yang dinilai terbaik dan best seller. Begitu banyak buku jika ditambah pula buku-buku terjemahan dari sastrawan dan penulis negeri manca.

Adanya penerbitan dan pencetakan ulang buku jelas merupakan anugerah bagi generasi bangsa. Generasi bangsa yang hidup di zaman berbeda masih bisa menikmati dan membaca buku-buku lama yang meskipun tak didapatkan di toko-toko buku, tapi bisa didapatkan di perpustakaan. Tapi, apakah pengunjung perpustakaan yang membutuhkan buku-buku lama tertentu bisa mudah mendapatkannya? Apakah seluruh buku-buku lama masih tetap ada?

Disadari atau tidak, penerbitan buku juga memunculkan problema terhadap perpustakaan akibat rak-rak yang tak mencukupi untuk menampung seluruh buku. Buku-buku bertambah hampir setiap tahun yang tentu perlu menambah rak. Meskipun hal ini telah dilakukan, namun bangunan perpustakaan yang justru tak mendukung. Penyediaan rak tentu juga harus memperhatikan penataan ruang. Akibatnya, buku-buku terbitan lama lebih sering disimpan dan digudangkan (atau mungkin dijual?). Di Perpusda, misalnya, terdapat buku-buku terbitan lama, tapi bukan berarti seluruh buku terbitan lama tersedia. Malah buku-buku lama tertentu tak tersedia meskipun telah mengunjungi seluruh perpustakaan di DIY. Mungkin bagi sebagian kita tak terlalu masalah karena banyak yang lebih membutuhkan buku-buku terbaru, namun demikian buku-buku terbitan lama bukannya tidak penting.

Menurut penulis, buku-buku terbitan lama masih perlu dijaga. Perlunya menjaga buku-buku terbitan lama ini tak sekadar untuk keperluan riset pustaka dan urusan studi, tapi untuk “kebutuhan membaca”. Setiap buku terbitan lama dan anyar masih dibutuhkan. Dengan menyimpan banyak buku, perpustakaan memang bisa dikiaskan sebagai “museum buku”. Namun, kita juga membutuhkan museum buku dalam arti sebenarnya, yang menyimpan dan menjaga buku-buku lama dari kepunahan. Buku-buku lama maupun buku-buku yang tak lagi diterbitkan perlu dimuseumkan demi kebutuhan membaca setiap generasi kini dan mendatang.

Bagaimana pun, buku tak sekadar kumpulan aksara tanpa makna. Buku telah merekam jejak peristiwa. Buku juga menyampaikan ilmu, hikmah, dan kebijaksanaan. Buku menjadikan setiap manusia memiliki kedalaman pengetahuan dan wawasan. Dengan buku, manusia memiliki pikiran dan jiwa besar, mampu mengimajinasikan dan merancang masa depan. Membaca buku, kita membaca zaman. Tak sekadar teks, buku juga menyimpan nilai-nilai di setiap zaman yang bisa menjadi pelajaran. Dengan adanya museum buku, kita menjaga sejarah. Tak hanya lembaran-lembaran yang dijilid, buku juga menghadirkan penulis dan pengarang. Museum buku juga menjaga sosok penulis dan pengarang dengan pikiran dan gagasannya.

Berdirinya museum buku di kota Yogyakarta menjadi hal luar biasa. Tim khusus bisa dibentuk dalam upaya penelusuran dan pemerolehan buku-buku lama yang kini tak lagi beredar. Bagi masyarakat yang memiliki buku-buku terbitan lama bisa berkontribusi menyumbangkan bukunya. Museum buku akan menampung buku-buku terbitan zaman prakemerdekaan sampai zaman kini. Mendirikan bangunan yang pastinya bertingkat, pengadaan buku dan perawatannya, dan juga petugas yang mengelolanya memang dibutuhkan dana besar. Namun, museum buku yang diperlukan untuk “kebutuhan membaca” setiap generasi tak mungkin tanpa pengorbanan. Nantinya buku-buku di museum buku tak dipinjamkan, namun bisa dibaca. Buku perlu tersebar dan terbaca secara luas. Bukankah begitu? Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute&Pena Profetik Yogyakarta

Soekarno dan Kebudayaan Bangsa

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Pustaka SKH Kedaulatan Rakyat, Minggu 30 Januari 2011


Judul Buku: Soekarno: Visi Kebudayaan&Revolusi Indonesia Penulis: Nurani Soyomukti Penerbit: Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, 2010 Tebal: 260 halaman

Bagi Soekarno, kebudayaan adalah sarana membangun bangsa. Kebudayaan berjalin kelindan dengan segala aspek kehidupan. Kebudayaan berkaitan dengan aspek ekonomi dan politik. Bagaimana pun, kebudayaan tak mungkin bersifat netral. Melalui buku ini, kita sedikit banyak akan memperoleh gambaran tentang visi kebudayaan presiden pertama Republik Indonesia itu.

Ada konsep Tri Sakti Bung Karno yang terus melekat hingga kini, yakni mandiri di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politik, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Jiwa Soekarno yang hendak membebaskan bangsa ini dari penindasan dan penjajahan memang telah terbentuk sejak masa pergerakan nasional. Ketika menjadi presiden, jiwa tersebut tidaklah pudar. Penjajahan di bidang ekonomi, politik, dan kebudayaan terus terjadi yang kadang tanpa disadari, sehingga membuat lenyapnya kepercayaan diri, jati diri, dan kebanggaan bangsa. Di masa kepemimpinan Soekarno, istilah neokolonialime kentara didengungkan demi menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap musuh bersama.

Dalam menjabarkan konsep kebudayaan dari Soekarno, penulis buku ini mencoba melakukan analisis dan interpretasi. Penulis buku berusaha memudahkan penjelasan terkait visi kebudayaan dan revolusi dari seorang Soekarno. Dalam masa pemerintahan Soekarno, kita tentu teringat dengan Manifesto Politik Republik Indonesia (Manipol). Manipol yang merupakan orasi Soekarno pada 1959 ini oleh MPRS ditetapkan sebagai “Garis-Garis Besar Haluan Negara” lewat ketetapan MPRS No. 1/MPRS/1960. Intisari dari Manipol meliputi UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia yang disingkat USDEK. Setiap tahun Manipol-USDEK ini diberi pedoman dalam pidato Soekarno pada tanggal 17 Agustus.

Di kalangan budayawan dan seniman, apa yang dilakukan Soekarno mendudukkan dua kubu secara diametral. Ada budayawan dan seniman yang mendukung kebijakan Soekarno dan berusaha menyukseskannya, namun juga ada yang kurang bersepakat. Polemik kebudayaan antara Manifesto Kebudayaan (Manikebu) dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pun muncul. Kelompok kebudayaan Manikebu mengganggap kebudayaan bersifat netral dan tidak boleh dikait-kaitkan dengan politik. Lekra menganggap kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari aspek kehidupan, termasuk ekonomi dan politik. Lekra menjadikan seni budayanya sebagai alat perjuangan politik revolusioner. Terkait kentaranya keperpihakan Soekarno terhadap Lekra, penulis buku mencoba menjelaskan berkenaan dengan konstelasi politik ketika itu.

Banyak hal dipaparkan buku ini. Soekarno menurut penulis buku hanya berobsesi membangun kepribadian bangsa. Perlawanan Soekarno terhadap musik “ngak-ngik-ngok” di masa pemerintahannya hendaknya dibaca dalam konteks itu. Aliran musik itu dianggap dapat merusak kepribadian bangsa dan kontra-revolusioner oleh Soekarno dan pendukungnya. Dilakukan tindakan tegas terhadap masyarakat yang masih mendengarkan dan memainkan musik “ngak-ngik-ngok”. Terjadi pula razia dan penyitaan alat perekam dan kaset The Beatles, Rolling Stones, dan lainnya. Para artis ataupun seniman yang menyanyikan dan bergaya alat Barat ditegur. Pernah pada peringatan 17 Agustus 1965, Soekarno menyindir Koes Bersaudara, “Jangan seperti kawan-kawanmu, Koes Bersaudara. Masih banyak lagu-lagu Indonesia, kenapa mesti Elvis-Elvisan.” Sebelum itu, pada 1 Juli 1965, sepasukan tentara telah menangkap kakak beradik Tony, Yon, dan Yok Koeswoyo dan memenjarakannya.

Selain mengundang sikap pro, kebijakan yang dibuat Soekarno juga dibarengi sikap kontra. Malah Anda bisa saja terbawa pada sikap pro dan kontra setelah membaca buku ini.
HENDRA SUGIANTORO

Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

Sayang Ibu

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Cernak SKH Kedaulatan Rakyat, Minggu 23 Januari 2010

BEL jam istirahat siang berbunyi. Ibu guru mempersilahkan anak-anak untuk istirahat. Ada murid yang keluar kelas untuk bermain, ada juga yang jajan makanan dan minuman. Tak seperti biasa, Yosi hanya diam di kelas, tak ikut bermain bersama teman-temannya.

”Ada apa, Yosi?’ tanya Ibu guru. Yosi tidak segera menjawab, pikirannya terbayang terus dengan ibunya di rumah.
”Yosi mau berbagi cerita dengan Ibu?” Ibu guru bertanya kembali dengan bijak.
”Ya, Bu. Yosi teringat dengan ibu di rumah. Ibu begitu sayang. Setiap pagi ibu membangunkan Yosi, memasakkan makanan, dan membantu Yosi mempersiapkan keperluan untuk sekolah,” jawab Yosi.
”Ibu memang sayang kepada Yosi. Tugas ibu memang berat membesarkan anaknya, mendidik dan merawat anaknya. Ketika anaknya sekolah, ibu selalu menyiapkan segala sesuatunya. Kasih sayang ibu ke anaknya memang luar biasa,” kata Ibu guru.
”Yosi juga sayang dengan ibu. Yosi ingin memberi sesuatu buat ibu. Kira-kira apa ya, Bu?” Yosi menjelaskan keinginannya untuk memberi sesuatu ke ibunya. ” Yosi ingin membahagiakan ibu.”
”Oh begitu. Kalau menurut Yosi, kira-kira apa?” tanya Ibu guru.
”Nah itu, Bu. Yosi sedang memikirkan sesuatu sebagai ungkapan sayang ke ibu. Yosi bingung mencari sesuatu yang tepat buat ibu,” tutur Yosi menjelaskan ke ibu gurunya.
”Boleh saja Yosi memberi sesuatu. Apapun sesuatu itu pasti membuat ibu senang,” kata Ibu guru.
”Yang bisa membuat ibu bahagia apa ya, Bu?” tanya Yosi yang masih bingung memikirkan sesuatu yang akan diberikan ke ibunya. Ibu guru mencoba memahami apa yang ada dalam pikiran Yosi.
”Yosi bisa membuat ibu Yosi bahagia dengan apapun. Yosi rajin belajar juga akan membuat ibu Yosi bahagia. Kalau menurut ibu, Yosi memberi sesuatu itu dengan cara berbakti,” kata Ibu guru mencoba mengarahkan pikiran Yosi.
”Berbakti? Seperti apa ya, Bu” tanya Yosi.
“Ya, berbakti kepada ibu. Ibu akan bahagia jika Yosi menjadi anak yang baik dan salihah. Jika Yosi berperilaku baik, ibu pasti bahagia. Yosi yang tidak nakal, bisa menaati orang tua dan tidak membentak-bentak orang tua akan memberikan kebahagiaan tersendiri buat ibu,” kata Ibu guru.
“Berarti Yosi harus berbakti agar ibu bahagia. Apakah dengan berbakti, kasih sayang ibu akan terbalas?” tanya Yosi.
”Kasih sayang ibu sebenarnya tidak mungkin terbalas. Seperti Yosi lihat sendiri, begitu sayangnya ibu kepada Yosi. Dulu ketika mengandung dan melahirkan Yosi, ibu harus berjuang amat berat. Ketika Yosi kecil dan sekolah, kasih sayang ibu tidak pudar, bahkan sampai nanti Yosi dewasa. Yosi ingin ibu bahagia ’kan?”
”Ya, Bu. Yosi ingin melihat ibu bahagia. Dari kata-kata Bu guru, Yosi harus berbakti sebagai ungkapan sayang ke ibu. Berbakti adalah sesuatu yang harus diberikan kepada ibu,” tutur Yosi yang semakin menyadari betapa besar kasih sayang ibu.
“Ya, Yosi memang anak yang cerdas. Ibu akan bahagia jika Yosi rajin belajar, rajin beribadah, dan tidak nakal. Yosi perlu membantu pekerjaan ibu di rumah sebagai ungkapan sayang ke ibu. Yosi tidak boleh berkata kasar ke ibu, tapi harus berbicara dengan lemat lembut. Setiap saat Yosi juga harus mendoakan ibu. Jika Yosi bisa seperti itu, ibu pasti akan bahagia,” Ibu guru menjelaskan lebih lanjut.
“Ya, Bu. Kalau begitu Yosi akan selalu berbakti kepada ibu. Yosi akan terus sayang pada ibu agar ibu selalu bahagia,” kata Yosi yang ingin cepat-cepat pulang sekolah untuk mencium pipi ibunya.
HENDRA SUGIANTORO

Jejak Perjalanan Sri Sultan HB IX

Oleh: HENDRA SUGIANTORO Dimuat di Resensi Buku Harian Jogja, Kamis 13 Januari 2011

Judul Buku: Hamengkubuwono IX Penulis: K. Tino Penerbit: NAVILA IDEA, Yogyakarta Cetakan: I, 2010 Tebal: vi+197 halaman

Sri Sultan Hamengkubuwono IX(1912-1988) tak sekadar pernah menjadi raja Kasultanan Yogyakarta, namun juga tokoh pejuang dan negarawan. Dukungannya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak diragukan.

Kontribusinya terhadap RI jelas tak dinafikan. Sebagaimana diketahui, kondisi Indonesia belumlah stabil pada awal kemerdekaan, apalagi Belanda masih hendak melakukan intervensi. Dalam keadaan genting, pusat pemerintahan dari Jakarta pun dipindahkan ke Yogyakarta pada 3 Januari 1946. Sultan HB IX turut membantu perjuangan RI mempertahankan kemerdekaan.

Saat perang kemerdekaan, Yogyakarta juga menjadi sasaran penyerbuan Belanda. Para pemimpin Indonesia menjadi target penangkapan. Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukit Tinggi sempat didirikan. Aksi Belanda mendapatkan kecaman dunia internasional. Namun, Belanda bersikap pongah, bahkan menganggap Indonesia telah tiada dengan keberhasilan menangkap para pemimpin RI. Belanda mengira Indonesia tak bisa melakukan perlawanan. Sri Sultan HB IX mengatur siasat agar eksistensi RI tetap terjaga. Dengan inisiasi Sri Sultan HB IX, Belanda mendapatkan perlawanan lewat strategi terpadu bertajuk Serangan Umum 1 Maret 1949. Hal ini sedikit banyak membuka mata dunia internasional bahwa eksistensi RI masih berlanjut.


Sri Sultan HB IX memiliki karir politik di tingkat nasional. Ia pernah menjabat Menteri Negara dalam Kabinet Sjahrir (2 Oktober 1946-27 Juni 1947), Menteri Negara dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I (3 Juli 1947-11 November 1947) dan Kabinet Amir Sjarifuddin II (11 November 1947-29 Januari 1948). Pada masa Kabinet Hatta I (29 Januari 1948-4 Agustus 1949), ia tetap menjadi Menteri Negara. Dalam Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949-20 Desember 1949), ia menjadi Menteri Pertahanan atau Koordinator Keamanan Dalam Negeri. Jabatan ini tetap dipegangnya dalam Kabinet Hatta saat pemerintahan RIS. Dalam Kabinet Natsir (6 September 1950-27 April 1951), ia menjabat Wakil Perdana Menteri.

Karir politik nasional Sri Sultan HB IX terus berjalan di era Soeharto. Selama Orde Baru, jabatannya dalam kabinet lebih dominan mengurusi bidang keuangan dan ekonomi sampai akhirnya menjadi Wakil Presiden pada 1973-1978. Pada masa Orde Baru muncul istilah triumvirat (Tiga Serangkai): Soeharto, Sri Sultan HB IX, dan Adam Malik. Buku ini mencoba menjelaskan soal tiga serangkai ini yang kadang dianggap pro Amerika Serikat. Mungkin saja Sri Sultan HB IX dimanfaatkan Soeharto mengawal transisi dari Orde Lama ke Orde Baru. Buku ini juga menjelaskan duduk perkara beberapa pihak yang menyebut tiga serangkai ini sengaja dibentuk sebagai pemerintahan bayangan di tengah agenda CIA menggulingkan Soekarno dengan memanfaatkan situasi krisis pasca-G 30/S. Yang jelas, Sri Sultan HB IX menolak perpanjangan sebagai Wakil Presiden pada 1978.


Membaca buku ini, kita diajak menelusuri kiprah Sri Sultan HB IX. Ada banyak kisah terpapar. Sri Sultan HB IX adalah tokoh nasional yang telah menciptakan fenomena dan meninggalkan nama.

HENDRA SUGIANTORO

Pegiat Pena Profetik, tinggal di Yogyakarta

Guru dan Keteladanan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Rabu 12 Januari 2011

Perilaku guru yang dinilai tidak baik sering kali menyeruak ke permukaan. Oknum guru yang melakukan tindakan kurang terpuji akhirnya dianggap tidak mampu memberikan keteladanan. Apapun tindakan guru yang tak terpuji pastinya tidak dibenarkan. Tidak hanya guru, tapi siapa pun tidak dibenarkan melakukan tindak kejahatan ataupun melanggar hukum.

Pada titik ini, kita hendaknya mendudukkan persoalan secara jernih. Sosok guru yang menjadi salah satu komponen penyelenggaraan pendidikan memang memiliki tanggung jawab besar mengajar sekaligus mendidik murid-muridnya. Dalam upaya mendidik, unsur keteladanan menjadi salah satu keniscayaan. Ketika guru mendidik murid-muridnya untuk berlaku baik, maka guru harus satu kata dan perbuatan. Guru harus menjadi sosok yang digugu lan ditiru. Tingkah laku guru seyogianya dapat menjadi teladan bagi murid-muridnya.

Yang menjadi persoalan, guru sering kali dikonstruksikan sebagai manusia sempurna. Guru tidak boleh salah dan khilaf. Adanya kewajiban guru berperilaku mulia memang tidak bisa diganggu gugat, namun kita tetap harus memposisikan guru sebagai manusia biasa. Dalam menjalani kehidupan, guru pun tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Adanya guru melakukan perbuatan tidak terpuji bisa saja karena faktor internal dalam dirinya. Kepribadian guru ada yang baik, ada juga yang kurang baik. Tidak semua guru berkarakter baik dan menghayati profesinya. Di sisi lain, faktor eksternal juga sering kali mempengaruhi guru bertindak kurang mulia. Ketertekanan ekonomi sering kali mengakibatkan seorang guru melakukan tindakan di luar kewajaran. Dengan gaji pas-pasan, guru juga manusia yang harus memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.

Maka, terkait faktor eksternal, pemerintah tidak boleh membiarkan kehidupan guru terkatung-katung. Kesejahteraan guru harus mendapatkan perhatian. Siapa pun tak ingin akibat minimnya penghasilan menyebabkan seorang guru mengambil jalan pintas agar asap dapur keluarganya bisa terus mengepul. Adanya anak guru yang justru tidak dapat bersekolah sungguh ironis dan tidak perlu terjadi jika pemerintah benar-benar memperhatikan kesejahteraan finansial guru. Hal yang perlu ditegaskan adalah penggajian guru tidak mengenal diskriminasi antara guru tetap dan guru tidak tetap. UNESCO dan ILO dalam Recommendation Concerning The Status of Teachers yang dirumuskan pada 5 Oktober 1966 menghendaki agar guru tetap maupun guru tidak tetap memperoleh penggajian yang sama secara proporsional (Pasal 60). Artinya, semua guru digaji tanpa memperhatikan embel-embel: PNS atau non-PNS, guru tetap atau tidak tidak tetap.

Terlepas dari faktor kesejahteraan, guru yang diharapkan masyarakat memang guru yang mampu berperilaku mulia. Guru mampu memberikan keteladanan dalam sikap dan perilaku mulia yang ditunjukkannya. Guru yang memiliki moralitas nan tangguh jelas diharapkan. Itulah konsekuensi logis ketika seseorang menjadi guru. Maka, Soekarno sangat menekankan pentingnya guru menjadi ”Rasul Kebangunan”. Dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, presiden pertama Republik Indonesia itu mengatakan, ”Alangkah hebatnya, kalau tiap-tiap gurunya bukan saja memenuhi syarat-syarat teknis yang orang biasanya tuntutkan dari seorang guru, tetapi benar-benar Rasul Kebangunan yang sejati,--Rasul Kebangunan bukan saja secara “formal” tetapi Rasul Kebangunan di dalam tiap-tiap sepak terjangnya, di dalam sekujur badan dan tulang sumsumnya,--Rasul Kebangunan sampai ke ujung tiap-tiap getaran ruhnya dan jiwanya! Hanya guru yang benar-benar Rasul Kebangunan dapat membawa anak ke dalam alam kebangunan. Hanya guru yang dadanya penuh dengan jiwa kebangunan dapat ”menuntun” kebangunan ke dalam jiwa anak...”. Bagi Soekarno, keteladanan guru harus ditunjukkan dalam setiap gerak-gerik guru. Profesionalisme guru tidak hanya ditunjukkan dengan kepemilikan gelar kependidikan dan penguasaan pengetahuan, tapi juga keanggunan sikap dan perbuatan. Pengaruh keteladanan guru malah bisa lebih ampuh ditiru murid-muridnya ketimbang sebentuk nasihat lewat lisan.

Dalam UU No 20/2003 tentang Sisdiknas, prinsip profesionalitas juga menghendaki guru memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. Guru berkewajiban menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika. Mugi Muryadi Harna (2004) pernah mengatakan bahwa salah satu ciri utama profesionalitas adalah adanya moral, etika, dan perilaku yang baik. Sebagai tenaga profesional, tugas yang diemban seorang guru tidak sekadar mengajar, melatih, dan memberi nilai, tapi juga mendidik, membimbing, dan mengarahkan. Guru adalah teladan bagi murid-muridnya. Di tangan seorang guru, murid dididik menjadi manusia muda yang beretika, berperilaku mulia, dan memiliki keanggunan moral.

Pada titik ini, besarnya kewajiban guru agar mampu memberikan keteladanan kepada murid-muridnya tentu merupakan tantangan. Bagaimana pun, menjadi seorang guru tidaklah mudah. Guru juga manusia yang pastinya tak luput dari kekhilafan dan kesalahan. Guru bukan malaikat. Namun demikian, pilihan menjadi guru adalah pilihan berat sekaligus mulia untuk mendidik generasi bangsa. Ketika seseorang memilih menjadi guru, pilihan itu juga menghendaki guru agar satu kata dan perbuatan. Untuk itu, guru perlu memiliki benteng moral yang menjadi perisai dari perbuatan-perbuatan tercela. Sekali lagi, tak mudah menjadi guru yang bisa digugu lan ditiru. Tapi, di balik itu ada kemuliaan seorang guru yang akan melahirkan generasi bangsa yang tangguh secara intelektual dan moral. Di tengah krisis keteladanan di negeri ini, guru sudah saatnya tampil sebagai teladan bagi murid-muridnya. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute&Pena Profetik Yogyakarta

Membangkitkan Tradisi Menulis

Oleh: HENDRA SUGIANTORO Dimuat di Pustaka Kedaulatan Rakyat, Minggu 9 Januari 2011
Judul Buku: Menulis, Tradisi Intelektual Muslim Penulis: Dwi Suwiknyo, Edo Segara, Ifa Avianty, dkk Penerbit: Youth Publisher, Yogyakarta Cetakan: I, November 2010 Tebal: X+183 halaman

Laku menulis di kalangan intelektual muslim sejauh yang kita tahu tak pernah berhenti. Di Indonesia saja selalu muncul tulisan-tulisan dari para tokoh yang disebut sebagai cendekiawan muslim, intelektual muslim, ataupun istilah sejenisnya. Namun, di sisi lain, laku menulis di kalangan umat Islam boleh diasumsikan mengalami degradasi dan perlu ditumbuhkan.
Buku yang berisi kumpulan artikel ini mungkin saja benar jika berkehendak membangkitkan tradisi menulis di kalangan umat Islam.

Pada dasarnya, rendahnya laku menulis menjadi persoalan umum meskipun tanpa menyertakan identitas muslim. Meskipun kita akui karya-karya ulama dan intelektual muslim tetap mengalir, namun belumlah seberapa dilihat dari kuantitas umat Islam yang besar di Indonesia.


Untuk itu, melalui buku ini, umat Islam diajak mengambil spirit dari ulama dan intelektual muslim yang memiliki tradisi menulis dalam hidupnya. Dalam agama pun, laku menulis begitu ditekankan, sehingga umat Islam seharusnya memiliki motivasi besar untuk menulis.

Dengan membaca buku ini, pembaca juga bisa mengetahui pengalaman beberapa penulis yang telah menghasilkan karya-karya kepenulisan. Ada sekitar 25 penulis yang telah malang-melintang di dunia kepenulisan Indonesia memberikan kontribusi tulisan dalam buku ini. Di tengah adanya kekurangan dan kelemahan yang mungkin disengaja, buku ini bisa dijadikan bacaan untuk menggiatkan laku menulis. Begitu.

HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Pena Profetik Yogyakarta

Ketika Socrates Mati

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Forum Harian Jogja, Sabtu 8 Januari 2011

Ada banyak nama yang selalu tercatat dalam perjalanan sejarah. Dari sekian banyak nama itu salah satunya adalah Socrates. Kematiannya bisa dikatakan dengan jalan tidak wajar.

Banyak referensi yang memaparkan peristiwa kematian Socrates. Salah satu referensi itu bisa didapatkan dalam buku Masalalu Selalu Aktual karya P. Swantoro (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, cetakan I Januari 2007). Berikut pemaparan P. Swantoro dalam tulisan Hukuman Mati dalam buku itu pada halaman 35: “Socrates, seorang filsuf Yunani yang sangat menonjol, meninggal dunia pada usia 70 tahun secara tidak wajar. Ia harus mengakhiri hidupnya dengan minum racun atas putusan pengadilan Athena karena dituduh mengesampingkan dewa-dewa yang menjadi pujaan negara-kota itu, dan menyebarkan ajaran baru.

Kegiatannya itu dianggap merusak generasi muda. Tetapi Socrates sendiri menyatakan tidak pernah melakukan kesalahan yang dituduhkan itu. Malahan sebaliknya, ia sebenarnya harus diberi hadiah karena jasa-jasanya. Namun demikian, ia menolak ajakan kawannya, Crito, untuk melarikan diri. Alasannya, meskipun putusan pengadilan itu bertentangan dengan fakta-nyata tetapi lembaga tersebut sah. Jadi, putusannya harus dipatuhi. Peristiwa ini terjadi tahun 399 sebelum Masehi.”

Catatan mengenai akhir hayat Socrates tentu bisa diperoleh lewat referensi lain. Dari pemaparan P. Swantoro di atas, kita mengetahui Socrates harus minum racun atas putusan pengadilan Athena. Yang menjadi menarik adalah pernyataan Socrates bahwa ia tetap harus mematuhi putusan pengadilan meskipun merasa tak bersalah. Socrates mematuhi putusan pengadilan itu karena lembaga itu sah.
Bagi kita, apa yang dinyatakan Socrates itu tetap bisa ditafsirkan. Terlepas benar atau salah, itulah sikap dan pendirian Socrates. (*)

Sekolah Profetik

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Lampung Post, Senin 27 Desember 2010

Sekolah adalah bagian dari pilar perubahan sosial. Pendidikan sekolah tak sekadar memberikan pelajaran dan meluluskan peserta didik, namun harus mampu membentuk peserta didik menjadi manusia seutuhnya. Dalam pendidikan di sekolah, peserta didik tak hanya diarahkan cakap menguasai ilmu pengetahuan. Peserta didik juga diarahkan untuk berpikir dan menghadapi realitas sosial agar nantinya mampu memberikan kontribusi.

Pada titik ini, sekolah profetik menemukan relevansi. Di tengah fakta dunia pendidikan yang masih buram, sekolah perlu bertransformasi menjadi sekolah profetik. Meminjam konsep Kuntowijoyo, sekolah profetik berjalan dengan tiga pilar: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Sekolah profetik memahami hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan yang dititahkan untuk beribadah dan memakmurkan kehidupan. Ibadah bermakna luas. Guru yang mengajar dan mendidik menjalankan laku ibadah. Kesadaran ibadah perlu dimiliki para pengambil kebijakan di sekolah, sehingga mampu merumuskan kebijakan yang tepat. Mendidik peserta didik merupakan ibadah yang menjadi motivasi guru bekerja penuh dedikasi dan semangat.

Kesadaran ibadah juga ditanamkan kepada peserta didik. Tekun belajar dan mempelajari ilmu pengetahuan bukan beban dan tuntutan menghadapi ujian sekolah, tapi memang kewajiban. Transendensi menjadi pijakan dan arah bagi proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Keimanan kepada Tuhan harus diimplementasikan dalam gerak amal. Guru harus memanusiakan peserta didik sebagai individu manusia yang memiliki potensi. Hubungan antara insan pendidikan di sekolah haruslah humanis. Kebijakan-kebijakan yang dibuat sekolah tidak mendiskriminasikan peserta didik, karena siapa pun memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu. Sekolah profetik memberikan peluang setara bagi seluruh peserta didik dengan perbedaan potensi, kemampuan, status sosial, dan ekonomi. Saling menghargai ditanamkan antara satu dengan lainnya dalam komunitas masyarakat sekolah.

Sekolah profetik adalah sekolah yang membebaskan. Peserta didik menjalankan pendidikan di sekolah tanpa perasaan tertekan, terasing, tertindas, dan dikucilkan. Hak yang sama mendapatkan pendidikan menghendaki guru memerdekakan peserta didik untuk terlepas dari ketidaktahuan dan kebodohan. Proses pembelajaran tidak menjauhkan peserta didik dari realitas sosial. Peserta didik dilibatkan dengan persoalan sosial dengan mendiskusikan dan diberi ruang menyampaikan pendapat dan pemikiran. Pendidikan dalam sekolah profetik mencakup pendidikan keimanan, pendidikan akal, pendidikan akhlak, pendidikan moral, pendidikan jiwa, pendidikan sosial, dan pendidikan fisik, pendidikan karakter, dan pendidikan multikultur. Potensi akal, hati, dan jasad dikembangkan secara bersamaan dan seimbang. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Karangmalang Yogyakarta 55281