Inspirasi Intelektual dari Sosok Ibnu Sina


Dimuat di Majalah Pewara Dinamika UNY Volume 12. NOMOR 40 APRIL 2011, rubrik Resensi Media

Judul Buku: Tawanan Benteng Lapis Tujuh: Novel Biografi Ibnu Sina Penulis: Husayn Fattahi Penerbit: Penerbit Zaman, Jakarta Tahun: I, 2011 Tebal: 296 halaman

Sebelum membaca novel ini, ada pertanyaan yang bisa diajukan. Apa kepentingan novel ini bagi kaum akademisi? Adakah nilai-nilai pendidikan yang diinspirasikan dari novel ini?

Di tengah redupnya tradisi intelektual, novel ini menyuguhkan pelajaran berharga dari seorang Ibnu Sina (908-1037 M). Di Barat, Ibnu Sina terkenal dengan nama Avicenna. Mungkin kini banyak dari kita tak mengenalnya, namun Ibnu Sina telah tercatat dalam tinta emas sejarah. Komaruddin Hidayat, guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengatakan bahwa keilmuan Ibnu Sina melampaui zamannya bagaikan menara penerang peradaban. Membaca novel ini, kita memang akan merasakan denyut intelektual yang memukau. Kegigihan belajar Ibnu Sina menyebabkan ia tampil sebagai sosok yang menguasai pelbagai disiplin ilmu sejak usia masih belia.

Karena kecerdasannya, Ibnu Sina terus-menerus berganti guru. Di rumah maupun di perpustakaan, Ibnu Sina rajin mempelajari buku-buku dengan tekun. Ibnu Sina bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mengoreksi beberapa teori yang terdapat dalam buku. Buku-buku ilmu pengetahuan lainnya juga dikaji Ibnu Sina. Bahkan, permasalahan-permasalahan yang rumit dari apa yang dibacanya berhasil dipecahkan dengan cepat. Buku terkait ilmu kedokteran yang juga tekun dipelajari ternyata menempatkan Ibnu Sina sebagai tokoh kedokteran terkemuka. Ibnu Sina juga kerap melakukan diskusi dan tukar pendapat dengan pelbagai kalangan.

Ibnu Sina juga produktif menulis. Prof. DR. Azyumardi Azra, MA pernah menuturkan, “Ibnu Sina tidak sekadar membaca dan menyelidiki ilmu-ilmu. Lebih jauh ia menuliskan apa-apa yang diketahuinya itu, baik dalam bentuk artikel, risalah maupun buku-buku.” Dalam novel ini, laku intelektual Ibnu Sina dalam menulis turut dipaparkan. Banyak karya tulisnya. Salah satu karya tulisnya yang fenomenal adalah buku al-Qanun fi at-Thibb atau juga disebut Canon of Medicine. Dalam catatan sejarah, buku ini diterjemahkan dalam pelbagai bahasa dan pernah menjadi buku induk kedokteran.

Dengan ilmunya, Ibnu Sina tidak bertengger di “menara gading”, tapi mengabdikan diri untuk kemaslahatan masyarakat. Ia menjadi pengajar. Begitu pula menjadi dokter yang tak berorientasi materi. Pasien yang miskin harta pun berusaha diobati. Menurut Ibnu Sina, ganjaran paling besar bagi seorang dokter adalah kesembuhan pasien. Dalam novel ini, kita bisa menyaksikan keuletan dan keberhasilan Ibnu Sina mengobati pasien, bahkan yang kritis sekali pun. Banyak apresiasi diberikan kepadanya. Para penguasa pun salut, sehingga beberapa kali Ibnu Sina menjadi dokter di istana. Menanggapi tentang pengobatannya, Ibnu Sina berucap, “Diagnosa setiap dokter itu berbeda-beda. Inti dari kedokteran pada dasarnya adalah diagnosa yang cermat dan tepat.” Ibnu Sina mengecam keras dokter-dokter yang asal-asalan menjadi dokter, karena bisa membahayakan nyawa banyak orang dan selalu menyalahgunakan pekerjaan hanya untuk mengumpulkan harta benda, emas, dan perak.

Novel ini menarik dibaca untuk memberikan inspirasi bagi kita terkait ketekunan menuntut ilmu dan ketulusan pengabdian dalam profesi. Kaum akademisi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bisa menimba keteladanan dari sosok Ibnu Sina. Siapa tahu kelak dari UNY akan muncul tokoh yang juga mendunia dengan disiplin keilmuannya. Dari UNY untuk Indonesia menuju pentas dunia, bukankah begitu?

HENDRA SUGIANTORO, Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

Rendahnya Budaya Baca Aktivis

Oleh: HENDRA SUGIANTORO

Dimuat di Opini Jogja Raya, Sabtu 23 April 2011

Saratri Wilonoyudho (2008) pernah mengutarakan sebagian besar kaum mahasiswa telah terjebak di dunia “kapitalistik”. Berangkat ke kampus sekadar ”ritual” saja, tanpa niat tulus untuk mengembangkan intelektualitasnya. Ada beberapa indikator yang dikemukakan Dosen Universitas Negeri Semarang itu, yakni malasnya mahasiswa mengerjakan tugas, malas membeli buku, malas membaca, malas menulis, malas berdiskusi dalam kelas, dan lain-lain. Mahasiswa hanya sibuk menyembah simbol-simbol keilmuan tanpa ”nafsu” dan perasaan untuk mengembangkannya. Targetnya sederhana, dapat ”simbol” intelektual yang berupa ijazah, diterima bekerja di pabrik dengan harapan hidup kaya raya sebagaimana diajarkan di TV-TV swasta negeri ini.

Apa yang diutarakan Saratri Wilonoyudho di atas sepertinya menjadi gejala umum. Di zaman kini sulit mencari mahasiswa yang suntuk bergelut dalam dunia intelektual. Yang dikerjakan mahasiswa hanya rutinitas perkuliahan miskin makna. Sebagian mahasiswa sekadar memenuhi presensi perkuliahan dan memuja budaya instan. Lahirnya budaya ini tentu berawal dari paradigma berpikir pragmatis yang dilanggengkan dalam kebiasaan-kebiasaan bertindak instan. Di lingkup kampus, para mahasiswa umumya menggemari budaya menyontek, copy paste tugas-tugas perkuliahan, CSSA (Catat Skripsi Sampai Abis), hingga mengklaim artikel internet sebagai karyanya (Rahmah Purwahida, 2008). Pertanyaannya, apakah kondisi seperti itu juga melanda aktivis mahasiswa?

Aktivis mahasiswa merupakan bagian dari mahasiswa yang menempuh studi di perguruan tinggi. Karena aktif dalam organisasi kemahasiswaan, sebutan aktivis mahasiswa pun melekat. Yang justru menyedihkan, jika rendahnya tradisi intelektual ternyata juga merambah kalangan aktivis mahasiswa.

Disadari atau tidak, dalam ruang organisasi kemahasiswaan ternyata amat jarang ditemui aktivis mahasiswa yang membawa buku dan membacanya. Memang kegiatan-kegiatan seminar dan diskusi publik digelar, tapi aktivis mahasiswa tampaknya lebih cenderung hanya bangga menjadi panitia kegiatan! Sebagian aktivis mahasiswa dapat dikatakan sekadar disibukkan dengan menggelar kegiatan-kegiatan. Waktu, pikiran, dan tenaga habis untuk penyelenggaraan kegiatan tanpa pernah memberi asupan pemikirannya. Bahkan, adanya aktivis mahasiswa yang buta isu-isu aktual tak dimungkiri. Jika pun mengetahui perkembangan aktual hanya bermodalkan ”katanya”.

Adanya fakta minimnya budaya membaca di kalangan aktivis mahasiswa tentu menggelisahkan. Sebagai komponen mahasiswa yang diposisikan berada di ”kelas elite”, aktivis mahasiswa selayaknya menjadikan tradisi membaca sebagai keniscayaan. Selain budaya membaca yang minim, budaya menulis di kalangan aktivis mahasiswa pun terbilang rendah. Diskusi yang dilakukan di kalangan aktivis mahasiswa juga kurang berbobot. Diskusi yang dilakukan tidak menambah kapasitas pemikiran dan sering kali justru urusan yang remeh-temeh. Membaca pun jarang, apalagi mendiskusikan persoalan-persoalan politik, pendidikan, kebudayaan ataupun ekonomi yang tengah menghangat.

Pada titik ini, saatnya aktivis mahasiswa melakukan introspeksi. Budaya membaca harus disadari sebagai kewajiban asasi seorang aktivis mahasiswa. Memang masih ada aktivis mahasiswa yang memiliki tradisi intelektual dalam aktivitasnya, hanya saja aktivis mahasiswa seperti ini tidaklah seberapa dibandingkan aktivis mahasiswa yang bergerombol dalam organisasi kemahasiswaan. Kondisi ini selayaknya dikoreksi karena justru menyebabkan organisasi kemahasiswaan kurang berjalan dinamis. Tanpa kuatnya tradisi membaca yang terjadi hanyalah pendewaan terhadap asumsi-asumsi. Berbicara kemiskinan penduduk, tapi tak bisa memaparkan data kemiskinan. Ketika berbicara mengenai isu-isu lokal maupun nasional kerap tanpa kajian mendalam. Akhirnya, aktivis mahasiswa kurang memahami persoalan secara lebih mendalam ketika melakukan gerakan.

Tradisi membaca telah dicontohkan founding father’s negeri ini. Soekarno, Muhammad Hatta, Syahrir, Natsir, dan lainnya adalah sosok-sosok yang gila bahan bacaan ketika menjadi mahasiswa. Aktivis mahasiswa perlu meneruskan tradisi itu. Dari membaca, lahirlah pemikiran-pemikiran progresif dalam memajukan negara. Dengan membaca, mahasiswa bergerak tidak hanya bersenjatakan semangat saja, tapi gerakan yang berbasis intelektualitas. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO, pegiat Transform Institute Yogyakarta

Pendidikan dalam Pemikiran Kartini

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Sabtu 23 April 2011

Mengingat sosok Kartini, kita mengingat sosok perempuan dengan pelbagai suka duka kehidupan. Sebagai keturunan priyayi, Kartini melihat dunia dan lingkungannya dengan sikap kritis. Sisi psikologis dan sosiologis Kartini turut memberikan pengaruh terhadap sikap dan pemikirannya. Membaca Kartini adalah membaca perempuan yang juga sosok manusia biasa. Tradisi pingit yang diterimanya usai menamatkan sekolah rendah ikut membentuk jiwanya. Perkembangan intelektualitas Kartini dipengaruhi oleh kegemaran membaca. Sahabat-sahabat penanya yang didominasi orang-orang Belanda tak dimungkiri memiliki tempat dalam dialektika pemikiran Kartini.

Membaca pemikiran perempuan kelahiran Jepara itu ternyata tak sekadar berkutat pada persoalan perempuan, tapi juga pendidikan bagi bangsanya. Di mata Kartini, pendidikan adalah hal penting. Pendidikan akan kuasa mengangkat derajat dan martabat bangsa. Yang menarik, Kartini konsisten mengemukakan pentingnya pendidikan yang mengasah budi pekerti. Perhatikan kata-kata Kartini yang menjadi doa dan jeritannya kepada Nyonya R.M Abendanon-Mandri tertanggal 3 Januari 1902, “Didiklah orang Jawa!”. Kartini pun mengatakan bahwa terhadap pendidikan itu janganlah hanya akal saja yang dipertajam, tetapi budi pun harus dipertinggi.

Mengenai pentingnya ketinggian budi pekerti ini, Kartini berulang kali menegaskan dalam surat-suratnya. Dalam tulisannya berjudul Berilah Orang Jawa Pendidikan! pada 3 Januari 1903, Kartini juga menegaskan pendidikan yang tak hanya mengutamakan kecerdasan otak, melainkan yang sungguh-sungguh memperhatikan akhlak pula. Intinya, pendidikan bagi Kartini tidak boleh mengabaikan penanaman budi pekerti. Dalam melakukan pendidikan, sekolah diperlukan. Namun, sekolah bukan segala-galanya. Pendidikan di sekolah harus dibarengi dengan pendidikan dalam keluarga. Kata Kartini, “Sekolah-sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat, tetapi juga keluarga di rumah harus turut bekerja. Lebih-lebih dari rumahlah kekuatan mendidik itu harus berasal.” (Kartini dalam Berilah Orang Jawa Pendidikan tertanggal Januari 1903).

Untuk para guru di sekolah, Kartini mengharapkan guru tak mengajar semata, tapi juga harus menjadi pendidik. Dalam notanya berjudul Berilah Orang Jawa Pendidikan!, Kartini dengan tegas berkata, “...guru-guru memiliki tugas rangkap: menjadi guru dan pendidik! Mereka harus melaksanakan pendidikan rangkap itu, yaitu: pendidikan pikiran dan budi pekerti.”

Perhatian Kartini soal pendidikan di sekolah berjalan beriringan dengan perhatiannya terhadap pendidikan dalam keluarga. Pada titik ini, Kartini berkehendak agar kaum perempuan memiliki kemampuan prima dalam mendidik anak-anaknya. Bagi Kartini, mendidik perempuan merupakan kunci peradaban. Perempuan yang menjadi ibu memiliki peran besar dalam pendidikan anak-anak. Menurut Kartini, pemerintah berkewajiban meningkatkan kesadaran budi perempuan, mendidik perempuan, memberi pelajaran perempuan, dan menjadikan perempuan sebagai ibu dan pendidik yang cakap dan cerdas.

Membaca pemikiran Kartini terkait pendidikan, kita juga membaca pemikiran yang tak sekadar normatif. Dalam pengajaran di sekolah, Kartini menginginkan agar murid-murid diberi kebebasan berpikir dan mengutarakan pendapat. Kartini begitu peduli pada pentingnya bahan bacaan di sekolah. Perhatikan ucapan Kartini berikut, “Hendaknya cinta pustaka pada murid-murid ditingkatkan sebanyak-banyaknya. Dan agar ada hasilnya, seyogianya diberikan bimbingan membaca oleh guru-guru yang suka pula akan bacaan. Yang dibaca selalu dibicarakan. Murid-murid sedapatnya didorong maju untuk bertukar pikiran secara bebas dan saling mengasah pikiran di antara mereka sendiri. Misalnya diadakan “malam-malam bercakap-cakap” di bawah pimpinan guru-guru. Di situ dibicarakan perkara dan peristiwa yang penting-penting. murid-murid memikirkan hal itu dan menguraikan pikirannya pada pertemuan berikutnya. Jangan tertawakan mereka bila mereka mengumumkan teori-teori asing, tetapi tolonglah mereka mencari penyelesaian secara bijaksana, lemah lembut, dan kasih sayang.”

Di mata Kartini, bahan bacaan memiliki arti penting untuk mendidik anak-anak. Bahan bacaan adalah alat pendidikan yang diharapkan banyak mendatangkan kebajikan. Bahan bacaan yang disediakan di sekolah tak hanya buku pelajaran, tapi juga bahan bacaan lainnya yang dapat mengasah akal dan hati. Bacaan-bacaan itu seyogianya ditulis dalam bahasa populer, mudah dipahami, dan berisi. Anak-anak hendaknya diberi bacaan yang mengasyikkan, bukan karangan-karangan kering yang semata-mata ilmiah. Ditegaskan Kartini, bahan bacaan harus ada dasar mendidik. Memang bahan bacaan bagi Kartini memiliki arti penting yang akan turut mendidik dengan sebaik-baiknya.

Membaca pemikiran Kartini, kita memang senantiasa mendapatkan pemikiran terkait perlunya pendidikan bagi perempuan. Kartini memiliki dasar kuat mengenai pendidikan bagi perempuan karena perempuan merupakan pendidik pertama anak-anak. Di tangan perempuan, anak-anak akan tumbuh dan berkembang. Mendidik secara baik anak-anak berarti juga membangun masyarakat-bangsa. Kemajuan perempuan merupakan faktor penting peradaban bangsa.

Tak sekadar pendidikan perempuan, Kartini juga berbicara tentang pendidikan pada umumnya. Tanpa mengurangi sikap kritis terhadap Kartini, pemikiran pendidikan Kartini sebagaimana diutarakan di atas relevan untuk tetap diperhatikan. Pendidikan memang selalu penting bagi kemajuan bangsa. Sebagaimana dikatakan Kartini, semoga pendidikan dapat membangun kesadaran anak-anak bangsa. Melalui pendidikan, anak-anak memenuhi panggilan budi dalam masyarakat terhadap bangsa yang akan mereka kemudikan. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute Yogyakarta

Jurnalisme Warga di Internet

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Suara Merdeka, Selasa 19 April 2011

PERKEMBANGAN dan kemajuan teknologi berjalan seiring kepiawaan pikir dan imajinasi manusia. Manusia memang memiliki daya cipta. Banyak hal yang telah diciptakan, salah satunya adalah internet. Manusia pun merayakan internet dengan beragam rupa. Ada sisi positif, ada sisi negatif dari perayaan itu. Dengan adanya internet, informasi bisa tersebar luas. Begitu juga segala ilmu, wawasan, dan pengetahuan bisa didapatkan dari mengakses internet.


Terkait penyebaran informasi, internet bisa menjangkau khalayak lebih luas dibandingkan koran cetak. Informasi dari koran cetak hanya dalam jangkauan sekian eksemplar cetakan. Itupun belum tentu seluruhnya terjual. Berbeda dengan internet, siapa pun dan dari daerah mana pun bisa mengaksesnya. Dengan daya fungsi ini, koran cetak pun juga memanfaatkan internet untuk menyebarluaskan berita. Dengan adanya website, koran cetak bisa dibaca sampai ke luar negeri. Namun, harus pula diakui jika tak semua warga mengakses internet, apalagi setiap hari.


Dalam hal ini, ada suatu fenomena menarik terkait keberadaan koran di internet. Beberapa koran ada yang mempunyai halaman untuk siapa pun bebas menulis. Citizen journalism namanya. Jurnalisme warga. Warga yang dimaksud adalah seluruh masyarakat di mana pun berada. Kita bisa memanfaatkan citizen journalism ini untuk menuangkan karya-karya tulis kita, entah berita, artikel, atau bentuk tulisan lainnya. Dalam pengertian klasik, jurnalisme adalah proses aktivitas meliput, membuat, menyebarluaskan berita (news) dan pendapat (opinion) kepada khalayak melalui wahana media komunikasi massa. Jadi, siapa pun kita bisa menjadi jurnalis lepas atau penulis lepas. Citizen journalism ini tak hanya milik penerbitan koran. Ada juga koran online yang memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk menulis.


Dari amatan, citizen journalism ada yang di bawah kendali suatu redaksi tersendiri. Meskipun setiap kita bebas menulis, tapi belum tentu dimuat. Ada kriteria layak muat yang juga diterapkan. Suara Merdeka lewat koran online-nya menerapkan hal ini. Namun, kebanyakan citizen journalism tak seketat menulis di koran cetak. Ketika kita menulis dan mempublikasikannya, tulisan kita langsung termuat tanpa proses seleksi. Beberapa kalangan ada yang mengkritik keberadaan citizen journalism. Pasalnya, kaidah jurnalistik kerap dialpakan. Jika direnungkan, setiap warga sebenarnya tak perlu dituntut memahami teori jurnalistik. Tulisan itu baik atau tidak, hati nurani wargalah yang menilai. Dengan kesadaran warga, tulisan bernada fitnah dan tidak positif lainnya tentu tak akan ditulis dan dipublikasikan. Teori jurnalistik memang diperlukan, namun teori bukanlah hal yang statis. Bisa saja warga menulis berita di citizen journalism dengan gaya penulisan khasnya yang kerap justru lebih menarik dan menyentuh. Di sisi lain, citizen journalism juga lahan bagi siapa pun belajar menulis.


Tukang becak, pedagang di pasar, tukang parkir, satpam, dan pelbagai profesi lainnya bisa bebas menulis di citizen journalism. Jika mengirim tulisan ke koran cetak belum tentu dimuat, di citizen journalism kemungkinan besar pasti dimuat. Ada sisi positif pada titik ini. Setiap warga bisa bercerita pengalamannya, menumpahkan uneg-uneg, mengungkapkan keluh kesah. Warga pun bisa berbagi ilmu, wawasan, dan pengetahuan lewat citizen journalism. Keberadaan citizen journalism dengan sendirinya juga menumbuhkan budaya menulis. Menulis di citizen journalism tak terikat jumlah halaman. Sebanyak setengah halaman tulisan pun bisa dipublikasikan. Disadari atau tidak, banyak hal di sekitar kita yang kerap terabaikan karena tak ada media untuk mempublikasikan. Maka, dengan hadirnya citizen journalism, hal-hal sekecil apapun bisa tersiarkan. Bagi lembaga atau organisasi, citizen journalism juga perlu dimanfaatkan. Kegiatan-kegiatan organisasi/lembaga tentu tak seluruhnya termuat di koran cetak. Berita kegiatan organisasi bisa dipublikasikan di citizen journalism. Begitu juga kegiatan di kampung-kampung. Warga bisa menulis berita kegiatan di kampung atau membuat tulisan terkait kehidupan sosial masyarakat kampung.


Menulis di citizen journalism memang bertujuan agar berita ataupun tulisan kita dibaca dan diketahui khalayak luas. Namun, lebih dari itu, kita ingin berbagi dengan menulis di citizen journalism. Kita ingin berbagi ilmu, wawasan, pengalaman, dan pengetahuan kepada sekitar kita. Setiap tulisan kita pasti akan berguna. Jika tak hari ini, kelak akan memiliki kegunaan. Pengalaman-pengalaman yang kita tuliskan bisa saja menginspirasi dan memotivasi orang lain. Tulisan-tulisan warga terkait kondisi kampung yang terpublikasikan di citizen journalism bisa juga untuk kepentingan riset, misalnya sejarah kota/desa dan kehidupan sosialnya. Banyak manfaat nantinya.

Dengan hadirnya citizen journalism sedikit banyak menumbuhkan budaya menulis warga. Dan, budaya menulis ini perlu terus ditumbuhkan pada setiap warga untuk berani menulis, entah tentang dirinya, lingkungannya, daerahnya, atau apapun yang ingin ditulis. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO

Pegiat Pena Profetik, tinggal di Yogyakarta

Jurnalisme Warga di Internet

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Suara Merdeka, Selasa 19 April

Leutika dalam Pesona Berkarya

Oleh: HENDRA SUGIANTORO

Rata PenuhLeutika. Sebuah nama lembaga penerbitan yang masih anyar berdiri. Ketika muncul kali pertama, aku tak begitu tahu persis waktunya. Namun, Leutika telah menghadirkan fenomena. Perlahan, dalam perkembangannya, Leutika bukanlah lembaga penerbitan biasa-biasa saja. Ada idealisme dalam Leutika, ada misi dari Leutika, yang ingin memberikan kontribusi terkait budaya dan tradisi literasi di Yogyakarta dan Indonesia. Leutika telah terlahir dalam sejarah dan menjelma pesona untuk tiada henti berkarya.

Tak sekadar lembaga penerbitan, Leutika telah menjadi ruang berpikir, berjuang, dan berkarya. Bayangkan saja berapa kali Leutika mengadakan lomba penulisan dan seberapa banyak masyarakat yang mengikuti lomba tersebut. Mereka pun berpikir, berjuang, dan berkarya menghasilkan tulisan yang berkualitas agar dapat menyertakan karya dan namanya dalam sebuah buku terbitan Leutika. Meskipun aku amat sangat jarang sekali mengikuti, tapi aku benar-benar mengetahui ada ajang seperti itu. Ingat, amat sangat jarang sekali. Ya, aku hanya pernah mengikuti sekali saja, saat lomba penulisan dengan tema Curhat Jalan Raya. Aku ketika itu mencoba belajar menulis. Tahukah? Aku ternyata memang tak layak masuk 30 besar!

Lomba penulisan untuk dijadikan buku antologi memang selalu diadakan Leutika. Hal ini merupakan salah satu yang berbeda dari Leutika dibandingkan penerbit-penerbit lainnya. Tak hanya itu, Leutika telah melakukan gebrakan yang 'banyak banget'. Leutika juga menginisiasi Leutikans untuk membentuk komunitas pembaca dan diskusi buku-buku Leutika. Ada juga pembuatan kartu anggota Leutika dengan pelbagai persyaratan dan kemudahan yang akan didapatkan. Yang menarik, Leutika mengadakan sebuah penerbitan sendiri (self publishing) bagi siapa pun yang ingin menerbitkan buku. Leutika Prio, itulah nama dari lini self publishing lembaga penerbitan Leutika. Selain itu, masih banyak hal lainnya yang telah dilakukan Leutika. Bolehlah aku berkata: Dahsyat Leutika!

Dengan kehadiran Leutika, aku seharusnya bisa berkarya lebih hebat dan lebih banyak. Namun, aku sekadar tahu saja apa yang telah dilakukan Leutika. Aku pun bukanlah penulis yang tekun dan produktif menulis. Dengan pelbagai lomba yang diadakan Leutika, aku seharusnya bisa ikut menuangkan karya, tapi aku merasa kesulitan menulis. Aku pun masih harus banyak belajar menghasilkan tulisan secara baik dan bukan biasa-biasa saja. Mohon maaf kepada Leutika jika aku tak terlalu mengikuti event yang diselenggarakan selama ini. Aku sekadar tahu saja.

Selain lewat face book, aku kerap membuka website Leutika. Tapi, informasi dari Leutika lebih up to date di face book. Leutika juga mampir dalam pikiranku lewat mobil. Aku kerap melihat mobil Leutika di jalan-jalan kota Yogyakarta. Ketika aku mengendarai sepeda motor, aku lihat mobil milik Leutika melaju. Entah mau kemana, aku tak mengenal siapa yang di dalam mobil. Aku pun pernah mampir ke kantor Leutika di Jalan Sulawesi No. 7 C, Ring Road Utara, Yogyakarta. Awalnya begitu rumit mencari kantor Leutika. Aku sempat bolak-balik kesana kemari. Yah, dengan perjuangan, kantor Leutika berhasil aku temukan. Mau tahu apa yang aku lakukan di kantor Leutika?

Jujur, aku ke kantor Leutika hanya ingin mendapatkan buku. Siapa tahu juga dapat insentif dalam bentuk uang. Seberapa pun jumlah uang, lumayanlah untuk beli buku baru. Yang aku tahu selama ini, siapa yang meresensi buku di media massa memang akan mendapatkan buku dan/insentif dari pihak penerbit. Nah, aku mencoba datang ke kantor Leutika. Ternyata aku mendapatkan dua buku dan amplop. Apa isi amplop? Tahulah.

Pada dasarnya, aku masih belajar meresensi buku yang baik. Alhamdulillah, beberapa kali buku terbitan Leutika yang aku resensi menembus media massa. Sebut saja buku karya Sudaryanto berjudul Menguangkan Ide: Kaya dengan Menulis Artikel pernah nangkring di rubrik Bedah Buku SKH Kedaulatan Rakyat. Buku Resign And Get Rich: Berhenti Kerja, Jadi Pengusaha karya Edo Segara pernah menembus Harian Jogja dan Koran Jakarta. Ketika aku membuat resensi, aku kadang membuat resensi buku tak hanya satu versi. Versi pertama buku karya Edo Segara itu menembus rubrik Resensi Buku Harian Jogja dengan judul Tak Jadi Pegawai, Bisnis Sendiri!. Adapun di Koran Jakarta menembus rubrik Perada dengan judul Ketika (Di)keluar(kan) dari Kantor. Di Koran Jakarta, buku Jaman Penjor karya GusHar Wegig Pramudito pernah termuat dengan judul Pernak-pernik Pelajaran Hidup.

Meskipun hanya meresensi buku, aku merasa telah ikut berkarya bersama Leutika. Kalau boleh bercerita, buku-buku terbitan Leutika yang telah aku resensi tak seluruhnya bisa menembus media massa. Yah, aku masih belajar menulis resensi yang baik dan bekualitas. Ke depan, moga aku bisa berkarya lebih baik dan banyak lagi bersama Leutika Bukan Penerbit Buku Biasa! Wallahu a’lam.

http://leutikaprio.com/

Mengenal Tokoh Intelijen Dunia

Oleh: HENDRA SUGIANTORO Dimuat di Pustaka SKH KEDAULATAN RAKYAT, Minggu 20 Maret 2011

Judul Buku: 100 Tokoh Intelijen Dunia Penulis: Hanu Lingga Penerbit: Navila Idea, Yogyakarta Cetakan: I, 2011 Tebal: viii+314 halaman

Di setiap negara, keberadaan intelijen memang dianggap penting demi kepentingan negaranya. Pengalaman yang mumpuni dengan jenjang karir panjang kerapkali mentakdirkan seseorang sebagai agen sebuah badan intelijen.

Vladimir Putin yang pernah menjadi pemimpin Rusia pun sebelumnya terlibat dalam dunia penuh rahasia ini. Setelah lulus dari kuliahnya di bidang hukum di universitas negeri di St Petersburg sekitar tahun 1975, Putin bekerja di KGB (Badan Intelijen Uni Soviet) sebagai mata-mata dan ditugaskan di Jerman. Ia mundur dari KGB sekitar tahun 1990. Putin naik sebagai pejabat kepresidenan setelah Boris Yeltsin mengundurkan diri pada akhir tahun 1999. Putin turun tahta dari posisi presiden pada tahun 2008.


Pastinya, ada tokoh intelijen yang memang dipublikasikan keluar, sehingga diketahui khalayak luas. Di sisi lain, tak dimungkiri jika ada yang disembunyikan namanya. Selain yang terlibat di KGB, ada juga yang bernaung di CIA (Amerika Serikat), Mossad (Israel), Asio (Australia), M16 (Britania Raya), dan sebagainya. Adapun lembaga intelijen negara di Indonesia bernama Badan Intelijen Nasional (BIN).

Dirunut dari keberadaan BIN, sosok Soebandrio (1914-2004) tak bisa dilepaskan. Ia adalah orang pertama yang memimpin Badan Pusat Intelijen, cikal bakal BIN. Selain di badan intelijen, Soebandrio juga memegang jabatan-jabatan lainnya semasa Orde Lama. Dari begitu banyaknya tokoh intelijen, kita tentu mengingat sosok bernama Ali Moertopo. Sosok ini penuh kontroversi mengingat keterlibatannya dalam operasi-operasi untuk memberantas lawan-lawan politik pemerintahan Soeharto.
Selain yang tersebut di atas, ada begitu banyak tokoh intelijen lain dipaparkan buku ini.

Secara umum, intelijen bergerak secara aktif dalam pengumpulan informasi terutama yang terkait dengan masalah negara. Begitu juga intelijen berupaya mengatasi ancaman terhadap negara. Dari pengalaman selama ini, kepentingan negara kerapkali disesuaikan dengan kebijakan pemegang kekuasaan, terlepas baik atau buruk. Intelijen bisa juga digunakan untuk membasmi kriminalitas dan kejahatan di masyarakat. Melalui buku ini, kita bisa sejenak mencermati tokoh intelijen dengan sekelumit aksinya, baik dari Indonesia maupun negeri manca.

HENDRA SUGIANTORO

Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

Wajah (Buram) Buku di Sekolah

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Harjo Forum HARIAN JOGJA, Sabtu 19 Maret 2011

Seorang guru di Salatiga, Jawa Tengah, memaparkan tentang buku-buku yang terdapat di sekolahnya. Beliau mengutarakan, “Di buku paket dari tahun ke tahun materinya sama, terlebih buku paket dari pemerintah, biasanya hanya diganti cover.”

Beliau menambahkan, “Untuk isi juga tak mengalami perubahan sesuai keadaan sekarang. Kalau buku pelajaran dari penerbit yang dijual di luar, harganya mahal. Jadi, kadang menjadikan dilema orang tua.” Apa yang beliau keluhkan ini disampaikan penulis pada Kamis (10/3).

“Kalau buku bacaan cerita umum di perpustakaan sekolah lebih banyak dipenuhi cerita rakyat zaman dahulu, sehingga anak tak tertarik. Coba kalau banyak buku cerita berisi fenomena sosial kemasyarakatan yang terjadi kini, mungkin akan meningkatkan minat baca anak. Mau mencoba membuatnya?” tutur beliau.

Apa yang diutarakan seorang guru di Salatiga, Jawa Tengah, di atas menarik direnungkan. Nama seorang guru tersebut sengaja penulis rahasiakan, karena yang penting adalah subtansi dari yang beliau sampaikan. Fenomena yang diutarakan di atas tampaknya dijumpai di setiap sekolah mana pun. Setiap tahun buku pelajaran tak mengalami “perubahan”, sehingga siswa di sekolah asing dengan fakta sosial dan bangsa yang lagi berkembang. Boleh jadi yang dipaparkan dalam buku pelajaran adalah fakta-fakta usang yang cenderung tak relevan dengan kondisi kekinian.

Solusi mengatasi hal tersebut memang bisa dilakukan oleh guru. Misalnya guru Bahasa Indonesia memberikan pelajaran dengan menggunakan surat kabar untuk ditelaah bersama siswanya. Bisa juga siswanya dianjurkan membaca novel-novel kontemporer yang dinilai edukatif, sehingga memiliki referensi tak hanya novel-novel terbitan lama. Ada banyak cara lainnya yang bisa dilakukan guru.

Namun demikian, guru sepertinya juga menghadapi dilema. Pasalnya, apa yang disajikan dalam buku paket pelajaran akan menjadi bahan soal dalam ujian (nasional). Guru dimungkinkan tak mau ambil risiko. Pikiran guru tentu pada materi pelajaran yang harus diselesaikan tepat waktu.

Dalam hal ini, kita tentu menginginkan agar siswa-siswa Indonesia memiliki ilmu, wawasan, dan pengetahuan yang luas. Apakah kita bisa menjamin buku paket pelajaran IPA, misalnya, mengikuti perkembangan penemuan-penemuan kontemporer terkait fenomena alam? Entahlah, Anda memiliki solusi? Wallahu a’lam.

Guru untuk Anak

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan HARIAN JOGJA, Jum'at 18 Maret 2011

Dalam upaya mendidik anak, orang tua di lingkungan keluarga jelas merupakan pendidik pertama, bahkan pendidik utama. Namun demikian, orang tua juga tetap perlu memiliki pendidik-pendidik lain untuk anaknya. Orang tua dan pendidik-pendidik lainnya itu adalah mitra bersama demi memaksimalkan pendidikan bagi anak. Pendidik-pendidik lain itu di antaranya adalah guru di sekolah.

Dengan adanya guru di sekolah selain orang tua di lingkungan keluarga, anak harapannya memang bisa memperoleh pendidikan yang baik. Namun demikian, orang tua tak bisa begitu saja memasrahkan pendidikan anaknya kepada guru yang belum tentu memiliki jaminan kualitas. Untuk menilai kualitas guru memang tidak mudah. Mungkin orang tua bisa menilai kualitas guru dari latar belakang pendidikan ataupun tempatnya mengajar. Namun, hal tersebut ternyata tak juga mudah. Belum tentu seluruh guru yang mengajar di sekolah menjalankan pengabdian secara profesional dan baik. Ada juga guru yang asal-asalan menjadi guru. Lalu, bagaimana orang tua harus mencari guru bagi anaknya?

Diutarakan Ibnu Sina (908-1037 M) bahwa sebaiknya seorang anak itu dididik oleh seorang guru yang memiliki kecerdasan dan agama, piawai dalam membina akhlak, cakap dalam mengatur anak, jauh dari sifat ringan tangan dan dengki, dan tidak kasar di hadapan muridnya. Apa yang dikatakan Ibnu Sina itu tampaknya tepat. Pasalnya, orang tua tentu tak hanya mengharapkan anaknya memiliki kecerdasan akademik, tapi juga mampu berperilaku mulia. Orang tua juga tak ingin anaknya mendapatkan guru yang berlaku kasar menggunakan kekerasan. Maka, orang tua perlu memasukkan anaknya ke sekolah yang baik, sehingga nasib pendidikan anak dimungkinkan juga baik. Ukuran baik bukan berarti harus mahal.

Selain itu, orang tua juga perlu melakukan kontrol. Cara kontrol bisa dilakukan dengan menjalin komunikasi dengan anak tentang guru-gurunya di sekolah. Lewat kontrol ini, orang tua bisa mengadukannya ke kepala sekolah. Pada titik ini, kepala sekolah harus bijak menerima masukan dengan tetap mengedepankan chek and rechek, karena informasi dari orang tua boleh jadi tak terlalu tepat. Ada tugas kepala sekolah yang perlu diperhatikan, yakni mengontrol dan memastikan guru-guru di sekolah menjadi guru yang baik.

Disadari atau tidak, guru yang kurang baik bisa mempengaruhi perkembangan jiwa anak tanpa pernah disadari. Hal ini juga menjadi tantangan dan motivasi guru untuk lebih baik lagi dalam mendidik anak-anak di sekolah. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Pena Profetik Yogyakarta

Menjadi Manusia Profetik

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa KORAN MERAPI, Kamis 17 Maret 2011

Proses menjadi manusia telah bermula dari kehidupan di alam rahim. Manusia terus berproses tanpa jeda sebelum titik akhir kematian. Dalam proses ini, jalan manusia tidaklah mulus. Manusia telah mendapat titah beribadah, namun dunia menghadirkan godaan. Sepenuh perjalanan manusia melangkah, ujian adalah keniscayaan. Manusia hidup di dunia bukan tanpa tantangan. Manusia mesti menghadapi ujian sebagai pembuktian. Manusia memang bukan malaikat, bahkan bukan jin ataupun setan. Manusia adalah makhluk dengan jenis dan rupa tersendiri yang dihadirkan menjadi khalifah fil ardh.

Persoalan menjadi manusia ini ternyata memang tak mudah. Dalam melewati kehidupan di alam dunia, manusia berhadapan dengan pilihan-pilihan. Manusia bisa mencapai taraf tertinggi, manusia bisa berada di titik terendah. Hal ini merupakan pilihan bebas manusia ingin menjadi apa dan seperti apa. Kehidupan dunia dengan keniscayaan ujian menghadirkan jalan kebaikan dan keburukan. Manusia bebas menentukan pilihan, namun juga mengerti takkan bebas tanpa pertanggungjawaban.

Wajah kebaikan dan keburukan memang mewarnai dunia semenjak pada mulanya manusia diciptakan. Pertarungan antara yang benar dan yang salah terus bertalu. Sejak zaman Adam, kebaikan dan keburukan ada. Tuhan dengan kemahaan-Nya tak pernah tinggal diam ketika manusia lupa pada hakikat penciptaan. Diutusnya “manusia-manusia pilihan” menjadi kehendak Tuhan untuk mengingatkan dan menjelaskan kebenaran.

Manusia-manusia pilihan Tuhan (baca: para Nabi) diutus menjadi pelita yang menerangi kegelapan. Dalam teks sejarah dan agama telah berlalu banyak Nabi dengan kerja-kerjanya membangun kehidupan. Musa yang bekerja dengan arahan Tuhan, Nuh yang beratus-ratus tahun melakukan kerja kenabian. Ibrahim yang bekerja sebagai Nabi, begitu pula dengan Isa. Selain mereka, ada begitu banyak Nabi yang terungkap dalam teks atau tak pernah tersebutkan. Pegangan hidup berupa kitab suci pun diturunkan, seperti Daud dengan Zabur, Musa dengan Taurat, Isa dengan Injil, Muhammad dengan Al-Qur’an.

Setiap Nabi yang diberi wahyu oleh Tuhan bertugas menjalankan kerja kenabian (profetik). Misi utama dari kerja profetik itu adalah mengajak dan mengarahkan manusia untuk satu penyembahan kepada Tuhan semata. Jika kini ada kecenderungan manusia menghamba pada materi, itu sebenarnya telah berlangsung berabad-abad. Bentuk-bentuk penghambaan materi ini memiliki ragam sesuai wajah, kondisi, dan perkembangan zaman. Para raja dan penguasa pun bisa menjadi “berhala”. Intinya, manusia meninggalkan Tuhan, mengabaikan dan alpa terhadap titah untuk hanya menyembah kepada Sang Pencipta. Sejak zaman dahulu, manusia juga kerapkali menghamba pada uang dan tahta. Dengan kerja profetik, manusia diarahkan untuk mentauhidkan Tuhan.

Kerja profetik yang memiliki misi utama agar manusia beriman kepada Tuhan tentu membangun keimanan penuh makna. Artinya, keimanan dapat mengarahkan manusia untuk bergerak membangun kehidupan. Percaya kepada Tuhan tidak berhenti pada pengakuan hati dan lisan semata. Keimanan harus menjadi landasan dan arah dari kerja profetik selanjutnya. Adanya keimanan berarti mengakui tak ada kebesaran selain kebesaran Tuhan. Manusia diciptakan tanpa perbedaan dan setara dalam pandangan Sang Pencipta. Tugas manusia untuk beribadah dan memakmurkan kehidupan. Atas kesadaran itu, humanisasi dan liberasi dijalankan. Dengan mengacu pada surat Ali ‘Imran ayat 110, Kuntowijoyo merumuskan amar ma’ruf sebagai humanisasi, nahi munkar sebagai liberasi, dan tu’minuna billah sebagai transendensi. Transendensi, humanisasi, dan liberasi sebagai kerja-kerja profetik saling bertalian dan saling menopang untuk melakukan transformasi kehidupan.

Meskipun kini Tuhan tak lagi menghadirkan Nabi, bukan berarti kerja profetik usai. Risalah kenabian tidaklah tamat setelah “manusia-manusia pilihan” wafat, namun terus menjadi pedoman hingga kiamat. Manusia-manusia yang hidup di zaman kini adalah penerus dan pelanjut dari cita-cita dan risalah kenabian. Kehidupan terus berjalan, manusia-manusia perlu juga menjalankan kerja profetik. Ketika mampu menjadi manusia profetik, maka proses menjadi manusia telah mencapai taraf tertinggi. Hal ini bukan berarti manusia zaman kini menjadi Nabi. Manusia zaman kini jelas bukan Nabi dan takkan mungkin menjadi Nabi. Namun, manusia profetik menyadari adanya kerja-kerja profetik untuk membangun kehidupan. Persoalan kini, adakah manusia-manusia profetik?

Pertanyaan di atas tentu menjadi refleksi. Menjadi manusia profetik meniscayakan peneladanan terhadap sifat dan karakter Nabi sebagai sosok teladan. Begitu pula diperlukan penghayatan dan pemaknaan dari kerja-kerja profetik. Di tengah kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang masih berada dalam “terowongan gelap”, negeri ini merindukan hadirnya manusia-manusia profetik yang menjalankan proses humanisasi yang bersifat transendental. Manusia profetik yang membangun kehidupan dengan misi pembebasan, mengangkat derajat manusia agar memiliki daya yang tak ada perbedaan kecuali pada kadar ketakwaan. Manusia profetik dituntut untuk mampu mempersembahkan kontribusi positif bagi kehidupan.

Di tengah negeri ini yang masih berkubang kemiskinan, ketidakberdayaan, dan keterbelakangan, kehadiran manusia profetik dirindukan. Di negeri ini, penyembahan terhadap uang dan kekuasaan menggejala, politik tak dijalankan untuk kemaslahatan, hukum tak ditegakkan untuk keadilan, kehidupan masyarakat terpuruk, kesenjangan sosial menganga, maka siapakah manusia profetik? Aku, kamu, dan kita perlu mulai belajar menjadi manusia profetik. Kita memperbaiki diri dan mengajak siapa pun untuk memaknai ibadah kepada Tuhan dan memakmurkan kehidupan secara lebih sejati. Sesungguhnya kitalah sang pengubah zaman. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute Yogyakarta