Guru, Marilah Menulis

Oleh: HENDRA SUGIANTORO Dimuat di Pustaka SKHK KEDAULATAN RAKYAT, Minggu, 19 Juni 2011

Judul Buku: Melejitkan Karir Guru Dengan Menulis Penulis : Sudaryanto Penerbit: LeutikaPrio, Yogyakarta Cetakan: I, April 2011 Tebal : x+119 halaman

Guru, marilah menulis. Itulah esensi yang disampaikan buku ini. Siapa pun guru sebenarnya memiliki potensi menulis, namun hanya belum teraktualisasikan. Maka, lewat buku ini, Sudaryanto sebagai penulis buku mencoba membangun motivasi sekaligus ingin menggiatkan budaya menulis di kalangan guru.

Untuk menulis, guru membutuhkan “3B”, yakni berani, biasa, dan bisa. Seorang guru harus berani menulis apa yang menjadi ide atau gagasannya. Ia juga harus biasa membaca buku, menulis buku harian, dan peka terhadap kondisi atas dirinya dan sekitarnya. Kelak semuanya itu akan mengantarkan seorang guru bisa menulis karya-karya yang bermanfaat bagi dirinya serta orang lain (hlm. 9). Sudaryanto, guru di salah satu lembaga pendidikan menengah di kota Yogyakarta, ini juga menceritakan pengalamannya melakukan aktivitas menulis.

Pada dasarnya, pemerintah telah mendorong para guru mau dan mampu menulis. Lihat saja pada salah satu poin dalam Kode Etik Guru dan juga Peraturan Menteri PAN No. 16/2009 tentang Jabatan Fungsional Guru serta Bagian Reformasi. Menulis tak bisa dielakkan sebagai tuntutan profesi guru. Namun, dari data yang ada, para guru yang aktif menulis tidaklah banyak. Guru yang bergolongan IV/a jumlahnya lebih banyak daripada guru bergolongan IV/b, IV/c atau IV/d. Mengapa? Sebab, kenaikan golongan guru, dari IV/a ke IV/b mensyaratkan karya tulis ilmiah berupa artikel ilmiah populer, makalah, buku, diktat, modul maupun karya penelitian. Para guru tentu harus terampil menulis demi pengembangan potensi dirinya selaku pengajar (hlm. 15).

Tanpa mengejar kenaikan golongan pun, guru memang perlu menulis. Lewat menulis, guru menyampaikan aspirasi dan berbagi ilmu, wawasan, pengalaman maupun lainnya. Ada banyak yang bisa dituliskan guru. Buku ini menjelaskan seluk-beluk menulis artikel ilmiah populer, menulis artikel ilmiah jurnal, menulis makalah seminar, menulis buku pengayaan siswa, dan perihal penulisan karya tulis ilmiah guru versi Tim Penilai Penetapan Angka Kredit (PAK) Kemendiknas RI. Di tengah kelebihan dan kekurangan buku ini, guru bisa mengambil pelajaran dan motivasi.

HENDRA SUGIANTORO, Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

Percikan Pelajaran Laku Hidup

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Perada KORAN JAKARTA, Sabtu 12 Juni 2011

Judul Buku: Mengalir Bukan Air: Percikan Spirit Hidup Penulis: Imaroh Syahida, Ika Feni Setiyaningrum, Vico Luthfi Ipmawan, Lia Nurul Husnah, Galih Annisa Hakiki, dan Meita Wulan Sari Penerbit: LeutikaPrio, Yogyakarta Tahun: I, Juni 2011 Tebal: x+103 hlm Harga: Rp. 31.300,00

Buku ini mengetengahkan pelajaran-pelajaran yang bisa menjadi perenungan kita bersama. Banyak hal yang bisa kita maknai dalam diri, alam, dan kehidupan kita. Melalui buku ini, kita dapat mengambil hikmah untuk menjalani kehidupan di muka bumi dengan spirit kebaikan.

Kalau kita perhatikan, segala sesuatu di alam semesta ini melakukan pergerakan. Galaksi, matahari, bulan, planet, air, udara, dan atom bergerak. Begitu juga dengan gen, darah, udara, dan lainnya. Jika segala sesuatu itu tidak bergerak, yang terjadi adalah kekacauan dan ketidakseimbangan. Maka, manusia pun jangan pernah berhenti bergerak melakukan perbaikan dan kebaikan. Memang adakalanya kita membutuhkan istrirahat, namun istirahat kita tetap penuh daya, karya, ide, dan terobosan-terobosan baru. Diutarakan penulis buku, dalam berhenti tersimpan beragam kemalasan, keengganan, dan kelembaman yang membuat kita terpaku. Kita tak bisa melakukan hal-hal yang produktif dan bermanfaat. Berhenti bergerak, kita miskin kontribusi bagi perkembangan diri, kesejahteraan masyarakat, dan kejayaan bangsa.

Dari sel darah putih dalam tubuh, kita juga bisa memetik pelajaran. Sel darah putih memiliki peran merespons benda asing seperti mikroba, bakteri, dan terlalu banyaknya protein dalam tubuh. Apa yang dilakukan? Sel darah putih sekuat tenaga melawannya. Seusai melakukan perlawanan, sel darah putih menemui kematian. Ternyata ada yang perlu kita refleksikan dari perjuangan sel darah putih ini untuk juga memiliki semangat perjuangan dan pengorbanan melawan keburukan dan kemungkaran. Dalam buku ini, kita juga bisa memetik pelajaran dari organel sel bernama lisosom. Di balik ganasnya lisosom, ada juga manfaat positifnya. Sebagaimana kita memandang lisosom, kita tentu perlu memandang segala sesuatu tidak dari salah satu sisi semata. Kita sebaiknya tak mudah menaruh prasangka dan memberi celaan ketika mengetahui hal-hal buruk menurut pikiran kita.

Menelusuri buku ini, kita sepertinya tiada mau berhenti untuk memetik hikmah. Ada pelajaran pada segala sesuatu, termasuk kupu-kupu dan gajah. Kita lihat saja kupu-kupu yang mengonsumsi madu tanpa merusak bunga. Begitu pun dengan gajah liar yang biasanya memakan biji-bijian dari buah yang jatuh. Biji-bijian itu tidak dicerna oleh gajah. Ketika gajah berhenti di suatu daerah untuk mengeluarkan kotoran, gajah tak hanya mengeluarkan kotoran murni, tapi juga kotoran bersama dengan biji-bijian yang dimakan itu. Setelah beberapa saat, di tempat tersebut, tumbuhlah tanaman dengan suburnya, karena tanah mempunyai banyak nutrisi dari kotoran gajah. Tak malukah kita yang kerapkali tak peduli dan berbuat kerusakan terhadap lingkungan hidup?

Selain di atas, ada hal-hal lainnya yang disuguhkan buku ini. Kita diajak membangun pikiran, hati, dan laku hidup secara lebih baik. Ada sesuatu yang terus mengalir dalam kehidupan ini. Sesuatu itu adalah waktu. Apakah dalam waktu itu kita memberikan hal yang positif dan bermanfaat bagi kehidupan? Ada kontribusi yang dinantikan dari kita. Dalam waktu kehidupan kita, kita harus menjadi pahlawan sesuai dengan potensi dan peran masing-masing. Buku ini bisa dijadikan renungan bagi kita untuk membangun spirit hidup yang kontributif. Selamat membaca.

HENDRA SUGIANTORO, Penulis lepas, tinggal di Yogyakarta

(Menanti) Kiprah Nyata Mahasiswa

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa KORAN MERAPI, Kamis, 26 Mei 2011

MAHASISWA identik sebagai kaum intelektual. Strata tertinggi dalam jenjang pendidikan formal menempatkan mahasiswa pada kelompok masyarakat kelas menengah ke atas. Kesan keluarbiasaan mahasiswa kerap membahana mengingat kiprah mahasiswa dalam gerak zaman. Mahasiswa adalah aktor perubahan, kebangkitan, dan kemajuan bangsa. Dalam setiap perubahan, mahasiswa berada di garda terdepan sebagai salah satu kelompok muda yang menonjol

Mahasiswa memang telah mencipta nama dan fenemona dalam blantika kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun demikian, mahasiswa bukan tanpa problema. Heroisme yang melekat pada mahasiswa bukan berarti menjamakkan kiprah dan kontribusi mahasiswa. Peran mahasiswa memang penting, tapi tak seluruh mahasiswa berpikir dan bertindak arif. Membaca mahasiswa, kita tetap harus mengenakan kacamata objektif. Mahasiswa adalah agen perubahan, namun tak setiap mahasiswa memiliki kesadaran dan menjadi arsitek yang menggerakkan perubahan. Idealisme mahasiswa sifatnya relatif. Sebagai bagian dari kelompok muda, mahasiswa tetap memiliki dua wajah: cerah dan buram. Menjadi mahasiswa hanya sekadar kebanggaan identitas, namun sepi dari perwujudan sosok mahasiswa yang ideal.

Maka, menurut penulis, istilah yang kerap mengemuka dan dilekatkan pada mahasiswa tak melulu dimaknai kebenaran. Mahasiswa merupakan sekelompok muda yang tetap perlu memperoleh pembinaan dan pematangan. Mahasiswa sebagai directur of change, iron stock, dan transformator masih membutuhkan pembuktian. Kampus merupakan wahana membentuk dan menempa mahasiswa memenuhi kriteria itu. Begitu pula kampus menjadi ruang pembinaan dan pematangan mahasiswa dalam ikhtiarnya menjadi sosok intelektual.

Bagi mahasiswa, posisi “dimahakan” ketika menginjak perguruan tinggi boleh jadi membanggakan. Bahkan, dengan kuliah saja telah memberikan status berbeda dengan siswa-siswa yang berada di jenjang pendidikan bawahnya. Posisi yang “memahakan siswa” di kampus itu amat tepat jika dimaknai sebagai tantangan. Mahasiswa ketika menempuh pendidikan di perguruan tinggi perlu senantiasa membuktikan tepatnya istilah-istilah heroik yang disematkan pada mahasiswa. Saat bergulat di kampus, mahasiswa harus berikhtiar menjadi seutuh-utuhnya mahasiswa (full student), bukan mahasiswa yang sekadar identitas.

Ikhtiar menjadi mahasiswa yang benar-benar mahasiswa perlu dilakukan. Menjadi mahasiswa yang bukan identitas semata. Mahasiswa perlu menyadari keberadaannya sebagai kaum akademisi yang tak hanya berkutat dengan perkuliahan. Sebagai intelektual, mahasiswa juga perlu bergerak pada wilayah operasionalisasi. Kata Ali Syariati, intelektual memiliki kesatuan dalam pikir dan tindakan, tak hanya berkutat pada teori dan gagasan, tapi juga terlibat dalam langkah operasional. Mahasiswa perlu mengamati fenomena kehidupan dan mampu bersikap kritis. Mahasiswa harus mampu memainkan peran sebagai penentu sekaligus pelaku sejarah.

Pada titik ini, ada cermin dari tokoh bangsa yang bisa dijadikan refleksi. Bung Karno dan Bung Hatta sebagai pemimpin di awal kemerdekaan, misalnya, tidak dimungkiri memiliki rekam jejak pendidikan formal yang terbilang tinggi. Mereka menjadi sebagian dari tokoh pergerakan nasional yang bergelut di dunia kampus, sekaligus melibatkan diri dalam denyut nadi masyarakat. Pergerakan mereka tidak dilakukan setelah lulus, tapi telah berperan ketika masih duduk di bangku kuliah. Dari Bung Karno dan Bung Hatta, mahasiswa juga bisa mengambil spirit untuk gila membaca. Ketekunan dan kesuntukan membaca memang hampir dimiliki oleh tokoh-tokoh mahasiswa di zaman pergerakan.

Bagi mahasiswa, bergerak dalam wadah organisasi juga menjadi keniscayaan untuk dapat mengorganisasi pelbagai potensi demi menggerakkan aksi dan memberikan kontribusi di tengah realitas sosial. Hal penting yang tak boleh dialpakan adalah kekuatan komitmen membangun negeri. Kehadiran mahasiswa memang dibutuhkan untuk menggenapkan keniscayaan regenerasi dalam perjalanan bangsa dan negara. Adanya komitmen yang telah dipupuk dan disemai di bangku kuliah harapannya mampu menghadirkan calon-calon pemimpin bangsa yang melakukan perbaikan di tengah kondisi bangsa dan negara yang kini masih berada dalam “terowongan gelap”.

Yang tidak bisa diabaikan, idealisme yang kuat perlu dipegang mahasiswa di mana pun dan kapan pun. Mahasiswa tidak hanya berkutat pada teori, tapi juga mampu konsisten menjalankan misi-misi sosial dan memperjuangkan kemaslahatan rakyat. Ketika tak lagi menjadi mahasiswa, idealisme tetap perlu dimiliki. Hal yang memunculkan ironi, mahasiswa ketika lulus kuliah menjadi pragmatis seperti yang terjadi ketika terlibat dalam ranah kekuasaan. Maka, mahasiswa perlu melatih diri sebagai negarawan ketika masih menempuh pendidikan di kampus. Seperti dikatakan Plato dalam Republic, al-Farabi lewat al-Madinah al Fadlilah, dan juga St. Augustinus melalui City of God-nya, negarawan mengumpulkan dalam dirinya dua sifat; sifat pemimpin dan sifat guru, sifat leader dan sifat philosopher, sifat umara dan ulama (Miftachul Huda, 2010). Mahasiswa bisa menempa diri untuk memiliki sifat-sifat sebagaimana disebutkan itu.

Mahasiswa memang seolah-olah tak sepi dari perbincangan. Apresiasi yang menggema tak sekadar sarat pujian. Kritik pun merupakan sebentuk apresiasi agar mahasiswa sudi memperbaiki diri. Sebagai manusia, mahasiswa tentu memiliki salah dan lupa. Mahasiswa tak hanya perlu mengingatkan, tapi juga layak diingatkan. Memang begitu besar harapan diberikan kepada mahasiswa. Kelompok kaum muda yang menempuh pendidikan tinggi ini akan mengisi ruang-ruang kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara di kemudian hari. Di pundak mahasiswa, ada harapan-harapan digantungkan. Pertanyaannya, siapkah mahasiswa berikhtiar menjadi mahasiswa seutuhnya? Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO

Pegiat Transform Institute Yogyakarta

Inspirasi Intelektual dari Sosok Ibnu Sina


Dimuat di Majalah Pewara Dinamika UNY Volume 12. NOMOR 40 APRIL 2011, rubrik Resensi Media

Judul Buku: Tawanan Benteng Lapis Tujuh: Novel Biografi Ibnu Sina Penulis: Husayn Fattahi Penerbit: Penerbit Zaman, Jakarta Tahun: I, 2011 Tebal: 296 halaman

Sebelum membaca novel ini, ada pertanyaan yang bisa diajukan. Apa kepentingan novel ini bagi kaum akademisi? Adakah nilai-nilai pendidikan yang diinspirasikan dari novel ini?

Di tengah redupnya tradisi intelektual, novel ini menyuguhkan pelajaran berharga dari seorang Ibnu Sina (908-1037 M). Di Barat, Ibnu Sina terkenal dengan nama Avicenna. Mungkin kini banyak dari kita tak mengenalnya, namun Ibnu Sina telah tercatat dalam tinta emas sejarah. Komaruddin Hidayat, guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengatakan bahwa keilmuan Ibnu Sina melampaui zamannya bagaikan menara penerang peradaban. Membaca novel ini, kita memang akan merasakan denyut intelektual yang memukau. Kegigihan belajar Ibnu Sina menyebabkan ia tampil sebagai sosok yang menguasai pelbagai disiplin ilmu sejak usia masih belia.

Karena kecerdasannya, Ibnu Sina terus-menerus berganti guru. Di rumah maupun di perpustakaan, Ibnu Sina rajin mempelajari buku-buku dengan tekun. Ibnu Sina bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mengoreksi beberapa teori yang terdapat dalam buku. Buku-buku ilmu pengetahuan lainnya juga dikaji Ibnu Sina. Bahkan, permasalahan-permasalahan yang rumit dari apa yang dibacanya berhasil dipecahkan dengan cepat. Buku terkait ilmu kedokteran yang juga tekun dipelajari ternyata menempatkan Ibnu Sina sebagai tokoh kedokteran terkemuka. Ibnu Sina juga kerap melakukan diskusi dan tukar pendapat dengan pelbagai kalangan.

Ibnu Sina juga produktif menulis. Prof. DR. Azyumardi Azra, MA pernah menuturkan, “Ibnu Sina tidak sekadar membaca dan menyelidiki ilmu-ilmu. Lebih jauh ia menuliskan apa-apa yang diketahuinya itu, baik dalam bentuk artikel, risalah maupun buku-buku.” Dalam novel ini, laku intelektual Ibnu Sina dalam menulis turut dipaparkan. Banyak karya tulisnya. Salah satu karya tulisnya yang fenomenal adalah buku al-Qanun fi at-Thibb atau juga disebut Canon of Medicine. Dalam catatan sejarah, buku ini diterjemahkan dalam pelbagai bahasa dan pernah menjadi buku induk kedokteran.

Dengan ilmunya, Ibnu Sina tidak bertengger di “menara gading”, tapi mengabdikan diri untuk kemaslahatan masyarakat. Ia menjadi pengajar. Begitu pula menjadi dokter yang tak berorientasi materi. Pasien yang miskin harta pun berusaha diobati. Menurut Ibnu Sina, ganjaran paling besar bagi seorang dokter adalah kesembuhan pasien. Dalam novel ini, kita bisa menyaksikan keuletan dan keberhasilan Ibnu Sina mengobati pasien, bahkan yang kritis sekali pun. Banyak apresiasi diberikan kepadanya. Para penguasa pun salut, sehingga beberapa kali Ibnu Sina menjadi dokter di istana. Menanggapi tentang pengobatannya, Ibnu Sina berucap, “Diagnosa setiap dokter itu berbeda-beda. Inti dari kedokteran pada dasarnya adalah diagnosa yang cermat dan tepat.” Ibnu Sina mengecam keras dokter-dokter yang asal-asalan menjadi dokter, karena bisa membahayakan nyawa banyak orang dan selalu menyalahgunakan pekerjaan hanya untuk mengumpulkan harta benda, emas, dan perak.

Novel ini menarik dibaca untuk memberikan inspirasi bagi kita terkait ketekunan menuntut ilmu dan ketulusan pengabdian dalam profesi. Kaum akademisi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bisa menimba keteladanan dari sosok Ibnu Sina. Siapa tahu kelak dari UNY akan muncul tokoh yang juga mendunia dengan disiplin keilmuannya. Dari UNY untuk Indonesia menuju pentas dunia, bukankah begitu?

HENDRA SUGIANTORO, Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

Rendahnya Budaya Baca Aktivis

Oleh: HENDRA SUGIANTORO

Dimuat di Opini Jogja Raya, Sabtu 23 April 2011

Saratri Wilonoyudho (2008) pernah mengutarakan sebagian besar kaum mahasiswa telah terjebak di dunia “kapitalistik”. Berangkat ke kampus sekadar ”ritual” saja, tanpa niat tulus untuk mengembangkan intelektualitasnya. Ada beberapa indikator yang dikemukakan Dosen Universitas Negeri Semarang itu, yakni malasnya mahasiswa mengerjakan tugas, malas membeli buku, malas membaca, malas menulis, malas berdiskusi dalam kelas, dan lain-lain. Mahasiswa hanya sibuk menyembah simbol-simbol keilmuan tanpa ”nafsu” dan perasaan untuk mengembangkannya. Targetnya sederhana, dapat ”simbol” intelektual yang berupa ijazah, diterima bekerja di pabrik dengan harapan hidup kaya raya sebagaimana diajarkan di TV-TV swasta negeri ini.

Apa yang diutarakan Saratri Wilonoyudho di atas sepertinya menjadi gejala umum. Di zaman kini sulit mencari mahasiswa yang suntuk bergelut dalam dunia intelektual. Yang dikerjakan mahasiswa hanya rutinitas perkuliahan miskin makna. Sebagian mahasiswa sekadar memenuhi presensi perkuliahan dan memuja budaya instan. Lahirnya budaya ini tentu berawal dari paradigma berpikir pragmatis yang dilanggengkan dalam kebiasaan-kebiasaan bertindak instan. Di lingkup kampus, para mahasiswa umumya menggemari budaya menyontek, copy paste tugas-tugas perkuliahan, CSSA (Catat Skripsi Sampai Abis), hingga mengklaim artikel internet sebagai karyanya (Rahmah Purwahida, 2008). Pertanyaannya, apakah kondisi seperti itu juga melanda aktivis mahasiswa?

Aktivis mahasiswa merupakan bagian dari mahasiswa yang menempuh studi di perguruan tinggi. Karena aktif dalam organisasi kemahasiswaan, sebutan aktivis mahasiswa pun melekat. Yang justru menyedihkan, jika rendahnya tradisi intelektual ternyata juga merambah kalangan aktivis mahasiswa.

Disadari atau tidak, dalam ruang organisasi kemahasiswaan ternyata amat jarang ditemui aktivis mahasiswa yang membawa buku dan membacanya. Memang kegiatan-kegiatan seminar dan diskusi publik digelar, tapi aktivis mahasiswa tampaknya lebih cenderung hanya bangga menjadi panitia kegiatan! Sebagian aktivis mahasiswa dapat dikatakan sekadar disibukkan dengan menggelar kegiatan-kegiatan. Waktu, pikiran, dan tenaga habis untuk penyelenggaraan kegiatan tanpa pernah memberi asupan pemikirannya. Bahkan, adanya aktivis mahasiswa yang buta isu-isu aktual tak dimungkiri. Jika pun mengetahui perkembangan aktual hanya bermodalkan ”katanya”.

Adanya fakta minimnya budaya membaca di kalangan aktivis mahasiswa tentu menggelisahkan. Sebagai komponen mahasiswa yang diposisikan berada di ”kelas elite”, aktivis mahasiswa selayaknya menjadikan tradisi membaca sebagai keniscayaan. Selain budaya membaca yang minim, budaya menulis di kalangan aktivis mahasiswa pun terbilang rendah. Diskusi yang dilakukan di kalangan aktivis mahasiswa juga kurang berbobot. Diskusi yang dilakukan tidak menambah kapasitas pemikiran dan sering kali justru urusan yang remeh-temeh. Membaca pun jarang, apalagi mendiskusikan persoalan-persoalan politik, pendidikan, kebudayaan ataupun ekonomi yang tengah menghangat.

Pada titik ini, saatnya aktivis mahasiswa melakukan introspeksi. Budaya membaca harus disadari sebagai kewajiban asasi seorang aktivis mahasiswa. Memang masih ada aktivis mahasiswa yang memiliki tradisi intelektual dalam aktivitasnya, hanya saja aktivis mahasiswa seperti ini tidaklah seberapa dibandingkan aktivis mahasiswa yang bergerombol dalam organisasi kemahasiswaan. Kondisi ini selayaknya dikoreksi karena justru menyebabkan organisasi kemahasiswaan kurang berjalan dinamis. Tanpa kuatnya tradisi membaca yang terjadi hanyalah pendewaan terhadap asumsi-asumsi. Berbicara kemiskinan penduduk, tapi tak bisa memaparkan data kemiskinan. Ketika berbicara mengenai isu-isu lokal maupun nasional kerap tanpa kajian mendalam. Akhirnya, aktivis mahasiswa kurang memahami persoalan secara lebih mendalam ketika melakukan gerakan.

Tradisi membaca telah dicontohkan founding father’s negeri ini. Soekarno, Muhammad Hatta, Syahrir, Natsir, dan lainnya adalah sosok-sosok yang gila bahan bacaan ketika menjadi mahasiswa. Aktivis mahasiswa perlu meneruskan tradisi itu. Dari membaca, lahirlah pemikiran-pemikiran progresif dalam memajukan negara. Dengan membaca, mahasiswa bergerak tidak hanya bersenjatakan semangat saja, tapi gerakan yang berbasis intelektualitas. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO, pegiat Transform Institute Yogyakarta

Pendidikan dalam Pemikiran Kartini

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Sabtu 23 April 2011

Mengingat sosok Kartini, kita mengingat sosok perempuan dengan pelbagai suka duka kehidupan. Sebagai keturunan priyayi, Kartini melihat dunia dan lingkungannya dengan sikap kritis. Sisi psikologis dan sosiologis Kartini turut memberikan pengaruh terhadap sikap dan pemikirannya. Membaca Kartini adalah membaca perempuan yang juga sosok manusia biasa. Tradisi pingit yang diterimanya usai menamatkan sekolah rendah ikut membentuk jiwanya. Perkembangan intelektualitas Kartini dipengaruhi oleh kegemaran membaca. Sahabat-sahabat penanya yang didominasi orang-orang Belanda tak dimungkiri memiliki tempat dalam dialektika pemikiran Kartini.

Membaca pemikiran perempuan kelahiran Jepara itu ternyata tak sekadar berkutat pada persoalan perempuan, tapi juga pendidikan bagi bangsanya. Di mata Kartini, pendidikan adalah hal penting. Pendidikan akan kuasa mengangkat derajat dan martabat bangsa. Yang menarik, Kartini konsisten mengemukakan pentingnya pendidikan yang mengasah budi pekerti. Perhatikan kata-kata Kartini yang menjadi doa dan jeritannya kepada Nyonya R.M Abendanon-Mandri tertanggal 3 Januari 1902, “Didiklah orang Jawa!”. Kartini pun mengatakan bahwa terhadap pendidikan itu janganlah hanya akal saja yang dipertajam, tetapi budi pun harus dipertinggi.

Mengenai pentingnya ketinggian budi pekerti ini, Kartini berulang kali menegaskan dalam surat-suratnya. Dalam tulisannya berjudul Berilah Orang Jawa Pendidikan! pada 3 Januari 1903, Kartini juga menegaskan pendidikan yang tak hanya mengutamakan kecerdasan otak, melainkan yang sungguh-sungguh memperhatikan akhlak pula. Intinya, pendidikan bagi Kartini tidak boleh mengabaikan penanaman budi pekerti. Dalam melakukan pendidikan, sekolah diperlukan. Namun, sekolah bukan segala-galanya. Pendidikan di sekolah harus dibarengi dengan pendidikan dalam keluarga. Kata Kartini, “Sekolah-sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat, tetapi juga keluarga di rumah harus turut bekerja. Lebih-lebih dari rumahlah kekuatan mendidik itu harus berasal.” (Kartini dalam Berilah Orang Jawa Pendidikan tertanggal Januari 1903).

Untuk para guru di sekolah, Kartini mengharapkan guru tak mengajar semata, tapi juga harus menjadi pendidik. Dalam notanya berjudul Berilah Orang Jawa Pendidikan!, Kartini dengan tegas berkata, “...guru-guru memiliki tugas rangkap: menjadi guru dan pendidik! Mereka harus melaksanakan pendidikan rangkap itu, yaitu: pendidikan pikiran dan budi pekerti.”

Perhatian Kartini soal pendidikan di sekolah berjalan beriringan dengan perhatiannya terhadap pendidikan dalam keluarga. Pada titik ini, Kartini berkehendak agar kaum perempuan memiliki kemampuan prima dalam mendidik anak-anaknya. Bagi Kartini, mendidik perempuan merupakan kunci peradaban. Perempuan yang menjadi ibu memiliki peran besar dalam pendidikan anak-anak. Menurut Kartini, pemerintah berkewajiban meningkatkan kesadaran budi perempuan, mendidik perempuan, memberi pelajaran perempuan, dan menjadikan perempuan sebagai ibu dan pendidik yang cakap dan cerdas.

Membaca pemikiran Kartini terkait pendidikan, kita juga membaca pemikiran yang tak sekadar normatif. Dalam pengajaran di sekolah, Kartini menginginkan agar murid-murid diberi kebebasan berpikir dan mengutarakan pendapat. Kartini begitu peduli pada pentingnya bahan bacaan di sekolah. Perhatikan ucapan Kartini berikut, “Hendaknya cinta pustaka pada murid-murid ditingkatkan sebanyak-banyaknya. Dan agar ada hasilnya, seyogianya diberikan bimbingan membaca oleh guru-guru yang suka pula akan bacaan. Yang dibaca selalu dibicarakan. Murid-murid sedapatnya didorong maju untuk bertukar pikiran secara bebas dan saling mengasah pikiran di antara mereka sendiri. Misalnya diadakan “malam-malam bercakap-cakap” di bawah pimpinan guru-guru. Di situ dibicarakan perkara dan peristiwa yang penting-penting. murid-murid memikirkan hal itu dan menguraikan pikirannya pada pertemuan berikutnya. Jangan tertawakan mereka bila mereka mengumumkan teori-teori asing, tetapi tolonglah mereka mencari penyelesaian secara bijaksana, lemah lembut, dan kasih sayang.”

Di mata Kartini, bahan bacaan memiliki arti penting untuk mendidik anak-anak. Bahan bacaan adalah alat pendidikan yang diharapkan banyak mendatangkan kebajikan. Bahan bacaan yang disediakan di sekolah tak hanya buku pelajaran, tapi juga bahan bacaan lainnya yang dapat mengasah akal dan hati. Bacaan-bacaan itu seyogianya ditulis dalam bahasa populer, mudah dipahami, dan berisi. Anak-anak hendaknya diberi bacaan yang mengasyikkan, bukan karangan-karangan kering yang semata-mata ilmiah. Ditegaskan Kartini, bahan bacaan harus ada dasar mendidik. Memang bahan bacaan bagi Kartini memiliki arti penting yang akan turut mendidik dengan sebaik-baiknya.

Membaca pemikiran Kartini, kita memang senantiasa mendapatkan pemikiran terkait perlunya pendidikan bagi perempuan. Kartini memiliki dasar kuat mengenai pendidikan bagi perempuan karena perempuan merupakan pendidik pertama anak-anak. Di tangan perempuan, anak-anak akan tumbuh dan berkembang. Mendidik secara baik anak-anak berarti juga membangun masyarakat-bangsa. Kemajuan perempuan merupakan faktor penting peradaban bangsa.

Tak sekadar pendidikan perempuan, Kartini juga berbicara tentang pendidikan pada umumnya. Tanpa mengurangi sikap kritis terhadap Kartini, pemikiran pendidikan Kartini sebagaimana diutarakan di atas relevan untuk tetap diperhatikan. Pendidikan memang selalu penting bagi kemajuan bangsa. Sebagaimana dikatakan Kartini, semoga pendidikan dapat membangun kesadaran anak-anak bangsa. Melalui pendidikan, anak-anak memenuhi panggilan budi dalam masyarakat terhadap bangsa yang akan mereka kemudikan. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute Yogyakarta