Dongeng Inspiratif Kiai Sholeh

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di KORAN MERAPI, Minggu 17 Juli 2011

Judul Buku: Pesantren Dongeng: Melipur Lara, Menikmati Kisah, Mendulang Hikmah Penulis: Awang Surya Penerbit: Zaman, Jakarta Tahun: I, 2011 Tebal: 244 halaman

Buku ini mengetengahkan sebuah pesantren yang mengajar murid-muridnya lewat dongeng. Maka, disebutlah Pesantren Dongeng. Awang Surya menyusun buku ini dalam pelbagai dongeng dengan tokoh seorang guru bernama Kiai Sholeh. Lewat dongeng yang dipaparkan Kiai Sholeh, kita dapat mengambil pelajaran dan memaknai hidup.

Dalam salah satu dongengnya, Kiai Sholeh menceritakan sebuah kerajaan Pasir Putih dengan seorang raja yang adil dan bijaksana. Pada suatu hari, raja mempersilakan Menteri Keamanan, Menteri Sandang, dan Menteri Pangan untuk meminta sesuatu. Permintaan pasti dikabulkan. Menteri Keamanan lantas meminta rumah besar dan megah, Menteri Sandang meminta kebun anggur yang luas. Adapun Menteri Pangan menginginkan libur sehari setiap minggu. Singkat cerita, apa yang diminta Menteri Keamanan dan Menteri Sandang tak bisa dinikmati sekejap pun, karena kesibukan sebagai menteri telah menyita waktu. Berbeda dengan Menteri Pangan yang bisa menikmati hari liburnya. Lewat dongeng ini, kita diajak untuk mengambil pelajaran. Banyak dari kita disibukkan menggapai segala keinginan yang kerap bukan menjadi kebutuhan lantas tak bisa dinikmati. Benarkah satu-satunya jalan untuk bisa menikmati sesuatu harus dengan memiliki? (halaman 13-24).

Lewat dongeng Kiai Sholeh, kita juga diajak memperhatikan hati. Permasalahan hidup kerapkali menyebabkan kita dilanda stress, tekanan mental, dan malah berbuat tak terpuji. Kunci sebenarnya adalah hati kita. Alkisah, seorang guru menyuruh muridnya keluar dari padepokan untuk hidup di tengah masyarakat. Murid yang bernama Wirajaya itu akhirnya bekerja sebagaimana rakyat biasa. Ia harus menggarap sawah dan ladang, mencari kayu bakar untuk memasak, dan pekerjaan lainnya. Awalnya pelbagai kesulitan bisa dihadapi Wirajaya. Namun, dalam perjalanan waktu, Wirajaya merasa tak kuat dengan kesulitan yang kian berat. Karena tak tahan, Wirajaya mengadukan pelbagai permasalahan kepada gurunya. Sang Guru lalu menyuruh Wirajaya datang lagi ke padepokan saat bulan purnama tiba. Di halaman padepokan telah ada tiga bejana. Satu bejana berair jernih, satu bejana kurang jernih, dan satu bejana lagi penuh kotoran. Wirajaya diminta melihat bayangan bulan purnama di setiap bejana itu. Bayangan tampak jelas pada bejana berair jernih, terlihat samar-samar pada bejana berair keruh, tidak tampak pada bejana yang berair kotor. Begitulah hati kita. Baik buruknya permasalahan dipengaruhi oleh keadaan hati. Permasalahan akan terasa menyesakkan jika hati seperti bejana yang penuh kotoran. Jika hati bersih, apapun permasalahan tetap dihadapi dengan tenang dan sabar (halaman 103-112).

Selain di atas, ada pelbagai dongeng lainnya yang dipaparkan. Tak sekadar mendongeng, Kiai Sholeh juga menjelaskan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap dongengnya. Awang Surya sebagai penulis buku kemudian merefleksikannya dengan bercermin pada kehidupan kita sehari-hari.

Lewat dongeng yang disuguhkan buku ini, ada pelajaran dan hikmah yang bisa kita petik. Sarimin, Pardi, dan Madrais adalah tiga murid yang setia berguru pada Kiai Sholeh. Di musala kecil atau di rumah Kiai Soleh, murid-muridnya itu menimba ilmu dengan mendengarkan dongeng. Mau berguru pada Kiai Sholeh di Pesantren Dongeng? Selamat membaca.

HENDRA SUGIANTORO, Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

Saatnya Membangun Tradisi Belajar

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa KORAN MERAPI, Sabtu, 2 Juli 2011

Belajar menjadi istilah yang akrab di telinga kita. Dalam belajar, kita mencapai suatu pencapaian yang belum dicapai sebelumnya. Di bangku sekolah, anjuran untuk rajin dan tekun belajar selalu mengemuka. Guru mengajar, siswa belajar. Pada dasarnya, guru tak mengajar semata. Guru juga harus tetap belajar. Ketika mengajar, guru pun tengah belajar menghadapi beragam karakteristik murid-muridnya. Di sisi lain, guru tetap dituntut untuk terus belajar memperkaya wawasan dan meningkatkan kualitas. Dengan belajar, ada ilmu, wawasan, pemikiran, dan pengetahuan yang berkembang. Begitu juga terjadi perubahan sikap dan perilaku yang membentuk karakter kita sebagai manusia.

Dalam hal ini, ada fenomena yang perlu kita cermati. Fenomena yang dimaksud adalah rendahnya tradisi belajar. Ada kecenderungan budaya ambil jalan pintas telah menghinggapi dunia pendidikan. Kecurangan selama ujian nasional, misalnya, merupakan salah satu contoh keprihatinan. Bahkan, pada tahun ini kasus mencontek secara massal disinyalir telah terjadi di salah satu bangku sekolah dasar saat ujian nasional. Kita boleh saja menyaksikan persiapan ujian nasional yang dilakukan “mati-matian”, tapi bukankah masih ada ketidakpercayaan diri ketika perhelatan ujian nasional dilaksanakan?

Penulis tidak akan memperbincangkan ujian nasional, namun ingin membuka kesadaran kita bahwa ada yang perlu diluruskan dalam jiwa bangsa ini. Tradisi belajar tak dimungkiri menjadi harga mati bagi eksistensi sebuah bangsa. Jika tradisi belajar begitu rendah, apa yang bisa kita harapkan di masa mendatang? Mahasiswa bolehlah bangga meraih gelar sarjana, namun toga yang dikenakannya bukan jaminan ketekunannya belajar. Kelulusan siswa dalam ujian nasional bukan berarti belajar telah menjadi tradisi siswa. Jalan pintas yang kerapkali marak telah menjadi bencana dalam dunia pendidikan. Tak hanya siswa, mahasiswa pun kadangkala berbuat kecurangan saat ujian semester. Penyusunan tugas karya tulis belum tentu hasil dari pengkajian dan penelaahan disiplin ilmu yang tekun. Transaksi tugas akhir skripsi kerapkali menjadi pilihan demi mengejar kelulusan dari bangku perguruan tinggi.

Pada titik ini, penulis hendak membangun spirit, motivasi, dan inspirasi. Harapannya, kita bisa memiliki tradisi belajar yang teguh dan kokoh. Bagaimana pun, belajar merupakan kewajiban. Kewajiban belajar tak berhenti pada satu tahapan atau usia tertentu, tapi sepanjang waktu manusia menapaki kehidupan. Siapa pun kita memang perlu belajar. Tradisi belajar dapat kita saksikan pada sosok Bung Karno dan Bung Hatta. Herman Kartowisastro (1978) pernah menuturkan perihal Bung Karno, “Ia orang yang pandai segala bidang, seorang all-round, seorang jenius. Semua mata pelajaran, baik bahasa, sejarah maupun ilmu pasti atau ilmu lainnya dikuasainya, diganyangnya mentah-mentah”. Ketika bersekolah di Hogere Burgere School (HBS) Surabaya, Jawa Timur, kamar Bung Karno yang tanpa jendela dan daun pintu tak menghalanginya untuk belajar. Lampu pijar menyala sepanjang hari untuk penerangan kamar. Saat itu Bung Karno mondok di rumah H.O.S. Tjokroaminoto. Membaca buku merupakan kebiasaan Bung Karno yang dilakukan secara tekun. Ketika diasingkan maupun di penjara, Bung Karno merasa tak betah tanpa membaca. Di rumah pengasingannya di Bengkulu, misalnya, buku koleksi Bung Karno konon mencapai 12 peti.

Begitu juga dengan Bung Hatta yang memiliki tradisi belajar tinggi. Buku-buku yang dilahap Bung Hatta begitu banyaknya. Literatur-literatur dengan berbagai pemikiran tak bosan dikaji demi menambah wawasan dan pengetahuan. Yang menarik, ada kisah Bung Hatta menulis ilmiah untuk pertamakalinya yang harus menghabiskan waktu sekitar enam bulan. Judul tulisan itu adalah De economische positie van den Indonesischen grondverhuurder (Kedudukan ekonomi para penyewa tanah orang Indonesia) dan Eenige aantekeningen betreffende de grondhuur-ordonnantie in Indonesi (Beberapa catatan tentang ordonansi penyewaan tanah di Indonesia). “Lama juga waktu yang kupergunakan untuk mengarang dua karangan (itu). Kalau aku tak salah, kira-kira enam bulan. Sambil belajar aku mengarang dan sedapat-dapatnya membaca pula buku yang dapat aku pergunakan sebagai bahan atau dasar,” kata Bung Hatta. Banyak buku yang digunakan sebagai rujukan Bung Hatta, salah satunya adalah buku karya E von Bohm Bawerk berjudul Kapital und Kapitalzins (Modal dan Bunga Modal). Dengan menulis disertai membaca berbagai literatur, Bung Hatta belajar banyak hal.

Kita jelas merindukan tradisi belajar dimiliki oleh anak negeri ini. Tradisi belajar yang tentunya berangkat dari kesadaran, bukan dari paksaan atau tuntutan. Mungkin kita bertanya, apa gunanya melahap bahan bacaan karena belum tentu menghasilkan uang? Ya, membaca memang belum tentu menghasilkan uang. Tanpa tekun membaca pun kita bisa kaya. Lantas, apakah kita hanya mengukur segala sesuatu secara materi? Dengan membaca, kita bisa menyelami kebijaksanaan dari jiwa zaman. Membaca merupakan salah satu sarana belajar yang mampu membuka jendela dunia. Kita bisa memetik hikmah dari segala kejadian, mempelajari karakteristik dari setiap suku bangsa maupun bangsa, mengetahui buah gagasan dan pemikiran, sehingga kita mampu tampil sebagai manusia yang arif menyikapi peristiwa dan kehidupan.

Kita tentu bisa belajar apapun. Keterampilan-keterampilan juga perlu kita pelajari. Wawasan dan pengetahuan perlu terus diperkaya. Ilmu harus diperdalam. Kita juga harus belajar untuk mengamalkan ilmu yang baik demi kemaslahatan kehidupan. Di masa mendatang, kita yang memiliki tradisi belajar akan lebih dihargai. Biarlah mereka yang menempuh cara instan menggapai kesuksesan bersenang-senang, namun zaman terus bergerak. Sesungguhnya sejarah mengajarkan bahwa kemajuan peradaban bangsa dibangun dari kepemilikan tradisi belajar masyarakat bangsanya. Saatnya kita membangun tradisi belajar. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute Yogyakarta

Memetik Hikmah dari Pesantren Dongeng

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Perada KORAN JAKARTA, Senin, 27 Juni 2011

Judul Buku: Pesantren Dongeng: Melipur Lara, Menikmati Kisah, Mendulang Hikmah Penulis: Awang Surya Penerbit: Zaman, Jakarta Tahun: I, 2011 Tebal: 244 halaman Harga: Rp. 33.000,00

Kita kerapkali kecewa manakala impian dan keinginan tak tercapai. Kita begitu sulit menerima setiap apa yang kita alami dalam hidup ini secara lapang. Ketidaklapangan justru menjauhkan kita untuk bersikap bijak. Dalam hal ini, ada baiknya kita mendengarkan dongeng dari Kiai Sholeh tentang raja dan patih di sebuah kerajaan.

Ketika sang raja berburu ke hutan tiba-tiba seekor ular berbisa menggigit jari kelingkingnya. Agar bisa ular tak menjalar ke seluruh tubuh, jari kelingking sang raja pun dipotong. Melihat jari tangannya tak lengkap, sang raja malah terus menggerutu. “Paduka Raja, terimalah semua yang telah menjadi ketentuan Yang Kuasa. Pasti ini ada hikmahnya,” kata sang patih. Sang raja berteriak marah, “Hah, Patih! Enak saja kau ngomong begitu! Tanganku kini tidak utuh lagi. Kau benar-benar tak mengerti perasaanku!” Sang raja lantas meminta beberapa prajuritnya membawa pulang sang patih ke istana untuk dijebloskan ke penjara.

Rombongan sang raja yang masih di hutan terus melanjutkan perjalanan. Rupanya rombongan memasuki wilayah suku Bubuhu. Rombongan raja pun ditangkap untuk dijadikan korban sebagai persembahan kepada dewa-dewa. Ketika memeriksa tawanan, kepala suku terkejut ada seseorang yang tak utuh jari tangannya. Kondisi tubuh yang tak utuh dianggap tak bisa dijadikan persembahan karena takutnya malah membawa sial. Karena tak memiliki jari kelingking, sang raja bisa selamat.

Begitulah salah satu dongeng Kiai Sholeh yang disajikan dalam buku ini. Kiai Sholeh menutup dongengnya itu dengan pesan bahwa tak semua yang kita inginkan akan membawa kebaikan dan tak semua yang kita benci membawa keburukan.

Selain di atas, ada banyak lagi dongeng yang dituangkan Awang Surya sebagai penulis buku lewat tokoh Kiai Sholeh. Dongeng tentang desa Suka Makmur yang penduduknya dilanda musibah akibat ikan-ikan di dalam telaga mati juga bisa kita ambil pelajaran. Akibat musibah itu, mata pencaharian penduduk pun hilang. Namun, ada seorang penduduk bernama Pak Badrun yang jeli mengamati ikan-ikan kecil di dalam telaga yang masih hidup. Pak Badrun menangkapnya untuk ditempatkan di dalam kolam rumahnya. Penduduk lainnya malah heran dengan kelakuan Pak Badrun dan menganggapnya sia-sia. Tak peduli dengan kata orang-orang, Pak Badrun tetap memeliharanya. Beberapa waktu berlalu, ikan-ikan kecil yang masih bisa dipelihara tumbuh menjadi ikan-ikan besar dan berkembang biak.

Dari cerita dongeng itu, Kiai Sholeh menekankan untuk jangan berhenti berbuat baik sekecil apa pun. Jika semua orang tak sudi berbuat baik dan bersikap masa bodoh justru itulah bencana. Lewat dongeng Kiai Sholeh itu, Awang Surya mengajak kita merenung sejenak. Di negeri ini memang begitu banyak permasalahan, namun kita janganlah menjadi bagian dari permasalahan. Untuk mengubah wajah negeri, kita perlu memperbaiki diri sendiri. Ya, dimulai dari diri sendiri. Bukankah sesuatu yang besar adalah kumpulan dari sesuatu yang kecil?

Masih banyak dongeng menarik lainnya yang dipaparkan dalam buku ini. Kiai Sholeh memang memberi pelajaran kepada murid-muridnya dengan cara mendongeng. Maka, disebutlah dengan pesantren dongeng. Dengan dongeng-dongeng itu, kita bisa melipur lara, menikmati kisah, dan mendulang hikmah. Begitu.

HENDRA SUGIANTORO

Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

Memetik Hikmah dari Pesantren Dongeng

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Perada KORAN JAKARTA, Senin 27 Juni 2011

Judul Buku: Pesantren Dongeng: Melipur Lara, Menikmati Kisah, Mendulang Hikmah Penulis: Awang Surya Penerbit: Zaman, Jakarta Tahun: I, 2011 Tebal: 244 halaman Harga: Rp. 33.000,00


Kita kerapkali kecewa manakala impian dan keinginan tak tercapai. Kita begitu sulit menerima setiap apa yang kita alami dalam hidup ini secara lapang. Ketidaklapangan justru menjauhkan kita untuk bersikap bijak. Dalam hal ini, ada baiknya kita mendengarkan dongeng dari Kiai Sholeh tentang raja dan patih di sebuah kerajaan.

Ketika sang raja berburu ke hutan tiba-tiba seekor ular berbisa menggigit jari kelingkingnya. Agar bisa ular tak menjalar ke seluruh tubuh, jari kelingking sang raja pun dipotong. Melihat jari tangannya tak lengkap, sang raja malah terus menggerutu. “Paduka Raja, terimalah semua yang telah menjadi ketentuan Yang Kuasa. Pasti ini ada hikmahnya,” kata sang patih. Sang raja berteriak marah, “Hah, Patih! Enak saja kau ngomong begitu! Tanganku kini tidak utuh lagi. Kau benar-benar tak mengerti perasaanku!” Sang raja lantas meminta beberapa prajuritnya membawa pulang sang patih ke istana untuk dijebloskan ke penjara.

Rombongan sang raja yang masih di hutan terus melanjutkan perjalanan. Rupanya rombongan memasuki wilayah suku Bubuhu. Rombongan raja pun ditangkap untuk dijadikan korban sebagai persembahan kepada dewa-dewa. Ketika memeriksa tawanan, kepala suku terkejut ada seseorang yang tak utuh jari tangannya. Kondisi tubuh yang tak utuh dianggap tak bisa dijadikan persembahan karena takutnya malah membawa sial. Karena tak memiliki jari kelingking, sang raja bisa selamat.

Begitulah salah satu dongeng Kiai Sholeh yang disajikan dalam buku ini. Kiai Sholeh menutup dongengnya itu dengan pesan bahwa tak semua yang kita inginkan akan membawa kebaikan dan tak semua yang kita benci membawa keburukan.

Selain di atas, ada banyak lagi dongeng yang dituangkan Awang Surya sebagai penulis buku lewat tokoh Kiai Sholeh. Dongeng tentang desa Suka Makmur yang penduduknya dilanda musibah akibat ikan-ikan di dalam telaga mati juga bisa kita ambil pelajaran. Akibat musibah itu, mata pencaharian penduduk pun hilang. Namun, ada seorang penduduk bernama Pak Badrun yang jeli mengamati ikan-ikan kecil di dalam telaga yang masih hidup. Pak Badrun menangkapnya untuk ditempatkan di dalam kolam rumahnya. Penduduk lainnya malah heran dengan kelakuan Pak Badrun dan menganggapnya sia-sia. Tak peduli dengan kata orang-orang, Pak Badrun tetap memeliharanya. Beberapa waktu berlalu, ikan-ikan kecil yang masih bisa dipelihara tumbuh menjadi ikan-ikan besar dan berkembang biak.

Dari cerita dongeng itu, Kiai Sholeh menekankan untuk jangan berhenti berbuat baik sekecil apa pun. Jika semua orang tak sudi berbuat baik dan bersikap masa bodoh justru itulah bencana. Lewat dongeng Kiai Sholeh itu, Awang Surya mengajak kita merenung sejenak. Di negeri ini memang begitu banyak permasalahan, namun kita janganlah menjadi bagian dari permasalahan. Untuk mengubah wajah negeri, kita perlu memperbaiki diri sendiri. Ya, dimulai dari diri sendiri. Bukankah sesuatu yang besar adalah kumpulan dari sesuatu yang kecil?
Masih banyak dongeng menarik lainnya yang dipaparkan dalam buku ini. Kiai Sholeh memang memberi pelajaran kepada murid-muridnya dengan cara mendongeng. Maka, disebutlah dengan pesantren dongeng. Dengan dongeng-dongeng itu, kita bisa melipur lara, menikmati kisah, dan mendulang hikmah. Begitu.
HENDRA SUGIANTORO
Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

Guru dan Tradisi Menulis

Oleh: HENDRA SUGIANTORO Dimuat di Perada KORAN JAKARTA, Selasa, 21 Juni 2011
Judul Buku: Melejitkan Karir Guru Dengan Menulis Penulis: Sudaryanto Penerbit: LeutikaPrio, Yogyakarta Cetakan: I, April 2011 Tebal: x+119 halaman Harga: Rp. 33.000,00

Membaca buku ini, saya mencoba merenung. Mungkin benar apabila tradisi menulis di kalangan guru masih rendah. Tak banyak guru yang menjadikan aktivitas menulis sebagai kebiasaan. Urusan sertifikasi yang dirunyamkan oleh kecurangan guru dengan melakukan plagiarisme ataupun transaksi karya tulis bisa menjadi bukti sahih. Namun demikian, guru bukan berarti tak ada yang giat menulis. Masih ada guru yang menghayati perilaku menulis.


Guru yang menulis maupun yang malas menulis barangkali bisa dilihat dari kenaikan pangkat/golongan. Data yang dilansir tahun lalu (2010) menunjukkan sulitnya guru menembus golongan IV/b. Dari sekitar 2,6 juta guru, sebagian besar terkungkung pada golongan IV/a. Adapun guru yang berada di golongan IV/b hanya 0,87 persen (22.620 guru), golongan IV/c sekitar 0,07 persen (1.820 guru), dan golongan IV/d sekitar 0,02 persen (520 guru). Jarangnya guru membuat karya tulis ilmiah dan karya penelitian menjadi salah satu penyebabnya (halaman 15).


Lewat buku ini, guru didorong untuk mentradisikan laku menulis. Bukankah guru memiliki ilmu, gagasan, pemikiran, aspirasi, dan pengalaman yang bisa dituliskan? Apa yang dituliskan guru tentu bermakna bagi dunia pendidikan dan masyarakat. Menulis merupakan kemampuan yang perlu diasah oleh guru. Sebagaimana dikatakan Agus Sartono, Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Pendidikan Nasional, bahwa guru harus membiasakan dan mencontohkan peserta didik untuk menulis.

Mungkin guru memiliki hambatan internal yang bersifat psikologis sehingga enggan menulis. Perasaan tidak berbakat kerap menghinggapi benak guru, padahal menulis hanya membutuhkan tekad dan latihan. Mengutip almarhum Mochtar Lubis, faktor bakat dalam menulis itu hanya 10 persen, sedangkan faktor latihan dan tekad adalah 90 persen. Itu pun jika benar ada bakat dalam menulis. Guru juga hendaknya menghilangkan perasaan takut salah dan disepelekan tulisannya. Tak ada yang sia-sia dalam menulis. Jika ditemui kesalahan dalam menulis, itu bisa menjadi media belajar guru untuk menulis lebih baik. Peluang guru menulis sebenarnya besar. Guru bisa menulis artikel ilmiah populer di surat kabar, menulis artikel ilmiah untuk jurnal, menulis buku pengayaan siswa, dan lainnya. Ruang-ruang bagi guru menuangkan tulisan tak terbatas.


Dalam hal ini, penulis buku tampaknya mencoba merombak paradigma guru yang hanya puas sebagai konsumen. Para guru tampaknya belum mau dan mampu memberdayakan otak kreatifnya. Dengan kata lain, guru memosisikan dirinya sebagai pengguna dan pemanfaat dari tulisan-tulisan orang lain. Guru juga tak memiliki keinginan dan usaha guna bertukar pikiran atau berdialektika lewat tulisan. Boleh jadi bagaikan katak dalam tempurung, guru menutup diri dari pengalaman dan gagasan baru. Guru mengajar senantiasa monoton tanpa pengembangan karena enggan membaca dan memperkaya wawasan. Efeknya, guru tak memiliki bahan untuk menulis. Penulis buku mempertanyakan para guru yang malas menulis. Jika dikatakan guru memiliki kesibukan yang padat, apakah dalam 24 jam sehari benar-benar sibuk? Apakah tak bisa menyisihkan waktu selama 1-2 jam untuk sejenak merenung dan menulis? (halaman 101-110).


Dengan menulis, guru bisa meningkatkan karirnya. Lewat tulisan yang dibuat, guru turut berkontribusi bagi pengembangan dunia pendidikan. Bahkan, guru bisa mendidik khalayak luas, tak hanya di dalam kelas. Buku ini semoga bisa memotivasi guru membangun tradisi menulis.

HENDRA SUGIANTORO

Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

Perempuan, menulislah!

Oleh: HENDRA SUGIANTORO

Dimuat di Jagongan HARIAN JOGJA, Selasa, 21 Juni 2011

Kehadiran perempuan yang menggoreskan tulisan layaklah kita apresiasi. Di surat kabar ini, kita kerapkali menjumpai nama-nama penulis perempuan. Mereka telah menyampaikan pemikiran, gagasan, dan aspirasi. Lewat tulisan, mereka juga menyampaikan kritik, keluh kesah, dan tanggapan terhadap isu dan kebijakan yang tengah bergulir.

Kita tentu sangat mengharapkan perempuan-perempuan lainnya untuk turut menulis. Pada dasarnya, menulis merupakan potensi yang dimiliki siapa pun. Maka, perempuan tak perlu merasa tidak mampu menulis. Tulisan sederhana yang ditulis meskipun hanya setengah sampai satu halaman tetaplah berarti. Dengan menulis, suara perempuan akan bisa terdengar. Perempuan bisa menyampaikan apapun yang terdapat di benaknya. Apalagi saat ini begitu banyak ruang yang bisa digunakan perempuan untuk menulis. Tak hanya di media cetak, tapi juga bisa di media online.

Jika selama ini muncul keluhan kebijakan publik acapkali mengabaikan aspirasi perempuan, maka perempuan harus tampil di muka. Tak harus berkoar-koar di mimbar, tapi bisa lewat tulisan. Tulisan-tulisan itu akan membantu policy maker dalam upaya menggulirkan kebijakan publik yang aspiratif terhadap perempuan. Di sisi lain, tulisan-tulisan dari perempuan bisa mendokumentasikan isi dari pikiran perempuan.

Lewat tulisan, jiwa perempuan di setiap zaman bisa terbaca yang tentu bermanfaat dalam penulisan sejarah. Harus diakui jika sejarah perempuan amat minim dalam literatur. Dominasi laki-laki yang kerapkali kentara. Padahal, perempuan bukannya tidak berkiprah dan berperan dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara. Kiprah perempuan dalam kehidupan keluarga juga memiliki nilai. Jadi, perempuan perlulah menulis untuk mendokumentasi jejak dan kiprahnya. Tak perlu mengharapkan laki-laki menuliskan sejarah perempuan, tapi perempuanlah yang harus mengambil pena menuliskan sejarahnya sendiri. Wahai perempuan menulislah agar engkau semakin cantik. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO, Aktivis Pena Profetik Jogja

Guru, Marilah Menulis

Oleh: HENDRA SUGIANTORO Dimuat di Pustaka SKHK KEDAULATAN RAKYAT, Minggu, 19 Juni 2011

Judul Buku: Melejitkan Karir Guru Dengan Menulis Penulis : Sudaryanto Penerbit: LeutikaPrio, Yogyakarta Cetakan: I, April 2011 Tebal : x+119 halaman

Guru, marilah menulis. Itulah esensi yang disampaikan buku ini. Siapa pun guru sebenarnya memiliki potensi menulis, namun hanya belum teraktualisasikan. Maka, lewat buku ini, Sudaryanto sebagai penulis buku mencoba membangun motivasi sekaligus ingin menggiatkan budaya menulis di kalangan guru.

Untuk menulis, guru membutuhkan “3B”, yakni berani, biasa, dan bisa. Seorang guru harus berani menulis apa yang menjadi ide atau gagasannya. Ia juga harus biasa membaca buku, menulis buku harian, dan peka terhadap kondisi atas dirinya dan sekitarnya. Kelak semuanya itu akan mengantarkan seorang guru bisa menulis karya-karya yang bermanfaat bagi dirinya serta orang lain (hlm. 9). Sudaryanto, guru di salah satu lembaga pendidikan menengah di kota Yogyakarta, ini juga menceritakan pengalamannya melakukan aktivitas menulis.

Pada dasarnya, pemerintah telah mendorong para guru mau dan mampu menulis. Lihat saja pada salah satu poin dalam Kode Etik Guru dan juga Peraturan Menteri PAN No. 16/2009 tentang Jabatan Fungsional Guru serta Bagian Reformasi. Menulis tak bisa dielakkan sebagai tuntutan profesi guru. Namun, dari data yang ada, para guru yang aktif menulis tidaklah banyak. Guru yang bergolongan IV/a jumlahnya lebih banyak daripada guru bergolongan IV/b, IV/c atau IV/d. Mengapa? Sebab, kenaikan golongan guru, dari IV/a ke IV/b mensyaratkan karya tulis ilmiah berupa artikel ilmiah populer, makalah, buku, diktat, modul maupun karya penelitian. Para guru tentu harus terampil menulis demi pengembangan potensi dirinya selaku pengajar (hlm. 15).

Tanpa mengejar kenaikan golongan pun, guru memang perlu menulis. Lewat menulis, guru menyampaikan aspirasi dan berbagi ilmu, wawasan, pengalaman maupun lainnya. Ada banyak yang bisa dituliskan guru. Buku ini menjelaskan seluk-beluk menulis artikel ilmiah populer, menulis artikel ilmiah jurnal, menulis makalah seminar, menulis buku pengayaan siswa, dan perihal penulisan karya tulis ilmiah guru versi Tim Penilai Penetapan Angka Kredit (PAK) Kemendiknas RI. Di tengah kelebihan dan kekurangan buku ini, guru bisa mengambil pelajaran dan motivasi.

HENDRA SUGIANTORO, Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta