Plagiarisme, Sebuah Pelanggaran!

Oleh: HENDRA SUGIANTORO Dimuat di Pustaka SKH KEDAULATAN RAKYAT, Minggu 18 Desember 2011

Judul Buku: Plagiarisme: Pelanggaran Hak Cipta dan Etika Penulis: Dr. Henry Soelistyo, SH. LL.M Penerbit: Kanisius, Yogyakarta Cetakan: I, 2011 Tebal: 308 halaman

Kasus plagiarisme kerapkali mencuat. Untuk memahami seluk-beluk plagiarisme, buku karya Henry Soelistyo ini bisa dijadikan pegangan. Doktor Hukum UGM yang terlibat tekun dalam bidang hak kekayaan intelektual ini mengupas secara mendalam persoalan plagiarisme dikaitkan dengan aspek hukum dan etika. Berbagai pengertian plagiarisme dijabarkan untuk memberikan titik tegas perilaku menyimpang ini.

Dari tipe-tipenya, plagiarisme bisa meliputi plagiarisme ide (plagiarism of ideas), plagiarisme kata demi kata (word for word plagiarism), plagiarisme atas sumber (plagiarism of source), dan plagiarisme kepengarangan (plagiarism of authorship). Dipaparkan penulis buku, dalam kaitannya dengan karya tulis, bentuk plagiarisme yang relevan adalah tipe plagiarisme kata demi kata dan plagiarisme atas sumber. Maksud dari plagiarisme kata demi kata adalah mengutip karya orang lain secara kata demi kata tanpa menyebutkan sumbernya. Plagiarisme atas sumber adalah tidak menyebutkan referensi yang dirujuk dalam kutipan secara lengkap. Apakah penulis yang mempublikasikan satu tulisannya di banyak media massa bisa dianggap sebagai plagiarisme? Hal tersebut dapat disimak dalam penjelasan tentang self plagiarisme.

Plagiarisme sebagai ketidakjujuran pastinya menyalahi etika. Menurut penulis buku, plagiarisme juga merupakan pelanggaran UU Hak Cipta yang sepatutnya mendapatkan sanksi hukum yang sepantasnya. Tindak pelanggaran Hak Cipta lebih menyangkut pelanggaran Hak Moral yang berdimensi etika. Dalam buku ini, konsepsi perlindungan hak cipta di Indonesia dan Peraturan Mendiknas No. 17/2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi coba dijelaskan. Penulis buku juga memaparkan langkah-langkah teknis dan akademis mencegah plagiarisme. Pencegahan dan penanggulangan plagiarisme tentu tak hanya di perguruan tinggi, tetapi juga di lingkup lainnya. Siapa bisa menjamin plagiarisme tak terjadi di instansi pemerintahan? Bahkan, sebagian guru juga disinyalir melakukan tindakan plagiat demi menunjang karirnya. Banyak pelajaran bisa diperoleh lewat buku ini untuk mengedepankan etika dalam menciptakan karya tulis.

HENDRA SUGIANTORO

Mohammad Natsir dalam Jejak Pena

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Horizon RADAR SURABAYA, Minggu 18 Desember 2011

Natsara artinya penulis kalam atau bertaburan. Konon kata “Natsir” berasal dari kata itu. Dengan diberi nama Natsir, ada harapan tersirat agar anak dari rahim Khadijah ini bisa menjadi seorang penulis yang bertaburan hasil karyanya. Dalam konteks lebih luas, Mohammad Natsir (1908-1993) diharapkan juga bertabur jasanya bagi bangsa dan agama. Benarkah maksud dari pemberian nama Natsir itu? Idris Sutan Saripado, ayah Mohammad Natsir, tentu yang lebih tahu. Atau tanyakan ke Khadijah, ibu yang melahirkan Mohammad Natsir.

Mohammad Natsir tidak hanya dilahirkan sejarah, tetapi juga melahirkan sejarah. Sepanjang usia hidupnya, kiprah Mohammad Natsir tak hanya dalam satu bidang. Ia adalah seorang pejuang, pendidik, politisi, dan juru dakwah. Banyak hal bisa dibahas untuk membicarakan Mohammad Natsir. Dalam tulisan ini, kiprah beliau dalam kancah jurnalistik dan kepenulisan sedikit banyak akan coba diuraikan.

Mohammad Natsir mulai menulis tentunya ketika telah mampu menulis. Kemampuan menulis Mohammad Natsir tidak dimungkiri terus meningkat kualitasnya beriringan dengan akses belajar dan bangku pendidikan yang ditempuhnya. Jika benar Mohammad als Profeet (1929) yang ditulis dalam bahasa Belanda merupakan karya pertama beliau dalam bentuk buku, maka Mohammad Natsir telah menghasilkan buku pada usia sekitar 21 tahun.

Mohammad Natsir telah menghasilkan begitu banyak tulisan. Ketika berkecimpung di organisasi Persatuan Islam (Persis), beliau telah menulis dalam majalah Persis Pembela Islam. Pernah ketika mengenyam pendidikan di Algemene Middlebare School (AMS) Bandung, beliau menulis dengan analisis tajam soal pabrik tebu kolonial. Tugas dari sekolah itu boleh jadi tulisan ilmiah-akademis pertama Mohammad Natsir.

Pada dasarnya, jejak kepenulisan Mohammad Natsir dalam surat kabar-surat kabar di zamannya begitu banyak. Tak hanya di Pembela Islam, beliau juga turut menulis di Pedoman Masyarakat, Pandji Islam, Al-Manar, dan sebagainya. Pemimpin Pandji Islam dan Al-Manaar, ZA Ahmad, pernah berujar, “Tulisannya (baca: Mohammad Natsir) yang berisi dan mendalam dengan susunan yang berirama dan menarik hati, sangatlah memikat perhatian para pembaca. Bukan saja karena kata-katanya yang terpilih, yang disusun menurut caranya yang tersendiri itu, melainkan karena lebih utama lagi karena isinya yang bernas mengenai soal-soal sosial, ekonomi, dan politik yang menjadi kebutuhan bangsa kita pada waktu itu. Semuanya dijiwainya dengan semangat dan ideologi Islam yang menjadi pegangan hidupnya.”

Disebutkan di atas bahwa Mohammad als Profeet merupakan karya pertama Mohammad Natsir dalam bentuk buku dengan menggunakan bahasa Belanda. Adapun Cultuur Islam (1934) merupakan buku pertama beliau dalam bahasa Indonesia.

Mohammad Natsir dalam jejak kepenulisannya pernah berpolemik dengan Soekarno. Polemik ini tidak terlepas dari kondisi pergerakan nasional saat itu yang seolah-olah membelah dalam dua kubu: Islam dan nasionalisme sekuler. Awalnya Soekarno berpolemik dengan Haji Agus Salim sejak tahun 1920-an. Sampai akhirnya Mohammad Natsir turut masuk dalam perdebatan tersebut. Yang perlu dicatat, Soekarno juga mempublikasikan tulisannya lewat surat kabar Islam, seperti Pandji Islam. Soekarno dan Mohammad Natsir berbicara tentang Islam dengan konsepnya masing-masing. Tulisan-tulisan Soekarno antara lain berjudul Memudahkan Pengertian Islam, Apa Sebab Turki Memisahkan Agama dari Negara, dan ‘Masjarakat Onta’ dan ‘Masjarakat Kapal-udara’.

Tulisan-tulisan Soekarno mencemaskan dalam pandangan Natsir. Menanggapi tulisan Soekarno, Mohammad Natsir menulis dengan judul, antara lain Tjinta Agama dan Tanah Air, Ichwanu’ Shafaa, Rasionalisme dalam Islam, Islam dan Akal Merdeka, dan Persatuan Agama dengan Negara. Saat Indonesia merdeka, Mohammad Natsir terus aktif menulis di pelbagai surat kabar. Majalah Abadi, Hikmah, Media Dakwah, dan Suara Masjid adalah surat kabar yang pernah mempublikasikan tulisan beliau. Buku-buku beliau berjumlah puluhan, seperti Capita Selekta I dan II (1955), Di Bawah Naungan Risalah (1971), Fiqh ad-Dakwah (1981), Dunia Islam dari Masa ke Masa (1982), dan beberapa lainnya.

Apa yang dipaparkan di atas hanyalah sekelumit jejak kepenulisan Mohammad Natsir. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO, pegiat Pena Profetik, tinggal di Yogyakarta

Guru BK Bukan Polisi Sekolah

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa KORAN MERAPI, Selasa 13 Desember 2011

Fakta di lapangan, keberadaan Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah identik dengan masalah yang dihadapi siswa. Banyak siswa yang dianggap bermasalah diarahkan ke guru BK atau biasa disebut konselor untuk ditangani. Hal ini tidaklah salah, namun juga tak terlalu tepat. Ada kecenderungan guru BK ibarat polisi sekolah yang tugasnya menghukumi siswa bermasalah. Bahkan, siswa merasa tak nyaman berhubungan dengan guru BK, karena malu dan takut dianggap bermasalah oleh siswa-siswa lainnya. Seperti itukah wajah BK di sekolah?

Kenyataan tak dimungkiri apabila siswa kerapkali menjumpai masalah dalam kehidupannya. Masalah itu bisa berupa masalah pribadi, sosial, karir, pendidikan, dan lain sebagainya. Pada titik ini, ada individu siswa yang bisa mengatasi masalahnya tanpa intervensi pihak lain. Di sisi lain, ada individu siswa yang membutuhkan intervensi pihak lain untuk menyelesaikan masalahnya.

Terkait perlunya intervensi pihak lain dalam upaya mengatasi masalah individu siswa, keberadaan BK di sekolah menemukan fungsi dan perannya. BK, papar Eti Nurhayati (2011), adalah ilmu pengetahuan, seni, sekaligus sarana untuk menolong manusia yang sedang membutuhkan pertolongan dari masalah yang sedang dihadapi atau dari masalah yang kemungkinan akan dihadapinya. Artinya, BK memang berupaya membantu individu siswa mengatasi masalahnya, namun BK juga berfungsi melakukan usaha preventif agar individu siswa terhindar dari masalah.

Menurut Dedi Supriadi (2004: 209-210), ada beberapa alasan mengenai pentingnya layanan BK di sekolah. Pertama, perbedaan antara individu. Setiap siswa mempunyai perbedaan antara satu dengan lainnya, di samping persamaannya. Perbedaan menyangkut kapasitas intelektual, keterampilan (skills), motivasi, persepsi, sikap, kemampuan, minat, dan lain-lain. Kedua, siswa-siswa menghadapi masalah-masalah dalam pendidikan. Masalah-masalah tersebut bisa masalah-masalah pribadi, hubungan dengan orang lain (guru, teman), masalah kesulitan belajar, dan lain-lain. Dalam penyelesaiannya seringkali tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan memerlukan bantuan orang lain untuk berdialog. Orang lain maksudnya adalah orang yang mau mengerti diri siswa dan mengetahui cara penyelesaiannya. Dalam setting sekolah, konselor adalah orang yang dituntut untuk dapat memberikan bantuan tersebut.

Ketiga, masalah belajar. Siswa datang ke sekolah dengan harapan agar bisa mengikuti pendidikan dengan baik. Tidak selamanya demikian. Ada berbagai masalah yang mereka hadapi, bersumber dari stress karena tugas-tugas, ketidakmampuan mengerjakan tugas, keinginan untuk bekerja sebaik-baiknya tetapi tidak mampu, ingat kepada keluarga (homesick), persaingan dengan teman, kemampuan dasar intelektual yang kurang, motivasi belajar yang lemah, dan lain-lain. Masalah-masalah tersebut tidak selalu diselesaikan dalam setting belajar-mengajar di kelas, melainkan memerlukan pelayanan secara khusus oleh konselor melalui konsultasi pribadi.

Ditinjau lebih jauh, banyak hal yang sebenarnya perlu digarap guru BK di sekolah. Pembentukan konsep diri siswa perlu dilakukan. Bagaimana pun, perbedaan-perbedaan individu (individual differences) antara siswa satu dengan siswa yang lain tak terhindarkan. Siswa dengan konsep diri yang baik dapat menerima kelebihan dan kekurangan dirinya. Adakanya siswa merasa rendah diri dengan bentuk fisik atau faktor lainnya, sehingga menghambat pencapaian tujuan belajarnya. Melihat nilai mata pelajarannya rendah dibandingkan siswa-siswa lainnya, ada siswa yang patah semangat dan kehilangan motivasi sehingga malas berangkat ke sekolah. Guru BK berkepentingan membangun konsep diri siswa, sehingga tak menyebabkan siswa memiliki masalah di kemudian hari. Jika siswa memiliki masalah, guru BK melakukan upaya identifikasi untuk membantu siswa menyelesaikan masalahnya secara tepat.

Tak bisa dimungkiri apabila persoalan-persoalan siswa cukup kompleks. Masalah yang dialami siswa memiliki kompleksitas tersendiri yang tak mungkin dihadapi dengan metode yang sama. Siswa bukan individu yang terpisah dari lingkungan. Permasalahan siswa dimungkinkan akibat faktor lingkungan, seperti lingkungan teman sebaya, keluarga, dan masyarakat. Terpaan arus informasi dan media massa yang kurang positif juga berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian siswa. Maka, tantangan yang dihadapi guru BK tidaklah ringan. Kasus kenakalan siswa seperti penggunaan obat-obatan terlarang dan perilaku seks bebas perlu juga mendapatkan fokus tersendiri oleh guru BK di sekolah.

Terkait stigma guru BK sebagai polisi sekolah dimungkinkan akibat keberadaan guru BK di sekolah yang tidak diberikan tugas sebagaimana fungsinya. Hal ini karena kekurangpahaman pihak sekolah atau kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan terkait fungsi BK di sekolah. Di sisi lain, wajah cerah guru BK bukannya tak ada. Ada sekolah yang mengalokasikan jam khusus bagi guru BK untuk memberikan layanan kepada siswa secara klasikal di kelas. Di sekolah, ruangan BK semestinya representatif untuk pelaksanan tugas guru BK. Interaksi guru BK dengan siswa selayaknya bersahabat, sehingga siswa merasakan kenyamanan berkomunikasi atau mengungkapkan masalahnya. Kompetensi dan profesionalisme guru BK perlu ditingkatkan agar dapat melaksanakan layanan secara baik.

Sebagai bagian dari penyelenggaraan pendidikan di sekolah, BK memiliki peranan penting. BK bertujuan membantu siswa mengenal dan memahami dirinya, menerima dan mengarahkan dirinya, dan dapat mengaktualisasikan dirinya sesuai potensi dan kemampuan objektifnya. Guru BK bisa memprogramkan layanan untuk membangun motivasi dan kepercayaan diri siswa dalam mewujudkan keberhasilan meraih cita-citanya. Kondisi siswa yang telah baik perlu juga dipelihara dan dijaga, bahkan dikembangkan lebih baik lagi. Dengan layanan BK di sekolah, siswa harapannya dapat menemukan makna dalam dirinya sebagai individu manusia yang berharga untuk menjalankan kehidupan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO, pemerhati pendidikan pada Universitas PGRI Yogyakarta

Perempuan dengan Jantung Berkatup Platina

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Pustaka SKH KEDAULATAN RAKYAT, Minggu
4 Desember 2011

Judul Buku: Hingga Detak Jantungku Berhenti Penulis: Nurul F. Huda Penerbit: Jendela, Jakarta Cetakan: I, 2011 Tebal: 272 halaman

Buku ini menarik disimak. Nurul F. Huda mengisahkan sendiri jalan hidupnya yang harus menderita penyakit kelainan jantung. Perempuan yang pernah kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menerima kelainan jantungnya sebagai ujian dari Sang Maha Kuasa. Jika awalnya ia mempertanyakan nasibnya, itu manusiawi. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mampu ikhlas dan memantapkan kesabaran. Ia tegar dan tabah menghadapi kelainan jantungnya sejak kelas 5 SD. Perawatan medis dan ikhtiar pengobatan pun dilakukan. Kedua orangtuanya telah menjadi sosok yang mendorong dan menguatkan dirinya.

Perempuan yang lahir di Purworejo, Jawa Tengah, ini bisa dikatakan sebagai salah satu dari banyak perempuan yang tak sudi menyerah dan putus asa. Ia jalani takdir hidupnya dengan penerimaan total. Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta menjadi salah satu saksi pemeriksaan penyakitnya. Saat duduk di kelas 2 SMP, ia akhirnya menjalani operasi di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta. Katup jantungnya yang bermasalah diganti dengan katup platina.

Membaca buku ini, rasa haru mungkin kita rasakan. Lebih dari itu, kita bisa menyaksikan arti dari perjuangan hidup yang sesungguhnya. Meskipun kondisi fisik tak lagi normal, Nurul F. Huda tetap menjalankan aktivitas dan berkehendak kuat memberikan kontribusi bagi kehidupan. Studinya berjalan lancar, kegiatan di kampus maupun sosial tetap ia lakukan. Ia menikah dan memiliki dua anak. Dengan kelainan jantung yang dihadapi, ia berhasil melahirkan kedua anaknya dalam keadaan normal.

Nurul F. Huda merupakan seorang penulis yang produktif berkarya. Buku yang ditulisnya ada puluhan lebih. Pada 18 Mei 2011, Allah SWT telah memanggilnya. Di Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta, Allah SWT telah menghentikan detak jantungnya. Membaca buku ini, semoga kita bisa mensyukuri seperti apapun kesehatan dan fisik kita dengan tetap berkarya dalam bingkai kebaikan.
HENDRA SUGIANTORO
Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

Mahasiswa dan Kemandirian Belajar

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Kampus SUARA MERDEKA, Sabtu, 26 November 2011

MAHASISWA yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi tentu memiliki potensi dan kemampuan masing-masing. Perbedaan individu mahasiswa bisa berkaitan dengan kapasitas intelektual.

Di tengah perbedaan kapasitas intelektual, mahasiswa tetap dituntut dapat meraih capaian belajar secara optimal dan maksimal. Kewajiban belajar bagi seorang mahasiswa merupakan harga mati. Ketika memilih jurusan dan program studi, mahasiswa diasumsikan telah memiliki minat dan motivasi untuk bergelut pada disiplin ilmu yang dipilihnya.

Persoalan yang terjadi, mahasiswa kerapkali kehilangan etos belajar saat menemui kesulitan memahami mata kuliah tertentu. Kemampuan belajar dan memahami materi mata kuliah berbeda antara satu mahasiswa dengan mahasiswa lainnya. Menghadapi kondisi tersebut, jalan pintas seringkali menjadi solusi, seperti copy paste tugas kuliah dan menyontek saat ujian close book. Pertanyaannya, apakah ketidakmampuan mahasiswa mempelajari mata kuliah tertentu merupakan permakluman dengan dalih perbedaan kemampuan individu?

Mahasiswa yang umumnya telah berusia sekitar 18 tahun dikategorikan sebagai individu dewasa. Perilaku belajar selayaknya bukan lagi karena tuntutan akademik, tetapi kebutuhan untuk mengembangkan diri. Bagi mahasiswa, kemandirian belajar merupakan keniscayaan. Menurut Mujiman (dalam Eti Nurhayati: 2011), kemandirian belajar adalah kegiatan belajar aktif yang didorong oleh niat atau motif untuk menguasai suatu kompetensi guna mengatasi suatu masalah, dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang dimiliki, baik dalam menetapkan waktu belajar, tempat belajar, irama belajar, tempo belajar, cara belajar maupun evaluasi belajar yang dilakukan oleh pembelajar sendiri.

Kemampuan Belajar

Untuk mencapai kemandirian belajar, mahasiswa dituntut dapat memahami dirinya, menerima dirinya, mengarahkan dirinya, dan mengaktualisasikan dirinya.

Artinya, mahasiswa perlu memahami kemampuan belajarnya, baik kelebihan maupun kekurangannya. Mahasiswa pun menerimanya sebagai kenyataan objektif.

Kekurangannya dalam kemampuan belajar perlu dicarikan pemecahan. Dalam hal ini, mahasiswa bisa mengarahkan dirinya agar kekurangannya itu tidak berdampak pada rendahnya prestasi belajar. Kelebihan yang dimiliki seyogianya terus dijaga agar tidak mengalami kemandulan.

Pada dasarnya, pemahaman terkait kemampuan belajar begitu penting. Ada mahasiswa yang langsung memahami apa yang diterangkan dosen di depan kelas, tetapi ada juga yang lambat memahami. Ketika membaca dan mengkaji buku teks ada mahasiswa yang cepat mengerti, namun ada mahasiswa yang perlu membaca berulang-ulang agar menemukan makna dari yang dibaca.

Dengan tujuan menguasai suatu kompetensi dari mata kuliah, mahasiswa mau tidak mau harus membangun konsep belajarnya secara mandiri. Dengan memahami kemampuan belajar, mahasiswa bisa merumuskan cara belajar. Masing-masing mahasiswa dimungkinkan berbeda cara belajarnya, termasuk terkait dengan penentuan waktu belajar, tempat belajar, irama belajar, dan tempo belajar.

Kesulitan dalam memahami materi mata kuliah bukanlah alasan untuk menyerah dan putus asa. Motivasi sangat penting untuk menumbuhkan etos belajar. Kesulitan-kesulitan dalam belajar selayaknya tidak mematahkan arang untuk terus menguasai mata kuliah yang diajarkan.

Mahasiswa yang memiliki kapasitas biasa-biasa saja bisa melebihi mahasiswa yang berkapasitas lebih apabila tekun belajar dan memiliki konsep belajar yang jelas. Justru di tengah kesulitan belajar ada kekuatan tersembunyi yang bisa meledak apabila mahasiswa memiliki etos belajar tinggi, sehingga menciptakan capaian-capaian luar biasa dalam belajar.

Kemandirian belajar bukan berarti berperilaku individualistik. Belajar bersama dengan mahasiswa lainnya dalam kelompok-kelompok studi perlu juga dilakukan. Sesungguhnya mahasiswa mengemban status ‘’maha’’ yang selayaknya memiliki kapasitas keilmuan yang lebih. (24)

Hendra Sugiantoro

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/11/26/167780/Kemandirian-Belajar


Menyambut Hari Guru Nasional: Menguatkan Panggilan Jiwa

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuar di Opini RADAR JOGJA, Jum'at, 25 November 2011

TENTU tidak berlebihan jika dikatakan masa depan anak-anak berada di pundak guru. Anak-anak yang sedang tumbuh berkembang bisa diarahkan kemana pun oleh guru yang mengajar dan mendidik di sekolah. Peran guru dalam memberikan jalan hidup bagi anak-anak tentu saja menegaskan sebuah makna yang tak sederhana. Guru tidak sekadar masuk kelas dan mengajar, tetapi juga dituntut mampu memberikan cahaya bagi anak-anaknya untuk bersinar di hari depan.

Untuk melihat sosok guru, kita bisa menyimak sosok guru Bu Muslimah dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Bu Muslimah menjadi guru karena panggilan jiwa. Tak menjadi soal berapa materi yang didapatkan dengan mengajar di sebuah sekolah reot SD Muhammadiyah Gantong, Belitong. Dengan jumlah murid yang tak sesuai dengan jumlah ideal dalam satu kelas, Bu Muslimah tetap menunjukkan spirit guru yang mengajar, mengarahkan, membimbing, dan mendidik. Karena panggilan jiwa, Bu Muslimah tidak memiliki pikiran selintas pun untuk pindah sekolah yang lebih menjanjikan. Bu Muslimah mampu memotivasi sepuluh anak dalam Laskar Pelangi, melihat potensi-potensi mereka untuk dijadikan energi keberhasilan.

Menjadi guru dengan penuh pengabdian memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Di seantero Indonesia ini, sosok guru seperti Bu Muslimah sebenarnya tidaklah sedikit. Masih banyak sosok lain di luar Bu Muslimah yang memiliki pengabdian luar biasa. Di pulau-pulau terpencil, di sudut-sudut desa, ataupun pelosok jauh tak terjangkau mata, sosok guru yang memiliki pengabdian dan menjadi guru karena panggilan jiwa boleh jadi tidak pernah kita bayangkan sedikit pun.

Disadari atau tidak, kehadiran guru dalam pendidikan anak-anak melampaui pentingnya penggunaan internet yang saat ini sudah mewabah hingga masuk sekolah. Anak-anak sebagai manusia memerlukan pendekatan manusiawi oleh sosok guru yang tidak bisa digantikan oleh benda apapun. Maka, tidak salah jika guru dalam leksikon Jawa diakronimkan dengan ungkapan “digugu lan ditiru”. Guru harapannya bisa dipegang kebenaran kata dan bisa diteladani perilakunya. Dari guru, anak-anak didik belajar akan makna hidup, motivasi, semangat, dan mentalitas. Gurulah yang melahirkan sosok-sosok besar yang berpikir dan bertindak besar dalam kehidupan. Kesadaran itulah yang mengilhami KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari mendirikan lembaga pendidikan khasnya. Saat ditahan di Bengkulu, Soekarno mengajari anak-anak sejumlah pelajaran dari berhitung sampai bahasa Indonesia. Pernah juga Jendral Soedirman menjadi guru dan kepala sekolah di SD Muhammadiyah di Cilacap sebelum bergabung dengan Pembela Tanah Air (Peta). Selain mereka, masih banyak tokoh-tokoh bangsa yang merelakan hidup sebagai guru demi terlahirnya anak-anak bangsa yang bernurani, cendekia, sekaligus memiliki kemandirian dan kemerdekaan.

Pilihan hidup menjadi seorang guru tentu tak sekadar materi yang ingin didapatkan. Guru bukanlah politisi yang terus berburu popularitas atau mencari status sosial terhormat di masyarakat. Menjadi guru adalah panggilan jiwa untuk mewujudkan peradaban yang bermartabat. Melalui tangan-tangan guru, anak-anak bangsa tumbuh menjadi manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Guru adalah sosok yang memainkan peran untuk memanusiakan manusia muda dan mengangkat manusia muda ke taraf insani—meminjam Driyarkara. Motivasi dan tujuan luhur inilah yang seyogianya mendasari siapa pun ketika membulatkan tekad dan langkah menjadi guru.

Pungkasnya, menjadi guru adalah panggilan jiwa. Menjadi guru adalah jalan juang yang menyimpan kemuliaan. Di tangan guru, eksistensi bangsa dan negara dipertaruhkan. Menjadi guru adalah sebuah bentuk keberanian untuk membawa anak-anak bangsa menuju cita-cita. Menjadi guru adalah sebuah bentuk pengorbanan demi terlahirnya manusia Indonesia yang kuasa belajar dari masa lalu, berinteraksi dengan masa kini, dan mampu beradaptasi dengan masa depan. Tegasnya, menjadi guru adalah kemuliaan untuk tidak meninggalkan generasi lemah di negeri yang kita cintai ini. Maka, sebuah keniscayaan jika saatnya menjadi guru karena panggilan jiwa. Guru yang tulus mengabdi tanpa henti. Guru yang memang layak disebut pahlawan karena berharap ridha dan pahala Tuhan. Setelah itu, pahlawan tak ada salahnya diberi “tanda jasa” oleh pemerintah yang turut bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anak bangsa. Selamat Hari Guru, 25 November. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO


Pemuda dan Etos Kerja

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan HARIAN JOGJA, Kamis 10 November 2011

Kenyataan tak dimungkiri jika ada sebagian pemuda justru bangga menjadi “pengacara” (pengangguran banyak acara). Pemuda luntang-luntung kesana-kemari tak jelas peran dan karyanya. Kadangkala sehari-hari hanya disibukkan dengan nongkrong tak ada manfaat. Pada dasarnya, nongkrong bukan menjadi masalah jika bermaksud positif, seperti nongkrong untuk berdiskusi dan belajar atau hal positif lainnya. Namun, nongkrong sebagaimana sering terjadi justru pemborosan uang dan waktu. Ada pemuda yang menghabiskan sebungkus-dua bungkus rokok dan minuman sembari “menikmati malam” dan esok harinya tidur sampai siang. Untuk urusan uang, pemuda tanpa pernah rikuh selalu meminta uang orangtuanya.

Fenomena
adanya pemuda yang menganggur memang terjadi di sekitar kita. Yang menjadi persoalan adalah minimnya semangat pemuda untuk bekerja apa saja asalkan halal. Kadangkala ada pemuda yang merasa gengsi jika bekerja hanya ala kadarnya. Jika bekerja, maka harus “ngantor” atau “tidak berkeringat”. Padahal, pekerjaan selalu ada apabila pemuda memiliki kemauan dan kreativitas. Daripada terus-menerus bergantung kepada orang tua, bekerja serabutan tak menjadi masalah. Yang juga membuat miris, ada pemuda yang masih saja tak mau membantu pekerjaan orangtuanya. Jika diminta membantu pekerjaan orangtua, pemuda aras-arasen, seperti menjaga warung, membantu pekerjaan bengkel, dan pekerjaan orangtua lainnya. Padahal, membantu pekerjaan orangtua bisa menambah pengalaman yang tentunya berharga.

Pada titik ini, sekiranya penting membangun budaya dan etos kerja para pemuda. Pemuda harus memiliki budaya dan etos kerja yang tinggi
, sehingga tertantang untuk memiliki kemampuan usaha dan menafkahi dirinya. Pemuda perlu mewajibkan dirinya untuk mandiri secara ekonomi. Semangat dan etos kewirausahaan menjadi urgen, sehingga pemuda tak menambah persoalan sosial. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Universitas PGRI Jogjakarta

Keberhasilan Milik Siapa pun

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa KORAN MERAPI, Selasa, 8 November 2011

Jalan hidup masing-masing diri kita tak selamanya mulus. Tak ada di antara kita yang sempurna. Setiap diri kita memiliki kelebihan dan kekurangan. Ujian dan cobaan dalam kehidupan merupakan keniscayaan. Namun, tak banyak dari kita yang memaknai kehidupan secara cerdas. Kita yang selalu saja melihat kekurangan dan akhirnya rendah diri dalam menjalani kehidupan.

Kita juga mudah putus asa dan menyerah dengan pelbagai rintangan. Hambatan-hambatan yang menerpa menjadikan kita merasa tidak yakin akan jalan keberhasilan. Banyak dari kita yang berdalih pada takdir ketika hidup dalam kemiskinan dan keterpurukan, padahal belum mencurahkan usaha optimal. Lebih memilukan ketika kita miskin harapan dan cita-cita, sehingga hidup dibiarkan mengalir apa adanya.
Siapa pun tentu memiliki hak untuk menggapai keberhasilan hidup. Mungkin kita tak pernah membayangkan Thomas Alva Edison(1847-1931) bisa menjadi populer dan dikatakan berjasa sampai saat ini. Meskipun tidak menikmati pembelajaran di bangku sekolah secara tuntas karena dianggap amat bodoh, Edison memiliki mimpi besar. Mimpi dibarengi dengan ketekunan dan kerja keras akhirnya menghantarkan Edison menemukan lampu pijar yang membuat malam benderang. Kegagalan demi kegagalan dialami Edison sebelum penemuannya, namun ia tetap memiliki keteguhan prinsip untuk senantiasa berupaya. Konon ia berhasil menemukan bola lampu pada percobaannya yang ke-2.000!

Kesuksesan tentu tak hanya milik Thomas Alva Edison. S
iapa pun diri kita perlu mendekap keberhasilan hidup. Kita harus memiliki harapan dan cita-cita. Setiap diri kita harus bertindak dan bekerja keras membangun kehidupan. Potensi yang kita miliki pada dasarnya luar biasa. Allah SWT menciptakan kita sebagai manusia dibekali dengan potensi. Memang tak ada manusia yang sama dalam hal kemampuan, namun tidak ada satu manusia pun yang tak memiliki kemampuan. Apapun kemampuan itu perlu dikembangkan dan diaktualisasikan secara positif dalam kehidupan. Bahkan, keterbatasan bukan hambatan dan ganjalan untuk meraih kesuksesan. Masih ingatkah dengan kisah Helen Keller?

Helen Keller(1880-1968) bisa menjadi contoh luar biasa dari perjuangan seorang perempuan dengan keterbatasan fisik. Sejak berusia 19 bulan, ia mengalami kebutaan
, ketulian, dan kebisuan akibat suatu penyakit. Menghadapi kondisi seperti Helen Keller, apa yang kita bayangkan? Helen Keller pun menampakkan sisi manusiawi ketika harus berhadapan dengan kondisi yang tak diduganya. Ia merasa benci dengan kondisinya, marah, tak terima, dan semacamnya. Perempuan yang lahir pada 27 Juni 1880 di Tuscumbia, Amerika Serikat, itu akhirnya menemukan kehidupan kembali ketika datang seorang guru bernama Annie Sullivan. Saat usia Helen Keller menjelang 7 tahun, Annie Sullivan telah memulai langkah untuk membimbing, mengajar, dan memotivasi Helen Keller.

Perjalanan Helen Keller dengan gurunya telah menampakkan tanda bahwa siapa pun manusia memiliki potensi. Dengan keterbatasan fisik, Helen Keller bisa menempuh jenjang pendidikan tinggi di Radcliffe College dan lulus dengan predikat mengagumkan. Ia lulus dari perguruan tinggi khusus perempuan yang merupakan cabang dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, itu pada usia sekitar 24 tahun. Bahkan, Helen Keller konon sebagai perempuan buta-tuli-bisu pertama dalam sejarah yang berhasil menamatkan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi. Helen Keller memiliki riwayat
yang layak dikenang sampai akhir hayatnya. Ia telah menghasilkan karya tulis, termasuk menulis pengalaman hidupnya dalam The Story of My Life dan Midstream: My Later Life. Ia sempat berkeliling dunia untuk mengkampanyekan keadilan bagi warga dunia yang mengalami keterbatasan fisik. Bagi pendidikan anak-anak dengan keterbatasan fisik, ia juga beraktivitas untuk menghimpun dana.

Begitulah kisah Helen Keller. Bagi kita yang memiliki keterbatasan fisik
bukan berarti tidak memiliki potensi dahsyat. Perempuan buta, tuli, dan bisu seperti Helen Keller ternyata bisa lulus dari perguruan tinggi. Helen Keller juga bisa berbahasa berbagai bahasa, seperti Perancis, Jerman, dan Yunani. Keberhasilan milik siapa pun yang mau berusaha dan bekerja keras tanpa peduli kondisi fisik yang dimiliki. Keberhasilan adalah konsekuensi logis dari perjuangan yang kita lakukan. Justru perjuangan akan menampakkan makna berbeda pada individu-individu yang berada dalam keterbatasan. Kita yang diberi kelengkapan fisik tentu harus malu apabila tak mampu mengembangkan diri dan berkontribusi bagi kehidupan. Kita perlu terus berusaha dan memanjangkan doa kepada Sang Pencipta.

Meminjam istilah
Pariman Siregar(2009), kesuksesan hidup tak lagi menjadi hak (success is right), tetapi sebuah keharusan (success isn’t a right but it’s a must). Pelajar, mahasiswa, tukang becak, pedagang di pasar, tukang bakso, pekerja kantor, ibu rumah tangga, guru di sekolah, dan siapa pun kita harus menjemput kesuksesan. Siapa pun kita hanya dituntut untuk terus berpikir, berjuang, dan berkarya dengan sebenar-benarnya. Bukankah tak ada orang yang mengetahui takdirnya sebelum benar-benar terjadi? Takdir keberhasilan hidup milik siapa pun.

Dalam meraih keberhasilan, kita tentu harus mencintai proses. Kita bisa belajar dari pohon bambu yang menjulang ke atas setelah sekian lama menguatkan akarnya ke tanah. Pertumbuhan pohon bambu tak datang seketika pada tahun-tahun awal. Namun, lihatlah pohon bambu meliuk diterpa angin dan tetap tertancap kokoh. Maka, kesuksesan tak perlu ditempuh dengan mengambil jalan pintas atau menghalalkan cara salah. Kesuksesan kita akan bertahan kokoh ketika kita bersedia mencintai proses meskipun terhadang kesulitan. Kini saatnya kita menjemput kesuksesan. Bahkan, untuk meraih kesuksesan itu, kita harus bangun lebih cepat, bekerja lebih giat, berpikir lebih keras, bergerak lebih tangkas dari biasanya manusia-manusia lain lakukan. Dan, kesuksesan kita harus memberikan hal yang bermanfaat bagi kehidupan. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute Yogyakarta

Wajah Perbudakan di Deli

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Resensi Media MAJALAH PEWARA DINAMIKA UNY, Edisi Oktober 2011

Judul Buku: Berjuta-juta dari Deli: Satoe Hikajat Koeli Contract Penulis: Emil W. Aulia Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Cetakan: I, 2006 Tebal: viii+261 halaman

Apapun alasannya, perbudakan tak bisa ditolerir. Begitu malangnya nasib rakyat yang diperas keringat, tenaga, bahkan darahnya demi kepentingan penjajah kapitalis. Dapat disimak dalam novel ini, manusia dianggap barang dagangan yang diperjualbelikan. Rakyat kecil ada yang ditipu dengan imajinasi pohon berdaun uang di tanah Deli. Mungkin karena keluguan dan malah kebodohan, rakyat kecil percaya saja.

Dikisahkan dalam novel, pelbagai perusahan yang mendatangkan manusia-manusia sebagai pekerja di perkebunan Deli menyebar agen-agennya. Rakyat kecil—terutama dari Pulau Jawa—menjadi sasaran untuk dijadikan kuli. Di awal novel ini diceritakan tentang agen itu yang mempengaruhi rakyat kecil dengan mulut manisnya. “Di Deli....Di Deli....pohon-pohonnya berdaun uang!” “Kerja kalian hanya mengurusi pohon-pohon itu. Kalau ada uang yang jatuh dari pohon, silakan ambil. Itu upah bagi kalian. Nah, semakin banyak pohon yang kalian urus, maka uang kalian akan semakin banyak. Dan kalian tahu, itu semua belum cukup. Setiap akhir bulan kalian juga akan mendapat upah yang besar. Nah, bagaimana? Hebat, bukan?”

Soal pohon berdaun uang itu pun menyebar dari mulut ke mulut. Rakyat yang miskin dan bodoh mudah percaya meskipun ada juga yang menyangsikan. Nalar jelas meragukan ada pohon bisa menjatuhkan uang, namun kepercayaan rakyat adalah fakta telanjang sebuah kebodohan. Pohon berdaun uang merupakan salah satu dari pelbagai muslihat mendatangkan kaum pekerja untuk menuju Deli. Ada pula yang dipaksa secara halus sampai akhirnya tersadar telah menjadi kuli kontrak. Di kantor emigrasi, rakyat yang tak cakap baca tulis hanya melongo membubuhkan cap jempol pada selembar surat kontrak yang sejatinya merugikan mereka.

Novel ini boleh jadi berhasil menyajikan kegetiran di tanah Deli. Manusia yang dijadikan kuli itu tak bebas menghirup kebebasan. Kekerasan menyeruak dalam pemaksaan kerja. Kondisi ketercekaman dan ketidakadilan di tanah Deli berangsur-angsur menjadi perhatian publik ketika tulisan berjudul Millioenen uit Deli terpublikasikan. Karya Mr. J. Van den Brand pada 1902 itu menyulut polemik, baik di negeri Belanda maupun di Hindia Belanda. Lewat novel ini, kekuatan tulisan tersebut dapat disimak. Ketidakadilan dan kekejaman di tanah Deli dibeberkan Van den Brand. Pejabat pemerintah dan pengusaha di tanah Deli berusaha membalikkan opini dengan menuduh Van den Brand melakukan fitnah dan kebohongan. Di negeri Belanda, fakta kebobrokan yang terjadi di Deli dijadikan amunisi kubu sosialis yang tergabung dalam Sociaal-Democratische Arbeiders Partij.

Perjuangan Van den Brand tak surut. Novel ini mengisahkan sepak terjangnya menguliti topeng pejabat pemerintah dan pengusaha yang telah berbuat zalim terhadap para pekerja di Deli. Baginya, keadilan harus ditegakkan—kalau perlu dikejar. Karena tulisannya yang menggemparkan itu, ia dikucilkan dalam pergaulan masyarakat Eropa di Deli. Ia pun pulang ke negeri Belanda untuk melakukan strategi politik dengan menjadi anggota Majelis Rendah, namun gagal terpilih. Tak kehabisan akal, ia terus melakukan perlawanan terhadap fakta penindasan. Millioenen uit Deli yang ditulisnya sedikit banyak mulai menampakkan perubahan di Deli. Ia juga menulis Nogs Een: Millioenen uit Deli sebagai tanggapan atas semua tuduhan dan polemik yang muncul akibat Millioenen uit Deli.

HENDRA SUGIANTORO, pembaca novel, tinggal di Yogyakarta

Bahasa Persatuan, Bukan Berbahasa Satu!

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Kiprah JOGJA RAYA, Sabtu 29 Oktober 2011
Bulan Oktober identik dengan bulan bahasa. Hal ini tidak terlepas dari sejarah Sumpah Pemuda pada tahun 1928 silam. Saat itu para pemuda dari berbagai daerah berkumpul untuk menyatukan pikiran dan sikap dalam Kongres Pemuda II di Jakarta (dulu Batavia). Selama dua hari, 27-28 Oktober 1928, para pemuda berhasil menghasilkan tiga rumusan penting yang menegaskan keindonesiaan.

Isi rumusan yang dikenal dengan Sumpah Pemuda itu tampaknya perlu diluruskan. Rumusan itu dalam perjalanan waktu ada yang mengotak-atik, khususnya dalam hal bahasa. Berikut teks Sumpah Pemuda:
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia/Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia/Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Coba perhatikan pada rumusan yang ketiga, “...menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”. Kita malah kerapkali mendengar perubahan teks itu menjadi,“...mengaku berbahasa satu, Bahasa Indonesia”. Pelajaran-pelajaran di jenjang pendidikan formal dan pengucapannya setiap kali pembacaan Sumpah Pemuda saat upacara bendera semakin menguatkan kekeliruan itu. Selama ini perubahan teks itu bukannya tanpa kritik dan koreksi, namun hanya dianggap angin lalu.
Padahal, perumusan Sumpah Pemuda yang dilakukan para pemuda pada tahun 1928 silam tidak asal-asalan, tetapi berdasarkan pemikiran matang. Bahasa Indonesia yang tercipta lewat perkembangan tahap demi tahap dari bahasa Melayu hendak dijadikan identitas kebangsaan dan bahasa nasional. Teks asli Sumpah Pemuda menegaskan makna bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan dengan menghargai bahasa-bahasa lainnya. Tidak ada dalam pikiran para pemuda peserta kongres pada tahun 1928 untuk meyatukan bahasa. Bahasa-bahasa daerah tetap memiliki posisi tersendiri sebagai bagian dari khazanah Indonesia yang bersuku-suku bangsa.

Menurut Ajip Rosidi (1977), rumusan Sumpah Pemuda 1928 merupakan sebuah rumusan yang paling bijaksana. Apabila rumusan “Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbahasa satu, Bahasa Indonesia” yang ditawarkan, maka bukanlah persatuan Indonesia yang akan tercapai, tetapi malah sebaliknya. Fakta di lapangan, bahasa yang paling banyak penggunanya ketika itu justru bahasa Jawa. Bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia belum kuat kedudukannya meskipun telah lama digunakan sebagai bahasa pergaulan (lingua franca) di seluruh kepulaaan Nusantara.

Berpikir jernih, ada kearifan yang ditunjukkan para pemuda peserta kongres pada tahun 1928. Kita tidak bisa membayangkan apabila perwakilan dari Jong Java memaksakan bahasa Jawa sebagai bahasa nasional dengan alasan masyarakat penggunanya paling banyak. Pengguna bahasa Sunda pun bisa memiliki alasan serupa karena pengguna bahasa Sunda konon yang terbanyak nomor dua setelah bahasa Jawa.

Keputusan para pemuda pada tahun 1928 itu juga bisa dipandang sebagai suatu sikap dan pendirian yang otonom. Kita bisa melihat perbedaan Indonesia dengan negara-negara yang pernah terjajah lainnya. Bahasa kaum penjajah pada umumnya menjadi bahasa utama atau bahasa kedua di negara-negara terjajah. Namun, di Indonesia, bahasa Belanda lenyap dalam bahasa komunikasi seiring perjalanan waktu. Meskipun kaum terdidik yang mengenyam lembaga pendidikan bentukan Belanda lewat politik etisnya masih menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa komunikasi pasca-1945, namun tidak berpengaruh signifikan. Bahasa Belanda lambat laun hilang dari peredaran. Bahasa Indonesia semakin berkembang dan tertanam di tengah masyarakat.

Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memang telah dikuasai sebagian besar masyarakat di negeri ini. Bahkan, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang jumlah penuturnya nomor empat terbanyak di dunia setelah bahasa Cina, Inggris, dan Spanyol (Zol Viandri Koto, 2008). Fakta ini bisa dikatakan fenomenal. Diakui atau tidak, bahasa Indonesia menjadi bahasa belum berlangsung lama, bahkan belum seabad! Bandingkan dengan bahasa Cina (yang populer disebut dengan bahasa Mandarin), bahasa Inggris, dan bahasa Spanyol yang telah memiliki sejarah peradaban panjang.

Dengan spirit Sumpah Pemuda, kita yang hidup di tanah Indonesia perlu untuk mengapreasi bahasa Indonesia. Di sisi lain, bahasa-bahasa daerah tetap memiliki ruang untuk berkembang. Pengajaran bahasa Indonesia di jenjang pendidikan formal perlu juga direvitalisasi agar tidak sekadar teori dan pengetahuan, tetapi harus produktif. Artinya, pengajaran bahasa Indonesia juga harus membangun kemampuan berbahasa, baik secara lisan maupun tulisan. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia! Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Peserta
Kuliah Bahasa Indonesia di Universitas PGRI Jogjakarta

Makna Sumpah Pemuda

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan HARIAN JOGJA, Kamis, 27 Oktober 2011

Pada tahun ini kita memperingati 83 tahun Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda 1928 adalah ikrar bersatunya berbagai komponen bangsa yang diwakili kaum muda untuk merajut cita-cita Indonesia merdeka. Pelajaran apa yang bisa dipetik dari peristiwa Sumpah Pemuda? Pertama, pentingnya persatuan dan kesatuan. Keragaman sebagai realitas Indonesia bukan alasan berpecah-belah. Keragaman yang positif merupakan potensi menjayakan negeri. Indonesia masa depan yang ideal masih membutuhkan proses perjuangan panjang, maka segenap komponen bangsa dituntut bersatu padu.

Kedua, pentingnya kesadaran pemuda sebagai pilar masa depan bangsa. Pemuda saat ini akan menentukan wajah Indonesia di kemudian hari. Pemuda dituntut menyadari peran dan tanggung jawabnya untuk membangun negeri. Keprihatinan terhadap kondisi pemuda selayaknya dijadikan refleksi bagi pemuda untuk mendidik dan memperbaiki diri agar mampu berkontribusi positif.

Ketiga, pentingnya pendidikan bagi generasi bangsa. Pemuda-pemuda yang merumuskan Sumpah Pemuda adalah sosok-sosok intelektual yang tercerahkan lewat proses pendidikan yang mereka tempuh. Maka, pendidikan terhadap anak-anak bangsa tidak boleh diabaikan. Pendidikan anak bangsa perlu dipikirkan sebagaimana pentingnya memikirkan eksistensi republik ini. Begitu.

HENDRA SUGIANTORO

Pembelajar di UPY


Kekerasan Pelajaran dan Krisis Identitas

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan HARIAN JOGJA, Senin, 24 Oktober 2011

Kekerasan di kalangan pelajar selalu memunculkan keprihatinan. Beberapa waktu lalu, sebagian siswa SMP Mataram, Ambarbinangun, Kasihan, menyerang SMP PGRI, Sonopakis, Kasihan, Bantul. Perusakan dilakukan sebagian siswa itu (Harian Jogja, Sabtu, 22/10). Akar permasalahan kasus tersebut perlu diselidiki dan diselesaikan agar tidak menjadi konflik di kemudian hari.

Berdasarkan sebuah teori psikologi, pelajar yang berada pada masa remaja dikatakan sedang membentuk identitas dirinya. Proses pencarian identitas diri disebut dengan krisis identitas. Menurut Erikson, krisis identitas adalah tahap untuk membuat keputusan terhadap permasalahan-permasalahan penting yang berkaitan dengan pertanyaan tentang identitas dirinya (Adijanti Marheni:2004). Krisis identitas yang dialami remaja ada yang berjalan baik, ada yang kurang baik.

Dalam pembentukan identitas diri, ada pelajar yang cepat melewati krisis identitasnya dan ada pula yang lambat, bahkan ada kemungkinan mengalami kegagalan. Maka, tidaklah heran apabila ada pelajar yang berperilaku mulia dan pelajar yang “menyalahi norma” dalam usia tak jauh berbeda. Ditinjau dari status pembentukan identitas, pelajar yang melakukan kekerasan mungkin berada dalam diffussion status berdasarkan teori Erikson. Maksud status ini adalah suatu keadaan di mana remaja kehilangan arah, tidak melakukan eksplorasi, dan tidak memiliki komitmen terhadap peran-peran tertentu, sehingga tak dapat menemukan identitas dirinya. Mereka akan mudah menghindari persoalan dan cenderung mencari pemuasan dengan segera. Diffussion status kerap dialami oleh remaja yang ditolak dan tak mendapatkan perhatian. Mereka cenderung akan melakukan hal-hal yang tak dapat diterima masyarakat, seperti mabuk-mabukan dan penyalahgunaan obat sebagai cara menghindari tanggung jawab (Adijanti Marheni:2004). Pelajar yang melakukan kekerasaan dimungkinkan berada dalam status tersebut.

Pelajar yang melakukan kekerasan bisa karena faktor lingkungan keluarga, teman sebaya, sekolah, masyarakat, media massa atau faktor lainnya. Maka, masing-masing pihak harapannya melakukan evaluasi. Tak hanya pihak sekolah, berbagai pihak bertanggung jawab untuk memuluskan pelajar membentuk identitas dirinya. Kita berharap pelajar memiliki komitmen dan menginternalisasikan sistem nilai positif dalam dirinya. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pembelajar di Universitas PGRI Jogjakarta

Menyingkap Misteri Mati Suri

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Pustaka SKH KEDAULATAN RAKYAT, Minggu 23 Oktober 2011

Judul Buku: Menguak Fenomena Mati Suri Penulis: F. Arifah Penerbit: Leutika, Yogyakarta Cetakan: I, 2011 Tebal: vii+102 halaman

PERNAHKAH menyaksikan orang yang dinyatakan mati kemudian hidup lagi? Ada yang telah dikafani atau siap dikuburkan tiba-tiba bangkit dan mengejutkan para pelayat? Kejadian seperti itu kerap diistilahkah dengan mati sementara/mati suri.

Mati suri merupakan sebuah misteri. Buku ini mencoba memaparkan perihal mati suri ditinjau dari berbagai segi. Dalam bahasa Inggris, mati suri sering disebut near death experience. Lama mati suri berkisar beberapa jam, tapi ada yang sampai tiga hari. Plato pernah bercerita tentang orang yang mati suri dalam karyanya berjudul Republic. Diceritakan ada seorang prajurit bernama Er terbunuh di medan perang dan hidup lagi.

Pengalaman subjektif orang yang mati suri berbeda-beda. Ada yang merasakan ketenangan dan kedamaian, ada yang mengaku berada di terowongan dengan cahaya di ujungnya dan bersua dengan roh lainnya. Terowongan yang panjang itu kadang diasumsikan sebagai sebuah jalan menuju dunia roh atau dunia yang berbeda dengan dunia manusia. Apa yang ada di ujung terowongan tak bisa dilihat karena ada cahaya menyilaukan. Ada pula yang mengatakan setelah keluar dari tubuh ditemani sesosok makhluk cahaya atau dalam versi lain disebut malaikat. Selain makhluk cahaya itu, ia juga ditemani oleh seseorang sebagai perwujudan dari amalnya. Jika amal baik, parasnya menyenangkan. Jika amal buruk, parasnya menakutkan. Selain itu, ada juga pengakuan lainnya (halaman 35-40).

Secara medis, mati suri memiliki beragam versi yang masih diselimuti kontroversi. Pengalaman orang yang mati suri dikatakan berkaitan dengan cara otak memproses informasi sensorik yang masuk. Kesalahan penerjemahan otak terhadap rangsangan bisa terjadi akibat obat-obatan atau trauma tertentu yang menutup otak. Beberapa ahli berteori, gangguan syaraf atau kelebihan beban informasi yang dikirim ke korteks visual otak akan menciptakan gambaran cahaya terang yang perlahan menjadi besar. Otak dapat menafsirkan hal tersebut sebagai sesuatu yang bergerak di terowongan gelap menuju cahaya terang. Kombinasi antara efek trauma dan kekurangan oksigen di dalam otak akan memunculkan perasaan melayang di angkasa dan menatap tubuhnya sendiri. Sensasi kedamaian yang dirasakan akibat meningkatnya kadar endorfin yang diproduksi oleh otak selama mengalami trauma tersebut (halaman 40-42).

Buku yang mencoba menguak soal mati suri ini bisa memperkaya wawasan meskipun tetap saja sulit menjelaskan secara gamblang. Kita mungkin menyimpulkan, mati suri adalah rahasia Tuhan dengan ilmu-Nya. Begitu. (HENDRA SUGIANTORO, pembaca buku, tinggal di Yogyakarta).