Gairah Belajar Bung Karno, Sebuah Teladan

Dimuat di Peduli Pendidikan SKH KEDAUATAN RAKYAT, Sabtu, 16 Juni 2012

Bung Karno (6 Juni 1901-21 Juni 1970) adalah fenomena. Ada banyak hal bisa dibahas mengenai presiden pertama Indonesia itu, salah satunya adalah gairah belajarnya yang besar. 

Herman Kartowisastro (1978), salah seorang kawan Bung Karno di masa kecil dan juga kawan saat bersekolah di Hogere Burger School (HBS) Surabaya, pernah mengenang, “Ia (Bung Karno) seorang yang pandai dalam segala bidang, seorang all-round, seorang jenius. Semua mata pelajaran, baik bahasa, sejarah maupun ilmu pasti atau ilmu lainnya dikuasainya, diganyangnya mentah-mentah. Pun dalam bidang melukis dan menggambar, ia menunjukkan bakatnya.” Kecerdasan Bung Karno memang diakui berbagai kalangan. Gairah belajar Bung Karno yang besar ini tentu layak diteladani. Siapa pun berpeluang untuk menjadi cerdas. Kuncinya adalah belajar. 

Bung Karno menyadari bahwa ilmu pengetahuan itu penting. Kedahagaan intelektualnya tak pernah surut. Tak cuma mengandalkan apa yang diajarkan di bangku pendidikan formal, Bung Karno juga giat membaca buku untuk memperkaya ilmu, wawawan, dan pengetahuannya. “Aku mencari hiburan di lapangan lain, aku meninggalkan dunia yang fana ini masuk ke dalam dunia yang lebih abadi, lebih besar, lebih mulia, lebih berisi yaitu alamnya ilmu, alamnya akal, alamnya batin, alam yang oleh orang Inggris dinamakan the world of mind. Aku meninggalkan dunia fana ini, dunia material ini, aku masuk di dalam the world of mind. Aku baca buku-buku tatkala kawan-kawanku pemuda hanya mengetahui kitab-kitab dari sekolahnya saja, aku telah membaca di luar sekolah itu,” kata Bung Karno. 

Selain membaca, Bung Karno juga menuliskan ide, gagasan, dan pemikirannya lewat tulisan. Surat kabar Oetoesan Hindia yang dipimpin H.O.S. Tjokroaminoto menjadi lahan Bung Karno pertama kali mempublikasikan tulisan. Ketika menempuh pendidikan di Technische Hoge School (THS) Bandung, gairah belajarnya tetap menyala. Membaca dan menulis menjadi kebiasaan Bung Karno sepanjang hidupnya. Bung Karno juga belajar lewat praktik, termasuk ketika ia belajar berorasi sejak duduk di bangku HBS. Aktivitas dalam organisasi pergerakan turut mematangkan pengalaman belajar Bung Karno. Bung Karno pun mengkontekstualisasikan apa yang dikaji dan dipelajarinya dengan realitas sosial masyarakat-bangsanya. Bung Karno sadar, ujar Baskara T Wardaya (2007), apa yang ia pelajari dalam studinya bukan dimaksudkan untuk menumpuk harta bagi diri sendiri, tetapi untuk turut memperbaiki perikehidupan masyarakatnya. 

Pungkasnya, Bung Karno menegaskan bahwa ilmu pengetahuan itu penting. Membangun masyarakat-bangsa ini harus dengan ilmu pengetahuan. Belajar (sepanjang hayat). Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute

Pendidikan dalam Keluarga

Dimuat di Opini SUARA KARYA, Senin, 11 Juni 2012

Menarik apa yang diutarakan Kartini (1879-1904), “Sekolah-sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat, tetapi juga keluarga di rumah harus turut bekerja. Lebih-lebih dari rumahlah kekuatan mendidik itu harus berasal”. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memang dimaksudkan untuk mendidik anak-anak bangsa yang akhirnya berdampak pada kebangunan masyarakat, namun sulit berhasil apabila tidak berjalan integral-komprehensif dengan melibatkan pihak keluarga.

Pesan Kartini itu layaklah direnungkan di tengah karut-marutnya persoalan bangsa.  Ada kecenderungan, sebagaimana disinyalir Azyumardi Azra (2012), sekolah maupun guru diposisikan sebagai pihak yang bertanggungjawab. Wacana dan ide terkait pendidikan karakter, pendidikan antikorupsi, dan sejenisnya lebih diarahkan untuk digarap pihak sekolah. Hal itu tentu perlu dikoreksi.

Dengan perkataan lain, apabila banyak kasus kekerasan, penggunaan obat-obatan terlarang, pelecehan seksual, dan sebagainya yang dilakukan oleh anak usia sekolah, anggapan bahwa sekolah tak mampu mendidik siswanya tidak sepenuhnya tepat. Penyempitan upaya pendidikan sekadar dalam lingkup penyekolahan (schooling), dan selanjutnya sistem pendidikan diartikan sistem persekolahan belaka pernah pula dikoreksi Fuad Hassan (2004), karena pendidikan dalam arti luas terjadi melalui tiga upaya utama, yakni pembiasaan, pembelajaran, dan peneladanan. Secara prinsip, pihak keluargalah yang memiliki tanggung jawab utama dalam pendidikan anak. 

Dalam hal ini, pihak keluarga selayaknya melakukan introspeksi terkait perilaku anak yang cenderung negatif. Dalam pendidikan karakter, pendidikan antikorupsi, dan sejenisnya, pihak keluarga sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional tentu tidak bisa cuci tangan. Selain pendidikan formal, UU No. 20/2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) juga menjelaskan adanya pendidikan nonformal dan informal. Pihak keluarga sebagai institusi pendidikan informal perlu berikhtiar mendidik anak—sebagaimana tujuan pendidikan nasional dalam UU No. 20/2003 Tentang Sisdiknas Bab II Pasal 3—agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.       

Maka, orangtua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada pihak sekolah tidaklah tepat. Mungkin sikap dan perilaku anak yang jauh dari tatanan nilai dan norma akibat lemahnya pendidikan dalam keluarga. Deni Al-Asy’ari (2007) mensinyalir lemahnya peran keluarga ini tidak terlepas dari fungsi keluarga yang direduksi sebatas fungsi reproduksi, materialistik, seks, dan status sosial semata. Orangtua memperhatikan pendidikan anak sekadar menanyakan prestasi belajar di sekolah yang sifatnya kuantitatif. Asalkan bisa membiayai anaknya di bangku sekolah, orangtua sudah merasa bangga dan tugasnya selesai. Padahal, tanpa kerja sama dengan pihak keluarga, pihak sekolah tak bisa mengembangkan kualitas anak seutuhnya. 

Hal yang perlu disadari, karakter positif yang dimiliki anak tidaklah muncul seketika. Justru pembentukan karakter positif anak perlu diawali sejak berusia dini, dan itu otomatis di tangan orangtua. Menurut Elizabeth B Hurlock (1978), anak mengalami tahapan perkembangan fisik, perkembangan motorik, perkembangan bicara, perkembangan emosi, perkembangan sosial, perkembangan bermain, perkembangan kreativitas, dan perkembangan moral pada usia sekitar 0-6 tahun. Ki Hajar Dewantara pun pernah mengatakan bahwa keluarga sebagai tempat pertama anak-anak hidup dan berinteraksi berperan penting dalam proses tumbuh kembang anak, terutama pada masa-masa awal atau di mana anak dengan mudah menerima rangsang atau pengaruh dari lingkungan.  

Jadi, pentingnya pendidikan dalam keluarga seyogianya menyadarkan orangtua. Perilaku kurang mulia anak seringkali akibat kondisi kehidupan keluarga yang kurang kondusif. Di era kini, orangtua seringkali lebih disibukkan urusan mencari materi, sehingga melupakan jalinan emosi dan komunikasi dengan anak. Padahal, sentuhan emosi dan komunikasi dapat menyebabkan anak merasakan kehangatan dan perhatian orangtua yang dapat mencegah anak melakukan pelarian ke hal-hal negatif. Pihak keluarga sudah saatnya menjadi tempat berlari bagi anak ketika menghadapi permasalahan dalam kehidupannya. 

Adapun pihak sekolah atau lembaga pendidikan di luar lingkungan keluarga sifatnya hanya membantu proses pendidikan yang dilakukan orangtua agar pendidikan menjadi paripurna (BS Mardiatmadja: 2004). Pungkasnya, peran keluarga dalam pendidikan anak perlu dioptimalkan. Anak dalam kehidupan keluarga merupakan amanah yang harus dipelihara dan dijaga dengan memberikan pendidikan yang sebaik-baiknya. Sebab, dari rumahlah, seru Kartini, kekuatan mendidik itu berasal. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute, tinggal di Yogyakarta
 

Mutlak Kaderisasi Pemimpin

Dimuat di Bebas Bicara BERNAS JOGJA, Sabtu, 9 Juni 2012

Wacana dan isu terkait calon presiden 2014 mendatang kerapkali menghangatkan media massa. Disadari atau tidak, tokoh-tokoh yang berusia 60 tahun ke atas untuk maju dalam pertarungan menuju kursi RI-1 masih begitu kuat. Memang siapa pun warga negara di negeri ini berhak menjadi presiden, namun kecenderungan daur ulang calon presiden layak dicermati.
            
Dalam hal ini, kita menyepakati bahwa aspek kapabilitas, kredibilitas, dan integritas memang niscaya dalam menentukan calon presiden. Usia muda atau usia tua bukanlah ukuran. Benar apabila kita tak perlu mendikotomikan pemimpin muda dan pemimpin tua. Namun, partai politik selayaknya malu apabila terus-menerus mengusung satu sosok tertentu setiap kali hajatan pemilihan presiden digelar. Istilahnya, daur ulang calon presiden.
             
Bagi sebuah partai politik, fungsi kaderisasi politik tentu tak boleh diabaikan. Mungkin sosok tertentu masih memiliki tingkat kepercayaan publik yang kuat, sehingga tetap dimunculkan sebagai calon presiden demi meraih suara terbanyak. Pilihan memang di tangan rakyat pemilih. Namun, partai politik juga membutuhkan keberanian untuk memunculkan sosok pemimpin yang bukan muka lama. Boleh jadi untuk mengenalkan dan membangun rekam jejak sosok pemimpin anyar itu ke publik memerlukan proses lama, namun hal ini justru positif bagi regenerasi politik.
             
Menjadi pemimpin meskipun telah berusia 60 tahun ke atas memang tidaklah dilarang demi sebuah obsesi memperbaiki negeri ini. Kita menghargai cita-cita luhur bagi kebaikan bangsa-negara. Namun, pemimpin yang baik tak boleh melupakan kaderisasi kepemimpinan. Pemimpin yang telah berusia 60 tahun ke atas justru harus menyiapkan dan memberikan kesempatan bagi kader-kader mudanya untuk berkembang dengan ruang aktualisasi kepemimpinan yang memadai. Menarik merenungkan pernyataan Mohammad Hatta (1967), “Kewajiban utama bagi seorang pemimpin demokrat ialah mencari gantinya. Makin cepat ia dapat diganti, makin baik. Umur manusia terbatas, umur pergerakan panjang, umur negara lebih panjang lagi. Sebab itu nasib pergerakan atau negara tidak dapat disangkutkan kepada orang seorang.” Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Warga Yogyakarta

Gelisah Menatap Negeri

Dimuat di Jagongan HARIAN JOGJA, Kamis, 7 Juni 2012

Hampir setiap saat kita disuguhi dengan mencuatnya kasus korupsi. Harta negara yang idealnya dikelola dengan baik untuk kesejahteraan dan kemajuan bangsa justru hanya dinikmati oleh manusia-manusia korup. Setiap saat kita pun bertambah gelisah karena menjumpai perilaku sangar yang kurang menghargai martabat manusia. Kekerasan seolah-olah menjadi cara untuk mendesakkan keinginan atau malah untuk memuaskan nafsu agresif semata. Pemuliaan manusia terasa hilang di tengah manusia-manusia yang diselimuti prasangka negatif, kebencian, dan kejahatan.
 
Terasa menyesakkan lagi ketika kita menyaksikan tak jedanya perusakan-perusakan lingkungan hidup. Lingkungan hidup tak lagi terpelihara dan terjaga karena manusia-manusia yang hanya berpikir sesaat untuk mengeruk harta dan memuaskan nafsu perutnya. Eksistensi kehidupan masyarakat-bangsa ini yang juga berhak atas lingkungan hidup yang kemilau di masa mendatang tak lagi dipikirkan. Kita juga terasa miris ketika kasus peredaran dan penggunaan obat-obatan terlarang tak henti menghantam anak-anak bangsa. Apa lagi yang membuat kita gelisah, miris, bahkan mungkin muak dan marah melihat wajah negeri ini? Kita muak ketika masa depan bangsa-negara ini cenderung tak terlihat menyala terang karena tidak diurus dengan sebaik-baiknya.
Kita memang tak boleh melulu mencela kegelapan. Kita harus menjadi terang di tengah kegelapan yang merebak. Itu tentu tak sekadar dikatakan, namun menuntut pembuktian lewat aksi perbuatan. “The world is a dangerous place to live, not because of people who are evil, but because of the people who do not do anything about it,” kata Albert Einstein. Kita memang harus tampil di muka untuk memoles negeri ini lebih cemerlang. Wallahu a’lam.
Hendra Sugiantoro
Warga Yogyakarta

Kisah-kisah Bung Karno

Dimuat di Resensi Buku HARIAN JOGJA, Rabu, 6 Juni 2012
Judul Buku: Kisah Istimewa Bung Karno Penulis: Herman Kartowisastro, Julius Poor, Rosihan Anwar, dkk Penerbit: Kompas, Jakarta Tebal: xxii+322 halaman ISBN: 978-979-709-503-1

Pada suatu malam, ketika kami sedang sibuk belajar, tiba-tiba terdengar suara seperti orang berpidato. Ingin tahu suara apa itu, kami berlari-lari menuju tempat dari mana suara itu datang. Astagaaa..Sukarno dalam kamar gelapnya berdiri di atas meja sedang berpidato meniru seorang volkstribuun (pemimpin rakyat) dari zaman Yunani Kuno yang menguraikan soal demokrasi dan kedaulatan rakyat. Tertarik oleh cerita-cerita dalam sejarah Yunani Kuno yang mengasyikkan dan mengesankan, jiwa pemuda Sukarno telah tergugah.

Itulah yang dituturkan Herman Kartowisastro, kawan sekolah Bung Karno ketika di Hogere Burger School (HBS) Surabaya. Kamar yang dimaksud berada di rumah H.O.S. Tjokroaminoto yang sejak Juni 1916 didiami Bung Karno. Lahir pada 6 Juni 1901, Bung Karno memang telah menghadirkan jejak historis tersendiri sampai wafatnya pada 21 Juni 1970.  Buku ini menarik dibaca, sebab menyajikan kisah Bung Karno dari sisi lain.

Sebut saja misalnya jiwa seni Bung Karno. Ketika diasingkan ke Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 1934-1938, aktivitas Bung Karno antara lain membina grup tonil atau sandiwara bernama Klub Tonil Kelimutu. Lewat tonil itu, Bung Karno mengobarkan semangat juang mengusir penjajah Hindia Belanda. Judul tonil karya Bung Karno, yakni Rahasia Kelimutu (dua seri), Tahun 1945, Nggera Ende, Amuk, Rendo, Kutkubi, Maha Iblis, Anak Jedah, Dokter Setan, Ero Dinamik, Jula Gubi, dan Siang Hai Rumbai. Tonil itu tak hanya dipentaskan di Ende, tetapi juga di kota lain di Flores, bahkan sampai tempat pembuangannya di Bengkulu (1938-1942). Lewat tonil berjudul Tahun 1945 tampaknya Bung Karno telah membayangkan kalau bangsa Indonesia akan terbebas dari belenggu penjajahan pada tahun 1945. Bahkan, lewat tonil itu, kemerdekaan Indonesia akan direbut dari penjajah sesama bangsa Asia (Jepang) sudah diperkirakan Bung Karno (halaman 139).

Bung Karno bisa dikatakan tipe manusia all-round. Bung Karno diakui gila membaca. Bahkan, buku tetap menjadi sahabat karib Bung Karno semasa dibuang oleh penjajah Belanda. Sebut saja misalnya saat dibuang di Bengkulu, koleksi buku Bung Karno sekitar 12 peti. Dari sekitar itu, ada 400 judul buku yang berhasil diselamatkan. Bung Karno juga berjiwa arsitek. Perhatian Bung Karno tak hanya berupa gedung-gedung atau monumen-monumen, tetapi juga patung-patung, taman-taman, kawasan, bahkan skala kota pun digagas dan direalisasikannya (halaman 205-229).

Buku yang memaparkan kisah-kisah Bung Karno yang jarang terpapar ini memikat disimak. Ada kisah tentang sopir pertama Bung Karno, pesawat kepresidenan pertama, penulis pidato Bung Karno, peninggalan-peninggalan semasa hidup Bung Karno, dan berderet kisah lainnya.(Hendra Sugiantoro).

HAM di Tengah Kemunafikan Internasional

Dimuat di Resensi Buku SUARA MERDEKA, Minggu, 3 Juni 2012

Judul Buku: HAM: Politik, Hukum&Kemunafikan Internasional Penulis: Hamid Awaludin Penerbit: Kompas, Jakarta Cetakan: I, Mei 2012 Tebal: xviii+286 halaman

Suatu ketika, Hamid Awaludin dalam kapasitasnya sebagai Menteri Hukum dan HAM (2004-2007), didatangi oleh sekelompok orang yang mengklaim ahli dan pemerhati hak asasi manusia (HAM) sedunia. Mereka datang dari Eropa, termasuk dari Amerika Serikat (AS). Mereka menentang masih diberlakukannya hukuman mati di Indonesia. “Itu tidak manusiawi. Hanya bangsa-bangsa yang hidup di masa silam yang mengenal dan memberlakukan hukuman mati,” begitulah mereka berkata. Apa respons Hamid Awaludin?
             
Dengan manggut-manggut mendengarkan sekelompok orang itu berkhotbah, Hamid Awaludin menjawab yang intinya, “Apakah Anda juga datang ke Gedung Putih di AS untuk mendesakkan hal yang serupa?”. Jawaban Hamid Awaludin pastinya ampuh untuk menonjok mereka. Disadari atau tidak, di sejumlah negara bagian AS, hukuman mati masih diberlakukan sejak zaman dulu hingga kini. Jumlah orang yang dieksekusi di AS pun lebih banyak dibandingkan yang pernah dieksekusi di Indonesia. “Ada baiknya kita akhiri, pembicaraan dan pertemuan ini. Kita akan lanjutkan lagi setelah Anda kembali dari AS,” kata Hamid Awaludin yang secara implisit mengusir sekelompok orang itu secara halus.
    
Kita tentu tidak menutup mata terkait adanya standar ganda yang diterapkan AS dan negara-negara sekutunya. AS yang mengklaim sebagai kampiun demokrasi dan HAM justru kerapkali menciderai kemuliaan dan martabat manusia. Lewat buku ini, Hamid Awaludin membahas hal tersebut dalam bab khusus Kemunafikan Asasi Internasional. Tentu saja dunia tidak bisa ditipu bahwa AS dan negara-negara Barat acapkali bersikap munafik (hypocricy of the west) dalam praktik HAM. Selama kepentingan nasional mereka terpenuhi, mereka tak peduli apakah ada pelanggaran HAM atau tidak. Dengan alasan demokrasi dan HAM, negara-negara seperti Afghanistan, Irak, dan sebagainya tiba-tiba dibombardir AS dan sekutunya. Dampaknya ternyata tidak hanya penghancuran nilai-nilai kemanusiaan, tetapi juga masa depan negara yang diluluhlantakkan tersebut, baik secara sosial, ekonomi maupun aspek lainnya.
            
Kepentingan nasional AS dan Barat bisa mengalahkan HAM memiliki akar yang panjang. Lewat buku ini, Hamid Awaludin memberikan pemahaman terkait konsep realis dalam politik internasional. Pemikiran kaum realis berkembang sejak berakhirnya Perang Dunia II kendati akar pemikiran ini sebenarnya telah terbentang jauh ke belakang. Sebelum itu, aliran pemikiran yang dominan terutama sejak meletusnya Perang Dunia I adalah aliran Wilsonian—yang diidentikkan dengan label kaum idealis atau liberal. Bagi kaum realis, politik atau hubungan internasional ditentukan oleh pemeran utama yang bernama negara dengan agenda tunggal yang bernama kekuasaan dan pengaruh, baik sebagai tujuan maupun cara. Dengan itu semua, negara sebagai aktor utama selalu mengutamakan kepentingannya sendiri di atas kepentingan lainnya. 

Dalam konteks tersebut, AS dan Barat yang notabene adalah negara kuat bisa memainkan demokrasi, HAM, dan kebebasan sesuai dengan kepentingan nasionalnya. Karena ada kepentingan nasional di dalamnya, maka tidak heran apabila kita menyaksikan kelunakan AS dan sekutunya terhadap pelanggaran HAM dan pemerintahan tidak demokratis di beberapa wilayah di dunia. Bahkan, AS menjadi pelaku aktif pelanggaran HAM dengan senjata yang dimilikinya. Daftar dosa terkait pelanggaran HAM yang panjang sepanjang sejarah dunia boleh jadi yang membuat AS tak bersedia menandatangi Konvensi Internasional Tentang Mahkamah Pidana Internasional (Statuta Roma) (halaman 223-249).

Kemunafikan internasional jelas menjadi batu sandungan penegakan dan perlindungan HAM di dunia. Menurut Hamid Awaludin, hal itu perlu menjadi agenda dan pekerjaan HAM ke depan. Dunia tentu harus diarahkan pada tatanan yang berkeadilan. Setiap negara harus berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah alias tidak saling mengeksploitasi. 

Ikhtiar Hamid Awaludin membahas HAM dalam perspektif politik, hukum, bahkan sejarah lewat buku ini menarik dicermati. Secara formal, Deklarasi HAM Universal pada tahun 1948 menjadi dokumen tertulis pertama tentang HAM yang diterima semua bangsa. Meskipun sebelumnya telah banyak dokumen tentang HAM, seperti Magna Charta (Inggris, 1215), namun tak pernah disepakati secara universal. Sejak Deklarasi HAM Universal 1948 yang dirumuskan dalam sidang PBB itu, dunia terus bergerak untuk menegakkan HAM. Konvensi-konvesi terkait HAM terus dirumuskan sebagai ikhtiar memuliakan martabat manusia. Laju penegakan HAM ini tentu positif. HAM terus mendapatkan lahan subur dalam laju zaman dan berpenetrasi ke seluruh sendi kehidupan. 

Tentu saja, di masa mendatang masih banyak agenda HAM yang menuntut perhatian. Konflik-konflik komunal, perdagangan manusia, tuntutan keadilan terhadap pelanggaran HAM di masa lalu, masalah ekologis, praktik korupsi, ketidakadilan ekonomi, dan sebagainya merupakan tantangan penegakan HAM hari ini dan ke depan. Di tengah kemunafikan internasional, optimisme penegakan HAM harus terus dinyalakan. Benar kata Hamid Awaludin, kita tidak boleh berhenti sebelum mencapai tujuan: martabat manusia.(HENDRA SUGIANTORO).

Memaknai Belajar Sepanjang Hayat

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa KORAN MERAPI, Senin, 21 Mei 2012

Dalam buku The Ultimate Psychology (2008), Muhammad ‘Utsman Najati memaparkan bahwa belajar memiliki peran besar dalam kehidupan manusia. Manusia terlahir sebagai makhluk lemah yang tidak mampu berbuat apa-apa dan tidak mengetahui apa-apa. Tetapi, melalui belajar, manusia bisa menguasai berbagai kemahiran dan pengetahuan. Dalam belajar, manusia tidak hanya mempelajari bahasa, ilmu pengetahuan, profesi maupun keahlian tertentu, tetapi juga mempelajari berbagai macam tradisi, etika, dan kepribadian.

Bagi manusia, belajar memang merupakan keniscayaan. Ungkapan belajar dari ayunan sampai liang lahat yang kerapkali kita dengar menegaskan bahwa belajar tidak berhenti pada usia tertentu, namun berlaku sepanjang kehidupan manusia. Bahkan, manusia yang senantiasa belajar dan mendapatkan ilmu pengetahuan, Tuhan akan meninggikan derajatnya. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”(Az-Zumar (39): 9). 

Selain mendapatkan pengetahuan, manusia yang belajar, papar Crow and Crow (1958), juga memperoleh kebiasaan dan sikap baru. Dengan belajar, manusia mengalami perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan, dan kecakapan (Witherington: 1952). Dari pendapat tersebut dapat dimaknai bahwa manusia yang belajar diawali dari sebuah kesadaran. Manusia menyadari kekurangan dan kelemahannya, sehingga akan belajar untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan dirinya. Tanpa kesadaran ini, menurut penulis, manusia tidak ada minat, keinginan, dan motivasi untuk senantiasa belajar.

Disadari atau tidak, fakta kurangnya kesadaran untuk belajar dapat kita jumpai dalam kehidupan keseharian. Sebut saja kita yang merasa telah puas dengan ilmu pengetahuan yang telah didapatkan. Padahal, ilmu pengetahuan terus berkembang. Dalam agama pun kerapkali dikemukakan bahwa ilmu Tuhan itu begitu luas. Apa yang kita ketahui saat ini sebenarnya belum menjangkau luasnya ilmu Tuhan itu. Bahkan, kita dapat menyaksikan bahwa ilmu alam dan ilmu sosial kerapkali mengalami revisi. Apa yang kita pelajari dahulu mungkin tidak sesuai lagi dengan konteks zaman yang kita hadapi saat ini. Kita yang tidak memiliki kesadaran terkait kekurangan diri kerapkali merasa puas dengan keterampilan yang telah dimiliki. Padahal, seiring kemajuan zaman, kita juga dituntut menguasai kecakapan dan keterampilan tertentu demi kemajuan kehidupan.
Begitu juga dengan sikap dan perilaku kita. Kita kadangkala tidak menyadari ada sikap dan perilaku kita yang kurang bijak, seperti tidak dapat mengendalikan emosi, mudah melakukan kekerasan, kurang bisa menghormati orangtua, menghalalkan cara negatif untuk mencapai tujuan, melanggar hak manusia lain untuk hidup dan berkembang, berbuat kerusuhan, dan enggan meminta maaf atas kesalahan. Bahkan, tidak mampunya kita membuang sampah di tempat sampah, tidak bisa mengantre dengan tertib, dan kurang disiplin dalam berlalu lintas juga mencerminkan kekurangan kita dalam sikap dan perilaku.
            Dengan belajar, kita tentu mengalami perubahan-perubahan. Perubahan memang bisa menuju ke arah positif maupun negatif. Meskipun debatable, namun penulis hendak menegaskan bahwa kita dapat dikatakan telah belajar apabila mengalami perubahan ke arah positif. Mohamad Surya (2004) menyebutkan ada ciri-ciri yang menandai perubahan sebagai hasil belajar, yakni perubahan itu disadari, bersifat kontinyu dan fungsional, bersifat positif dan aktif, bersifat relatif permanen dan bukan temporer, serta bertujuan dan terarah. Belajar merupakan proses yang dilakukan dengan sengaja karena dorongan dan tujuan yang hendak kita capai. Dengan proses belajar, seluruh aspek kepribadian kita mengalami perubahan yang lebih baik.
Maka, siapa pun kita memang perlu terus-menerus belajar. Belajar yang kita lakukan tidak terbatas pada bangku pendidikan formal. Kita perlu belajar di mana pun, baik di rumah, di lingkungan masyarakat, di tempat kerja, di pasar maupun di tempat-tempat lainnya. Belajar bisa dilakukan secara mandiri maupun dengan bantuan pihak lain. Kita bisa belajar untuk memperkaya dan menambah ilmu, wawasan, pengetahuan, keterampilan ataupun hal lainnya dengan membaca buku dan surat kabar; mengikuti kajian atau kuliah nonformal; mengikuti pelatihan-pelatihan, dan sebagainya.

Dalam hal ini, kita seyogianya juga menilai hasil belajar kita secara kualitatif. Dari belajar Matematika, kita tidak akan melakukan korupsi, karena 12-7=5, bukan 3; 4+11=15, bukan 21. Dengan belajar sejarah, kita merasakan pahit getirnya penjajahan dan tumbuh semangat untuk berkontribusi positif di alam kemerdekaan. Hafalan lima sila Pancasila juga terinternalisasi dalam sikap dan perilaku kita dengan selalu menjalankan ibadah sesuai agama kita, memanusiakan manusia lain, merekatkan jalinan persatuan, menghormati perbedaan pendapat, memperhatikan kehidupan orang lain yang kekurangan, menegakkan tata ekonomi yang berkeadilan, merasa gelisah melihat kehidupan masyarakat yang tidak sejahtera, dan sebagainya.

Pun, kita bisa belajar ketika mendaki gunung, menikmati matahari tenggelam di pantai, menatap bulan di malam hari ataupun  ketika merasakan keindahan alam lainnya bahwa alam semesta tidak pernah berproses secara instan. Kita bisa belajar bahwa kehancuran dan keterpurukan akan kita dapatkan apabila menyalahi hukum alam. Zaman pastinya senantiasa berkembang dan memiliki tantangan dan peluang masing-masing. Dengan belajar, kita akan dapat menghadapi zaman, apapun tantangan dan peluangnya. Jadilah pembelajar seumur hidup, seru Komaruddin Hidayat (2010), karena semakin bertambah umur selalu saja muncul hal-hal baru yang harus kita pelajari agar kita menjadi lebih bijak. Wallahu a’lam
HENDRA SUGIANTORO

Bergeraklah Pemuda Indonesia!

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Bebas Bicara BERNAS JOGJA, Senin 21 Mei 2012

Tumbuhnya kesadaran nasional di era 1900-an tak terlepas dari peran dan kiprah pemuda. Kesadaran nasional ini tak tumbuh seketika, tetapi melewati proses yang panjang. Pemuda mendidik diri, bergerak, membaca, menulis, dan saling berinteraksi. Akhirnya, Indonesia yang awalnya masih samar-samar sebagai konsep bangsa-tanah air terwujud nyata pada 1928. Proses pun berlanjut dengan kemerdekaan Indonesia pada 1945.
            
Dalam sejarah dunia, peran pemuda dalam kebangkitan dan kebangunan bangsa-negara memang tak dimungkiri. Namun, fakta juga menunjukkan tak semua pemuda terpanggil membangun bangsa-negaranya. Ketika Bung Karno berseru pada 1932 bahwa dengan sepuluh pemuda akan mampu menggemparkan dunia, itu pemuda yang bersemangat dan berapi-api kecintaannya terhadap bangsa, tanah air, dan tumpah darahnya. Pemuda yang tak memiliki spirit mencintai bangsa-negaranya tentu takkan mampu menggoncang dunia.
             
Terlepas dari itu, peran pemuda tentu saja selalu dibutuhkan. Dengan pendidikan yang baik, pemuda perlu terus-menerus menempa diri. Pemuda pada era pergerakan nasional pada awal abad ke-20 yang akhirnya memimpin negeri ini di era kemerdekaan juga dimatangkan lewat proses pendidikan. Indonesia membutuhkan pemuda yang memiliki rasa tanggung jawab untuk berpikir dan bertindak besar bagi bangsa-negaranya. Pemuda perlu siap menderita untuk kebaikan dan kemajuan Indonesia.
             
Pungkasnya, mari simak penggalan pidato Bung Hatta di depan pengadilan Belanda pada 1928, “Kata-kata Rene de Clerq, yang dipilih pemuda Indonesia sebagai petunjuk, hinggap di bibirku: ‘Hanya satu tanah yang dapat disebut tanah airku, ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu ialah usahaku”. Pemuda Indonesia, lancarkan usaha itu! Wallahu a’lam.
Hendra Sugiantoro

Mendorong Siswa Gemar Membaca

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Bebas Bicara BERNAS JOGJA, Senin 14 Mei 2012

Salah satu cara efektif untuk belajar adalah membaca. Siswa yang gemar membaca akan memperoleh ilmu, pengetahuan, dan wawasan yang lebih luas. Di tengah kegelisahan masih rendahnya budaya membaca, ikhtiar mendorong budaya membaca di kalangan siswa perlu terus-menerus dilakukan. Guru berperan melakukannya. Seperti apakah?
             
Yang tak mungkin diganggu gugat, guru harus gemar membaca sebagai keteladanan. Guru juga perlu membangun budaya membaca dalam kegiatan belajar dan mengajar di kelas. Di kelas, guru tak melulu meminta siswa terus mencatat apa diterangkan atau yang ditulis di papan tulis. Suasana diskusif di kelas juga diperlukan. Sebab, papar Said Tuhuleley (2004), dengan melakukan itu siswa akan merasa perlu menyiapkan diri sebaik-baiknya. Siswa semakin memperdalam pengetahuannya. Siswa akan merasa risih jika dalam setiap kesempatan bertanya atau berdialog hanya duduk diam karena keterbatasan wawasannya. Guru perlu membangun suasana dialogis di dalam kelas agar semua siswa terangsang berpartisipasi. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO

Memahami Rahasia Doa

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Pustaka SKH KEDAULATAN RAKYAT, Minggu 13 Mei 2012

Judul Buku: Doa Bukan Lampu Aladin: Mengerti Rahasia Zikir dan Akhlak Memohon kepada Allah Penulis: Jalaluddin Rakhmat Penerbit: Serambi, Jakarta Cetakan: I, Maret 2012 Tebal: 198 halaman

Siapa pun kita tentu pernah berdoa. Banyak doa yang kita panjatkan kepada Tuhan dari bangun tidur di pagi hari sampai tidur lagi di malam hari. Doa tak dimungkiri menjadi bagian dari kehidupan kita sebagai manusia. Namun, apakah kita telah memahami hakikat doa yang sesungguhnya?

Untuk mendapatkan penjelasan terkait doa secara lebih jernih, buku karya Jalaluddin Rakhmat yang akrab disapa Kang Jalal ini menarik disimak. Doa pada umumnya berisi permohonan. Dengan berdoa, kita berharap apa yang kita mohonkan dapat terwujud. Doa yang terkabulkan tentu menjadi harapan kita, tetapi doa bukanlah lampu aladin. Kita tak mungkin memaksa Tuhan memenuhi setiap permohonan kita. Memang ada doa yang langsung dikabulkan Tuhan dengan segera, namun kita juga perlu menyadari bahwa doa bisa saja terkabulkan dalam waktu yang lama. Bahkan, Tuhan memiliki cara tersendiri dalam mengabulkan doa kita. Apa yang kita mohonkan lewat doa mungkin tak terwujud, tetapi kita mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari Tuhan.

Doa sebagai tanda kerendahan hati kita kepada Sang Khalik tentu juga membutuhkan sikap berdoa yang baik. Doa adalah penyerahan diri kita. Tak menutup kemungkinan apabila kita telah puas hanya dengan berdoa meskipun permohonan tak kunjung terkabulkan. Ada perasaan tentram, damai, dan tidak gelisah, karena doa sebenarnya mengikatkan hubungan kita dengan Sang Pemilik Kehidupan. Lewat buku ini, Jalaluddin Rakhmat mengajak kita untuk menjadikan doa sebagai kekuatan. Kita perlu berdoa dalam kondisi sulit maupun lapang. Untuk memperoleh pencerahan terkait doa dari Kang Jalal, selamat membaca buku ini.
HENDRA SUGIANTORO
Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta