Kisah Getir Keluarga Super Miskin

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Perada KORAN JAKARTA, Jum'at, 8 Maret 2013 
 
Judul Buku: Butiran Debu Penulis: Taufiqurrahman al-Azizy Penerbit: DIVA Press, Yogyakarta Cetakan: I, Februari 2013 Tebal: 348 halaman ISBN: 978-602-7665-56-9 

Wajah sosial menggambarkan masih ada penduduk miskin di negeri ini yang terlunta-lunta sekadar memenuhi kebutuhan pokoknya. Parahnya, di tengah masyarakat, fakta kemiskinan itu dibarengi dengan rendahnya empati dan kepedulian sosial. Lewat novel ini, kita menyaksikan betapa merananya keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan dua anak kecil. 

Awalnya Rohana, ibu dari Iwan dan Siti, bisa bernafas lewat penghasilan suami. Namun, saat Iwan berusia 3 tahun dan Siti berusia 3 bulan, suaminya pergi tak pulang-pulang. Demi nasib anak-anaknya, Rohana membanting tulang, bahkan berani berhutang. Berbagai pekerjaan dicarinya, namun tak kunjung membuahkan kemapanan. Rohana tetap kerepotan dan kebingungan. Hutang-hutangnya tak kunjung terlunasi, anak-anaknya kelaparan. Pedih dirasakan Rohana. Persediaan uangnya kian menyusut. Meskipun kedua anaknya kuat tak makan, namun seorang ibu tetap tak tega. Barang-barang di rumah yang sesungguhnya terbatas habis dijual. 

Saat kondisi kritis itu, bisikan untuk mencuri terngiang. Anaknya kerapkali merintih dan menahan sakit karena lapar berhari-hari. Selama hidupnya Rohana anti-mencuri, namun kondisi hidup seperti memaksanya melakukan perbuatan itu. Di malam hari, Rohana nekat mencabuti singkong di ladang tetangga. Demi anaknya bisa makan, meski hanya satu singkong saja. Warga sekitar curiga dan melontarkan tuduhan-tuduhan. Di tengah kesulitan hidup dan sikap sinis tetangga, Rohana berteriak dalam hati, “Jika kalian tidak mau kehilangan singkong, punyalah sedikit rasa belas kasih kepada anak-anakku. Mereka lapar. Mereka merintih. Mereka mengaduh. Kalau tak ada lagi dari kalian yang menolongku, kalianlah yang telah membuatku menjadi pencuri!” (hlm. 42-60). 

Hidup dalam keterhimpitan kerapkali membutakan akal dan hati. Suatu hari, Rohana mengajak anak-anaknya meninggalkan rumah. Tujuannya, Sungai Cihideung. Sampai di Jembatan Cidua, apa yang akan Rohana lakukan? Novel ini menggetarkan nurani. Siapakah yang salah apabila Rohana mengajak kedua anaknya bunuh diri? Rohana berkata, “Kalian lapar? Kedua anaknya mengangguk. “Ibu juga lapar. Tetapi percayalah, sebentar lagi kita tak akan pernah merasa kelaparan lagi,” ucap Rohana. Dengan penuh kemantapan, Rohana menyuruh anak-anaknya terjun dari atas jembatan. Tetapi, hati Iwan dan Siti yang masih suci tak membenarkan perbuatan ibunya. Hanya Rohana yang akhirnya terjun dan terseret aliran deras sungai. Dilanda kepanikan, Iwan dan Siti beteriak histeris (hlm. 97-121). 

Iwan dan Siti pun meninggalkan Jembatan Cidua dan menggelandang sampai kota Bogor. Dalam usia Iwan yang 8 tahun dan Siti yang 5,5 tahun, mereka harus merasakan pahitnya hidup. Kota sepertinya bukan tempat ramah bagi mereka yang bertubuh dekil, berbaju kumal, beraroma tak wangi karena tak mandi berhari-hari. Iwan dan Siti yang kelaparan hanya mengais-ngais sisa-sisa makanan di tong sampah. Nasib naas dialami ketika seorang satpam mengejar mereka. Mall bukan untuk gelandangan, maka harus diusir! Karena kepanikan dari kejaran satpam, Iwan dan Siti pun terpisah.  

Novel ini mengajarkan kepada kita untuk melihat kehidupan tidak hitam putih. Perlakuan tak manusiawi kerapkali menimpa kaum gelandangan. Kita seolah-olah bangga telah melakukan razia. Amat sedikit kepedulian hati kita untuk menyelami sisi psikologis anak-anak yang menggelandang di jalanan. Iwan dan Siti pun menjalani takdirnya lebih lanjut. Sebuah keluarga merasa iba melihat Siti yang kusut dan menangis di jalan. Akhirnya Siti diangkat sebagai anak, disekolahkan, dan menjadi anak berprestasi. Lain pula dengan Iwan yang akhirnya terkenal sebagai pengamen kecil yang merdu suaranya. 

Sebagaimana Iwan dan Siti, banyak anak di negeri ini yang karena miskin tak mampu mengembangkan potensinya. Padahal, potensi mereka perlu diaktualisasikan. Novel ini memberikan banyak pelajaran bagi kita. Lihatlah kegetiran hidup warga miskin di sekitar kita, mereka bukanlah butiran debu yang sekadar disingkirkan, lantas terlupakan. Marilah mulai untuk peduli dan berbagi.(Hendra Sugiantoro).

Guru dan Tantangan Mengembangkan Kemampuan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Resensi Buku JATENG POS, Minggu, 3 Maret 2013

Judul Buku: Kembangkan Dirimu Jadi Guru Multitalenta Penulis: Salman Rusydie Penerbit: DIVA Press, Yogyakarta Cetakan: I, 2012 Tebal: 168 halaman ISBN: 978-602-7640-07-8 
Guru bisa dikatakan sebagai faktor penting keberhasilan proses pendidikan, terutama di sekolah. Buku ini menarik dibaca karena hendak menegaskan bahwa paradigma guru hanya bertugas mengajar di kelas perlu dirombak ulang. Di samping menyampaikan materi pelajaran, guru harus tertantang memiliki kemampuan lainnya atau multitalenta. 

Salah satu kemampuan yang perlu dimiliki guru adalah kemampuan sebagai seorang manajer. Ketika guru menyampaikan materi pelajaran, ia tak hanya dituntut membuat siswa mengerti terhadap apa yang ia sampaikan. Agar proses belajar mengajar dapat berjalan efektif, guru juga dituntut mampu mengelola situasi dan kondisi di kelas. Perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan kegiatan belajar mengajar perlu dilakukan agar mencapai tujuan kegiatan belajar mengajar yang optimal dan maksimal. Di sisi lain, guru juga perlu mempunyai jiwa kepemimpinan (halaman 13-36). 

Seorang guru hendaknya juga memiliki kemampuan sebagai kompetitor. Yang dimaksud penulis buku terkait kemampuan ini adalah guru menjadi “pesaing” bagi siswanya, sehingga siswa akan selalu tertantang untuk memperbaiki kualitas belajar mereka. Sebagai contoh, jika guru ingin siswa-siswanya gemar membaca, maka guru bisa menciptakan semacam lomba membaca di mana guru juga terlibat sebagai peserta di dalamnya. Intinya, guru harus pandai menciptakan suasana yang kompetetif di dalam kelas, sehingga antara guru dan siswa senantiasa tercipta persaingan untuk terus maju. Persaingan untuk maju berbeda dengan persaingan untuk menang. Sebab, jika tolok ukurnya kalah dan menang, maka kompetisi itu takkan memberikan efek edukatif bagi siswa. Dalam hal ini, guru pun harus lapang dada dan menerima kenyataan apabila siswanya lebih hebat. Guru dan siswa perlu saling belajar memajukan diri (halaman 37-38). 

Tak kalah penting, guru perlu memiliki kemampuan sebagai orangtua, saudara atau teman bagi siswa yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Sewaktu-waktu guru bertindak sebagai orangtua, sewaktu-waktu bertindak sebagai saudara, dan sewaktu-waktu bertindak sebagai teman atau sahabat bagi siswa. Yang ditekankan di sini, guru perlu berupaya semaksimal mungkin menegakkan nilai-nilai edukatif  . Guru perlu mengenyahkan perilaku kekerasan, sikap otoriter, dan arogansi. Guru pun perlu memiliki kemampuan sebagai hakim apabila menjumpai kasus-kasus siswa. Layaknya seorang hakim, guru berusaha seadilnya memberikan keputusan. Guru harus memahami persoalan dengan baik, tak emosional, tak pilih kasih, tegas, mengutamakan nilai-nilai edukatif, dan tak terlalu memvonis tetapi menyadarkan, sehingga berbagai permasalahan siswa dapat tertangani dengan baik (halaman 49-55). 

Kemampuan sebagai motivator juga perlu dimiliki guru. Memotivasi siswa untuk maju dan berkembang serta menggapai keberhasilan perlu dilakukan guru. Guru perlu mencari tahu cita-cita siswa dan memotivasinya. Guru hendaknya tak sungkan mengapresiasi setiap prestasi siswa, sehingga siswa lebih percaya diri mengembangkan potensinya. Tak ada salahnya apabila guru menceritakan kisah-kisah inspiratif perjuangan orang-orang yang berhasil dalam hidupnya, baik sosok asli Indonesia maupun sosok dari luar negeri (halaman 99-110). 

Selain kemampuan-kemampuan di atas, penulis buku juga menjelaskan kemampuan guru sebagai pelatih, desainer, dan peneliti. Setiap buku tentu memiliki kekurangan. Namun, sebagai bagian dari ikhtiar meningkatkan kualitas guru/calon guru yang itu artinya meningkatkan kualitas pendidikan, buku ini bisa dijadikan referensi. Ada pemahaman baru dalam buku ini untuk menghadirkan guru yang multitalenta. Di tengah beragamnya karakteristik dan problematika siswa, guru yang multitalenta tentu diharapkan. 
HENDRA SUGIANTORO

Membingkai Masa Lalu dalam Serentetan Surat

Oleh: Hendra Sugiantoro
Dimuat di Perada KORAN JAKARTA, Jum'at, 1 Maret 2013 

Judul Buku: Surat Cinta untuk Kisha Penulis: Bintang Berkisah Penerbit: DIVA Press, Yogyakarta Cetakan: I, Januari 2013 Tebal: 374 halaman ISBN: 978-602-7640-55-9
Hidup masa kini adalah perjalanan dari masa lalu. Banyak suka dan duka dialami di masa silam itu. Masa lalu memang akan menjadi kenangan. Dalam novel ini, kita akan mendapati masa lalu yang dibingkai Ramu dalam 17 surat yang ditujukan kepada Kisha. Serentetan surat ditulis dan dikirimkan Ramu menjelang eksekusi matinya karena kejahatan terorisme.

Ramu dan Kisha saling bersahabat di kampung dan di sekolah ketika kecil. Keduanya cerdas dan berprestasi di sekolahnya. Karena keluarga Ramu berpindah ke Gulama, mereka akhirnya terpisah (halaman 119-141). Kehidupan di Gulama terus berjalan sampai suatu kasus menimpa ayah Ramu. Ayahnya dipecat karena ketahuan menjual beberapa bahan baku perusahaan secara gelap. Meskipun tak habis pikir dengan perbuatan tercela itu, menurut Ramu tak hanya kesalahan ayahnya. Bagaimana pun, ayahnya telah bekerja keras mencukupi kebutuhan keluarga. Istri dan anak-anaknya yang kerapkali tak mau tahu betapa sulitnya mencari uang dan hanya menuntut segala hal terpenuhi. Akibat kasus itu, ayahnya limbung. Sampai suatu hari ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan di jalan raya (halaman 227-246). 

Setelah kematian sang ayah, Ramu mencari nafkah untuk keluarganya. Ibunya juga berharap Ramu menikah. Lewat suratnya kepada Kisha, Ramu menceritakan pilihan pasangan hidupnya yang bernama Sofia. Dari pernikahan itu lahir seorang anak. Namun, fakta getir tak bisa ditolak. Tak beberapa lama kemudian, ibunya meninggal dunia. Ramu seperti kehilangan besar karena merasa belum membahagiakan ibunya. Ramu bertambah kalut ketika anaknya menderita demam berdarah dan tak mampu diselamatkan. Dalam waktu berdekatan, ibu dan anak yang disayanginya meninggal dunia. Bahkan, rumah tangganya tak bisa dipertahankan. Ramu bercerai dengan istrinya (halaman 270-290).
 
Menyadari getirnya kehidupan, respons setiap manusia cenderung tak sama. Kadangkala manusia terjerembab pada hal-hal negatif akibat tak kuat menghadapi ujian hidup. Namun, Ramu justru memperoleh pemahaman religius yang lebih terang. Menurutnya, sejatinya segala keindahan di dunia ini hanyalah fatamorgana. Tak seharusnya dia tergantung pada arus perputaran dunia yang melulu sekadar persoalan nafsu dan materi. Ramu menemukan kesadaran untuk lebih mensyukuri nikmat Tuhan. Dia pun memiliki pemahaman bahwa tak ada kebahagiaan yang lebih sempurna selain melakukan kebaikan, kebajikan, dan kepedulian disertai ketulusan dan hati yang lapang. Setelah kematian ibu dan anaknya serta perceraian dengan istrinya, Ramu seolah mengalami titik balik yang mampu mengubah sikap, pola hidup, tujuan, dan pandangan hidupnya. Dia menjadi manusia yang banyak memberi dan meluaskan kebaikan (halaman 295-300). 

Namun, jalan hidup fatal justru dialami Ramu ketika ikut jaringan terorisme. Bukan karena pemahaman agama yang dangkal, tapi kebenciannya terhadap koruptor. Ramu kerapkali menyaksikan pejabat negara yang hanya mengenyangkan perutnya sendiri dan melalaikan rakyat. Apatismenya terhadap pejabat negara membuncah. Pengeboman dilakukan ketika dilangsungkan pertemuan di sebuah restoran yang dihadiri banyak pejabat negara dan duta besar dari negara manca. Yang tewas, 200 orang lebih (halaman 343-360).

Tak sekadar soal perasaan cinta Ramu kepada Kisha, novel ini menyajikan fakta sosial dan geografis di daerah terpencil tempat tinggal Ramu dengan kegetiran dan keindahannya. Ramu menjadi bagian dari banyak manusia di negeri ini yang geram terhadap pejabat negara yang tak jelas kinerjanya bagi rakyat. Namun sayangnya, kemarahannya lewat aksi terorisme itu justru membuat permasalahan tak terselesaikan. Lewat serentetan surat Ramu kepada Kisha, kita bisa memetik pelajaran hidup di tengah tarikan kebaikan dan keburukan di dunia ini. Masa lalu mengandung hikmah bahwa hidup di dunia ini sementara. Tak ada yang abadi, begitu pula dengan kebahagiaan dan kegetiran yang dialami seseorang.
Hendra Sugiantoro
penikmat novel, tinggal di Yogyakarta

Pesohor (Bukan) Panutan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Opini KORAN MERAPI PEMBARUAN, Selasa, 26 Februari 2013

Adanya pesohor yang bersikap dan berperilaku kurang mulia memang kerapkali mengundang getir. Banyak pihak memvonis miskinnya keteladanan dalam diri public figure. Begitu pula dengan “artis” politik yang mengabaikan dan menihilkan etika kekuasaan. Keteladanan tidak didapatkan dari politisi-politisi busuk yang berbuat korupsi dan tak jelas kinerjanya bagi kemaslahatan rakyat.
Membaca figur publik dikaitkan dengan faktor keteladanan, menurut penulis, seyogianya perlu perubahan cara pandang kita. Selama ini yang tertanam di benak kita adalah “manusia malaikat” dalam diri pesohor. Pesohor harus berperlaku benar, bersikap baik, dan layak menjadi panutan. Hal tersebut tidaklah salah, sebab mereka disaksikan oleh orang-orang banyak. Popularitas mereka pun turut ditopang oleh keberadaan media massa yang meliput dan mewartakan sepak terjang mereka. Mereka dituntut dapat menjadi panutan di tengah masyarakat luas. Namun, diakui atau tidak, ada ketidakadilan dalam cara pandang kita itu. Jarang kita menyadari, ujar Ignas Kleden (2007), bahwa memperlakukan seseorang sebagai panutan adalah mengasumsikan bahwa orang tersebut mempunyai kualifikasi moral di atas rata-rata, yang melampaui kemampuan moral orang kebanyakan.

Sejatinya figur publik tetaplah manusia biasa, tak luput dari kekhilafan dan kesalahan. Siapa pun manusia melakukan perjuangan untuk menegakkan nilai-nilai positif dan mulia dalam dirinya di tengah tarikan kebaikan dan keburukan. Keteladanan tak melulu harus melihat pada diri figur publik. Artinya, siapa pun bisa menjadi panutan. Yang perlu disadari, sesungguhnya ruang kehidupan merupakan ruang pendidikan, di mana salah satu unsurnya adalah peneladanan. Keteladanan bisa didapatkan dari tukang-tukang becak, ibu-ibu pedagang di pasar, buruh bangunan, pekerja sosial, bahkan anak kecil sekali pun. Dalam hal ini, siapa pun kita selayaknya memandang faktor keteladanan bukan pada nama besar atau popularitas seseorang, namun unsur-unsur kebajikan dan kebaikan yang ditampakkan seseorang yang memang layak untuk diteladani. 

Maka, betapa pentingnya sikap kritis dan objektif kita untuk membedakan mana yang baik dan mana yang salah. Sikap dan perilaku figur publik yang salah dan tercela tidaklah perlu ditiru. Kita hanya meneladani sikap dan perilaku positif dari figur publik. Hal tersebut tidaklah sulit dan rumit dilakukan, karena kesadaran moral sedikit banyak telah meresap dalam diri kita. Hati nurani kita telah memahami hal-hal yang positif dan hal-hal yang negatif. Di tengah tarikan keburukan dan kebaikan, maka kita sebagai manusia tentu saja perlu terus-menerus berusaha memperbaiki diri. Siapa pun kita perlu berjuang membangun sikap dan perilaku positif. Sejak zaman silam, hanya dua pilihan untuk kita pilih dalam hidup ini: kebaikan atau keburukan.

Pada titik ini, kita selayaknya tidak mengalpakan pendidikan moral terhadap anak-anak sebagai generasi masa depan bangsa. Orangtua selayaknya mengambil peran dan tanggung jawab dalam peneladanan ini. Keteladanan positif yang diberikan orangtua memberikan dampak signifikan bagi pembentukan kepribadian dan karakter anak. Penanaman nilai-nilai positif seyogianya dilakukan terhadap anak-anak, sehingga dapat menolak, melawan, dan mengenyahkan setiap hal yang negatif. Moralitas yang teresap pada diri anak akan menjadi perisai diri untuk tak terhanyut pada sikap dan perilaku tidak terpuji. Keteladanan juga perlu diberikan oleh para pendidik di luar rumah, sehingga anak tidak hanya mendapatkan pengajaran moral, tetapi juga model perilaku yang bermoral.

Jadi, kita hendaknya tidak perlu lagi berlelah-lelah menghakimi para pesohor yang miskin keteladanan. Masyarakat tentu telah memahami moralitas dan mampu memilah mana yang pantas diteladani dan mana yang tidak pantas diteladani. Justru masing-masing diri kitalah yang selayaknya perlu berusaha menjadi panutan. Kita memperbaiki diri kita, bersikap dan berperilaku baik. Kita tentu saja menginginkan diri kita bisa menjadi inspirasi, motivasi, dan spirit kebaikan bagi siapa pun. 

Sesungguhnya kehidupan yang kita jalani akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta. Apapun profesi dan pengabdian kita, kita bertanggungjawab menjadi sosok panutan pada hal-hal positif. Itu mungkin tak semudah mencabut sehelai rambut dari kulit kepala. Maka, di antara kita, ada kaidah untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Begitu. Wallahu a’lam.

Mendukung Pelajar Gemar Membaca

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di REPUBLIKA DIY-JATENG, Selasa, 19 Februari 2013

Gerakan 10 menit membaca diluncurkan dalam Festival Pelajar Yogyakarta 2012 pada Minggu (6/5) lalu. “Melalui gerakan ini, kami ingin mengajak pelajar dan masyarakat untuk bisa melakukan kebiasaan baik dengan membaca setidaknya 10 menit sebelum beraktivitas,” kata Koordinator Seksi Acara Festival Pelajar Yogyakarta Salma Karima (Republika Online, 6/5).

Apakah gerakan yang dimotori Forum Komunikasi Pengurus OSIS (FKPO) dan Forum Antar-Kerohanian Islam (Farohis) pelajar se-Kota Yogyakarta tersebut bisa berjalan maksimal?
Fuad Hassan (2004) pernah berujar bahwa budaya baca hanya bersemi manakala kita secara sadar mengisi waktu (to fill time) dengan membaca, bukan membaca sekadar untuk menghabiskan waktu (to kill time). Membaca tentu tak bisa dibatasi waktu. Siapa pun bisa mengisi waktunya dengan membaca kapan saja dan di mana saja. Dalam hal ini, peluncuran gerakan 10 menit membaca tetap perlu diapresiasi. Poin pentingnya adalah adanya kesadaran pelajar membudayakan membaca. Diharapkan agar guru-guru di sekolah memberi respons. Seperti apakah?
            Faktor keteladanan tentu penting. Guru juga harus gemar membaca. Di samping itu, dengan mengelola kegiatan belajar dan mengajar di kelas. Pertama, guru menganjurkan pelajar untuk membaca buku. Kedua, guru menceritakan satu kejadian yang dibaca dari berbagai sumber (misalnya buku, koran, majalah) sebagai titik tolak pembelajaran. Ketiga, guru meminta pelajar menceritakan peristiwa yang pernah mereka baca. Keempat, memberi tugas membaca kepada pelajar secara berkesinambungan (Wardani dalam Farida Rahim, 2007).

Di dalam kelas, guru tak melulu meminta pelajar terus mencatat apa diterangkan atau yang ditulis di papan tulis. Suasana diskusif juga diperlukan. Sebab, papar Said Tuhuleley (2004), dengan melakukan itu pelajar akan merasa perlu menyiapkan diri sebaik-baiknya. Pelajar semakin memperdalam pengetahuannya. Pelajar akan merasa risih apabila dalam setiap kesempatan bertanya atau berdialog hanya duduk diam karena keterbatasan wawasannya. Pastinya guru bertugas membangun suasana dialogis di dalam kelas agar semua pelajar terangsang untuk berpartisipasi.
Pada dasarnya, banyak alternatif bisa dilakukan guru disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Selain itu, saatnya pihak sekolah mengoptimalkan fungsi perpustakaan. Langkah progresif perlu dilakukan dengan memosisikan perpustakaan sebagai “jantung sekolah”. Lokasi perpustakaan, bangunan perpustakaan, petugas perpustakaan, ketersediaan bahan bacaan, dan hal terkait lainnya perlu diperhatikan. Jumlah ideal buku di perpustakaan sekolah, saran Asosiasi Membaca Internasional (1999), adalah 20 kali jumlah murid.
Terkait penyediaan buku di perpustakaan tampaknya perlu kerja sama pihak-pihak lainnya, seperti dengan Bank Buku Jogja yang dikelola Perpustakaan Kota Yogyakarta. Penerbit-penerbit buku di Yogyakarta tak ada salahnya menyumbangkan sekian persen dari produksi bukunya yang sesuai dengan kebutuhan pelajar. Jika ada kemauan, ada jalan lainnya yang bisa ditempuh. Pungkasnya, mari kita dukung budaya membaca pelajar Yogyakarta yang istimewa. Wallahu a’lam.

Buku Harian yang Menggoncang Jiwa Istri

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Resensi Buku JATENG POS, Minggu, 17 Februari 2013

Judul Buku: Diary Suamiku Penulis: Vanny Chrisma W. Penerbit: Najah (Diva Press Group), Yogyakarta
Cetakan: I, 2012 Tebal: 340 halaman ISBN: 978-602-191-218-8
 
Setiap laki-laki dituntut untuk kuasa memahami sisi psikologi seorang perempuan. Apalagi dengan istrinya, suami tak mungkin seenaknya mengabaikan. Seorang istri memang membutuhkan nafkah lahir, namun harta benda kerapkali menyisakan kehampaan apabila tak disertai kedekatan, perhatian, dan kasih sayang suaminya.

Novel ini mengisahkan tokoh bernama Nilad Dunya yang bersuamikan pengusaha tekstil. Suaminya, Sulthan Tammimah, yang berambisi meluaskan pasar dagangnya justru membuat istrinya merana. Kesibukan suaminya membuat Nilad kesepian. Pernikahan keduanya tengah berjalan sebulan pun, Sulthan harus meninggalkan Nilad. Sulthan melakukan perjalanan jauh selama tujuh bulan ke negeri-negeri seberang untuk memperluas area dagangnya. Lebih memilukan, selama suaminya pergi, Nilad tak boleh keluar rumah. Nilad hanya sanggup terdiam (halaman 21-25). 

Saat suaminya pergi itulah terjadi konflik batin dalam diri Nilad. Lebih-lebih lagi ketika Nilad melihat buku kecil di laci meja suaminya. Ada keinginan kuat untuk mengetahui isi buku kecil itu yang seperti diary. Setelah dibuka, ada goresan pena yang menceritakan tentang seorang putri di Tibet. Tanpa berpikir jernih, Nilad menduga suaminya telah mendua. Nilad pun menelepon suaminya untuk meminta penjelasan. Ternyata, setelah telepon diangkat yang menerima adalah seorang perempuan. Berkecamuklah hati Nilad dengan dugaan kalau suaminya benar-benar berselingkuh (halaman 35-48). 

Ingin mengetahui lebih lanjut isi buku itu, Nilad bertambah terhenyak karena ada tulisan yang menceritakan perempuan lainnya bernama Samina. Adanya dua perempuan dalam buku kecil itu, dugaan Nilad bahwa suaminya berselingkuh kian kuat. Tak beberapa lama kemudian, lewat yahoo messenger, perempuan bernama Samina itu mengejutkan Nilad. Samina mengontak Nilad dan mengaku bahwa dirinya telah hamil. Kegelisahan, kegeraman, dan kemarahan Nilad kepada suaminya pun kian memuncak (halaman 69-93). 
 
Kondisi kejiwaan Nilad yang semakin labil akhirnya menemukan titik terang ketika suaminya berusaha menjelaskan semuanya. Siapakah putri dari Tibet itu, siapakah Samina? Benarkah suaminya telah berselingkuh? Benarkah suaminya yang kerapkali bepergian untuk urusan bisnis hanya sebagai alasan menemui perempuan-perempuan simpanannya? Terlepas dari itu, novel ini memberikan pelajaran bagi siapa pun untuk lebih memaknai ikatan suami-istri. Dalam pikiran bijak seorang istri, janji-janji materi tidaklah terlalu penting. Lebih penting dari itu adalah kebersamaan dalam rumah tangga dengan komunikasi yang berjalan intensif, sehingga terhindar dari keretakan, kecurigaan, dan konflik yang tak perlu. Seorang suami boleh saja sibuk berbisnis, namun seorang istri adalah belahan jiwa yang harus dihormati kedudukannya.

Heroisme Seorang Ibu Tak Tamat SD

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Perada KORAN JAKARTA, Rabu, 13 Februari 2013 

Judul Buku: Ibuk, Penulis: Iwan Setyawan Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Cetakan: I, 2012 Tebal: 293 halaman ISBN: 978-979-22-8568-0
 
Di tengah kehidupan masyarakat, adanya kemiskinan tak dimungkiri. Masih banyak penduduk di negeri ini yang masih terpontang-panting sekadar memenuhi kebutuhan dasarnya. Lewat novel yang diangkat dari kisah nyata ini, kita akan melihat kemiskinan dari sebuah keluarga yang tinggal di Batu, Malang, Jawa Timur. Sebuah keluarga yang digerakkan oleh seorang perempuan yang memaknai kemiskinan bukanlah penderitaan, tetapi sebuah perjuangan. Seorang perempuan itu dipanggil oleh kelima anaknya dengan panggilan Ibuk. Nama aslinya adalah Ngatinah, yang tak sempat menamatkan jenjang sekolah dasar (SD). 

Harapan melanjutkan sekolah sirna, ia tinggal di rumah dan membantu orangtuanya mengurus adik-adiknya. Ketika berusia 16 tahun, ia membantu neneknya berjualan baju bekas di Pasar Batu. Di pasar itulah seorang kernet angkot menaruh hati padanya. Hanya berbekal keberanian untuk menjalani hidup bersama, mereka akhirnya menikah (halaman 1-25).

Isa, anak pertama, pun lahir ketika Ibuk berusia 18 tahun, lalu disusul kelahiran anak berikutnya, yakni Nani, Bayek, Rini, dan Mira. Lima anak sudah terlahir. lima kali pula Ibuk melalui ambang batas antara hidup dan mati. Lima anak yang menjadi cahaya terang dalam hidup Ibuk. Ia menjaga lima anaknya siang malam, tanpa jeda, tanpa lelah. Ibuk selalu mencurahkan cintanya (halaman 29-38). Dengan penghasilan suami yang pas-pasan, Ibuk menjalankan rumah tangga dengan kesederhanaan. Anak-anak dilatih hidup sederhana. Apa yang terjadi dalam keluarga itu adalah sebuah pesta kehidupan yang dipimpin oleh seorang perempuan yang sederhana nan perkasa. Seorang perempuan yang mungkin melahirkan anak tanpa rencana, namun yakin bahwa setiap anak datang membawa berkah. Ibuk memberikan apapun yang dimiliki untuk mereka (halaman 42).
Karena penghasilan suaminya yang minim, Ibuk mengelola keuangan keluarga secermat mungkin. Berhemat dilakukannya. Suaminya yang semula sebagai kernet akhirnya memiliki angkot sendiri. Namun, berhemat dan sekeras apapun sang suami bekerja kerapkali belum mampu mencukupi semua kebutuhan keluarga. Maka, apapun dilakoni Ibuk, seperti menggadaikan atau menjual barang, bahkan berhutang. Memang itu penuh risiko, tapi Ibuk dengan kecermatan mengatur uang bisa mencicil hutang-hutangnya. Apa yang dilakukannya itu demi anak-anaknya agar menggapai masa depan yang cemerlang. Ketika anak-anaknya mulai menginjak bangku SD, yang terlintas di benak Ibuk adalah agar kelima anaknya tak berhenti sekolah. Bahkan, Ibuk bercita-cita membawa anak-anaknya bisa kuliah. Bagi Ibuk, betapa pentingnya pendidikan agar kehidupan anak-anaknya lebih baik dan lebih sejahtera. Sebuah impian yang dibarengi ketulusan dan kesyukuran dalam menjalani hidup yang apa adanya.

Urusan sekolah anak-anaknya diatur Ibuk secara baik. Buku sekolah dimiliki anak-anaknya secara turun-temurun, dari kakak ke adik-adiknya. Sepatu rusak sebisa mungkin diperbaiki. Membeli sepatu hanya ketika benar-benar jebol. Biaya sekolah diatur Ibuk agar tak telat. Semuanya disiasati Ibuk agar anak-anaknya tetap percaya diri dan tak memiliki masalah dalam bersekolah. Ketulusan cinta dan perjuangan Ibuk dihayati benar-benar oleh anak-anaknya. Kelima anaknya tak hanya tekun belajar, tetapi juga berprestasi di luar bidang akademik dan mencoba berwirausaha membantu orangtua.

Sebuah keputusan yang dibuat Ibuk yang paling mengejutkan adalah ketika Bayek tamat SMA dan diterima di jurusan Statistika ITB Bogor. Demi anak laki-lakinya itu bisa kuliah, Ibuk dengan penuh percaya diri memutuskan agar angkot dijual. Keputusan yang berani karena angkot adalah kendaraan penopang ekonomi keluarga. Suaminya pun mencari pekerjaan lain (halaman 132-134). Keputusan Ibuk itu tak sia-sia, karena Bayek berhasil lulus kuliah dan tak lama kemudian bekerja di Nielsen Jakarta. Beberapa tahun kemudian, Bayek dipercaya bekerja di Nielsen International Research di New York. Perubahan hidup pun terjadi. Bayek mampu merubah kehidupan keluarganya.

Novel ini bisa menjadi pelajaran betapa pentingnya pendidikan untuk meningkatkan taraf hidup. Diangkat dari kisah nyata, novel ini memberikan motivasi dan spirit bagi setiap keluarga di Indonesia untuk bisa maju, semiskin apapun secara materi. Dengan perjuangan, impian yang mulia, dan doa yang memanjang, kehidupan yang lebih baik bisa saja tercapai.(Hendra Sugiantoro). 

Impian Sekolah Berkualitas

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Opini SUARA KARYA, Selasa, 12 Februari 2013
 
Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) yang telah menyedot anggaran triliunan rupiah sejak digulirkan pada tahun ajaran 2006/2007 kini tinggallah kenangan. Yang tersisa dari kontroversi RSBI adalah tidak surutnya impian untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.

Kini, sampai berakhir tahun ajaran 2012/2013, sebagaimana ditegaskan Mohammad Nuh selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), terjadi masa transisi pada sekolah berlabel RSBI. Langkah tersebut sebagai respons terhadap putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menilai Pasal 50 Ayat (3) UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20/2003 sebagai payung hukum penyelenggaraan RSBI tidak sesuai konstitusi. Masa transisi diperlukan sebab sekolah RSBI sudah memiliki anggaran dan rencana kerja selama satu tahun anggaran. Selain itu, sekolah RSBI juga sudah menampung sumbangan dari wali murid dan orangtua siswa. Maka, kata Mohammad Nuh, rencana kerja dan anggaran RSBI tahun ajaran ini harus dijalankan terlebih dahulu. Sesuai dengan putusan MK, Mendikbud melarang pungutan sumbangan baru di sekolah eks-RSBI. Sekolah eks-RSBI juga diwajibkan untuk melepaskan label dan atribut RSBI (www.jurnas.com, 22 Januari 2013). 

Bagaimana pun, kita tentu perlu mengapresiasi setiap ikhtiar pemerintah (cq. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan/Kemdikbud) meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini. Namun, kita tidak mungkin menutup mata terhadap fakta bahwa sebagian masyarakat menilai kebijakan RSBI bertentangan dengan prinsip keadilan dan persamaan pendidikan. Penolakan terhadap sekolah dengan label RSBI hendaknya dimaknai pemerintah sebagai bentuk harapan masyarakat di negeri ini untuk menjadikan institusi sekolah sebagai wahana meniti masa depan yang lebih baik. Bagaimana pun juga, sekolah tetap diharapkan untuk menciptakan perubahan sosial.
 
Dengan jutaan anak bangsa yang memiliki potensi di negeri ini, pemerintah memang menghadapi tantangan besar agar seluruh anak bangsa bisa berkembang dan mengaktualisasikan potensi dirinya. Pemerintah masih berikhtiar sepenuh daya untuk melunasi janji kemerdekaan, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekolah tetap dihayati pemerintah sebagai wahana memajukan anak-anak bangsa agar mencapai kehidupan yang lebih baik. Tetapi, persepsi antara pemerintah dan para pihak yang berkepentingan terhadap pendidikan nasional kerapkali berlainan. Maka, lewat tulisan ini, penulis mencoba urun rembuk terkait peningkatan kualitas pendidikan, terutama pendidikan di sekolah di negeri ini.
 
Prinsip bahwa setiap warga negara harus memperoleh kesempatan belajar yang sama tentu saja telah dimengerti oleh pemerintah. Hanya saja, sebisa mungkin soal kualitas sekolah selayaknya tak ada diskriminasi. Apalagi dengan kebijakan ujian nasional (UN), amat tidak masuk akal apabila siswa-siswa yang berada di sekolah yang kualitasnya tidak sama harus menempuh UN yang sama. Persamaan kesempatan belajar yang menjadi prasyarat akuntabilitas pendidikan, dijelaskan Doni Koesoema (2007), adalah memastikan semua siswa dapat hadir di sekolah dan melaksanakan kegiatan belajar. Di sekolah, siswa mendapatkan metode pengajaran yang berkualitas dengan materi yang terorganisasi baik, logis, dan koheren, yang didukung kehadiran guru yang cakap, kompeten, dan profesional, disertai fasilitas sekolah yang aman dan nyaman untuk belajar, kebijakan sekolah yang nondiskriminatif, serta pemberian materi pelajaran yang selaras standar isi minimal kurikulum sesuai yang ditetapkan.
 
Untuk meningkatkan kualitas sekolah, daya dukung anggaran tidak mungkin diabaikan. Laporan Indonesia Corruption Watch (ICW) bahwa tingkat korupsi terbesar pada tahun 2012 lalu terjadi di dunia pendidikan perlu dijadikan evaluasi Kemdikbud. Naiknya anggaran pendidikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) disinyalir sebagai pemicu kasus korupsi. Upaya peningkatan kualitas sekolah tentu memerlukan manajemen anggaran secara akuntabel dan transparan.

Dalam meningkatkan kualitas sekolah, Kemdikbud memang diharapkan dapat mengimplementasikan standar pendidikan nasional di setiap sekolah. Standar nasional itu meliputi standar isi, standar proses, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar kompetensi lulusan, standar sarana prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian. Namun, yang perlu digarisbawahi, standarisasi tetap perlu memperhatikan potensi dan kekhasan masing-masing daerah di negeri ini. Proses dan isi penyelenggaraan pendidikan sekolah di daerah dengan potensi kelautan, misalnya, tidak perlu disamaratakan dengan daerah-daerah agraris. Begitu pula potensi dan kekhasan budaya adiluhung masing-masing daerah perlu diperhatikan. Muatan lokal pada dasarnya bertujuan untuk mengakomodasi kekhasan masing-masing daerah di Indonesia, namun harus diakui pelaksanaannya belum berjalan secara baik. 

Jadi, proses pendidikan sekolah perlu memasukkan potensi dan kekhasan masing-masing daerah, sehingga mampu membekali kemampuan siswa-siswanya untuk membangun dan memajukan daerahnya. Sejatinya kemajuan daerah yang digerakkan oleh putra dan putri daerahnya akan turut menopang kemajuan bangsa dan negara ini. Contoh menarik barangkali bisa melihat Australia. Menurut Ki Supriyoko (2010), kurikulum sekolah di Australia bisa berbeda apabila provinsi atau teritorinya berbeda. Billanook School dan Trinity School yang dikenal sebagai sekolah berkualitas di Australia memiliki perbedaan dalam ukuran kualitasnya.

Tentu, bicara peningkatan kualitas sekolah, kebijakan yang tepat dari Kemdikbud amat sangat dinantikan. Hal-hal yang beraroma diskiriminasi dan komersialisasi, sebagaimana pengalaman selama ini, cenderung sensitif dan disikapi negatif oleh masyarakat. Peningkatan kualitas pendidikan di sekolah masih menjadi pekerjaan tak mudah. Namun, optimisme harus terus tercipta untuk melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa. Selamat bekerja Kemdikbud. Wallahu a’lam.

Bersatulah Rakyat, Tolak Politisi Busuk!

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Opini KORAN MERAPI PEMBARUAN, Sabtu, 26 Januari 2013

Selama tahun ini, jelang hajatan pemilihan umum 2014, hiruk-pikuk politik tak mungkin terhindarkan. Untuk menuju kekuasaan, partai politik yang lolos verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dipastikan kian kencang menabuh genderang. Partai Nasional Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Golongan Karya, Partai Gerakan Indonesia Raya, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Hati Nurani Rakyat bersiap merebut hati rakyat. 

Sejak kini, meskipun masa kampanye akan berlangsung tahun depan, rakyat perlu mengawal dan mengawasi sepak terjang partai politik itu. Kepercayaan rakyat terhadap partai politik yang cenderung menurun bisa menjadi energi positif untuk lebih hati-hati dan waspada. Rakyat perlu bersikap kritis terhadap calon legislatif yang akan ditentukan partai politik sebagai anggota DPR dan DPRD masa bakti 2014-2019. Pemilihan umum adalah pintu gerbang melahirkan sosok-sosok berintegritas dan memiliki kemampuan mumpuni untuk menjalankan lembaga legislatif. Mereka yang terpilih akan menentukan nasib rakyat dan juga nasib bangsa dan negara ini. Maka, agar kinerja lembaga legislatif dapat berjalan baik, rakyat bertanggung jawab untuk menolak dan melawan politisi busuk. 

Sebagaimana diketahui, istilah politisi busuk pernah mengemuka pada pemilihan umum 2004. Harapannya, politisi-politisi yang dinilai busuk tak menembus lingkaran kekuasaan. Namun apa daya, politisi-politisi busuk masih saja bergentanyangan. Pemilihan umum 2009 pun menghasilkan beberapa politisi busuk yang menggerogoti uang negara. Merujuk pada riset Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) pada semester II tahun 2012, ada sekitar 69,7% anggota legislatif terindikasi tindak pidana korupsi. Bisa dibayangkan betapa merananya rakyat negeri ini apabila wakilnya di lembaga legislatif lebih dari separuhnya berbuat korupsi. 

Perbuatan negatif politisi memang bisa menguatkan stigma bahwa politik itu kotor. Namun, pada hakikatnya, politik itu bersifat netral. Para pelaku politiklah yang membuat wajah politik itu bersih atau kotor. Rakyat tak mungkin membenci politik meskipun politik kerapkali dikendalikan politisi-politisi busuk sehingga menjadikan rakyat penuh kenestapaan. Dalam karya klasik Republic-nya Plato dan Politics-nya Aristoteles diterangkan bahwa politik itu sejatinya agung, indah, dan mulia—sebagai wahana membangun masyarakat utama. Sebuah masyarakat bermartabat dan berkeadaban yang terwujud dalam tatanan sosial yang berlandaskan hukum, norma dan aturan-aturan, sehingga terciptalah keadilan dan kesejahteraan rakyat (Thomas Koten: 2013). Rakyat harus bersatu padu menolak dan melawan politisi busuk agar politik bisa berjalan untuk membangun kemaslahatan publik. 

Lahirnya politisi busuk lewat pemilihan umum 2014 sangat dimungkinkan. Salah satu indikasinya adalah kecenderungan pemberian izin eksplorasi dan eksploitasi pertambangan. Politisi yang kini berkuasa melakukan kongkalingkong dengan pengusaha-pengusaha hitam agar memperoleh uang melimpah untuk bertarung dalam pemilihan umum 2014. Hanya demi harta dan kuasa, izin pertambangan cenderung dilakukan asal-asalan dan berdampak pada kerusakan lingkungan hidup. Lembaga-lembaga peduli lingkungan hidup tentu perlu membuka daftar politisi yang melakukan hal tersebut agar rakyat bisa mengetahui secara lebih jelas. 

Pada titik ini, inisiatif sejumlah partai politik untuk mengumumkan daftar calon legislatif ke publik sebelum resmi diserahkan ke KPU perlu diapresiasi. Transparansi partai politik ini selayaknya bisa dimanfaatkan rakyat untuk melihat rekam jejak dan integritas calon legislatif, baik yang berwajah lama maupun yang berwajah baru. Dalam UU No. 8/2012 Tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Pasal 51 Ayat 1 Huruf g diterangkan bahwa seseorang yang pernah dijatuhi pidana penjara karena melakukan tindak pidana yang diancam pidana lima tahun atau lebih bisa termasuk calon legislatif bermasalah. 

Kriteria politisi busuk tentu cakupannya luas. Tak hanya penjahat lingkungan hidup dan koruptor, tetapi juga pelanggar hak asasi manusia. Politisi yang kini berkuasa dan tak jelas kinerjanya bagi rakyat juga termasuk politisi busuk. Politisi busuk hanya menjadikan kekuasaan sebagai lahan mencari uang untuk kepentingan perutnya. Pungkasnya, rakyat perlu memiliki kesadaran politik untuk memberi “tanda merah” pada politisi busuk. Lembaga-lembaga nonpartai politik bisa menguatkan gerakan tolak politisi busuk ini. Wallahu a’lam.

Tingkatkan Kualitas Diri

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Bisik MINGGU PAGI

Tahun 2013 telah menggantikan tahun 2012. Sesungguhnya pergantian tahun bukan sekadar perubahan kalender semata. Bagi sebagian kita mungkin telah merumuskan resolusi, mimpi, atau cita-cita pada tahun ini. Itu hal yang positif, sehingga bisa membingkai perjalanan selama setahun pada tujuan yang hendak dicapai. Namun, kita tak memungkiri bahwa ada sebagian dari kita yang menganggap pergantian tahun hanya biasa-biasa saja. Tak ada impian ataupun target khusus yang terencana, kecuali hanya melakoni rutinitas sehari-hari seperti biasanya.

Yang selayaknya kita sadari, perubahan dalam hidup ini adalah sebuah keniscayaan. Pesatnya perkembangan zaman adalah bagian dari perubahan. Kita tak bisa menghindari perubahan itu. Yang bisa kita lakukan adalah bertumbuh meningkatkan kualitas diri dengan cara belajar. Hidup sampai tua, belajar sampai tua. Artinya, kita senantiasa belajar meningkatkan kualitas keilmuan, pengetahuan, wawasan, keterampilan, sikap, perilaku, dan sebagainya. 

Peningkatan kualitas diri itu akhirnya akan berbanding lurus dengan harapan, impian, dan cita-cita kita. Kita tak mungkin dapat meningkatkan produktivitas dan prestasi kerja kalau tak mau belajar meningkatkan kualitas diri di bidang pekerjaan kita. Karir kita takkan beranjak apabila enggan belajar meningkatkan kompetensi diri. Orangtua sulit mendidik anaknya secara baik apabila tak sudi belajar ilmu pendidikan dan psikologi anak. Wartawan pun takkan bisa menerbitkan media massa berkualitas kalau berhenti untuk belajar. Sastrawan juga harus senantiasa belajar agar bisa menganggit karya sastra yang mempesona. Intinya, belajar itu sepanjang hayat, sampai liang lahat.

Tak sekadar menambah ilmu, wawasan, dan pengetahuan, kita juga perlu belajar memperbaiki sikap dan perilaku kita. Kita yang dahulu suka berkata-kata kasar dan rusuh perlu membiasakan diri berkata santun dan lemah lembut. Kita yang berperilaku kurang baik perlu belajar berperilaku dengan mengedepankan etika dan keadaban. Jadi, marilah kita belajar meningkatkan kualitas diri. Salah satu caranya dengan membaca. Bacalah bahan bacaan sesuai bidang pekerjaan kita atau bacaan lainnya yang bermutu. Bacaan terkait pengembangan dan motivasi diri juga perlu dibaca. Kita yang rajin membaca akan memiliki kualitas hidup yang berbeda dibandingkan dengan yang tak suka membaca. Kegiatan pelatihan, kursus, seminar atau kajian keilmuan boleh saja kita ikuti. Tak kalah penting, kita juga perlu meningkatkan kualitas keagamaan kita. Membaca kitab suci atau buku agama bukan urusan kyai/ustadz saja, tetapi siapa pun kita. Untuk meningkatkan kualitas diri, kita bisa melakukan diskusi atau perbincangan untuk menimba pengalaman positif dari orang lain. Perbincangan yang bukan membicarakan kejelekan orang lain, tetapi perbincangan yang membangun dan bermakna bagi hidup.

Intinya, tahun 2013 ini, marilah terus tingkatkan kualitas diri. Kualitas keilmuan, keterampilan, sikap, perilaku, dan lainnya. Kelola waktu kita untuk pengembangan diri menjadi lebih baik. Wallahu a’lam.

Spirit Pemimpin Berjiwa Kerakyatan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Perada KORAN JAKARTA, Sabtu, 19 Januari 2013
Judul Buku: Spirit Semut Ireng Jokowi (Muka Metal Hati Keroncong) Penulis: R. Toto Sugiharto Penerbit: Penerbit Bangkit, Yogyakarta Cetakan: I, 2012 Tebal: xii+108 halaman ISBN     : 978-602-18792-0-7  

Disadari atau tidak, ada sebuah perbedaan antara Jokowi dengan pemimpin lainnya, salah satunya adalah merakyat. Coba bayangkan betapa lelahnya seorang pemimpin merelakan dirinya blusukan kampung sekadar untuk menyapa dan menyatu dalam denyut nadi masyarakatnya. Ketika menjabat walikota Solo pun ia lebih betah berada di tengah masyarakat.

Setelah menjabat Gubernur DKI Jakarta, hampir saban hari Joko Widodo dengan nick name Jokowi menghiasi media massa. Hal ini lumrah apabila dilihat dari wilayah yang dipimpinnya. Menjadi pemimpin di ibukota negara berpeluang lebih besar untuk mendapatkan peliputan terkait sepak terjangnya. Namun, Jokowi dalam ekspos media massa harus diakui tak melulu karena faktor tersebut. Kita bisa bandingkan dengan gubernur DKI Jakarta sebelumnya yang relatif kalah tenar daripada Jokowi.

Dengan latar sebuah tembang dandanggula Semut Ireng Anak-anak Sapi, buku ini mencoba mendedah fenomena Jokowi. Memang buku ini bukan buku pertama yang memprofilkan Jokowi, sebelumnya telah ada buku-buku lainnya. Dengan alasan itulah, penulis buku mencoba mengambil angle berbeda. Kalau diartikan secara harfiah, “Semut Ireng Anak-anak Sapi” adalah semut hitam beranak sapi. Mana mungkin semut hitam memiliki anak sapi? Itu mustahil terjadi, namun potensial terjadi apabila tiba waktunya. 

Sebuah tembang biasanya mengandung perlambang, isyarat, atau makna tak kasat mata. Semut ireng atau semut hitam melambangkan rakyat kecil yang hidup dalam semangat gotong royong, sedangkan sapi merupakan perlambang binatang terhormat, mulia, atau merupakan hewan peliharaan atau kecintaan para bangsawan. Dengan demikian, sapi mencerminkan kaum elit atau menengah ke atas. 

Dijelaskan penulis buku, bahwa semut ireng, representasi dari rakyat kecil yang mampu secara independen tanpa dipengaruhi politik uang akhirnya berhasil menciptakan pemimpin baru yang direpresentasikan melalui sosok Jokowi. Semut hitam benar-benar melahirkan anak sapi. Rakyat jelata melahirkan pemimpin yang mereka idam-idamkan dari kelas mereka sendiri yang kemudian terangkat sebagai kalangan petinggi yang disimbolkan seekor sapi atau lembu (halaman 4-8).

Tanpa harus mendramatisir kehidupan masa kecil Jokowi, orangtua Jokowi termasuk kalangan keluarga kelas bawah. Dunia masa kecil Jokowi adalah dunia yang keras, penuh disiplin dan kerja keras untuk bisa survive. Orangtua Jokowi, Notomiharjo dan Sujiatmi, Jokowi dan ketiga adik perempuannya hidup sederhana. Untuk menafkahi istri dan keempat anaknya, Notomiharjo bekerja sebagai tukang kayu. Mulanya bertempat tinggal nomaden, berpindah-pindah tempat kontrakan. Perpindahan mereka pun masih di sekitar bantaran sungai, seperti bantaran Sungai Premulung di bilangan Dawung Kidul, Sungai Pepe di daerah Munggung serta Sungai Kalianyar di Gilingan.

Kalau semut ireng juga melambangkan spirit entrepreneurship, Jokowi bisa dikatakan tumbuh dan berkembang jiwa kewirausahaannya dalam dunia tukang kayu. Ketika tamat SMA dan melanjutkan pendidikan di Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta, Jokowi mengambil jurusan Teknologi Kayu. Hal itu boleh jadi sebagai kristalisasi dari pergulatan hidupnya di lingkungan keluarga tukang kayu. Kakek Jokowi adalah tukang kayu, paman Jokowi dari keluarga ibunya pun tukang kayu. Tentu pula, ayah Jokowi yang juga sebagai tukang kayu akhirnya turut merangkum obsesinya untuk lebih serius menekuni dunia tukang kayu secara lebih profesional dengan basis pengetahuan dan teknologi lebih tinggi. 

Usai lulus dari UGM, Jokowi tak lama bekerja di PT Kertas Kraft Aceh di Gayo, Aceh Tengah. Pada 1988, Jokowi pun membuka usaha furniture secara mandiri yang diberi nama CV Rakabu dengan kredit atau pinjaman dari bank. Pada awal merintis dan membuka usaha, ia mengikuti proses dan alur yang wajar. Ia mengawali dengan membuka distribusi area produk bisnisnya di sekitar kota Solo dan sekitarnya sampai melebarkan sayap sampai keluar Pulau Jawa, bahkan sejumlah negara. Menurut penulis buku, kepemimpinan Jokowi di dunia politik pun diilhami dari prinsip entrepreneurship, antara lain mendayagunakan ide dan impian, mengandalkan kreativitas, keberanian melakukan terobosan, kepercayaan pada ikhtiar riil, menyikapi dan mengantisipasi masalah sebagai peluang, menyukai hal baru untuk dicoba, tak lekas putus asa, cepat bangkit dari kegagalan, serta transparan dan egaliter (halaman 19-28).         

Lewat buku ini, kita diajak menimba inspirasi baru dari pemaknaan kita terhadap eksistensi seorang Jokowi. Dalam bahasa kerakyatan, papar penulis buku, Jokowi melampaui sebuah lompatan dunia, dari dunia tukang (kayu) memasuki dunia priyayi. Pengalaman hidup Jokowi dengan serangkaian kisah dari bantaran sungai tentu patut disimak sisi-sisi keteladanannya, spirit memperjuangkan identitas melalui proses laku menuntut ilmu, bukan proses instan, yang tentu pantas dijadikan cermin bagi generasi penerus yang peduli membangun peradaban. Buku ini bisa dipetik pelajaran bagi (calon) pemimpin untuk tumbuh dan berkembang di tengah rakyat.(HENDRA SUGIANTORO).

2013, Perbaiki Diri dan Keluarga Kita

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca SUARA MERDEKA, Kamis, 10 Januari 2013 

Ada harapan yang tentunya bersemayam di benak kita pada tahun 2013 ini, bahwa kehidupan kian lebih baik. Harapan yang perlu disertai komitmen dan aksi perbaikan diri. Hal ini penting, sebab tanpa perbaikan diri, kita tak mungkin menghadirkan perubahan bagi kehidupan. Mahatma Gandhi pernah berujar, “Anda haruslah menjadi perubahan yang ingin Anda lihat di dunia”. 

Ya, perbaiki diri kita agar dunia ini juga berubah lebih baik. Kita kerapkali meradang dengan permasalahan dalam kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara ini, namun kita tak cukup hanya menggerutu, melontarkan kritik, dan menumpahkan air mata. Kita justru harus berkontribusi bagi gerak perbaikan. Sejatinya setiap kita bertanggung jawab membuat negeri ini berwajah cemerlang. Hidup kita harus berdampak positif bagi kehidupan. 

Memang di atas bumi ini tak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan manusia terletak pada ikhtiar untuk memperbaiki diri. Tahun ini kita seyogianya bisa lebih baik dari tahun kemarin. Marilah kita memperbaiki diri dengan menjadi insan yang bermanfaat. Kita kuatkan penghambaan kita kepada Tuhan dengan amal yang mulia. Dalam hidup ini, marilah kita tegakkan kejujuran. Dimulai dari diri sendiri, kita menjaga kebersihan lingkungan kita. Kita mengendalikan diri untuk tak melanggar peraturan di jalan raya. Kita tak mengandalkan kekerasan, tetapi kemampuan nalar dan argumentasi yang bijak untuk menyelesaikan permasalahan. Masih banyak contoh lainnya yang bisa kita lakukan dalam rangka perbaikan diri. 

Tak kalah penting, kita juga harus memperbaiki keluarga kita. Bagi orangtua, didiklah anak sebagai amanat Sang Pencipta untuk menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan, berakhlak mulia, dan mampu memakmurkan kehidupan. Memakmurkan kehidupan, bukan merusak kehidupan! Bagi pasangan suami-istri, pernikahan bukanlah sekadar menyatukan dua jenis kelamin: laki-laki dan perempuan. Pernikahan adalah pembangunan kehidupan keluarga sebagai pilar kehidupan masyarakat. Pernikahan juga upaya membangun generasi yang lebih mulia. Ada pertanggungjawaban kepada Tuhan dari kehidupan keluarga kita. Wallahu a’lam.

Korupsi dan Nasib Anak

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Opini SUARA KARYA, Rabu, 9 Januari 2013

Setiap saat, di televisi maupun di koran cetak, pengungkapan kasus korupsi terus-menerus diberitakan. Pengusutan dan penyidikan dilakukan demi keberhasilan pemberantasan korupsi. Keterbukaan dan kebebasan pers dan informasi telah memberi akses bagi masyarakat untuk mengetahui masalah korupsi secara lebih mendalam. Masyarakat pun bisa menyaksikan wajah-wajah pelaku korupsi. Tentu hal ini merupakan hal positif. 
 
Dengan pemberitaan kasus korupsi, menurut penulis, bisa menumbuhkan rasa malu. Tak hanya bagi koruptor yang telanjur malu telah menjadi berita di ranah publik, tetapi juga bagi siapa pun yang berpeluang melakukan korupsi. Tidak korupsi karena malu menjadi pemberitaan di media massa tentu lebih baik daripada tak malu melakukan korupsi. Secara perlahan, masyarakat pun mulai tersadarkan untuk melancarkan perlawanan terhadap korupsi lewat media massa maupun media sosial yang bertebaran di internet. Kontrol masyarakat lewat media sosial di internet bisa menjadi kekuatan rakyat (people power) yang berdaya luar biasa bagi laju pencegahan dan pemberantasan korupsi. 

Pada dasarnya, siapa pun telah memahami bahwa korupsi adalah tindakan tercela. Kesadaran ini bukannya tak ada, namun nafsunya mengarah pada keburukan korupsi atau bisa dikatakan berada pada level jiwa hewani. Komaruddin Hidayat (2009) pernah berujar bahwa nafsu korupsi itu hanya mengejar kesenangan dan kepuasaan emosional-material semata. Meskipun kayanya setengah mati, orang yang masih berada pada tingkatan jiwa hewani tetap saja doyan korupsi. Menumpuk-numpuk harta terus-menerus dilakukannya. Nafsu ini memang tidak mengenal batas dan kerapkali merusak norma sosial dan agama.  

Memang pergulatan jiwa manusia dalam hidup ini senantiasa beradu antara yang baik dan yang buruk. Manusia seolah-olah dihadapkan pada dua pilihan untuk melakoni jalan kebaikan atau keburukan. Tentu saja, setiap manusia harus menanggung risiko dan dampak dari pilihannya itu. Ketika seseorang tidak mampu mengendalikan jiwanya sehingga dirinya lebih didominasi oleh dorongan nafsu untuk mengejar kesenangan semata atau terjebak pada level jiwa hewani (animality), seseorang itu gagal menjadikan nilai dan kualitas insani (humanity) sebagai pemimpin dalam kehidupannya. Pribadi yang demikian itu meski lahiriahnya kaya, namun sesungguhnya jiwanya miskin. Meskipun pendidikan dan jabatannya tinggi, orientasi hidupnya rendah. Orang yang senang melakukan korupsi, jiwanya sakit. Seseorang itu tidak sanggup menaikkan kualitas hidupnya pada tataran humanity yang ditandai dengan sikap selalu mengutamakan nalar sehat dan setia pada bisikan hati nurani (Komaruddin Hidayat: 2009). 

Dengan melakukan korupsi berarti juga melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Korupsi dianggap pelanggaran HAM karena aset atau uang negara yang semestinya digunakan untuk kepentingan publik, tetapi dinikmati oleh orang per orang. Akibatnya, kehidupan publik amat terabaikan. Banyak rakyat menderita lantaran uang negara yang seharusnya digunakan untuk membebaskan mereka dari keterdesakan dan penderitaan dinikmati secara tidak sah oleh para koruptor (Hamid Awaluddin; 2012). 

Disadari atau tidak, korupsi juga bisa berdampak pada nasib anak. Mungkin dampak ini kurang mendapatkan perhatian. Korupsi yang melakukan orangtuanya, tetapi anak bisa turut mendapatkan getahnya. Ketika ayah atau ibunya terpampang di koran cetak atau bersliweran menghiasi layar kaca sebagai tersangka korupsi, bagaimanakah perasaan sang anak?
Dalam kondisi psikologis yang wajar, anak dimungkinkan merasa malu. Mungkin bagi anak yang telah dewasa dan cukup berumur, rasa malu bisa dikendalikan. Namun, anak yang berusia masih belia atau menginjak remaja, kecemasan dan kepanikan bisa saja muncul. Efek sosial bisa terasa ketika berada di sekolah atau dalam pergaulan dengan teman-teman sebayanya. Malah kesedihan dirasakan anak ketika setiap saat mendengar atau membaca berita korupsi yang dilakukan orangtuanya. Pada titik ini, orangtua yang tertangkap korupsi bisa dikatakan telah melakukan kejahatan tersendiri terhadap anaknya. Koruptor tidak mampu memberikan ruang tumbuh kembang yang kondusif bagi anaknya. Anak tidak mendapatkan perlindungan dari orangtua yang korupsi. Perlindungan anak tentu saja tidak hanya mencakup perlindungan fisik, tetapi juga perlindungan psikis.
Mungkin kita bisa berpikir sejenak, benarkah anak selalu menginginkan orangtuanya berlimpah uang dan mencukupi kebutuhan anak secara berlebihan? Menjadi kaya tentu merupakan hak siapa pun, namun menjadi kaya secara tidak benar adalah kesesatan. Pada dasarnya anak lebih membutuhkan kasih sayang dari orangtuanya secara tulus. Membesarkan dan mendidik anak tak selalu terkait dengan keberlimpahan materi. Apabila koruptor bekerja dan mendapatkan uang demi anak, bukankah korupsi hanya memenuhi syahwat semata? Korupsi justru membuat anak sulit memahami orangtuanya yang mencontohkan perilaku tidak terpuji. Anak dengan sendirinya kehilangan teladan dari orangtuanya yang koruptor.
Di lain sisi, dampak bagi anak bisa saja terjadi di masa depan. Tidak hanya saat ini dan hari ini, tetapi juga dalam kehidupan anak pada saat-saat mendatang. Kalau kita mengacu pada hukum kekekalan energi, korupsi yang dilakukan orangtua merupakan energi negatif yang akan membawa keburukan dan hal-hal negatif lainnya. Energi negatif korupsi tidak selalu berdampak langsung pada pelakunya, tetapi bisa pada anak-anaknya. Dalam Islam, orangtua dituntunkan untuk tidak memberi makan anak dengan harta tak halal. Dengan harta hasil korupsi, tumbuh kembang anak kehilangan berkah. Kehidupan anak di masa mendatang bisa beraroma negatif akibat korupsi yang dilakukan orangtuanya saat ini. 
Pungkasnya, apa yang terpapar di atas perlu menjadi renungan kita bersama. Peluang korupsi akan selalu ada. Tak ada jaminan kalau kita tidak melakukan korupsi apabila dihadapkan pada peluang itu. Pastinya, kita menjaga diri tidak memanfaatkan peluang korupsi sekecil apapun. Apabila kita ingin korupsi, kita selayaknya juga perlu memikirkan nasib anak-anak kita. Wallahu a’lam.

Pelajar Jogja Tak Perlu Tawuran

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Pustaka SKH KEDAULATAN RAKYAT, Minggu, 14 April 2013


Judul Buku: The Gank Black Anathema Penulis: Komikus Rif’an Penerbit: de TEENS (DIVA Press), Yogyakarta Cetakan: I, Februari 2013 Tebal: 272 halaman

Tawuran sebenarnya tak hanya terjadi di kalangan pelajar. Fakta sosial menunjukkan bahwa siapa pun sering melakukan tawuran. Pihak mana pun yang melakukan, tetap saja menimbulkan keprihatian. Budaya kekerasan semestinya tak ditunjukkan masyarakat yang beradab. Novel ini menarik dibaca demi penciptaan suasana Yogyakarta yang kondusif, damai, dan aman. Meskipun yang dijadikan tokoh adalah pelajar, tapi siapa pun bisa memetik pelajaran di dalamnya.

Dalam jalinan cerita novel ini, keberadaan geng di kalangan pelajar menimbulkan kerisauan. Geng yang dikenal berbahaya bernama Black Anathema. Melihat situasi itu, ada kalangan pelajar yang beriktikad membasmi geng-geng yang suka berbuat ulah di kota Yogyakarta ini. Kalangan pelajar itu disebut kelompok aliran putih yang dipimpin seorang cewek bernama Fiki. Pihak pemerintah juga berharap Fiki dan kawan-kawannya mampu menyadarkan geng-geng aliran hitam yang sering berbuat onar.

Usaha itu tak mudah. Geng-geng aliran hitam sering menunjukkan kuasanya dan tak kenal lelah adu otot. Tiba-tiba, ada tawuran dahsyat yang terjadi di Malioboro. Dalam situasi genting itu, Fiki panik. Terhadap pimpinan utama geng aliran hitam bernama Dewi Kamboja, Fiki berteriak, “Apa kamu nggak punya hati, Dewi Kamboja? Kita semua masih anak SMA. Kita harusnya nggak kayak gini. Belajar. Harusnya kita semua belajar di sekolah, bukan bertarung saling bunuh seperti ini. Apa kamu nggak pernah berpikir seperti itu?”(hlm. 257).

Novel bergaya remaja ini ingin membangun spirit pelajar di Yogyakarta agar berlaku mulia. Budaya tawuran selayaknya tak dimiliki kaum pelajar di kota Yogyakarta tercinta ini. Meskipun tawuran dilakukan oleh oknum pelajar yang tak bertanggung jawab, namun tetap meresahkan. Novel ini seolah-olah memberi pesan bahwa tawuran pelajar lebih efektif diatasi dengan membentuk kelompok di kalangan pelajar sendiri yang tugasnya menyadarkan teman-temannya. Kelompok pelajar beraliran positif meluaskan pengaruhnya, sehingga pelajar-pelajar di Yogyakarta lebih mengedepankan budaya belajar dan perilaku positif. Begitu.(HENDRA SUGIANTORO).