Israel Melanggar Perintah Tuhan?

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Jurnal Nasional, Rabu, 14 Januari 2009

Nabi Musa pernah mendapatkan 10 perintah Tuhan di Gunung Sinai yang salah satunya adalah jangan kamu membunuh. Adanya perintah Tuhan ini tentu mengandung seruan kepada Bani Israil agar mereka tidak melakukan pembunuhan. Melakukan pembunuhan yang mengakibatkan pertumpahan darah jelas merupakan perbuatan yang tercela dan dilarang dalam Kitab Taurat. Bahkan, pembunuhan satu nyawa manusia saja bisa diibaratkan membunuh umat manusia semuanya.
Meskipun tragedi pembunuhan selalu terjadi sepanjang sejarah, Tuhan terus memperingatkan manusia agar tidak saling membunuh. Sebagaimana perintah Tuhan kepada Nabi Musa, bani Israel dilarang membunuh. Setiap manusia yang diciptakan adalah pemakmur kehidupan dan tidak ada yang lebih tinggi kecuali didasarkan pada peribadatannya kepada Tuhan. Pada titik ini, kekejaman pembunuhan prajurit Israel terhadap himpunan manusia di Jalur Gaza Palestina tampaknya perlu ditelusuri lebih lanjut.

Sungguh sudah jelas jika dalam agama tidak diperbolehkan melakukan pembunuhan. Taurat sebagai kitab yang dipegang bangsa Israel selalu menekankan cinta kasih, keadilan, kebenaran, dan kedamaian. Persoalan terjadi terkait dengan ketaatan manusianya. Dengan kata lain, manusia yang taat terhadap Kitab Taurat pasti akan menjalankan perintah Tuhan itu dengan sekuat-kuatnya. Lantas, apa yang kita simpulkan dari kebengisan militer Israel di Palestina dan juga secara luas di Timur Tengah? Jika menggunakan kacamata tadi, militer Israel berarti tidak menaati Kitab Taurat lahir dan batin.
Dalam hal ini, kesimpulan ketidaktaatan terhadap Kitab Taurat sebenarnya bisa kita kaji dari sejarah berdirinya paham Zionisme. Paham Zionisme ini hanya ciptaan manusia, bukan Tuhan. Manusia yang menciptakan paham itu adalah Theodore Herzl yang memang mengkonsep Zionisme secara matang. Di awal kongresnya di Basel Swiss pada 1897, Herzl berhasil mengumpulkan sekitar 200-an orang-orang Yahudi terutama dari wilayah Eropa. Terkait dengan sejarah berdirinya Zionisme ini bisa ditelaah lebih lanjut yang tentu dari berbagai literatur yang bening dan jernih. Yang ingin ditegaskan di sini adalah bahwa Yahudi yang merancang dan menjadi penyampai ideologi Zionisme bukanlah orang-orang Yahudi yang memiliki keimanan yang kuat, bahkan bisa dibilang tidak mengakui keberadaan Tuhan.
Di simpul inilah kita bisa memahami mengapa ada orang-orang Yahudi yang menentang berdirinya Negara Israel , bahkan menyebutnya menyimpang dari ajaran agama. Bisa dikatakan pula jika Zionisme menggunakan agama Yahudi sebagai alat untuk sekadar melancarkan ide gilanya mendirikan tanah air bagi kaum Yahudi. Lalu pertanyaannya, mengapa jika menyimpang dari ajaran agama bisa begitu kuat pengaruhnya sampai saat ini?
Perlu dicatat, paham Zionisme tidak mendefinisikan Yahudi sebagai agama, tapi ras yang unggul sehingga layak memusnahkan bangsa selainnya. Dengan demikian, kita tidak kaget jika militer Israel begitu kejinya membunuh bayi dan anak-anak. Warga sipil yang tak bersenjata pun dibantai. Pungkasnya, kita berharap agar paham ini tidak abadi yang justru menghancurkan kemanusiaan. Bangsa Israel jelas layak dan berhak hidup, tapi paham Zionisme perlu dihilangkan. Allah tentu mengetahui segalanya.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang, Yogyakarta

Koreksi Total Paham Zionisme!

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Suara Pembaca Duta Masyarakat, Selasa, 13 Januari 2009

Sampai sejauh ini agresi militer Israel ke Jalur Gaza belum berakhir. Anak-anak dan perempuan pun harus menjemput kematian akibat tingkah polah Israel yang sudah berlangsung bertahun-tahun. PBB sepertinya juga tak berkutik jika berhadapan dengan nafsu Israel mencabik-cabik tanah Palestina dan juga wilayah Timur Tengah umumnya.
Tentu saja, fakta sejarah tak mungkin ditutupi bahwa agresi Israel adalah sebuah upaya mencaplok tanah Palestina. Sejak negara itu didirikan pada 1948, kita dapat menyaksikan berkurangnya luas wilayah Palestina yang sejatinya berhak untuk hidup merdeka. Jika saat ini sudah lebih dari 600 jiwa yang meninggal dunia, maka jumlah itu kian menambah deretan panjang jumlah korban jiwa sejak ide Negara Israel Raya dimunculkan. Tak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan kisah pilu di Timur Tengah yang dilakukan Israel kecuali pembantaian nyawa manusia. Upaya perluasan wilayah Israel juga dilakukan dengan pengusiran penduduk asli Palestina.

Pastinya, kita dituntut berpikir jernih dalam memandang persoalan konflik Israel dan Timur Tengah. Wilayah Palestina yang di dalamnya terdapat kota Yerusalem memang seolah-olah menjadi bahan rebutan tiga agama besar di dunia. Dilihat dari ide Zionisme, pendirian Negara Israel Raya mencakup wilayah dari Sungai Nil sampai Sungai Eufrat. Jadi, persoalan terletak pada aneksasi wilayah oleh Israel tidak hanya di negara Palestina, tapi juga negara-negara Timur Tengah lainnya. Catatan sejarah menyebut telah terjadi begitu banyak perperangan di wilayah Timur Tengah.
Dengan prinsip kemanusiaan, siapapun jelas tidak menginginkan berkecamuknya senjata yang dilancarkan Israel di Palestina. Upaya-upaya lobi dan diplomasi harus terus diupayakan agar tercipta kehidupan yang penuh keamanan dan kedamaian di tanah tempat diutusnya banyak para Nabi itu. Di sisi lain, kita juga perlu mengoreksi total paham Zionisme. Diplomasi yang dilakukan ataupun resolusi yang diputuskan tidak akan memiliki makna jika paham Zionisme masih bercokol di otak pembesar Israel . Bagi kalangan Yahudi, paham Zionisme ini sebenarnya tidak disepakati secara keseluruhan, bahkan dikatakan sebagai paham yang menyimpang dari ajaran agama. Pendiri paham ini pun adalah orang Yahudi yang memiliki keimanan lemah, bahkan mengingkari keberadaan Tuhan. Theodore Herzl sebagai seorang wartawan dari Austria memang pandai menciptakan opini sehingga mampu menamamkan pengaruh kuat Zionisme.
Pada titik ini, perlu ditegaskan bahwa Yahudi bukanlah agama dalam paham Zionisme, melainkan ras yang merasa lebih unggul dibandingkan ras lainnya. Maka, tak aneh jika kita melihat ketegaan militer Israel membunuh ratusan nyawa. Seperti Nazizme, paham Zionisme pasti bisa dilenyapkan. Pernyataan Roger Garaudy (1996) sekiranya pantas direnungkan bahwa tidak ada keamanan bagi Israel dan Timur Tengah kecuali jika Israel meninggalkan paham Zionismenya dan kembali ke agama Ibrahim, yang adalah warisan bersama, bersifat keagamaan, dan persaudaraan dari tiga agama wahyu: Yudaisme, Nasrani, dan Islam. Ya, kita berharap agar kemerdekaan Palestina sebagai sebuah negara berdaulat bisa diwujudkan. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Karangmlang Yogyakarta 55281

Agresi Militer Israel adalah Pembantaian

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca, Jurnal Nasional, Selasa, 13 Januari 2009
Serangan militer Israel ke wilayah Gaza Palestina tak kunjung berhenti. Setelah melancarkan serangan lewat udara, serangan lewat darat pun dilakukan dan mengakibatkan pertempuran hebat. Kini telah lebih dari 800 jiwa meninggal dunia dan ribuan jiwa lainnya dalam kondisi luka-luka dan kritis. Menyaksikan tragedi di bumi Gaza Palestina itu, siapapun akan dibuat menangis. Tidak hanya penduduk di wilayah Gaza, warga dunia yang masih memiliki hati nurani akan menangis melihat kekejaman militer Israel yang kian membabibuta.
Terkait agresi militer Israel, bukannya tidak ada upaya untuk menghentikannya. Imbauan internasional telah disuarakan. Pada akhir pekan lalu (Minggu 4 Januari 2009 WIB), DK PPB pun telah mengadakan pertemuan darurat dengan hasil tanpa kesepakatan berarti. Bahkan, Sekjen PBB Ban Ki-Moon berulang kali telah menegur Israel agar melakukan gencatan senjata. Pernyataan menentang agresi militer Israel juga datang dari sebagian para pemimpin seluruh negara. Pun, masyarakat dari berbagai negara tak henti-hentinya melancarkan demonstrasi besar-besar yang intinya mengecam dan mengutuk tindakan beringas Israel di wilayah Gaza. Pertanyaannya, mengapa Israel seakan-akan bersikap masa bodoh dan mengabaikan kecaman dunia internasional?


Siapapun yang memandang kemelut di wilayah Gaza saat ini perlu menggunakan mata hati jernih. Jika pihak Israel mengklaim serangannya ke Gaza dimaksudkan menghentikan tembakan roket dari pihak Hamas, maka alasan itu cenderung untuk melegalkan tindakan brutal Israel. Hamas menembakkan roket tidak lain adalah sebagai upaya membela diri akibat teror Israel yang terus dilancarkan kepada warga Palestina. Kita yang belajar dari sejarah akan mengatakan bahwa Israellah yang berlaku selayaknya penindas dan terus mencaplok tanah Palestina. Sejak negara Israel didirikan pada tahun 1948 sampai detik ini, kita dapat melihat dengan amat jelas bahwa peta negara Palestina terus menyusut wilayahnya akibat pendudukan negara Israel. Pendudukan Israel itu juga terjadi di beberapa negara di kawasan Timur Tengah lainnya.
Maka, tak heran jika banyak tuntutan disuarakan bagi kemerdekaan Palestina. Diakui atau tidak, sampai detik ini Palestina belumlah berdaulat secara penuh sebagai sebuah negara. Negara Israel telah bertahun-tahun melakukan penjajahan terhadap tanah Palestina. Di saat kemerdekaan negeri ini sudah menginjak usia lebih dari 63 tahun, kita tentu saja akan terus bertanya-tanya terkait belum merdekanya negara Palestina. Yang jelas, persoalan Palestina boleh jadi akan terjawab jika kita bisa memahami perilaku tentara Israel yang membunuh warga sipil dalam agresinya di wilayah Gaza. Di antara ratusan jiwa yang gugur itu terdapat anak-anak dan juga perempuan. Mengapa tentara Israel tega membombardir warga sipil? Apakah tentara Israel tidak merasa bersalah membunuh nyawa ratusan penduduk di wilayah Gaza dan anak-anak kecil? Bahkan, agresi Israel terebut sudah mengarah pada pembantaian. Jika kita membunuh satu jiwa saja memiliki perasaan bersalah yang amat besar apalagi jika kita membunuh ratusan nyawa. Lantas, apa yang kita pahami dari perilaku pihak militer Israel di wilayah Gaza saat ini yang telah membunuh lebih dari 500 jiwa? Perilaku yang juga tampak pada tahun 2006 lalu saat menyerbu Lebanon. Jawaban atas pertanyaan tersebut semoga dapat memberikan solusi menghentikan agresi Israel.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang, Yogyakarta 55281

Palestina Berhak Merdeka

Bebas Bicara, Bernas Jogja, Kamis, 8 Januari 2009
SERANGAN tentara Israel ke wilayah Gaza, Palestina, belum berhenti sampai hari ini. Bahkan, serangan Israel juga dilakukan lewat jalur darat setelah sepekan dilakukan lewat udara. Selama lebih dari sepekan itu, sekitar 400 jiwa lebih merenggang nyawa dan ribuan jiwa lainnya mengalami luka-luka. Kejadian yang terjadi di Gaza tentu saja merupakan tragedi memilukan. Dari sekitar 400 jiwa lebih yang meninggal dunia itu ada sekitar lebih dari 100 anak yang gugur karena terpaan rudal dan tembakan Israel. Apa mau dikata, Israel seakan-akan sulit dikendalikan dan terus berulang-ulang melakukan tindakan brutal di wilayah Timur Tengah.
Menyikapi aksi Israel, berbagai pihak sebagaimana kita saksikan telah melontarkan hujatan dan kecaman. Dari pihak pemerintah Indonesia, tindakan Israel telah mendapatkan kecaman dan mengharapkan PPB memberikan sanksi tegas. Tak ketinggalan kalangan anggota DPR yang tergabung dalam Kaukus Palestina DPR juga mendesak pimpinan DPR untuk segera menggalang kekuatan di Inter-Parliamentary Union (IPU) agar mencoret keanggotaan Israel dari IPU. Hampir seluruh dunia pun menyuarakan nada mengecam dan mengutuk ulah Israel di wilayah Gaza. Namun anehnya, Israel seolah-olah tidak peduli dan justru tak menghentikan penyerangan ke wilayah Gaza. Di sisi lain, Amerika Serikat malah cenderung membela Israel sebagaimana dilakukan selama ini.

Pastinya, perhatian segenap pihak terkait kemelut di wilayah Gaza yang diciptakan Israel sangat dibutuhkan, baik dari masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia. Siapa pun berharap agar penyelesaian konflik Israel-Palestina yang ditempuh melalui jalur formal dapat terselenggara dengan baik. Lebih dari itu, resolusi yang mungkin akan dimunculkan mampu menciptakan keadilan khususnya bagi warga Palestina. Jika mau jujur berkata, sejatinya pihak Israel yang banyak menciptakan penderitaan di negeri Palestina sejak berpuluh-puluh tahun lalu sampai detik ini.
Berpikir jernih, klaim Israel bahwa serangannya untuk menghentikan tembakan roket pejuang Hamas juga mengada-ada. Terkait Hamas, kelompok itu sebenarnya tidak bisa disalahkan. Justru Hamas-lah yang konsisten berjuang mempertahankan tanah Palestina. Hamas terbentuk juga tidak terlepas dari aksi destruktif Israel yang sering menyerobot tanah Palestina dengan jalan kekerasan. Posisi Hamas hanya membela diri jika melancarkan serangan roket ke Israel. Israel boleh saja mengklaim tindakan militer ke wilayah Gaza untuk membalas serangan rudal Hamas, tapi dunia tidak bisa dibohongi bahwa Israel menjadikan klaim tersebut untuk melapangkan jalan membumihanguskan wilayah Gaza. Kita tentu ingat tragedi kemanusiaan yang menimpa Lebanon dua tahun lalu dimana pihak Israel menciptakan alasan bahwa kelompok Hizbullah telah menawan dua serdadunya. Dengan alasan yang sederhana itu, tentara Israel tanpa belas kasihan meluluhlantakan Lebanon dan menewaskan sekitar lebih dari 1.000 penduduk Lebanon.
Berbagai pihak memang dituntut jujur dalam menyaksikan tragedi kemanusiaan di Palestina dan wilayah Timur Tengah umumnya.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Profetik Student Center UNY

Bergegaslah Selamatkan Gaza!

Surat Pembaca, Jurnal Nasional, Rabu, 7 Januari 2009
Penentangan atas serangan Israel ke wilayah Gaza terus berlanjut. Aksi-aksi demonstrasi kian meningkat intensitasnya seiring kian hebatnya serangan Israel yang terus menimbulkan kematian jiwa. Hingga hari ini tercatat lebih dari 400 orang yang gugur dan lebih dari 2000 orang mengalami luka-luka selama penyerangan Israel dilakukan. Pun, dua petinggi Hamas telah menjemput kematian, yakni Nizar Rayyan dan Abu Zakaria al-Jamal.
Tentu saja, apa yang kita saksikan di wilayah Gaza saat ini menimbulkan keprihatinan mendalam. Namun anehnya, dunia internasional hanya sekadar mengecam tanpa tindakan konkret menghentikan agresi Israel. Para pemimpin dunia hanya mengeluarkan retorika perdamaian dan sekadar berperang dengan kata-kata. Tak ada yang lebih baik yang ditunjukkan para pemimpin dunia melihat penderitaan warga Gaza yang terus-menerus dibombardir pihak militer Israel. Jelasnya, apa yang dilakukan para pemimpin dunia tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan masyarakat yang menggelar demonstrasi. Jika para pemimpin dunia hanya berperang dengan kata-kata, lalu apa bedanya dengan masyarakat yang tak memiliki kendali kekuasaan?

Sesungguhnya tidaklah layak bagi para pemimpin dunia sekadar mengecam dan mengutuk karena para pemimpinlah yang memiliki kekuasaan. Dari kekuasaan itulah seharusnya melahirkan kekuatan untuk meredam dan membelenggu nafsu Israel agar tidak membumihanguskan wilayah Gaza. Jika mau berterus terang, para pemimpin dunia telah melakukan kezaliman tersendiri dengan tidak bergegas mengambil tindakan tegas terhadap Israel. Kezaliman yang telah dilakukan para pemimpin dunia telah membiarkan anak-anak dan perempuan harus merenggang nyawa.
Pastinya, siapapun tak pernah berpikir jika ada pembunuhan nyawa bisa dibiarkan berlarut-larut lebih dari sepekan. Nalar kemanusiaan kita jelas tak rela menyaksikan begitu banyak kematian jiwa yang bisa mencapai ratusan. Nurani kita tentu akan berontak dan berteriak: hentikan Israel! Ya, hentikan darah mengalir di wilayah Gaza! Hentikan setiap serangan yang mengakibatkan jiwa berguguran!
Bagi para pemimpin dunia terutama dunia Arab, dengarkanlah suara hati kalian. Begitu tegakah kalian mendiamkan tragedi memilukan di daerah dekat negaramu? Kalian memang bisa tidur di bangunan yang berdiri kokoh, tapi lihatlah penduduk di wilayah Gaza yang tidurpun tidak bisa nyenyak. Lihatlah mereka yang setiap saat merasakan ketakutan karena rudal-rudal Israel siap menghancurkan tempat tinggal dan membunuh mereka. Kalian memang bisa menyantap makanan lezat berkali-kali dalam sehari, tapi lihatlah penduduk di wilayah Gaza yang harus kelaparan. Anak-anak kalian memang bisa hidup dengan tenang, tapi lihatlah anak-anak di wilayah Gaza yang kini hampir tidak memiliki kepastian hidup di hari depan. Lihatlah mereka dan pedulilah!
Dengarkanlah wahai para pemimpin di dunia Arab, sesungguhnya kalian tak layak berpecah belah dan membiarkan penduduk di wilayah Gaza menderita. Pun, kalian perlu ketahui jika Umar bin Khaththab masih hidup, Umar takkan bisa tidur dan takkan menunda untuk menyelamatkan penduduk Gaza yang berada di ambang kehancuran. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
pekerja media di Universitas Negeri Yogyakarta
Karangmalang Yogyakarta 55281

Gaza, Tegarlah di Jalan Kepiluan

Surat Pembaca, Pontianak Post, Selasa, 6 Januari 2009
Apa yang kita rasakan jika dalam kondisi tidak aman? Tercekam tentunya. Apalagi jika setiap saat dihantui ledakan bom dari pesawat tempur, kita pasti tidak pernah bisa memejamkan mata. Hati kita tidak tenang karena suatu waktu tanpa pernah diduga pesawat tempur itu meluncurkan bom dan meluluhlantakkan bangunan. Boleh jadi bangunan itu adalah rumah kita, tempat tinggal yang digunakan untuk kita berteduh bersama keluarga kita. Perasaan tidak aman itu tak hanya di dalam rumah, tapi kita juga merasa tidak aman di luar rumah. Kemanapun kaki melangkah, serangan dari udara bisa datang tiba-tiba. Kondisi psikologis kita pastinya akan merasa terancam karena bom-bom itu bisa saja menimpa kita, keluarga kita atau anak-anak kita.

Dalam bayangan saja, perasaan tercekam dan tidak aman menghantui kita, apalagi jika kita benar-benar dalam kondisi seperti itu. Dan, kondisi mencekam yang kita bayangkan itu ternyata bukan sekadar bayangan, tapi benar-benar nyata. Ya, benar-benar nyata dan kini dialami warga di tempat yang jauhnya ratusan kilometer dari negara kita. Jika kita bertempat tinggal di negeri itu, kita akan terus menjerit pilu. Kita akan menangis karena keluarga terdekat kita bisa saja menghembuskan nafas terakhir saat sedang bekerja ataupun berjalan di luar rumah. Pun, anak-anak kita bisa saja meninggal saat sedang asyik-asyiknya bermain.

Seperti kita saksikan, kondisi yang mencekam itu benar-benar nyata di wilayah yang kita kenal dengan Gaza. Sudah berhari-hari ini wilayah yang berpenghuni 1,5 juta jiwa itu diluluhlantakkan tentara Israel lewat serbuan dari udaranya. Di wilayah Gaza itulah bom-bom siap meluncur dari pesawat tempur Israel yang datang tanpa bisa diperkirakan. Sampai detik ini, kita menyaksikan sudah lebih dari 400 jiwa meninggal dan ribuan jiwa lainnya mengalami luka-luka. Entah, berapa manusia lagi harus merenggang nyawa di wilayah itu. Kita tidak akan pernah tahu berapa jiwa lagi yang menjemput kematian karena pihak Israel seolah-olah tak mengenal rasa kemanusiaan. Meskipun dikecam oleh hampir seluruh dunia, pihak Israel justru ingin menambah daya serangan lewat jalur darat.

Memang kita tidak tinggal di wilayah Gaza. Kita tidak merasakan penderitaan secara langsung sebagaimana dialami warga Gaza. Tapi, hati kita ikut merasakan kepedihan. Kita menaruh empati yang mendalam terhadap kepiluan yang menimpa penduduk Gaza. Sebelum serangan Israel saat ini, mereka pun telah hidup menderita akibat blokade yang dilakukan pihak Israel. Kebutuhan-kebutuhan keseharian mereka perlahan menyusut dan habis total karena tidak ada pasokan dari luar. Warga Gaza yang telah diblokade selama hampir 2 tahun pun tidak hidup sebagaimana wajarnya. Akibat blokade, sebagaimana dikatakan Ferry Nur (2008), sekitar 80% masyarakat Gaza hidup dalam kegelapan setiap hari karena tidak ada aliran listrik, 150 jenis obat yang dibutuhkan mereka yang sakit sudah tidak ada lagi dan persediaan obat yang ada makin menipis, 80% pabrik roti sudah tutup karena tidak ada lagi gandum yang tersedia, bahkan ada keluarga dengan delapan orang anak tidak lagi makan sebagaimana layaknya, sehingga untuk mempertahankan hidupnya harus makan rumput. Saat ini makanan yang seharusnya diberikan kepada kambing atau sapi itu sudah menjadi makanan di Gaza.

Yang jelas, betapa pilunya kehidupan di wilayah Gaza. Kita tidak tinggal di sana, tapi ikut merasakan penderitaan mereka. Jika kita berada di Gaza hari ini, kita akan berontak dan ingin memerdekakan diri. Sungguh mereka ingin hidup merdeka sebagaimana kita di negeri ini. Merdeka tanpa pernah melihat ulah Israel lagi. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Aktivis Profetik Student Center Universitas Negeri Yogyakarta

Peduli Gaza, Peduli Kemanusiaan

Jagongan, Harian Jogja, Senin, 5 Januari 2009
SERANGAN tentara Israel ke wilayah Gaza , Palestina, pada Sabtu (27/12) lalu sungguh di luar perikemanusiaan. Ratusan jiwa mengalami luka-luka dan merenggang nyawa akibat kebrutalan negeri Zionis itu. Kejadian yang terjadi di Gaza bisa dikatakan sebagai tragedi memilukan di saat masyarakat dunia tengah menghadapi pergantian tahun. Apa mau dikata, Israel seakan-akan sulit dikendalikan dan terus berulang-ulang melakukan tindakan barbar di wilayah Timur Tengah. Bahkan, sampai detik ini Israel belum bersedia menghentikan serangannya.

Menyikapi aksi Israel , pihak Indonesia jelas tidak tinggal diam. Pemerintah melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengecam keras tindakan Israel yang dinilai berlebihan dan tidak proporsional. Dengan dalih apapun, kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, agresi Israel merupakan kezaliman dan kebiadaban nyata yang tidak bisa dibenarkan. Berbagai pernyataan lain juga dilontarkan yang pada intinya mengecam tindakan Israel yang membombardir wilayah Gaza. Namun anehnya, Israel seolah-olah tidak peduli dan justru ingin meneruskan penyerangan ke wilayah Gaza meskipun dikecam hampir seluruh dunia. Di sisi lain, Amerika Serikat malah cenderung membela Israel sebagaimana dilakukan selama ini.

Yang jelas, apa yang terjadi di wilayah Gaza membutuhkan perhatian segenap pihak, baik dari masyarakat Indonesia maupun masyarakat dunia. Desakan pemerintah agar PBB dan DK PBB menggelar sidang formal sudah selayaknya dilakukan. Siapa pun berharap agar penyelesaian konflik Israel-Palestina yang ditempuh melalui jalur formal dapat terselenggara dengan baik. Lebih dari itu, resolusi yang mungkin akan dimunculkan mampu menciptakan keadilan khususnya bagi warga Palestina. Jika mau jujur berkata, sejatinya pihak Israel yang banyak menciptakan penderitaan di negeri Palestina sampai detik ini. Sebagai bentuk solidaritas, apa yang diserukan kalangan anggota DPR yang tergabung dalam Kaukus Palestina DPR juga ada benarnya. Seperti diberitakan, Kaukus Palestina mendesak pimpinan DPR untuk segera menggalang kekuatan di Inter-Parliamentary Union (IPU) untuk mencoret keanggotaan Israel dari IPU.

Selain itu, tak kalah mendesak adalah bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina. Di luar bantuan obat-obatan, pemerintah Indonesia akan memberikan bantuan senilai 1 juta dollar AS. Bantuan kemanusiaan itu dipastikan akan terus mengalir yang digalang oleh lembaga nonpemerintah sebagaimana himbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar masyarakat memberikan bantuan berupa uang dan obat-obatan ke Jalur Gaza.

Kita memang berharap agar warga Palestina umumnya dan warga Gaza khususnya dapat menikmati indahnya menatap masa depan tanpa cekaman rasa takut akibat konflik dan perang senjata. Konstutisi negara ini pun telah menegaskan bahwa penjajahan di atas muka bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Karangmalang Yogyakarta 55281

Kepiluan Gaza, Kepiluan Kita

Bebas Bicara, Bernas Jogja, Sabtu, 3 Januari 2009
Siapa pun takkan menyangka jika di akhir tahun 2008 lalu harus terjadi peristiwa mencekam. Peristiwa yang menyita perhatian mata dunia itu terjadi di bumi Palestina, tepatnya di wilayah Gaza. Israel dengan serangannya meluluhlantakkan infrastruktur di wilayah Gaza dan menimbulkan kematian ratusan jiwa (27/12). Di antara yang meninggal itu ada anak-anak kecil yang masih memiliki masa depan. Sampai detik ini serangan ke wilayah Gaza masih terjadi yang tentu saja kian menambah kepiluan.

Menyikapi tragedi kemanusiaan di wilayah Gaza, berbagai pihak pun melancarkan respon. Tidak hanya dari Indonesia, respon pun datang dari berbagai belahan dunia. Masing-masing warga di hampir setiap negara menggelar demonstrasi mengecam tindakan Israel yang dikatakan Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin sebagai kezaliman dan kebiadaban yang nyata. Pemerintah Indonesia pun mengecam tindakan Israel itu dan meminta PBB dan DK PBB untuk mengadakan sidang formal menyelesaikan kemelut di wilayah Gaza. Bantuan kemanusiaan juga diberikan pemerintah Indonesia dengan dana sebesar 1 juta dollar AS dan bantuan obat-obatan untuk warga Gaza yang tengah menderita. Apa yang dilakukan pemerintah itu juga mendapatkan dukungan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Pastinya, bantuan kemanusiaan dari pemerintah Indonesia terhadap kondisi di wilayah Gaza memang selayaknya dilakukan. Jika ada usulan agar pemerintah Indonesia juga mengirimkan pasukan perdamaian, itu tentu harus menunggu analisis yang tepat. Untuk saat ini, kepedulian terhadap tragedi kemanusiaan di wilayah Gaza dapat dilakukan dengan memberikan dana sesuai kemampuan. Sebagaimana imbauan MUI, masyarakat perlu meningkatkan kepedulian dengan menghimpun dan menggalang dana untuk membantu meringankan beban penderitaan rakyat Palestina. Selain itu, masyarakat juga diimbau melaksanakan Salat Ghaib dan Qunut Nazilah.

Yang jelas, apa yang terjadi di wilayah Gaza merupakan keprihatinan kita bersama. Sebagai warga dunia, kita senantiasa memperhatikan saudara-saudara kita di wilayah Gaza yang tengah ditimpa kezaliman. Kepedulian kita adalah kepeduliaan terhadap kemanusiaan. Kita berdoa agar tatanan yang damai dapat tercipta di wilayah Gaza. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Profetik Student Center UNY

Mungkinkah Menghukum Israel?

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Surat Pembaca, Jurnal Nasional, Jum'at, 2 Januari 2009
Sungguh memilukan menyaksikan agresi militer Israel yang dilancarkan ke kawasan Gaza, Palestina pada Sabtu (27/12) lalu dan berlangsung sampai hari ini. Tindakan itu sebagaimana dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memang terlalu berlebihan dan tidak proporsional. Kita harus mengatakannya terus terang bahwa tindakan Israel merupakan kezaliman dan bisa dikatakan sebagai kejahatan kemanusiaan.

Pastinya, serangan-serangan yang dilakukan pihak Israel telah menyebabkan penduduk di wilayah Gaza menderita. Berbagai infrastruktur di wilayah Gaza pun luluh lantak sehingga kehidupan sehari-hari masyarakat menjadi tercekam. Wilayah Gaza telah dicabik-cabik dan dirusak kedaulatannya. Lantas, apakah tindakan Israel di wilayah Gaza layak disebut terorisme?
Diakui atau tidak, definisi terorisme selama ini seakan rancu dan diarahkan sesuai kepentingan AS. Bahkan, telah menjadi lagu lama jika PBB pun bertekut lutut dan kurang mampu meredam keinginan-keinginan ambisius AS di atas bumi ini. Malah tindakan Israel tak pernah dikatakan sebagai kejahatan terorisme dan sebaliknya justru Hamaslah yang selalu disebut sebagai teroris.

Jika mau berkata jujur, konflik antara Arab dan Israel sepertinya sengaja digoreskan dalam sejarah kehidupan di muka bumi ini. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, upaya-upaya diplomasi memang masih dimungkinkan, namun tidak berarti konflik di Timur Tengah akan berhenti. Memang kelihatan pesimistik, tapi itulah kenyataannya. Upaya perdamaian memang sedikit banyak akan meredakan konflik dalam beberapa waktu, namun dalam beberapa waktu lagi konflik akan kembali muncul. Pertanyaannya kemudian, apakah kita harus terus-menerus pesimis terkait penciptaan tatanan damai di Timur Tengah dan khususnya di kawasan Gaza?

Berpikir jernih, upaya menciptakan tatanan damai akan sulit jika negara-negara di muka bumi ini masih takut untuk menolak segala kepentingan dan kezaliman Israel yang selalu mendapat dukungan AS. Kita ambil contoh tragedi yang menimpa Lebanon pada 2006 lalu dimana apa yang dilakukan Israel tak pernah diusut sebagai kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan, padahal siapapun menyaksikan jika warga sipil dan anak-anak harus menjadi korban dari serangan Israel di negeri tempat kelompok Hizbullah itu. Pun, kita tidak bisa melupakan agresi militer Israel lainnya yang pernah dilakukan di wilayah Timur Tengah dimana telah banyak ribuan jiwa menjemput kematian.

Maka, sudah saatnya jika saat ini negara-negara di dunia mulai membangun kekuatan global. Negara-negara di dunia perlu menguatkan barisan dan berkata tegas bahwa apa yang dilakukan Israel merupakan kejahatan terorisme. Tidak cukup mengecam dan mengutuk, tapi juga perlu membawa petinggi militer Israel ke mahkamah internasional untuk mendapatkan pengadilan sebagaimana mestinya. Langkah berani selanjutnya yang tak kalah penting adalah melucuti senjata dan peralatan militer Israel agar tidak terus-menerus mencabik-cabik wilayah Palestina dan juga wilayah Timur Tengah. Kekuatan global perlu membangun bumi anugerah Tuhan yang telah diwariskan kepada anak cucu Adam ini tanpa menyaksikan lagi kemelut di Timur Tengah. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
pekerja media di Universitas Negeri Yogyakarta
Karangmalang Yogyakarta 55281