Mubariz, Ketua UKKI UNY 2010
22.00
No comments
Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan Harian Jogja, Kamis 31 Desember 2009
Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Jama’ah Al-Mujahidin UNY melakukan suksesi kepengurusan. Sebagai lembaga di tingkat universitas, UKKI Jama’ah Al-Mujahidin UNY telah menyelesaikan amanah kepengurusannya pada periode 2009 dibawah kepemimpinan Sigit Setyawan.
Setelah dilangsungkan Musyawarah Tahunan (Mustah) XIX pada Sabtu-Minggu (19-20/12) dan dilanjutkan Rabu (23/12) di Gedung Student Center UNY, Mubariz Nazuhaddin akhirnya ditetapkan sebagai Ketua UKKI Jama’ah Al-Mujahidin UNY periode 2010. Adapun Tsaniyatul Mawadah menduduki posisi Ketua II UKKI Jama’ah Al-Mujahidin UNY untuk periode satu tahun mendatang.
Dengan ditetapkannya posisi ketua, UKKI Jama’ah Al-Mujahidin UNY akan menjalankan kepengurusan pada periode mendatang dengan agenda kerja sesuai dengan khithah-nya sebagai unit kerohanian Islam di lingkup UNY.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281
Dimuat di Jagongan Harian Jogja, Kamis 31 Desember 2009
Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Jama’ah Al-Mujahidin UNY melakukan suksesi kepengurusan. Sebagai lembaga di tingkat universitas, UKKI Jama’ah Al-Mujahidin UNY telah menyelesaikan amanah kepengurusannya pada periode 2009 dibawah kepemimpinan Sigit Setyawan.
Setelah dilangsungkan Musyawarah Tahunan (Mustah) XIX pada Sabtu-Minggu (19-20/12) dan dilanjutkan Rabu (23/12) di Gedung Student Center UNY, Mubariz Nazuhaddin akhirnya ditetapkan sebagai Ketua UKKI Jama’ah Al-Mujahidin UNY periode 2010. Adapun Tsaniyatul Mawadah menduduki posisi Ketua II UKKI Jama’ah Al-Mujahidin UNY untuk periode satu tahun mendatang.
Dengan ditetapkannya posisi ketua, UKKI Jama’ah Al-Mujahidin UNY akan menjalankan kepengurusan pada periode mendatang dengan agenda kerja sesuai dengan khithah-nya sebagai unit kerohanian Islam di lingkup UNY.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281
Unit Kerohanian Islam se-UNY Gelar Mustah
21.58
No comments
Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan Harian Jogja, Rabu 30 Desember 2009
Unit kerohanian Islam setiap fakultas di Universitas Negeri Yogyakarta secara serentak menggelar musyawarah tahunan (Mustah), Jum'at-Sabtu (25-27/12). Mustah ini diselenggarakan terkait suksesi kepengurusan dari periode 2009 ke periode 2010. Masing unit kerohanian Islam tersebut meliputi Keluarga Muslim Musthafa (KMM) FT UNY, UKMF Al- Ishlah FISE UNY, UKMF Al-Huda FBS UNY, Haska JMF FMIPA UNY, UKMF Keluarga Muslim Ilmu Pendidikan FIP UNY, dan Al-Hidayah FIK UNY. Adapun unit kerohanian Islam tingkat universitas (UKKI Jama'ah Al-Mujahidin UNY) telah melaksanakan Mustah pada pekan lalu.
Di tengah kerja panjang perwujudan visi UNY, keberadaan unit kerohanian Islam ini merupakan hal penting. Dengan suksesi kepengurusan akhir tahun ini harapannya mampu belajar dari masa lalu dan terus bergerak ke depan dalam membangun kualitas mahasiswa UNY yang integratif. Sebagai bagian dari lembaga kampus di lingkup UNY, kerja-kerja unit kerohanian Islam se-UNY memang terus dinantikan untuk mengejawantahkan secara nyata visi UNY dalam mencetak insan yang bernurani, cendekia, dan mandiri di bawah kepemimpinan rektor Rachmat Wahab saat ini. Melalui peran unit kerohanian Islam, mahasiswa yang hendak dilahirkan adalah mahasiswa integratif yang tak sekadar cakap secara intelektual, tapi juga bernurani dan bermoral. Meskipun bukan pekerjaan sederhana, unit kerohanian Islam selalu diharapkan konsisten melakukan hal tersebut.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281
Dimuat di Jagongan Harian Jogja, Rabu 30 Desember 2009
Unit kerohanian Islam setiap fakultas di Universitas Negeri Yogyakarta secara serentak menggelar musyawarah tahunan (Mustah), Jum'at-Sabtu (25-27/12). Mustah ini diselenggarakan terkait suksesi kepengurusan dari periode 2009 ke periode 2010. Masing unit kerohanian Islam tersebut meliputi Keluarga Muslim Musthafa (KMM) FT UNY, UKMF Al- Ishlah FISE UNY, UKMF Al-Huda FBS UNY, Haska JMF FMIPA UNY, UKMF Keluarga Muslim Ilmu Pendidikan FIP UNY, dan Al-Hidayah FIK UNY. Adapun unit kerohanian Islam tingkat universitas (UKKI Jama'ah Al-Mujahidin UNY) telah melaksanakan Mustah pada pekan lalu.
Di tengah kerja panjang perwujudan visi UNY, keberadaan unit kerohanian Islam ini merupakan hal penting. Dengan suksesi kepengurusan akhir tahun ini harapannya mampu belajar dari masa lalu dan terus bergerak ke depan dalam membangun kualitas mahasiswa UNY yang integratif. Sebagai bagian dari lembaga kampus di lingkup UNY, kerja-kerja unit kerohanian Islam se-UNY memang terus dinantikan untuk mengejawantahkan secara nyata visi UNY dalam mencetak insan yang bernurani, cendekia, dan mandiri di bawah kepemimpinan rektor Rachmat Wahab saat ini. Melalui peran unit kerohanian Islam, mahasiswa yang hendak dilahirkan adalah mahasiswa integratif yang tak sekadar cakap secara intelektual, tapi juga bernurani dan bermoral. Meskipun bukan pekerjaan sederhana, unit kerohanian Islam selalu diharapkan konsisten melakukan hal tersebut.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281
Kebenaran Takkan Kalah
21.54
No comments
Oleh: HENDRA SUGIANTORODimuat di Surat Pembaca Suara Merdeka, Senin 21 Desember 2009
Kebohongan-kebohongan mengitari kekuasaan. Ketidakjujuran jauh dari kehidupan. Keadilan dikoyak-koyak dan bersimpuh pada segepok uang. Ada yang begitu percaya diri memanipulasi kebenaran. Menutupi keburukan telah menjadi kewajaran. Kepalsuan merajalela dan kekuasaan disalahgunakan.
Wajah-wajah topeng bertebaran seolah-olah menjadi ”pahlawan”.
Dalam kehidupan, kebaikan dan keburukan memang senantiasa beradu. Itulah kenyataan yang tak terhindarkan. Masing-masing sisi ditopang oleh pendukungnya dan kita entah bersama pendukung kebaikan atau keburukan.
Keburukan yang berlalu-lalang di Negeri ini telah menghadirkan wajah kepiluan. Ketika ada yang rakus melakukan korupsi, ada yang menjerit kelaparan. Ketika ada yang menginjak-injak hukum dan keadilan, ada yang tertindas dan tak mendapatkan haknya.
Menyaksikan kenyataan itu, kita akan terus mengingat keburukan adalah keburukan. Kejahatan tetaplah kejahatan. Mungkin kita sesak menyaksikan laju kebatilan di Negeri ini, namun kita tak boleh takluk. Kita akan melawan kebatilan. Kita tak mungkin diam dan akan terus melakukan perlawanan karena keburukan tak berhak nyaman di Negeri ini.
Sungguh, perjuangan kita adalah kemuliaan. Biarlah barisan kebatilan tertawa dengan aksinya, sedangkan kita akan tetap berada di barisan kebenaran. Kita tetap teguh meniti kebenaran meskipun barisan kebatilan tak surut menebar kezaliman.
Jalan kebenaran adalah jalan kita. Jika tak ada lagi yang bertahan di jalan ini, kita takkan goyah. Kita berada di jalan kebenaran meskipun harus seorang diri. Kita percaya kebatilan takkan bertahan dan pasti lenyap. Adapun kebenaran benar-benar berkuasa.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281
UKKI UNY Gelar Pekan Raya Peradaban
21.49
No comments
Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Suara Karya, Senin,14 Desember 2009
Pekan Raya Peradaban 2009 diselenggarakan UKKI Jama'ah Al-Mujahidin UNY pada akhir tahun ini. Pekan Raya Peradaban 2009 yang mengambil tema "Membangun Intelektual dan Integritas Moral Masyarakat Kampus menuju Tatanan Peradaban" berupa rangkaian kegiatan yang berlangsung mulai Sabtu (12/12) sampai Selasa (22/12).
Selain membangun kesadaran watak dan sikap mahasiswa dan masyarakat kampus, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam Pekan Raya Peradaban 2009 ini bertujuan memasifkan wacana keumatan di kampus. Tidak sekadar meningkatkan intelektualitas mahasiswa dan masyarakat kampus, tapi juga hendak menumbuhkembangkan kesalehan sosial.
Pekan Raya Peradaban 2009 UKKI Jama'ah Al-Mujahidin UNY diawali dengan semiloka keprofesian (12-13/12), dengan tema "Menguatkan Kompetensi dan Profesionalitas Mahasiswa dalam Menghadapi Tantangan Dunia Global Pascakampus".
Kegiatan ini, menurut rencana, menghadirkan pembicara antara lain Sabar Nurrahman, MPd (staf pengajar UNY), Sutrisno, AMd (Humas RSI Kalasan, Sleman), Lilik Reza Nur (trainer Yogya), Muh Zuhdan, SPd (Ketua PKMB Sumber Raharjo), Very Adi SS.Kom (Direktur Entrepreneur STMIK Amikom Yogyakarta), dan lain-lain.
Sekitar sepekan kemudian (18/12), kupas tuntas Palestina dilaksanakan dalam Pekan Raya Peradaban 2009 ini. Pembahasan problem dan solusi Palestina dalam kegiatan ini dicoba ditelaah melalui perspektif pendidikan, sosial, budaya, politik, dan ekonomi.
Narasumber di antaranya Ahmad Sumiyanto, SE, M.Si (Komisaris PT Ises Consulting Indonesia dan Ketua BMT Al-Ikhlas), Prof Wuryadi (Guru Besar UNY), dan pembicara lainnya.
Sebagai puncak dari Pekan Raya Peradaban 2009, seminar nasional Hari Ibu diselenggarakan pada Selasa (22/12) dengan tema "Peran Perempuan dalam Membangun Peradaban".
Kegiatan ini, menurut rencana, dihadiri Neno Warisman (aktivis sosial-pendidikan), Muhammad Fauzil Adhim (penulis buku), dan Apriliyana (aktivis perempuan).
Pekan Raya Peradaban 2009 yang diselenggarakan UKKI Jama'ah Al-Mujahidin UNY ini bersifat nasional dengan mengundang mahasiswa se-Indonesia, lembaga dakwah kampus, aktivis organisasi intra dan ekstrakampus, lembaga swadaya masyarakat, pelajar, dan masyarakat umum.
Untuk contact person semiloka keprofesian: 085793382864 (Wahyu) dan 085282769616 (Tata), Kupas Tuntas Palestina 087839013698 (Apep), dan Seminar Nasional Hari Ibu 08112508362 (Linda) dan 085291476435 (Ratna).
Hendra Sugiantoro
Email:hendra_lenteraindonesia@yahoo.co.id
Karangmalang, Yogyakarta 55281
Dimuat di Surat Pembaca Suara Karya, Senin,14 Desember 2009
Pekan Raya Peradaban 2009 diselenggarakan UKKI Jama'ah Al-Mujahidin UNY pada akhir tahun ini. Pekan Raya Peradaban 2009 yang mengambil tema "Membangun Intelektual dan Integritas Moral Masyarakat Kampus menuju Tatanan Peradaban" berupa rangkaian kegiatan yang berlangsung mulai Sabtu (12/12) sampai Selasa (22/12).
Selain membangun kesadaran watak dan sikap mahasiswa dan masyarakat kampus, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam Pekan Raya Peradaban 2009 ini bertujuan memasifkan wacana keumatan di kampus. Tidak sekadar meningkatkan intelektualitas mahasiswa dan masyarakat kampus, tapi juga hendak menumbuhkembangkan kesalehan sosial.
Pekan Raya Peradaban 2009 UKKI Jama'ah Al-Mujahidin UNY diawali dengan semiloka keprofesian (12-13/12), dengan tema "Menguatkan Kompetensi dan Profesionalitas Mahasiswa dalam Menghadapi Tantangan Dunia Global Pascakampus".
Kegiatan ini, menurut rencana, menghadirkan pembicara antara lain Sabar Nurrahman, MPd (staf pengajar UNY), Sutrisno, AMd (Humas RSI Kalasan, Sleman), Lilik Reza Nur (trainer Yogya), Muh Zuhdan, SPd (Ketua PKMB Sumber Raharjo), Very Adi SS.Kom (Direktur Entrepreneur STMIK Amikom Yogyakarta), dan lain-lain.
Sekitar sepekan kemudian (18/12), kupas tuntas Palestina dilaksanakan dalam Pekan Raya Peradaban 2009 ini. Pembahasan problem dan solusi Palestina dalam kegiatan ini dicoba ditelaah melalui perspektif pendidikan, sosial, budaya, politik, dan ekonomi.
Narasumber di antaranya Ahmad Sumiyanto, SE, M.Si (Komisaris PT Ises Consulting Indonesia dan Ketua BMT Al-Ikhlas), Prof Wuryadi (Guru Besar UNY), dan pembicara lainnya.
Sebagai puncak dari Pekan Raya Peradaban 2009, seminar nasional Hari Ibu diselenggarakan pada Selasa (22/12) dengan tema "Peran Perempuan dalam Membangun Peradaban".
Kegiatan ini, menurut rencana, dihadiri Neno Warisman (aktivis sosial-pendidikan), Muhammad Fauzil Adhim (penulis buku), dan Apriliyana (aktivis perempuan).
Pekan Raya Peradaban 2009 yang diselenggarakan UKKI Jama'ah Al-Mujahidin UNY ini bersifat nasional dengan mengundang mahasiswa se-Indonesia, lembaga dakwah kampus, aktivis organisasi intra dan ekstrakampus, lembaga swadaya masyarakat, pelajar, dan masyarakat umum.
Untuk contact person semiloka keprofesian: 085793382864 (Wahyu) dan 085282769616 (Tata), Kupas Tuntas Palestina 087839013698 (Apep), dan Seminar Nasional Hari Ibu 08112508362 (Linda) dan 085291476435 (Ratna).
Hendra Sugiantoro
Email:hendra_lenteraindonesia@yahoo.co.id
Karangmalang, Yogyakarta 55281
Jejak Ki Hajar dalam Riwayat Singkat
09.00
No comments
Oleh: HENDRA SUGIANTORODimuat di Bedah Buku Kedaulatan Rakyat, Minggu...November 2009
Judul Buku : Ki Hajar Dewantara: Biografi Singkat 1889-1959
Penulis : Suparto Rahardjo
Penerbit : Garasi, Yogyakarta
Cetakan : I, September 2009
Tebal : 152 hlm
Membaca jejak Ki Hajar Dewantara penuh dengan dedikasi pada spirit kerakyatan. Meskipun keturunan ningrat, Ki Hajar bukanlah sosok yang menaruh jarak dengan kehidupan masyarakat. Sejak kecil Ki Hajar akrab dengan rakyat jelata. Atribut kebangsawanan yang melekat pada nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat pun ditinggalkan. Tepat pada tanggal 23 Februari 1928, nama itu telah berganti menjadi Ki Hajar Dewantara yang kemudian dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional.
Ki Hajar boleh dikatakan sebagai sosok yang humanis dan merakyat. Ada cerita menarik di sini. Pernah ibunda Ki Hajar berkata kepada beliau ketika pergi ke Candi Borobudur, “Anakku Suwardi, lihatlah stupa di puncak candi itu. Manis dan indah, bukan? Tapi ketahuilah Wardi, bahwa stupa itu takkan berada di puncak candi jikalau tidak ada batu-batu dasar yang mendukungnya. Itulah ibaratnya rakyat jelata, itulah gambaran para budak dan hamba sahaya para raja. Oleh sebab itu, jikalau Tuhan mentakdirkan dirimu menjadi raja, janganlah kau lupa kepada rakyat jelata yang menaikkan dirimu ke atas puncak dari segala puncak kemegahan kerajaan warisan nenek moyangmu. Cintailah dan hargailah sesamamu, terutama rakyatmu yang menderita dan memerlukan uluran tanganmu.” Kata-kata ibunda Ki Hajar ini menjadi petuah bijak yang dihayati Ki Hajar dalam perjalanan hidupnya. Kepribadian Ki Hajar menjadi cermin betapa perhatian dan kepedulian terhadap rakyat tak boleh dilalaikan.
Sikap dan laku kepedulian terhadap rakyat kemudian mengilhami Ki Hajar bersama sahabat-sahabatnya untuk mendirikan perguruan nasional Taman Siswa (Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa) pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Lewat Taman Siswa, Ki Hajar berkehendak mendidik rakyat agar mampu mandiri. Pendidikan bagi rakyat adalah niscaya untuk mewujudkan cita-cita memerdekakan diri dari ketertindasan. Melalui metode among, Tamansiswa meletakkan pendidikan sebagai alat dan syarat untuk anak-anak hidup sendiri, mandiri, dan berguna bagi masyarakat. Pendidikan yang diajarkan adalah menegakkan jiwa anak-anak sebagai bangsa, membimbing anak-anak menjadi manusia yang bisa hidup dengan kecakapan dan kepandaiannnya sendiri, menciptakan manusia yang berguna bagi diri sendiri dan masyarakat (hlm. 56-57).
Buku yang ditulis Suparto Rahardjo ini memang berupaya menceritakan perjalanan Ki Hajar. Membuka buku ini, kita menjumpai sekilas jejak kehidupan dan aktivitas pergerakan Ki Hajar. Selain merakyat dan humanis, kepribadian Ki Hajar diuraikan sebagai sosok yang keras tapi tidak kasar, nasionalis sejati, pemimpin yang konsisten, berani dan setia, dan bersahaja.
Tak lupa pula pemikiran Ki Hajar terkait aspek pendidikan disajikan dalam buku ini. Membaca buku ini, kita diajak menyelami pemikiran Ki Hajar dalam usaha pendidikan anak-anak bangsa. Meskipun berupa riwayat singkat, buku ini tetap menarik. Ada sosok besar yang pernah dilahirkan di negeri ini yang mungkin kita lupakan. Kita hanya menghargai beliau dengan sebutan Bapak Pendidikan Nasional semata, namun pemikiran pendidikan beliau alpa dikaji dan ditelaah. Lewat riwayat singkat ini, kita menelusuri laku hidup Ki Hajar.
Hendra Sugiantoro
Pegiat Gapura Trans-F UNY
Kiamat 2012, Peduli Apa!?
09.09
No comments
Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Suara Merdeka, Selasa 24 November 2009
Kiamat 2012 adalah hiruk-pikuk yang menghadirkan tanda tanya. Terpaan media massa pun menyetir rasa ingin tahu sehingga mencuatkan penasaran penduduk bumi. Ada tanya besar ketika entah ribuan atau jutaan manusia bisa terbawa larut.
Dalam referensi agama, peristiwa kiamat bukanlah kedustaan. Mempercayai kiamat adalah keniscayaan. Bagi kita, kiamat adalah wilayah Tuhan. Kapan terjadinya kiamat adalah hak prerogatif Tuhan untuk menentukan waktunya. Entah 2012, sepuluh tahun lagi, seratus tahun lagi atau beribu-ribu tahun lagi, kiamat pasti terjadi. Kita bukanlah manusia bodoh yang lantas melegalkan kiamat akan terjadi pada 2012.
Yang menjadi petaka, isu kiamat 2012 justru mempertontonkan tragedi: kisah manusia “mempermainkan” hari kiamat. Tanda-tanda itu kentara ketika kita berbicara kiamat dengan tetap memamerkan aurat dan berperilaku korupsi. Kiamat hanya menjadi senda gurau di tengah lemahnya penegakan hukum dan keadilan di negeri ini. Kita yang hidup bermewahan bisa begitu percaya diri mengungkap kiamat, padahal betapa pilunya kehidupan masyarakat kecil. Kiamat hanya menjadi perbincangan, namun kita tak kuasa memperbaiki diri.
Kiamat adalah satu kata yang menyimpan misteri. Pun, ada kiamat kecil dan kiamat besar. Kiamat kecil telah kita saksikan dan akan kita saksikan nantinya. Kiamat-kiamat kecil yang mengandung pelajaran. Kelak akan ada kiamat besar dimana kita memang (harus) bersiap menghadapinya. Tak peduli kapan kiamat itu, kita terus berusaha meluruskan syahadat. Entah kapan pun kiamat itu, kita akan terus menegakkan penghambaan terhadap-Nya. Kita akan terus belajar mencintai-Nya. Kiamat pasti datang dan kita mempersiapkannya dengan membangun kesalehan sosial, bukan kesalahan sosial. Kita yakin ada kiamat. Adapun waktunya adalah urusan Tuhan. Wallahu a’lam.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281
Dimuat di Surat Pembaca Suara Merdeka, Selasa 24 November 2009
Kiamat 2012 adalah hiruk-pikuk yang menghadirkan tanda tanya. Terpaan media massa pun menyetir rasa ingin tahu sehingga mencuatkan penasaran penduduk bumi. Ada tanya besar ketika entah ribuan atau jutaan manusia bisa terbawa larut.
Dalam referensi agama, peristiwa kiamat bukanlah kedustaan. Mempercayai kiamat adalah keniscayaan. Bagi kita, kiamat adalah wilayah Tuhan. Kapan terjadinya kiamat adalah hak prerogatif Tuhan untuk menentukan waktunya. Entah 2012, sepuluh tahun lagi, seratus tahun lagi atau beribu-ribu tahun lagi, kiamat pasti terjadi. Kita bukanlah manusia bodoh yang lantas melegalkan kiamat akan terjadi pada 2012.
Yang menjadi petaka, isu kiamat 2012 justru mempertontonkan tragedi: kisah manusia “mempermainkan” hari kiamat. Tanda-tanda itu kentara ketika kita berbicara kiamat dengan tetap memamerkan aurat dan berperilaku korupsi. Kiamat hanya menjadi senda gurau di tengah lemahnya penegakan hukum dan keadilan di negeri ini. Kita yang hidup bermewahan bisa begitu percaya diri mengungkap kiamat, padahal betapa pilunya kehidupan masyarakat kecil. Kiamat hanya menjadi perbincangan, namun kita tak kuasa memperbaiki diri.
Kiamat adalah satu kata yang menyimpan misteri. Pun, ada kiamat kecil dan kiamat besar. Kiamat kecil telah kita saksikan dan akan kita saksikan nantinya. Kiamat-kiamat kecil yang mengandung pelajaran. Kelak akan ada kiamat besar dimana kita memang (harus) bersiap menghadapinya. Tak peduli kapan kiamat itu, kita terus berusaha meluruskan syahadat. Entah kapan pun kiamat itu, kita akan terus menegakkan penghambaan terhadap-Nya. Kita akan terus belajar mencintai-Nya. Kiamat pasti datang dan kita mempersiapkannya dengan membangun kesalehan sosial, bukan kesalahan sosial. Kita yakin ada kiamat. Adapun waktunya adalah urusan Tuhan. Wallahu a’lam.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281
Kiamat, Rahasia Ilahi
09.06
No comments
Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Jurnal Nasional,Senin 23 November 2009
Kiamat adalah kepastian yang merupakan rahasia Tuhan. Kita meyakini kelak dunia ini akan berakhir. Kehidupan dunia hanyalah bersifat sementara. Perihal kiamat tak seorang pun bisa mengetahui.
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT bersabda, "Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, "Bilakah terjadinya?" Katakanlah, "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (QS Al-A'raf:187).
Jelasnya, manusia tak memiliki pengetahuan sedikit pun perihal waktu kiamat. Kiamat pasti datang, entah besok, setahun lagi, sepuluh tahun lagi, seratus tahun lagi atau beribu-ribu tahun lagi. Hanya Allah SWT yang mengetahui.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281
Alamat Email : hendra_lenteraindonesia@yahoo.co.id
Dimuat di Surat Pembaca Jurnal Nasional,Senin 23 November 2009
Kiamat adalah kepastian yang merupakan rahasia Tuhan. Kita meyakini kelak dunia ini akan berakhir. Kehidupan dunia hanyalah bersifat sementara. Perihal kiamat tak seorang pun bisa mengetahui.
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT bersabda, "Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, "Bilakah terjadinya?" Katakanlah, "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (QS Al-A'raf:187).
Jelasnya, manusia tak memiliki pengetahuan sedikit pun perihal waktu kiamat. Kiamat pasti datang, entah besok, setahun lagi, sepuluh tahun lagi, seratus tahun lagi atau beribu-ribu tahun lagi. Hanya Allah SWT yang mengetahui.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281
Alamat Email : hendra_lenteraindonesia@yahoo.co.id
Kita adalah Pahlawan
22.07
No comments
Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Suara Merdeka,Kamis 19 Nopember 2009
Indonesia saat ini tentu saja merupakan jerih payah para pahlawan. Beribu-ribu pahlawan telah merelakan jiwa raganya untuk memerdekakan tanah persada dari hegemoni penjajahan. Tidak ada kata lain bagi para pahlawan bangsa ini kecuali berkorban dan berjuang demi tegaknya Indonesia Raya. Negeri elok rupawan ini harus tetap bertahan dan dipertahankan sebagai negara yang merdeka sekaligus berdaulat. Para pahlawan itu telah berjasa bagi negara. Kita berkewajiban menghargai mereka dengan bersungguh-sungguh membangun negara.
Diakui jika para pahlawan dalam lintasan sejarah Indonesia telah meletakkan pondasi kokoh bagi keberlangsungan republik ini. Bagi kita yang kini hidup di alam kemerdekaan diharapkan tidak sekadar menghargai perjuangan mereka hanya dengan memperingati Hari Pahlawan setiap tahunnya. Lebih dari itu, kita dituntut untuk dapat meneladani dan meneruskan perjuangan mereka. Bangsa besar yang menghargai jasa para pahlawan tidak sekadar menggunakan nama-nama mereka sebagai nama jalan raya.
Pastinya, perjuangan membangun Indonesia tidak akan pernah berakhir. Perjuangan yang juga menuntut sikap mengutamakan kepentingan bangsa sebagaimana dicontohkan para pahlawan. Merusak dan tidak ramah terhadap lingkungan merupakan perilaku negatif yang amat bertentangan dengan sikap mengutamakan kepentingan bangsa. Begitu juga dengan perilaku korupsi yang banyak merugikan kepentingan bangsa dan negara.
Mencermati kondisi Indonesia yang penuh permasalahan, maka kehadiran sosok pahlawan memang senantiasa dinantikan. Namun demikian, hadirnya sosok pahlawan itu tidak perlu dicari-cari. Kita tidak perlu mencari pahlawan lingkungan, karena sikap peduli lingkungan telah menjiwai perilaku kita. Tidak perlu mencari-cari pahlawan antikorupsi, karena setiap diri kita telah bersih dari perilaku korupsi.
Di zaman kemerdekaan ini kita berkewajiban menjadi pahlawan Indonesia . Pahlawan yang siap sedia membangun negeri tanpa pernah berpikir soal keuntungan pribadi. Menjadi pahlawan Indonesia dengan sendirinya juga mampu menampilkan perilaku positif dan kepribadian utama. Wallahu a’lam.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281
Dimuat di Surat Pembaca Suara Merdeka,Kamis 19 Nopember 2009
Indonesia saat ini tentu saja merupakan jerih payah para pahlawan. Beribu-ribu pahlawan telah merelakan jiwa raganya untuk memerdekakan tanah persada dari hegemoni penjajahan. Tidak ada kata lain bagi para pahlawan bangsa ini kecuali berkorban dan berjuang demi tegaknya Indonesia Raya. Negeri elok rupawan ini harus tetap bertahan dan dipertahankan sebagai negara yang merdeka sekaligus berdaulat. Para pahlawan itu telah berjasa bagi negara. Kita berkewajiban menghargai mereka dengan bersungguh-sungguh membangun negara.
Diakui jika para pahlawan dalam lintasan sejarah Indonesia telah meletakkan pondasi kokoh bagi keberlangsungan republik ini. Bagi kita yang kini hidup di alam kemerdekaan diharapkan tidak sekadar menghargai perjuangan mereka hanya dengan memperingati Hari Pahlawan setiap tahunnya. Lebih dari itu, kita dituntut untuk dapat meneladani dan meneruskan perjuangan mereka. Bangsa besar yang menghargai jasa para pahlawan tidak sekadar menggunakan nama-nama mereka sebagai nama jalan raya.
Pastinya, perjuangan membangun Indonesia tidak akan pernah berakhir. Perjuangan yang juga menuntut sikap mengutamakan kepentingan bangsa sebagaimana dicontohkan para pahlawan. Merusak dan tidak ramah terhadap lingkungan merupakan perilaku negatif yang amat bertentangan dengan sikap mengutamakan kepentingan bangsa. Begitu juga dengan perilaku korupsi yang banyak merugikan kepentingan bangsa dan negara.
Mencermati kondisi Indonesia yang penuh permasalahan, maka kehadiran sosok pahlawan memang senantiasa dinantikan. Namun demikian, hadirnya sosok pahlawan itu tidak perlu dicari-cari. Kita tidak perlu mencari pahlawan lingkungan, karena sikap peduli lingkungan telah menjiwai perilaku kita. Tidak perlu mencari-cari pahlawan antikorupsi, karena setiap diri kita telah bersih dari perilaku korupsi.
Di zaman kemerdekaan ini kita berkewajiban menjadi pahlawan Indonesia . Pahlawan yang siap sedia membangun negeri tanpa pernah berpikir soal keuntungan pribadi. Menjadi pahlawan Indonesia dengan sendirinya juga mampu menampilkan perilaku positif dan kepribadian utama. Wallahu a’lam.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281
Menjadi Generasi Pembelajar
09.08
No comments
Oleh: HENDRA SUGIANTORODimuat di Bedah Buku Kedaulatan Rakyat, Minggu 15 November 2009
Judul Buku: Prophetic Learning; Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian Penulis: Dwi Budiyanto Penyunting: Yusuf Maulana Penerbit: Pro-U Media, Yogyakarta Cetakan: I, 2009 Tebal: 268 hlm
Ilmu dalam kehidupan sangatlah penting. Dengan ilmu, kedudukan manusia mendapatkan kemuliaan. Allah SWT telah mewajibkan bagi siapa pun untuk menuntut ilmu sebagai bekal kehidupan di dunia dan di akhirat. Untuk mendapatkan ilmu, seseorang dituntut untuk senantiasa belajar. Belajar untuk mendapatkan ilmu sekaligus mengamalkannya.
Berbicara mengenai tradisi belajar, ada contoh luar biasa yang diperlihatkan generasi awal Islam (salafush-shalih). Agar beroleh ilmu, generasi Islam zaman awal memiliki kemauan yang kuat dan semangat yang membara. Maka, tidaklah heran jika kita menyaksikan kehidupan mereka sarat dengan aktivitas belajar. Untuk mendapatkan ilmu, mereka tidak segan-segan melakukan pengembaraan intelektual, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sebut saja perjalanan menuntut ilmu yang dilakukan Imam Syafi’i. Pada awalnya, Imam Syafi’i belajar sastra Arab kepada Muslim bin Khalid az-Zanji. Setelah itu, ia mendatangi beberapa ulama untuk belajar fikih di Mekah. Pergi ke Madinah, Imam Syafi’i belajar kepada Abu Abdullah Malik bin Anas. Tidak berhenti di Madinah, Imam Syafi’i melanjutkan perjalanan menuntut ilmu ke Yaman dan Irak. Ada banyak kisah tradisi belajar yang dimiliki generasi salafush-shalih yang dipaparkan dalam buku ini. Di zaman Nabi Muhammad SAW, Zaid bin Tsabit pernah belajar bahasa Ibrani dan menguasainya hanya dalam waktu 15 hari. Semangat untuk belajar pernah dipertunjukkan Abu Raihan al-Biruni yang masih menyempatkan bertanya tentang perkara berkaitan dengan fikih meskipun ajal hampir menjemputnya.
Dengan membaca buku ini, kita bisa melakukan refleksi terkait tradisi belajar yang kita miliki. Ada kecenderungan minimnya motivasi belajar yang terdapat di benak pelajar dan mahasiswa saat ini. Bahkan, kegigihan belajar tampak kurang dengan perilaku jalan pintas yang sering kali diperlihatkan. Banyak pelajar dan mahasiswa yang menghalalkan perilaku mencontek agar mendapatkan nilai memuaskan. Padahal, perilaku mencontek menyebabkan ilmu yang didapatkan tidak menjadi berkah. Berbeda dengan generasi Islam awal yang sangat hati-hati dalam aktivitas belajarnya sehingga menghindari perbuatan-perbuatan buruk. Sikap menghindari perbuatan kemaksiatan terlihat nyata dalam generasi salafush-shalih untuk menjaga keimanan dan keilmuan mereka. Dengan menyaksikan tradisi belajar generasi salafush-shalih, ada pelajaran yang bisa kita petik. Motivasi yang ikhlas (ikhlas an-niyah) sangat tampak pada generasi salafush-shalih. Mereka belajar semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT. Dalam belajar, generasi salafush-shalih melakukannya dengan sebaik-baiknya (itqan al-’amal). Belajar dilakukan sebaik mungkin dengan etos belajar yang tinggi. Generasi salafush-shalih memanfaatkan hasil belajarnya dengan tepat.
Buku yang ditulis Dwi Budiyanto ini mengajak siapa pun untuk menyadari pentingnya belajar. Generasi salafush-shalih telah memperlihatkan contoh luar biasa dalam kebiasaan membaca, menulis, pengembaraan ilmiah, dan tradisi berpikir yang perlu kita teladani.
HENDRA SUGIANTORO
Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta
Pendidikan dalam Keluarga, Lupakah?
08.39
1 comment
Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan Harian Jogja, Kamis 12 November 2009
Pendidikan merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan tidak hanya di sekolah formal. Dalam kehidupan keluarga, pendidikan juga harus berjalan. Pendidikan dalam keluarga memiliki peran penting membangun kualitas manusia.
Namun sayang, pendidikan dalam keluarga seakan-akan terlupakan. Kita sering kali hanya memasrahkan pendidikan anak kepada sekolah. Kadang kita serta-merta menyalahkan pihak sekolah jika ternyata anak tidak berkelakuan baik. Kita cukup membiayai anak sekolah dan tidak memberikan pendidikan yang baik dalam lingkungan keluarga. Padahal, baik buruknya anak tidak mutlak kesalahan pihak sekolah. Ketika anak berkelakuan buruk, keluarga juga bertanggung jawab. Kenakalan anak boleh jadi akibat dari kenakalan orang tua. Tentu saja, orang tua perlu melakukan introspeksi ketika menjumpai anaknya tidak berperilaku mulia. Pihak sekolah jangan terus disalahkan!
Maka, kesadaran pentingnya pendidikan dalam keluarga menjadi niscaya. Di lingkungan keluargalah pertama kali anak membentuk konsep diri dan konsep moral. Mulanya kecerdasan anak terbentuk di lingkungan keluarga. Pendidikan dalam keluarga dan pendidikan di sekolah perlu berjalan beriringan. Dengan sinergi pihak keluarga dan pihak sekolah semoga mampu membangun kualitas anak sebagai indivudu manusia dan anggota masyarakat.
Pendidikan di lingkungan keluarga dan sekolah—meminjam Muhammad Natsir—berperan sebagai sarana memimpin dan membimbing anak mencapai pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani secara sempurna, menjadikan anak memiliki sifat-sifat kemanusiaan dengan mencapai akhlak mulia, menjadikan anak sebagai manusia yang jujur dan benar, mengarahkan anak menjadi hamba Allah SWT, menjadikan anak yang dalam segala perilaku atau interaksi vertikal maupun horisontalnya selalu menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan mendorong sifat-sifat kesempurnaan anak, bukan menghilangkan dan menyesatkan sifat- sifat kemanusiaan (lihat Abuddin Nata dalam Tokoh-Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, 2005).
Pertanyaannya, siapkah kita menjadikan lingkungan keluarga sebagai ruang pendidikan anak? Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Karangmalang Yogyakarta 55281
Dimuat di Jagongan Harian Jogja, Kamis 12 November 2009
Pendidikan merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan tidak hanya di sekolah formal. Dalam kehidupan keluarga, pendidikan juga harus berjalan. Pendidikan dalam keluarga memiliki peran penting membangun kualitas manusia.
Namun sayang, pendidikan dalam keluarga seakan-akan terlupakan. Kita sering kali hanya memasrahkan pendidikan anak kepada sekolah. Kadang kita serta-merta menyalahkan pihak sekolah jika ternyata anak tidak berkelakuan baik. Kita cukup membiayai anak sekolah dan tidak memberikan pendidikan yang baik dalam lingkungan keluarga. Padahal, baik buruknya anak tidak mutlak kesalahan pihak sekolah. Ketika anak berkelakuan buruk, keluarga juga bertanggung jawab. Kenakalan anak boleh jadi akibat dari kenakalan orang tua. Tentu saja, orang tua perlu melakukan introspeksi ketika menjumpai anaknya tidak berperilaku mulia. Pihak sekolah jangan terus disalahkan!
Maka, kesadaran pentingnya pendidikan dalam keluarga menjadi niscaya. Di lingkungan keluargalah pertama kali anak membentuk konsep diri dan konsep moral. Mulanya kecerdasan anak terbentuk di lingkungan keluarga. Pendidikan dalam keluarga dan pendidikan di sekolah perlu berjalan beriringan. Dengan sinergi pihak keluarga dan pihak sekolah semoga mampu membangun kualitas anak sebagai indivudu manusia dan anggota masyarakat.
Pendidikan di lingkungan keluarga dan sekolah—meminjam Muhammad Natsir—berperan sebagai sarana memimpin dan membimbing anak mencapai pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani secara sempurna, menjadikan anak memiliki sifat-sifat kemanusiaan dengan mencapai akhlak mulia, menjadikan anak sebagai manusia yang jujur dan benar, mengarahkan anak menjadi hamba Allah SWT, menjadikan anak yang dalam segala perilaku atau interaksi vertikal maupun horisontalnya selalu menjadi rahmat bagi seluruh alam, dan mendorong sifat-sifat kesempurnaan anak, bukan menghilangkan dan menyesatkan sifat- sifat kemanusiaan (lihat Abuddin Nata dalam Tokoh-Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, 2005).
Pertanyaannya, siapkah kita menjadikan lingkungan keluarga sebagai ruang pendidikan anak? Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Karangmalang Yogyakarta 55281
Guru dalam Kritik
08.35
No comments
Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Suara Merdeka, Minggu 8 November 2009
Profesionalisme guru merupakan harga mati. Upaya meningkatkan profesionalisme guru dilakukan diantaranya melalui program sertifikasi guru yang digulirkan pemerintah. Namun, guru memperoleh teguran. Diakui atau tidak, program sertifikasi guru ternyata tak berbanding lurus dengan peningkatan kinerja guru.
Di sinilah guru tampaknya kita perlu melakukan introspeksi. Hasil survei yang dilakukan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menunjukkan bahwa kinerja guru yang sudah lolos sertifikasi masih belum memuaskan. Motivasi kerja yang tinggi justru ditunjukkan oleh guru-guru di berbagai jenjang pendidikan yang belum lolos sertifikasi. Motivasi kerja ini dengan harapan segera mendapat sertifikasi berikut uang tunjangan profesi. Dalam survei yang dilansir 7 Oktober 2009 itu, baru 16 provinsi dari 28 provinsi yang diolah datanya oleh PGRI. Lantas, bagaimana guru menyikapi hal ini?
Memang benar apa yang diungkapkan Ketua Umum PGRI Sulistiyo bahwa para guru mesti terus membangun citra guru, mulai dengan bekerja sungguh-sungguh, meningkatkan kualitas diri, dan menjadi teladan. Namun, pastinya menyikapi fenomena yang diperlihatkan dalam survei tentu tak bisa mengabaikan faktor internal guru. Dengan kata lain, guru perlu mengkritisi diri sendiri. Dengan tetap menghormati guru yang bekerja sepenuh jiwa, tidak semua guru memiliki kesadaran internal untuk meningkatkan kualitas dirinya. Ada guru yang tertantang mengasah kompetensinya dengan jaminan kesejahteraan, tapi ada juga guru yang kualitasnya tidak berkembang meskipun sudah cukup mapan secara finansial.
Di sisi lain, kelanjutan dari program sertifikasi guru memang cenderung tidak jelas. Jika sertifikasi guru sekadar berhenti dengan diperolehnya tunjangan profesi, maka upaya peningkatan kualitas guru boleh dikatakan bersifat parsial. Di sinilah persoalannya. Maka, tak ada salahnya pemerintah memprogramkan uji sertifikasi guru secara periodik. Artinya, guru-guru yang telah mendapatkan sertifikat pendidik tetap perlu diuji lagi agar tetap terjaga kepemilikan kualitasnya. Namun, sekali lagi, kesadaran internal guru tetaplah penting. Guru perlu mengkritisi diri sendiri. Apakah telah meningkatkan kompetensi dengan membaca buku-buku terkait dengan bidang profesi? Apakah kegiatan-kegiatan ilmiah dan berbagai jenis kegiatan peningkatan kapasitas lainnya diikuti? Apakah guru telah melakukan kinerja secara baik dan bertanggung jawab? Wallahu a’lam.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281
Dimuat di Surat Pembaca Suara Merdeka, Minggu 8 November 2009
Profesionalisme guru merupakan harga mati. Upaya meningkatkan profesionalisme guru dilakukan diantaranya melalui program sertifikasi guru yang digulirkan pemerintah. Namun, guru memperoleh teguran. Diakui atau tidak, program sertifikasi guru ternyata tak berbanding lurus dengan peningkatan kinerja guru.
Di sinilah guru tampaknya kita perlu melakukan introspeksi. Hasil survei yang dilakukan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menunjukkan bahwa kinerja guru yang sudah lolos sertifikasi masih belum memuaskan. Motivasi kerja yang tinggi justru ditunjukkan oleh guru-guru di berbagai jenjang pendidikan yang belum lolos sertifikasi. Motivasi kerja ini dengan harapan segera mendapat sertifikasi berikut uang tunjangan profesi. Dalam survei yang dilansir 7 Oktober 2009 itu, baru 16 provinsi dari 28 provinsi yang diolah datanya oleh PGRI. Lantas, bagaimana guru menyikapi hal ini?
Memang benar apa yang diungkapkan Ketua Umum PGRI Sulistiyo bahwa para guru mesti terus membangun citra guru, mulai dengan bekerja sungguh-sungguh, meningkatkan kualitas diri, dan menjadi teladan. Namun, pastinya menyikapi fenomena yang diperlihatkan dalam survei tentu tak bisa mengabaikan faktor internal guru. Dengan kata lain, guru perlu mengkritisi diri sendiri. Dengan tetap menghormati guru yang bekerja sepenuh jiwa, tidak semua guru memiliki kesadaran internal untuk meningkatkan kualitas dirinya. Ada guru yang tertantang mengasah kompetensinya dengan jaminan kesejahteraan, tapi ada juga guru yang kualitasnya tidak berkembang meskipun sudah cukup mapan secara finansial.
Di sisi lain, kelanjutan dari program sertifikasi guru memang cenderung tidak jelas. Jika sertifikasi guru sekadar berhenti dengan diperolehnya tunjangan profesi, maka upaya peningkatan kualitas guru boleh dikatakan bersifat parsial. Di sinilah persoalannya. Maka, tak ada salahnya pemerintah memprogramkan uji sertifikasi guru secara periodik. Artinya, guru-guru yang telah mendapatkan sertifikat pendidik tetap perlu diuji lagi agar tetap terjaga kepemilikan kualitasnya. Namun, sekali lagi, kesadaran internal guru tetaplah penting. Guru perlu mengkritisi diri sendiri. Apakah telah meningkatkan kompetensi dengan membaca buku-buku terkait dengan bidang profesi? Apakah kegiatan-kegiatan ilmiah dan berbagai jenis kegiatan peningkatan kapasitas lainnya diikuti? Apakah guru telah melakukan kinerja secara baik dan bertanggung jawab? Wallahu a’lam.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281
Kemaslahatan Rakyat, Kewajiban Anda!
20.07
No comments
Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Lampung Pos, Kamis, 5 November 2009
PENYUSUNAN Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II menuai pro dan kontra. Dengan 34 menteri dan tiga pejabat negara yang mendukung pekerja
an kabinet, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengepakkan sayap optimisme bahwa KIB Jilid II mampu bekerja efektif untuk menggulirkan dan menyukseskan program kerja. Optimisme yang juga selayaknya dimiliki bangsa ini. Optimisme bahwa KIB Jilid II akan mampu memberikan kontribusi signifikan bagi laju perkembangan bangsa dan negara.
Jika pun mencuat sikap kontra dalam penyusunan kabinet, itu sah-sah saja. Adanya sikap kontra merupakan sebentuk kontrol agar KIB Jilid II bisa bekerja sebaik-baiknya. Artinya, tanggapan kontra perlu disikapi sebagai pelecut spirit KIB Jilid II untuk mempersembahkan kerja-kerja membangun kemaslahatan kehidupan rakyat. Jajaran KIB Jilid II harus membuktikan kemampuannya dan melakukan unjuk kerja positif. Keraguan berbagai pihak terkait KIB Jilid II harus dijawab dengan bukti-bukti nyata kinerja cemerlang kabinet.
Pastinya, kinerja positif kabinet menjadi hal yang penting. Silahkan KIB Jilid II bekerja dan membuktikan janji dan komitmennya. Jajaran KIB Jilid II harus menyadari bahwa tugas-tugasnya tidaklah ringan. Ketika telah diamanahi menduduki posisi menteri dalam KIB Jilid II, amanah itu wajib dijalankan sepenuh jiwa dan pengabdian.
Dalam hal ini, jajaran KIB Jilid II seyogianya benar-benar menghayati dan menjiwai maksud didirikannya pemerintahan negara Republik Indonesia . Ada empat hal. Pertama, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia . Kedua, memajukan kesejahteraan umum. Ketiga, mencerdaskan kehidupan bangsa. Keempat, ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Keempat hal itu harus dihayati sehingga setiap kebijakan presiden ataupun menteri tetap dalam koridor maksud didirikannya pemerintahan.
Di sisi lain, lembaga legislatif harus melakukan fungsionalisasi pengontrolan dan pengawasan terhadap kinerja kabinet. KIB Jilid II akan bekerja baik jika lembaga legislatif juga berfungsi secara baik. Anggota parlemen dan anggota kabinet harus membedakan fungsi dan kedudukan lembaga legislatif dan eksekutif. Meskipun banyak menteri kabinet yang berasal dari parpol, itu bukan berarti menteri sebagai wakil parpol. Ketika menduduki posisi sebagai menteri, maka bendera parpol dilepas dan digantikan “bendera merah putih”. Parpol dalam parlemen tidak ada kepentingan membela kader-kadernya dalam kabinet jika menunjukkan kinerja buruk. Anggota-anggota parlemen wajib menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan terhadap lembaga eksekutif secara benar dan bertanggung jawab!
Kini saatnya bagi jajaran KIB Jilid II menunjukkan kontribusi nyata membangun kemaslahatan kehidupan rakyat. Singsingkan lengan baju dan mulailah bekerja keras! Saksikan kehidupan masyarakat dengan terjun langsung di lapangan. Rasakanlah denyut nadi kehidupan masyarakat! Di antara sekitar 235 juta penduduk negeri ini, ada sebagian rakyat yang kurang terjamin kehidupannya. Rakyat merindukan kesejahteraan dan tingkat penghidupan yang layak. Di antara penduduk negeri ini, ada sebagian rakyat yang masih sulit mengembangkan potensi diri akibat terhambat mengakses jenjang pendidikan. Maka, bekerjalah KIB Jilid II dan jangan membiarkan sebagian penduduk negeri ini kelaparan! Tunjukkan kinerja Anda sebaik-baiknya. Tunjukkan kinerja Anda sebenar-benarnya untuk membangun kemaslahatan kehidupan rakyat! Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Karangmalang Yogyakarta 55281
http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009110506501866
Dimuat di Surat Pembaca Lampung Pos, Kamis, 5 November 2009
PENYUSUNAN Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II menuai pro dan kontra. Dengan 34 menteri dan tiga pejabat negara yang mendukung pekerja
an kabinet, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengepakkan sayap optimisme bahwa KIB Jilid II mampu bekerja efektif untuk menggulirkan dan menyukseskan program kerja. Optimisme yang juga selayaknya dimiliki bangsa ini. Optimisme bahwa KIB Jilid II akan mampu memberikan kontribusi signifikan bagi laju perkembangan bangsa dan negara.Jika pun mencuat sikap kontra dalam penyusunan kabinet, itu sah-sah saja. Adanya sikap kontra merupakan sebentuk kontrol agar KIB Jilid II bisa bekerja sebaik-baiknya. Artinya, tanggapan kontra perlu disikapi sebagai pelecut spirit KIB Jilid II untuk mempersembahkan kerja-kerja membangun kemaslahatan kehidupan rakyat. Jajaran KIB Jilid II harus membuktikan kemampuannya dan melakukan unjuk kerja positif. Keraguan berbagai pihak terkait KIB Jilid II harus dijawab dengan bukti-bukti nyata kinerja cemerlang kabinet.
Pastinya, kinerja positif kabinet menjadi hal yang penting. Silahkan KIB Jilid II bekerja dan membuktikan janji dan komitmennya. Jajaran KIB Jilid II harus menyadari bahwa tugas-tugasnya tidaklah ringan. Ketika telah diamanahi menduduki posisi menteri dalam KIB Jilid II, amanah itu wajib dijalankan sepenuh jiwa dan pengabdian.
Dalam hal ini, jajaran KIB Jilid II seyogianya benar-benar menghayati dan menjiwai maksud didirikannya pemerintahan negara Republik Indonesia . Ada empat hal. Pertama, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia . Kedua, memajukan kesejahteraan umum. Ketiga, mencerdaskan kehidupan bangsa. Keempat, ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Keempat hal itu harus dihayati sehingga setiap kebijakan presiden ataupun menteri tetap dalam koridor maksud didirikannya pemerintahan.
Di sisi lain, lembaga legislatif harus melakukan fungsionalisasi pengontrolan dan pengawasan terhadap kinerja kabinet. KIB Jilid II akan bekerja baik jika lembaga legislatif juga berfungsi secara baik. Anggota parlemen dan anggota kabinet harus membedakan fungsi dan kedudukan lembaga legislatif dan eksekutif. Meskipun banyak menteri kabinet yang berasal dari parpol, itu bukan berarti menteri sebagai wakil parpol. Ketika menduduki posisi sebagai menteri, maka bendera parpol dilepas dan digantikan “bendera merah putih”. Parpol dalam parlemen tidak ada kepentingan membela kader-kadernya dalam kabinet jika menunjukkan kinerja buruk. Anggota-anggota parlemen wajib menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan terhadap lembaga eksekutif secara benar dan bertanggung jawab!
Kini saatnya bagi jajaran KIB Jilid II menunjukkan kontribusi nyata membangun kemaslahatan kehidupan rakyat. Singsingkan lengan baju dan mulailah bekerja keras! Saksikan kehidupan masyarakat dengan terjun langsung di lapangan. Rasakanlah denyut nadi kehidupan masyarakat! Di antara sekitar 235 juta penduduk negeri ini, ada sebagian rakyat yang kurang terjamin kehidupannya. Rakyat merindukan kesejahteraan dan tingkat penghidupan yang layak. Di antara penduduk negeri ini, ada sebagian rakyat yang masih sulit mengembangkan potensi diri akibat terhambat mengakses jenjang pendidikan. Maka, bekerjalah KIB Jilid II dan jangan membiarkan sebagian penduduk negeri ini kelaparan! Tunjukkan kinerja Anda sebaik-baiknya. Tunjukkan kinerja Anda sebenar-benarnya untuk membangun kemaslahatan kehidupan rakyat! Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Karangmalang Yogyakarta 55281
http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009110506501866
Belajar Maju dari Negeri Sakura
20.03
1 comment
Dimuat di Bedah Buku Kedaulatan Rakyat, Minggu, 1 November 2009
Judul Buku: Spirit Jepang: 30 Inspirasi&Kunci Sukses Orang-orang Jepang
Penulis: Taufik Adi Susilo Penerbit: Garasi, Yogyakarta Cetakan: I, Maret 2009 Tebal:204 hlm
BERBICARA mengenai Jepang, ingatan kita mungkin mengarah pada zaman prakemerdekaan dimana Jepang pernah menjajah Indonesia. Adanya pikiran itu sah-sah saja karena merupakan fakta. Tapi, buku yang ditulis Taufik Adi Susilo ini bukan untuk mengarahkan pikiran kita terkait penjajahan Jepang. Melalui buku ini, kita diajak untuk menyelami kunci sukses masyarakat Jepang yang kini mampu meraih kemajuan. Dengan minimnya sumber daya alam, Jepang ternyata tampil luar biasa sebagai negara yang diperhitungkan di dunia. Berbagai julukan disandang Jepang mulai dari Matahari Terbit, Macan Asia sampai Negeri Sakura.
Dikatakan penulis buku, hidup bagi orang-orang Jepang adalah belajar dan bekerja. Tiada hari tanpa belajar dan bekerja. Masyarakat Jepang disiplin dan menaruh penghargaan tinggi terhadap waktu. Pentingnya semangat belajar ditekankan kepada masyarakat Jepang yang tampak dari pemanfaatan waktu secara efisien untuk tekun melahap bahan bacaan. Di Jepang, produksi buku per tahun bisa mencapai 60.000-70.000 judul buku. Toko buku dan perpustakaan sangat mudah dijumpai sehingga membentuk budaya membaca masyarakat. Di Jepang, pengembangan riset dan ilmu pengetahuan sangat ditekankan di semua jenjang pendidikan. Perguruan tinggi menjadi penghasil sumber daya manusia spesialis dan lembaga penelitian yang menghasilkan inovasi-inovasi teknologi. Pemerintah Jepang mendukungnya dengan memberi anggaran pendidikan yang tinggi. Untuk keperluan penelitian saja, negara menganggarkan 20% dari keseluruhan anggaran pendidikan. Tak heran jika jumlah peneliti di Jepang adalah hampir sepertiga peneliti di dunia (hlm. 73).
Membaca buku ini, kita diajak menyelami sisi kehidupan masyarakat Jepang dan faktor-faktor apa saja yang menjadikan Jepang disegani di mata dunia. Buku ini bisa dibaca oleh siapa saja untuk setidaknya menggali nilai-nilai positif dari negeri Jepang yang harapannya bisa menginspirasi kemajuan negeri kita: Indonesia.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Komunitas Gapura Trans-F UNY
Sumpah Pemuda dan Pendidikan
14.21
No comments
Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Opini Kedaulatan Rakyat, Kamis 29 Oktober 2009
Tahun ini kita akan memperingati 81 tahun Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda merupakan ikrar para pemuda untuk menyatukan gerak langkah dalam satu semangat melawan dan mengusir kolonialisme dan imperialisme dari bumi Nusantara. Kelompok pemuda dari penjuru Nusantara berkumpul bersama merumuskan konsep menuju kemerdekaan Indonesia dalam Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 2008 di Batavia (Jakarta). Kongres Pemuda II itu ditulis dalam salah satu artikel bertajuk “Kerapatan Pemoeda-Pemoeda Indonesia” di surat kabar Pemoeda Indonesia (PI) No. 8 Tahun 1928.
Adapun sebagian isi tulisan itu, “Pimpinan kerapatan ialah terdiri dari wakil-wakil, Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia, Pemoeda Indonesia, Pemoeda Soematera, Jong Java, Jong Celebes, Jong Batak, Pemoeda Kaum Betawi, Jong Islamieten Bond (JIB) dan Sekar Roekoen…….Dalam kesempatan inipun telah diperdengarkan untuk pertama kali kepada umum oleh Pemoeda W.R. Soepratman, lagu INDONESIA RAJA”. Pemuda Tionghoa juga hadir dalam kongres itu, yakni Kwee Thiam Hong (sebagai wakil dari Jong Sumatranen Bond), Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien Kwie. Konon tempat dibacakannya Sumpah Pemuda adalah rumah kepunyaan seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong.
Di akhir kongres, para pemuda mengucapkan sumpah setelah menggelar rapat intensif selama dua hari yang diketuai Soegondo Djojopoespito. Pertama, kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoea, kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga, kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. Pertanyaannya kemudian, apakah bidang pendidikan menjadi pembahasan dalam kongres itu? Bagaimana para pemuda membahas persoalan pendidikan?
Dalam Kongres Pemuda II, aspek pendidikan menjadi pembahasan menarik dan disebut oleh Muhammad Yamin sebagai salah satu faktor pemerkuat persatuan Indonesia. Saat rapat pada hari pertama di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Sabtu, 27 Oktober 1928, Muhammad Yamin juga menyebut faktor selain pendidikan, yakni sejarah, bahasa, hukum adat, dan kemauan. Muncul juga pemikiran Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro mengenai pendidikan dalam rapat hari kedua di Gedung Oost-Java Bioscoop yang menarik kita hayati: (1). Anak harus mendapatkan pendidikan kebangsaan, (2). Harus ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah, dan (3). Anak juga harus dididik secara demokratis. Masih terkait dengan aspek pendidikan, Soenario yang juga tampil sebagai pembicara menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Ditegaskan Ramelan dalam Kongres Pemuda II bahwa gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri. Kedisiplinan dan kemandirian merupakan hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
Adanya peran penting pendidikan bagi kebangunan bangsa dan negara, siapa pun tentu tak memungkiri. Bangkitnya kesadaran para pemuda yang menggagas dan menggelar Sumpah Pemuda 1928 pun disebabkan dari tempaan proses pendidikan Menurut Safari Daud (2006), konteks pendidikan inilah yang menopang kesadaran kaum muda bahwa pergantian kekuasaan harus terjadi, harus ada kesadaran untuk merebut kekuasaan dari tangan kolonial. "Traktat" Batavia 28 Oktober 1928 cukup dinilai berangkat dari kajian akademis kaum muda yang matang. Atas dasar itu, kita pun menyadari bahwa aspek pendidikan memegang peranan penting mencerahkan alam pikiran anak bangsa. Pendidikan mampu memberikan kesadaran bagi anak bangsa untuk memberikan kontribusi bagi kebangunan bangsanya.
Pendidikan yang mampu melahirkan insan-insan yang peduli terhadap bangsanya tentu saja adalah pendidikan yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Kesimpulan pendapat Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro dalam Kongres Pemuda II bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan. Pendidikan kebangsaan adalah pendidikan yang mendidik anak bangsa agar mencintai bangsanya, memiliki kehendak untuk berkarya dan membangun bangsanya. Pada dasarnya konsep ini sudah termaktub dalam UU Sisdiknas No. 20/2003 bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Pendidikan tak sekadar membangun tingkat intelektualitas, tapi juga mampu melahirkan anak bangsa sebagai warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk itu, pendidikan kebangsaan perlu diimplementasikan dalam proses penyelenggaraan pendidikan nasional. Pendidikan kebangsaan bukan berarti meniadakan nilai-nilai kearifan lokal. Kearifan lokal perlu diajarkan dan ditanamkan, tapi anak-anak bangsa juga perlu ditanamkan kesadaran sebagai satu bangsa yang hidup dan berpijak di tanah Indonesia. Kesadaran yang akhirnya menghasilkan tindakan positif untuk berkontribusi nyata bagi perbaikan bangsanya. Tanggung jawab melakukan itu tentu saja tidak melulu berada di pundak sekolah. Artinya, pihak keluarga juga bertanggung jawab mendidik anak-anaknya agar memiliki nilai-nilai kebangsaan.
Sinergisitas pihak keluarga dan sekolah diperlukan untuk mendidik anak-anak bangsa sehingga kelak akan lahir—meminjam Fahri Hamzah (2002)—pemuda dalam semangat, kesucian diri, kecerdasan, kecemerlangan, kejujuran, keberanian, pikiran dan jiwa besar, kepercayaan diri dan mental yang terbuat dari baja, kejujuran dan patriotisme terhadap bangsa Indonesia. Seperti tutur Ki Hajar Dewantara, “Mendidik anak itulah mendidik rakyat. Keadaan dalam hidup dan penghidupan kita pada zaman sekarang itulah buahnya pendidikan yang kita terima dari orangtua pada waktu kita masih kanak-kanak. Sebaliknya anak-anak yang pada waktu ini kita didik, kelak akan menjadi warga negara kita.”
Pungkasnya, Sumpah Pemuda memang selalu identik dengan semangat kebangsaan, tapi yang perlu digarisbawahi bahwa pondasi untuk menanamkan hal itu adalah melalui pendidikan. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute Universitas Negeri Yogyakarta
Dimuat di Opini Kedaulatan Rakyat, Kamis 29 Oktober 2009
Tahun ini kita akan memperingati 81 tahun Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda merupakan ikrar para pemuda untuk menyatukan gerak langkah dalam satu semangat melawan dan mengusir kolonialisme dan imperialisme dari bumi Nusantara. Kelompok pemuda dari penjuru Nusantara berkumpul bersama merumuskan konsep menuju kemerdekaan Indonesia dalam Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 2008 di Batavia (Jakarta). Kongres Pemuda II itu ditulis dalam salah satu artikel bertajuk “Kerapatan Pemoeda-Pemoeda Indonesia” di surat kabar Pemoeda Indonesia (PI) No. 8 Tahun 1928.
Adapun sebagian isi tulisan itu, “Pimpinan kerapatan ialah terdiri dari wakil-wakil, Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia, Pemoeda Indonesia, Pemoeda Soematera, Jong Java, Jong Celebes, Jong Batak, Pemoeda Kaum Betawi, Jong Islamieten Bond (JIB) dan Sekar Roekoen…….Dalam kesempatan inipun telah diperdengarkan untuk pertama kali kepada umum oleh Pemoeda W.R. Soepratman, lagu INDONESIA RAJA”. Pemuda Tionghoa juga hadir dalam kongres itu, yakni Kwee Thiam Hong (sebagai wakil dari Jong Sumatranen Bond), Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien Kwie. Konon tempat dibacakannya Sumpah Pemuda adalah rumah kepunyaan seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong.
Di akhir kongres, para pemuda mengucapkan sumpah setelah menggelar rapat intensif selama dua hari yang diketuai Soegondo Djojopoespito. Pertama, kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoea, kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga, kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. Pertanyaannya kemudian, apakah bidang pendidikan menjadi pembahasan dalam kongres itu? Bagaimana para pemuda membahas persoalan pendidikan?
Dalam Kongres Pemuda II, aspek pendidikan menjadi pembahasan menarik dan disebut oleh Muhammad Yamin sebagai salah satu faktor pemerkuat persatuan Indonesia. Saat rapat pada hari pertama di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Sabtu, 27 Oktober 1928, Muhammad Yamin juga menyebut faktor selain pendidikan, yakni sejarah, bahasa, hukum adat, dan kemauan. Muncul juga pemikiran Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro mengenai pendidikan dalam rapat hari kedua di Gedung Oost-Java Bioscoop yang menarik kita hayati: (1). Anak harus mendapatkan pendidikan kebangsaan, (2). Harus ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah, dan (3). Anak juga harus dididik secara demokratis. Masih terkait dengan aspek pendidikan, Soenario yang juga tampil sebagai pembicara menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Ditegaskan Ramelan dalam Kongres Pemuda II bahwa gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri. Kedisiplinan dan kemandirian merupakan hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
Adanya peran penting pendidikan bagi kebangunan bangsa dan negara, siapa pun tentu tak memungkiri. Bangkitnya kesadaran para pemuda yang menggagas dan menggelar Sumpah Pemuda 1928 pun disebabkan dari tempaan proses pendidikan Menurut Safari Daud (2006), konteks pendidikan inilah yang menopang kesadaran kaum muda bahwa pergantian kekuasaan harus terjadi, harus ada kesadaran untuk merebut kekuasaan dari tangan kolonial. "Traktat" Batavia 28 Oktober 1928 cukup dinilai berangkat dari kajian akademis kaum muda yang matang. Atas dasar itu, kita pun menyadari bahwa aspek pendidikan memegang peranan penting mencerahkan alam pikiran anak bangsa. Pendidikan mampu memberikan kesadaran bagi anak bangsa untuk memberikan kontribusi bagi kebangunan bangsanya.
Pendidikan yang mampu melahirkan insan-insan yang peduli terhadap bangsanya tentu saja adalah pendidikan yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Kesimpulan pendapat Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro dalam Kongres Pemuda II bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan. Pendidikan kebangsaan adalah pendidikan yang mendidik anak bangsa agar mencintai bangsanya, memiliki kehendak untuk berkarya dan membangun bangsanya. Pada dasarnya konsep ini sudah termaktub dalam UU Sisdiknas No. 20/2003 bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Pendidikan tak sekadar membangun tingkat intelektualitas, tapi juga mampu melahirkan anak bangsa sebagai warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk itu, pendidikan kebangsaan perlu diimplementasikan dalam proses penyelenggaraan pendidikan nasional. Pendidikan kebangsaan bukan berarti meniadakan nilai-nilai kearifan lokal. Kearifan lokal perlu diajarkan dan ditanamkan, tapi anak-anak bangsa juga perlu ditanamkan kesadaran sebagai satu bangsa yang hidup dan berpijak di tanah Indonesia. Kesadaran yang akhirnya menghasilkan tindakan positif untuk berkontribusi nyata bagi perbaikan bangsanya. Tanggung jawab melakukan itu tentu saja tidak melulu berada di pundak sekolah. Artinya, pihak keluarga juga bertanggung jawab mendidik anak-anaknya agar memiliki nilai-nilai kebangsaan.
Sinergisitas pihak keluarga dan sekolah diperlukan untuk mendidik anak-anak bangsa sehingga kelak akan lahir—meminjam Fahri Hamzah (2002)—pemuda dalam semangat, kesucian diri, kecerdasan, kecemerlangan, kejujuran, keberanian, pikiran dan jiwa besar, kepercayaan diri dan mental yang terbuat dari baja, kejujuran dan patriotisme terhadap bangsa Indonesia. Seperti tutur Ki Hajar Dewantara, “Mendidik anak itulah mendidik rakyat. Keadaan dalam hidup dan penghidupan kita pada zaman sekarang itulah buahnya pendidikan yang kita terima dari orangtua pada waktu kita masih kanak-kanak. Sebaliknya anak-anak yang pada waktu ini kita didik, kelak akan menjadi warga negara kita.”
Pungkasnya, Sumpah Pemuda memang selalu identik dengan semangat kebangsaan, tapi yang perlu digarisbawahi bahwa pondasi untuk menanamkan hal itu adalah melalui pendidikan. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute Universitas Negeri Yogyakarta







