Yogyakarta Luncurkan Minimagz Garnish


Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Harjo Forum, Harian Jogja, Sabtu, 24 Juli 2010

Ketika masa depan ditentukan oleh sebuah pengumuman yang mengharuskanku mengambil keputusan meninggalkan kampung halaman, tak ada lagi pilihan untuk mundur. Di sinilah semuanya berawal. Langkah pertama yang kuambil ketika kaki pertama kali menginjak tanah yang baru, itulah awal mula mimpiku. Kini aku harus siap memulai dunia baru, di daerah baru, dengan orang-orang baru, dan tentu dengan semangat baru yang menggebu. Semangat baru untuk menuntut ilmu.

Kalimat-kalimat di atas merupakan penggalan dari tulisan yang dianggit Mukhti Nuryani dalam Minimagz Garnish. Majalah kecil ini diterbitkan oleh Divisi Media Informasi Unit Kerohanian Islam (UKI) Jama’ah Shohwatul Islam (JAHSTIS) STMIK Amikom Yogyakarta. Mungkin kita akan bertanya maksud dari penggalan kalimat di atas. Untuk mencari jawab, awalnya kita hanya bisa menafsirkan semata. Tafsiran itu bisa benar dan bisa juga keliru sebelum membaca tulisan utuhnya.
Dengan menggunakan “aku”, Mukhti Nuryani seolah-olah menceritakan pengalaman pribadinya. Namun, “aku” yang dimaksud dalam tulisan itu adalah “aku yang banyak”. Minimagz Garnish terbitan kali pertama ini beredar dalam rangka penyambutan mahasiswa baru STMIK Amikom Yogyakarta 2010/2011. “Aku yang banyak” adalah mahasiswa yang jumlahnya ribuan. Dalam rubrik Cover Story, Mukhti Nuryani mencoba mewakili jiwa, perasaan, semangat, dan harapan mahasiswa baru lewat tulisannya yang diberi judul “Kutinggalkan Kampung Halaman dan Kumulai Petualangan”.

Selain tulisan di atas, Minimagz Garnish yang berjumlah 28 halaman ini juga menampilkan tulisan lainnya dalam beragam rubrik. Dalam rubrik Profil, kisah perjalanan Salman al-Farisi memeluk Islam coba diceritakan Argi Pratiwi.

Minimagz Garnish edisi Juli-Agustus 2010 ini menarik dibaca. Setiap rubrik berisi tulisan yang ringan, tapi penuh makna. Dalam rubrik Muslim Corner, Erlinda Rakhmawati menampilkan tulisan yang diberi judul “Merantau: Titik Awal Perubahan”. Tulisan ini mengajak pembaca, terutama mahasiswa yang berasal dari luar Yogyakarta, memahami makna dari merantau.

Selain tulisan-tulisan di atas, masih banyak tulisan-tulisan lainnya yang ditampilkan dalam Minimagz Garnish. Masyarakat kampus, terutama sivitas STMIK Amikom Yogyakarta, tentu menantikan terbitnya edisi selanjutnya.

Hendra Sugiantoro

Membaca Wajah Kita di Jalan Raya

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Aspirasi Harian Jogja, Jum'at, 16 Juli 2010

JALAN RAYA adalah tanda yang menegaskan keberadaan manusia. Di jalan raya, setiap manusia memperlengkap biografinya. Membaca budaya manusia yang membentuk budaya masyarakat, jalan raya menjadi cermin bening untuk mengaca. Tak perlu menelaah berlembar-lembar halaman “ensiklopedi manusia” untuk melihat kepribadiannya. Cukuplah melihat jalan raya karena jalan raya merupakan berlembar-lembar halaman yang (telah) menampakkan wajah manusia berbudaya sekaligus manusia krisis budaya.

Makna yang tecermin di jalan raya menyuguhkan keprihatinan ketika hiruk-pikuk manusia sekadar memenuhi kepentingannya. Setiap manusia memang menunaikan hajat selamat sampai tujuan, namun kepentingan hajat itu sering kali tak mengindahkan eksistensi manusia lainnya. Jalan raya yang merupakan milik umum dijadikan tempat pribadi untuk sebebasnya menunjukkan arogansi. Multitanda jalan raya adalah individualisme yang hanya menghendaki keselamatan diri. Ketidakpedulian terhadap keselamatan jama’ah pengguna jalan raya telah banyak menggoreskan kisah kecelakaan yang menimbulkan tragedi. Siapa pun boleh menyebut kecelakaan adalah takdir, namun mengapa tidak menjemput takdir: keselamatan jama’ah di jalan raya?

Multitanda di jalan raya telah merekam individualisme manusia. Beragam hal hadir di jalan raya untuk menyesaki biografi manusia terkait lenyapnya kesabaran. Klakson-klakson bersahutan di tengah nyala hijau seolah-olah menjadi peraturan. Agar tidak lagi terjebak lampu merah, pengendara di belakang menganggap pengendara di depannya buta warna! Tak menjadi soal jika bunyi klakson adalah alunan merdu yang menenangkan kegelisahan jiwa manusia. Namun, alunan musik klakson tanpa disadari justru tidak diterima detak jantung pengendara di depannya. Membaca jalan raya adalah membaca minimnya penghargaan dan penghormatan terhadap manusia lainnya. Meskipun telah meniti zebra cross, pengendara tak sudi mempersilakan penyeberang jalan. Dengan kecepatan yang tentu tak sebanding, kendaraan roda empat mendesak kendaraan roda dua untuk selekasnya berjalan.

Jalan raya memang menghadirkan ironi. Setiap manusia sebebasnya melanggar peraturan. Peraturan dilanggar selaras isi kepala. Tak peduli bersliweran tanpa helm jika kepala tak nyaman, padahal helm tak mengenal nama jalan. Bukankah di jalan mana pun tak ada anjuran: lepaskan helm dan biarkan rambutmu berkibar? Meskipun mampu menghindar dari operasi polisi, pun tak ada anjuran tak perlu membawa “ surat jalan”. Jalan raya memang tanda minimnya ketertiban. Tak peduli marka jalan asal kendaraan bisa melaju kencang. Jalan raya pun dijadikan sirkuit balap yang sejatinya tidaklah memesona. Di jalan raya, manusia seolah-olah enggan melengkapi biografinya dengan kedisiplinan.

Jalan raya juga tanda kemelaratan, bahkan mungkin ketidakberdayaan. Di setiap sudut jalan, anak-anak jalanan berjejal mengais iba. Di tengah jerit pengemis dan gelandangan, ada kesenjangan yang diperlihatkan secara terang di jalan raya ketika kendaraan-kendaraan mewah berlalu-lalang. Jalan raya adalah cermin belum mampunya penguasa memberikan keadilan dan menciptakan kesejahteraan!

Multitanda di jalan raya adalah nyata. Jalan raya telah menjadi saksi perjalanan manusia yang krisis budaya. Jalan raya sebagai ruang budaya yang kasatmata tidak menyembunyikan sikap dan perilaku manusia. Memang ada perilaku positif di jalan raya, namun pesan krisis budaya di jalan raya tentu menyeruakkan keprihatinan. Selain di atas, perilaku negatif di jalan raya adalah menjadikan jalan raya sebagai tempat sampah! Membaca hiruk-pikuk manusia di jalan raya terdapat catatan budaya nyampah. Manusia sebagai pengguna jalan raya menjadikan jalan raya untuk membuang sampah.

Cobalah lihat, dari kaca bus atau mobil, sisa makanan dan minuman dilempar keluar begitu saja. Dari pengguna kendaraan roda dua sampai roda empat telah meninggalkan sampah-sampah di jalan raya. Sisa makanan dan minuman sering kali keluar dari kaca bus. Pengendara yang suka menghisap rokok membuang sisa puntungnya di jalan raya. Botol air mineral dilempar begitu saja dari jendela mobil. Biar jalan raya kotor, kulit jeruk dibuang seenaknya asalkan mobil tetap bersih. Membuang sampah sembarangan adalah perilaku nyampah. Bungkus permen, kulit pisang, botol air mineral, kertas tak terpakai atau pun plastik bekas telah memberi tanda sulitnya manusia menjaga kebersihan.

Tak hanya pengendara, pejalan kaki pun sering kali menjadikan jalan raya sebagai tempat sampah. Perilaku nyampah di jalan raya tanpa disadari telah menjadi perilaku kita. Banyak dari kita membuang sampah seenaknya di jalan raya. Ketika berjalan di trotoar, bungkusan makanan dibuang begitu saja. Berjalan sambil merokok, puntung tidak dibuang di tempat sampah. Masyarakat pun sulit menjaga kebersihan jalan raya. Sampah-sampah dibiarkan berserakan di pinggir jalan raya, bahkan ada yang membuang bangkai tikus di tengah jalan raya.

Meskipun tampak sepele, perilaku membuang sampah di jalan raya menandakan karakter dan perilaku buruk. Membuang sampah di jalan raya tidaklah tepat. Sampah sekecil apa pun tetap saja sampah yang mengurangi kebersihan jalan raya. Jalan raya akan kotor meskipun hanya sampah-sampah kecil yang dibuang. Bungkus permen, kulit pisang, botol air mineral, kertas tak terpakai ataupun plastik bekas tak selayaknya dibuang begitu saja mengotori jalan raya. Jalan raya harus tetap dijaga kebersihannya.

Becermin pada jalan raya, siapa pun akan menemukan sisi buram kehidupan. Krisis budaya di jalan raya telah menggambarkan krisis budaya di ruang-ruang kehidupan lainnya. Tanpa mereportase sepak terjang anggota dewan, siapa pun bisa menyaksikan wajah parlemen di jalan raya. Apa yang terjadi di jalan raya adalah cermin yang terjadi di birokrasi kekuasaan. Tak berjalannya fungsi kekuasaan politik, lihatlah fenomena di jalan raya. Wajah jalan raya adalah wajah masyarakat, wajah kekuasaan, wajah masing-masing diri kita! Becermin pada jalan raya, saatnya kita memperbaiki diri. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute UNY

Menimbang Pendidikan Profetik

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Kamis 15 Juli 2010

Dalam buku Dibawah Bendera Revolusi, Bung Karno mengemukakan suatu tatanan masyarakat apik. Masyarakat apik yang dituturkan presiden pertama Republik Indonesia itu adalah masyarakat Madinah pascahijrahnya Muhammad SAW dari Mekah. Sejarah pun mengakui bahwa masyarakat Madinah di masa tokoh yang oleh Michael Hart disebut tokoh berpengaruh nomor satu di dunia (baca: Muhammad SAW) ini merupakan masyarakat yang berperadaban tinggi. Masyarakat Madinah yang sering disebut masyarakat Madani merupakan impian setiap cita perjuangan dalam hiruk-pikuk wacana di negeri ini.

Hadirnya masyarakat dengan peradaban tinggi di bumi Madinah pastinya tidak dicapai seketika. Ada proses pendidikan yang telah dilakukan Muhammad SAW pada saat itu untuk menempa generasi terbaik dalam lintasan sejarah. Bung Karno menuturkan, “Bahannya yang sebelum hijrah itu adalah terutama sekali pekerjaan membuat dan membentuk bahannya masyarakat Islam kelak, material buat masyarakat Islam kelak; yakni orang-orang yang percaya kepada Allah yang satu, yang teguh imannya, yang suci akhlaknya, yang luhur budinya, yang diwahyukan di Makkah itu adalah mengandung ajaran-ajaran pembentukan rohani ini: tauhid…”. Dari penuturan Bung Karno, pembentukan masyarakat Madinah pada dasarnya telah diawali ketika di Mekah. Individu manusia yang merupakan pilar pembentukan masyarakat adalah individu manusia yang percaya kepada Allah yang satu, memiliki keteguhan iman, memiliki kesucian akhlak, dan memiliki keluhuran budi.

Bung Karno melanjutkan, “…tauhid, percaya kepada Allah Yang Esa dan Maha Kuasa, rukun-rukunnya iman, keikhlasan, keluhuran moral, keibadatan, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada si miskin, berani kepada kebenaran, takut pada azabnya neraka, lezatnya ganjaran surga, dan lain-lain sebagainya yang perlu buat menjadi kehidupan manusia umumnya, dan fundamen ruhaninya perjuangan serta masyarakat Madinah kelak…” Pada titik ini, apa yang dituturkan Bung Karno menandakan satu hal penting bahwa pembentukan suatu tatanan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari pendidikan berbasis rohani. Dapat pula dikatakan bahwa pendidikan yang berlandaskan keimanan merupakan keniscayaan dalam membangun masyarakat Indonesia .
Secara implisit, apa yang dituturkan Bung Karno di atas menegaskan suatu paradigma pendidikan yang tidak meninggalkan dimensi transendensi. Bung Karno juga seolah-olah mengajak kita menghayati proses pembangunan masyarakat dalam spirit profetik (kenabian). Pendidikan profetik menjadi kunci membangun cita-cita peradaban dan tatanan masyarakat. Mengacu konsep ilmu sosial profetik Kuntowijoyo, transendensi merupakan salah satu dimensi yang berkesatuan dengan dimensi humanisasi dan liberasi. Dengan kata lain, humanisasi, liberasi, dan transendensi merupakan tiga dimensi dalam pendidikan profetik yang mengarahkan perubahan atas masyarakat. Yang perlu dicatat, dari tiga dimensi itu, transendensi merupakan landasan dan arah dari humanisasi dan liberasi. Artinya, transendensi yang menunjuk pada persoalan ketuhanan menghendaki humanisasi dan liberasi yang tidak meninggalkan keimanan. Dimensi humanisasi dan liberasi dalam pendidikan profetik bukan diarahkan agar manusia sebagai pusat segalanya. Setiap proses pendidikan untuk mengangkat martabat manusia (humanisasi) dan membebaskan manusia dari ketertindasan (liberasi) mengajak manusia memiliki ketertundukan pada Tuhan.

Dalam hal ini, pendidikan profetik tidak sekadar mendeskripsikan dan mentransformasikan gejala sosial semata. Pendidikan berparadigma profetik tidak hanya mengubah sesuatu hanya demi perubahan. Lebih dari itu, pendidikan berparadigma profetik mengarahkan perubahan atas dasar cita-cita etik dan profetik (Pujiriyanto:2006). Pendidikan profetik akan melahirkan individu manusia yang mampu meneruskan tugas suci sebagai makhluk Tuhan. Profetik yang bermakna kenabian bukan berarti individu manusia yang ditempa dalam pendidikan profetik akan menjadi Nabi, namun individu manusia ditempa pola pikir, sikap, dan perilakunya untuk siap mengambil peran sejarah meneruskan jejak-jejak para Nabi dalam membangun kehidupan. Membaca sejarah, setiap Nabi yang diutus Tuhan memiliki peran membawa masyarakatnya pada tatanan kehidupan yang ideal. Individu manusia melalui pendidikan profetik akan siap menjadi pemimpin bagi masyarakat, hidup bersama masyarakat, dan berjuang untuk memerdekakan masyarakat dari keterpenjaraan, keterpurukan, kejahilan, dan ketertindasan. Melalui pendidikan profetik, individu manusia menyadari dan melaksanakan tugasnya untuk beribadah kepada-Nya dan memakmurkan kehidupan di muka bumi-Nya.

Dalam proses membangun individu manusia, pendidikan profetik mencakup pendidikan akal, pendidikan akhlak, pendidikan moral, pendidikan jiwa, pendidikan sosial, dan pendidikan fisik. Begitu juga pendidikan profetik mencakup pendidikan karakter. Pun, pendidikan profetik mencakup pendidikan multikultur. Dengan pendidikan profetik, individu manusia mampu memahami perbedaan dengan spirit toleransi. Pendidikan profetik akan mampu seperti pernah diutarakan Driyarkara (1980) untuk mengangkat manusia muda ke taraf insani sehingga ia dapat menjalankan hidupnya sebagai manusia utuh dan membudayakan diri. Pendidikan profetik akan mampu seperti Ki Hajar Dewantara memberi wejangan mengenai pendidikan, yakni menuntun segenap kodrat manusia agar sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tinggi.

Individu manusia yang ditempa melalui pendidikan profetik diarahkan menjadi individu-individu manusia yang berkeyakinan lurus, beribadah secara benar, berbudi mulia, memiliki daya jasmani, luas wawasan berpikirnya, mampu memanajemen urusan kehidupannya, mampu menundukkan keburukan nafsunya, mampu menafkahi dirinya dan memiliki kreativitas dalam pekerjaan, mampu memelihara waktunya untuk hal berguna, dan berkontribusi positif bagi kebangunan masyarakat. Wallahu a’lam
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute UNY&Fungsionaris Forum Indonesia

Di Angkutan Umum, Enaknya Ngapain?

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan Harian Jogja, Senin 12 Juli 2010

Apa yang kita lakukan ketika berada di angkutan umum? Banyak hal. Mungkin kita memandangi dunia luar di balik kaca, mungkin pikiran kita melayang, atau mungkin kita berpikir. Asalkan positif tak jadi masalah. Tak ada rumus baku apa yang harus kita lakukan selama dalam perjalanan di angkutan umum. Lain kita, lain pula orang lain. Pun, ada kisah menarik dituturkan seorang laki-laki dari Bekasi dalam rubrik Kiat, Majalah Tarbawi edisi 197, 19 Februari 2009.

Laki-laki itu menempuh perjalanan sejauh sekitar 40 kilometer dari rumah ke kantor. Apa yang dilakukan laki-laki—bernama Ridha—itu ketika naik angkutan umum yang bisa berganti sebanyak empat kali untuk sampai ke kantor? Ia memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Jika bukan itu, ia melihat hiruk-pikuk jalanan melalui kaca jendela angkutan umum. Kadang yang ia lakukan adalah melanjutkan tidur dan melepas kelelahan usai bekerja. Ia juga sering kali mengalami kebosanan, bahkan sedikit stress melihat jalanan macet.
Lain kita, lain Ridha. Ia justru merasakan harus ada kebiasaan yang diubah dalam perjalanan. Menurutnya, ada waktu yang berlalu tanpa makna jika hanya melakukan seperti disebutkan di atas. Ia pun bertekad untuk mengubah kebiasaan dalam perjalanan dengan MEMBACA. Target pun dibuat bahwa ia harus dapat menyelesaikan membaca satu buku atau jurnal dalam beberapa hari ketika berada di angkutan umum. Entah, berapa hari tepatnya untuk selesai satu buku atau jurnal, namun ia serius membuat kebiasaan baru. Meskipun pada awalnya tak bisa fokus membaca karena suara-suara yang terdengar, ia akhirnya bisa tetap fokus membaca di tengah keramaian. Dengan tekad dan komitmen yang ia miliki, membaca di angkutan umum menjadi kebiasaan.

Berikut penuturannya, “Sekarang, saya selalu mempersiapkan bahan bacaan selama dalam perjalanan kemana pun saya bepergian. Setiap detik waktu sangatlah berharga, dan waktu itu tak akan pernah kembali.”

Lain Ridha, lain kita. Ada hal positif lainnya yang bisa kita lakukan selama dalam perjalanan di angkutan umum. Apa yang kita lakukan? Jika belum melakukan hal positif, maka aku, kamu, dan kita hanya harus memulai. Wallahu a’lam.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281

Pelajar dan Kebiasaan Membaca

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan Harian Jogja, Selasa 6 Juli 2010

BETAPA menggembirakan ketika menyaksikan siswa-siswa pelajar berkunjung ke perpustakaan. Tidak sekadar di perpustakaan sekolah, tapi juga mengunjungi perpustakaan kota/kabupaten dan perpustakaan daerah. Mereka mendaftar dan kemudian menjadi anggota perpustakaan. Di luar jam pelajaran sekolah, mereka begitu asyik mencari buku dan mencoba membacanya.

Fenomena tersebut patut kita syukuri. Kesadaran membaca dengan mengunjungi perpustakaan boleh jadi membutuhkan penanaman sikap dan perilaku. Tak banyak pelajar yang membiasakan diri berkunjung ke perpustakaan. Kadangkala pelajar itu datang ke perpustakaan dengan gurunya.

Yang jelas, kebiasaan membaca adalah perilaku positif yang semestinya bisa terinternalisasi pada diri pelajar. Perlu ditanamkan pada pelajar akan pentingnya membaca untuk menambah pengetahuan dan wawasan. Buku atau bahan bacaan tidak sekadar menguatkan sisi intelektual, tapi juga dapat mengasah sisi afektif dan nurani pelajar. Amat berbeda perilaku pelajar yang suka membaca dengan pelajar yang tidak suka membaca. Kedewasaan berpikir dan bertindak salah satunya terbentuk dari kebiasaan membaca. Tentunya, membaca bahan bacaan yang bergizi.
Menjadi tugas guru agar bisa menyemangati pelajar untuk senang membaca. Membaca adalah hal positif. Tidak hanya membaca buku-buku teks pelajaran, tapi juga membaca buku-buku lainnya. Pelajar bisa mengatur waktunya selama 24 jam sehari. Dari 24 jam itu, pelajar bisa menjadwal kegiatan membaca, misalnya sehari membaca 1-3 jam. Pelajar tentu masih bisa bersosialisasi dengan masyarakat. Ada waktu yang digunakan untuk mengkaji dan membaca buku-buku pelajaran sekolah, ada waktu yang dialokasikan untuk membaca buku dan bahan bacaan di luar mata pelajaran sekolah.

Kebiasaan membaca yang telah tertanam tentu akan berdampak baik. Membaca bahan bacaan dan buku tentu lebih bermanfaat bagi pelajar ketimbang waktunya dihabiskan di depan televisi yang cenderung kurang edukatif. Ada wawasan didapatkan, ada pengetahuan diperoleh, bahkan ada kebijaksanaan yang tertanam melalui buku-buku yang dibaca. Ada tugas penting agar perpustakaan menjadi tempat tamasya mengasyikkan bagi pelajar. Di rumah, orang tua juga memberi teladan membaca. Wallahu a’lam.

Hendra Sugiantoro
UNY Karangmalang Yogyakarta 55281

Keumalahayati, Sang Laksamana Laut

Surat Pembaca Lampung Post, Senin 28 Juni 2010
Dari sekian banyak sosok perempuan, mungkin ada yang lupa terhadap sosok perempuan yang satu ini: Keumalahayati. Perempuan kelahiran Aceh ini adalah seorang laksamana. Medan juang di laut telah menunjukkan kepiawaiannya. Konon, ia adalah pemimpin armada laut perempuan pertama di dunia. Suatu ketika ia memiliki armada perempuan yang dinamakan inong balee (ada yang menulis inong bale). Ia sempat memimpin dan melatih para perempuan janda yang suaminya gugur dalam medan perang untuk turut terjun di kancah perjuangan.

Dalam rubrik Tarikh Nanggroe, Tabloid Berita Mingguan Modus Aceh, Edisi 48 Tahun VI, Rabu, 25 Maret 2009, dikemukakan, “Keumalahayati diberi gelar laksamana (admiral) karena jasanya dalam mengawal kepentingan Aceh di lautan di masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah Al Mukammil (1589-1604) atau yang sering disebut Sultan Al Mukammil. Sebelum diangkat menjadi laksamana, Keumalahayati meniti karir sebagai komandan pasukan wanita dengan tugas sebagai pengawal istana sekaligus intelijen kerajaan dan tugas ini dijalankan dengan sukses. Karena keberhasilannya ini Sultan mempercayainya untuk mengemban tugas memimpin pasukan angkatan laut dengan pangkat laksamana. Tugas sebagai panglima angkatan laut bagi Keumalahayati bukan hal yang asing karena ayahnya sendiri, yang bernama Mahmud Syah, adalah seorang laksamana. Demikian juga kakeknya, Muhammad Said Syah, putera Sultan Salahuddin Syah yang memerintah pada tahun 1530-1539 M, adalah seorang laksamana laut yang gagah perkasa.”

Dari paparan di atas, fakta sejarah menjelaskan bahwa Keumalahayati mendapatkan gelar laksamana setelah melewati jenjang karir yang panjang. Dengan berbagai posisi yang diduduki, Keumalahayati dipastikan mengetahui seluk beluk dan perkembangan kerajaan. Entah seperti apa kemampuan perempuan ini, tugas sebagai intelijen kerajaan pun pernah dilakoninya.

Teuku H. Ainal Mardhiyah Aly dalam tulisan “Pergerakan Wanita di Aceh Masa Lampau Sampai Kini” pernah menuliskan, “Laksamana Malahayati seorang wanita yang telah berhasil menggagalkan percobaan pengacauan oleh Angkatan Laut Belanda di bawah pimpinan Croulis dan Frederich Houtman 1006 H (1599 M). Sering sekali Armada Inong Bale ikut bertempur di Selat Malaka dan pantai-pantai Sumatera Timur dan Melayu”(Ismail Suny ed., Bunga Rampai Tentang Aceh (Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara, 1980), hlm. 286). Dari kalimat tersebut, tertulis “...Angkatan Laut Belanda di bawah pimpinan Croulis..” Entah salah ketik atau pengucapan yang lain, Croulis yang dimaksud adalah Cornelis. Croulis dan Frederich Houtman adalah dua bersaudara (Cornelis De Houtman dan Frederich De Houtman).

Teuku H. Ainal Mardhiyah Aly melanjutkan, “Seorang pengarang wanita Belanda Marie Van Zuchtelen dalam bukunya “Vrouwelijke Admiral Malahayati” sangat memuji-muji Laksamana Malahayati dengan Armada Inong Bale yang terdiri dari 2.000 prajurit wanita yang gagah-gagah, yang tangkas dan berani. Ia sangat cerdik dan bijaksana dalam memimpin armadanya.”

Dari apa yang dipaparkan di atas hanyalah sepenggal dari kisah dan sepak terjang Keumalahayati. Tulisan ini tak seberapa dan semoga bisa melawan lupa. Di negeri ini pernah ada seorang perempuan yang menjadi pimpinan di laut: Laksamana Keumalahayati. Wallahu a’lam.

Hendra Sugiantoro
Koordinator Forum Indonesia
Karangmalang Yogyakarta 55281


http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010062806433665

Menggapai Sukses Belajar

BEDAH BUKU Kedaulatan Rakyat, Minggu 27 Juni 2007
Judul Buku: FUNTASTIC LEARNING Penulis: Ryan Martian Penerbit: Pro-U Media, Yogyakarta Tebal: 206 halaman Cetakan: I, 2010

Buku yang ditulis Ryan Martian ini menarik untuk disimak. Dengan pengalamannya mengisi pelatihan pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan, penulis buku ingin berbagi. Tak sekadar lewat training-training, Ryan Martian hendak berbagi melalui tulisan sehingga setiap siswa dimana pun bisa mempelajari. Kesuksesan yang diinginkan dalam buku ini tidak hanya terkait sukses Unas, namun lebih dari itu. Tujuan penulisan buku ini adalah agar siswa menggapai sukses studi ketika duduk di bangku sekolah sekaligus sukses di masa depan.
Mengawali buku ini, penulis menggugah kesadaran akan adanya potensi dahsyat yang dimiliki setiap orang. Siapa pun memiliki potensi sebagaimana Albert Einstein ataupun sosok-sosok jenius lainnya. Potensi yang telah dianugerahkan Tuhan itu adalah otak. Jika mengembangkannya secara konsisten, potensi otak bisa berkali-kali lipat kekuatannya.

Untuk mencapai kesuksesan studi, ada rumus yang ditanamkan penulis buku. Siswa atau siapa pun yang ingin sukses dalam studinya hendaknya selalu berkata Yes I Can dan juga harus memiliki prinsip Yes I Will. Setelah itu, Yes I Do adalah langkah tepat agar kesuksesan tidak hanya di angan-angan, tapi juga bertindak untuk meraih kesuksesan.

Dalam buku ini, tiga rumus itu dikembangkan dan dijabarkan secara menarik. Buku ini juga dilengkapi dengan latihan-latihan dan kegiatan apa yang perlu dilakukan. Penulis buku mengajak pembaca memahami makna sukses, paradigma sukses, dan hukum sukses untuk menjadi diri sendiri yang selalu lebih baik (Be Your Better Self). Selain itu, ada hal menarik lainnya dalam buku ini. Belajar di sekolah yang dirasa membosankan selayaknya tidak lagi dihadapi siswa. Belajar secara menyenangkan bisa diciptakan sehingga setiap siswa bisa melejit potensi dan kecerdasannya. Dengan bahasa yang komunikatif, siswa seolah-olah diajak berbicara oleh penulis buku. Para guru di sekolah pun bisa mencermati isi buku ini untuk menyemangati dan menggairahkan belajar siswa-siswanya. Selamat membaca.
--hendra sugiantoro--
Pegiat Transform Institute UNY

Lawan Zionis Israel

Surat Pembaca Lampung Post, Selasa 22 Juni 2010
TRAGEDI penyerangan kapal Mavi Marmara pada akhir Mei lalu (31 Mei 2010) bisa mencuat akibat pemberitaan media massa. Jika tak diberitakan, penyerangan itu sulit menjadi gelombang perlawanan besar. Tanpa kita ketahui, Israel sebenarnya tak surut membuat onar. Berita-berita dari Palestina tak seluruhnya diekspos media massa, padahal begitu banyak kejahatan yang dilakukan Israel terhadap penduduk Palestina, terutama di wilayah Jalur Gaza.

Menyaksikan fakta di Palestina, kita pastinya memahami ada penjajahan. Permasalahan Palestina telah jelas: tanah Palestina dijajah oleh Israel. Palestina adalah tanah yang ditaklukkan Zionis Israel. Namun, mengapa kita hanya bisa berbuat dengan jalan mengutuk dan menghujat semata?

Sedari dulu dunia hanya bisa menghujat tanpa melakukan aksi konkret membebaskan Palestina dari kekejaman Israel. Demonstrasi bolehlah bergema ketika Israel membuat ulah, namun sayangnya tersapu angin secara perlahan-lahan. Ketika berita kekejaman Israel lenyap dari suguhan media massa, lenyaplah demonstrasi. Padahal, pengadilan terhadap Israel selayaknya terus dikawal dan disuarawacanakan. Demonstrasi bisa mengangkat isu menyeret pembesar Israel ke Mahkamah Internasional atas kejahatan perang dan kemanusiaan yang dilakukan. Bukankah agresi Israel ke Jalur Gaza pada akhir 2008 sampai awal 2009 silam adalah bukti absah kejahatan Israel? Israel pun sepantasnya mendapatkan hukuman internasional atas agresi ke Lebanon pada 2006 silam.

Sayang, demonstrasi tak pernah bernapas panjang. Di tengah mandulnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), demonstrasi perlu terus dilakukan sebagai kekuatan massa. Pengadilan Israel perlu terus-menerus dikawal sampai pembesar Israel benar-benar telah mendapatkan hukuman selayaknya.

Perlawanan terhadap Israel mutlak terus dilakukan. Jangan pernah lelah. Tugas kemanusiaan kita untuk membebaskan Palestina dari penjajahan Israel. Jika PBB masih lemah, kita sebagai masyarakat jangan pernah lelah mendorong lembaga dunia itu berfungsi sebagaimana mestinya. Israel harus dilawan. Israel harus diadili. Israel harus pergi dari tanah Palestina seperti dahulu Belanda dan Jepang pergi dari Indonesia.

Menarik apa yang dituturkan Masmuroh, Mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Raden Intan Lampung, berikut ini: "Persoalan Palestina sejatinya ada dua macam, yakni korban dan pembantai. Korbannya masyarakat Palestina, sedangkan pembantainya adalah zionis Yahudi. Untuk korban solusinya tentu makanan, obat-obatan dan sebagainya. Bagi pembantai, solusinya adalah jihad fi sabilillah, mengusir mereka dari tanah Palestina." (Surat Pembaca Lampung Post, Jumat, 18 Juni 2010).

Masmuroh melanjutkan, "Sebenarnya Israel itu tidaklah menakutkan. Terbukti mereka sempat keteteran ketika menghadapi cuma dengan sekelompok dari umat Islam, yakni Hizbullah. Begitu juga pada invasi terakhir, tentara zionis berhasil dipaksa mundur oleh pejuang-pejuang Palestina karena kerepotan menghadapi sengitnya perlawanan para mujahidin. Namun persoalannya, zionis biadab tersebut masih bercokol di Palestina. Israel masih bertengger."

Ya, Israel masih bertengger. Israel masih bertengger di tanah yang bukan miliknya. Palestina berada dalam penjajahan. Maka, sudah selayaknya bagi masyarakat dunia untuk melawan Israel. Mengusir Israel dari tanah Palestina, sekarang juga! Wallahu ‘alam.

Hendra Sugianto
Karangmalang, Yogyakarta 55281
http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010062204415256

Saatnya Menghukum Israel

Jagongan Harian Jogja, Kamis 10 Juni 2010
Penyerangan atas kapal Mavi Marmara akhir Mei 2010 lalu hanya sekelumit kepongahan Israel. Ada banyak korban, ada yang terluka. Di atas kapal itu ada kegetiran. Namun, di tempat yang hendak dituju kapal itu, kegetiran telah berlangsung lama. Jalur Gaza, tanah persada para pahlawan tak surut menyenandungkan darah, air mata, sekaligus gelora juang dalam doa memanjang.

Dengan fakta itu, kita layak berkata terus terang bahwa Israel telah melakukan kejahatan kemanusiaan. Menyerang kapal dengan misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza adalah bukti nyata aksi barbar Israel. Lebih tak manusiawi lagi, Jalur Gaza telah menjadi “penjara besar” akibat blokade Israel sekitar 3 tahun. Tindakan Israel di wilayah Jalur Gaza layaklah disebut terorisme. Dalam skala luas, kita memang memandang tragedi ini sebagai kisah tragis yang telah berlarut-larut tanpa penyelesaian. Israel sedari lama memang berkehendak mencaplok tanah Palestina meskipun dengan dalih tak masuk akal. Dunia pun telah melihat Israellah yang kerapkali menciptakan keonaran.
Berpikir jernih, para petinggi Israel telah absah diadili di Mahkamah Internasional. Banyak bukti-bukti kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukan Israel. Tidak hanya penyerangan atas kapal Mavi Marmara, tapi tragedi yang menimpa Lebanon pada 2006 silam juga menjadi bukti absah. Begitu juga penyerangan Israel atas Jalur Gaza pada 27 Desember 2008-18 Januari 2009. Banyak warga sipil dan anak-anak harus menjadi korban dari kebrutalan Israel.

Kini, tak ada kata lain, PBB sebagai lembaga perdamaian dunia mutlak bertindak tegas. Aksi Israel terlampau parah, maka layaklah mendapatkan hukuman sebagai penjahat perang dan penjahat kemanusiaan. Di sisi lain, seluruh masyarakat harus bersatu padu mengawal tanpa henti agar kejahatan Israel diproses secara hukum. Tanpa tindakan tegas terhadap Israel, kejadian destruktif Israel akan terus berlajut di kemudian hari. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Karangmalang Yogyakarta 55281

Palestina Merdeka, Kewajiban Kita

Surat Pembaca Lampung Pos, Selasa, 8 Juni 2010
Hassan Wirajuda (2009) mengatakan masalah inti di Palestina adalah penjajahan Israel atas Palestina. Oleh karena itu solusinya adalah pembentukan negara Palestina merdeka. Apa yang disampaikan Hassan Wirajuda itu tentu menjadi tekad dan cita-cita masyarakat bijak yang memahami makna sebuah kehidupan aman, damai, dan dipenuhi kebaikan. Masyarakat yang bijak tidak menghalalkan penindasan dan penjajahan. Masyarakat yang bijak justru berupaya menciptakan tatanan kehidupan dimana masing-masing bangsa saling menghormati dan bergerak bersama menuju tatanan dunia dalam naungan berkah Ilahi.

Namun sayangnya, cita-cita masyarakat bijak itu sepertinya menjauh dari pandangan para pembesar negara Israel atas perilaku tidak bijaknya. Para pembesar negara Israel seolah-olah tidak kapok melakukan pembunuhan ataupun pembantaian sadis terhadap nyawa manusia. Peristiwa penyerangan terhadap kapal Mavi Marmara yang ditumpangi aktivis kemanusiaan dari 50 negara pada akhir Mei lalu hanya sekelumit tindakan tak beradab Israel. Tentu masih hangat dalam benak kita terkait kisah pilu penduduk Gaza, Palestina, akibat bombardir serdadu Israel pada 2009 silam. Kita pun tak bisa melupakan aksi brutal pasukan perang Israel pada tahun-tahun silam, sehingga tanah Palestina terus-menerus bersimbah darah .

Melihat dengan mata jernih, pembesar-pembesar Israel sudah selayaknya diadili dan mendapatkan hukuman. Para pembesar Israel telah absah diseret ke Pengadilan Kriminal Internasional atas pelanggaran dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan. Untuk itu, masyarakat dunia harapannya bisa konsisten mengawal kemerdekaan dan kedaulatan Palestina. Konsistensi juga diperlukan untuk mengawal Perserikatan Bangsa-Bangsa agar bergegas mengadili para petinggi Israel.

Kita jelas berharap agar warga Palestina umumnya dan warga Gaza khususnya dapat menikmati indahnya menatap masa depan tanpa cekaman rasa takut akibat konflik dan perang senjata. Konstutisi negara ini pun telah menegaskan bahwa penjajahan di atas muka bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Masih ingatkah Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1955 di Bandung yang menghendaki kemerdekaan bagi seluruh negara di Asia dan Afrika? Palestina adalah sebuah negara di Asia-Afrika yang belum 100% merdeka, maka kita pun memiliki kewajiban memerdekakan Palestina! Wallahu a’lam.

Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281

Merevitalisasi Pers Mahasiswa

Nguda Rasa, Koran Merapi, 7 Juni 2010
Dinamika kehidupan kampus tidak dapat terlepas dari keberadaan pers mahasiswa. Sebagai sebuah lembaga penerbitan pers, pers mahasiswa memiliki arti penting sebagaimana dilakukan pers umum. Fungsi pers mahasiswa pada dasarnya mencakup fungsi yang dijalankan pers nasional, yakni sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial (UU No. 40/1999 tentang Pers). Yang menjadi pertanyaan, bagaimana kondisi pers mahasiswa dalam kurun waktu belakangan ini?

Entah disadari atau tidak, pers mahasiswa seperti kehilangan elan vitalnya. Ada beragam alasan pers mahasiswa di beberapa kampus kurang menggigit, bahkan cenderung bergerak apa adanya. Pers mahasiswa kurang memberikan daya pengaruh dan kontrol sosial terhadap kehidupan kampus. Alasan yang sering kali mengemuka adalah tuntutan akademik yang bisa dikatakan ”membelenggu” pers mahasiswa berekspresi. Keharusan masuk kuliah dengan prosentase 75%, misalnya, menjadi hambatan tersendiri. Alasan yang sering kali diungkapkan itu ditambah dengan mahalnya biaya kuliah yang menyeret pegiat pers mahasiswa pada sikap pragmatis. Alasan tersebut sebenarnya tidak hanya milik pers mahasiswa semata, tapi juga aktivitas organisasi kemahasiswaan lainnya. Adanya peraturan masuk kuliah dan tuntutan ”cepat kuliah hemat biaya” semestinya bukan menjadi alasan pers mahasiswa meredup. Manajemen sivitas pers mahasiswa menjadi keniscayaan sehingga setiap potensi bisa dioptimalkan. Apalagi tuntutan 75% masuk kuliah bukan berarti tidak ada waktu untuk menggarap pers mahasiswa. Dalam hal ini, orientasi menjadi titik tekan yang sedikit banyak menentukan arah gerak pers mahasiswa.

Berbicara lebih jauh, ada tantangan yang sebenarnya membuat kehidupan pers mahasiswa kurang gereget. Keterlibatan mahasiswa untuk berkecimpung dalam dunia pers mahasiswa, misalnya, bisa dikatakan merupakan pilihan. Di lingkup kampus, medan aktivitas mahasiswa tidak hanya di dunia pers, tapi ada medan lain yang juga menjadi pilihan mahasiswa. Sebut saja misalnya mahasiswa lebih tertarik terjun dalam bidang penelitian ketimbang aktif dalam bidang pers. Terlibat aktif dalam kegiatan mahasiswa di bidang terkait penelitian sering kali dilihat mahasiswa lebih bergengsi daripada bergumul dalam dunia pers. Pada titik ini, daya tawar kegiatan pers mahasiswa seakan-akan masih kalah kuat dengan kegiatan penelitian. Kegiatan penelitian yang mengarahkan mahasiswa turut serta dalam berbagai macam lomba karya tulis diakui lebih memikat. Pihak universitas atau fakultas yang rajin menstimulasi mahasiswa untuk memenangkan lomba karya tulis kian menguatkan daya tawar kegiatan penelitian di mata mahasiswa. Memang kegiatan penelitian tetap penting bagi mahasiswa, namun rendahnya daya tawar kegiatan pers menyebabkan mahasiswa enggan aktif menghidupkan pers mahasiswa. Mahasiswa lebih enjoy ikut ajang lomba karya tulis dimanapun ketimbang mondar-mandir meliput berita. Meskipun keduanya berkaitan dengan dunia tulis-menulis, kegiatan penelitian dan pers tetap berbeda pada sisi tertentu.

Diakui atau tidak, pihak universitas ataupun fakultas memang lebih mengarahkan mahasiswa aktif dalam bidang penelitian. Ada berbagai sebab dari yang idealis sampai yang pragmatis. Yang idealis seperti kegiatan penelitian akan menopang kelancaran studi karena nantinya mahasiswa harus menempuh tugas akhir yang tentu saja berhubungan dengan penelitian. Adapun yang pragmatis karena memenangkan ajang lomba karya tulis akan meningkatkan citra universitas ke eksternal kampus atau prestise fakultas satu dengan fakultas yang lain. Adanya mahasiswa yang fasih membuat berita investigatif masih kalah jauh dengan mahasiswa yang menjadi juara lomba karya tulis ilmiah. Sisi lain yang bukan rahasia lagi, ada sebagian universitas ataupun fakultas takut terhadap taring pers mahasiswa. Pers mahasiswa sering kali mengungkap ”fakta-fakta tersembunyi” sehingga ada kekhawatiran tersendiri bagi pihak birokrasi kampus. Adanya tantangan rendahnya daya tawar kegiatan pers di mata mahasiswa memang sulit dibantah. Tidak hanya berhadap-hadapan dengan daya tarik kegiatan penelitian, kegiatan pers juga berhadapan dengan sebuah pilihan mahasiswa yang lebih tertarik berkecimpung dalam kegiatan politik kampus.

Meskipun dijumpai tantangan yang menurut penulis menjadi keniscayaan, idealisme harus tetap terjaga di benak para pegiat pers mahasiswa. Untuk tetap menjaga kesinambungan pers mahasiswa, kaderisasi merupakan hal yang tak bisa diabaikan. Kaderisasi ini tidak sebatas rekrutmen, tapi juga pewarisan nilai dan pembinaan. Perlu dibangun kebanggaan tersendiri di lingkup internal pers mahasiswa terkait pekerjaan di bidang pers dan jurnalistik. Motivasi dan semangat pegiat pers mahasiswa senantiasa perlu dijaga sehingga konsisten terlibat aktif dalam dunia pers dan jurnalistik. Kesadaran terhadap pentingnya posisi pers mahasiswa dalam kehidupan kampus harus terpelihara. Kegiatan pers mahasiswa tidak sekadar belajar ketrampilan jurnalistik, tapi juga membawa misi mencerdaskan masyarakat kampus. Dengan bergerak di bidang garapannya, pers mahasiswa perlu berkontribusi membentuk pemikiran, sikap, dan perilaku masyarakat kampus. Selaras dengan fungsinya, pers mahasiswa bisa melakukan kontrol sosial terhadap kehidupan kampus.
Pungkasnya, pers mahasiswa memang tidak boleh mati. Pers mahasiswa dibutuhkan kontribusinya dalam upaya mencerdaskan masyarakat kampus dengan penerbitan persnya. Dengan sikap kritis, analitis, dan progresifnya, siapa pun yang bergerak di pers mahasiswa adalah pekerja peradaban. Pers mahasiswa membawa unsur pencerahan dengan semangat menegakkan kejujuran, kebenaran, keadilan, dan mencegah kemungkaran dalam kehidupan masyarakat kampus. Wallahu a’lam.
ENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute pada Universitas Negeri Yogyakarta

Mahasiswa, Angkatlah Pena!

Kampus Suara Merdeka, Sabtu, 5 Juni 2010
M embaca biografi tokoh-tokoh bangsa di negeri ini, kita akan membaca sebuah rekam jejak pers. Dalam sejarah kehidupannya, para tokoh bangsa memiliki kesadaran akan pentingnya senjata pena untuk menyampaikan pemikiran. Pers telah menjadi strategi mendidik bangsa. Lewat pers, opini dibangun dan akhirnya menjadi arus perubahan. Lewat torehan pena, para tokoh bangsa juga merekam pemikiran dan mendokumentasikan peristiwa. Para tokoh bangsa telah mengangkat senjata pena selagi muda dan sekiranya layaklah dijadikan renungan bagi mahasiswa.

Di antara tokoh bangsa yang bisa disebut adalah Bung Karno. Presiden Indonesia pertama itu dikenal aktif menggoreskan pena. Bung Karno selagi muda pernah menulis di surat kabar Oetoesan Hindia di Surabaya yang dipimpin H.O.S Tjokoroaminoto. Ia mengaku tak kurang dari 500 artikel dituangkan dalam Oetoesan Hindia. Ketika menjadi mahasiswa Technische Hoge School (THS) di Bandung, Bung Karno terlibat dalam surat kabar Sama Tengah. Keluar dari Sama Tengah, Bung Karno berkecimpung dalam surat kabar Fadjar Asia. Tak tanggung-tanggung Bung Karno juga pernah menerbitkan majalah yang langsung di bawah pimpinannya. Majalah-majalah itu adalah Suluh Indonesia Muda, Persatuan Indonesia, dan Fikiran Rakyat.

Bung Hatta juga tak jauh berbeda. Ketika bersekolah di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School, Batavia, Wakil Presiden Indonesia pertama itu ikut mengelola majalah Jong Sumatera. Sekitar usia 18 tahun muncullah tulisan pertama Bung Hatta di majalah tersebut yang diberi judul Namaku Hindania! Ia juga mengelola majalah Hindia Poetra milik Perhimpunan Indonesia ketika kuliah di negeri Belanda. Dari negeri Belanda, Bung Hatta juga turut memantau dan membantu majalah Daulat Rakyat yang ada di Indonesia (dulu Hindia Belanda). Produktivitas menulis Bung Hatta memang tak diragukan lagi. Dalam buku Bung Hatta, Sebuah Bibliografi (1988) saja dapat terbaca sekitar 86 karya tulis, amanat, dan pidato Bung Hatta dengan beragam topik. Bung Hatta juga menulis pelbagai buku.

Tokoh bangsa lainnya yang tentu tak bisa dilupakan adalan H.O.S Tjokroaminoto. Lahir pada 16 Agustus 1882, H.O.S Tjokroaminoto merupakan sosok yang ditakdirkan sejarah menjadi “guru tokoh pergerakan”. Bung Karno pernah ngangsu kawruh pada H.O.S Tjokroaminoto. Rumah H.O.S Tjokroaminoto di Surabaya tercatat dalam sejarah menjadi tempat belajar politik yang sekaligus menjadi rumah pergerakan. Maka, Bung Karno juga pernah membantu penerbitan surat kabar pimpinan H.O.S Tjokroaminoto, Oetoesan Hindia. Tulisan H.O.S Tjokroaminoto bisa dibilang menjadi salah satu senjata perlawanan yang digunakannya. H.O.S Tjokroaminoto tak hanya cakap dalam berorasi yang konon tanpa mikrofon pun bisa terdengar keras, tapi ia juga bersuara keras lewat pena. Ide-idenya terbilang luar biasa. Selain disampaikan lewat ceramah, surat kabar menjadi lahan untuknya menyampaikan pemikiran. Surat kabar yang menjadi lahan menulis dan/ didirikan Tjokroaminoto seperti Bintang Soerabaia, Oetoesan Hindia, Fadjar Asia, dan Bandera Islam.

Dalam penerbitan Fadjar Asia, Haji Agus Salim juga terlibat di dalamnya. Haji Agus Salim yang dijuluki Bung Karno sebagai “The Grand Old Man” telah terlibat dalam dunia pers sejak muda. Jejak persnya dimulai sebagai pembantu dan penulis lepas untuk Bataviaasche Nieuwsblad. Pada usia 24 tahun, ia menjadi pemimpin redaksi Neratja selama tujuh tahun. Haji Agus Salim juga pernah terlibat dalam penerbitan Hindia Baroe, Kaoem Kita, Bandera Islam, dan Mestika.

Ki Hajar Dewantara pun memiliki jejak pers. Torehan penanya berjudul Als Ik eens Nederlander was (Andaikata Aku Seorang Nederland) yang ditulis pada usia sekitar 24 tahun menggemparkan penjajah kolonial Belanda. Tulisan ini memang membuat berang pemerintah kolonial sehingga berniat memberikan hukuman kepada Ki Hajar Dewantara. Menanggapi hal itu, Ki Hajar Dewantara bukannya takut, malah kian berani dengan mengeluarkan tulisan Een voor Allen, maar ook Allen voor Een (Satu untuk Semua dan Semua untuk Satu) yang terbit di De Expres pada 28 Juli 1913. Akibat sikap beraninya itu, Ki Hajar Dewantara akhirnya memang benar-benar diberi hukuman pengasingan. Riwayat Ki Hajar Dewantara bisa dikatakan tak jauh dari jejak pers. Tulisannya beredar di pelbagai terbitan surat kabar pada saat itu. Pelbagai penerbitan surat kabar yang pernah dirambahnya sebagai jurnalis atau kontributor tulisan, antara lain Midden Java, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaya Timoer, dan Poesara.

Selain tokoh yang disebutkan di atas, terdapat banyak tokoh lain yang jejak hidupnya terlibat dalam dunia pers. Sebut saja Mohammad Natsir, Buya Hamka, Abdoel Moeis, dan lainnya. Keterlibatan tokoh-tokoh bangsa dalam dunia pers karena dilandasi pemahaman jernih akan pentingnya media massa sebagai alat penyampai pemikiran dan gagasan. Media massa diakui merupakan alat jitu membangun opini publik. Memperhatikan jejak tokoh-tokoh bangsa, kita memang akan menyaksikan jejak pers mereka. Dunia pers menyatu dalam denyut nadi perjuangan bangsa ini dalam upaya meraih kemerdekaan. Dikatakan Soebagijo (1981), pers nasional semenjak lahir sepak terjangnya senantiasa sejalan atau paralel dengan perjuangan nasional itu sendiri. Dan dalam kenyataannya, pers nasional memang merupakan alat yang ampuh bagi perjuangan nasional. Setiap pemimpin pergerakan (dan agama) pada zaman penjajahan mempergunakan mass-media sebagai sarana penyampaian gagasan-gagasan serta alam pikirannya kepada pengikut masing-masing.

Peran pers jelas tak bisa dipandang remeh. Begitu banyak penerbitan pers di zaman kolonial yang turut menggerakkan spirit mencapai Indonesia merdeka. Pers bumiputera berperan membentuk pendapat umum menuju pengusiran kaum kolonial. Sebagaimana tutur Takashi Shiraishi (1997) bahwa para jurnalis bumiputera yang dalam kegiatannya menulis artikel, memberi komentar terhadap surat pembaca, dan menyunting isi surat kabar bagi sejumlah (yang mereka tidak ketahui) orang (yang tidak mereka kenal), sesungguhnya memimpin “embiro bangsa” dan mengungkapkan solidaritas mereka dengan para pembaca sebagai bumi putera dan kaum muda.

Bercermin pada tokoh-tokoh bangsa, mahasiswa perlu mengangkat pena dan terlibat aktif dalam dunia pers. Tokoh-tokoh bangsa telah berani menggoreskan penanya saat mereka masih dalam usia muda. Kesadaran pentingnya pers sebagai alat penyampai gagasan dan pemikiran tentu harus dimiliki mahasiswa. Pers juga penting sebagai upaya pendokumentasian sejarah. Dengan berfungsinya kerja pers, maka gagasan dan pemikiran akan terbaca dan terdengar ke khalayak lebih luas. Melalui kerja pers, setiap gagasan dan kegiatan bisa terekam dengan baik yang kelak akan menjadi dokumen sejarah yang bermakna bagi generasi kemudian. Kalimat Tinta Zaitun (2009) ini menarik disimak, “Penulis adalah pemimpin. Ia memimpin dengan ide dan pemikiran....Penulis yang memiliki idealisme sejati menjadi sangat berbahaya bagi sebuah rezim ataupun penguasa yang busuk.” Wallahu a’lam.

Hendra Sugiantoro
Pegiat Transform Institute pada Universitas Negeri Yogyakarta

hurup awal

hurup awal

hurup awal