Misi Profetik Zakat

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Kamis 9 September 2010

Menjelang akhir ibadah puasa Ramadan, pesan-pesan moral mengeluarkan zakat marak dilakukan. Lembaga-lembaga yang mengelola zakat pun membuat publikasi agar masyarakat mengetahui pilihan tepat untuk menyalurkan zakat. Ceramah dan kajian Ramadan tak ketinggalan menyerukan kewajiban berzakat yang menggenapkan pelaksanaan ibadah puasa Ramadan. Batas maksimal zakat yang merupakan bagian dari rukun Islam ini diberikan sebelum salat Idul Fitri.

Dilihat secara bahasa, zakat memiliki arti tumbuh, berkembang, kesuburan atau bertambah. Zakat dapat pula bermakna membersihkan atau mensucikan. Allah SWT berfirman, “Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka.”(Qs. At-Taubah:103). Dalam kitab Al-Hawiy, Al-Marwadi menyebut zakat sebagai nama bagi suatu pengambilan tertentu dari harta yang tertentu, menurut sifat-sifat tertentu, dan untuk diberikan kepada golongan tertentu. Zakat sebagai ibadah wajib diperintahkan Allah SWT dalam beberapa ayat Al-Qur’an. “Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat,…”(Qs. Al-Baqarah:43). Di ayat lain, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal salih, mendirikan salat dan menunaikan zakat, mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhan-nya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(Qs. Al-Baqarah:277).

Jika diperhatikan, perintah zakat dalam Al-Qur’an selalu disebut setelah perintah salat. Zakat disebutkan oleh Allah SWT bersamaan dengan perintah salat, kata Yusuf Qardhawy, karena keduanya merupakan syi’ar dan ibadah yang diwajibkan. Kalau salat merupakan ibadah ruhiyah, maka zakat merupakan ibadah maliyah dan ijtima’iyah (harta dan sosial). Tetapi, tetap saja zakat juga merupakan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah SWT, maka niat dan keikhlasan merupakan syarat yang ditetapkan oleh syari’at. Tidak diterima zakat tersebut kecuali dengan niat ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.

Dengan demikian, zakat memiliki dimensi transendental sekaligus dimensi horizontal. Kewajiban zakat mengandung misi profetik dengan pilar transendensi, humanisasi, dan liberasi. Zakat adalah ibadah maliyah yang memiliki dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah SWT. Zakat merupakan perwujudan solidaritas sosial, pernyataan rasa kemanusiaan dan keadilan, pembuktian persaudaraan Islam, dan pengikat persatuan umat dan bangsa. Kelompok masyarakat kaya dan kelompok masyarakat miskin diikat batinnya melalui zakat, sehingga tidak menciptakan jurang yang menganga antara golongan masyarakat yang kuat dengan yang lemah (Budi Dharmawan: 2004). Melalui zakat, kepedulian sosial diwujudnyatakan dimana kelompok masyarakat kaya merasa terpanggil untuk memperhatikan kelompok masyarakat miskin.

Kewajiban zakat memang menyimpan kearifan sosial. Namun demikian, penyaluran zakat dituntut berdaya guna. Artinya, ada sisi pemberdayaan masyarakat dari penyaluran zakat, sehingga para penerima zakat (mustahik) mampu memberdayakan diri. Zakat yang berlandaskan keimanan kepada Allah SWT (transendensi) selayaknya mampu memanusiakan manusia (humanisasi) dan memerdekakan warga dari keterpurukan dan kemiskinan (liberasi). Maka, pemberian zakat yang hanya bersifat karikatif seyogianya tidak terjadi lagi. Justru para penerima zakat diupayakan untuk tidak menerima zakat pada tahun berikutnya. Pemberian zakat yang sekadar belas kasihan cenderung tidak memberdayakan. Pengalaman selama ini ada para wajib zakat (muzzaki) yang memberikan zakatnya sendiri dengan dibagikan kepada warga di sekitarnya. Zakat akhirnya tak lebih dari bantuan yang hanya cukup digunakan sehari-dua hari oleh warga penerima zakat. Dalam hal ini, para muzzaki diharapkan dapat mempercayakan pemberian zakatnya kepada badan pengelola zakat (amil zakat), baik yang dibentuk pemerintah maupun swasta. Kejadian pembagian zakat di mana warga miskin berebutan dan berdesak-desakan mendapatkan zakat berupa uang dan ada yang menjadi korban harapannya tak terulang lagi.

Warga miskin yang menjadi salah satu penerima zakat pastinya bisa diberdayakan lewat potensi dana zakat, sehingga kehidupannya lebih sejahtera. Menurut penelitian UIN Syarif Hidayatullah dan Ford Foundation (2005), potensi zakat bisa mencapai Rp 14,2 triliun. Dari Rp 14,2 triliun itu, Rp 6,2 triliun di antaranya berasal dari zakat fitrah dan Rp 13,1 triliun berasal dari zakat mal. Jika zakat mampu dikelola dengan benar, maka bisa meningkatkan taraf hidup warga miskin. Dana potensi zakat sedapat mungkin dapat mengentaskan kemiskinan yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilansir Maret 2010 lalu menyebutkan masih sekitar 32,53 juta penduduk miskin di negeri ini. Misi profetik zakat menghendaki pemberdayaan masyarakat melalui pembagian zakat sebagai ikhtiar menciptakan keadilan sosial dan kemakmuran yang merata. Kewajiban berzakat harus berdampak bagi peningkatan kesejahteraan hidup warga miskin. Peningkatan kesejahteraan hidup ini juga berarti peningkatan status warga dari mustahik menjadi muzzaki.

Dalam menunaikan kewajiban zakat, alangkah lebih tepat jika para muzzaki tidak bergerak secara individual, tapi mempercayakannya kepada badan pengelola zakat. Pada titik ini, badan pengelola zakat dituntut bekerja profesional dalam mengelola dan menyalurkan zakat. Akuntabilitas tetap perlu dijaga dengan memperjelas sasaran para penerima zakat dan program yang digulirkan dari potensi dana zakat. Zakat untuk modal warga miskin mengembangkan usahanya menjadi salah satu alternatif dengan tujuan taraf hidup warga miskin meningkat. Tentu saja, penggunaan zakat untuk pengembangan usaha bagi warga miskin tetap perlu mendapatkan kontrol dan bimbingan. Dengan pengguliran program-program yang terarah dan berkesinambungan, potensi dana zakat bisa untuk mengatasi kasus kelaparan dan gizi buruk yang kerapkali mencuat di negeri ini. Potensi dana zakat bisa dikelola untuk mencegah anak-anak putus sekolah, perbaikan sarana-prasarana pendidikan, ataupun pengadaan bahan-bahan bacaan yang mencerdaskan. Zakat untuk pendidikan menjadi alternatif untuk turut serta memajukan kualitas anak-anak bangsa. Zakat mengandung misi profetik untuk membebaskan warga miskin dari kemelaratan dan kenestapaan, sehingga mampu berdaya dalam menapaki kehidupan. Penunaian kewajiban zakat harus dapat menyejahterakan setiap warga di negeri ini. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute UNY&Fungsionaris Forum Indonesia (FO-1)

Puasa, Terimakasih Ibu

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Suara Merdeka, Selasa 7 September 2010


Kehadiran seorang ibu di rumah memiliki peran yang bermakna. Ibu hadir dengan kasih sayangnya bagi kehidupan keluarga. Ibu sebagai seorang perempuan telah berkontribusi penting bagi kelangsungan dan kelancaran ibadah puasa Ramadan yang kini tengah dijalankan.

Meskipun tak mutlak menjadi tugasnya, ibu tanpa lelah menghidangkan masakan sehingga anggota keluarga dapat menyantap sahur dan berbuka. Ibu yang harus rela bangun sebelum anggota keluarga lain untuk menyiapkan makan dan minum saat sahur. Saat menjelang berbuka, ibu telah bersiap-siap memasak sehingga makanan dan minuman tersaji. Jasa seorang ibu dalam rumah tangga tiada tara, pun saat bulan Ramadan.

Bagi kebanyakan masyarakat, tugas memasak dan menyiapkan makanan selalu identik dengan perempuan. Wanita senantiasa dipersepsikan sebagai ‘’tukang masak’’ sehingga anggota keluarga yang lain jarang peduli dengan kegiatan masak-memasak. Anggota keluarga yang laki-laki seolah tidak perlu memikirkan masakan dan hanya menunggu makanan terhidang.

Ketika dini hari, anggota keluarga yang laki-laki tahu-tahu sudah berhadapan dengan sajian makanan di meja makan. Begitu juga saat berbuka, sudah tersedia makanan dan minuman.

Pada titik ini, pemahamam peran masak-memasak hanya menjadi tugas perempuan (ibu) memang perlu dibenahi. Terlepas dari itu, ibu memang telah berperan luar biasa di bulan Ramadan ini. Dengan memasak, ibu pada dasarnya telah melakukan ibadah tersendiri. Terhadap peran di bulan Ramadan itu, sepantasnya kalau siapa pun tidak menutup mata. Dalam kondisi apa pun, kehadiran ibu dalam kehidupan keluarga memiliki kontribusi penting, sehingga sewajarnya bila semua menghormati. Terutama bagi anak, ibu telah melahirkan, menyusui, dan membesarkan. Jasa ibu tak mungkin dibalas oleh seorang anak.

Bertepatan dengan bulan Ramadan, kesadaran untuk memuliakan seorang ibu dalam kehidupan keluarga seyogianya bisa tumbuh. Ramadan harapannya bisa mendidik setiap anak memiliki karakter profetik, yakni berbakti kepada orang tua, terutama kepada ibu. Setiap apa yang dihidangkan ibu saat sahur dan berbuka puasa adalah setitik kasih sayang di antara berjuta kasih sayang ibu. Untuk itu, saatnya merasakan kasih sayang ibu untuk kemudian memuliakan dalam perjalanan kehidupan. Bahkan, ibulah yang harus ditemui pertama kali saat Idul Fitri nanti.

Hendra Sugiantoro
Aktivis Pena Profetik Yogyakarta

Karangmalang, Yogyakarta 55281

085228438047

Kampus, Harapan akan Perubahan?

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Kampus Suara Merdeka, Sabtu 4 September 2010
Kampus merupakan salah satu wahana yang memiliki peran dan fungsi. Dalam perjalanannya, kampus telah memberikan pengajaran dan pendidikan bagi ribuan mahasiswa sekaligus mencetak lulusan dari beragam disiplin ilmu. Sebagai bagian dari ruang pendidikan formal, kampus tentu berkontribusi bagi pembangunan bangsa.

Terlepas dari problematika mahasiswa dan lulusan yang dihasilkan, kampus tetap menjadi harapan bagi perbaikan dan perubahan bangsa ke arah positif. Begitu banyak lulusan dari kampus yang menorehkan prestasi dan karya-karya cemerlang. Pikiran dan gagasan besar kerap muncul dari kampus sebagai ikhtiar pencerahan dan solusi problematika bangsa. Kajian riset bisa dikatakan tak terhitung yang memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pemikiran.

Memperbincangkan kampus, ada banyak sisi bisa diutarakan. Salah satu sisi itu adalah mahasiswa sebagai subjek pendidikan yang akhirnya lulus dan bergerak di masyarakat. Dalam kehidupan, sepak terjang mahasiswa diakui tak selalu diapresiasi. Kritik juga menerpa mahasiswa meski harapan senantiasa digantungkan kepada mahasiswa. Di sisi lain, mahasiswa mampu menunjukkan prestasi dan mencerminkan jati diri mahasiswa yang excellent.

Sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, kampus tetap berupaya mencetak mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kampus tak sekadar membentuk dan mengembangkan kecakapan intelektual mahasiswa, namun juga perlu mencerdaskan sisi emosional dan spiritual mahasiswa. Hal ini telah menjadi kesepakatan umum sebagai refleksi kritis dunia pendidikan yang hanya menjejali subjek pendidikan pada wilayah kognitif semata. Pendidikan karakter yang marak mengemuka akhir-akhir ini tentu bertalian juga dengan dunia kampus agar kuasa melahirkan mahasiswa yang berkarakter.

Dalam pendidikan di kampus, penanaman dan pembangunan nilai-nilai (transfer of values) menjadi niscaya. Begitu pula kesadaran transendental perlu dimiliki mahasiswa sebagai manusia yang dititahkan untuk beribadah kepada Tuhan dan memakmurkan kehidupan. Tak hanya memiliki wawasan berpikir luas, mahasiswa juga harus memiliki keyakinan lurus, mampu beribadah secara benar dan berbudi mulia. Di samping itu, mahasiswa juga harus memiliki kekuatan jasmani, kuasa memanajemen urusan kehidupannya, mampu menundukkan keburukan nafsunya, kreatif dan mandiri, mampu memelihara waktunya, dan mampu berkontribusi positif bagi kebangunan masyarakat.

Dalam hal ini, catur pusat pendidikan kampus menjadi menarik didiskusikan. Ada empat ruang kampus yang perlu berjalan sinergis dan saling mendukung, yakni ruang kuliah, perpustakaan, organisasi kemahasiswaan, dan tempat ibadah. Empat ruang inilah yang perlu dioptimalkan sebagai upaya mendidik mahasiswa.

Berbicara ruang kuliah, maknanya luas tak hanya di dalam kelas. Kuliah adalah pembelajaran yang bisa dilakukan di mana pun, termasuk juga di laboratorium atau tempat terbuka. Kajian dan penelitian ilmu sosial dan ilmu alam terus digalakkan sebagai upaya pengembangan sisi keilmuan dan pemikiran mahasiswa. Tradisi keilmuan harus senantiasa dipupuk. Diskusi, membaca, meneliti, dan menulis menjadi standar baku perkuliahan yang dilakukan dosen terhadap mahasiswa. Budaya berkunjung ke perpustakaan juga digalakkan. Perpustakaan perlu menjadi pusat pendidikan kampus sebagai ruang mahasiswa membaca, menelaah, dan mengkaji literatur-literatur.

Fungsi perpustakaan sangat penting bagi mahasiswa dalam memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan, wawasan, dan pemikiran. Begitu juga keberadaan organisasi kemahasiswaan selayaknya dapat menjadi ruang pembelajaran mahasiswa. Termasuk dalam hal ini adalah tempat ibadah seperti masjid yang berdiri di kampus-kampus tak boleh dilupakan dalam sistem penyelenggaraan pendidikan di kampus. Kajian-kajian ataupun kegiatan yang diselenggarakan masjid kampus bisa menjadi bagian dari kurikulum pendidikan mahasiswa.

Empat pusat pendidikan kampus yang disebutkan di atas pastinya harus berjalan sinergis. Pertanyaannya, apakah “catur pusat pendidikan kampus” itu telah menjadi kesatuan organik? Atau malah terkesan bergerak sendiri-sendiri? Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO

Pegiat Transform Institute Yogyakarta

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/09/04/122704/Kampus-Harapan-akan-Perubahan

Guru di Titik Persimpangan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Suara Warga Suara Merdeka, Sabtu 14 Agustus 2010
Ada pernyataan menarik dari Mustainah Ssi dalam rubrik Suara Guru Suara Merdeka edisi Senin, 19 Juli 2010. Dia mengeluhkan posisi guru yang berada di titik persimpangan.

Guru PAUD Griya Nanda UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta lewat artikel berjudul “Guru sebagai Sahabat” itu menuliskan, "dalam proses belajar mengajar, keberadaan guru berperan strategis bagi keberhasilan tujuan pendidikan. Namun, sistem pendidikan yang kita anut menempatkan guru pada sosok yang terlampau agung. Guru atau dosen sengaja didesain sebagai manusia luar biasa, yang harus ”digugu lan ditiru” dalam setiap laku dan ucapannya. Sistem yang demikian membuat corak pendidikan kita indoktrinatif yang menempatkan siswa pada posisi lemah.”

Penggalan artikel anggitan Mustainah Ssi di atas menarik direnungkan pada kalimat: “...sistem pendidikan yang kita anut menempatkan guru pada sosok yang terlampau agung. Guru atau dosen sengaja didesain sebagai manusia luar biasa, yang harus ”digugu lan ditiru” dalam setiap laku dan ucapannya.”

Penulis pernah melakukan refleksi terkait posisi guru. Entah mengapa penulis merasakan “ada yang tidak wajar” ketika guru dalam konstruksi masyarakat ditempatkan sebagai “malaikat”. Atau dalam bahasa Mustainah Ssi, guru ditempatkan sebagai sosok yang terlampau agung.

Memang benar jika unsur keteladanan menjadi salah satu keniscayaan dalam upaya mendidik. Ketika guru mendidik murid-muridnya untuk berlaku baik, maka guru harus satu kata dan perbuatan. Guru harus menjadi sosok yang digugu lan ditiru. Tingkah laku guru seyogianya dapat menjadi teladan bagi murid-muridnya. Yang menjadi persoalan, guru sering kali dikonstruksikan sebagai manusia sempurna. Guru tidak boleh salah dan khilaf. Adanya kewajiban guru berperilaku mulia memang tidak bisa diganggu gugat, namun kita tetap harus memposisikan guru sebagai manusia biasa.

Dalam hal ini, pernyataan di atas sekiranya layak direnungkan. Bagaimana pun, guru tetap harus dimuliakan oleh siapa pun. Sikap memuliakan guru tetap dengan memosisikan guru sebagai “manusia biasa” yang kadang berbuat salah dan juga memiliki kelemahan. Bagaimana menurut Anda? Wallahu a’lam.

Hendra Sugiantoro,
Koordinator Forum Indonesia
http://citizennews.suaramerdeka.com/?option=com_content&task=view&id=1257

Di Balik Tradisi Mudik

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Opini Kedaulatan Rakyat, Rabu 1 September 2010
BANYAK orang dari perantauan berduyun-duyun pulang ke kampung halaman pada hari-hari terakhir Ramadan atau menjelang hari Lebaran. Lalu lintas jalan raya pun akan penuh sesak dengan angkutan umum darat dan juga kendaraan pribadi. Tak hanya di darat, transportasi laut pun digunakan untuk memenuhi tujuan bersua dengan keluarga, sanak saudara, dan siapa pun di kampung halaman.

Fenomena khas tradisi mudik memang telah berlangsung bertahun-tahun di negeri ini. Bahkan, menurut Umar Kayam (2002), mudik telah terjadi berabad-abad lalu. Dikatakan Umar Kayam bahwa mudik awalnya merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa yang sudah ada jauh sebelum Kerajaan Majapahit. Dahulu kegiatan itu digunakan untuk membersihkan pekuburan atau makam leluhur yang disertai upacara doa bersama kepada dewa-dewa di kahyangan. Tujuannya adalah agar para perantau diberi keselamatan dalam mencari rezeki dan keluarga yang ditinggalkan tak dirundung petaka. Apa yang dilakukan itu akhirnya terkikis ketika Islam masuk ke tanah Jawa. Kegiatan itu merupakan perbuatan sia-sia dan masuk dalam kategori syirik. Meski demikian, peluang kembali ke desa setahun sekali itu muncul kembali lewat momentum Idul Fitri. Mudik digunakan oleh kaum perantau untuk bersilaturahmi dengan keluarga, sanak saudara, dan siapa pun di tempat kelahiran.

Mudik memang bisa dikatakan semacam peluang bagi siapa pun yang merantau untuk merekatkan kembali tali kekeluargaan dan persaudaraan di daerah asalnya. Setelah bekerja di tempat rantau, kerinduan terhadap kampung halaman menemukan kesempatan bersamaan dengan libur Lebaran. Tradisi mudik yang telah berlangsung bertahun-tahun tentu tak lepas dari pertanyaan yang mungkin sulit dicari jawabannya. Sebut saja pengeluaran finansial yang tidak sedikit harus rela dikeluarkan demi pulang ke kampung halaman. Bagi kaum perantau yang berhasil secara finansial mungkin tak menjadi masalah, namun berbeda dengan kaum perantau yang tidak berkecukupan. Meskipun pergi ke luar daerah/kota-kota besar bertujuan mendapatkan pekerjaan layak, kaum perantau tidak semuanya mengalami keberhasilan. Namun demikian, seberapa pun uang dikeluarkan untuk mudik seolah-olah tidak menjadi persoalan. Bahkan, gaji selama setahun disisihkan dan dialokasikan untuk biaya mudik yang hanya mungkin dilakukan sekali setahun. Lewat tradisi mudik, kita menyaksikan betapa kerinduan kembali ke kampung halaman tak bisa dibendung. Dalam perjalanan, keselamatan jiwa sering kali menjadi taruhan, tapi mereka yang merantau yakin dengan keamanan perjalanan. Apapun dilakukan untuk dapat bersua dengan keluarga dan sanak saudara di kampung halaman meskipun mengeluarkan biaya besar dan nyawa menjadi taruhan.

Fenomena mudik yang mentradisi dalam masyarakat negeri ini pastinya dapat dilihat dari beragam sudut pandang. Mudik memiliki arti pulang ke udik atau pulang ke kampung halaman bersamaan dengan datangnya hari Lebaran. Mudik dilakukan oleh mereka yang merantau ke luar daerah asal. Kota-kota besar menjadi tujuan yang diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup lebih baik. Hal ini disebabkan di daerah asal atau pedesaan kurang menjamin akses pekerjaan yang layak sehingga orang-orang berketetapan hati untuk pergi ke luar daerah dan kota-kota besar. Tak hanya terkait pekerjaan, tujuan merantau juga bisa terkait dengan aspek pendidikan. Setelah lama di kota, kerinduan bersua dengan keluarga, sanak saudara, dan kerabat di kampung halaman tak terelakkan. Mungkin saja kesempatan bersua itu hanya setahun sekali sehingga momentum Lebaran menjadi saat yang tepat untuk pulang ke kampung halaman. Dikatakan Emha Ainun Nadjib (2004), para pemudik yang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman itu sedang memenuhi tuntutan sukmanya untuk bertemu dan berakrab-akrab kembali dengan asal-usulnya.

Dengan melakukan mudik, orang-orang yang bekerja di kota berkehendak kembali ke jati dirinya. Muhammad Muhyidin (2008) menyatakan bahwa orang-orang kota mengalami tingkat penurunan spritualitas terhadap cara ibadah dan intensitasnya untuk taat kepada Allah SWT. Karena disibukkan dengan urusan pekerjaan ataupun urusan yang bersifat duniawi, orang-orang yang berada di kota merasakan kekeringan hati. Nurani terasa mati sehingga sulit membedakan kebaikan dan keburukan. Pada titik ini, mudik menjadi ajang mencari ketenangan batin dan memperlembut jiwa. Suasana alam pedesaan atau kampung halaman yang asri dan masih jauh dari cengkeraman modernitas semu merupakan ruang kondusif bagi lahirnya konsep diri yang asli. Kesadaran bertuhan, kesadaran sebagai makhluk Tuhan, kesadaran sebagai makhluk sosial, dan kesadaran memakmurkan kehidupan ditumbuhkan ketika menikmati kampung halaman. Kembali ke asal-usul menemukan maknanya bersamaan dengan momentum Idul Fitri di mana setiap manusia kembali ke dalam kondisi fitrah yang suci setelah sebulan berpuasa.

Tradisi mudik yang menjadi fenomena sosio-religius ini seakan-akan menyimpan kearifan kultural. Namun demikian, tradisi mudik juga menandakan ketimpangan kemakmuran daerah. Tradisi mudik yang kentara di negeri ini menunjukkan kurang meratanya akses penghidupan yang layak. Lahan pekerjaan dan jaminan hidup layak tidak didapatkan di pedesaan atau kota-kota kecil. Kota-kota besar menjadi pelarian dari keterhimpitan hidup meskipun mengais nafkah di kota-kota besar tidak selalu menjamin keberhasilan. Paradigma kota-kota besar adalah sumber pengharapan akhirnya menciptakan dampak lanjutan dari tradisi mudik: urbanisasi. Tradisi mudik selalu diikuti arus perpindahan orang-orang pedesaan menuju perkotaan.

Dalam hal ini, tradisi mudik hendaknya menyadarkan pemerintah untuk memeratakan pembangunan dan akses penghidupan di masing-masing daerah. Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya harus diberi tanda seru. Artinya, cukup sudah perpindahan penduduk menyerbu kota-kota besar. Mereka yang merantau ke kota-kota besar perlu juga bertanggung jawab memajukan daerahnya seperti diteriakkan lantang oleh Pramoedya Ananta Toer dalam esainya berjudul ”Jakarta”: Tinggallah di daerah dan saatnya membangun daerah menjadi sumber kegiatan sosial, sumber kesadaran politik, dan sumber penciptaan dan latihan kerja. Begitu.
HENDRA SUGIANTORO
Peneliti Transform Institute Yogyakarta

Membangun Indonesia Penuh Berkah

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Opini Suara Karya, Rabu 18 Agustus 2010

TEPAT pada Selasa, 17 Agustus 2010, kita memperingati 65 tahun kemerdekaan Indonesia. Bagi kita yang dilahirkan di negeri ini tentu selalu mengingat proklamasi kemerdekaan yang dikumandangkan 65 tahun silam di Pegangsaan Timur 56, Cikini, Jakarta Pusat, tepat pukul 10:00 WIB. Berdasarkan tahun Jepang, pada 1945 Masehi adalah tahun 2605, maka dalam teks proklamasi tertera hari 17 boelan 8 tahoen 05.

Teks proklamasi itu diketik oleh tokoh muda bernama Sayuti Melik dengan menggunakan tahun Jepang, padahal ketika digubah oleh Muh. Hatta, Ahmad Soebardjo, dan dibantu oleh Soekarno sebagai pencatat menggunakan tahun masehi 1945. Dalam gubahan awal sebenarnya bukan atas Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta, tapi Wakil2 bangsa Indonesia. Atas usul Sukarni, teks proklamasi itu cukup ditandatangani Soekarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia. Berdasarkan kalender hijriah, proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 jatuh pada hari Jum’at atau 17 Ramadan 1365 Hijriyah. Itu berarti kemerdekaan Indonesia diproklamasikan bertepatan pada bulan Ramadhan.

Membaca teks proklamasi kemerdekaan negeri ini terkesan cukup sederhana. Meskipun hanya terdiri dari dua kalimat, teks proklamasi itu telah mengesahkan Indonesia sebagai negara merdeka. Beberapa tahun kemudian persyaratan pengakuan negara luar atas kemerdekaan sebuah negara pun diperoleh. Mesir tercatat sebagai negara pertama yang mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia. Negara-negara yang tercatat sebagai pemberi pengakuan pertama kepada RI selain Mesir adalah Suriah, Irak, Lebanon, Yaman, Saudi Arabia, dan Afghanistan. Selain negara-negara tersebut, Liga Arab (Arab League) juga berperan penting dalam pengakuan kemerdekaan Indonesia. Secara resmi keputusan sidang Dewan Liga Arab pada 18 November 1946 menganjurkan kepada semua negara anggota Liga Arab agar mengakui Indonesia sebagai negara merdeka yang berdaulat.

Usia kemerdekaan yang kini menginjak 65 tahun tentu memiliki beragam makna bagi siapa pun. Seperti biasa terjadi, di tengah peringatan hari kemerdekaan selalu terjadi dialektika: benarkah negeri ini sudah merdeka? Faktor kemiskinan dan keterpurukan yang menghinggapi perikehidupan masyarakat kerap menjadi argumentasi yang menegaskan Indonesia belum merdeka sepenuhnya. Masyarakat ekonomi pas-pasan masih pontang-panting untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasarnya. Belum lagi jika bicara akses pendidikan yang kian lama kian berbiaya mahal. Apalagi di jenjang pendidikan tinggi yang kian lama kian bertambah mahal, tidak sesuai dengan tingkat pendapatan rata-rata masyarakat. Itu soal akses memasuki jenjang pendidikan dan belum mengenai hilangnya ruh pendidikan di negeri ini. Pendidikan sebagai usaha menegaskan jati diri manusia dan kemanusiaan masih jauh dari harapan ketika orientasi pendidikan sekadar pemenuhan aspek kognitif semata. Aspek emosional dan spiritual kurang begitu diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini.

Dalam Pembukaan UUD 1945, kesejahteraan rakyat jelas ditekankan agar menjadi perhatian negara. Pemerintah sebagai representasi negara memang wajib menjalankan fungsi memajukan kesejahteraan umum. Selain itu, pemerintah juga bertanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Fungsi itu belum berjalan sebagaimana mestinya. Lebih menyedihkan lagi, politik kekuasaan yang berjalan selama ini cenderung mengabaikan aspirasi rakyat kecil dan alpa terhadap cita-cita nasional yang menjadi amanat Indonesia merdeka. Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur sekadar teks. Pasal 33 UUD 1945, misalnya, tidak dijalankan secara konsekuen oleh pemerintah. Sumber daya alam yang dahulu dipertahankan mati-matian oleh pahlawan dari cengkeraman penjajah, kini tanpa merasa bersalah dijual ke pihak asing dengan keuntungan tak seberapa bagi Indonesia. Perekonomian yang seharusnya dijalankan dengan azas kekeluargaan sesuai amanat konstitusi, nyatanya tidak demikian. Ekonomi kerakyatan yang antikapitalisme untuk tujuan kesejahteraan bersama bisa dikatakan hilang tanpa bekas dalam kebijakan ekonomi negeri ini.

Di tengah jerit pilu rakyat kecil di negeri ini, elite politik di negeri ini sepertinya buta mata. Politik yang semestinya dijalankan untuk mencapai kemaslahatan justru dimanfaatkan untuk memuaskan hasrat pribadi. Kasus korupsi yang kian marak adalah salah satu contoh. Tidak hanya pejabat eksekutif, pejabat legislatif dan juga pejabat yudikatif diindikasikan dan sudah ada yang terjerat kasus korupsi.

Tanpa berpanjang lebar mengutara-selatankan fakta kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini, kita selayaknya perlu membangkitkan semangat berbuat nyata bagi negeri ini. Mewujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya di mana rakyat bisa melangsungkan kehidupannya secara baik merupakan harapan kita bersama. Dibutuhkan komitmen dan aksi nyata membangun negeri ini agar lebih bermartabat. Kemerosotan moral adalah satu hal yang perlu menjadi agenda penting untuk diatasi agar bangsa ini memiliki karakter dan kepribadian mulia. Adanya akhlak yang baik terhadap Tuhan, manusia, dan alam tentu akan menciptakan kehidupan di negeri ini aman sentosa, tanpa kerusakan dan kejahilan-kejahilan.

Dalam usia 65 tahun kemerdekaan RI, kita juga perlu mengajak pemerintah melakukan perenungan. Apakah fungsi melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial telah dijalankan? Maksud dibentuknya pemerintahan negara Indonesia seperti tertera dalam Pembukaan UUD 1945 itu selayaknya dijadikan landasan kebijakan dalam menjalankan politik kekuasaan. Politik adalah pengabdian dan sebentuk ibadah untuk terciptanya kemajuan bagi negeri.

Memang kita perlu berhimpun dalam satu barisan membangun Indonesia. Ada cita-cita dan harapan bagi terwujudnya Indonesia yang berdaulat, adil, dan dipenuhi kemakmuran. Menurut ukuran manusia, usia 65 tahun terhitung tua atau telah makan asam garam, tapi masih terlampau muda untuk ukuran sebuah negara. Jadi, proses “menjadi Indonesia” membutuhkan tahapan lebih lanjut.

Apapun permasalahan yang menerpa negeri ini, kita tak lupa memanjatkan syukur atas 65 usia kemerdekaan. Founding fathers pun mengakui bahwa kemerdekaan negeri ini ”Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”. Dengan pertolongan Allah Yang Maha Kuasa, kita bisa menghirup udara kemerdekaan. Syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa tentu masih berlanjut dengan terus berpikir, berjuang, dan berkarya bagi negeri ini. Perjuangan masing-masing diri kita untuk membangun negeri adalah bentuk kesyukuran kita kepada Tuhan jika dilakukan secara tepat sesuai dengan tuntunan-Nya. Membangun Indonesia penuh berkah tentu saja merupakan keutamaan. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute Yogyakarta

Puasa Profetik!

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Gagasan Rema Post, Edisi 5/Tahun IV/Agustus 2010
Puasa Ramadhan kembali menyapa kita. Persiapan-persiapan tak lupa dilakukan untuk mampu menjalankan ibadah di bulan suci ini. Dari persiapan itu, persiapan bersifat immateri lebih utama. Masing-masing diri menyiapkan hati menghadapi bulan Ramadhan. Tak ada kerinduan lain bagi kita kecuali kuasa lebih baik lagi menjalani ibadah puasa Ramadhan tahun ini.

Kerinduan ini bukan semata karena bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, penuh ampunan, dan penuh kasih sayang Ilahi. Siapa pun yang berjumpa Ramadhan pasti merindukan itu. Setiap aktivitas kita ketika Ramadhan akan senantiasa dijaga agar bernilai ibadah. Dengan pahala berlipat-lipat, siapa pun berdaya upaya memperbanyak ritual dan amal saleh. Namun, kerinduan ini lebih luas daripada kemampuan membentuk kesalehan diri. Kita merindukan Ramadhan agar mampu mendidik diri sekaligus membangun kesalehan sosial. Kita berharap mampu menjalani Ramadhan lebih baik untuk sebuah idealisme kebangunan negeri. Kita perlu melakukan puasa profetik. Puasa bukan untuk kepentingan diri semata, tapi juga kepentingan bangsa, bahkan masyarakat dunia.

Hal ini didasari fakta belum mampunya ibadah puasa Ramadhan memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. Berkali-kali bangsa ini menjalani puasa Ramadhan, namun kurang memberikan dampak signifikan bagi arus perubahan ke arah lebih positif. Salahuddin Wahid (2006) mensinyalir mutu puasa kebanyakan dari kita selama ini belum seperti yang diharapkan. Indikatornya adalah kehidupan sehari-hari. Kasus korupsi yang masih merajalela, misalnya, merupakan cermin miskinnya karakter mulia. Perilaku ketidakjujuran, ketidakdisiplinan, pelanggaran hak asasi manusia, kekerasan ataupun kriminalitas masih kentara di sekitar kita. Perilaku-perilaku buruk lainnya begitu tampak dalam kehidupan.

Maka, puasa Ramadhan yang berlandaskan keimanan kepada Tuhan (transendensi) tentu tak sekadar berhenti tanpa gerak amal. Puasa diharapkan mampu mendidik masing-masing diri kita menjadi manusia yang berkontribusi bagi kehidupan. Puasa profetik menghendaki kita mampu mempraktikkan dimensi humanisasi dan liberasi dalam kehidupan. Melalui puasa, kita perlu mendidik diri untuk memiliki kepekaan dan solidaritas sosial yang tidak hanya berhenti pada bulan Ramadhan. Tantangan dari puasa yang kita lakukan tak sekadar terletak pada kemampuan menahan lapar dan dahaga, tapi kemampuan kita membentuk karakter mulia yang terus bertahan. Puasa profetik diarahkan menggerakkan transformasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kata Yudi Latif (2006), puasa merupakan wahana pertemuan antara tauhidullah dan tauhidul ummah, antara perkhidmatan kepada Tuhan dan perkhidmatan kepada kemanusiaan. Tanpa memberi dampak sosial, puasa tak menemukan relevansi.

Pada titik ini, evaluasi diri menjadi niscaya. Puasa Ramadhan hendaknya tidak sekadar ritual tahunan tanpa makna. Kita tidak dilarang melakukan sedekah sebanyak-banyaknya selama Ramadhan, namun kita juga perlu memiliki solidaritas sosial jangka panjang. Kejujuran yang kita tegakkan selama Ramadhan bukan semata karena Ramadhan penuh pahala, namun kita menyadari bahwa kejujuran merupakan perilaku yang harus kita miliki.

Puasa bernafaskan profetik akan melahirkan individu manusia yang mampu menyadari dirinya sebagai makhluk Tuhan. Dengan puasa profetik, kita menyadari perlunya mengambil peran sejarah meneruskan jejak para Nabi. Hal ini bukan berarti kita akan menjadi Nabi. Kita jelas bukan Nabi dan kita takkan mungkin menjadi Nabi. Namun, kita harus menyadari adanya misi profetik yang terletak di pundak kita dalam membangun kehidupan.

Bagaimana pun, kita memang masih belajar. Kita akan terus belajar mencintai Tuhan. Kita menjalankan puasa untuk mendidik diri kita menjadi manusia profetik. Meminjam pesan dalam Majalah Educinfo FIP UNY Vol II No. 1, Januari-Februari 2008, manusia profetik adalah individu-individu manusia yang berkeyakinan lurus, beribadah secara benar, berbudi mulia, memiliki kekuatan jasmani, luas wawasan berpikirnya, kuasa memanajemen urusan kehidupannya, mampu menundukkan keburukan nafsunya, mampu menafkahi dirinya dan memiliki kreativitas dalam pekerjaan, mampu memelihara waktunya untuk hal yang berguna, dan mampu berkontribusi positif bagi kebangunan masyarakat.

Mungkin dari penjabaran manusia profetik di atas masih bisa didiskusikan. Penulis melihat karakter-karakter di atas relatif tepat menggambarkan karakter manusia paripurna. Meski pendidikan adalah jalan panjang, namun puasa tahun ini merupakan salah satu ruang pendidikan bagi kita menjadi manusia profetik. Dengan puasa profetik, kita belajar menyeimbangkan tiga aspek fundamental dalam ibadah puasa sebagaimana disebutkan Komaruddin Hidayat (2006) terdiri dari pendekatan diri kepada Tuhan, penyucian diri, dan membangun kesalehan sosial. Dengan ibadah puasa, kita mengaktifkan kekuatan rohani, lalu mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin, sehingga mengalami proses penetrasi dan internalisasi sifat dan nilai Ilahi. Pijakan transendensi ini akhirnya mengarahkan kita membangun kehidupan. Dengan menjalankan puasa, kita menyadari tak ada manusia yang lebih tinggi dan lebih rendah. Kebesaran hanya milik Tuhan dan kita pun menjadi manusia profetik yang menjalankan proses humanisasi yang bersifat transendental. Kita pun membangun kehidupan dengan misi pembebasan, mengangkat derajat manusia agar memiliki daya yang tak ada perbedaan kecuali pada kadar ketakwaan.

Di tengah kekurangan ilmu dan “kehijauan” penulis, artikel ini disajikan. Penulis mohon maaf jika ada kekurangan. Harapannya muncul tulisan lebih lanjut untuk menanggapi tulisan ini. Wallahu a’lam.
Hendra Sugiantoro

Rema Post Terbit 10.000 Eksemplar

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan Harian Jogja, 2010
Rema Post merupakan salah satu media kampus di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang diterbitkan BEM REMA UNY. Dalam edisi 9/Tahun IV/Agustus 2010, Rema Post diterbitkan dengan jumlah ribuan eksemplar. Mungkin banyak orang tidak menyangka, Rema Post diterbitkan sebanyak 10.000 eksemplar dan beredar sejak Jum’at (13/8).

Dalam edisi yang diterbitkan 10.000 eksemplar ini, Rema Post mengetengahkan berita utama perihal pelaksanaan training Emotional Spiritual Quotient (ESQ) di UNY. Training ESQ ini boleh dikatakan telah menjadi tradisi. Di UNY, training ESQ dilangsungkan setiap tahun bagi mahasiswa dan dosen UNY sejak tahun 2008 saat posisi rektor dijabat almarhum Sugeng Mardiyono sampai kini dijabat Rochmat Wahab. Dikatakan Pembantu Rektor III UNY, Herminarto Sofyan, bahwa ESQ sudah menjadi program utama UNY untuk mencapai visi dan misi UNY.

Dengan judul berita utama “ESQ, Menguatkan Pondasi Pendidikan Karakter”, Rema Post yang terbit 10.000 eksemplar ini juga memaparkan kebermanfaatan training ESQ. Salah satunya dikatakan mahasiswa UNY angkatan 2009, Avi Raharjo, bahwa ESQ sangat penting untuk membangkitkan kecerdasan emosional dan spiritual. Dengan ESQ, kata Pembantu Rektor I UNY Nurfina Aznam, kita menjadi tahu akan terjadinya alam semesta ini. Dibuktikannya kebenaran teori terbentuknya alam semesta. Selain itu, juga terdapat kaitan erat dengan makna profetik yang di dalamnya disampaikan kisah-kisah para Nabi.

Dalam penerbitan Rema Post sejumlah 10.000 eksemplar ini juga menampilkan artikel opini berjudul “Puasa Profetik!”. Ada pernyataan menarik dalam artikel itu, “Kita perlu melakukan puasa profetik. Puasa bukan untuk kepentingan diri semata, tapi juga kepentingan bangsa, bahkan masyarakat dunia. Dengan menjalankan puasa, kita menyadari tak ada manusia yang lebih tinggi dan lebih rendah. Kebesaran hanya milik Tuhan dan kita pun menjadi manusia profetik yang menjalankan proses humanisasi yang bersifat transendental. Kita pun membangun kehidupan dengan misi pembebasan, mengangkat derajat manusia agar memiliki daya yang tak ada perbedaan kecuali pada kadar ketakwaan.”

Terkait Rema Post yang dicetak sebanyak 10.000 eksemplar, dikatakan pemimpin umum Rema Post Nurhayati Budiyanti, bahwa hal ini merupakan oplah terbesar Rema Post sepanjang sejarah sejak mulai terbit tahun 2006. Dalam edisi reguler, Rema Post terdiri dari 8 halaman, tapi penerbitan sebanyak 10.000 eksemplar ini hanya 4 halaman. Dari isi yang ditampilkan, Rema Post tercetak 10.000 eksemplar ini tampaknya ingin mengungkap tradisi pelaksanaan training ESQ di UNY. Apakah penerbitan sebanyak 10.000 eksemplar merupakan jumlah terbesar untuk ukuran buletin kampus manapun di negeri ini? Wallahu a’lam.
Hendra Sugiantoro
Karangmalang Yogyakarta 55281

Catur Pusat Pendidikan Profetik

Dimuat di Rema Post Edisi 4/Tahun IV/Agustus 2010

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memiliki visi membangun insan yang cendekia, mandiri, dan bernurani. Jika pun urutan kata itu dibalik menjadi bernurani, cendekia, dan mandiri, inti dari dari visi tersebut terangkum dalam satu tema: pendidikan profetik. Memang hal ini tampak memaksa,namun bukan tak berdasar.

Sebagaimana kita ketahui,perwujudan visi UNY tersebut tetap memiliki landasan pijak transendensi. Sejak posisi rektor dijabat Sugeng Mardiyono hingga Rochmat Wahab, aspek transendensi kerapkali ditekankan. Mungkin kita masih ingat seruan almarhum Sugeng Mardiyono bahwa ibadah merupakan dasar usaha perwujudan insan cendekia, mandiri, dan bernurani. Dengan dasar ibadah, penyelenggaraan proses pendidikan di UNY tidak semata mementingkan aspek lahiriah, tapi juga batiniah. Ridha Ilahi menjadi koridor dalam upaya perwujudan visi tersebut (Lihat, Majalah Pewara Dinamika UNY Vol. 8, No.11 Juni 2007).

Secara implisit, dari paparan di atas, pendidikan profetik menjadi kunci membangun masyarakat kampus UNY. Malah dapat dikatakan, visi UNY akan terwujud jika mampu menyatukan dimensi humanisasi, liberasi, dan transendensi—meminjam konsep ilmu sosial profetik Kuntowijoyo. Dalam hal ini, transendensi adalah landasan dan arah dari humanisasi dan liberasi. Keimanan tetaplah menjadi kerangka dalam proses pendidikan di kampus ini. Pendidikan profetik tidak sekadar mendeskripsikan dan mentransformasikan gejala sosial semata. Pendidikan berparadigma profetik tidak hanya mengubah sesuatu hanya demi perubahan. Lebih dari itu, pendidikan berparadigma profetik mengarahkan perubahan atas dasar cita-cita etik dan profetik (Pujiriyanto:2006).

Dimensi humanisasi dan liberasi dalam pendidikan profetik bukan diarahkan pada antroposentrisme yang menjadikan manusia sebagai pusat segalanya. Setiap proses pendidikan di UNY untuk mengangkat martabat manusia (humanisasi) dan membebaskan manusia dari ketertindasan (liberasi) mengajak setiap sivitas akademika memiliki ketertundukan pada Tuhan yang memang diciptakan Tuhan untuk beribadah kepada-Nya dan memakmurkan kehidupan di muka bumi-Nya. Dalam pendidikan profetik, sivitas akademika UNY tidak hanya diarahkan untuk memiliki kesadaran kemanusiaan, tapi juga memiliki kesadaran ketuhanan.

Untuk menjalankan pendidikan profetik di UNY, ada empat tempat yang harus dioptimalkan. Empat tempat ini disebut dengan "catur pusat pendidikan profetik": ruang kuliah, perpustakaan, tempat ibadah, dan organisasi kemahasiswaan. UNY dengan visinya memang harus menjadikan empat ruang ini menjadi kesatuan sistem. Proses pendidikan tidak semata berhenti pada ruang kuliah, tapi juga menjadikan perpustakaan sebagai sarana mengkaji, menelaah, dan mendalami pelbagai disiplin ilmu. Organisasi kemahasiswan juga menjadi sarana pembelajaran mahasiswa. Begitu juga tempat ibadah seperti masjid tak boleh dilupakan dalam sistem penyelenggaraan pendidikan di UNY. Catur pusat pendidikan ini perlu berjalan sinergis. Pertanyaannya, apakah "catur pusat pendidikan" di UNY itu telah menjadi kesatuan organik? Atau malah terkesan bergerak sendiri-sendiri?

Dengan sinergisitas catur pusat pendidikan, maka akan dilahirkan—menurut istilah penulis: "intelektual profetik". Istilah ini tentu masih bisa didiskusikan. Meminjam konsep intelektual (rausyan fikr) Ali Syariati, intelektual profetik memiliki kesatuan dalam pikir dan tindakan, tidak hanya berkutat pada teori dan gagasan, tapi juga terlibat dalaml angkah operasional. Intelektual profetik adalah penentu sekaligus pelaku sejarah, mengamati fenomena kehidupan dan mampu bersikap kritis (Lihat, Hendra S, Intelektual Profetik, Progress edisi Ospek UNY, 21/8/2009). Intelektual profetik siap menjadi pemimpin bagi masyarakat, hidup bersama masyarakat, dan berjuang untuk memerdekakan masyarakat dari keterpenjaraan, keterpurukan, kejahilan, dan ketertindasan. Bahkan, seorang intelektual profetik tidak anti terhadap kekuasaan dengan dalih akan dituduh sebagai pengkhianat intelektual. Seorang intelektual tetap perlu terlibat dalam kekuasaan karena wilayah kekuasaan juga bagian dari perbaikan masyarakat. Intelektual profetik—meminjam Dwi Budiyanto (2009)—tidak berhenti pada penguasaan ilmu semata, tapi juga terjadi transfer of learning. Artinya, apa yang dipelajari dalam belajar membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku sebagai upaya menjadi manusia paripurna.

Memandang perjalanan UNY, kerja-kerja dalam mewujudkan insan yang cendekia, mandiri, dan bernurani tentu tak henti dilakukan. Namun, menurut penulis, proses pendidikan tidaklah semata terjebak dan berkutat pada pendidikan karakter. Pendidikan karakter penting, namun bukan segalanya. Pendidikan profetik lebih luas dari itu. Pendidikan profetik mencakup pendidikan keimanan, pendidikan akal, pendidikan akhlak, pendidikan moral, pendidikan jiwa, pendidikan sosial, dan pendidikan fisik. Begitu juga pendidikan profetik mencakup pendidikan karakter. Pun, pendidikan profetik mencakup pendidikan multikultur! Untuk menjalankan pendidikan ini—sekali lagi---UNY perlu menata dan mengelola "catur pusat pendidikan profetik" agar berjalan sinergis.

Tampaknya tulisan ini tak bisa terlalu panjang karena keterbatasan kolom. Apa yang disampaikan penulis di atas perlu didiskusikan lebih lanjut. Koreksi dan masukan tentu diperlukan di tengah kekurangan ilmu dan "kehijauan" penulis. Alangkah diharapkan jika muncul tulisan lebih lanjut untuk menanggapi tulisan ini. Wallahua'lam.

Hendra Sugiantoro

Memfungsikan Humas dalam Gerakan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Bedah Buku Kedaulatan Rakyat, Minggu 1 Agustus 2010
Judul Buku: Humas Gerakan (Membangun Citra Gerakan) Penulis: Edo Segara Penerbit: Muda Cendekia, Jakarta Cetakan: I, 2010 Tebal: 146 halaman
TERKAIT fungsi dan kedudukan humas sepertinya ingin ditegaskan kembali Edo Segara dalam buku ini. Edo Segara sebagai penulis buku menuturkan bahwa humas memang berperan penting dalam komunikasi organisasi. Hal ini mengingat organisasi sebagai suatu sistem kemanusiaan juga harus berhubungan dengan lingkungannya, baik secara luas (nasional, regional, ataupun internasional) maupun secara sempit (dalam hubungan kerja atau perwakilan). Untuk menjaga mutu hubungan tersebut, maka diperlukan komunikasi yang tepat.

Peningkatan mutu dalam komunikasi merupakan lahan kegiatan humas (public relation). Setiap organisasi dari kegiatan awal sampai akhir akan melalui berbagai bentuk dan tahap kegiatan yang harus menyatu dan terpadu dalam rangka mencapai mutu terbaik. Perekat dari tahap semua kegiatan itu dan usaha itulah yang disebut kegiatan humas (public relation).

Lebih penting dalam buku ini adalah penulis buku memfokuskan humas pada organisasi gerakan. Menjadi hal yang utama bagi humas organisasi gerakan untuk mampu mengemban fungsi dan tugasnya dalam melaksanakan hubungan komunikasi baik ke dalam (intern) ataupun keluar (ekstern ). Begitu pula kemampuannya untuk menjembatani atau membangun komunikasi dengan masyarakat luar. Menurut penulis buku, ada perbedaan karakter antara humas dalam organisasi gerakan dengan humas sebuah produk komersial, humas pemerintah, atau humas hotel berbintang lima.Dengan hadirnya buku ini setidaknya dapat menambah wacana dan referensi terkait humas. Meskipun masih dijumpai kekurangan, buku ini bisa menjadi bahan telaah dan kajian bagi para aktivis untuk menghidupkan fungsi humas dalam organisasi gerakannya. Buku ini menerangkan pelbagai hal agar humas organisasi gerakan dapat berfungsi secara baik dan prima. Membaca buku ini, ada pemaparan dari penulis buku mengenai landasan, karakteristik dan urgensi dari humas gerakan. Tujuan humas gerakan, ruang lingkup humas gerakan, dan manajemen humas gerakan juga dipaparkan dalam buku ini. Adapun strategi membangun opini gerakan, strategi pencitraan gerakan, komunikasi dan jejaring gerakan dijelaskan penulis buku dalam bab-bab tersendiri yang tentunya menarik disimak.
Hendra Sugiantoro, Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta.

Mari Sambut Ramadhan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Harjo Forum Harian Jogja, Agustus 2010
Bulan Ramadhan 1431 H sesaat lagi tiba. Dalam hitungan jam melewati hari, kita tak terasa akan berhadapan dengan bulan suci umat Islam itu. Pelbagai persiapan pun telah dilakukan untuk menyambutnya. Begitu pula pesan maupun nasehat senantiasa terdengar agar kita benar-benar siap menjalankan ibadah selama Ramadhan dengan segenap hati dan pikiran. Bagaimanakah persiapan kita menghadapi bulan Ramadhan tahun ini?

Berkaitan dengan bulan Ramadhan yang hampir menjelang, ada pesan menarik dari Ketua Himpunan Aktivitas Kajian Agama Jama'ah Mushala al-Furqan (HASKA JMF) FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta 2010, Ulil Albab. Pesan Ulil Albab dimuat dalam buletin Iltizam edisi ke-3 Spesial Ospek pada halaman 5 yang terbit saat Ospek UNY 2010 lalu. Berikut pesan beliau, "Ramadhan sebentar lagi tiba. Siapkan hati, jiwa dan jasad kita untuk menyambut sang tamu agung. Sambut dengan riang gembira bulan yang penuh berkah, rahmat, dan maghfirah dari Allah. Mari kita jadikan pagi, siang, dan malam Ramadhan kita bermakna ibadah di sisi Allah. Kalau Ramadhan tahun kemarin kita belum berhasil, maka jangan sia-siakan kesempatan ini. Sebelum menyesal di akhir, lebih baik kita siapkan lebih awal. Marhaban Ya Ramadhan..."

Sebagaimana dituturkan Ulil Albab, titik penting dari persiapan menyambut dan kelak menjalani bulan suci Ramadhan adalah persiapan hati, jiwa, dan jasad kita. Pastinya kita berdoa dan berusaha agar Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Dengan izin Allah SWT, semoga kita berhasil meraih predikat takwa. Marhaban Ya Ramadhan...(Hendra Sugiantoro)

Puasa, Pendidikan Antikekerasan Anak

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Selasa 10 Agustus 2010

Puasa Ramadan akan mulai dijalani umat Islam. Puasa Ramadan tentu tidak sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, tapi pengendalian diri dari setiap perkataan dan perbuatan tercela. Salah satu pengendalian diri itu adalah menghilangkan perilaku kekerasan terhadap anak. Apakah puasa Ramadan juga dijadikan sarana latihan untuk mengekang hawa nafsu yang menjadikan anak sebagai korban tindak kekerasan? Bisakah kasus kekerasan terhadap anak yang sering kali muncul ke permukaan menghilang setelah puasa Ramadan usai?

Pertanyaan di atas tentu penting direnungkan. Sebagai pertanyaan reflektif, kita selayaknya bisa membaca fenomena kasus kekerasan terhadap anak. Sebut saja adanya orang tua yang tega berlaku kasar dan melukai fisik anak. Anak yang semestinya mendapatkan pengasuhan dan kasih sayang orang tua ternyata belum menemukannya secara maksimal dalam lingkungan keluarga. Tak hanya kekerasan secara fisik, tapi anak sering kali mendapatkan kekerasan psikis, kekerasan verbal, bahkan kekerasan seksual.

Melalui puasa Ramadan, orang tua sekiranya perlu melakukan perenungan (muhasabah) terkait interaksinya terhadap anak selama ini. Bagaimana pun, munculnya kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang tua menjadi keprihatinan. Anak yang masih dalam tahap tumbuh berkembang tidak mendapatkan lingkungan kondusif dari lingkungan terdekatnya. Keluarga sebagai lingkungan yang terdekat dengan anak justru sering kali menciptakan suasana tidak nyaman. Orang tua sering kali tidak terkontrol emosinya sehingga begitu mudahnya memukul dan menampar anak. Kekerasan verbal dengan cara membentak anak pun dilakukan orang tua. Tidak hanya dengan membentak dan memaki, tapi juga pernyataan-pernyataan yang merendahkan anak. Ketika orang tua mendapati anaknya bernilai buruk di sekolahnya, ungkapan anak bodoh sering kali mencuat. Ungkapan seperti anak bodoh, anak malas, dan semacamnya meskipun terlihat sepele, tapi tanpa disadari justru berefek kurang baik bagi psikologis anak.
Sikap abai orang tua dalam memelihara dan mengasuh anaknya juga bagian dari kekerasan tersendiri. Ada kalanya anak membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, tapi orang tua terlalu sibuk sehingga kurang perhatian terhadap anak. Tak berhenti pada kekerasan fisik, psikis, dan verbal, anak juga sering kali mendapatkan perlakuan tak senonoh. Kekerasan seksual terhadap anak biasanya dilakukan orang-orang terdekat, sebut saja ada ayah tega memperkosa anaknya atau kakek yang mencabuli anak yang masih polos. Kekerasan seksual terhadap anak ini tidak hanya dilakukan orang terdekat, tapi orang lain yang tidak dikenal sebagaimana kita saksikan dalam kasus kekerasan seksual yang sering kali diberitakan. Belum lagi ketika kita membicarakan perdagangan anak dan anak yang dipekerjakan. Di perempatan jalan, misalnya, kita masih menyaksikan anak-anak meminta-minta ataupun melakukan pekerjaan yang selayaknya tidak dilakukan.

Kasus kekerasan terhadap anak tentu saja bukan hanya catatan hitam orang tua. Puasa Ramadan sebagai media penempaan akhlak hendaknya dijadikan momentum bagi orang tua dan siapa pun untuk memperbaiki sikap dan perilakunya terhadap anak. Pemerintah, masyarakat, dan industri pers yang tanpa disadari menciptakan kekerasan terhadap anak juga perlu melakukan introspeksi. Kekerasan yang bisa disebut adalah sulitnya akses kebutuhan pangan yang sering kali menyebabkan anak menderita busung lapar dan gizi buruk. Kemiskinan penduduk menjadi penyebab hak-hak dasar anak untuk tumbuh berkembang kurang terpenuhi secara layak. Hak anak mendapatkan pendidikan bermutu juga sering kali terhambat karena persoalan biaya sekolah yang tidak proporsional dengan tingkat pendapatan ekonomi orang tua. Kekerasan terhadap anak lainnya yang bisa diungkap adalah kurangnya perlindungan anak terhadap bahaya rokok. Tidak hanya orang tua yang merokok, orang dewasa di sekitar anak juga memberikan contoh perilaku merokok pada anak. Anak yang terkena asap rokok atau yang berani merokok karena mencontoh orang dewasa pastinya akan berdampak pada kesehatan. Begitu juga dengan keberadaan industri pers yang sering kali tidak ramah terhadap anak. Tayangan kekerasan dan kurang mengedepankan moralitas di televisi tentu membahayakan tumbuh kembang anak. Berdasarkan studi psikologi, tayangan kekerasan mudah merasuk pada perilaku anak. Anak yang semestinya mendapatkan asupan yang bergizi bagi tumbuh kembangnya justru tercemari oleh tayangan-tayangan televisi yang tidak ramah anak. Di lingkungan sekolah, anak juga sering kali tidak terlepas dari kekerasan, baik dilakukan oleh oknum guru maupun sesama siswa. Perilaku kekerasan guru terhadap siswanya beberapa kali mencuat ke permukaan. Pun, tindakan kekerasan pelajar (bullying) dimana anak yang lemah selalu menjadi korban anak yang kuat dan sok arogan.

Pastinya, baik orang tua, pemerintah, masyarakat, sekolah maupun industri pers perlu menyadari bahwa kekerasan yang mengancam anak akan bisa berdampak bagi kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara di masa mendatang. Pertama, anak akan mewarisi kekerasan dalam kehidupannya kelak. Kedua, lahirnya generasi masa depan yang penuh depresi dan perasaan traumatis akibat kekerasan yang didapatkan sejak kecil. Ketiga, kurang berdayanya potensi generasi masa depan dalam menghadapi dinamika dan tantangan zaman.

Dalam hal ini, puasa Ramadan hendaknya mampu membangun sensibilitas sosial. Dengan menahan lapar dan dahaga, puasa Ramadan harus dimaknai sebagai pembebasan anak dari cengkereman kelaparan, kesehatan yang buruk, dan pendidikan yang terabaikan. Puasa Ramadan harus dimaknai sebagai sarana meredam dan menghilangkan tindak kekerasan terhadap anak. Anak sebagai generasi masa depan harus hidup secara aman dan mendapatkan kasih sayang sepenuhnya. Salah satu keberhasilan ibadah puasa Ramadan adalah jika kondisi yang belum ramah terhadap tumbuh kembang anak menghilang. Ibadah puasa Ramadan dikatakan berhasil jika kehidupan setelah Ramadan tidak ada lagi kekerasan terhadap anak. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute UNY&Fungsionaris Forum Indonesia

Dunia Kampus Tak Sekadar Akademik

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Harjo Forum Harian Jogja, Sabtu 7 Agustus 2010

Wacana dan persoalan tentang mahasiswa tak pernah usai. Mahasiswa merupakan sosok yang selalu hangat diperbincangkan. Mahasiswa dalam sepak terjangnya tak selalu diapresiasi. Kritik juga menerpa mahasiswa. Pun, ada harapan yang digantungkan kepada mahasiswa. Terkait mahasiswa, banyak pihak telah memperbincangkan dan mengutarakan opini. Begitu juga Ika Feni Setiyaningrum yang mencoba turut memperbincangkan mahasiswa dalam artikelnya di Rema Post edisi 04/Tahun IV/Agustus 2010.
Dikatakan Ika Feni Setiyaningrum bahwa mahasiswa memiliki dunia berbeda dengan dunia siswa SMA. Dunia kampus mengajak mahasiswa bersikap lebih mandiri, pandai menghadapi tantangan dan problematika. Dalam artikelnya yang berjudul Dunia Mahasiswa Tak Sekadar Akademik, Ika Feni Setiyaningrum tampak jelas membangun paradigma bahwa mahasiswa semestinya tak berkutat pada dunia akademik semata. Mahasiswa juga perlu melibatkan diri dalam dunia organisasi mahasiswa. Ika Feni Setiyaningrum, mahasiswi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), itu menuturkan, “Dunia kampus bukan hanya sekadar dunia mencari nilai akademik. Bukan sekadar dunia nongkrong. Dunia kampus, dunia inspirasi perubahan. Dunia kampus, wadah pencetak kader harapan bangsa.” Lebih lanjut Ika Feni Setiyaningrum berujar bahwa mahasiswa tak cukup hanya berkutat pada diktat-diktat kuliah atau mengurus tugas kuliah. “Organisasi, sarana pembentuk mahasiswa bermental matang, mandiri, dewasa. Organisasi, sarana membangun komunikasi dan jaringan. Pengalaman organisasi sebagai bekalan dunia profesi ke depan,” kata Ika Feni Setiyanigrum. Kenapa organisasi sebagai bekalan profesi? Ika Feni Setiyaningrum menjelaskan, “Dunia profesi tak sekadar membutuhkan nilai akademik, IP cumlaude, tapi butuh pula kemampuan komunikasi, kemandirian, kematangan, dan kedewasaan; hasil pengalaman berkecimpung di dunia organisasi.”

Dalam artikelnya di rubrik Gagasan Rema Post edisi 04/Tahun IV/Agustus 2010 pada halaman 5 itu, Ika Feni Setiyaningrum juga menegaskan peran mahasiswa. Ada tiga peran, yakni director of change, iron stock, dan transformator. Berikut penjelasan Ika Feni Setiyaningrum, “Director of change, peran mahasiswa sebagai agen sekaligus pemimpin perubahan masa depan bangsa. Iron stock, pemuda sebagai benih-benih pemimpin masa depan bangsa, penentu arah dan tujuan ke manakah bangsa ini akan dibawa. Transformator, peran mahasiswa sebagai penggerak perubahan...”

Apa yang disampaikan Ika Feni Setiyaningrum lewat artikelnya di Rema Post edisi 04/Tahun IV/Agustus 2010 memang menarik disimak, bahkan didiskusikan. Ada kalimat Ika Feni Setiyaningrum di akhir artikel, “Selamat datang duhai calon pemimpin bangsa di dunia organisasi! Bergabunglah, niscaya akan kau temukan hal yang berbeda di sana. Semoga.” Mungkin karena Rema Post edisi 04/Tahun IV/Agustus 2010 diterbitkan pada hari pertama Ospek UNY 2010 pada Senin (2/8), maka digunakan kalimat itu yang ditujukan kepada mahasiswa baru. Namun, perihal “calon pemimpin bangsa” sebenarnya bisa juga ditujukan kepada siapa pun yang masih mahasiswa. Yang justru lebih menarik adalah kata “semoga” untuk menuntaskan artikel. Dari kata itu, ada harapan yang juga bisa dibaca: mampukah organisasi melakukan hal sebagaimana diutarakan Ika Feni Setiyaningrum dalam artikelnya? Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO

"Progress" Terbit di Ospek UNY 2010

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Suara Karya,Rabu, 4 Agustus 2010
Orientasi studi dan pengenalan kampus atau biasa disingkat Ospek digelar Universitas Negeri Yogyakarta mulai Senin (2/8). Pelaksanaan Ospek UNY 2010 ini berakhir Jumat (6/8). Pada hari pertama pelaksanaan Ospek, Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Jamaah Al-Mujahidin UNY menerbitkan "Progress" edisi khusus. "Progress" tampil dengan empat halaman terdiri dari berita liputan dan satu artikel opini.

Dalam berita liputannya, Ospek tampak masih dianggap penting bagi mahasiswa. Ospek penting untuk mengenalkan kampus kepada mahasiswa baru, tapi perlu menghindari hal-hal yang tidak mendidik seperti perpeloncoan.
alam salah satu alinea, "Progress" menulis, "Memang agenda Ospek sering kali digunakan untuk melatih sensitivitas jiwa sosial mahasiswa baru. Salah satunya dengan penugasan yang akan dikumpulkan panitia untuk disumbangkan dalam kegiatan bakti sosial. Jadi, bukan hanya agar mahasiswa tahu di mana tempat parkir, masjid atau perpustakaan. Meskipun diagendakan pula kegiatan menjelajahi kampus oleh beberapa fakultas."

Ospek yang merupakan tradisi tahunan di kampus tentu memiliki persiapan matang. Di UNY, pada hari pertama digelar Ospek universitas di Gedung Olah Raga (GOR) UNY, dilanjutkan hari kedua dengan display Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Pada hari ketiga sampai hari kelima dilaksanakan Ospek fakultas.

"Progress" menuliskan, "Demi kelancaran saat hari pelaksanaan, setiap fakultas mengadakan technical meeting (TM). Tujuannya adalah mempertemukan peserta dengan panitia pelaksana dan memberikan arahan seputar hari pelaksanaan. Salah satunya Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yang mengadakan agenda pra-Ospek bertajuk 'MIPA goes to GOR'. Acara ini diadakan Sabtu (31/7) di halaman barat Masjid Al-Mujahidin."

"Progress" edisi khusus Ospek UNY 2010 bisa dikatakan tampil lain. Untuk dapat menghadirkan "Progress" dalam setiap pelaksanaan Ospek, kerja keras tentu dibutuhkan tim redaksi.

Pada halaman 3 dan 4, "Progress" menampilkan tulisan Pidi Winata berjudul "Pendidikan Karakter, Mungkinkah Terwujud?" Secara garis besar, opini Pidi Winata menekankan pada sisi implementasi pendidikan karakter, termasuk pula implementasi pendidikan karakter di kampus UNY. Dari identitas Pidi Winata, tertera aktif sebagai trainer muda Profetika Training Center sekaligus sebagai pengelola Rumah Prestasi "Bina Insan Muda Cendekia" Yogyakarta.

Ada kalimat menarik dalam penerbitan "Progress" edisi khusus Ospek ini yakni "Bangun Indonesia madani dari kampus bernurani."

Hendra Sugiantoro
Karangmalang
Yogyakarta 55244
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=259035

Ospek UNY 2010, Rema Post dan Progress Siap Terbit

Oleh: HENDRA SUGIANTORO Harjo Forum Harian Jogja, Selasa 3 Agustus 2010
Media kampus terdapat di setiap kampus. Di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dua media kampus yang dinilai memberikan warna tersendiri adalah Rema Post dan Progress. Dua media kampus ini tidak sekadar menerbitkan media berupa buletin, tapi juga berikhtiar mendidik khalayak. Kontrol sosial memang penting, tapi bukan menghujat. Ada opini mencerahkan yang coba dibangun dua media kampus ini. Dwi Murdaningsih, pemimpin redaksi Positive BEM FMIPA Universitas Diponegoro, tak segan memberikan komentar, “Rema Post, mencerdaskan. Opininya banyak banget, bukan sekadar liputan. Siplah.” Opini yang banyak dalam penerbitan Rema Post tentu tidak diartikan opini mendominasi liputan berita. Membaca Rema Post terbitan 2010, ada reportase utama dalam rubrik Headline, berita-berita ringan di halaman belakang, dan ada berita wawancara. Untuk menjalin komunikasi dengan warga kampus, Rema Post membuka rubrik surat pembaca di mana warga kampus bisa memberikan pendapat dan komentar. Di samping itu, ada rubrik Gagasan, bahkan Rema Post yang terbit 8 halaman memiliki rubrik Sastra pada halaman 7. Rema Post yang diterbitkan Badan Eksekutif Mahasiswa Republik Mahasiswa (BEM REMA) UNY ini sudah cukup lama terbit semenjak tahun 2006. Tentu saja terjadi inovasi dalam bentuk dan isi Rema Post yang tidak sama dari tahun-tahun. Kini di bawah pimpinan umum Nurhayati Budiyanti, Rema Post terus mempertahankan eksistensi sebagai media kampus yang layak ditunggu khalayak kampus. Begitu pula dengan Progress yang memberikan warna religius di UNY. Sesuai dengan visi UNY untuk membangun insan bernurani, cendekia, dan mandiri kehadiran Progress memiliki arti penting. Progress yang diterbitkan Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Jama’ah al-Mujahidin UNY berikhtiar memberikan ilmu, wawasan, dan wacana keagamaan lewat penerbitannya. Dengan penerbitan Progress yang kini di bawah pemimpin redaksi Ayip Miftahuddin, UNY semakin memperkuat unsur pembangunan rohani masyarakat kampus yang diidealkan selama ini. Lantas, bagaimana Rema Post dan Progress menghadapi hajatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) UNY yang digelar pada 2 Agustus-6 Agustus 2010? Sebagai dua media terbaik di UNY, Rema Post dan Progress tentu tidak meninggalkan momentum Ospek. Penerbitan Rema Post dan Progress direncanakan setiap hari. Boleh dibilang penerbitan dalam Ospek ini merupakan edisi khusus. Secara garis besar, pendidikan profetik menjadi tema sentral yang diusung. Tema pendidikan profetik memang menjadi tema dari universitas dalam hajatan Ospek tahun ini. Untuk turut menanamkan dan membangun kesadaran perihal pendidikan profetik di benak mahasiswa baru, Rema Post dan Progress berusaha bekerja secara baik. Tulisan-tulisan opini dipastikan akan mengisi rubrik dan ada liputan dari pelaksanaan Ospek di lapangan. Yang jelas, terbitnya Rema Post dan Progress dinantikan warga kampus yang dinahkodai Rachmat Wahab ini. Wallahu a’lam.(Hendra Sugiantoro)