Hiduplah Sarjana!

Oleh; HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Rabu 6 Oktober 2010

SARJANA berarti sosok yang telah lulus dari bangku perguruan tinggi (baca: Strata 1/S-1). Arti sarjana adalah lulusan S-1 boleh dikatakan telah mengalami penyempitan makna. Dalam Kamus Jawa-Belanda susunan Th Pigeaud, misalnya, “wong sarjana” adalah geleerde, artinya orang terpelajar. Mengacu pada pengertian ini, orang terpelajar berarti sarjana. Sarjana adalah orang yang terpelajar apapun pendidikannnya. Lebih canggih lagi jika mengacu pada Tesaurus Bahasa Indonesia, istilah sarjana mengandung arti cendekiawan, intelektual, jauhari, sastrawan, akademikus, ilmuwan.

Namun, sarjana memang lebih identik dengan lulusan S-1. Dengan berbagai gelarnya, negeri ini pastinya telah melahirkan jutaan sarjana. Sejak zaman belum merdeka, entah berapa banyak sarjana. Bung Karno adalah seorang sarjana teknik yang lulus dari Technische Hoge School (THS) di Bandung (kini Institut Teknologi Bandung, ITB). Dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid II saat ini, menteri-menterinya juga sarjana. Dengan banyaknya sarjana, negeri ini sepatutnya bangga. Namun, di sisi lain, banyaknya sarjana justru membuat gelisah. Pasalnya, banyak sarjana menganggur.

Lihat saja isu yang kerap mengemuka ketika membicarakan sarjana: sarjana dan pengangguran. Kata Wakil Mendiknas, Fasli Jalal (Sabtu, 25/9), jumlah sarjana di negeri ini sedikitnya 14 juta sarjana dan 2 juta di antaranya menjadi penganggur setelah lulus. Meskipun ada sarjana menganggur, ada juga sarjana yang tidak menganggur. Pertanyaannya, sarjana yang tidak menganggur itu kenapa tidak sering diungkap? Apakah tidak membanggakan? Mungkin membanggakan, mungkin saja tidak membanggakan. Sarjana yang bekerja mungkin saja menjadi problem ketika tidak menunjukkan “kesarjanaannya”. Sarjana hanya gelar semata, tapi tak mampu membawa perubahan positif dalam dunia pekerjaan. Ada sarjana bekerja di birokrasi pemerintahan, namun nyaman dengan perilaku negatif yang telah menggejala, seperti korupsi, kolusi, malas, dan lupa memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Kalau begini, persoalan sarjana tidak hanya yang menganggur. Sarjana yang sudah bekerja, tapi miskin prestasi dan rendah integritas juga problem.

Terkait pengangguran sarjana, solusi problem sebenarnya sudah dilakukan. Perguruan tinggi menjalin kerja sama dengan pihak industri untuk mensinkronkan lulusan dengan kebutuhan dunia usaha. Selain itu, kini kewirausahaan (enterpreneurship) telah mengemuka menjadi tema sentral di perguruan tinggi. Malah pinjaman modal bagi mahasiswa atau kelompok usaha mahasiswa digulirkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas lewat Program Mahasiswa Wirausaha (PMW). Melalui program ini, mahasiswa secara individual ataupun kelompok dilatih berwirausaha. Ada beberapa tujuan dari pengguliran program ini. Pertama, menumbuhkan motivasi berwirausaha di kalangan mahasiswa. Kedua, membangun sikap mental kewirausahaan, yakni percaya diri, sadar akan jati dirinya, bermotivasi untuk meraih suatu cita-cita, pantang menyerah, mampu bekerja keras, kreatif, inovatif, berani mengambil risiko dengan perhitungan, berperilaku pemimpin dan memiliki visi ke depan, tanggap terhadap saran dan kritik, memiliki kemampuan empati dan ketrampilan sosial. Ketiga, meningkatkan kecakapan dan ketrampilan para mahasiswa khususnya sense of business. Keempat, menumbuhkembangkan wirausaha-wirausaha baru yang berpendidikan tinggi. Kelima, menciptakan unit bisnis baru yang berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Keenam, membangun jejaring bisnis antarpelaku bisnis, khususnya antara wirausaha pemula dan pengusaha yang sudah mapan. Terdapat program lain untuk menumbuhkan spirit kewirausahaan mahasiswa di perguruan tinggi.

Adanya program tersebut dan program lainnya untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan mahasiswa pastinya perlu diapresiasi. Semoga program kewirausahaan berdampak positif bagi pembangunan karakter mahasiswa. Mahasiswa harapannya tidak berorientasi mencari kerja semata (job seeker), tapi berdaya menciptakan lapangan pekerjaan (job creator). Ketika lulus dari bangku universitas, para sarjana tidak melulu berburu lowongan pekerjaan, namun sudah mampu mandiri. Setelah lulus, seorang sarjana mampu turut serta mengatasi permasalahan ketidakberdayaan ekonomi masyarakat. Seorang sarjana bukan malah menambah deret panjang pengangguran. Tapi, apakah persoalan akan selesai?

Ternyata pola pikir masyarakat perlu juga dirombak. Orang tua dan masyarakat tak dimungkiri masih menghargai orang yang bekerja di kantoran. Orang tua terus menuntut anaknya tak bosan menelusuri iklan lowongan pekerjaan untuk dapat menjadi “orang kantoran”. Masyarakat juga mengukuhkan pola pikir dan cara pandang ini. Tak begitu banyak orang yang menaruh apresiasi terhadap sarjana yang bekerja di sektor nonformal/informal. Repot, bukan?

Sarjana harus bekerja, ini tak bisa diganggu gugat. Entah apapun pekerjaannya, sarjana hanya perlu memberikan kontribusi bagi kebangunan masyarakat. Ketika telah bekerja, “kesarjanaannya” perlu ditunjukkan. Yang bernasib menjadi “orang kantoran”, perlu bekerja penuh kesungguhan dan tidak sekadar asal-asalan. Yang menduduki birokrasi pemerintahan, ada tugas penting: memperbaiki tatanan yang saat ini masih amburadul. Tidak memakan gaji buta, tapi perlu menampilkan pelayanan prima dan menghilangkan perilaku kolusi, korupsi, dan perilaku buruk lainnya. Di lapangan pekerjaan mana pun, sarjana dinantikan kiprahnya untuk turut melakukan pemberdayaan dan pendidikan terhadap masyarakat. Sarjana perlu manjing ing sajroning kahanan dan merubah zaman kalabendu menjadi zaman keemasan Indonesia. Sarjana perlu hidup dengan “menghidup-hidupi” negeri ini. Begitu.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute& Kontributor Pewara Dinamika UNY

Dakwah dan Internet

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Teknologi Suara Merdeka, Senin 4 Oktober 2010

PERKEMBANGAN teknologi terus melaju pesat. Seiring penemuan-penemuan yang berangkat dari imajinasi dan daya pikir, teknologi dipastikan takkan mandeg dalam inovasi. Perkembangan teknologi senantiasa bergerak di tengah laju zaman yang dinamis. Begitu pula dengan teknologi komunikasi dan informasi yang menemukan bentuk-bentuk terbaru dengan beragam jenisnya. Jika dahulu menyampaikan pesan harus melalui kurir/pesuruh, lalu surat pos, kini dalam sekejap bisa sampai ke alamat tujuan dengan menggunakan email. Komunikasi dan penyebaran informasi pun bisa dilakukan dengan jenis-jenis media lainnya yang kini kian marak dimiliki hampir oleh siapa pun.

Dengan perkembangan dan kemajuan teknologi informasi ini, masyarakat sebenarnya dimudahkan. Dakwah juga kian dimudahkan. Kini untuk mendengarkan ceramah pengajian tak melulu harus berhadapan muka dengan ustadz/ulama. Melalui akses internet, masyarakat bisa mendapatkan bahan-bahan bacaan keagamaan sesuai kebutuhan. Bermacam-macam software bernuansa agama bisa didapatkan dengan mengunduh dan membuka situs-situs terkait. Dengan mengakses internet, Alquran, Hadits, dan buku-buku keagamaan yang diformat digital bisa diperoleh dengan mudah. Berbagai organisasi Islam pun telah menyadari pentingnya memiliki website untuk berdakwah dan mengenalkan organisasi kepada khalayak. Lewat internet, penyebaran dakwah berjangkau luas, tak terbatasi ruang dan waktu.

Dalam hal ini, kehadiran dan keberadaan situs-situs keagamaan memang diakui memberikan manfaat. Tulisan-tulisan bisa tersebar dengan memanfaatkan teknologi internet. Jika di zaman dahulu untuk menulis Alquran dilakukan di pelepah korma, batu, kulit dan tulang binatang, daun, dan sebagainya (Ari Hendri:2008), kini tak hanya kertas yang digunakan, tapi juga di ruang-ruang cyber. Tak melulu Alquran, namun juga berbagai tulisan lainnya, baik dalam bentuk artikel, makalah maupun buku. Ada berbagai buku nonfiksi dan fiksi bernafaskan keagamaan bisa diunduh gratis lewat internet, meskipun ada pula yang dikomersialisasikan. Aktivis-aktivis dakwah kerap “mengangkat pena” dengan menyebar tulisan-tulisan bernuansa dakwah melalui media di internet, seperti blog, facebook, dan semacamnya.

Di samping itu, kehadiran citizen journalism juga dapat menopang dakwah. Pengelolaan jurnalisme warga ini ada yang harus melalui proses editing terlebih dahulu. Siapa pun pewarta warga hanya mengirim tulisan dan diseleksi layak tidaknya dimuat oleh pengelola. Di sisi lain, ada yang dibiarkan bebas memposting artikel dan berita kegiatan tanpa proses editing. Dengan adanya citizen journalism, para penggiat dakwah bisa memanfaatkannya untuk mempublikasikan artikel dan berita-berita kegiatan. Dampaknya jelas positif karena juga memantapkan syiar Islam. Jika mengirim pers release ke media cetak konvensional belum tentu akan dimuat, lewat citizen journalism lebih besar peluangnya untuk termuat.

Ditelisik lebih jauh, teknologi informasi yang berkembang kini tak selamanya berdampak positif. Dengan kemudahan melakukan “pengajian di dunia internet”, maka mengakibatkan masyarakat malas ke masjid mengikuti kajian keagamaan. Artinya, masjid sepi dari pemakmurnya. Dengan alasan praktis, banyak orang lebih suka men-download berbagai artikel keagamaan lewat internet ketimbang tekun menghadiri kajian di masjid-masjid. Kemudahan ini juga berdampak kurang baik karena belajar agama tanpa seorang guru. Membaca artikel dan makalah soal agama secara mandiri tidaklah dilarang, namun tak bisa melakukan tanya jika ada persoalan pelik dan masih dianggap bingung. Yang meresahkan, artikel-artikel yang diunduh lewat internet ternyata tak seluruhnya baik bagi masyarakat yang masih awam mendalami agama. Meskipun beraroma agama, tak selamanya tulisan-tulisan di internet memberikan kesejukan dan pencerahan. Justru sebaliknya, tulisan-tulisan di internet malah menyempitkan pemahaman agama, memicu perselisihan, dan menebarkan sikap antipati. Bagi masyarakat yang awam dan masih dangkal pemahaman keagamaannya dimungkinkan menelan mentah-mentah tanpa filtrasi dan sikap kritis.

Selain itu, teknologi informasi berupa internet bisa dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk jalan keburukan. Situs berbau pornografi, misalnya, marak bertebaran. Terkait hal ini, dakwah menghadapi tantangan. Di satu sisi, internet bisa dimanfaatkan sebagai sarana dakwah, namun di sisi lain juga digunakan untuk menyebarkan keburukan.

Di tengah adanya segi buruk internet, segi positif perkembangan teknologi informasi bagi keberlangsungan dan pergerakan dakwah tetap perlu disyukuri. Implementasi rasa syukur ini menghendaki siapa pun dan organisasi Islam mana pun untuk kuasa memanfaatkannya sebagai sarana dakwah. Segi negatif teknologi informasi memang ada, namun bukan berarti menyalahkan teknologi informasi. Bagaimana pun, teknologi informasi sifatnya netral, tinggal siapa dan pihak mana yang menggunakan. Internet bisa digunakan sebagai sarana kebaikan sekaligus keburukan. Pertimbangan kemaslahatan justru menghendaki segenap penggiat dakwah mampu mendayagunakan internet untuk mencerahkan dan mendidik masyarakat. Yang perlu disadari, pilar pendidikan tak hanya keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pilar pendidikan lainnya adalah tempat ibadah dan media massa. Media massa, dalam hal ini internet, juga ikut berperan membentuk dan melahirkan generasi bangsa yang berimtak dan beriptek.

Akhirnya, kita berharap kebaikan bisa diinspirasikan dan didorong dari segala penjuru. Perkembangan teknologi informasi perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk turut membangun kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang berjati diri, berkarakter, dan bermartabat. Dakwah melalui internet bisa dilakukan siapa pun. Pada dasarnya, kewajiban dakwah diamanatkan kepada setiap orang. Tak harus menguasai segala hal, satu kebaikan pun bisa disampaikan dan bernilai dakwah. Dengan menggunakan internet, kita juga berharap dakwah secara bijak bisa berkembang luas. Dakwah bijak yang menentramkan dan mampu menggerakkan perubahan positif. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Penggiat Pena Profetik Yogyakarta

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/10/04/125571/Dakwah-dan-Internet

Selintas Riwayat Aristoteles

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Lampung Post, Senin 4 Oktober 2010
BAGI kebanyakan kita, nama Aristoteles mungkin tak asing lagi. Pemikiran pria yang dilahirkan di Kota Stagira, Makedonia, pada 384 SM ini seolah-olah tak henti dijadikan referensi. Di bangku pendidikan, Aristoteles menjadi salah satu tokoh yang kerap disebut berulang-ulang, terutama dalam kajian mengenai filsafat.

Selain sebagai filsuf, Aristoteles juga diakui sebagai seorang ilmuwan. Aristoteles meninggal dunia sekitar tahun 322 M. Mengenai riwayat Aristoteles, banyak literatur yang bisa dibaca. Dalam buku 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah karya Michael H. Hart, Aristoteles ditempatkan pada urutan ke-13 (Jakarta: Penerbit Hikmah (PT Mizan Publika), cetakan I 2009).

Buku ini diterjemahkan dari buku berjudul 100 A Ranking of The Most Influential Persons in History (Revised and Update), yang diterbitkan Citadel Press, Kensington Publishing Corp, tahun 1992. Adapun urutan pertama adalah Nabi Muhammad saw.

Michael H. Hart lewat buku tersebut menyebutkan bahwa Aristoteles memiliki karya tulis menakjubkan. Michael H. Hart menuliskan, “Tercatat 47 karyanya berhasil diselamatkan, dan daftar tempo dulu mengenai karyanya mencantumkan tidak kurang dari 170 judul. Tapi, bukan sekadar jumlahnya saja, melainkan juga luasnya bidang pengetahuan yang digelutinya yang amat mengagumkan. Karya-karya tulis ilmiahnya nyaris seperti sebuah ensiklopedia pengetahuan ilmiah di zamannya.

Aristoteles menulis soal astronomi, ilmu hewan, embriologi, ilmu bumi, ilmu batuan, fisika, anatomi, fisiologi, dan hampir semua bidang pengetahuan yang dikenal orang Yunani Kuno. Sebagian karya-karya ilmiahnya merupakan kompilasi pengetahuan yang sebelumnya diperoleh ilmuwan lain, sebagian merupakan hasil temuan para asisten yang dipekerjakannya, dan sebagian lagi merupakan hasil dari sekian banyak pengamatan yang dilakukannya.”

Laku menulis Aristoteles bisa dikatakan luar biasa. Michael H. Hart dalam bukunya juga menuturkan, "Aristoteles menulis soal etika dan metafisika, soal psikologi dan ekonomi, soal teologi dan politik, serta soal retorika dan estetika. Dia menulis tentang pendidikan, syair, adat-istiadat bangsa-bangsa kurang beradab, dan konstitusi Athena. Salah satu proyek risetnya adalah pengumpulan konstitusi sejumlah besar negara, yang kemudian diujinya dengan studi perbandingan."

Pengaruh Aristoteles, kata Michael H. Hart, terhadap pemikiran Barat begitu besar. Karya-karya Aristoteles diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa selama zaman kuno dan pertengahan, seperti bahasa Latin, Arab, Italia, Ibrani, Prancis, Jerman, dan Inggris. Dengan karya-karyanya, Aristoteles memang tak sekadar berpengaruh di lingkup Yunani. Michael H. Hart mengatakan karya-karya Aristoteles memiliki pengaruh besar pada falsafah Islam dan selama berabad-abad tulisannya mendominasi pemikiran Eropa.

Dari pendapat dan pemikiran Aristoteles bukan berarti tak lepas dari ketidaksempurnaan. Aristoteles tetaplah manusia biasa yang pemikirannya juga perlu mendapat kritik. Namun, dari selintas riwayat Aristoteles di atas, kita bisa menggali inspirasi dan pelajaran. Wallahualam.

Hendra Sugiantoro

Aktivis Pena Profetik Yogyakarta

Karangmalang, Yogyakarta 55281

Tak Jadi Pegawai, Bisnis Sendiri!

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Resensi Harian Jogja, Kamis 23 September 2010

Judul Buku: Resign and Get Rich: Berhenti Kerja, Jadi Pengusaha Penulis: Edo Segara Penerbit: Leutika, Yogyakarta Cetakan: I, Juni 2010 Tebal: x+212 hlm Peresensi: Hendra Sugiantoro


Pekerjaan adalah ikhtiar hidup yang dilakoni manusia. Masing-masing manusia tak terlepas dari pekerjaan dalam menjalani keseharian. Pekerjaan memiliki rupa-rupa makna. Pada dasarnya, manusia telah dikatakan bekerja ketika mencangkul di sawah, memelihara ternak, memasak, dan merawat kebun. Membersihkan sampah di jalan pun merupakan pekerjaan. Entah mengapa, makna pekerjaan menyempit sekadar pada ruang-ruang formal, seperti menjadi pegawai dan bekerja di kantor.

Pemaknaan menyempit atas pekerjaan ini akhirnya berdampak pada pola pikir dan apresiasi. Begitu banyak orang yang memburu pekerjaan di sektor formal. Lulusan bangku pendidikan pun tak bosan menelusuri iklan lowongan pekerjaan untuk dapat menjadi “orang kantoran”. Tak begitu banyak orang yang bangga bekerja di sektor nonformal. Pola pikir ini berbuah laku untuk terus mengejar posisi di kantor-kantor. Masyarakat juga mengukuhkan pola pikir dan cara pandang ini. Orang-orang yang menduduki posisi di kantor lebih dihargai ketimbang orang-orang yang bekerja di bengkel, di warung, di sawah, bahkan di rumah sendiri.

Pekerjaan yang telah menjadi ukuran sosial dan gengsi memang tak dimungkiri. Pekerjaan pun telah mengalami kesempitan makna sekadar upaya perolehan materi. Orang bersusah payah bekerja untuk dapat mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Orang-orang disibukkan untuk mengejar posisi dalam pekerjaan yang menjamin kehidupan mapan dengan uang berlimpah. Hal ini tak sepenuhnya salah. Siapa pun membutuhkan uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Persoalannya adalah jika pekerjaan sekadar alat mencukupi materi dengan mengabaikan pelayanan prima kepada khalayak. Pekerjaan tak lagi untuk aktualisasi potensi dan memberikan kontribusi.

Buku yang ditulis Edo Segara ini mencoba memberikan pandangan berbeda. Saat ini kewirausahaan (enterpreneurship) telah mengemuka menjadi tema sentral. Di mana-mana selalu terdengar istilah ini. Kewirausahaan menjadi arus utama seiring tingginya tingkat pengangguran. Tantangan hidup yang mendesakkan ketercukupan ekonomi mendorong pihak-pihak terkait mengembangkan jiwa kewirausahaan masyarakat. Di lingkup dunia pendidikan, kewirausahaan relatif telah mengarus lama. Pendidikan kewirausahaan dan kurikulum yang memperhatikan kewirausahaan coba diterapkan. Namun, buku ini tak hanya mengatasi pengangguran. Buku ini justru “memprovokasi” orang-orang untuk keluar dari kantor!


Buku ini menarik ditelusuri karena tak berkutat pada teori njlimet. Penulis buku lebih mengurusi hal-hal praktis yang bisa diterapkan. Arahan dalam melakukan keputusan keluar dari pekerjaan kantor diutarakan sebagai pandangan dan gambaran. Banyak bisnis yang bisa dijalankan, seperti bisnis retail, bisnis franchise, bisnis rumahan, bisnis online, bisnis event organizer, bisnis property, dan bisnis bidang jasa. Penulis buku menjelaskan siasat untuk memulai dan menjalankan bisnis yang menjadi pilihan. Yang menarik, penulis buku tak hanya mengarahkan kita menjadi pebisnis mandiri untuk kepentingan diri semata atau menjadi kaya. Akhlak sebagai pebisnis tetap menjadi kewajiban yang mesti dijalankan.

HENDRA SUGIANTORO

Aktivis Transform Institute

Pers Mahasiswa Itu Mulia

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Suara Merdeka, Rabu 22 September 2010

Beberapa kali muncul unek-unek yang menyoal minimnya semangat penggiat pers mahasiswa menghidupkan media terbitannya sendiri. Penggiat pers mahasiswa lebih suka menulis di koran lokal dan nasional ketimbang menggarap maksimal penerbitan pers mahasiswa. Disadari atau tidak, fenomena semacam itu hampir menggejala di kampus-kampus. Secara ekstrem, terjadi degradasi kualitas pers mahasiswa beberapa tahun belakangan. Jika pers mahasiswa dikatakan bertaji, itu hanya nostalgia generasi lampau.

Dalam hal ini, daya pikat materi mungkin ada benarnya menjadi sebab tidak tertariknya penggiat pers mahasiswa mengeksiskan penerbitannya sendiri. Pragmatisme seakan-akan tampak, dimana menulis sekadar diukur dengan uang. Apalagi dengan terdesaknya mahasiswa untuk memenuhi kebutuhan finansial, menulis di koran-koran dijadikan strategi mencari rupiah. Apa yang dilakukan itu tidak salah, tapi hendaknya sisi perjuangan dan penyampaian pemikiran tidak lenyap. Menulis di koran sebenarnya tidaklah lebih mudah dibanding menulis di media pers mahasiswa. Tidak setiap mahasiswa yang menulis di koran dimuat setelah uji kualitas tulisan. Mungkin juga ada faktor ‘’keberuntungan’’. Menulis di koran juga ilmiah, meski dalam bentuk ilmiah populer.

Pastinya, mahasiswa yang masih awal terlibat dalam pers mahasiswa tidak bisa langsung diarahkan menerbitkan "media unggulan". Ada proses yang dilalui seperti menerbitkan buletin kecil-kecilan sebagai media latihan. Ketika saya membimbing teman-teman pers mahasiswa angkatan muda, buletin empat halaman bisa konsisten terbit sepekan atau dua pekan. Melalui buletin yang empat halaman itu mahasiswa bisa menulis. Apapun isi tulisannya, biarkan buletin kecil-kecilan itu mempublikasikan karya-karya tulisan mahasiswa yang sedikit banyak memberikan kebanggaan.

Bagi saya, adanya fakta enggannya penggiat pers mahasiswa menerbitkan medianya sendiri merupakan bencana. Pikiran penggiat pers mahasiswa perlu diorientasikan ulang. Menulis untuk konsistensi penerbitan pers mahasiswa tidak kurang mulianya dengan menulis di koran. Menulis itu menyampaikan ilmu dan pemikiran. Menulis tidak sekadar mencari honor, tapi membawa misi pencerahan pada kehidupan publik. Menulis juga sebagai alat perlawanan terhadap ketidakadilan dan kezaliman.

Jika penerbitan pers mahasiswa tidak konsisten, maka akar persoalan lebih terletak pada penggiat pers mahasiswa. Perlu ada orientasi dan motivasi bagi penggiat pers mahasiswa bahwa menghidupkan pers mahasiswa itu mulia. Kampus harus dijadikan ‘’wilayah juang’’ penggiat pers mahasiswa dengan torehan penanya.

Hendra Sugiantoro
Aktivis Pena Profetik Yogyakarta
085228438047
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/09/22/124222/Pers-Mahasiswa-Itu-Mulia

Misi Profetik Zakat

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Kamis 9 September 2010

Menjelang akhir ibadah puasa Ramadan, pesan-pesan moral mengeluarkan zakat marak dilakukan. Lembaga-lembaga yang mengelola zakat pun membuat publikasi agar masyarakat mengetahui pilihan tepat untuk menyalurkan zakat. Ceramah dan kajian Ramadan tak ketinggalan menyerukan kewajiban berzakat yang menggenapkan pelaksanaan ibadah puasa Ramadan. Batas maksimal zakat yang merupakan bagian dari rukun Islam ini diberikan sebelum salat Idul Fitri.

Dilihat secara bahasa, zakat memiliki arti tumbuh, berkembang, kesuburan atau bertambah. Zakat dapat pula bermakna membersihkan atau mensucikan. Allah SWT berfirman, “Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka.”(Qs. At-Taubah:103). Dalam kitab Al-Hawiy, Al-Marwadi menyebut zakat sebagai nama bagi suatu pengambilan tertentu dari harta yang tertentu, menurut sifat-sifat tertentu, dan untuk diberikan kepada golongan tertentu. Zakat sebagai ibadah wajib diperintahkan Allah SWT dalam beberapa ayat Al-Qur’an. “Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat,…”(Qs. Al-Baqarah:43). Di ayat lain, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal salih, mendirikan salat dan menunaikan zakat, mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhan-nya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(Qs. Al-Baqarah:277).

Jika diperhatikan, perintah zakat dalam Al-Qur’an selalu disebut setelah perintah salat. Zakat disebutkan oleh Allah SWT bersamaan dengan perintah salat, kata Yusuf Qardhawy, karena keduanya merupakan syi’ar dan ibadah yang diwajibkan. Kalau salat merupakan ibadah ruhiyah, maka zakat merupakan ibadah maliyah dan ijtima’iyah (harta dan sosial). Tetapi, tetap saja zakat juga merupakan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah SWT, maka niat dan keikhlasan merupakan syarat yang ditetapkan oleh syari’at. Tidak diterima zakat tersebut kecuali dengan niat ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT.

Dengan demikian, zakat memiliki dimensi transendental sekaligus dimensi horizontal. Kewajiban zakat mengandung misi profetik dengan pilar transendensi, humanisasi, dan liberasi. Zakat adalah ibadah maliyah yang memiliki dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah SWT. Zakat merupakan perwujudan solidaritas sosial, pernyataan rasa kemanusiaan dan keadilan, pembuktian persaudaraan Islam, dan pengikat persatuan umat dan bangsa. Kelompok masyarakat kaya dan kelompok masyarakat miskin diikat batinnya melalui zakat, sehingga tidak menciptakan jurang yang menganga antara golongan masyarakat yang kuat dengan yang lemah (Budi Dharmawan: 2004). Melalui zakat, kepedulian sosial diwujudnyatakan dimana kelompok masyarakat kaya merasa terpanggil untuk memperhatikan kelompok masyarakat miskin.

Kewajiban zakat memang menyimpan kearifan sosial. Namun demikian, penyaluran zakat dituntut berdaya guna. Artinya, ada sisi pemberdayaan masyarakat dari penyaluran zakat, sehingga para penerima zakat (mustahik) mampu memberdayakan diri. Zakat yang berlandaskan keimanan kepada Allah SWT (transendensi) selayaknya mampu memanusiakan manusia (humanisasi) dan memerdekakan warga dari keterpurukan dan kemiskinan (liberasi). Maka, pemberian zakat yang hanya bersifat karikatif seyogianya tidak terjadi lagi. Justru para penerima zakat diupayakan untuk tidak menerima zakat pada tahun berikutnya. Pemberian zakat yang sekadar belas kasihan cenderung tidak memberdayakan. Pengalaman selama ini ada para wajib zakat (muzzaki) yang memberikan zakatnya sendiri dengan dibagikan kepada warga di sekitarnya. Zakat akhirnya tak lebih dari bantuan yang hanya cukup digunakan sehari-dua hari oleh warga penerima zakat. Dalam hal ini, para muzzaki diharapkan dapat mempercayakan pemberian zakatnya kepada badan pengelola zakat (amil zakat), baik yang dibentuk pemerintah maupun swasta. Kejadian pembagian zakat di mana warga miskin berebutan dan berdesak-desakan mendapatkan zakat berupa uang dan ada yang menjadi korban harapannya tak terulang lagi.

Warga miskin yang menjadi salah satu penerima zakat pastinya bisa diberdayakan lewat potensi dana zakat, sehingga kehidupannya lebih sejahtera. Menurut penelitian UIN Syarif Hidayatullah dan Ford Foundation (2005), potensi zakat bisa mencapai Rp 14,2 triliun. Dari Rp 14,2 triliun itu, Rp 6,2 triliun di antaranya berasal dari zakat fitrah dan Rp 13,1 triliun berasal dari zakat mal. Jika zakat mampu dikelola dengan benar, maka bisa meningkatkan taraf hidup warga miskin. Dana potensi zakat sedapat mungkin dapat mengentaskan kemiskinan yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilansir Maret 2010 lalu menyebutkan masih sekitar 32,53 juta penduduk miskin di negeri ini. Misi profetik zakat menghendaki pemberdayaan masyarakat melalui pembagian zakat sebagai ikhtiar menciptakan keadilan sosial dan kemakmuran yang merata. Kewajiban berzakat harus berdampak bagi peningkatan kesejahteraan hidup warga miskin. Peningkatan kesejahteraan hidup ini juga berarti peningkatan status warga dari mustahik menjadi muzzaki.

Dalam menunaikan kewajiban zakat, alangkah lebih tepat jika para muzzaki tidak bergerak secara individual, tapi mempercayakannya kepada badan pengelola zakat. Pada titik ini, badan pengelola zakat dituntut bekerja profesional dalam mengelola dan menyalurkan zakat. Akuntabilitas tetap perlu dijaga dengan memperjelas sasaran para penerima zakat dan program yang digulirkan dari potensi dana zakat. Zakat untuk modal warga miskin mengembangkan usahanya menjadi salah satu alternatif dengan tujuan taraf hidup warga miskin meningkat. Tentu saja, penggunaan zakat untuk pengembangan usaha bagi warga miskin tetap perlu mendapatkan kontrol dan bimbingan. Dengan pengguliran program-program yang terarah dan berkesinambungan, potensi dana zakat bisa untuk mengatasi kasus kelaparan dan gizi buruk yang kerapkali mencuat di negeri ini. Potensi dana zakat bisa dikelola untuk mencegah anak-anak putus sekolah, perbaikan sarana-prasarana pendidikan, ataupun pengadaan bahan-bahan bacaan yang mencerdaskan. Zakat untuk pendidikan menjadi alternatif untuk turut serta memajukan kualitas anak-anak bangsa. Zakat mengandung misi profetik untuk membebaskan warga miskin dari kemelaratan dan kenestapaan, sehingga mampu berdaya dalam menapaki kehidupan. Penunaian kewajiban zakat harus dapat menyejahterakan setiap warga di negeri ini. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute UNY&Fungsionaris Forum Indonesia (FO-1)

Puasa, Terimakasih Ibu

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Suara Merdeka, Selasa 7 September 2010


Kehadiran seorang ibu di rumah memiliki peran yang bermakna. Ibu hadir dengan kasih sayangnya bagi kehidupan keluarga. Ibu sebagai seorang perempuan telah berkontribusi penting bagi kelangsungan dan kelancaran ibadah puasa Ramadan yang kini tengah dijalankan.

Meskipun tak mutlak menjadi tugasnya, ibu tanpa lelah menghidangkan masakan sehingga anggota keluarga dapat menyantap sahur dan berbuka. Ibu yang harus rela bangun sebelum anggota keluarga lain untuk menyiapkan makan dan minum saat sahur. Saat menjelang berbuka, ibu telah bersiap-siap memasak sehingga makanan dan minuman tersaji. Jasa seorang ibu dalam rumah tangga tiada tara, pun saat bulan Ramadan.

Bagi kebanyakan masyarakat, tugas memasak dan menyiapkan makanan selalu identik dengan perempuan. Wanita senantiasa dipersepsikan sebagai ‘’tukang masak’’ sehingga anggota keluarga yang lain jarang peduli dengan kegiatan masak-memasak. Anggota keluarga yang laki-laki seolah tidak perlu memikirkan masakan dan hanya menunggu makanan terhidang.

Ketika dini hari, anggota keluarga yang laki-laki tahu-tahu sudah berhadapan dengan sajian makanan di meja makan. Begitu juga saat berbuka, sudah tersedia makanan dan minuman.

Pada titik ini, pemahamam peran masak-memasak hanya menjadi tugas perempuan (ibu) memang perlu dibenahi. Terlepas dari itu, ibu memang telah berperan luar biasa di bulan Ramadan ini. Dengan memasak, ibu pada dasarnya telah melakukan ibadah tersendiri. Terhadap peran di bulan Ramadan itu, sepantasnya kalau siapa pun tidak menutup mata. Dalam kondisi apa pun, kehadiran ibu dalam kehidupan keluarga memiliki kontribusi penting, sehingga sewajarnya bila semua menghormati. Terutama bagi anak, ibu telah melahirkan, menyusui, dan membesarkan. Jasa ibu tak mungkin dibalas oleh seorang anak.

Bertepatan dengan bulan Ramadan, kesadaran untuk memuliakan seorang ibu dalam kehidupan keluarga seyogianya bisa tumbuh. Ramadan harapannya bisa mendidik setiap anak memiliki karakter profetik, yakni berbakti kepada orang tua, terutama kepada ibu. Setiap apa yang dihidangkan ibu saat sahur dan berbuka puasa adalah setitik kasih sayang di antara berjuta kasih sayang ibu. Untuk itu, saatnya merasakan kasih sayang ibu untuk kemudian memuliakan dalam perjalanan kehidupan. Bahkan, ibulah yang harus ditemui pertama kali saat Idul Fitri nanti.

Hendra Sugiantoro
Aktivis Pena Profetik Yogyakarta

Karangmalang, Yogyakarta 55281

085228438047