Dakwah dan Internet

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Teknologi Suara Merdeka, Senin 4 Oktober 2010

PERKEMBANGAN teknologi terus melaju pesat. Seiring penemuan-penemuan yang berangkat dari imajinasi dan daya pikir, teknologi dipastikan takkan mandeg dalam inovasi. Perkembangan teknologi senantiasa bergerak di tengah laju zaman yang dinamis. Begitu pula dengan teknologi komunikasi dan informasi yang menemukan bentuk-bentuk terbaru dengan beragam jenisnya. Jika dahulu menyampaikan pesan harus melalui kurir/pesuruh, lalu surat pos, kini dalam sekejap bisa sampai ke alamat tujuan dengan menggunakan email. Komunikasi dan penyebaran informasi pun bisa dilakukan dengan jenis-jenis media lainnya yang kini kian marak dimiliki hampir oleh siapa pun.

Dengan perkembangan dan kemajuan teknologi informasi ini, masyarakat sebenarnya dimudahkan. Dakwah juga kian dimudahkan. Kini untuk mendengarkan ceramah pengajian tak melulu harus berhadapan muka dengan ustadz/ulama. Melalui akses internet, masyarakat bisa mendapatkan bahan-bahan bacaan keagamaan sesuai kebutuhan. Bermacam-macam software bernuansa agama bisa didapatkan dengan mengunduh dan membuka situs-situs terkait. Dengan mengakses internet, Alquran, Hadits, dan buku-buku keagamaan yang diformat digital bisa diperoleh dengan mudah. Berbagai organisasi Islam pun telah menyadari pentingnya memiliki website untuk berdakwah dan mengenalkan organisasi kepada khalayak. Lewat internet, penyebaran dakwah berjangkau luas, tak terbatasi ruang dan waktu.

Dalam hal ini, kehadiran dan keberadaan situs-situs keagamaan memang diakui memberikan manfaat. Tulisan-tulisan bisa tersebar dengan memanfaatkan teknologi internet. Jika di zaman dahulu untuk menulis Alquran dilakukan di pelepah korma, batu, kulit dan tulang binatang, daun, dan sebagainya (Ari Hendri:2008), kini tak hanya kertas yang digunakan, tapi juga di ruang-ruang cyber. Tak melulu Alquran, namun juga berbagai tulisan lainnya, baik dalam bentuk artikel, makalah maupun buku. Ada berbagai buku nonfiksi dan fiksi bernafaskan keagamaan bisa diunduh gratis lewat internet, meskipun ada pula yang dikomersialisasikan. Aktivis-aktivis dakwah kerap “mengangkat pena” dengan menyebar tulisan-tulisan bernuansa dakwah melalui media di internet, seperti blog, facebook, dan semacamnya.

Di samping itu, kehadiran citizen journalism juga dapat menopang dakwah. Pengelolaan jurnalisme warga ini ada yang harus melalui proses editing terlebih dahulu. Siapa pun pewarta warga hanya mengirim tulisan dan diseleksi layak tidaknya dimuat oleh pengelola. Di sisi lain, ada yang dibiarkan bebas memposting artikel dan berita kegiatan tanpa proses editing. Dengan adanya citizen journalism, para penggiat dakwah bisa memanfaatkannya untuk mempublikasikan artikel dan berita-berita kegiatan. Dampaknya jelas positif karena juga memantapkan syiar Islam. Jika mengirim pers release ke media cetak konvensional belum tentu akan dimuat, lewat citizen journalism lebih besar peluangnya untuk termuat.

Ditelisik lebih jauh, teknologi informasi yang berkembang kini tak selamanya berdampak positif. Dengan kemudahan melakukan “pengajian di dunia internet”, maka mengakibatkan masyarakat malas ke masjid mengikuti kajian keagamaan. Artinya, masjid sepi dari pemakmurnya. Dengan alasan praktis, banyak orang lebih suka men-download berbagai artikel keagamaan lewat internet ketimbang tekun menghadiri kajian di masjid-masjid. Kemudahan ini juga berdampak kurang baik karena belajar agama tanpa seorang guru. Membaca artikel dan makalah soal agama secara mandiri tidaklah dilarang, namun tak bisa melakukan tanya jika ada persoalan pelik dan masih dianggap bingung. Yang meresahkan, artikel-artikel yang diunduh lewat internet ternyata tak seluruhnya baik bagi masyarakat yang masih awam mendalami agama. Meskipun beraroma agama, tak selamanya tulisan-tulisan di internet memberikan kesejukan dan pencerahan. Justru sebaliknya, tulisan-tulisan di internet malah menyempitkan pemahaman agama, memicu perselisihan, dan menebarkan sikap antipati. Bagi masyarakat yang awam dan masih dangkal pemahaman keagamaannya dimungkinkan menelan mentah-mentah tanpa filtrasi dan sikap kritis.

Selain itu, teknologi informasi berupa internet bisa dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk jalan keburukan. Situs berbau pornografi, misalnya, marak bertebaran. Terkait hal ini, dakwah menghadapi tantangan. Di satu sisi, internet bisa dimanfaatkan sebagai sarana dakwah, namun di sisi lain juga digunakan untuk menyebarkan keburukan.

Di tengah adanya segi buruk internet, segi positif perkembangan teknologi informasi bagi keberlangsungan dan pergerakan dakwah tetap perlu disyukuri. Implementasi rasa syukur ini menghendaki siapa pun dan organisasi Islam mana pun untuk kuasa memanfaatkannya sebagai sarana dakwah. Segi negatif teknologi informasi memang ada, namun bukan berarti menyalahkan teknologi informasi. Bagaimana pun, teknologi informasi sifatnya netral, tinggal siapa dan pihak mana yang menggunakan. Internet bisa digunakan sebagai sarana kebaikan sekaligus keburukan. Pertimbangan kemaslahatan justru menghendaki segenap penggiat dakwah mampu mendayagunakan internet untuk mencerahkan dan mendidik masyarakat. Yang perlu disadari, pilar pendidikan tak hanya keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pilar pendidikan lainnya adalah tempat ibadah dan media massa. Media massa, dalam hal ini internet, juga ikut berperan membentuk dan melahirkan generasi bangsa yang berimtak dan beriptek.

Akhirnya, kita berharap kebaikan bisa diinspirasikan dan didorong dari segala penjuru. Perkembangan teknologi informasi perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk turut membangun kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang berjati diri, berkarakter, dan bermartabat. Dakwah melalui internet bisa dilakukan siapa pun. Pada dasarnya, kewajiban dakwah diamanatkan kepada setiap orang. Tak harus menguasai segala hal, satu kebaikan pun bisa disampaikan dan bernilai dakwah. Dengan menggunakan internet, kita juga berharap dakwah secara bijak bisa berkembang luas. Dakwah bijak yang menentramkan dan mampu menggerakkan perubahan positif. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Penggiat Pena Profetik Yogyakarta

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/10/04/125571/Dakwah-dan-Internet