Rendahnya Budaya Baca Aktivis

Oleh: HENDRA SUGIANTORO

Dimuat di Opini Jogja Raya, Sabtu 23 April 2011

Saratri Wilonoyudho (2008) pernah mengutarakan sebagian besar kaum mahasiswa telah terjebak di dunia “kapitalistik”. Berangkat ke kampus sekadar ”ritual” saja, tanpa niat tulus untuk mengembangkan intelektualitasnya. Ada beberapa indikator yang dikemukakan Dosen Universitas Negeri Semarang itu, yakni malasnya mahasiswa mengerjakan tugas, malas membeli buku, malas membaca, malas menulis, malas berdiskusi dalam kelas, dan lain-lain. Mahasiswa hanya sibuk menyembah simbol-simbol keilmuan tanpa ”nafsu” dan perasaan untuk mengembangkannya. Targetnya sederhana, dapat ”simbol” intelektual yang berupa ijazah, diterima bekerja di pabrik dengan harapan hidup kaya raya sebagaimana diajarkan di TV-TV swasta negeri ini.

Apa yang diutarakan Saratri Wilonoyudho di atas sepertinya menjadi gejala umum. Di zaman kini sulit mencari mahasiswa yang suntuk bergelut dalam dunia intelektual. Yang dikerjakan mahasiswa hanya rutinitas perkuliahan miskin makna. Sebagian mahasiswa sekadar memenuhi presensi perkuliahan dan memuja budaya instan. Lahirnya budaya ini tentu berawal dari paradigma berpikir pragmatis yang dilanggengkan dalam kebiasaan-kebiasaan bertindak instan. Di lingkup kampus, para mahasiswa umumya menggemari budaya menyontek, copy paste tugas-tugas perkuliahan, CSSA (Catat Skripsi Sampai Abis), hingga mengklaim artikel internet sebagai karyanya (Rahmah Purwahida, 2008). Pertanyaannya, apakah kondisi seperti itu juga melanda aktivis mahasiswa?

Aktivis mahasiswa merupakan bagian dari mahasiswa yang menempuh studi di perguruan tinggi. Karena aktif dalam organisasi kemahasiswaan, sebutan aktivis mahasiswa pun melekat. Yang justru menyedihkan, jika rendahnya tradisi intelektual ternyata juga merambah kalangan aktivis mahasiswa.

Disadari atau tidak, dalam ruang organisasi kemahasiswaan ternyata amat jarang ditemui aktivis mahasiswa yang membawa buku dan membacanya. Memang kegiatan-kegiatan seminar dan diskusi publik digelar, tapi aktivis mahasiswa tampaknya lebih cenderung hanya bangga menjadi panitia kegiatan! Sebagian aktivis mahasiswa dapat dikatakan sekadar disibukkan dengan menggelar kegiatan-kegiatan. Waktu, pikiran, dan tenaga habis untuk penyelenggaraan kegiatan tanpa pernah memberi asupan pemikirannya. Bahkan, adanya aktivis mahasiswa yang buta isu-isu aktual tak dimungkiri. Jika pun mengetahui perkembangan aktual hanya bermodalkan ”katanya”.

Adanya fakta minimnya budaya membaca di kalangan aktivis mahasiswa tentu menggelisahkan. Sebagai komponen mahasiswa yang diposisikan berada di ”kelas elite”, aktivis mahasiswa selayaknya menjadikan tradisi membaca sebagai keniscayaan. Selain budaya membaca yang minim, budaya menulis di kalangan aktivis mahasiswa pun terbilang rendah. Diskusi yang dilakukan di kalangan aktivis mahasiswa juga kurang berbobot. Diskusi yang dilakukan tidak menambah kapasitas pemikiran dan sering kali justru urusan yang remeh-temeh. Membaca pun jarang, apalagi mendiskusikan persoalan-persoalan politik, pendidikan, kebudayaan ataupun ekonomi yang tengah menghangat.

Pada titik ini, saatnya aktivis mahasiswa melakukan introspeksi. Budaya membaca harus disadari sebagai kewajiban asasi seorang aktivis mahasiswa. Memang masih ada aktivis mahasiswa yang memiliki tradisi intelektual dalam aktivitasnya, hanya saja aktivis mahasiswa seperti ini tidaklah seberapa dibandingkan aktivis mahasiswa yang bergerombol dalam organisasi kemahasiswaan. Kondisi ini selayaknya dikoreksi karena justru menyebabkan organisasi kemahasiswaan kurang berjalan dinamis. Tanpa kuatnya tradisi membaca yang terjadi hanyalah pendewaan terhadap asumsi-asumsi. Berbicara kemiskinan penduduk, tapi tak bisa memaparkan data kemiskinan. Ketika berbicara mengenai isu-isu lokal maupun nasional kerap tanpa kajian mendalam. Akhirnya, aktivis mahasiswa kurang memahami persoalan secara lebih mendalam ketika melakukan gerakan.

Tradisi membaca telah dicontohkan founding father’s negeri ini. Soekarno, Muhammad Hatta, Syahrir, Natsir, dan lainnya adalah sosok-sosok yang gila bahan bacaan ketika menjadi mahasiswa. Aktivis mahasiswa perlu meneruskan tradisi itu. Dari membaca, lahirlah pemikiran-pemikiran progresif dalam memajukan negara. Dengan membaca, mahasiswa bergerak tidak hanya bersenjatakan semangat saja, tapi gerakan yang berbasis intelektualitas. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO, pegiat Transform Institute Yogyakarta