Sekolah Profetik

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Lampung Post, Senin 27 Desember 2010

Sekolah adalah bagian dari pilar perubahan sosial. Pendidikan sekolah tak sekadar memberikan pelajaran dan meluluskan peserta didik, namun harus mampu membentuk peserta didik menjadi manusia seutuhnya. Dalam pendidikan di sekolah, peserta didik tak hanya diarahkan cakap menguasai ilmu pengetahuan. Peserta didik juga diarahkan untuk berpikir dan menghadapi realitas sosial agar nantinya mampu memberikan kontribusi.

Pada titik ini, sekolah profetik menemukan relevansi. Di tengah fakta dunia pendidikan yang masih buram, sekolah perlu bertransformasi menjadi sekolah profetik. Meminjam konsep Kuntowijoyo, sekolah profetik berjalan dengan tiga pilar: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Sekolah profetik memahami hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan yang dititahkan untuk beribadah dan memakmurkan kehidupan. Ibadah bermakna luas. Guru yang mengajar dan mendidik menjalankan laku ibadah. Kesadaran ibadah perlu dimiliki para pengambil kebijakan di sekolah, sehingga mampu merumuskan kebijakan yang tepat. Mendidik peserta didik merupakan ibadah yang menjadi motivasi guru bekerja penuh dedikasi dan semangat.

Kesadaran ibadah juga ditanamkan kepada peserta didik. Tekun belajar dan mempelajari ilmu pengetahuan bukan beban dan tuntutan menghadapi ujian sekolah, tapi memang kewajiban. Transendensi menjadi pijakan dan arah bagi proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Keimanan kepada Tuhan harus diimplementasikan dalam gerak amal. Guru harus memanusiakan peserta didik sebagai individu manusia yang memiliki potensi. Hubungan antara insan pendidikan di sekolah haruslah humanis. Kebijakan-kebijakan yang dibuat sekolah tidak mendiskriminasikan peserta didik, karena siapa pun memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu. Sekolah profetik memberikan peluang setara bagi seluruh peserta didik dengan perbedaan potensi, kemampuan, status sosial, dan ekonomi. Saling menghargai ditanamkan antara satu dengan lainnya dalam komunitas masyarakat sekolah.

Sekolah profetik adalah sekolah yang membebaskan. Peserta didik menjalankan pendidikan di sekolah tanpa perasaan tertekan, terasing, tertindas, dan dikucilkan. Hak yang sama mendapatkan pendidikan menghendaki guru memerdekakan peserta didik untuk terlepas dari ketidaktahuan dan kebodohan. Proses pembelajaran tidak menjauhkan peserta didik dari realitas sosial. Peserta didik dilibatkan dengan persoalan sosial dengan mendiskusikan dan diberi ruang menyampaikan pendapat dan pemikiran. Pendidikan dalam sekolah profetik mencakup pendidikan keimanan, pendidikan akal, pendidikan akhlak, pendidikan moral, pendidikan jiwa, pendidikan sosial, dan pendidikan fisik, pendidikan karakter, dan pendidikan multikultur. Potensi akal, hati, dan jasad dikembangkan secara bersamaan dan seimbang. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Karangmalang Yogyakarta 55281

(Menggugat) Jiwa Sosial Kita

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Senin 20 Desember 2010

Hidup adalah perjuangan, memanglah benar. Banyak masyarakat miskin yang terus berjuang menyambung kebutuhan hidup dengan bekerja keras. Setiap saat membanting tulang untuk dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Namun, di sisi lain, ada sekelompok masyarakat yang bisa dikatakan kaya dan tanpa pusing memenuhi kebutuhan. Uang melimpah yang dimiliki menjamin ketercukupan, bahkan tak sekadar untuk memenuhi kebutuhan dasar semata.

Sekelompok masyarakat kaya begitu cepatnya mengambil uang dan membelanjakannya. Dalam sehari, tak soal jika keluar minimal Rp 1 juta, bahkan lebih dari itu. Lapisan masyarakat kaya ini tak perlu repot-repot membelanjakan uang, karena sepertinya simpanan uangnya tak pernah susut. Di sisi kehidupan lain, ada sekelompok masyarakat yang kesulitan mendapatkan uang. Untuk belanja kebutuhan pokok sehari-hari, pikirannya kusut. Bayangkan dengan penghasilan yang tak menentu, sekelompok masyarakat miskin harus menyediakan kebutuhan dasarnya secara berkesinambungan untuk makan dan kebutuhan lainnya.

Dengan penghasilan Rp 5000, misalnya, ada sekelompok masyarakat miskin harus berpikir agar dapat makan. Belum lagi kebutuhan pendidikan dan kesehatan yang menuntut ketersediaan dana. Penghasilan Rp 5000 setiap hari belum tentu didapatkan, bahkan sehari bisa saja tak mendapatkan sepeser pun uang. Kenyataan ini tidaklah mengada-ada. Coba kita tanyakan kepada tukang-tukang becak yang dalam sehari belum tentu mendapatkan penumpang. Kita juga bisa menengok kehidupan masyarakat yang bekerja serabutan. Masyarakat yang berwiraswasta pun kerap tak jauh beda. Para petani dan pedagang sering kali mengalami kerugian dalam usahanya. Penghasilan tak menentu, bahkan tak menjamin ada. Lebih-lebih bagi sekelompok masyarakat yang tak mempunyai pekerjaan tetap, penghasilan seolah-olah impian di siang bolong. Lantas, bagaimanakah kita membayangkan ini?

Kriminalitas adalah anak dari kemiskinan. Mungkin pernyataan ini ada benarnya. Dengan harga-harga kebutuhan sehari-hari yang melonjak, masyarakat tak mungkin tak makan dalam seminggu. Tak mungkin menahan lapar berhari-hari meskipun penghasilan tak mencukupi. Solusinya adalah berhutang. Berhutang diakui telah menjadi tradisi dalam kehidupan sosial kita. Dalam membiayai anak-anak sekolah, banyak masyarakat yang berhutang. Tak hanya menggadaikan barang, tapi juga meminjam uang kesana kemari. Kebutuhan selain pendidikan pun sering kali berhutang.

Tentu berhutang memiliki kewajiban untuk mengembalikan. Hal ini kerap menimbulkan persoalan. Bagaimana jika tak mampu mengembalikan uang setelah berhutang? Dengan penghasilan yang minim dan tak menentu, masyarakat miskin dilanda kebingungan. Belum hutang terlunasi, masih harus memenuhi kebutuhan hidup di hari-hari berikutnya. Kriminalitas mungkin menjadi solusi. Tanpa berprasangka negatif, fakta ini tak perlu ditutupi. Kita bisa merasakan betapa susahnya menjalani hidup hanya dengan penghasilan Rp 5000-Rp 10.000 setiap hari. Malah penghasilan sebesar itu bisa jadi didapatkan sepekan. Pencurian, penjambretan, perampokan, dan bentuk kriminalitas lainnya sebenarnya bisa menggambarkan belum terjaminnya kebutuhan hidup sebagian masyarakat. Kriminalitas tak melulu dimaknai sebagai tindakan kejahatan, tapi juga sebuah gambaran untuk memahami realitas sosial.

Memaknai kriminalitas seperti itu perlu dilakukan. Kriminalitas memang tindakan tak terpuji, tapi kita perlu memaknai secara lebih mendalam. Siapakah yang salah jika ada yang mencuri uang karena uang di tangannya tak mencukupi untuk membeli beras? Siapakah yang salah jika ada yang bunuh diri karena hutang, nyatanya penghasilannya tak pernah ada untuk melunasi hutang yang menjadi beban?

Ada sekelompok masyarakat di negeri ini yang hidup bermewah-mewah. Sekelompok masyarakat kaya yang membeli makanan tak pernah habis dimakan lalu dibuang di tong sampah. Orang-orang miskin yang menjadi gelandangan memungutinya untuk mengganjal perut seharian. Sekelompok masyarakat yang menampakkan mobil mewah di hadapan anak-anak yang berpeluh di jalanan. Para penyelenggara negara pun seolah-olah membutakan mata, para elite menyiasati anggaran negara untuk melipatkan gaji dan tunjangan di tengah anak-anak putus sekolah. Para elite pun menyaksikan jutaan rakyat terjerat kemelaratan, tapi itu hanya dijadikan tema berebut kursi kekuasaan. Di mulut mengatakan anggaran negara terbatas, tapi tanpa bersalah plesiran ke negeri manca. Berbelanja ke luar negeri dengan harga berbandrol tinggi, padahal masih dijumpai penduduk yang terlilit kelaparan. Elite kekuasaan begitu bangganya melakukan korupsi yang berdampak kian menjeritnya derita masyarakat miskin.

Pada titik ini, jiwa profetik perlu ditumbuhkan. Kebersamaan sebagai sebuah masyarakat dan bangsa harus bermakna substantif Begitu banyak dari kita yang tekun menjalani ritual keagamaan, tapi kita bukan hidup untuk membangun kesalehan pribadi semata. Laku spiritual yang berlandaskan keimanan kepada Tuhan (transendensi) tidaklah bermakna tanpa gerak amal dalam kehidupan. Keimanan harus menggerakkan laku humanisasi dan liberasi untuk membangun kehidupan. Kesenjangan dan ketimpangan sosial adalah kesalahan kita yang tak mampu menyadari kehadiran sesama dan realitas sosial. Kepedulian, solidaritas, dan empati sosial haruslah berjangka panjang.

Jiwa profetik yang berlandaskan transendensi mengarahkan kita membangun kehidupan. Membebaskan sekelompok masyarakat miskin dari keterpurukan dan ketidakberdayaan merupakan sebentuk ibadah. Kita perlu memanusiakan manusia. Jiwa profetik menghendaki kita merasakan denyut kehidupan masyarakat yang masih diselimuti kenestapaan, lalu bertindak memerdekakannya agar sejahtera. Begitu pula para penyelenggara negara berkewajiban dan memiliki tanggung jawab mengatasi kemiskinan dengan membangun sistem yang berkeadilan sosial. Tidak melakukan korupsi, karena korupsi merupakan sebentuk pelanggaran amanat Tuhan yang menyebabkan masyarakat kian menderita. Begitu.
HENDRA SUGIANTORO
PEGIAT TRANSFORM INSTITUTE&FUNGSIONARIS FORUM INDONESIA

“Jalan Baru” Aksi Mahasiswa

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Kampus Suara Merdeka, Sabtu 4 Desember 2010

APA yang disampaikan Fadjroel Rachman di Unnes layak direnungkan mahasiswa maupun gerakan mahasiswa. Saat berbicara dalam Dialog Nasional Revitalisasi Makna Sumpah Pemuda dalam Upaya Perbaikan Bangsa yang diselenggarakan BEM KM Unnes, beliau menegaskan bahwa demonstrasi adalah senjata pamungkas jika semua jalan untuk menyelesaikan masalah di wilayah intelektual gagal (Suara Merdeka, 22/11).

Demonstrasi atau turun ke jalan tidaklah dilarang, namun bukan satu-satunya cara menyampaikan aspirasi. Ada kegelisahan dirasakan ketika tradisi intelektual acapkali diabaikan. Mahasiswa lebih menikmati aksi turun ke jalan setiap menanggapi kebijakan pemerintah maupun isu-isu yang berkembang. Fatalnya, mahasiswa yang berdemonstrasi kerapkali hanya mengikuti komando dan kurang memahami isu dan persoalan secara mendalam.

Dalam ranah intelektual, kajian dan penelitian terhadap isu yang berkembang niscaya dilakukan. Mahasiswa perlu senantiasa menggalakkan tradisi membaca, berdiskusi, dan menulis. Sejauh yang penulis amati, tidak banyak dari mahasiswa yang mengakses perkembangan-perkembangan terkini. Adanya mahasiswa yang buta isu-isu aktual tak dimungkiri. Jika pun mengetahui perkembangan aktual hanya bermodalkan ”katanya”. Tanpa kuatnya tradisi membaca, meneliti, dan berdiskusi, pendewaan terhadap asumsi-asumsilah yang terjadi dalam setiap demonstrasi mahasiswa yang digelar.

Ungkapan klise menyebutkan ada tiga kejahatan intelektual: tidak suka membaca, tidak suka berdiskusi, dan tidak suka menulis. Dengan kata lain, kejahatan inteletual telah dilakukan mahasiswa dengan minimnya tiga laku intelektual tersebut. Mahasiswa seolah-olah tak ada waktu maksimal bergelut dengan teks, melahap bahan bacaan, apalagi menuliskan gagasan dan pemikiran. Padahal, menulis bagi mahasiswa merupakan keniscayaan. Menulis juga bisa digunakan untuk melakukan kritik dan kontrol terhadap penguasa.

Dalam hal ini, menulis selayaknya menjadi “jalan baru” aksi mahasiswa. Media massa bisa digunakan untuk menuangkan gagasan dan pemikiran,. Sebagai bagian dari tradisi intelektual, menulis justru perlu digiatkan. Menulis untuk pembelaan, penyadaran, dan perubahan bisa dilakukan tanpa melulu turun ke jalan. Menulis bisa dijadikan ajang mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak pro-kemaslahatan rakyat. Mahasiswa sekiranya perlu meneladani jejak tokoh-tokoh bangsa tempo silam yang aktif menggoreskan pena, bahkan penerbitan pers menjadi hal penting dalam pergerakan. Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, dan lain-lainnya menuangkan gagasan dan pemikirannya lewat tulisan. Kadang mereka mempublikasikan tulisan dalam bentuk brosur dan pamflet.

Pada titik ini, ada kisah menarik dari Bung Hatta yang bisa dijadikan cermin bagi mahasiswa. Ketika kuliah di negeri Belanda, Bung Hatta turut mengelola surat kabar Hindia Poetra. Bung Hatta mengaku bahwa tulisan pertamanya di Hindia Poetra adalah tulisan ilmiah pertamanya. Tulisan itu diberi judul De economische positie van den Indonesischen grondverhuurder (Kedudukan ekonomi para penyewa tanah orang Indonesia) dan Eenige aantekeningen betreffende de grondhuur-ordonnantie in Indonesi (Beberapa catatan tentang ordonansi penyewaan tanah di Indonesia). Saat itu di Hindia Belanda (sebelum bernama Indonesia) memang lagi hangat isu soal persewaan tanah perkebunan. Dalam membuat tulisan itu, Bung Hatta berjuang mati-matian dengan membaca dan mengkaji pelbagai literatur. Bung Hatta berkata, “Lama juga waktu yang kupergunakan untuk mengarang dua karangan (itu). Kalau aku tak salah, kira-kira enam bulan. Sambil belajar aku mengarang dan sedapat-dapatnya membaca pula buku yang dapat aku pergunakan sebagai bahan atau dasar.”(Parakitri T Simbolon, 2000).

Membaca riwayat tokoh-tokoh bangsa, tulisan memang menjadi hal yang menyatu dalam derap perjuangan. Seiring perkembangan teknologi dan informasi, mahasiswa zaman kini justru harus lebih hebat menghasilkan tulisan. Mahasiswa bisa menulis di banyak media massa, tak hanya media massa cetak, tapi juga bisa menggunakan media massa online. Dengan adanya citizen journalisme, mahasiswa tidak terlalu sulit mempublikasikan tulisan-tulisannya. Semenjak reformasi bergulir, penerbitan media massa tak berbilang jumlahnya. Justru itulah kesempatan bagi mahasiswa menggiatkan laku menulis. Menulis di media massa dapat menjadi ajang dialektika intelektual. Memang ada mahasiswa yang telah menulis di media massa, namun bisa dikatakan belumlah sebanding dengan kuantitas mahasiswa di kampus. Yang perlu ditegaskan, menulis di media massa tak melulu menembus rubrik yang mendapatkan honorarium. Entah dapat uang atau tidak, menulis bisa dilakukan di rubrik media massa manapun, bahkan menulis di surat pembaca. Jika “jalan baru” ini diterima, kelak mahasiswa akan aksi besar-besaran memadati halaman koran. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute Yogyakarta

Ajip Rosidi Mengenang Orang Lain

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Suara Merdeka, Minggu 28 Oktober 2010


Judul Buku: Mengenang Hidup Orang Lain Sejumlah Obituari Penulis: Ajip Rosidi Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta Cetakan: I, Januari 2010 Tebal: x+471 halaman

Mochtar Lubis yang kerap disebut wartawan jihad dengan surat kabar Indonesia Raya-nya dikenal Ajip sebagai orang berpendirian teguh dalam menentang kezaliman dan memperjuangkan martabat kemanusiaan. Keluar masuk penjara dialami Mochtar, baik ketika era Orde Lama maupun Orde Baru.

Mochtar pernah diajukan ke pengadilan dan dijatuhi hukuman sekitar tahun 1950-an. Pengadilan terhadap Mochtar mungkin akibat keberaniannya menguak kasus korupsi dalam birokrasi pemerintahan. Mochtar naik banding, padahal telah disarankan Jaksa Agung Suprapto waktu itu agar menerima saja hukuman yang diberikan berupa percobaan beberapa bulan. Jika naik banding, Mochtar akan terus ditahan selama keputusan belum keluar. Namun, Mochtar menolak, karena menerima keputusan pengadilan berarti mengaku bersalah. Soal prinsip inilah yang menyebabkan Mochtar sejak tahun 1956 sampai tahun 1966 terus ditahan tanpa diadili. Selama penahanan ini tak selamanya dalam penjara, kadang Mochtar menjadi tahanan rumah.

Mochtar pernah menasehati Ajib agar membiasakan menulis setiap hari. Dengan demikian, karya sastra seperti roman bisa diselesaikan di tengah kesibukan sehari-hari. Namun, kata Ajib, nasehat itu tak bisa dilaksanakan. Ajib mengaku menulis karya sastra biasanya sekali jalan. Dalam usia tuanya, Mochtar dilanda kepikunan. Ajib kerap merasa trenyuh menyaksikan kondisi Mochtar yang tergeletak tak berdaya sampai akhirnya menjemput takdir kematian.

Soal Pramoedya Ananta Toer, ada hal menarik dipaparkan Ajib. Ketika Ajib tengah mengetik di rumah sewaannya di Kramatpulo, tiba-tiba terdengar ketukan. Setelah dibuka, Pram lalu berucap, “Kau ada nasi tidak? Aku sudah beberapa hari tidak makan!” Pram memang tengah menghadapi kesulitan keuangan. Surat kabar tidak lagi memuat karangannya, penerbit-penerbit pun tak mencetak lagi karya Pram. Hal itu akibat Pram diidentifikasikan sebagai orang kiri. Terkait dengan Pram, Ajib memiliki pandangan dan argumentasi tersendiri. Pram tidak dekat dengan “orang-orang kiri”, tapi didekati. Hanya kedekatan lalu dituduh sebagai komunis tidaklah terlalu tepat. Kata Ajib, sikap antikomunis yang seperti itu malah menjeremuskan sastrawan seperti Pram dan Utuy T. Sontani ke pihak kiri. Jika dilakukan pula pendekatan dari pihak antikomunis secara manusiawi, sastrawan-sastrawan itu takkan terjerumus ke kubu komunis. Di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Pram hanya dicantumkan namanya dalam susunan pengurus. Namun, Pram tak aktif di dalamnya karena memang tak tertarik pada organisasi. Pencantuman namanya dianggap Pram hanya sebagai kehormatan. Pram pernah menjadi redaktur Lentera dalam surat kabar Bintang Timur. Secara formal, surat kabar itu milik Partindo, bukan media PKI.

Pada masa lalu banyak sastrawan yang memiliki haluan berbeda. Namun, pandangan politik tidak merenggangkan persahatan secara pribadi, termasuk dengan S.I. Poeradisastra—yang saat itu menggunakan nama Boejoeng Saleh. Boejoeng Saleh yang seorang Marxis akhirnya mengakui adanya Tuhan sekeluarnya dari Pulau Buru pada tahun 1976.

Dalam 50 obituari yang dituliskan Ajib, ada sisi-sisi lain yang kerap terlupakan dalam penulisan sejarah konvensional. Bagaimana Ajib mengenang W.S. Rendra, Asrul Sani, Ramadhan K.H, Armijn Pane, Mohammad Diponegoro, dan lain-lainnya? Dapat dibaca di buku ini. Begitu pula ada kenangan Ajib terhadap H. Ali Sadikin, Sjafruddin Prawiranegara, Deliar Noer, dan banyak sosok lainnya. (HENDRA SUGIANTORO)

--

Mengenal Bumi Lebih Dekat




















Oleh: HENDRA SUGIANTORO

Dimuat di Pustaka SKH Kedaulatan Rakyat, Minggu 21 November 2010

Judul Buku: Serba-Serbi Bumi Penulis: Hendra Wisesa Penerbit: Garailmu, Yogyakarta Cetakan: I, Maret 2010 Tebal: 176 halaman

BUMI yang kita pijak terdiri dari berbagai macam unsur dan komponen. Seperti kita lihat, kita bisa menjumpai daratan dan lautan di muka bumi ini. Ada gunung, bukit, sungai, hutan, samudera, benua, dan sebagainya. Kita juga melihat adanya angin, air, awan, kabut, salju, dan sejenisnya. Buku ini menarik dibaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang bumi. Magnetisme bumi, rotasi bumi, dan pemanasan global coba dijelaskan. Dijelaskan juga apa itu atmosfer, ozon, dan semacamnya Pengenalan ini diharapkan agar kita bisa memahami bumi dengan segala isinya.

Apa yang Tuhan ciptakan tentu tidaklah sia-sia. Sebut saja gunung yang mampu berfungsi sebagai penahan dan pengatur angin. Dijelaskan dalam buku ini, suhu mengakibatkan tekanan udara berubah. Beda tekanan antara satu daerah dan daerah yang lain menyebabkan terjadinya angin.

Terkait erosi, buku ini menjelaskan bahwa erosi dalam jumlah tertentu sebenarnya merupakan kejadian yang alami dan baik untuk ekosistem. Namun, erosi yang berlebih tentu menimbulkan masalah. Setelah menjelaskan faktor-faktor penyebab erosi dan jenis-jenis erosi, buku ini memberikan pengetahuan berbagai cara mencegah erosi. Ada banyak cara mencegah erosi, seperti pengolahan tanah, pemasangan tembok batu rangka besi, reboisasi, penempatan batu-batu kasar sepanjang pinggir pantai, pembuatan pemecah angin atau gelombang, dan pembuatan teras pada tanah lereng.

Buku ini berupa ensiklopedi mini, bukan “buku babon”. Meskipun demikian, buku ini sedikit banyak bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita terkait bumi. Karena kita hidup di bumi, kita pun perlu memahami apa-apa yang ada di bumi. Begitu.
HENDRA SUGIANTORO
Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

Belajarlah dari Sejarah Gunung Merapi

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Nguda Rasa Koran Merapi, Jum'at 19 November 2010

GUNUNG Merapi diciptakan Allah SWT tentu tidaklah sia-sia. Terkait gunung, beberapa ayat Al-Qur’an menyebutkan gunung sebagai pasak. Salah satunya dalam surat An-Naba’ ayat 6-7, “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?”. Dengan adanya gunung mencegah kita dari goncangan, “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi agar bumi itu tidak guncang bersama kamu...”(Qs. An-Nahl:15). Gunung Merapi dan gunung-gunung lainnya di Indonesia dan di seluruh dunia menjadi pasak yang berdiri kokoh untuk menunjang kehidupan di muka bumi. Adanya gunung yang aktif dan meletus juga dapat dilihat dari makna ayat tersebut.

Sebagaimana kita ketahui, ada lubang kepundan pada gunung berapi sebagai tempat keluarnya magma dan gas ke permukaan bumi. Magma bersuhu lebih dari 1000 derajat celcius. Suhu ini terus meningkat, bahkan bisa mencapai 9000 derajat celcius sampai 14.000 derajat celcius (Hendra Wisesa, 2010). Agar bumi tak hancur, magma harus dikeluarkan. Ada beberapa manfaat didapatkan dari letusan gunung berapi. Gunung Merapi dan gunung-gunung berapi lainnya bekerja dengan dasar itu. Masyarakat tentu perlu memiliki pengetahuan lebih lanjut tentang hal ini yang disampaikan para ahli dengan bahasa mudah dan jelas dimengerti.

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa Allah SWT harus menciptakan magma yang bersuhu sangat tinggi? Mengapa harus ada gunung berapi? Allah SWT pastinya menciptakan segala sesuatunya dengan kaidah keseimbangan untuk kemaslahatan manusia. Begitu juga perlu ada Gunung Merapi dan gunung berapi lainnya yang menjaga keseimbangan alam. Menurut penulis, ada tugas kita untuk mensyukuri keberadaan Gunung Merapi dan gunung-gunung lainnya. Bagaimana agar kodrat Gunung Merapi yang meletus tidak menjadi bencana? Pada titik ini, kita perlu memahami bahwa letusan Gunung Merapi merupakan hal yang wajar. Yang disebut bencana bukan pada letusannya, namun pada dampaknya yang dianggap buruk. Maka, manusia sebagai khalifatullah fi ardhi perlu memikirkan lebih jauh agar bisa satu jiwa dengan kodrat Gunung Merapi.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Masyarakat tentu perlu memiliki kesadaran bencana, karena Gunung Merapi bisa sewaktu-waktu meletus. Di samping itu, masyarakat juga perlu memiliki kesadaran sejarah. Menurut penulis, kepemilikan kesadaran sejarah justru akan menguatkan kesadaran bencana masyarakat. Ada ungkapan historia docet, sejarah itu memberi pelajaran kepada kita (Shindunata, 2007). Masyarakat perlu belajar dari sejarah untuk lebih baik lagi menghadapi letusan Gunung Merapi dan meminimalisir risiko bencana.

Letusan Gunung Merapi yang terbilang dahsyat pada tahun ini merupakan salah satu pelajaran. Sebagaimana kita saksikan, beberapa orang meninggal dunia, tempat tinggal penduduk rusak berat, sumber nafkah penduduk porak-poranda, dan dampak-dampak lainnya menyertai siklus alam meletusnya Gunung Merapi. Kejadian seperti ini bukan kali pertama, karena sebelumnya letusan Gunung Merapi juga menimbulkan dampak bagi kehidupan, entah dalam skala kecil maupun besar.

Menapaktilasi sejarah, kita perlu menyaksikan kejadian letusan Gunung Merapi beberapa masa sebelumnya. Banyak yang menyebutkan letusan pertama terjadi pada tahun 1006 di mana abu vulkaniknya bisa menyelimuti bagian tengah Pulau Jawa. Tak ada catatan jumlah korban jiwa yang bisa dirujuk pada letusan tahun 1006. Tahun 1006 sebagai letusan pertama ini memang masih menimbulkan perdebatan di kalangan para ahli, namun substansinya adalah kesadaran sejarah bahwa Gunung Merapi telah meletus berabad-abad lampau. Pada tahun 1786, 1822, 1872, dan 1930, Gunung Merapi juga pernah meletus dalam skala besar. Letusan Gunung Merapi kadang menyebabkan nyawa meninggal dunia meskipun tidak selalu ada korban jiwa.

Berdasarkan riwayat, rata-rata Gunung Merapi meletus dalam siklus pendek dan menengah. Siklus pendek antara 2-5 tahun dan siklus menengah antara 5-7 tahun. Meskipun Gunung Merapi pernah tidak meletus begitu lama dari tahun 1587-1658 yang termasuk siklus panjang , namun siklus pendek dan menengah ini perlu dijadikan antisipasi. Gunung Merapi meletus pada tahun 2006, lalu pada tahun ini, itu berarti memang letusan Gunung Merapi memiliki siklus pendek. Masyarakat perlu menyadari fakta sejarah ini.

Betapa pun letusan Gunung Merapi kadangkala menimbulkan kepiluan dan kepedihan, masyarakat tak harus melupakannya. Justru pelajaran bisa dipetik agar siap menghadapi dan menghindari bencana yang diakibatkan letusan Gunung Merapi. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, saat ini waktu dan besaran letusan gunung berapi sedikit banyak bisa diperkirakan. Pasrah terhadap takdir memang benar, namun pasrah harus dibarengi dengan ikhtiar mengantisipasi dan menghindari bencana yang mungkin terjadi. Perubahan status dari Waspada, Siaga, dan Awas pada Gunung Merapi sekiranya perlu mendapatkan perhatian masyarakat. Bagi para peneliti sains maupun teknolog, teknologi untuk menghadapi ancaman dan bahaya Gunung Merapi lebih lanjut lagi, misalnya teknologi menghadapi awan panas, bukan tidak mungkin bisa ditemukan. Begitu pula sarana prasarana evakuasi dan pengungsian warga di wilayah bencana perlu dipikirkan agar lebih mendukung dan representatif.

Allah SWT memang menguji manusia dalam setiap musibah, namun Allah SWT juga menitahkan kita sebagai khalifah. Selain sinyal untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, bencana juga menjadi sinyal agar kita mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang terakhir inilah yang kerap dialpakan. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Transform Institute&Pengelola Pena Profetik Yogyakarta

Merapi 1930

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan Harian Jogja, Jum'at 12 November 2010

Sebagai salah satu gunung yang aktif, letusan Gunung Merapi telah terjadi semenjak berabad-abad lampau. Pada tahun ini, letusan Gunung Merapi kembali terjadi. Banyak yang menyebutkan letusan pertama Gunung Merapi terjadi pada tahun 1006, namun tahun 1006 sebagai awal meletusnya Gunung Merapi masih menimbulkan perdebatan hingga kini. Terlepas dari itu, Gunung Merapi memang telah menghadirkan fenomena.

Dari sejarah meletusnya Gunung Merapi, ada catatan menarik pada letusannya pada tahun 1930. Pada saat itu, dunia tengah menghadapi zaman krisis yang kerap disebut zaman malaise. P. Swantoro dalam bukunya Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu menuturkan, “Pada awal masa malaise itu, pada 18 Desember 1930, terjadilah suatu bencana besar di Jawa Tengah: Gunung Merapi meletus! Tidak kurang dari 1.500 orang tewas dan 2.500 hewan mati. Berhektar-hektar sawah serta ladang hancur, dan ratusan rumah terbakar atau roboh.” (P. Swantoro, Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu, (Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), cetakan I 2002), hlm. 36). Apa yang dipaparkan P. Swantoro itu terdapat dalam laporan G. Vriens dalam majalah Claverbond tahun ke-43, 1931, halaman 85-109. Laporan G. Vriens tentang letusan Gunung Merapi pada tahun 1930 diberi judul “De Merapi”.

Apa yang dialami masyarakat pada tahun 1930 tentu sangat memprihatinkan karena saat itu kondisi kehidupan memang lagi sekarat akibat krisis global. Kehidupan penduduk yang telah mencekam pun kian bertambah mencekam ketika sumber penghidupan luluh lantak. Apa yang dialami masyarakat pada tahun 1930 tentu tak persis dengan kondisi pada tahun 2010. Namun demikian, kita perlu memiliki kesadaran bahwa Gunung Merapi memiliki kodrat untuk meletus. Kesadaran inilah yang menghendaki kita mampu berpikir agar kodrat Gunung Merapi yang meletus itu tak lagi menimbulkan dampak keprihatinan bagi masyarakat. Bagaimana caranya? Perubahan pandangan dan perilaku masyarakat tentang Gunung Merapi dan kreasi teknologi mungkin bisa dilakukan. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Aktivis Pena Profetik Yogyakarta

Sukarno dalam Sisi Terang dan Sisi Gelap
























Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Resensi Buku Harian Jogja, Kamis 11 November 2010

Judul Buku:
Sukarno: Paradoks Revolusi Indonesia Penulis: Tim Seri Buku Tempo Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia&Majalah Tempo Cetakan: I, September 2010 Tebal: x+124 halaman

Negeri ini melahirkan banyak sosok besar. Salah satunya adalah Sukarno. Lahir pada 1901, ia lahir dalam masa mekarnya spirit pergerakan nasional. Sukarno turut berjuang untuk membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan. Perhatiannya terhadap kemerdekaan Indonesia dari belenggu kolonialisme dan imperialisme terbilang besar. Pada 1945, takdir sejarah menempatkan Sukarno sebagai presiden pertama Republik Indonesia berdampingan dengan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden.


Sepak terjang dan perjuangan Sukarno dalam masa pra kemerdekaan dan era kemerdekaan telah tercatat dalam lembaran sejarah. Sukarno bukan sosok biasa yang terlibat dalam perjuangan sekadar mengikuti arus pergerakan, namun ia dikenal memiliki sikap, pendirian, dan konsep. Hal ini bisa jadi wajar sebab Sukarno memiliki kapasitas wawasan, pengetahuan, dan pemikiran yang telah didapatkannya dari pergulatan intelektual panjang. Pun, ia tak melulu berdiri di menara gading, tapi juga turun menyapa rakyat di lapisan bawah. Konsep marhaenisme merupakan salah satu bukti jiwanya menyatu dengan rakyat dan berupaya memerdekakan rakyat dari keterpurukan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan.


Di tengah capaian-capaian Sukarno, ia tentu tetap manusia biasa. Ia memiliki kelebihan dan kekurangan. Jejak Sukarno menggoreskan catatan emas, sekaligus catatan pahit. Ia begitu dikagumi, bahkan ada yang mengkultuskannya. Di sisi lain, tak sedikit yang mengkritik dan menentangnya. Sukarno menyadari hal itu dengan berkata, “Tidak seorang pun dalam peradaban modern ini yang menimbulkan demikian banyak perasaan pro-kontra seperti Sukarno. Aku dikutuk seperti bandit dan dipuja seperti dewa.” Seperti pernyataan jujur Sukarno itu, buku ini juga hendak memaparkan pelbagai fakta perihal Sukarno tak hanya dari sisi terang, namun juga sisi gelapnya.
Sebut saja soal dukungannya terhadap kebijakan romusha semasa pendudukan Jepang. Sukarno sepertinya menanggalkan sikap nonkooperasi yang sebelumnya diterapkannya selama penjajahan Belanda. Sukarno mendukung Jepang dengan sikap pragmatis yang mencengangkan, bahkan menggetirkan. Mengerahkan kecakapannya berorasi, Sukarno membujuk puluhan ribu pemuda untuk bergabung dalam barisan romusha yang dikirim ke kamp-kamp kerja paksa. Sukarno memang mengaku remuk hati mengenang hal itu. Sukarno berkata, “Akulah orangnya. Akulah yang menyuruh mereka berlayar menuju kematian.” Tapi, ia juga mengatakan, “Dalam setiap peperangan ada korban. Tugas seorang panglima adalah memenangi perang. Andaikata saya terpaksa mengorbankan ribuan jiwa demi menyelamatkan jutaan orang, saya akan lakukan.”(halaman 10-11).

Sikap Sukarno yang mendukung kebijakan romusha memang terus menjadi bahan perdebatan sampai saat ini. Pernyataan Sukarno yang mengorbankan ribuan jiwa untuk menyelamatkan jutaan orang malah bisa dianggap sebagai pembelaan Sukarno semata. Tak kalah menariknya adalah perhatian dan kecintaan Sukarno terhadap perempuan. Sejarah mencatat ada sembilan perempuan yang pernah dinikahi Sukarno dari Oetari Tjokroaminoto sampai Heldy Djafar. Dalam urusan percintaan, Sukarno tampaknya tak membeda-bedakan usia ataupun latar belakang seorang perempuan. Heldy Djafar dan Yurike Sanger, misalnya, dinikahi pada usia 18 tahun. Fatmawati dipetik Sukarno pada usia 20 tahun. Ia juga menikahi Hartini saat perempuan itu berusia 29 tahun dan memiliki lima anak. Sementara itu, Inggit Garnasih lebih tua 15 tahun dari Sukarno. Dalam menurutkan perasaan cintanya, Sukarno berani menghadapi tentangan dan halangan. Pernikahannya dengan Hartini, misalnya, mendapatkan cercaan dan protes dari sebagian gerakan perempuan (halaman 26-38).


Dalam tulisan kolom yang melengkapi buku ini, Mochtar Pabottinggi menjelaskan ada kesalahan yang dilakukan Sukarno. Pertama, dengan dukungan militer, ia membubarkan Konstituante yang hampir menyelesaikan tugasnya menyusun konstitusi yang lebih komprehensif. Ia justru memberlakukan kembali UUD 1945. Padahal, sejarah mencatat bahwa Sukarno jauh sebelumnya telah mengakui bahwa UUD 1945 bersifat “kilat” dan “darurat” dan perlu diganti dengan konstitusi yang disusun secara tenang dan seksama. Sukarno juga mengangkat anggota MPRS dan DPRS tanpa proses pemilihan umum. Sebagai pemimpin besar revolusi, ia menjadikan lembaga legislatif mainan lembaga eksekutif. Ia juga membuat lembaga yudikatif tak bergigi (halaman 84-86).
Dalam menjalankan kekuasaannya, Sukarno sebenarnya tak sepi dari kritik. Jika mau jujur, Sukarno sebagai manusia biasa ini termasuk sosok yang telah terjebak dalam hingar-bingar kekuasaan sehingga lupa diri. Dalam masa kekuasaannya, ia juga membuat kebijakan pembreidelan pers. Para pengkritiknya dipenjarakan seperti terjadi pada Sutan Sjahrir, perdana menteri Indonesia pertama.

Mungkin sejarah akan berbicara lain jika Sukarno mampu mawas diri dan mengekang naluri kekuasaannya dengan melakukan regenerasi kepemimpinan.
Apa yang dipaparkan dalam buku ini bukan berarti melulu mengungkap sisi lemah Sukarno. Kisah-kisah lain Sukarno juga diungkap, termasuk perihal Megawati yang seolah-olah menjadi penerus ayahnya. Buku ini juga dilengkapi wawancara dengan penulis buku Sukarno: Biografi 1901-1950, Lambert Giebels. Membaca buku ini tentu tak sekadar membaca paparan fakta sejarah. Lebih dari itu, pelajaran perlu dipetik demi kehidupan negeri ini lebih baik. Di tengah sisi gelap dan kelemahan Sukarno, ia tetaplah sosok besar yang dilahirkan negeri ini. Sukarno pernah berkata jangan sekali-kali melupakan sejarah. Siapa pun bisa belajar dari sejarah Sukarno agar tidak kehilangan tongkat dua kali. Historia docet!
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Pena Profetik Yogyakarta

Bencana dalam Sejarah Dunia




















Oleh: HENDRA SUGIANTORO

Dimuat di Perada Koran Jakarta, Selasa 9 November 2010

Judul Buku: Bencana-bencana Terdahsyat Sepanjang Sejarah Penulis: Yunisa Priyono&Fajar Shodiq Kurniawan Penerbit: Wahana Totalita Publisher, Yogyakarta Cetakan: I, 2010 Tebal: 144 halaman Harga : Rp 27.000

Dampak gempa bumi dan tsunami di Mentawai masih meninggalkan kepiluan. Letusan Gunung Merapi di Pulau Jawa belum berakhir. Beberapa gunung api di negeri ini juga menampakkan geliatnya. Indonesia, harus diakui, tak pernah lepas dari rentetan bencana. Melihat sejarah, bencana bukan berarti hanya milik negeri ini, tapi juga hadir di belahan Bumi mana pun.
Buku ini memaparkan beragam bencana di muka Bumi yang dinilai terdahsyat.

Jika Indonesia seolah-olah tak sepi dari gempa bumi, kejadian alam ini juga terjadi di berbagai negara. Tsunami di Aceh pada 2004 memang terbilang terdahsyat. Bencana ini didahului dengan gempa bumi berskala 9,3 SR yang berpusat di Samudera Hindia, tepatnya sekitar 160 km sebelah barat Aceh, di kedalaman 10 km.
Gempa bumi dan tsunami ini juga menerpa beberapa negara dan sekitar 230 ribu jiwa meninggal dunia. Gempa bumi dan tsunami pernah pula menjadi bencana nasional di Indonesia pada tahun 1992. Ketika itu gempa berskala 6,8 SR mengguncang Flores dan menimbulkan tsunami setinggi 36 meter. Ada sekitar 2.100 jiwa meninggal dunia, 500 orang hilang, dan ribuan bangunan luluh lantak. Di dunia ini, begitu banyak gempa bumi terjadi. Sebut saja gempa bumi 8,3 SR di China pada awal 1556 semasa pemerintahan Kaisar Jiajing sehingga kerap disebut Gempa Besar Jiajing. Akibatnya, sekitar 830.000 jiwa meregang nyawa. Pada tahun 526 SM, gempa bumi pernah terjadi di Antioka, Suriah, dengan kekuatan 7 SR dan menewaskan 250.000 jiwa.

Di Amerika Serikat, badai mematikan sering kali terjadi, sebut saja badai Katrina dan badai Ike. Badai Ike yang terjadi pada tahun 2008, misalnya, menelan korban 10 juta jiwa dan meluluhlantakkan seluruh sendi kehidupan.

Letusan gunung berapi di dunia yang terhitung dahsyat tercatat pernah terjadi di Indonesia.
Sebut saja meletusnya Gunung Tambora dan Gunung Krakatau. Gunung Tambora di Kabupaten Dompu, NTB, meletus pada tahun 1815 dan memakan banyak korban jiwa. Tiga kerajaan ikut musnah, yakni Pekat, Sanggar, dan Tambora. Adapun Gunung Krakatau meletus pada Agustus 1883 setelah 200 tahun tertidur. Orang yang meninggal dunia diperkirakan sekitar 36.417 jiwa. Tak hanya menyemburkan debu vulkanik dengan tinggi mencapai 80 km, tapi juga gempa vulkanik yang menimbulkan gelombang tsunami setinggi sekitar 40 meter.

Dalam sejarah dunia, terjadinya gunung meletus dengan dampak besar sering kali terjadi.
Pada tahun 79 M, Gunung Vesuvius pernah meletus dan mengubur peradaban Pompeii. Gunung Vesuvius terletak di kawasan Campagnia, dekat Teluk Napoli. Letaknya tak jauh dari kota industri dan perdagangan, Pompeii, yang saat itu berpenduduk sekitar 20 ribu jiwa. Akibat debu letusan Gunung Vesuvius, Kota Pompeii hilang selama 1.600 tahun sebelum ditemukan kembali secara tak sengaja.

Hendra Sugiantoro, penulis lepas, tinggal di Yogyakarta


http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=67310

Jejak Langkah "Bung Kecil"















Oleh: HENDRA SUGIANTORO

Dimuat di Bedah Buku SKH Kedaulatan Rakyat, Minggu, 7 November 2010

Judul Buku: Sjahrir, Peran Besar Bung Kecil Penulis: Tim Seri Buku Tempo Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia&Majalah Tempo Cetakan: I, September 2010 Tebal: xx+222 halaman

Membaca hubungan Sjahrir dengan Sukarno sepertinya membaca riwayat persahabatan, sekaligus perseteruan. Hal ini telah terjadi sejak Indonesia belum merdeka. Konon, Sukarno, Hatta, dan Sjahrir pernah bersua di zaman penjajahan Jepang di mana disepakati bahwa Sukarno dan Hatta bergerak di “atas tanah”, sedangkan Sjahrir tetap menyusun perlawanan “di bawah tanah”. Dalam pergerakannya “di bawah tanah”, Sjahrir mendengar Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945. Sukarno membantah informasi itu dan tak menuruti kehendak Sjahrir agar kemerdekaan Indonesia secepatnya diproklamasikan. Pada dasarnya, Sjahrir bermaksud agar proklamasi kemerdekaan tak ada campur tangan Jepang.

Dalam catatan sejarah, julukan “Bung Kecil” kerap ditujukan kepada Sjahrir. Media massa menjulukinya seperti itu setelah menyaksikan foto di Gedung Joang 45, Jakarta. Dalam foto, Sjahrir yang pendek badannya berdiri penuh percaya diri di antara Gubernur Jenderal Belanda Van Mook dan Panglima Sekutu di Indonesia Sir Philip Christison. Foto itu terjepret seorang wartawan usai pertemuan Sjahrir dengan dua petinggi negara luar itu pada 17 November 1945. Dalam pertemuan itu, Sjahrir menentang keras bercokolnya kembali Belanda di Indonesia.

Perjuangan Sjahrir tak lepas dari kontroversi sekaligus menimbulkan polemik. Sebut saja soal Perjanjian Linggarjati, peta Indonesia menjadi ciut meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura. Indonesia pun menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS). Perjanjian Linggarjati kerap dianggap menguntungkan Belanda. Pakar sejarah memiliki penafsiran bermacam-macam soal perjanjian Linggarjati. Saat perundingan Linggarjati, posisi Sjahrir dalam pemerintahan adalah perdana menteri. Perundingan Linggarjati dilaksanakan di tengah gentingnya kondisi Indonesia akibat kedatangan Belanda yang membonceng Sekutu.

Meskipun kerap diselimuti kontroversi, kemerdekaan, kedaulatan, dan eksistensi Indonesia di mata Sjahrir adalah harga mati. Sjahrir menjalankan politik diplomasi dengan pihak lawan meskipun ditentang oleh sebagian pihak. “Bung Kecil” ini pernah membuat kebijakan bantuan beras sekitar setengah juta ton kepada India yang kekurangan pangan pada 1946. Disadari atau tidak, bantuan beras ini sedikit banyak turut membuka mata internasional terhadap keberadaan Indonesia.

Membaca buku ini, jejak Sjahrir di zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang, dan zaman kemerdekaan coba diungkap. Pemikirannya coba digali. Pengkajian pemikiran dan sepak terjang Sjahrir diperlukan demi penemuan pelajaran berharga.
HENDRA SUGIANTORO
Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

Mengenang Tan Malaka, Melawan Lupa

Oleh: HENDRA SUGIANTORO Dimuat di Suara Merdeka, Minggu 31 Oktober 2010
Judul Buku: Tan Malaka, Bapak Republik yang Dilupakan Penulis: Tim Seri Buku Tempo Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia&Majalah Tempo Cetakan: I, September 2010 Tebal: xx+184 hlm

Sosok ini lahir di Sumatera Barat. Tanggal lahirnya simpang siur, banyak yang menyebut pada 2 Juni 1897. Namanya (sempat) tak populer bagi masyarakat negeri ini, khususnya bagi anak-anak di bangku sekolah yang tak menemukan namanya dalam buku profil pahlawan nasional. Padahal, gelar pahlawan nasional telah diberikan kepadanya lewat Keputusan Presiden No. 53/1963. Ia adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka.

Bagi tokoh pergerakan nasional, Tan Malaka sebenarnya bukan nama asing. Ia turut menentang imperialisme dan kolonialisme Belanda. Pemikirannya ternyata dipelajari oleh Bung Karno, WR Soepratman, Sukarni, dan tokoh lainnya. Mungkin diperlukan penyelidikan lebih lanjut siapa yang menggagas pertama kali konsep Republik Indonesia. Tulisan Tan Malaka berjudul Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) bisa menjadi bukti. Tulisan itu lebih dahulu ada sebelum Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) karya Bung Hatta pada 1928 ataupun Menuju Indonesia Merdeka karya Bung Karno pada 1933 (halaman 3). Mestika Zed yang menyumbang tulisan dalam buku ini mengatakan Tan Malaka memilih mengabdikan diri dan intelektualitasnya sebagai nasionalis sejati yang ikut merajut gagasan tentang the imagined community (halaman 151). Tulisan Tan Malaka dibuat dalam bentuk brosur panjang yang kerapkali disebut buku. Entah disebut brosur panjang atau buku, itu hanya persoalan bentuk.

Tan Malaka menulis dalam pengantar Naar de Republiek Indonesia, “Jiwa saya dari sini dapat menghubungi golongan terpelajar (intelektuil) dari penduduk Indonesia dengan buku ini sebagai alat.” Tulisan Tan Malaka dalam bentuk brosur panjang ini memang dibuat di negeri manca. Ketika pertama kali terbit di Kanton pada April 1925 tak jelas berapa eksemplar dicetak. Yang pasti cuma beberapa buah yang berhasil masuk ke Indonesia. Tan Malaka kembali mencetak tulisan panjang itu ketika berada di Filipina pada Desember 1925. Cetakan kedua inilah yang kemudian menyebar luas melalui jaringan Perhimpunan Pelajar Indonesia. Bahkan, para pemuda mengetik ulang buku ini—setiap kali dengan karbon rangkap tujuh. Para pemimpin perjuangan, termasuk Bung Karno yang kala itu memimpin Klub Debat Bandung, membaca buku Tan Malaka (halaman 83).

Selain itu, Tan Malaka juga menulis Massa Actie (1926). Tulisan-tulisan Tan Malaka menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Tokoh pemuda Sayuti Melik, misalnya, mengenang Bung Karno dan Ir Anwari membaca dan mencoret-coret hal penting dari Massa Actie. Salah satu tuduhan yang memberatkan Soekarno ketika diadili di Landrat Bandung pada 1931 juga lantaran menyimpan buku terlarang ini. Tak aneh jika isi buku itu menjadi ilham dan dikutip Bung Karno dalam pledoinya, Indonesia Menggugat. WR. Supratman pun membaca tuntas Massa Actie. Ia memasukkan kalimat “Indonesia tanah tumpah darahku” ke dalam lagu Indonesia Raya setelah diilhami bagian akhir dari Massa Actie, pada bab bertajuk “Khayal Seorang Revolusioner” (halaman 3-4).

Bagi sebagian kita, perihal Tan Malaka dan pengaruh tulisan-tulisannya itu mungkin masih multi tafsir. Benarkah tulisan Tan Malaka mengilhami tokoh-tokoh pergerakan nasional di negeri ini? Membaca buku ini, pastinya kita diajak menelusuri pernik-pernik peristiwa terkait jejak Tan Malaka. Bagi kebanyakan kita, Tan Malaka kerap diidentikkan sebagai tokoh komunis. Namun, Tan Malaka justru kerap berseberangan dengan pikiran dan pendapat kawan-kawannya di PKI, seperti penolakannya terhadap rencana pemberontakan pada 1926. Begitu pula sikapnya yang mendukung Pan Islamisme bertolak belakang dengan pendapat Komunis Internasional. Tan Malaka terlibat dalam dunia pendidikan ketika berada di Deli. Baginya, kemerdekaan rakyat hanya bisa diperoleh dengan pendidikan kerakyatan. Pada 1921, ia hijrah ke Semarang dan mendirikan sekolah rakyat yang kemudian menyebar ke berbagai daerah lainnya (halaman 65-71). Sejak Maret 1922, ia harus menjadi orang yang diasingkan, diburu, dan dijadikan target operasi polisi rahasia Belanda, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat. Ia berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain dengan beragam nama samaran.

Tan Malaka berhasil kembali ke Indonesia pada 1942. Pada 1946, Tan Malaka dan Jenderal Soedirman pernah bertemu dan mempertautkan kesamaan sikap: menentang jalan diplomasi pemerintahanan. Bagi mereka, ”berunding berarti kemerdekaan kurang dari 100%.” Jalan oposisi ini membawa Tan Malaka ke penjara sejak 17 Maret 1946. Saat Agresi Militer Belanda, Tan Malaka disebut turut menggerakkan perang gerilya (halaman 33-44). Berbagai peristiwa terkait Tan Malaka dalam buku ini menarik disimak, seperti soal wasiat Bung Karno kepada Tan Malaka, perempuan terdekat Tan Malaka, misteri kematiannya, dan sebagainya. Tentu, siapa pun tak dilarang bersikap kritis dan membuat penafsiran setelah membaca buku ini. Historia docet.
HENDRA SUGIANTORO

Dahsyatnya Hamka Menulis

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Suara Merdeka, Minggu 31 Oktober 2010
Siapa pun tak asing dengan Tafsir Al-Azhar. Tafsir ini diselesaikan seorang tokoh kelahiran Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, pada 16 Februari 1908. Tokoh ini dikenal sebagai ulama pejuang yang teguh memegang prinsip Islam. Pada 24 Juli 1981, tokoh ini meninggal dunia. Tokoh yang dimaksud tak lain adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka.

Dari usianya, Hamka tak lebih dari 75 tahun. Hamka yang kokoh di jalan dakwah ini tak sekadar berbicara dari mimbar ke mimbar. Pelbagai karya tulis beliau begitu melimpah. Keluasan ilmu beliau bisa dikatakan mengagumkan. Tak hanya persoalan agama, beliau juga menulis tentang politik, sejarah, dan budaya. Buku-buku yang ditulis beliau pun meliputi karya sastra berupa roman/novel. Roman pertamanya berjudul Si Sabariah. Karya-karya tulis beliau seakan-akan melampau usianya. Konon karya beliau yang dibukukan ada lebih dari 100 buku.

Selain aktif di jalur keagamaan dan politik, Hamka memang menerjunkan diri sebagai seorang wartawan, penulis, dan editor. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa surat kabar, seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, Hamka menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, ia bergulat dengan dunia editing dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Ia pernah juga menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam (Saiful Amin Ghofur, 2008:213).

Aktivitas menulis Hamka mungkin memang terbantu ketika beliau aktif di dunia jurnalistik. Meskipun demikian, jiwa menulis Hamka tak mungkin dimungkiri. Jiwa menulislah yang menggerakkan Hamka mengirim artikel ke harian Hindia Baroe ketika beliau menginjak usia sekitar 17 tahun. Beliau tak sekadar menulis, tapi juga beberapa kali menerbitkan majalah. Produktivitas Hamka dalam menulis mungkin tak bisa dibayangkan. Buku-buku beliau antara lain berjudul Tasawuf Modern, Lembaga Budi, Falsafah Hidup, Sejarah Umat Islam, Kenang-kenangan Hidup, dan Ayahku. Beliau juga menerbitkan roman/novel antara lain berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah. Dari beberapa buku dan roman/novel itu dapat dilihat betapa dahsyatnya beliau menulis.

Buku yang dipaparkan di atas hanya sebagian dari karya Hamka. Beliau juga menulis makalah-makalah untuk disampaikan dalam ceramah ilmiah. Dahsyatnya menulis Hamka tak sekadar untuk dikenang, tapi juga dilanjutkan! Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Aktivis Pena Profetik Yogyakarta
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/10/31/128549/Dahsyatnya-Hamka-Menulis

Douwes Dekker dalam Het Tijschrift dan De Express

Oleh: HENDRA SUGIANTORO

Dimuat di Surat Pembaca Suara Karya, Kamis 21 Oktober 2010

Dalam masa penjajahan kolonial Belanda, kita mengenal satu sosok bernama Douwes Dekker. Ia lahir di Pasuruan, Jawa Timur, pada tahun 1879, dengan nama lengkap: Ernest Francois Eugene Douwes Dekker. Pada 25 Desember 1912, ia mendirikan sebuah organisasi Indische Partij bersama beberapa kawannya.

Ada catatan menarik mengenai jejak pers Douwes Dekker. Jika selama ini kita mengenal sebuah terbitan De Express yang dikelola Douwes Dekker, maka sebelumnya Douwes Dekker telah menerbitkan sebuah surat kabar berbentuk majalah. Catatan menarik ini dipaparkan Rosihan Anwar dalam buku berjudul Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 3 (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, cetakan I Juli 2009). Dengan referensi buku karya Kees van Dijk berjudul The Netherlands Indies and the Great War, 1914-1918 (KITLV Press, Leiden 2007), Rosihan Anwar memaparkan bahwa Douwes Dekker mendirikan majalah yang terbit dua kali sebulan pada tahun 1911 di Bandung. Majalah itu diberi nama Het Tijschrift. Setahun berikutnya didirikan surat kabar harian De Express.

Dalam Het Tijschrift dan De Express, Douwes Dekker menyebarkan gagasan politiknya yang militan, menyerukan oposisi aktif melawan ketidakbecusan masyarakat kolonial. Tulisannya berisi hal-hal yang menggusarkan pemerintahan kolonial Belanda. Dalam Het Tijschrift (Februari 1913), Douwes Dekker mengatakan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme merupakan suatu kewajiban moral. Suatu pemerintah kolonial harus ditentang. Betapa pun ramahnya wajah yang diperlihatkannya, kolonialisme tetap merupakan suatu sistem berdasarkan ketidaksamaan keadaan di mana mereka yang lahir sebagai penguasa tidak akan pernah mau menyerahkan hak-hak istimewanya (Rosihan Anwar, Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 3 (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, cetakan I Juli 2009), hlm. 28).

Dari paparan di atas, Douwes Dekker bisa dikatakan sebagai salah satu tokoh yang menggunakan Het Tijschrift dan De Express sebagai alat perjuangan. Pada masa pergerakan nasional, pers memang telah menjadi senjata mewujudkan kesadaran nasional dan kemerdekaan. Douwes Dekker merupakan saudara sepupu dari Multatuli, pengarang novel Max Havelaar. Pada masa Indonesia merdeka, ia berganti nama menjadi Dr. Danudirdjo Setiabudhi. Ia pernah menjadi menteri negara pada masa kabinet Amir Sjarifoeddin (1947) di zaman Soekarno. Douwes Dekker meninggal dunia pada 28 Agustus 1950. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO

Aktivis Pena Profetik Yogyakarta

Karangmalang Yogyakarta 55281

Ketika (Di)keluar(kan) dari Kantor

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Perada Koran Jakarta, Kamis 21 Oktober 2010

Judul Buku: Resign And Get Rich: Berhenti Kerja, Jadi Pengusaha Penulis: Edo Segara Penerbit: Leutika, Yogyakarta Cetakan: I, Juni 2010 Tebal: x+212 hlm Harga: Rp. 39.000,00

Pekerjaan formal seolah-olah menjadi keniscayaan di tengah kepentingan dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Bekerja di kantor/perusahaan mungkin diimpikan banyak orang, karena setidaknya bisa menjamin pendapatan finansial. Berbeda dengan yang bekerja serabutan, penghasilan setiap bulan relatif tak bisa dipastikan. Maka, banyak orang yang ingin menjadi pekerja di kantor/perusahaan.

Buku yang ditulis Edo Segara ini bisa dipandang dari pelbagai perspektif. Dari judulnya, buku ini sepertinya “memprovokasi” para pegawai/karyawan untuk keluar dari kantor/perusahaan. Tidak menjadi pegawai/karyawan pun bisa memperoleh kecukupan finansial, bahkan dimungkinkan berpenghasilan lebih besar dibandingkan ketika menjadi pegawai/karyawan. Namun, pemaknaan terhadap isi buku ini tidak semata seperti itu. Bagaimana pun, pegawai/karyawan tetap dibutuhkan dalam menjalankan roda perekonomian.

Mencermati persoalan manusia dan dunia pekerjaan kerapkali terjadi beberapa. Tak dimungkiri jika ada pegawai/karyawan yang bosan dengan pekerjaannya atau mungkin stress akibat tekanan dari atasannya. Bisa pula ada pegawai/karyawan yang memang ingin berusaha mandiri, sehingga tak ingin lagi bekerja di kantor/perusahaan. Di sisi lain, ada pegawai/karyawan yang menerima pemutusan hubungan kerja (PHK). Terkait beberapa persoalan tersebut, jika memang solusi yang diambil keluar dari kantor, maka harapannya tidak memunculkan masalah lebih lanjut. Begitu pula bagi pegawai/karyawan yang terkena PHK tidak harus berlarut-larut meratapi pengangguran.

Pada dasarnya, banyak bisnis yang bisa dijalankan ketika tak menjadi karyawan/pegawai, seperti bisnis retail, bisnis franchise, bisnis rumahan, bisnis online, bisnis event organizer, bisnis property, dan bisnis bidang jasa. Penulis buku menjelaskan siasat memulai dan menjalankan bisnis tersebut. Agar tidak berujung mengkhawatirkan, kondisi tidak menjadi “orang kantoran” perlu disikapi secara baik dan bijak. Bagi pegawai/karyawan yang mengambil keputusan keluar dari kantor/perusahaan dibutuhkan persiapan dan perencanaan matang. Pelbagai persiapan justru lebih baik telah dilakukan ketika masih menjadi pegawai/karyawan. Pendapatan dari pekerjaan disisihkan sebagai persiapan dan modal ketika benar-benar telah keluar dari kantor/perusahaan. Artinya, memulai usaha mandiri tidak dimulai dari nol. Pegawai/karyawan yang keluar dari kantor dianjurkan berkomunikasi dengan pimpinan kantor dan pihak keluarga agar tak sepihak mengambil keputusan.

Perencanaan dan persiapan penting lainnya adalah dalam memilih usaha bisnis. Kecintaan pada bisnis yang dijalankan menjadi penting agar dapat menikmati dalam pengembangan usaha. Jika tak menikmati, kesuksesan menjadi sulit diraih. Beban mental yang didapatkan dengan mengerjakan bisnis yang tidak dinikmati harus dibayar mahal. Dalam memilih bidang usaha tak harus dengan ide usaha baru. Memperhatikan peluang kebutuhan juga diperlukan dalam menentukan pilihan usaha. Untuk menjalankan bisnis mandiri, fokus pada pasar (market) penting dilakukan. Yang juga ditekankan, manajemen bisnis yang dijalankan hendaknya tanpa menyalahi kaidah moral dan ketentuan agama. Kepedulian sosial perlu dimiliki setiap pebisnis. Usaha mandiri yang dikembangkan perlu kiranya menerapkan corporate social responsibility, termasuk tak lupa dengan zakat perusahaan. Bagaimana pun, setiap usaha yang kita jalankan tak hanya untuk urusan dunia semata, tapi juga investasi akhirat.

Pastinya, berbagai hal dalam buku ini penting dicermati oleh setiap pegawai/karyawan. Bukan tidak mungkin jika pegawai/karyawan harus berhenti bekerja akibat PHK. Agar tidak kelabakan, persiapan dan antisipasi semestinya harus dilakukan semenjak bekerja di kantor /perusahaan. Bukankah begitu?
Hendra Sugiantoro
Penulis lepas, tinggal di Yogyakarta
http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=65666

Jejak Pers Tjokroaminoto

Rata PenuhOleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Opini Kedaulatan Rakyat, Jum'at 15 Oktober 2010

H.O.S Tjokroaminoto adalah sosok besar. Tjokroaminoto telah berjuang menumbuhkan kesadaran nasional. Beberapa tokoh negeri ini telah belajar darinya. Tjokroaminoto merupakan sosok yang ditakdirkan sejarah menjadi “guru tokoh pergerakan”.

Soekarno, Presiden RI 1945-1966, pernah ngangsu kawruh pada Tjokroaminoto. Seni pidato Tjokroaminoto dipelajari Soekarno, sehingga Soekarno pun beroleh kemampuan serupa. Ada beberapa tokoh lain yang menjadi murid dari Tjokroaminoto. Rumah Tjokroaminoto di Surabaya tercatat dalam sejarah menjadi tempat belajar politik yang sekaligus menjadi rumah pergerakan. Ia juga membangkitkan jiwa rakyat untuk bergerak meraih kemerdekaan. Kebesaran yang dimilikinya tetap menjadikan Tjokroaminoto rendah hati. Ia tak sudi dikultuskan dan menolak penyebutan dirinya sebagai Ratu Adil oleh masyarakat ketika itu.

Sosok yang lahir di Bakur, Madiun, pada tahun 1882, ini tentu tak pantas dilupakan. Tjokroaminotolah orang Indonesia pertama yang memperkenalkan paradigma nasionalisme dan tidak mengakui nama Hindia Belanda yang diberikan oleh Belanda untuk Nusantara. Sebagai bangsa timur, Tjokroaminoto lebih bangga menyebut Indonesia dengan Hindia Timur atau Hindia. Ia adalah penggagas pemerintahan sendiri (zelfbestuur) untuk bangsa Indonesia (Iswara N Raditya, 2009). Memang Tjokroaminoto tak sempat merasakan kemerdekaan negeri ini. Ia meninggal ketika proklamasi kemerdekaan masih jauh perjalanan. Namun, perjuangannya akan selalu tercatat dalam tinta emas. Perjuangannya senantiasa berkobar.

Tjokroaminoto tak hanya cakap dalam berorasi yang konon tanpa mikrofon pun bisa terdengar keras (Takashi Shiraisi, 1997), tapi ia juga bersuara keras lewat pena. Tulisan Tjokroaminoto bisa dibilang menjadi salah satu senjata perlawanan yang digunakannya. Ketika wabah komunisme melanda dunia pergerakan, Tjokroaminoto pernah menulis, “Wie goed Mohammedaan is, is van zelf socialist, en wij zijn Mohammedanen, dus zijn wij socialisten.” Kata-kata Belanda itu artinya, “Seorang muslim sejati dengan sendirinya menjadi sosialis, dan kita kaum muslimin, jadi kita kaum sosialisten.” Dengan karya tulisnya berjudul Islam dan Sosialisme yang ditulis pada tahun 1924 itu, Tjokroaminoto melawan siapa pun yang mengagungkan paham komunisme.

Tjokroaminoto boleh dibilang memiliki daya untuk menginspirasi siapa pun. Ide-idenya terbilang luar biasa. Selain disampaikan lewat ceramah, surat kabar menjadi lahan untuknya menyampaikan pemikiran. Dalam buku 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia, tertulis, “Gagasan patriotiknya bisa dilihat dalam berbagai ceramah dan tulisan di media massa seperti Bintang Soerabaia, Oetoesan Hindia, dan Fadjar Asia.” (Tim Narasi, 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia (Yogyakarta: Narasi, cetakan 3 (Edisi Revisi), 2009), hlm.79).

Selama ini Tjokroaminoto lebih dikenal dengan Oetoesan Hindia-nya. Dari catatan, Bintang Soerabaia terbit sekitar akhir tahun 1800-an dengan menggunakan bahasa Melayu. Adapun Oetoesan Hindia, surat kabar ini bisa dikatakan juga menjadi lahan menulis aktivis-aktivis Sjarikat Islam. Bahkan, Tjokroaminoto sendiri yang memimpin surat kabar yang terbit pertama kali pada Desember 1912 itu. Awalnya penerbitan Oetoesan Hindia disokong badan usaha bernama Setija Oesaha yang didirikan Hasan Ali Soerati, pedagang Arab. Tjokroaminoto bisa mengendalikan total Oetoesan Hindia ketika membeli saham Setija Oesaha secara penuh pada 1913. Pada tahun 1913 ini, Tjokroaminoto ternyata tak hanya mengelola Oetoesan Hindia. Pada tahun itu, Tjokroaminoto bersama tokoh lainnya menerbitkan Fadjar Asia.

Lewat surat-surat kabar itu, Tjokroaminoto cukup piawai mengelola penerbitan pers. Oetoesan Hindia, misalnya, diterbitkan lima kali dalam sepekan yang memuat berita, opini, dan iklan. Oetoesan Hindia libur setiap Jum’at dan Sabtu. Berita yang dipublikasikan di Oetoesan Hindia tak hanya dari dalam negeri, tapi juga berita internasional. Karena surat kabar ini dipimpin oleh Tjokroaminoto yang juga sebagai pimpinan Sjarikat Islam, isi di dalamnya pastinya menyuarakan aspirasi dan kepentingan Sjarikat Islam. Lewat Oetoesan Hindia, aktivis Sjarikat Islam memiliki ruang menumpahkan gagasan dan pemikirannya, seperti menentang kapitalisme atau menyoal masalah-masalah yang terjadi di dalam negeri.

Lewat Oetoesan Hindia, ide, pemikiran, dan sepak terjang Tjokroaminoto terpapar. Ketika akan menduduki posisi dalam Volksraad, misalnya, Tjokroaminoto menggunakan Oetoesan Hindia untuk sosialiasi ke publik pada terbitan 6 Maret 1918. Kesepakatan cabang Sjarikat Islam mendudukkan Tjokroaminoto dalam Volksraad diumumkan dalam Oetoesan Hindia terbitan 20 Maret 1918.

Dari sedikit gambaran di atas, Tjokroaminoto dapat dilihat memiliki kesadaran betapa pentingnya pers. Ia mengelola Oetoesan Hindia tidak hanya untuk menyampaikan gagasan dan menyebarkan berita, tapi juga sebagai sarana propaganda menggentarkan kolonial. Lewat Oetoesan Hindia, geliat Sjarikat Islam dapat terbaca secara luas. Surat kabar yang dipimpin Tjokroaminoto ini tentu tak sekadar mempublikasikan tulisan dan berita-berita terkait Tjokroaminoto. Aktivis Sjarikat Islam lainnya juga menulis di Oetoesan Hindia, seperti Agus Salim, Abdoel Moeis, Suryopranoto, Tirtodanudjo, dan lain-lain. Begitu juga Bung Karno yang pernah mendiami rumah Tjokroaminoto mengaku telah menulis di Oetoesan Hindia tak kurang dari 500 artikel dengan nama samaran Bima. Rhoma Dwi Aria Yuliantri (2009) menuturkan bahwa surat kabar Neratja yang dipimpin Agus Salim juga memberikan ruang untuk pemikiran-pemikiran Tjokroaminoto.

Jejak pers Tjokroaminoto boleh dibilang panjang. Sekitar dua tahun sebelum meninggalnya, Tjokroaminoto masih berikhtiar menerbitkan Bandera Islam pada 1932 bersama beberapa tokoh. Tjokroaminoto meninggal dunia pada tahun 1934. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pegiat Pena Profetik Yogyakarta

Guru dalam Pengabdian

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Opini Suara Karya, Rabu 13 Oktober 2010
GURU selalu identik dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa. Munculnya sebutan itu tentu ada sebabnya yang tak lain adalah lirik terakhir dalam lagu Hymne Guru karya Sartono, ”Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa”. Setelah lebih dari satu dasawarsa dinyanyikan, lirik terakhir lagu itu diubah pada tahun 2008 atas hasil negosiasi antara Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas, PGRI, dan Sartono. Lirik “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” diubah menjadi “Pahlawan Pembangun Insan Cendekia” yang setidaknya menegaskan sisi profesionalisme guru yang tidak lagi dianggap sebagai profesi yang “terpinggirkan”.

Tentu saja, ketika Sartono menggubah lagu itu sekitar tahun 1980 tidak ada maksud untuk ”merendahkan” guru. Bagamana mungkin bermaksud ”merendahkan” martabat guru karena pria kelahiran Madiun itu juga seorang guru di SMP Purna Karya Bhakti, Madiun, yang di kemudian hari populer dengan nama SMP Kristen Santo Bernadus. Sartono yang merupakan guru kesenian menyambut antusias lomba cipta lagu tentang pengabdian guru yang digagas Mendikbud ketika itu, Daoed Joesoef. Diikuti sekitar 300 peserta, lagu karya Sartono akhirnya berhasil keluar sebagai pemenang. Entah mengapa, hadiah uang tunai sebesar Rp 1 juta yang seharusnya diterima, tapi hanya Rp 750.000 yang sampai di tangan Sartono. Sejak menjadi guru sampai pensiun, Sartono tetap tak beranjak dari status guru tidak tetap/honorer dengan gaji tak melebihi Rp 60.000 setiap bulannya.

Sejak era Sartono hingga kini, penggajian guru masih dinilai belum menjamin kehidupan mapan, apalagi yang bukan berstatus PNS. Namun demikian, kalimat “pahlawan tanpa tanda jasa” yang muncul di benak Sartono bukan berkaitan dengan minimnya penghargaan materi yang diterima guru. Sartono melihat bahwa guru adalah pahlawan dengan semangat dan jerih payahnya mendidik dan mencerdaskan generasi. Guru itu juga pahlawan sebagaimana pejuang. Namun, seperti dikatakan Sartono, selepas berbakti tak satupun ada tanda jasa menempel pada guru, seperti yang ada pada polisi atau tentara.

Ketika pada saat ini tuntutan peningkatan kesejahteraan guru terus disuara-wacanakan, gubahan lirik lagu itu menemukan maknanya. Penghargaan terhadap guru harus seimbang antara materi dan immateri. Dengan kata lain, perjuangan guru tidak hanya dihargai dengan sebutan pahlawan (immateri), tapi juga dihargai secara materi (gaji yang proporsional).

Jika mau jujur, Sartonolah yang menyematkan gelar pahlawan pada sosok guru. Lewat lagu ciptaannya, masyarakat mengidentikkan guru sebagai pahlawan. Pernahkah kita membayangkan jika tak ada satu kata pahlawan pun dalam lirik lagu karya Sartono? Padahal, siapapun akan dilihat terlebih dahulu perjuangannya sebelum layak disebut pahlawan. Pahlawan secara etimologi adalah orang yang banyak jasa/pahalanya. Seseorang disebut pahlawan atas jasa atau pengabdiannya bagi kehidupan yang dilakukan secara ikhlas. Guru memang seorang pahlawan karena berjuang dan berjasa mendidik anak-anak bangsa. Namun, guru yang rendah moralitasnya dan bekerja asal-asalan tentu tidak bisa dikatakan pahlawan. Guru seperti bekerja di bidang lainnya tidak selamanya menampilkan kinerja yang bersih dan bertanggung jawab. Di tengah guru yang memang benar-benar mengabdi, ada juga sebagian guru yang tidak tulus memberikan pengabdian.

Maka, tak salah jika lirik lagu Hymne Guru coba direnungkan kembali. Ada dua lirik sebelum ”Engkau patriot pahlawan bangsa…” dalam lagu Hymne Guru yang digubah Sartono, yakni ”Engkau sebagai pelita dalam kegelapan” dan ”Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan”. Guru dalam bahasa Sanskerta berasal dari kata ”gu” (kegelapan) dan ”ru” (cahaya). Untuk itu, sebagaimana lirik gubahan Sartono, guru adalah pelita dalam kegelapan. Dengan ilmu pengetahuannya, guru menjadi cahaya yang menerangi kebodohan. Lewat sentuhan guru, seseorang memahami ilmu pengetahuan sehingga mampu membangun kehidupan. Guru adalah sosok yang mengubah ”zaman kegelapan” menuju ”zaman pencerahan” dengan mendidik generasi yang tangguh untuk Indonesia masa depan.

Yang jelas, makna seorang guru tentu saja tidak sekadar bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tapi juga mampu menanamkan nilai-nilai bagi anak-anak didiknya. Guru harus mengembangkan anak-anak didiknya ke arah kearifan (wisdom), pengetahuan (knowledge), dan etika (conduct)—meminjam Socrates. Seperti diamanatkan dalam UU No 14/2005 tentang Guru dan Dosen, guru ikut bertanggung jawab mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Lagu Hymne Guru ciptaan Sartono harapannya mampu menjadi ”ruh” bagi setiap guru di negeri ini. Penyebutan pahlawan merupakan penghargaan secara immateri yang perlu dibuktikan guru dengan menjadi ”pelita dalam kegelapan” dan ”embun penyejuk dalam kehausan”. Penghargaan secara materi berupa gaji yang proporsional harus diimbangi guru dengan kepemilikan kompetensi yang prima. Guru adalah kunci kemajuan peradaban yang mendidik generasi yang cakap secara intelektual sekaligus memiliki keanggunan moral. Tentu saja, guru tidak sekadar membangun insan cendekia, tapi juga mandiri sekaligus bernurani. Guru berperan melahirkan manusia profetik Indonesia yang akan membangun kehidupan. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Aktivis Transform Institute Yogyakarta

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=263884