Mengenang Tan Malaka, Melawan Lupa

Oleh: HENDRA SUGIANTORO Dimuat di Suara Merdeka, Minggu 31 Oktober 2010
Judul Buku: Tan Malaka, Bapak Republik yang Dilupakan Penulis: Tim Seri Buku Tempo Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia&Majalah Tempo Cetakan: I, September 2010 Tebal: xx+184 hlm

Sosok ini lahir di Sumatera Barat. Tanggal lahirnya simpang siur, banyak yang menyebut pada 2 Juni 1897. Namanya (sempat) tak populer bagi masyarakat negeri ini, khususnya bagi anak-anak di bangku sekolah yang tak menemukan namanya dalam buku profil pahlawan nasional. Padahal, gelar pahlawan nasional telah diberikan kepadanya lewat Keputusan Presiden No. 53/1963. Ia adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka.

Bagi tokoh pergerakan nasional, Tan Malaka sebenarnya bukan nama asing. Ia turut menentang imperialisme dan kolonialisme Belanda. Pemikirannya ternyata dipelajari oleh Bung Karno, WR Soepratman, Sukarni, dan tokoh lainnya. Mungkin diperlukan penyelidikan lebih lanjut siapa yang menggagas pertama kali konsep Republik Indonesia. Tulisan Tan Malaka berjudul Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) bisa menjadi bukti. Tulisan itu lebih dahulu ada sebelum Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) karya Bung Hatta pada 1928 ataupun Menuju Indonesia Merdeka karya Bung Karno pada 1933 (halaman 3). Mestika Zed yang menyumbang tulisan dalam buku ini mengatakan Tan Malaka memilih mengabdikan diri dan intelektualitasnya sebagai nasionalis sejati yang ikut merajut gagasan tentang the imagined community (halaman 151). Tulisan Tan Malaka dibuat dalam bentuk brosur panjang yang kerapkali disebut buku. Entah disebut brosur panjang atau buku, itu hanya persoalan bentuk.

Tan Malaka menulis dalam pengantar Naar de Republiek Indonesia, “Jiwa saya dari sini dapat menghubungi golongan terpelajar (intelektuil) dari penduduk Indonesia dengan buku ini sebagai alat.” Tulisan Tan Malaka dalam bentuk brosur panjang ini memang dibuat di negeri manca. Ketika pertama kali terbit di Kanton pada April 1925 tak jelas berapa eksemplar dicetak. Yang pasti cuma beberapa buah yang berhasil masuk ke Indonesia. Tan Malaka kembali mencetak tulisan panjang itu ketika berada di Filipina pada Desember 1925. Cetakan kedua inilah yang kemudian menyebar luas melalui jaringan Perhimpunan Pelajar Indonesia. Bahkan, para pemuda mengetik ulang buku ini—setiap kali dengan karbon rangkap tujuh. Para pemimpin perjuangan, termasuk Bung Karno yang kala itu memimpin Klub Debat Bandung, membaca buku Tan Malaka (halaman 83).

Selain itu, Tan Malaka juga menulis Massa Actie (1926). Tulisan-tulisan Tan Malaka menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Tokoh pemuda Sayuti Melik, misalnya, mengenang Bung Karno dan Ir Anwari membaca dan mencoret-coret hal penting dari Massa Actie. Salah satu tuduhan yang memberatkan Soekarno ketika diadili di Landrat Bandung pada 1931 juga lantaran menyimpan buku terlarang ini. Tak aneh jika isi buku itu menjadi ilham dan dikutip Bung Karno dalam pledoinya, Indonesia Menggugat. WR. Supratman pun membaca tuntas Massa Actie. Ia memasukkan kalimat “Indonesia tanah tumpah darahku” ke dalam lagu Indonesia Raya setelah diilhami bagian akhir dari Massa Actie, pada bab bertajuk “Khayal Seorang Revolusioner” (halaman 3-4).

Bagi sebagian kita, perihal Tan Malaka dan pengaruh tulisan-tulisannya itu mungkin masih multi tafsir. Benarkah tulisan Tan Malaka mengilhami tokoh-tokoh pergerakan nasional di negeri ini? Membaca buku ini, pastinya kita diajak menelusuri pernik-pernik peristiwa terkait jejak Tan Malaka. Bagi kebanyakan kita, Tan Malaka kerap diidentikkan sebagai tokoh komunis. Namun, Tan Malaka justru kerap berseberangan dengan pikiran dan pendapat kawan-kawannya di PKI, seperti penolakannya terhadap rencana pemberontakan pada 1926. Begitu pula sikapnya yang mendukung Pan Islamisme bertolak belakang dengan pendapat Komunis Internasional. Tan Malaka terlibat dalam dunia pendidikan ketika berada di Deli. Baginya, kemerdekaan rakyat hanya bisa diperoleh dengan pendidikan kerakyatan. Pada 1921, ia hijrah ke Semarang dan mendirikan sekolah rakyat yang kemudian menyebar ke berbagai daerah lainnya (halaman 65-71). Sejak Maret 1922, ia harus menjadi orang yang diasingkan, diburu, dan dijadikan target operasi polisi rahasia Belanda, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat. Ia berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain dengan beragam nama samaran.

Tan Malaka berhasil kembali ke Indonesia pada 1942. Pada 1946, Tan Malaka dan Jenderal Soedirman pernah bertemu dan mempertautkan kesamaan sikap: menentang jalan diplomasi pemerintahanan. Bagi mereka, ”berunding berarti kemerdekaan kurang dari 100%.” Jalan oposisi ini membawa Tan Malaka ke penjara sejak 17 Maret 1946. Saat Agresi Militer Belanda, Tan Malaka disebut turut menggerakkan perang gerilya (halaman 33-44). Berbagai peristiwa terkait Tan Malaka dalam buku ini menarik disimak, seperti soal wasiat Bung Karno kepada Tan Malaka, perempuan terdekat Tan Malaka, misteri kematiannya, dan sebagainya. Tentu, siapa pun tak dilarang bersikap kritis dan membuat penafsiran setelah membaca buku ini. Historia docet.
HENDRA SUGIANTORO

Dahsyatnya Hamka Menulis

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Surat Pembaca Suara Merdeka, Minggu 31 Oktober 2010
Siapa pun tak asing dengan Tafsir Al-Azhar. Tafsir ini diselesaikan seorang tokoh kelahiran Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, pada 16 Februari 1908. Tokoh ini dikenal sebagai ulama pejuang yang teguh memegang prinsip Islam. Pada 24 Juli 1981, tokoh ini meninggal dunia. Tokoh yang dimaksud tak lain adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka.

Dari usianya, Hamka tak lebih dari 75 tahun. Hamka yang kokoh di jalan dakwah ini tak sekadar berbicara dari mimbar ke mimbar. Pelbagai karya tulis beliau begitu melimpah. Keluasan ilmu beliau bisa dikatakan mengagumkan. Tak hanya persoalan agama, beliau juga menulis tentang politik, sejarah, dan budaya. Buku-buku yang ditulis beliau pun meliputi karya sastra berupa roman/novel. Roman pertamanya berjudul Si Sabariah. Karya-karya tulis beliau seakan-akan melampau usianya. Konon karya beliau yang dibukukan ada lebih dari 100 buku.

Selain aktif di jalur keagamaan dan politik, Hamka memang menerjunkan diri sebagai seorang wartawan, penulis, dan editor. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa surat kabar, seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, Hamka menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, ia bergulat dengan dunia editing dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Ia pernah juga menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam (Saiful Amin Ghofur, 2008:213).

Aktivitas menulis Hamka mungkin memang terbantu ketika beliau aktif di dunia jurnalistik. Meskipun demikian, jiwa menulis Hamka tak mungkin dimungkiri. Jiwa menulislah yang menggerakkan Hamka mengirim artikel ke harian Hindia Baroe ketika beliau menginjak usia sekitar 17 tahun. Beliau tak sekadar menulis, tapi juga beberapa kali menerbitkan majalah. Produktivitas Hamka dalam menulis mungkin tak bisa dibayangkan. Buku-buku beliau antara lain berjudul Tasawuf Modern, Lembaga Budi, Falsafah Hidup, Sejarah Umat Islam, Kenang-kenangan Hidup, dan Ayahku. Beliau juga menerbitkan roman/novel antara lain berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah. Dari beberapa buku dan roman/novel itu dapat dilihat betapa dahsyatnya beliau menulis.

Buku yang dipaparkan di atas hanya sebagian dari karya Hamka. Beliau juga menulis makalah-makalah untuk disampaikan dalam ceramah ilmiah. Dahsyatnya menulis Hamka tak sekadar untuk dikenang, tapi juga dilanjutkan! Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Aktivis Pena Profetik Yogyakarta
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/10/31/128549/Dahsyatnya-Hamka-Menulis