Mahasiswa dan Harapan Orangtua

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Opini RADAR JOGJA, Selasa, 31 Januari 2012

Berbagai upaya dilakukan perguruan tinggi untuk menyiapkan mahasiswa agar mampu dan cakap menghadapi tantangan dan peluang dalam kehidupannya. Hal yang lumrah apabila perguruan tinggi mengarahkan setiap mahasiswa memiliki kecerdasan akademik dan prestasi membanggakan. Tak ada perguruan tinggi yang tidak ingin meluluskan mahasiswanya. Visi dan misi yang hendak dicapai perguruan tinggi pun tak sekadar biasa-biasa saja. Dengan kacamata global, kini perguruan tinggi bergerak sebagai perguruan tinggi berkualitas dunia.

Dari gerak perguruan tinggi itu, harapan orangtua juga serupa. Orangtua pastinya menginginkan anak yang menempuh studi di perguruan tinggi mampu mencapai prestasi maksimal. Orangtua berharap agar anaknya yang berkuliah dapat menciptakan hidup yang lebih baik. Penulis percaya apabila kebanyakan orangtua ingin anaknya lulus tepat waktu. Orangtua pada umumnya akan bangga bisa menyaksikan anaknya diwisuda. Orangtua memang akan bangga melihat anaknya menjadi dokter, ahli teknik, pengajar, dan sebagainya. Orangtua pastinya tersenyum bahagia apabila tertera gelar akademik pada nama anaknya. Di tengah masyarakat tertentu, gelar akademik masih memiliki pengaruh dalam posisi sosial. Orangtua juga akan senang apabila anaknya mendapatkan penghasilan melimpah, memiliki tempat tinggal mapan, dan dapat membangun masa depan.

Namun, apabila harus jujur berkata, orangtua tak mengharapkan anaknya kurang berbakti. Orangtua akan tersayat apabila perilaku anaknya tak mencerminkan luhurnya budi pekerti. Begitu tak percayanya orangtua melihat anaknya berani berkata kasar dan bersikap pongah. Kebahagiaan yang ingin dirasakan di hari tua ternyata jauh panggang dari api menghadapi perilaku tak bijak anaknya. Dengan berani, ada anak yang justru mencampakkan orangtuanya. Amat terkejutlah orangtua apabila melihat anaknya justru jauh dari sikap hormat. Semakin tinggi pendidikan, anak ternyata tak memuliakan orangtua. Kondisi ini memang faktual di tengah masyarakat. Ada anak yang dikuliahkan sehingga dapat mengecap dunia kampus justru keras dalam membangkang. Anak seolah-olah lupa terhadap kasih sayang, perjuangan, dan pengorbanan orangtua yang telah menghantarkan dirinya merasakan bangku perguruan tinggi dan meraih gelar akademik.

Dari sekian harapan yang dimiliki, orangtua tentu berharap agar anaknya tidak kehilangan jati diri. Dalam hal ini, setinggi apapun jenjang pendidikan, hak orangtua untuk dihormati tak pernah hilang. Siapa pun mahasiswa tak mungkin mengabaikan peran orangtua dalam setiap impian dan cita-citanya. Sesungguhnya keberhasilan mahasiswa dalam studi bukanlah capaian yang tiba-tiba teraih tanpa intervensi orangtua. Tak sekadar urusan materi, ada kekuatan orangtua dalam doa dan bentuk lainnya untuk kesuksesan anaknya. Doa orangtua menjadi jalan kemudahan yang melapangkan anak berhasil dalam hidupnya.

Tentu bukanlah sebuah sikap bijak apabila mahasiswa tak menghormati orangtuanya—terutama ibu. Apakah mahasiswa tak mengingat lagi perjuangan ibu mengandung, melahirkan, dan membesarkannya? Tanpa ibu yang tabah, mahasiswa tak mungkin bisa menjadi dewasa dan akhirnya lulus dari perguruan tinggi.

Harapan orangtua agar anaknya menjadi baik tak dimungkiri. Sebesar apapun capaian karir anaknya, orangtua tak ingin anaknya menjadi “kacang yang lupa kulitnya”. Sesungguhnya orangtua ingin melihat anaknya menjadi dokter yang bisa mencurahkan pengabdian, menjadi pengajar yang penuh dedikasi, menjadi pengusaha dan pekerja yang jujur. Orangtua ingin anaknya menjalani profesinya setulus dan sebaik mungkin. Tak masalah bagi orangtua apabila anaknya yang lulus dari perguruan tinggi menjadi anggota dewan perwakilan rakyat atau menteri, bahkan seorang pemimpin negara sekali pun. Pada titik ini, mahasiswa perlu melakukan refleksi. Orangtua tentu merasa malu apabila anaknya yang lulus dari perguruan tinggi dihujat karena melakukan korupsi. Perasaan orangtua akan tercabik-cabik apabila anaknya justru menjadi pengusaha hitam. Orangtua akan merana menyaksikan anaknya dicaci maki akibat tak profesional dan tak jujur sebagai pejabat publik.

Dalam kehidupan ini, ada orangtua yang telah membesarkan mahasiswa. Setinggi apapun gelar akademik, orangtua tak bisa dilupakan. Orangtua telah berperan besar menjadikan mahasiswa berhasil meraih gelar S-1, S-2, bahkan S-3. Ada peran besar orangtua yang telah menempatkan mahasiswa menduduki posisi dalam pekerjaan setelah lulus dari perguruan tinggi. Mengingat jasa orangtua dengan menghormatinya adalah niscaya. Apapun prestasi akademik dan apapun profesi yang diraih, setiap anak perlu berusaha membahagiakan orangtua. Menjadilah mahasiswa sebaik-baiknya, menjalani profesi sebaik-baiknya. Tentu perbuatan korupsi dan kejahatan lainnya takkan membahagiakan orangtua. Sesungguhnya anak yang baik dan shalih adalah pahala yang mengalir dan memberikan kebahagiaan bagi orangtua meskipun telah tiada. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Pembelajar pada FKIP Universitas PGRI Yogyakarta