Pemilu 2009, Masyarakat Perlu Kritis

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan Harian Jogja, Selasa 7 April 2009

HIRUK-pikuk kampanye legislatif telah berakhir. Dari kampanye caleg, persoalan terjadi jika ternyata diwarnai pelanggaran-pelanggaran. Bukan rahasia lagi jika sebagian caleg dalam pemasangan alat peraga kampanye, misalnya, tidak mengindahkan peraturan-peraturan yang telah dirumuskan. Di sisi lain, indikasi politik uang (money politics) juga marak dilakukan caleg. Pertanyaan lebih lanjut, bagaimana respons masyarakat menyaksikan hiruk-pikuk kampanye kemarin?
Dalam menyikapi Pemilu tak dimungkiri terdapat kelompok masyarakat yang apolitis. Dengan kata lain, mereka tidak terlalu mempedulikan apapun wacana politik dan hiruk-pikuk kampanye yang berlangsung. Titik ekstrimnya, kelompok masyarakat ini dilanda pesimisme begitu besar sehingga tidak melihat setitik cerah pun perubahan yang akan dihasilkan melalui Pemilu. Pemilu dianggap sebagai angin lalu yang tidak menjamin perbaikan apapun terhadap kehidupan mereka. Di sisi lain, masyarakat yang apolitis ada yang didasari ketertekanan hidup akibat tak terjaminnya akses kehidupan layak bagi mereka sehingga lebih mementingkan bagaimana bisa menyambung hidup. Untuk menafkahi kebutuhan hidup sehari-hari saja kelimpungan dan tidak sempat memikirkan sedikit pun hajatan Pemilu yang sudah di depan mata.

Yang menjadi catatan penting di sini adalah kecenderungan pragmatisme (sebagian) caleg sekadar untuk memenuhi tujuan jangka pendeknya memenangkan pemilu legislatif. Tidak bisa dimungkiri jika konsistensi dan kesinambungan elite politik memperjuangkan kemaslahatan masyarakat masih minim. Yang terlihat, (sebagian) elite politik hanya peduli dengan masyarakat jika menjelang hajatan Pemilu, tetapi sering kali menghasilkan kebijakan tidak prorakyat ketika berada di lingkaran kekuasaan. Pengalaman menunjukkan tidak ada jaminan janji-janji perubahan dan perbaikan yang disuarakan caleg saat kampanye akan ditepati nantinya ketika menduduki kursi kekuasaan. Dalam hal ini, masyarakat harapannya kritis dan tidak begitu saja terpikat oleh bujuk rayu caleg. Jika masing-masing caleg menjanjikan perbaikan dan kesejahteraan bagi kehidupan masyarakat saat kampanye, maka itu memang niscaya dilakukan. Tidak mungkin bagi caleg mengkampanyekan dirinya negatif. Pastinya, caleg akan mencitrakan dirinya bersih, peduli, dan layak untuk dipilih. Wallahu a’lam.
HENDRA SUGIANTORO
Email: lpmtransformasi_uny@yahoo.co.id

0 komentar: