Menjadi Generasi Pembelajar

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Bedah Buku Kedaulatan Rakyat, Minggu 15 November 2009
Judul Buku:
Prophetic Learning; Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian Penulis: Dwi Budiyanto Penyunting: Yusuf Maulana Penerbit: Pro-U Media, Yogyakarta Cetakan: I, 2009 Tebal: 268 hlm
Ilmu dalam kehidupan sangatlah penting. Dengan ilmu, kedudukan manusia mendapatkan kemuliaan. Allah SWT telah mewajibkan bagi siapa pun untuk menuntut ilmu sebagai bekal kehidupan di dunia dan di akhirat. Untuk mendapatkan ilmu, seseorang dituntut untuk senantiasa belajar. Belajar untuk mendapatkan ilmu sekaligus mengamalkannya.

Berbicara mengenai tradisi belajar, ada contoh luar biasa yang diperlihatkan generasi awal Islam (salafush-shalih). Agar beroleh ilmu, generasi Islam zaman awal memiliki kemauan yang kuat dan semangat yang membara. Maka, tidaklah heran jika kita menyaksikan kehidupan mereka sarat dengan aktivitas belajar. Untuk mendapatkan ilmu, mereka tidak segan-segan melakukan pengembaraan intelektual, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sebut saja perjalanan menuntut ilmu yang dilakukan Imam Syafi’i. Pada awalnya, Imam Syafi’i belajar sastra Arab kepada Muslim bin Khalid az-Zanji. Setelah itu, ia mendatangi beberapa ulama untuk belajar fikih di Mekah. Pergi ke Madinah, Imam Syafi’i belajar kepada Abu Abdullah Malik bin Anas. Tidak berhenti di Madinah, Imam Syafi’i melanjutkan perjalanan menuntut ilmu ke Yaman dan Irak. Ada banyak kisah tradisi belajar yang dimiliki generasi salafush-shalih yang dipaparkan dalam buku ini. Di zaman Nabi Muhammad SAW, Zaid bin Tsabit pernah belajar bahasa Ibrani dan menguasainya hanya dalam waktu 15 hari. Semangat untuk belajar pernah dipertunjukkan Abu Raihan al-Biruni yang masih menyempatkan bertanya tentang perkara berkaitan dengan fikih meskipun ajal hampir menjemputnya.

Dengan membaca buku ini, kita bisa melakukan refleksi terkait tradisi belajar yang kita miliki. Ada kecenderungan minimnya motivasi belajar yang terdapat di benak pelajar dan mahasiswa saat ini. Bahkan, kegigihan belajar tampak kurang dengan perilaku jalan pintas yang sering kali diperlihatkan. Banyak pelajar dan mahasiswa yang menghalalkan perilaku mencontek agar mendapatkan nilai memuaskan. Padahal, perilaku mencontek menyebabkan ilmu yang didapatkan tidak menjadi berkah. Berbeda dengan generasi Islam awal yang sangat hati-hati dalam aktivitas belajarnya sehingga menghindari perbuatan-perbuatan buruk. Sikap menghindari perbuatan kemaksiatan terlihat nyata dalam generasi salafush-shalih untuk menjaga keimanan dan keilmuan mereka. Dengan menyaksikan tradisi belajar generasi salafush-shalih, ada pelajaran yang bisa kita petik. Motivasi yang ikhlas (ikhlas an-niyah) sangat tampak pada generasi salafush-shalih. Mereka belajar semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT. Dalam belajar, generasi salafush-shalih melakukannya dengan sebaik-baiknya (itqan al-’amal). Belajar dilakukan sebaik mungkin dengan etos belajar yang tinggi. Generasi salafush-shalih memanfaatkan hasil belajarnya dengan tepat.

Buku yang ditulis Dwi Budiyanto ini mengajak siapa pun untuk menyadari pentingnya belajar. Generasi salafush-shalih telah memperlihatkan contoh luar biasa dalam kebiasaan membaca, menulis, pengembaraan ilmiah, dan tradisi berpikir yang perlu kita teladani.
HENDRA SUGIANTORO
Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

0 komentar: