Wajah Perbudakan di Deli

Oleh: HENDRA SUGIANTORO

Dimuat di Resensi Media MAJALAH PEWARA DINAMIKA UNY, Edisi Oktober 2011

Judul Buku: Berjuta-juta dari Deli: Satoe Hikajat Koeli Contract Penulis: Emil W. Aulia Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Cetakan: I, 2006 Tebal: viii+261 halaman

Apapun alasannya, perbudakan tak bisa ditolerir. Begitu malangnya nasib rakyat yang diperas keringat, tenaga, bahkan darahnya demi kepentingan penjajah kapitalis. Dapat disimak dalam novel ini, manusia dianggap barang dagangan yang diperjualbelikan. Rakyat kecil ada yang ditipu dengan imajinasi pohon berdaun uang di tanah Deli. Mungkin karena keluguan dan malah kebodohan, rakyat kecil percaya saja.

Dikisahkan dalam novel, pelbagai perusahan yang mendatangkan manusia-manusia sebagai pekerja di perkebunan Deli menyebar agen-agennya. Rakyat kecil—terutama dari Pulau Jawa—menjadi sasaran untuk dijadikan kuli. Di awal novel ini diceritakan tentang agen itu yang mempengaruhi rakyat kecil dengan mulut manisnya. “Di Deli....Di Deli....pohon-pohonnya berdaun uang!” “Kerja kalian hanya mengurusi pohon-pohon itu. Kalau ada uang yang jatuh dari pohon, silakan ambil. Itu upah bagi kalian. Nah, semakin banyak pohon yang kalian urus, maka uang kalian akan semakin banyak. Dan kalian tahu, itu semua belum cukup. Setiap akhir bulan kalian juga akan mendapat upah yang besar. Nah, bagaimana? Hebat, bukan?”

Soal pohon berdaun uang itu pun menyebar dari mulut ke mulut. Rakyat yang miskin dan bodoh mudah percaya meskipun ada juga yang menyangsikan. Nalar jelas meragukan ada pohon bisa menjatuhkan uang, namun kepercayaan rakyat adalah fakta telanjang sebuah kebodohan. Pohon berdaun uang merupakan salah satu dari pelbagai muslihat mendatangkan kaum pekerja untuk menuju Deli. Ada pula yang dipaksa secara halus sampai akhirnya tersadar telah menjadi kuli kontrak. Di kantor emigrasi, rakyat yang tak cakap baca tulis hanya melongo membubuhkan cap jempol pada selembar surat kontrak yang sejatinya merugikan mereka.

Novel ini boleh jadi berhasil menyajikan kegetiran di tanah Deli. Manusia yang dijadikan kuli itu tak bebas menghirup kebebasan. Kekerasan menyeruak dalam pemaksaan kerja. Kondisi ketercekaman dan ketidakadilan di tanah Deli berangsur-angsur menjadi perhatian publik ketika tulisan berjudul Millioenen uit Deli terpublikasikan. Karya Mr. J. Van den Brand pada 1902 itu menyulut polemik, baik di negeri Belanda maupun di Hindia Belanda. Lewat novel ini, kekuatan tulisan tersebut dapat disimak. Ketidakadilan dan kekejaman di tanah Deli dibeberkan Van den Brand. Pejabat pemerintah dan pengusaha di tanah Deli berusaha membalikkan opini dengan menuduh Van den Brand melakukan fitnah dan kebohongan. Di negeri Belanda, fakta kebobrokan yang terjadi di Deli dijadikan amunisi kubu sosialis yang tergabung dalam Sociaal-Democratische Arbeiders Partij.

Perjuangan Van den Brand tak surut. Novel ini mengisahkan sepak terjangnya menguliti topeng pejabat pemerintah dan pengusaha yang telah berbuat zalim terhadap para pekerja di Deli. Baginya, keadilan harus ditegakkan—kalau perlu dikejar. Karena tulisannya yang menggemparkan itu, ia dikucilkan dalam pergaulan masyarakat Eropa di Deli. Ia pun pulang ke negeri Belanda untuk melakukan strategi politik dengan menjadi anggota Majelis Rendah, namun gagal terpilih. Tak kehabisan akal, ia terus melakukan perlawanan terhadap fakta penindasan. Millioenen uit Deli yang ditulisnya sedikit banyak mulai menampakkan perubahan di Deli. Ia juga menulis Nogs Een: Millioenen uit Deli sebagai tanggapan atas semua tuduhan dan polemik yang muncul akibat Millioenen uit Deli.

HENDRA SUGIANTORO, pembaca novel, tinggal di Yogyakarta

0 komentar: