Makna Sosial Tradisi Syawalan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Bina Rohani MAJALAH PEWARA DINAMIKA UNY Edisi September 2011

Tradisi syawalan kerap dilaksanakan dalam masyarakat kita setelah lebaran. Tradisi syawalan di berbagai daerah memiliki ragam berbeda dengan bentuk dan ritual khas. Di tengah perbedaan ritual syawalan, ada tradisi menyuguhkan ketupat/kupat. Dalam syawalan juga masih berlangsung acara saling maaf-memaafkan. Meski ketupat tak mesti disajikan, berbicara mengenai ketupat tetap memiliki nilai penting.

Pada umumnya, ketupat terbuat dari nasi yang dibungkus daun kelapa muda/janur. Konon, tradisi membuat ketupat ini disosialisasikan pertama kali oleh Sunan Kalijaga yang membudayakan dua kali bakda, yaitu bakda lebaran dan bakda kupat. Bakda lebaran setelah sebulan puasa Ramadan. Adapun bakda kupat dimulai sepekan setelah lebaran. Kupat bermakna ngaku lepat (mengakui kesalahan). Dilihat secara utuh, ketupat/kupat itu bermakna mendalam. Rumitnya anyaman bungkus ketupat menggambarkan berbagai kesalahan manusia. Jika bungkus ketupat dibelah, kita dapat melihat ketupat yang berwarna putih. Itu mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon maaf dari kesalahan. Ketupat juga memiliki makna filosofis lainnya. Dalam hal ini, esensi dari ngaku lepat sekiranya perlu ditekankan.

Sebagaimana dimaklumi, kehidupan sosial tidak lepas dari salah dan khilaf. Mengaku kesalahan dan saling memaafkan sewajarnya dilakukan. Azyumardi Azra (2006) mengatakan terdapat empat dimensi dalam maaf-memaafkan. Pertama, harus dimulai dengan ingatan (muhasabah) akan dosa lalu kemudian memaafkannya. Kedua, memutuskan restitusi, kompensasi atau hukuman yang harus dijatuhkan kepada pelaku kejahatan. Ketiga, adanya kesadaran bahwa setiap manusia memiliki potensi melakukan kesalahan. Keempat, bahwa pemaafan harus diorientasikan kepada perbaikan hubungan antar-individu.

Artinya, maaf-memaafkan hendaknya tidaklah seremonial belaka. Ngaku lepat juga harus bersedia memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain karena setiap manusia tak luput dari salah dan khilaf. Saling maaf-memaafkan jika masih ada kebencian berarti belum saling memaafkan. Meminta maaf atas kesalahan terhadap sesama memang harus dinyatakan langsung kepada manusia bersangkutan. Azyumari Azra (2005) menuturkan bahwa pemaafan tidak sekadar aktualisasi sikap moral bernilai tinggi yang terisolasi, tetapi berkaitan dengan tujuan yang tak kurang mulianya, yakni perbaikan hubungan antar-manusia yang sebelumnya tercabik-cabik penuh kebencian dan dendam. Dengan kandungan mulia seperti itu, pemaafan secara implisit juga berarti menunjukkan kesiapan untuk kembali hidup berdampingan secara damai di antara manusia yang berbeda dengan segala kelemahan dan kekeliruan masing-masing.

Dalam tradisi syawalan, laku saling maaf-memaafkan dengan konsekuensi sebagaimana diutarakan di atas harapannya memang benar-benar dijalankan. Di sisi lain, tradisi syawalan hendaknya kian mempererat hubungan sosial dan meneguhkan kesadaran sosial. Apa yang kita saksikan selama ini terasa janggal. Sebut saja misalnya wajah ceria dan penuh senyuman dalam acara syawalan. Yang kaya dan yang miskin menampakkan keceriaan dalam semangat persaudaraan seolah-olah tak ada kesenjangan sosial. Namun, apa yang kita lihat senyatanya? Suasana persaudaraan itu seperti kamuflase ketika dalam kehidupan justru menonjol semangat individualisme. Kepedulian dan empati sosial seakan-akan hilang usai lebaran dan syawalan.

Maka, kerukunan hidup dan kekeluargaan perlu senantiasa terpelihara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tradisi syawalan seyogianya menguatkan kepekaan, kepedulian, rasa kebersamaan sosial, dan mengembangkan jiwa-jiwa sosial untuk berbagi dengan sesama. Keimanan kita seyogianya menjadi landasan dan arah bagi pemuliaan kemanusiaan. Saat Syawalan, semoga tumbuh kesadaran kita untuk merealisasikan titah Tuhan: menegakkan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, menciptakan keadilan sosial, dan menjadi rahmat bagi semesta. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO, Pegiat Pena Profetik, tinggal di Yogyakarta

0 komentar: