Tarian Kolosal Candi Borobudur

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Pustaka SKH KEDAULATAN RAKYAT, Minggu 25 Oktober 2011

Judul Buku: Sendratari Mahakarya Borobudur Penulis: Timbul Haryono dkk Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta Cetakan: I, Mei 2011 Tebal: x+142 halaman

Membaca buku ini kita diajak mengenal lebih jauh dan lebih mendalam tentang Candi Borobudur. Mungkin tak banyak yang mengetahui jika di Candi Borobudur juga terdapat karya seni budaya dalam bentuk drama tari. Tarian tersebut dipentaskan dengan melibatkan hampir sekitar 200 seniman.

Diawali dengan pemaparan sejarah Candi Borobudur, buku ini memaparkan data dan fakta semenarik mungkin. Candi yang berlatar belakang agama Buddha ini berdekatan dengan pertemuan dua sungai, yakni Sungai Elo dan Sungai Progo. Konon Candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800 M. Laporan pertama tentang candi ini pada abad XIX ditulis saat Thomas Stamford Raffles berkunjung ke Semarang tahun 1814. Kala itu bangunan candi sudah berupa reruntuhan. Perbaikan terhadap bangunan candi pun digagas dan dilakukan.

Candi Borobudur tak sekadar bangunan candi, namun menyimpan nilai-nilai filosofis. Untuk mengungkap makna filosofis tersebut diadakanlah Sendratari Mahakarya Borobudur. Karya tari kolosal ini merupakan perpaduan tarian istana Surakarta dan tarian rakyat yang hidup dan berkembang di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kedua genre tersebut merupakan warisan seni yang telah berkembang sejak zaman Mataram Kuno abad VII. Tema yang diangkat sebagai pijakan adalah sejarah dibangunnya Candi Borobudur di masa kejayaan Maharaja Samaratungga. Alur ceritanya meliputi lima adegan: (1). Kehidupan Masyarakat di Bukit Menoreh, (2). Kebesaran Kerajaan Mataram Kuno, (3). Gotong Royong Masyarakat di Bukit Menoreh, (4). Pembangunan Candi Borobudur, dan (5). Berdoa.

Sendratari Mahakarya Borobudur dipentaskan di malam hari dengan durasi sekitar 60 menit. Dalam adegan awal digambarkan kehidupan masyarakat yang masih labil keyakinan hidupnya. Kondisi mulanya memang damai dan tenteram, lalu berubah brutal, penuh keserakahan, angkara murka, dan saling menindas yang menyebabkan suasana mencekam. Muncullah tokoh spiritual Rakai Pancapana Panangkaran yang mampu mengendalikan situasi dan tanggap terhadap perbuatan manusia yang tak terpuji. Ia membina umatnya kembali ke jalan yang benar dengan mengajarkan jalan kehidupan yang baik. Ajaran itu mampu diserap dan dikuasai oleh putranya bernama Samaratungga yang kemudian diaplikasikan di batu berundak berupa “candi”, berisi ajaran hidup “kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu”. Samaratungga lalu diangkat sebagai Raja Mataram Kuno. Setelah itu, cerita mengalir menggambarkan kehidupan masyarakat di zaman Mataram Kuno sampai bisa membangun Candi Borobudur secara gotong royong (halaman 27-87).

Dari adegan demi adegan itu, kisah historis dan nilai filosofis Candi Borobudur coba dikisahkan. Buku ini mencoba memaparkannya kepada pembaca.(HENDRA SUGIANTORO, pembaca buku, tinggal di Yogyakarta).

0 komentar: