Refleksi Jurnalisme Seorang Wartawan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Resensi Media MAJALAH PEWARA DINAMIKA UNY Edisi Februari 2012

Judul Buku: ‘Agama’ Saya Adalah Jurnalisme Penulis: Andreas Harsono Penerbit: Kanisius, Yogyakarta Cetakan: I, Desember 2010 Tebal: 268 halaman

Jurnalisme memiliki kontribusi penting bagi masyarakat. Dengan jurnalisme, masyarakat dibangun. Jika jurnalisme berjalan baik, maka menjadi baiklah suatu masyarakat. Mungkin hal ini terkesan utopis di tengah laku jurnalisme yang pragmatis dan kerapkali terjebak pada urusan bisnis. Kepada siapa wartawan menempatkan loyalitasnya menjadi salah satu dari sembilan elemen jurnalisme yang dipopulerkan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel sekitar tahun 2001. Ada keprihatinan ketika wartawan berubah menjadi orang bisnis dan mengabaikan tanggung jawab sosialnya.

Dalam buku ini, sembilan elemen jurnalisme menjadi pintu gerbang pembahasan untuk menyimak lebih lanjut isi pikiran Andreas Harsono. Pengetahuan dan pengalamannya sebagai wartawan, baik di dalam negeri maupun di negeri manca, coba direfleksikan dan disajikan. Tentu menjadi kisah hidup mengesankan bagi Andreas Harsono yang pernah menerjemahkan buku-buku karya Kovach, bahkan menimba ilmu langsung dari Kovach. Ketika berkunjung ke Indonesia, Kovach kerapkali didampingi Andreas Harsono dalam melakukan perjalanan. Kovach yang merupakan seorang wartawan asal Amerika Serikat telah diakui reputasinya. Kovach memiliki “karier yang panjang dan terhormat” sebagai wartawan, kata Thomas E. Patterson dari Universitas Havard. Goenawan Mohammad mengatakan merasa “sulit mencari kesalahan” Kovach. Banyak hal berkenaan dengan Kovach ditemukan dalam buku ini.

Dalam kaitan kepentingan masyarakat dengan kepentingan bisnis, harian The New York Times dan The Washington Post bisa dijadikan model. Ketika membeli The New York Times pada tahun 1893, Adolph Ochs berkomitmen menyajikan surat kabar yang serius dan mengutamakan kepentingan publik. Eugene Meyer yang pada tahun 1933 membeli Washington Post berani bersikap mengorbankan kepentingan material apabila memang diperlukan demi kepentingan masyarakat. Ternyata mendahulukan kepentingan masyarakat yang dilakukan dua surat kabar ini tidak berdampak buruk terhadap bisnisnya (halaman 18).

Dalam paparannya, Andreas Harsono juga menyinggung tentang pendidikan jurnalisme di Indonesia. Menurutnya, pendidikan jurnalisme di negeri ini perlu ditinjau ulang dan dievaluasi. Banyaknya sekolah jurnalisme ternyata kurang dan belum mampu menyediakan wartawan sesuai kebutuhan media massa. Banyak media massa menomorduakan lulusan dari jurusan atau program studi jurnalisme. Hal ini tentu harus menjadi tanda tanya sekaligus tanda seru. Selain itu, keterlibatan wartawan dalam dunia politik juga menjadi pembahasan. Menurut Andreas Harsono, hal itu sah-sah saja. Banyak wartawan yang terlihat berafiliasi ke partai politik atau tokoh politik tertentu. Wartawan terlibat dalam politik praktis bisa saja mempengaruhi independensi. Tetapi, menurutnya, wartawan boleh menjadi politikus, namun jangan lagi menjadi wartawan!

Buku ini terbagi dalam empat bagian, yakni laku wartawan, penulisan, dinamika ruang redaksi, dan peliputan. Investigasi reporting menjadi hal yang ditekankan oleh Andreas Harsono. Kemampuan wartawan soal ini perlu diasah. Begitu pula masalah byline. Dalam surat kabar di Indonesia jarang digunakan byline dalam penulisan, padahal merupakan bagian dari pertanggungjawaban. Wartawan bisa bertanggungjawab terhadap isi laporannya karena publik akan mengetahui siapa wartawan yang konsisten menghasilkan berita-berita yang bermutu dan siapa wartawan yang menghasilkan berita kurang bermutu.

Melalui buku ini, Andreas Harsono memaparkan beragam pendapatnya terkait jurnalisme. Apa yang diutarakannya mungkin memunculkan pro kontra. Namun, hal ini tampaknya positif untuk membangkitkan dialektika jurnalisme Indonesia. Mau memberikan tanggapan?
HENDRA SUGIANTORO
Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

0 komentar: