Menyelami Kata, Menemukan Makna

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Perada KORAN JAKARTA, Rabu, 25 Januari 2012


Judul Buku: Aspire: 11 Kata yang Akan Mengubah Kehidupan Anda Penulis: Kevin Hall Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Tahun: I, 2011 Tebal: xviii+238 halaman Harga: Rp. 53.000,00

Dalam kehidupan setiap orang, pada suatu waktu, api batinnya pernah padam. Api itu lalu membara oleh perjumpaan dengan manusia lain. Kalimat dari Albert Schweitzer itu sedikit banyak memiliki makna adanya pengaruh dari keberadaan masing-masing kita untuk menyalakan gairah hidup orang lain. Apakah kita akan menginspirasi atau mengekspirasi orang lain, itu pilihan kita.

Jika kita renungkan, kata “inspiration”—inspirasi yang kerapkali kita ucapkan sesungguhnya menyimpan kandungan mendalam. Kata itu memiliki arti menghembuskan nafas kepada. Berasal dari bahasa Latin “inspirare”. “Spirare” artinya bernafas dan “in” berarti kepada. Ketika kita menghembuskan nafas kehidupan kepada yang lain, kita menginspirasi harapan, tujuan, dan mimpi. Menginspirasi orang lain merupakan sebuah kebaikan. Kebaikan memiliki pengaruh pada tubuh manusia. Para ilmuwan yang mempelajari otak manusia menyatakan ketika kita melakukan kebaikan kepada orang lain, maka terjadi peningkatan kadar serotonin, yakni zat kimia yang dihasilkan otak yang membuat kita merasa senang dan merupakan bahan umum obat antidepresi. Bahkan, peneliti juga mencatat jumlah serotonin yang sama pada si penerima kebaikan dan pada yang hanya melihat kebaikan saja.

Kata “inspiration” itu juga memiliki kaitan dengan kata “courage”—keberanian. “Coer” dalam bahasa Romawi berarti hati. Bila kita meng-“courage”, kita menambahkan ke hati seseorang. Ketika kita meng-“discourage”, kita mengambil dari hati seseorang. Kita yang menginspirasi dan mendorong dapat dianggap sebagai apresiator, orang yang menambah nilai. Sementara kita yang mengekspirasi dan menakut-nakuti dapat dianggap sebagai depresiator, orang yang mengurangi nilai (halaman 129-143).

Buku yang ditulis Kevin Hall ini menarik disimak untuk menjelajahi sebuah kata sampai ke makna filosofisnya dengan dukungan master kata Profesor Arthur Watkin. Sebuah kata memiliki daya yang bisa menggerakkan kehidupan apabila dipahami maknanya sampai ke akar-akarnya. Sebut juga kata “integrity”—integritas. Salah satu definisi populernya adalah jujur dan memiliki keyakinan moral yang kuat, tetapi akar katanya menghunjam lebih dalam daripada itu. “Integrity” berasal dari bahasa Latin “integer”, yang mengacu pada bilangan bulat. Integritas perkataan seseorang berarti ucapannya utuh dan lengkap. Tak hanya sebagian, tak hanya sebagian kecil, tak hanya dua pertiga atau tiga perempat, bukan pula kadangkala. Menjadi utuh dan lengkap dalam perkataan kita mensyaratkan hidup seratus persen sesuai ucapan kita, seratus persen setiap saat.

Dalam hidup ini, kita harus menjadi sosok berintegritas. Hal itu merupakan kualitas terpuji yang bernilai luar biasa. Ada kata-kata William Shakespeare yang layak direnungkan, “Di atas semuanya: jujurlah pada dirimu sendiri; dan teruslah begitu, siang dan malam, maka engkau tidak palsu bagi siapa pun”. Dengan integritas, jalan hidup kita menjadi jalan kesucian—holiness. Ketika kita tak hidup seutuhnya, jalan kita menjadi jalan kehampaan—hollowness. “Hollow” berasal dari “hole”—lubang, yakni bagian yang kita sisakan ketika mengambil huruf pertama dari kata “whole”—utuh (halaman 207-209).

Lewat buku ini, kita diajak Kevin Hall menelusuri makna dari sebelas kata dan menjejaki kata-kata lainnya yang terkait. Selain inspire dan integrity, kata lainnya adalah genshai, pathfinder, namaste, passion, sapere vedere, humality, coach, ollin, dan empathy.
HENDRA SUGIANTORO
Pembaca buku, tinggal di Yogyakarta

0 komentar: