Rendahnya Jiwa Kewirausahaan

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Jagongan HARIAN JOGJA, Senin 19 September 2011

Kini kewirausahaan terus diwacanakan dan digalakkan. Bahkan, mata kuliah kewirausahaan mulai diwajibkan dan diprogramkan Direktoral Jenderal Perguruan Tinggi Depdiknas untuk diajarkan di perguruan tinggi pada setiap jurusan/program studi. Adanya berbagai upaya membangun jiwa kewirausahaan tentu layaklah diapresiasi. Diakui atau tidak, jiwa kewirausahaan masyarakat Indonesia masih belum begitu menggembirakan. Paradigma dan kecenderungan bahwa bekerja harus menjadi pegawai diakui relatif kuat tertanam di benak masyarakat.

Padahal, sebagaimana dikatakan Siti Maisaroh, S.E, M.Pd, Jum’at (16/9), bekerja itu tak harus menjadi pegawai. Dosen Universitas PGRI Yogyakarta itu mengatakan tak semua orang berani untuk terjun berwirausaha bisa dikarenakan takut mengambil risiko. Di sisi lain, ada pula orang tak mau dan malas berwirausaha karena gengsi atau prestise. Dibandingkan dengan Amerika Serikat malah orang yang berwirausaha di Indonesia masih terbilang sedikit. Data menunjukkan bahwa di Amerika Serikat ada sekitar 70% orang berwirausaha.

Untuk dapat berwirausaha dan meraih keberhasilan, setiap orang memang dituntut tidak main-main. Modal intelektual, modal sosial dan moral, modal mental, dan modal material diperlukan dalam berwirausaha. Namun, Siti Maisaroh, S.E, M.Pd mengatakan bahwa berwirausaha tak selalu harus memiliki modal material. Tanpa modal material berupa uang, orang bisa juga berwirausaha. Perencanaan dan strategi yang tepat dan matang pastinya diperlukan. Orang yang berwirausaha juga harus kreatif dan inovatif. Tak kalah penting, kecerdasan membaca dan menciptakan peluang menjadi niscaya. Berwirausaha itu bisa dipelajari dan dilatih. Wallahu a’lam.

HENDRA SUGIANTORO

Pegiat Pena Profetik, tinggal di Yogyakarta

Karangmalang Yogyakarta 55281

0 komentar: