Syawalan di Sonopakis Lor

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Harjo Forum HARIAN JOGJA, Sabtu 17 September 2011

Tradisi syawalan menjadi rutinitas kegiatan di bulan Syawal. Kegiatan ini selalu dilaksanakan setelah sebulan berpuasa Ramadan, baik di komunitas-komunitas, di instansi pemerintahan, di lembaga/organisasi maupun di kampung-kampung. Dalam kegiatan syawalan terdapat kearifan untuk saling maaf-memaafkan.

Tak jauh berbeda di kampung-kampung lainnya, kegiatan syawalan juga diselenggarakan di Sonopakis Lor RT 02, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Senin (12/9). Bertempat di halaman rumah Bapak Giantara, S.Pd, kegiatan syawalan ini dihadiri oleh warga masyarakat, kegiatan syawalan diisi pengajian oleh Ustadz M. Adnan dari Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Hadir juga dalam kegiatan syawalan ini Ketua RT 02 Sonopakis Lor dan Kepala Dukuh IX Sonopakis Lor.

Dalam tausiyahnya, Ustadz M. Adnan mencoba menjelaskan tentang makna Idul Fitri, lebaran, syawalan, dan halal bil halal. Setelah digembleng sebulan penuh puasa, kita semestinya menjadi lebih baik. Kita kembali ke fitri, bersih dari dosa. Dosa-dosa kita kepada Allah Swt insya Allah mendapatkan pengampunan dari Allah Swt. Syawal yang artinya peningkatan menghendaki siapa pun meningkat iman dan takwanya kepada Allah Swt. Dalam konteks hubungan sosial, kita kadangkala juga berbuat salah dan khilaf. Kita memang seharusnya meminta maaf kepada sesama atas kesalahan-kesalahan kita. Memohon ampun kepada Allah Swt dan meminta maaf kepada sesama merupakan satu rangkaian yang tak bisa ditinggalkan.


Dengan penuh perhatian, warga masyarakat Sonopakis Lor RT 02 mendengarkan uraian menarik dari Ustadz M. Adnan. Ditekankan agar siapa pun bisa membina hubungan baik secara sosial. Hidup tanpa rasa benci dan dendam tentu lebih nyaman. Dalam kesempatan ini, Ustadz M. Adnan juga berbicara tentang takdir kematian. Siapa pun kita pasti akan mati. Adapun bekal utama saat kematian adalah amal-amal shalih kita di dunia. Namun, amal yang banyak belum tentu menjamin akan mendapatkan kebaikan akhirat jika kita masih berperilaku zalim dan kurang terpuji terhadap sesama. Pahala dari amal-amal kita bisa lenyap untuk menebus kezaliman itu. Malah kita dimungkinkan menanggung dosa dan kesalahan sesama yang kita zalimi. Itu artinya kita mengalami kebangkrutan. Intinya, hubungan baik dengan Allah Swt dan sesama hendaknya bisa terus terpelihara.(HENDRA SUGIANTORO)

0 komentar: