Kisah Getir Keluarga Super Miskin

Oleh: HENDRA SUGIANTORO
Dimuat di Perada KORAN JAKARTA, Jum'at, 8 Maret 2013 
 
Judul Buku: Butiran Debu Penulis: Taufiqurrahman al-Azizy Penerbit: DIVA Press, Yogyakarta Cetakan: I, Februari 2013 Tebal: 348 halaman ISBN: 978-602-7665-56-9 

Wajah sosial menggambarkan masih ada penduduk miskin di negeri ini yang terlunta-lunta sekadar memenuhi kebutuhan pokoknya. Parahnya, di tengah masyarakat, fakta kemiskinan itu dibarengi dengan rendahnya empati dan kepedulian sosial. Lewat novel ini, kita menyaksikan betapa merananya keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan dua anak kecil. 

Awalnya Rohana, ibu dari Iwan dan Siti, bisa bernafas lewat penghasilan suami. Namun, saat Iwan berusia 3 tahun dan Siti berusia 3 bulan, suaminya pergi tak pulang-pulang. Demi nasib anak-anaknya, Rohana membanting tulang, bahkan berani berhutang. Berbagai pekerjaan dicarinya, namun tak kunjung membuahkan kemapanan. Rohana tetap kerepotan dan kebingungan. Hutang-hutangnya tak kunjung terlunasi, anak-anaknya kelaparan. Pedih dirasakan Rohana. Persediaan uangnya kian menyusut. Meskipun kedua anaknya kuat tak makan, namun seorang ibu tetap tak tega. Barang-barang di rumah yang sesungguhnya terbatas habis dijual. 

Saat kondisi kritis itu, bisikan untuk mencuri terngiang. Anaknya kerapkali merintih dan menahan sakit karena lapar berhari-hari. Selama hidupnya Rohana anti-mencuri, namun kondisi hidup seperti memaksanya melakukan perbuatan itu. Di malam hari, Rohana nekat mencabuti singkong di ladang tetangga. Demi anaknya bisa makan, meski hanya satu singkong saja. Warga sekitar curiga dan melontarkan tuduhan-tuduhan. Di tengah kesulitan hidup dan sikap sinis tetangga, Rohana berteriak dalam hati, “Jika kalian tidak mau kehilangan singkong, punyalah sedikit rasa belas kasih kepada anak-anakku. Mereka lapar. Mereka merintih. Mereka mengaduh. Kalau tak ada lagi dari kalian yang menolongku, kalianlah yang telah membuatku menjadi pencuri!” (hlm. 42-60). 

Hidup dalam keterhimpitan kerapkali membutakan akal dan hati. Suatu hari, Rohana mengajak anak-anaknya meninggalkan rumah. Tujuannya, Sungai Cihideung. Sampai di Jembatan Cidua, apa yang akan Rohana lakukan? Novel ini menggetarkan nurani. Siapakah yang salah apabila Rohana mengajak kedua anaknya bunuh diri? Rohana berkata, “Kalian lapar? Kedua anaknya mengangguk. “Ibu juga lapar. Tetapi percayalah, sebentar lagi kita tak akan pernah merasa kelaparan lagi,” ucap Rohana. Dengan penuh kemantapan, Rohana menyuruh anak-anaknya terjun dari atas jembatan. Tetapi, hati Iwan dan Siti yang masih suci tak membenarkan perbuatan ibunya. Hanya Rohana yang akhirnya terjun dan terseret aliran deras sungai. Dilanda kepanikan, Iwan dan Siti beteriak histeris (hlm. 97-121). 

Iwan dan Siti pun meninggalkan Jembatan Cidua dan menggelandang sampai kota Bogor. Dalam usia Iwan yang 8 tahun dan Siti yang 5,5 tahun, mereka harus merasakan pahitnya hidup. Kota sepertinya bukan tempat ramah bagi mereka yang bertubuh dekil, berbaju kumal, beraroma tak wangi karena tak mandi berhari-hari. Iwan dan Siti yang kelaparan hanya mengais-ngais sisa-sisa makanan di tong sampah. Nasib naas dialami ketika seorang satpam mengejar mereka. Mall bukan untuk gelandangan, maka harus diusir! Karena kepanikan dari kejaran satpam, Iwan dan Siti pun terpisah.  

Novel ini mengajarkan kepada kita untuk melihat kehidupan tidak hitam putih. Perlakuan tak manusiawi kerapkali menimpa kaum gelandangan. Kita seolah-olah bangga telah melakukan razia. Amat sedikit kepedulian hati kita untuk menyelami sisi psikologis anak-anak yang menggelandang di jalanan. Iwan dan Siti pun menjalani takdirnya lebih lanjut. Sebuah keluarga merasa iba melihat Siti yang kusut dan menangis di jalan. Akhirnya Siti diangkat sebagai anak, disekolahkan, dan menjadi anak berprestasi. Lain pula dengan Iwan yang akhirnya terkenal sebagai pengamen kecil yang merdu suaranya. 

Sebagaimana Iwan dan Siti, banyak anak di negeri ini yang karena miskin tak mampu mengembangkan potensinya. Padahal, potensi mereka perlu diaktualisasikan. Novel ini memberikan banyak pelajaran bagi kita. Lihatlah kegetiran hidup warga miskin di sekitar kita, mereka bukanlah butiran debu yang sekadar disingkirkan, lantas terlupakan. Marilah mulai untuk peduli dan berbagi.(Hendra Sugiantoro).

0 komentar: